Saturday, August 3, 2019

Sinopsis K-Drama : Doctor John Episode 10 part 1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Doctor John Episode 10 part 1

Images by : SBS
Semua karakter, tempat, perusahaan dan kejadian dalam drama ini hanyalah fiksi
Para pasien akhirnya antri dengan tertib dan membuat laporan keluhan mereka. Yang melayani adalah suster Na. Yo Han tersenyum melihat semua pasien tersebut. Dia mulai melakukan briefing singkat.

“Hari ini, dokter residen dan fellow akan melakukan pemeriksaan awal. Banyak orang merasa mengidap myasthenia gravis (rata-rata pasien yang datang, pada bilang kalau mereka sakit myasthenia gravis, sama seperti Hyung Woo karena lihat artikel wawancara Hyung Woo, sepertinya). Seperti yang kalian tahu, gejalanya tidak tentu dan sulit didiagnosis. Periksa semua gejalanya dan alihkan ke Neurologi jika perlu. Urutkan pasien berdasarkan gejalanya dan beri tahu aku,” arahkan Yo Han. “Dokter Lee, siapkan ruang operasi.”
“Baiklah,” jawab Yoo Joon, semangat.
“Selain itu, kebanyakan pasien kita telah datang ke banyak rumah sakit dan departemen yang gagal melakukan diagnosis. Tapi ingat. Tidak ada rasa sakit tanpa penyebab. Hanya ada rasa sakit dengan penyebab yang tidak diketahui,” jelas Yo Han.

Yoo Joon langsung tampak seperti menahan tangis terharu mendengar kata Yo Han. Baginya, itu sangat keren. Dia bahkan langsung mencatat perkataan Yo Han itu di buku catatannya. Hahahha, dia udah jadi fans Yo Han nih.
Selesai briefing, para pasien di persilahkan masuk dan mulai di periksa satu persatu.

Heo Jun melayani seorang ibu-ibu. Dia menunjukkan kartu spektrum rasa sakit dari angka 1 -10 dan ada emoji dari warna hijau tersenyum hingga warna merah pekat dan cemberut. Dia meminta ibu itu menunjukkkan rasa sakit yang di rasakan adalah nomor berapa. Ibu itu menunjuk gambar emoji terakhir, rasa sakit yang sangat buruk. Ibu itu bilang rasa sakitnya menyiksa-nya.
Dan di luar, malah terdengar suara dua orang pria yang sedang berteriak-teriak. Heo Jun mengeluh mendengar suara itu. Tapi, dia segera tersadar. Dia meminta pasiennya untuk menunggu sebentar sementara dia memeriksa keluar.
Di luar, seorang pria tua, berkata pada seorang bapak kalau dia hanya tidak sengaja menyenggol karena kakinya lemah. Kenapa malah bapak itu harus berteriak-teriak? Bapak itu dengan nada marah dan kesal berkata kalau dia sedang sekarat di sini dan kakek itu terus saja menyentuhnya. Kakek itu jadi kesal karena dia melihat bapak itu tampak baik-baik saja.
Heo Jun berusaha menyuruh mereka tenang. Bapak itu emosi, apa Heo Jun tahu dia mengidap apa? Dia menderita CRPS! Yang mendengar bingung, apa itu CRPS? Sementara Heo Jun, terkejut!
“Dimana Cha Yo Han? Panggil dia sekarang!” teriak bapak itu.

Yo Han keluar. Dengan santai, Yo Han bertanya, siapa yang sangat ingin bertemu dengannya? Heo Jun langsung menunjuk bapak itu. Yo Han menghampirinya. Bapak itu langsung berlutut. Dia memohon agar Yo Han menolongnya atau bunuh dia!
Yo Han meminta bapak itu tenang dan memegang bahu bapak itu agar berdiri. Baru di sentuh sedikit, bapak itu sudah berteriak kesakitan dan berkata kalau dia menderita CPRS! (CRPS: Sindrom nyeri regional kompleks).
Terdengar teriakan menjerit penuh kengerian. Seorang wanita datang bersama seorang anak pria yang memakai baju SMA dan di pipinya ada bekas luka (?). Tangan anak itu penuh darah dan darahnya menetes membasahi lantai. Di tangannya tertancap benda tajam. Wanita itu memohon agar di bantu. Dan anak SMA itu, malah tampak sangat tenang. Berwajah datar dan tidak ada rasa kesakitan sama sekali.
“UGD ada di lantai satu. Ini Pusat Pengendalian Rasa Sakit,” ujar Yo Han pada si wanita.
Tapi, anak SMA itu, malah dengan tenang menarik benda tajam yang menusuk tangannya itu. Semua menjerit. Yo Han memperhatikannya dengan terkejut.
“Aku baik-baik saja sekarang. Ayo,” ujar anak itu, mengajak ibunya pergi.

