Sunday, September 1, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 23

6 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 23
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi

Pertandingan sudah hampir di mulai, MC sudah mulai memberitahu mengenai tata acara pertandingan. Dan Xiaomi juga sudah bersiap untuk bertanding. Ai Qing berusaha menyemangatinya agar tidak merasa tertekan.

Pertandingan hari ini adalah antara Team Taotao vs Team SP.
Yaya berseru senang saat melihat Xiaomi naik ke atas panggung.

Shangyan juga tiba di arena pertandingan. Dia masih membawa kopernya, itu tanda kalau dia bahkan tidak sempat pulang. Xiao Ai melihat kedatangan Shangyan dan memberitahunya pada Tong Nian. Tapi, semua sedang terfokus pada pertandingan yang berlangsung.
Pertandingan berlangsung sengit dan akhirnya di menangkan oleh team SP.
MC memberikan semangat. Semua team SP berdiri di atas panggung dan memberi hormat pada para penonton. MC memberikan kesempatan pada mereka untuk bicara sepatah dua kata. Mic di berikan pada Slide yang adalah ketua team, dan Slide memberikan mic pada Xiaomi karena Xiaomi adalah hero team mereka hari ini. Semua audiens mulai meneriakan nama Xiaomi.
“Terimakasih atas kedatangan semuanya yang datang untuk melihat kompetisi ini. Hari ini, kami menang. Aku sudah mengeluarkan semua upayaku,” ujar Xiaomi dan terdiam sesaat. “Hari ini, di hidupku, adalah kompetisi pro terakhirku.”
Semua terkejut dengan kalimat terakhir Xiaomi. Ou Qiang yang di atas panggung langsung berbisik menegurnya.
“Aku yakin kalau yang duduk di sini hari ini, banyak dari kalian adalah pendukung Xiaomi dari team SOLO 10 tahun yang lalu. Xiaomi sepuluh tahun lalu telah melewati pasang surut, tapi aku selalu yakin bahwa selama kerja keras dan perjuangan, aku akan mendapatkan hasil yang baik. Tapi, sebenarnya tidak seperti itu. Sejujurnya saja, dari dalam hatiku, aku merasa sangat… tenang. Banyak hal yang ku syukuri. Seperti… seperti kembang api yang meletus di langit. Hidup. Brillian. Aku ingin berterimakasih untuk semua orang yang telah mendukungku. Terimakasih semuanya, untuk selalu menemaniku melewati jalan ini. Kalian telah bekerja keras. Menemaniku di saat paling indah, saat kembang api paling bersinar. Terimakasih semuanya!” pidato Xiaomi dan menundukkan kepala dalam-dalam.


Yaya yang adalah fans berat Xiaomi, menangis. Sedih karena Xiaomi memutuskan untuk pensiun.
“Masih ada satu hal lagi yang ingin ku katakan pada semua yang ada di sini. Dan itu adalah adalah satu-satunya pemain Team SOLO yang masih terus berkompetisi, Ou Qiang. Mungkin ini adalah takdir, karena nama user name CTF nya adalah “ALL”. Itu… dia mewakili kami berlima dari Team Solo. Bertumbuh bersama, kerja keras demi kami. Menjadi juara nasional menggantikan kami. Memiliki kalian semua adalah hal yang ku syukuri. Xiaomi… Mi Shaofei… sekarang keluar,” akhiri Xiaomi.
Shangyan yang mendengar pidato Xiaomi tampak kecewa. Tong Nian melihat kekecewaannya, tapi dia tidak bisa pergi menemui Shangyan karena menemani Yaya yang masih terus menangis.
Solo sendiri langsung pergi ke arena panggung dengan terburu-buru. Ai Qing mengikutinya dan memintanya untuk tenang. Solo tidak tenang, dia ingin segera bertanya pada Xiaomi, apa yang Xiaomi pikirkan?!

