Saturday, August 24, 2019

Sinopsis K-Drama : Doctor John Episode 22

0 comments

Numpang Iklan Sejenak, All 😊
Tolong bantu follow/like/share/shopping akun ig aku di atas (kalau bersedia). Apapun bentuknya, sangat berterimakasih. Apalagi selama follow, like dan share masihlah gratis.
Terimakasih banyak sebelumnya. Kamsahamnida. XieXie. Arigatou. Thank u very much.
Terimakasih juga karena masih tetap membaca di blog ini. Dan untuk yang meninggalkan komentar, thank you very much. Tanpa kalian, para pembaca, blog ini tidak akan bisa bertahan.
=====
Sinopsis K-Drama : Doctor John Episode 22
Images by : SBS
Semua karakter, tempat, perusahaan dan kejadian dalam drama ini hanyalah fiksi
Yo Han masih terus melakukan CPR. Dia dengan nada frustasi menyuruh mereka unntuk tidak hanya berdiri saja dan lakukan intunbasi sekarang! Yoo Joon masih terus berusaha menghentikan Yo Han. Yo Han menghentakkan tangan Yoo Joon yang menahannya.
“Ada sesuatu yang harus dia dan aku lakukan. Dia belum boleh pergi,” ujar Yo Han, masih terus melakukan CPR.
--

Si Young membawa Min Seong. Dan mereka berpas-pasan dengan det. Jung Rok beserta anggotanya. Mereka mengenali Min Seong yang terekam di CCTV. Mereka harus memeriksanya.
--


Yo Han masih terus melakukan CPR meskipun dia sudah tampak sangat lelah.

Flashback
Saat Yo Han berada di atap dan berbalik, dia bukan melihat lantai, tapi dia melihat Min Seong yang sedang duduk bersembunyi di sana. Yo Han menatap Min Seong yang tampak sedih. Dengan ramah, Yo Han bertanya apa yang Min Seong lakukan di sini? Min Seong menjawab kalau dia berpisah dengan ibunya.
“Ibuku pergi ke akhirat. Belum lama ini,” ujar Min Seong, menatap langit. “Anda tahu seperti akhirat itu seperti apa?”
“Tidak. Aku belum tahu.”
“Kalau begitu, Anda tahu apa itu kematian?”
“Tidak juga.”
“Menurutmu, kapan seseorang akan mati? Saat peluru menusuk jantung mereka? Bukan. Saat mereka memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan? Bukan. Saat mereka makan sup jamur beracun? Bukan.”
“Lalu kapan seseorang mati?” tanya Yo Han.
Saat mereka dilupakan oleh orang yang mereka cintai. Itu yang mereka katakan di film "Coco". Jadi, aku tidak akan pernah melupakan dia. Ibuku. Orang tercantik di dunia,” ujar Min Seok. Dia menunjukkan foto Ri Hye yang di miliki dan selalu di bawanya. “Bukankah dia cantik?”
“Apakah kamu putranya Yoo Ri Hye?” tanya Yo Han.
“Ya. Anda mengenal ibuku?”
“Ya. Apa maksudmu dia pergi ke akhirat?”
“Akhirat adalah tempat orang yang kita cintai pergi. Nenekku. Kakekku. Dan ibuku,” jawab Min Seong.
“Tapi ibumu...”
“Beberapa saat lalu, dia menyeberang,” ujar Min Seong, memberitahu Yo Han. Min Seong tampak sangat sedih.
Apa yang terjadi hingga Min Seong berkata seperti itu?


Ternyata, saat jam besuk di buka, Min Seong masuk mengikuti rombongan dan tidak ada yang sadar kalau dia ikut masuk. Di saat ada salah satu kamar menerima code blue, Min Seong melihat apa yang dokter dan keluarga pasien bicarakan. Ibu pasien sudah tidak dapat bertahan dan menggunakan alat ventilator. Anak pasien menangis penuh kesedihan dan menandatangani surat persetujuan ibunya di biarkan pergi. Bagi mereka, ibu mereka sudah berusaha keras dan mereka ingin memberikan kepergian yang damai. Dan karna itu, dokter pun mencabut alat ventilator ibu tersebut. Min Seong memperhatikan dokter saat mencabut ventilator tersebut.



Dan saat dia pergi ke kamar rawat ibunya, Ri Hye, dia melakukan hal yang sama. Ibunya terlihat sangat kesakitan. Min Seong menangis melihat wajah ibunya. Ri Hye sepertinya bisa mendengar suara Min Seong, karena saat itu, Ri Hye tampak menangis. Min Seong ingat saat mendengar bibinya berkata kalau ibunya sangat menderita hingga melompat dari atap. Dan karena itu, dia melepas ventilator ibunya. Dialah orang yang mematikan ventilator Ri Hye.