Yo Han seperti tersadar. Dia memperhatikan anak itu dengan seksama. Otaknya mencerna. Dia berjalan mendekat ke anak itu, menggenggam dengan erat luka di tangan anak itu. Semua yang melihat saja, bisa meringis kesakitan, membayangkan rasa sakit. Tapi, tidak dengan anak itu, dia diam tanpa reaksi apapun.
“Dokter Lee,” panggil Yo Han dengan nada serius. “Siapkan tempat tidurnya.”
“Apa? Kamu tidak akan mengirimnya ke UGD?”
“Tidak, dia pasien kita.”
--

Dan anak itu mulai di operasi. Tanpa anestesi sama sekali. Tidak ada ekspresi kesakitan sama sekali. Heo Jun yang melihat, berbisik pada Won Hee, apa anak itu tidak merasakan sakit sama sekali? Won Hee menjawab, sepertinya begitu. Si Young memperhatikan.
Yo Han mulai menjahit luka sobek anak tersebut. Heo Jun dengan suara kecil memberitahu Yo Han kalau anak itu belum di beri obat bius lokal. Heo Jun saja sampai menutup mata karena bisa membayangkan sakitnya. Tapi, anak itu malah tetap sangat tenang.
“Kenapa kamu melakukan ini? Agar kamu bisa membuktikan penyakitmu?” tanya Yo Han, pada anak itu.
“Bagaimana kamu tahu itu, Dokter Cha?” ibu anak itu terkejut. “Saudaranya dipukuli oleh teman-temannya. Jadi, dia berlari keluar dan menyuruh mereka memukulinya karena dia tidak merasa sakit. Tapi mereka tidak memercayainya. Jadi, dia melukai dirinya…”
“Ibu,” hentikan anak itu, agar ibunya tidak bercerita lagi.
“Dia dokter terkenal. Dia mungkin bisa merawatmu,” ujar Ibunya.
“Lupakan saja. Aku tidak mau dirawat. Kami diberi tahu bahwa itu tidak bisa disembuhkan.”
Yo Han tidak mendengarkan anak itu dan memberi perintah pada Yoo Joon agar memeriksa gejala anak itu, apakah bisa merasakan suh atau tidak. Kemudian, periksa gejala keduanya karena analgesia dan anhidrosis. Yoo Joon kaget.
“Aku yakin itu,” ujar Yo Han.
“Peluangnya 0,0000001. Serta tidak ada banyak materi tentang itu,” ujar Yoo Joon. “Tidak ada orang di negara kita yang pernah didiagnosis…,” ujarnya dan teringat sesuatu. “Tidak, tunggu. Kurasa ada satu.”
“Apa maksudmu?” bisik Heo Jun pada Yoo Joon.
“Dia bisa disayat, dijahit tanpa obat bius, mengalami patah tulang dan pecah organ. Tapi dia tetap tidak akan merasa sakit. Ini ketidakpekaan bawaan terhadap rasa sakit dengan anhidrosis. Dia pasien CIPA. (CIPA: Orang yang tidak merasakan sakit atau suhu),” jelas Yo Han.
--
Rapat dadakan dept. anestesiologi di lakukan. Yo Han mengarahkan kalau kali ini mereka akan menjalankan pemeriksaan dalam tim. Lee Yoo Joon, Heo Jun dan Kim Won Hee akan bertanggung jawab atas Lee Gi Seok, pasien diduga CIPA. Sementara Kang Mi Rae dan Kang Si Young akan bertanggung jawab atas Choi Sung Hoon, pasien CRPS.
Yoo Joon berkomentar kalau CIPA dan CRPS benar-benar berkebalikannya. Saat mengidap CRPS, bahkan sedikit sentuhan saja bisa membuat kita merasakan sakit. Tapi, saat mengidap CIPA, kita tidak merasakan sakit apapun.
“Apakah dia sungguh mengidap CIPA? Penyakit legendaris yang kita baca di buku teks tentang pasien tidak bisa merasakan sakit atau suhu apa pun?” tanya Heo Jun.
“Kita akan tahu setelah pemeriksaan dimulai,” ujar Yo Han. Tapi, untuk sesaat dia tampak tidak fokus dan memikirkan sesuatu. Si Young tampaknya menyadari hal tersebut.
--

Yo Han melanjutkan pengobatan Gi Seok, membersihkan luka. Jika tidak bisa merasakan sakit, yang terpenting adalah tidak terinfeksi. Jadi, Gi Seok harus selalu berhati-hati.
“Kudengar itu seperti bom waktu,” ujar Gi Seok. “Itu yang dikatakan dokter kepadaku. Dia bilang aku seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dor. Meski usus buntuku pecah, aku tidak akan merasakan sakit. Jadi, dia bilang aku akan tahu setelah organku busuk. Lalu aku akan mati begitu saja.”
“Jadi, kamu mau mati muda?” tanya Yo Han.
“Toh aku tidak akan bisa hidup lama. Kudengar aku akan mati sebelum berusia 20 tahun.”
“Entah kamu akan hidup lama atau mati lebih cepat, semua itu tergantung padamu.”
“Aku tidak mau berumur panjang,” ujar Gi Seok dan membuat semua kaget dengan pernyataannya itu. “Aku tidak bisa mengatur suhu tubuh, jadi, tidak bisa berlari. Aku harus memeriksa pergerakan usus, jadi, tidak bisa ke warnet. Aku tidak bisa melakukan apa pun yang mudah dilakukan orang lain. Jadi, apa gunanya hidup lama?”
Yo Han hanya menatapnya dan memberikan perintah lanjutan pada yang lain. Dia tampak marah dengan ucapan Gi Seok itu. Yoo Joon tampaknya sadar kalau Yo Han marah.



No comments:

Post a Comment