Untuk memperkeruh suasana, Shangyan muncul. Dia berteriak penuh amarah pada Solo karena membiarkan Xiaomi pensiun?! Ai Qing menahan Shangyan dan memintanya untuk tidak bersikap impulsif. Solo juga tidak tahu hal ini. Shangyan tidak mendengarkan Ai Qing dan malah mendorongnya dengan kasar ke samping.
Shangyan meraih kerah baju Solo. Dia mengingatkan Solo kalau sebelumnya, Solo sudah berjanji padanya.  Ai Qing berusaha menarik Shangyan menjauh, tapi Shangyan terus mengibaskan tangan Ai Qing. Solo berteriak menyuruh Ai Qing untuk menjauh. Ai Qing tetap tidak menjauh dan Shangyan mulai memarahinya. Solo tersulut. Dia menyuruh Shangyan untuk tidak berbicara kasar pada Ai Qing. Shangyan balas marah, dia mengingatkan kalau dia sudah bukanlah anggota SOLO lagi.
“Benar. Dalam hidup ini, aku tidak mempunyai anggota team bersamaku lagi. Sebelum kau pensiun, ada satu hal yang ku janjikan padamu. Jika kau meninggalkan team, maka aku tidak akan berpartisipasi dalam kegiatan team apapun lagi. Jadi, sampai hari ini, aku selalu berjuang sendirian. Hal pertama, aku sudah melakukannya. Hal kedua, di Sanya, aku berjanji akan menjaga mereka. Xiaomi. Ou Qiang. Aku minta maaf. Hal kedua, aku tidak melakukannya dengan baik,” ujar Solo, menyesal. “Pukul aku. Pukul aku sebanyak apapun kau mau!”
Xiaomi sudah ada di sana dan mendengar pembicaraan mereka. Dia berteriak memanggil nama Shangyan dan mendekat pada mereka. Begitu melihat Xiaomi, Shangyan langsung meminta Xiaomi untuk ikut dengannya ke K&K. Xiaomi dengan tegas menolak. Dia sudah menolak hal itu 3 kali. Shangyan tetap memaksa.
“Gun God, peringkat terburuk di team mu adalah 71. Dan aku, aku sudah berada di bawah 100. Kenapa aku harus ke klub mu? Ngelap layar? Cuci keyboard? Begitu? Kau ingin melihatku seperti itu?” ujar Xiaomi. “Berikanlah aku martabat. Di panggung tadi, aku merasa hebat. Kalian semua melihatnya. Aku harus menelpon keluargaku sekarang. Aku tidak ingin kalian bertengkar lagi.”
Xiaomi beranjak pergi. Shangyan memanggilnya, tapi Xiaomi terus berjalan pergi.

Xiaomi menemui pada anggota SP. Semua tampak bersedih dengan keputusan Xiaomi. Ou Qiang lebih marah karena Xiaomi memutuskan semuanya sendiri tanpa berdiskusi dengan mereka. Xiaomi berusaha tetap tenang. Ou Qiang tetap emosi. Dia menyebut Xiaomi yang telah mengecewakan mereka semua.
“Mengecewakan apa?” balas Xiaomi.
“Apa yang akan kau lakukan setelah pensiun? Apa kau peernah memikirkan hal itu?! Apa kau bersedia (pensiun).”
“Aku akui, aku tidak bersedia. Aku masih mempunyai mimpi juara di hatiku. Karena itu, ketika Solo memintaku bergabung dengan SP, aku setuju tanpa ragu. Bagaimanapun, fakta membuktikan kalau aku tidak mempunyai kemampuan lagi. Aku tidak memilikinya lagi. Tempo-ku, ketahanan-ku, aku tidak bisa mengimbangi mereka yang lebih muda. Aku tidak punya pilihan. Aku sudah memberikan segalanya. Bro, berikan aku penutupan yang baik okay,” pinta Xiaomi dan mengulurkan tinjunya.

Ou Qiang berbalik badan. Dia masih belum siap.
“Hanya kau yang tersisa dari team SOLO. Kau harus bertahan. Selama kau ada, SOLO juga ada,” ujar Xiamo, meneteskan air mata.
Ou Qiang menatap Xiaomi. Dia tersenyum. Dan mereka melakukan tinju toss mereka. 
--
Ou Qiang menemui Shangyan dan memintanya untuk tenang. Semua di lakukan Xiaomi sendiri tanpa memberitahu Solo dan Ai Qing. Jadi, Shangyan sudah salah paham. Shangyan menghela nafas dan berkata dia tahu kemudian dia lanjut jalan pergi.
Tong Nian muncul di depannya. Dia menanyakan keadaan Shangyan. Shangyan menatapnya dan bertanya, mau kemana? Tong Nian langsung tersenyum, kemanapun Shangyan mau pergi, dia ikut.
Sebelum Tong Nian mengikuti Shangyan, Ou Qiang memberitahu Tong Nian kalau masalah Xiaomi ini memberikan pukulan keras pada Shangyan. Dia meminta tolong Tong Nian untuk menenangkan Shangyan. Tong Nian mengiyakan.