Yo Han berlarian panik mendengar ceirta Min Seong. Yo Han sampai menggendong Min Seong dan membawanya turun dari atap. Dia tahu kalau Min Seong ingin bertemu dengan ibunya, dan begitu juga Ri Hye yang pasti ingin bertemu Min Seong dan memeluknya. Untuk kali terakhir, sebelum dia pergi. Dia membawa Min Seong ke ruang tunggu dan menyuruh Min Seong menunggu dan dia akan menjemput Min Seong nanti. Min Seong menangis terisak-isak.

Yo Han berlari panik ke ruang ICU. Dia segera memeriksa nafas Ri Hye yang ternyata masih bernafas. Dan saat itulah perawat masuk dan salah paham pada Yo Han.
End

Min Seong menangis terisak menceritakan hal tersebut pada polisi dan Si Young. Dia ingin bertemu ibunya. Dia merindukan ibunya.
Si Young segera berlari ke kamar rawat Ri Hye.

Yo Han terus melakukan CPR dan bergumam memohon agar Ri Hye selamat. Mi Rae yang melihat usaha Yo Han, tampaknya mulai menyadari kalau Yo Han berbeda dari yang di pikirkannya. Si Young yang baru masuk segera ikut membantu Yo Han dan Mi Rae.
Yoo Joon dan yang lain masih tetap tidak membantu.
Dan setelah usaha yang sangat panjang antara Yo Han, Mi Rae, Si Young dan perawat, nafas Ri Hye kembali. Jantung Ri Hye kembali berdetak. Yo Han sangat lega.
Min Seong tiba. Yo Han segera menghampiri Min Seong. “Kamu ingin bertemu ibumu? Temuilah dia,” ujar Yo Han.

Min Seong berjalan ke ranjang Ri Hye. Dia menangis memanggil ibunya dan memeluknya.
Semua yang ada di sana, tampak sedih melihat hal tersebut sekaligus mungkin lega karena keinginan Ri Hye terkabul. Atau mungkin juga lega karna Yo Han yang berusaha menolong Ri Hye mungkin akan membuat Ri Hye bisa melihat putranya.
Seok Ki tiba di sana dan menatap Yo Han.
--
Mereka kembali ke ruang interogasi. Seok Ki bertanya, kenapa Yo Han tidak memberitahu kalau bukan Yo Han yang mematikan ventilator dan sebaliknya, Yo Han ke sana dengan bergegas untuk menyalakannya kembali.
“Aku tidak mau hal pertama yang akan dia tahu saat siuman  adalah putranya diselidiki oleh polisi karena mematikan ventilator,” jawab Yo Han.
--

Min Seong terus berada di sisi Ri Hye. Dan akhirnya, Ri Hye siuman. Hal pertama yang dilihatnya, adalah putranya yang berada di sisinya. Hal yang sudah sangat di rindukan Ri Hye. Ri Hye menangis. Putranya tidak takut pada wajahnya dan sebaliknya, memeluknya penuh kerinduan.
--
“Kamu juga tidak mau putranya merasa bersalah atas kematian ibunya selama sisa hidupnya? Itu alasanmu mengulur waktu sampai pasiennya siuman?” tanya Seok Ki.
“Ya. Kamu tidak akan pernah membiarkan seorang anak pun lolos dari perbuatan ini. Tentu saja, aku siap dihukum karena menghalangi hukum. Sudah jelas aku yang salah,” jawab Yo Han.
Seok Ki mematikan alat perekamnya. Setelah itu, dia kembali bertanya. Kemarin, dia ada membaca buku dan tertulis kalau tujuan utama obat adalah membuat orang bahagia. Mengurangi rasa sakit atau memperpanjang hidup dengan obat, tidak menjamin kebahagiaan orang. Apa Yo Han setuju akan hal itu? Menurut Yo Han, apa peran dokter?
“Pengembangan obat terus-menerus membuat seseorang tetap hidup tanpa benar-benar hidup. Garis antara hidup dan mati menjadi makin samar. Kita makin membutuhkan orang yang membuat keputusan tepat. Kita membutuhkan orang yang tahu hal paling menguntungkan pasien. Aku yakin itu tugas dokter,” jawab Yo Han.
“Keputusan yang tepat dalam hidup? Apakah eutanasia adalah bagian dari itu?”
“Tentu saja.”
“Maksudmu, kematian bisa menjadi pilihan yang tepat?”
“Pada zaman sekarang, kematian bisa menjadi pilihan yang tepat.”
“Seperti katamu, ada garis tipis antara hidup dan mati saat ini. Jika seseorang berhak memutuskan hal itu, hak itu akan menjadi wewenang, lalu wewenang itu akan dirusak dan disalahgunakan. Dengan mempertaruhkan nyawa orang. Setelah itu, kehidupan yang telah dikorbankan tidak akan pernah bisa kembali,” ujar Seok Ki tampak emosi dan terbawa perasaan.
“Kematian tidak selalu menjadi pilihan yang tepat. Aku hanya berusaha menentukan hal yang terbaik bagi pasien saat keputusan antara hidup dan mati harus dibuat,” jelas Yo Han.
“Hukumlah yang menentukan apakah keputusanmu tepat.”
“Tidak ada hukum yang bisa memuaskan semua orang. Begitu juga tidak ada pengobatan yang bisa memuaskan semua pasien. Jika menyangkut hukum dan perawatan medis, kita harus menentukan hal paling berharga pada saat itu,” balas Yo Han dengan tajam.
Usai mengatakan hal tersebut, Yo Han keluar dari ruang interogasi.