Xiao Ai sibuk mencari Solo di arena pertandingan. Solo mendengar teriakan Xiao Ai, tapi dia menutup telinga, dia bersembunyi di balik panggung. Pikirannya sedang kacau sekarang ini. Dan akhirnya, Xiao Ai menemukannya. Xiao Ai meminta agar ayahnya bicara dengannya. Dia meminta Solo untuk tidak sedih. Solo hanya diam dan memukuli kepalanya sendiri. Xiao Ai menangis.
“Hidup ayah hanyalah kegagalan,” ujar Solo.
Xiao Ai menangis dan meminta agar ayahnya tidak berkata seperti itu. Jangan sedih. Dan semua akan baik-baik saja.
“Aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar,” ujar Solo, meratap.
“Tidak. Ayahku adalah yang terbaik,” ujar Xiao Ai masih menangis.
--

Yaya menemui Xiaomi. Dia cemas dengan pengumuman pensiun Xiaomi akan membuat beberapa fans setia Xiaomi menjadi marah. Dia khawatir jika Xiaomi keluar sekarang lewat pintu depan, dimana para fans berkumpul, Xiaomi akan di serang. Dia menawarkan jaketnya untuk menutupi wajah Xiaomi.
Xiaomi tersenyum melihat perhatian Yaya.
“Idol, kau harus ingat, apapun keputusan yang kau buat, kami fans lama akan selalu percaya padamu, mendukungmu dan menemanimu.”
Xiaomi terharu mendengarnya. Dengan berani, dia berjalan ke pintu depan. Para fans setianya langsung berkerumun. Mereka tidak marah dan sebaliknya mereka mengucapkan kata-kata dukungan untuk Xiaomi. Mereka juga menyuruh Xiaomi untuk melakukan livestream ketika pulang, jangan seperti dulu, tiba-tiba menghilang. Masih banyak fans Xiaomi, dan jika Xiaomi melakukan livestream (seperti vlog), akan banyak yang menonton dan mendukung.
Tapi, ada beberapa fans lain yang memohon agar Xiaomi tidak pensiun. Mereka sudah menunggu Xiaomi begitu lama. Dan berat rasanya, karena Xiaomi tiba-tiba memutuskan untuk pensiun.
“Aku benar-benar berterimakasih mendapatkan dukungan kalian dari dulu. Terimakasih,” ujar Xiaomi dan menundukkan kepala dalam-dalam.
--
Shangyan membawa Tong Nian ke camp K&K. Tapi begitu sampai, dia memerintahkan Grunt dan One untuk menemani Tong Nian yang adalah tamu, dan jangan biarkan Tong Nian mendekatinya. Semua bingung. Tapi, Shangyan langsung masuk ke dalam kamar.
Anggota K&K heran dengan sikap Shangyan. Bagaimana bisa Tong Nian di sebut ‘tamu’? Ada apa sebenarnya? Tong Nian hanya menjawab kalau mood Shangyan tidak bagus hari ini. Baru saja, Xiaomi mengumumkan pensiun. Semua kaget, karena berita itu belumlah tersebar. 
Lagi keadaan kacau begitu, Demo muncul mencari Shangyan. Ibunya datang dan ingin bertemu Shangyan. Semua saja bahkan langsung bilang kalau hari ini sangat sial. Su Cheng berkata dia yang akan menemui ibu Demo.

Ibu Demo tidak mau bicara dengan Su Cheng. Su Cheng berbohong kalau Shangyan sedang ada urusan bisnis dan tidak akan ada di kantor selama 2 hari, jadi kalau ada keperluan, dapat di bicarakan dengannya. Ibu Demo tetap menolak bicara dengan Su Cheng. Dia ingin membicarakan mengenai kontrak, dan Su Cheng pasti tidak punya otoritas untuk membahas mengenai kontrak.
 Tong Nian yang di biarkan sendiri, bingung harus ngapain. Haruskah iya masuk ke kamar Shangyan? Dia merasa sangat tidak berguna dan terasa seperti orang luar. Karena itu, Tong Nian memutuskan untuk pulang saja.
Saat keluar gedung, dia melihat Su Cheng yang sedang di bentak-bentak oleh ibu Demo. Dia meminta kontrak Demo di putuskan. Walaupun dia miskin, dia bisa membayar denda kontrak.
Tong Nian jadi khawatir dengan Shangyan. Tekanan yang Shangyan terima semakin besar.
--
Esok hari,
Solo datang ke kantor SP. Dia menerima berkas pemutusan kontrak dengan Xiaomi. Solo meminta sekretarisnya untuk mendouble-kan kompensasi Xiaoxi, nilai double itu bisa di potong dari bonus tahunannya. Dan jangan sampai yang lain tahu hal ini.
Solo masuk ke dalam ruangannya dan sudah ada Xiaomi di sana yang menunggunya dengan tas-nya. Solo memberikan kertas pemutusan kontrak utnuk Xiaomi tanda tangan. Xiaomi meminta maaf karena sudah membuat masalah untuk Solo. Solo menyuruh Xiaomi tidak meminta maaf. Dia hanya tidak menyangka kalau hal ini akan seperti ini. Dia sangat sedih.
Xiaomi tersenyum dan menyuruh Solo untuk tidak sedih. Semua dia yang memutuskan. Lagipula, Shangyan, Solo dan Ai Qing sudah pensiun, jadi dia juga harus ikut pensiun. Walaupun begitu, Solo tetap merasa tidak nyaman di hatinya. Dia merasa bersalah karena mereka telah meninggalkan mimpi yang belum mereka capai dan hal itu mempengaruhi Ou Qiang serta Xiaomi. Padahal, dia lah yang membawa mereka di jalan ini dan orang yang memberikan harapan pada mereka, dan kenapa semua menjadi seperti ini sekarang?!
Xiaomi berusaha menghibur Solo untuk tidak terlalu menyalahkan diri sendiri. Semua sudah ada waktunya.
Solo mengajak Xiaomi untuk keluar malam ini, tapi Xiaomi dengan sopan menolak karena dia masih harus melakukan sesuatu nanti malam. Xiaomi sudah hendak tanda tangan pemutusan kontrak, tapi Solo menghentikannya dan mengoyak kertas itu. Baginya, dia dan Xiaomi adalah saudara, jadi dia yang akan menanggung semua kompensai yang harus Xiaomi tanggung dan juga dia akan membantu semua masalah Xiaomi. Xiaomi berterimakasih padanya.
--

Xiaomi keluar dari gedung SP dan sudah ada Yaya di sana yang menantinya. Yaya memberikan Xiaomi pelukan penghiburan dan berkata semua akan baik-baik saja nantinya.
--
Yaya ternyata membawa Xiaomi ke kantor SP. Dan di sana juga ada Tong Nian. Yaya meminta Tong Nian untuk memanggil Shangyan keluar.
Tong Nian dengan ragu menghampiri Shangyan. Shangyan masih saja mengabaikannya. Dengan sopan, Tong Nian meminta maaf karena tidak meminta izin Shangyan untuk berkunjung. Dia tahu kalau 2 hari ini mood Shangyan sedang tidak bagus. Tapi, Xiaomi ingin dia menyampaikan pesan kalau dia ingin bertemu. Dan sekarang, Xiaomi ada di depan. Apa Shangyan ingin menemuinya?
Shangyan tidak menjawab dan berjalan ke depan, menemui Xiaomi.
“Kau mencariku?”
Yaya dan Tong Nian sudah takut kalau mereka akan bertengkar. Tidak di sangka, mereka malah saling tersenyum. Yaya dan Tong Nian lega.
--
Shangyan membawa Yaya, Tong Nian dan Xiaomi pergi dengan mobilnya ke suatu tempat. Suasana di dalam mobil sangat dingin.
Shangyan ternyata membawa mereka ke arena lari. Shangyan dan Xiaomi akan berlari dan menyuruh Tong Nian serta Yaya untuk menunggu mereka kurang lebih 2 jam. Dan usai mengatakan itu, mereka berdua langsung beradu lari. Dengan terpaksa, Tong Nian dan Yaya hanya bisa berdiri menunggu mereka berdua kembali dengan memegang jaket Shangyan dan Xiaomi.