Setelah Yo Han keluar, det. Jung Rok masuk dan memberikan kesaksian Si Young mengenai Yo Han pada Seok Ki (Seok Ki yang meminta). Setelah itu, Seok Ki meminta tolong det. Jung Rok untuk mencari tahu simbol (yang di lihatnya di pameran).
--
Yi Moon bertemu dengan Tae Kyung. Dia merasa kesal pada Yo Han yang tidak memberitahu mereka dari awal yang sebenarnya dan malah memperparah keadaan. Belum lagi, mereka sedang berada dalam situasi sensitif mengenai Yi Soo dan harusnya hal ini tidak terjadi.
“Kita harus mengadakan komite pendisiplinan. Rumah sakit memiliki ketertiban dan peraturan sendiri. Tindakan Dokter Cha tidak sesuai sebagai dokter bagi pasien atau profesor bagi para murid. Dia menimbulkan masalah,” putuskan Tae Kyung.
“Kamu berencana membuatnya meninggalkan rumah sakit untuk saat ini dengan mengadakan komite pendisiplinannya?”
“Ya. Kurasa itu solusi terbaik untuk saat ini.”  
--
Mi Rae, Si Young, Yoo Joon, Won Hee dan Heo Jun berkumpul bersama. Mereka merasa khawatir jika anak Ri Hye akan di hukum. Mi Rae merasa ragu kalau Min Seong akan di hukum karena mengingat usia Min Seong barulah 8 tahun.
Na Yeon datang menemui mereka. Wajahnya tersenyum. Dia menundukkan kepala dalam-dalam berterimakasih pada mereka karena tidak menyerah terhadap Ri Hye.
“Dokter Cha yang tidak menyerah. Tapi, dia tidak di sini sekarang,” beritahu Heo Jun.
“Begitu rupanya. Aku sendiri yang akan berterima kasih kepadanya,” ujar Na Yeon.
“Kudengar adik Anda sudah siuman. Bagaimana keadaannya?” tanya Yoo Joon.
“Dia bilang kepadaku bahwa dia ingin pindah ke hospis setelah pulih. Dia ingin menghabiskan hari-hari terakhirnya di sana.”
--

Min Seong tertidur sambil mengenggam tangan Ri Hye. Ri Hye memeluk kepala putranya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
--

Mi Rae berada di bangsal Yi Soo dan menggenggam tangan ayahnya. Dia tampak sedih. Dan akhirnya menangis.
--
Yo Han kembali ke atap rumah sakit. Dia sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan dokternya, apa dia merawat pasien karena rasa kasihan atau penasaran.
“Hari ini, aku menemukan jawabanku. Ini bukan rasa kasihan atau rasa penasaran. Ini adalah rasa empati. Semua orang takut mati entah mereka bisa merasakan sakit atau tidak. Selama momen-momen terakhir menakutkan itu, aku ingin berada di samping mereka.”

Yo Han menatap ke atas, seolah melihat saat Ri Hye hendak melompat. Dalam bayangannya, wajah Ri Hye masih baik-baik saja, dia berbalik menatap Yo Han dan menganggukan kepala tanda berterimakasih. Seolah Ri Hye tidak melompat.
Si Young muncul di belakang-nya.

“Dokter Cha. Katakan. Katakan bagaimana keadaanmu. Aku tahu itu bukan hanya karena Yoo Ri Hye,” ujar Si Young. Yo Han berjalan mendekat. “Tunggu. Jika kamu baik-baik saja, dan itu bukan hal serius, silakan mengangguk. Jika kamu tidak baik-baik saja, tapi akan segera sembuh, silakan mengangguk. Jika kamu tidak baik-baik saja dan tidak akan membaik…,” ujar Si Young, berusaha menahan tangisnya seolah tahu apa yang akan terjadi.
“Lalu apa yang harus kulakukan?” tanya Yo Han.
“Hibur aku,” jawab Si Young.
“Akulah yang seharusnya dihibur.”
“Tapi… aku yang akan kehilangan dirimu,” ujar Si Young.

Yo Han mendekat. Dengan perlahan, dia memeluk Si Young. Itu jawaban atas kondisinya. Dia menghibur Si Young. Dia tidak baik-baik saja dan tidak akan membaik.
Air mata Si Young menetes. Dia membalas pelukan Yo Han, berusaha menghibur Yo Han juga.





No comments:

Post a Comment