Setelah berlari jauh, Xiaomi dan Shangyan akhirnya kembali dengan nafas terengah-engah. Walau begitu, mereka sudah bicara lebih akrab dari sebelumnya. Setelah itu, Xiaomi mengajak Yaya untuk lari bersamanya. Tong Nian mencoba bicara dengan Shangyan, tapi Shangyan hanya merespon dengan dingin.
--
Setelah berlari, mereka pergi untuk minum bersama. Dan tentu saja, Shangyan langsung melarang Xiaomi untuk memberikan Tong Nian alkohol. Setelah itu, Shangyan bertanya tujuan Xiaomi selanjutnya, pulang ke rumah? Xiaomi memberitahu kalau sebelum datang dia bertengkar dengan ibunya dan bilang akan pulang dengan membawa trophy. Yaya nimbrung dan berkata kalau sekarang banyak pekerjaan online, jadi Xiaomi tidak perlu pulang. Xiaomi meminta agar tidak membahas hal ini dulu.

Shangyan bertanya, Xiaomi tidak dimana sekarang? Xiaomi sudah keluar dari asrama SP kan? Xiaomi menjawab kalau dia tinggal di motel selama beberapa hari ini. Shangyan meminta Xiaomi untuk tinggal di rumahnya. Xiaomi menolak.
Xiaomi sudah mabuk dan segera pergi keluar untuk muntah. Yaya menghampirinya dan membawa tissue. Xiaomi benar-benar mabuk dan bicara asal. Yaya khawatir. Yaya tahu apa kekhawatiran Xiaomi, hingga dia memuji Xiaomi yang sangat tampan saat mengucapkan pidato pensiun. Dia sangat keren.
Yaya tanya, di dalam team SOLO, Xiaomi paling dekat dengan Shangyan kan?
“Aku benci padanya, tapi… aku benar-benar menyanyanginya!” teriak Xiaomi. “Lihat betapa baiknya hubungan kami dulu. sekarang?! SEKARANG?!”
“Aku tahu. Karena itu, tahun itu, hanya kau dan dia yang pensiun.”
“Ya. Dia patah hati dan aku bertindak impulsif. Aku menyesal. Aku menyesali hal itu. Sekarang, mau gimana? Jika aku tetap bermain sampai sekarang, dan aku tidak pensiun tahun itu, peringkatku pasti jauh lebih bagus dari sebelumnya. Tapi sekarang aku harus gimana? Sekarang… aku… aku,” frustasi Xiaomi.
Yaya berusaha menghibur, menyuruh Xiaomi untuk tidak memikirkan masa lalu dan hanya pikirkan masa depan. Xiaomi menatapnya, mungkin hatinya tersentuh dengan kebaikan dan ketulusan Yaya padanya.
Di dalam resto, Tong Nian mencoba bicara dengan Shangyan. Dia bertanya, apakah saat di Norway, ponsel Shangyan rusak? Shangyan menggeleng.
“Bukankah aku sudah bilang padamu sebelumnya kalau aku tidak bisa di percaya?”
“Aku yakin kau bisa di percaya.”
“Aku tidak bilang padamu kalau aku ke Norway. Aku mematikan ponselku yang dapat kau hubungi dan meninggalkannya di China, apa itu bisa di sebut bisa di percaya? Ketika aku kembali, aku juga tidak memberitahumu. Jika kita tidak bertemu di stadium, kau tidak akan melihatku. Apa itu bisa di sebut bisa di percaya?”
“Aku tahu kau ke luar negeri untuk bekerja. Hari ini, mood-mu sedang tidak baik. Aku tidak akan bertengkar denganmu. Kau minum terlalu banyak tadi. Makan saja dulu sekarang.”
“Itu bukan untuk pekerjaan. Untuk perjodohan. Perkenalan keluarga. Keluarganya cukup bagus. Dan dia cukup cantik.”
Tong Nian tampak sedih, karena Shangyan kan sekarang sedang berpacaran dengannya. Dia mulai hampir menangis. Shangyan terus saja bersikap dingin dan berkata kalau Tong Nian tidak nyambung dengannya. Mungkin karena perbedaan umur mereka yang jauh. Dia sudah hampir 30 tahun dan harus segera menikah. Tong Nian harus mencari pria lain.
“Aku tidak mau mencari orang lain,” tegas Tong Nian.
“Kau kenapa begitu keras kepala? Apa kau tidak mengerti maksudku.”
“Aku tidak mengerti,” jawab Tong Nian dan meneteskan air mata.
Shangyan sebenarnya sedih melihat Tong Nian menangis. Tapi, dia tetap bersikap kejam.
“Aku tidak suka padamu,” ujar Shangyan dengan kejamnya.
Itu di lakukan Shangyan karena janjinya pada ibu Tong Nian.



6 comments: