Sunday, September 1, 2019

Sinopsis C-Drama : Walk Into Your Memory Episode 02 part 1

2 comments

Sinopsis C-Drama : Walk Into Your Memory Episode 02 part 1
Images by : Tencent
Hal yang harus di tangani oleh An Ning sebelum dia pergi adalah membuat ulang sup. Dia menunjukkan kebolehannya dalam memaksa. Fai Feng mencoba sup buatan An Ning dan memuji rasa sup yang enak dan tidak kalah dengan sup yang sudah An Ning tumpahkan. An Ning tersenyum, dia juga tahu kalau dia yang salah. Jadi, karena dia sudah selesai, maka dia pamit untuk pergi duluan.
Kepala Koki kembali ke dapur pas saat itu dan menyuruh An Ning untuk tidak pergi terlebih dahulu.
Flashback
 Kepala Koki menjelaskan pada Hao Qian kalau An Ning adalah cucu dari Guru-nya. Dan dia sudah mendapat perintah dari Guru-nya untuk selalu membawa An Ning. Untuk kemampuan dan pemahaman memasak, An Ning mempunyai pemahaman yang tinggi. Jadi, dia yakin kalau An Ning akan bisa menyelesaikan masalah kali ini dengan baik.   
Dan juga, dia tadi mendengar pembicaraan Hao Qian dan An Ning. Dia yakin kalau sudah ada kesalahpahaman antara Hao Qian dan An Ning. Dia juga berani menjamin kalau An Ning bukanlah mata-mata. Jadi, dia mohon agar An Ning di berikan kesempatan.
“Baiklah. Sementara tidak membahas masalah mata-mata. Tapi, dia seperti ini, aku sangat tidak percaya dengan kemampuannya.”
“Mengenai ini kamu tidak perlu khawatir, An Ning ini meskipun agak ceroboh, tapi soal kemampuannya, aku berani menjamin.”
“Baiklah. Jika demikian, aku beri dia kesempatan satu kali lagi. Jika dia bisa membujukku dengan masakannya, aku akan mengizinkannya tetap tinggal.”
End

Dan karena itu, Kepala Koki menyuruh An Ning untuk tidak lupa mimpinya menjadi koki. Dia memberikan apron An Ning untuk memaksa. An Ning dengan yakin membuat masakannya. Masakan mie sederhana.
--
Dia membawa masakannya dan menghindangkannya pada Hao Qian. Hao Qian tampak tidak percaya dengan An Ning yang dia suruh menunjukkan kemampuan memasak, tapi ternyata hanya membuat mie seperti ini.
Hao Qian mencoba mie buatan An Ning. Dia terhenyak.

Flashback
Saat kecil, nenek sering memasakkan mie Yang Chun untuk Hao Qian. Dia sangat menyukai mie buatan nenek nya tersebut

Suatu ketika, nenek Hao Qian jatuh sakit. Hao Qian menjenguknya dan meminta nenek agar cepat pulih. Dia rindu masakan mie Yang Chun nenek. Nenek tersenyum dan berkata akan memasakkan mie Yang Chun untuk Hao Qian. Tapi, kemudian nenek pun meninggal.
Hao Qian sangat sedih. Masakan mie Yang Chun sudah tidak terasa sama lagi.
End
Dan kini, masakan mie An Ning mengingatkannya akan rasa mie Yang Chun, mendiang neneknya. Hao Qian semakin mencurigai An Ning, siapa An Ning sebenarnya? Bagaimana An Ning bisa tahu mengenai mie ini dan juga mengalami masalah mata-mata?
“Meskipun aku sangat percaya pada Gong Chen (Kepala Koki), tapi selain mata-mata aku tidak bisa memikirkan alasan lain.”
“Apakah mata-mata akan tahu tentang mie Yang Chun? Bisakah kamu pintar sedikit?” balas An Ning.
Hao Qian curiga kalau An Ning sudah menyelidiki mengenai dirinya, karena ini An Ning bisa tahu banyak hal. An Ning bingung cara menjelaskannya, yang bisa di katakannya adalah dia bukan mata-mata. Hao Qian tetap menyuruh An Ning memberikannya alasan yang bisa di percayainya.
An Ning berpikir sesaat. Dia mendekat, “Sebenarnya…,” bisik An Ning. “Aku bisa melihat ingatan orang lain.”
Hao Qian tertawa mengejek. Apa hal itu bisa di percaya. An Ning sudah menduga hal itu. Hanya karena Hao Qian tidak bisa melihat kekuatannya, bukan berarti hal itu bohong. Misalnya saja, dia tidak pernah pergi ke New Zealand, apa artinya New Zealand tidak ada? Kekuatannya sama seperti itu. Hao Qian langsung membalas, kalau ada orang lain yang pernah ke New Zealand. Tapi, apa ada orang lain yang bisa melihat ingatan orang lain?
Untuk membuktikan kekuatannya, An Ning pun melihat ingatan Hao Qian. Yang dilihatnya adalah ingatan kemarin malam. Dia jadi tahu kalau Hao Qian dan Yi Ming Jun adalah teman baik dan Hao Qian juga tidak bisa menyentuh wanita. Pantas saja, Hao Qian sangat marah saat dia menyentuhnya di lift dulu.
Hao Qian menduga kalau Ming Jun yang memberitahu semua hal itu pada An Ning.
“Mengapa kamu begitu tidak mempercayai orang lain?” kesal An Ning. “Sudahlah, tidak menjelaskannya lagi. Bagaimana? Ini termasuk lulus kan?” tanya An Ning, menunjuk ke mie buatannya.
“Kamu katakan dengan jelas tentang mie Yang Chun, dan masalah bisnis. Maka kamu bisa tetap tinggal di sini.”
“Sudah kukatakan, kamu sendiri yang tidak percaya. Bagaimana lagi aku harus menjelaskannya?” ujar An Ning, frustasi.
“Aku berikan kamu kesempatan untuk membuktikan diri sendiri tidak bersalah.”
Dan Hao Qian membawa An Ning keluar.

Para pegawai ruang makan yang melihat mereka, langsung bergosip. Bukannya An Ning sudah di pecat? Apakah ini fasilitas Long Teng yang terbaru? Setelah di pecat, dir. Long sendiri yang akan mengantar pulang?
Manager Ma kebetulan lewat dan melihat mereka yang menggosip. Siapa yang dir. Long antar pulang? Semua kompak menjawab, An Ning. Manager Ma langsung tampak cemburu.
--
Pas lagi jalan, Hao Qian dan An Ning menemukan seorang nenek yang tersesat. Polisi berusaha menanyakan alamat rumah nenek, tapi nenek itu pikun dan tidak ingat alamat rumahnya. An Ning menggunakan kemampuannya untuk melihat ingatan nenek itu.
Setelah tahu, An Ning berkata pada polisi kalau dia tahu rumah nenek itu dan akan mengantar nenek pulang. Hao Qian memperhatikan yang An Ning lakukan. Nenek masalahnya bilang tidak tahu siapa An Ning. Karena itu, polisi menawarkan diri untuk membawa nenek dan An Ning bersama, biar An Ning yang menunjukkan jalan. Mereka pergi dengan mobil polisi.


Di dalam mobil, An Ning sangat memperhatikan nenek. Dia membantu mengancingkan kancing sweater nenek yang terlepas. Hao Qian memperhatikan hal tersebut. Saat memperhatikan luar jalan, An Ning melihat ada pengemis bapak dan anak di pinggir jalan.
Nenek berhasil di antar pulang dengan selamat. Putra nenek sudah sangat cemas karena ibunya hilang. Dia berterimakasih karena sudah mengantarkan ibunya pulang. Tadi, saat penjaga ibunya sedang mencuci baju, ibunya lari keluar sendirian. Polisi menyuruh putra nenek untuk berterimakasih pada An Ning yang menunjukkan jalan.


Putra nenek berterimakasih pada An Ning. Tapi, darimana An Ning bisa tahu alamat rumah mereka? An Ning berbohong kalau dulu dia pernah tinggal di sekitar sini dan melihat nenek. Putra nenek benar-benar bersyukur dan karena itu, dia menerima sejumlah uang untuk An Ning. An Ning menolak, tapi putra nenek terus memaksa. Akhirnya, An Ning menerima uang tersebut. Melihat hal itu, wajah Hao Qian langsung berubah kesal.
Saat berjalan pulang bersama, Hao Qian mengejek An Ning yang membuktikan diri dengan cara ini. Mengantarkan tetangga pulang dan kemudian mendapat imbalan? An Ning tidak peduli dengan yang Hao Qian pikirkan mengenai dirinya.

An Ning ternyata memberikan uang itu pada pengemis yang di lihatnya tadi. Tidak hanya uang imbalan, tapi juga uang dari dompetnya sendiri, An Ning berikan. Ayah pengemis itu sangat berterimakasih atas bantuan An Ning. An Ning bicara pada anak pengemis yang tidak bersekolah. Dia menasehati anak itu untuk bersekolah, dan berusaha menjadi orang yang berguna di masyarakat. Anak itu mengiyakan. Tidak hanya itu, An Ning bahkan menawarkan membelikan ice cream untuk anak tersebut.
Saat An Ning membeli ice cream, Hao Qian bertanya, apakah An Ning tidak takut hanya di bohongi oleh pengemis itu? An Ning membalas kalau Hao Qian pasti sering di bohongi. Hao Qian beralasan kalau dia hanya berpikir rasional.
“Dia adalah seorang petani. Dua tahun yang lalu, istrinya meninggal karena kecelakaan, meninggalkan seorang ibu berumur 70an, dan anak perempuan yang berumur 6 tahun. Baru-baru ini, ibunya juga baru meninggal dunia. Akhirnya, hasil pemeriksaan dia dan anak perempuannya keduanya memiliki tumor. Menurutmu, kehidupan manusia sungguh banyak sekali penderitaan.”

Hao Qian terperangah mendengarkan penjelasan An Ning. An Ning memberikan ice cream yang di belinya pada anak pengemis. Dan Hao Qian akhirnya berkata pada An Ning kalau dia akan memberikan kesempatan pada An Ning untuk membuktikan diri, semua karena Gong Chen (Kepala Koki).
--
Sekretaris dir. Long bertanya, apakah Hao Qian masih menemui psikiater? Sudah dua bulan ini, dia tidak melihatnya. Dir. Long diam dan kemudian memberi perintah agar mengawasi Hao Qian. Jika Hao Qian menemui psikiater lagi, langsung melapor padanya.
--
Di sebuah restoran mewah, sedang di adakan pertemuan keluarga. Anak perempuan di salah seorang keluarga, Min Er, memiliki penampilan nyentrik dengan rambut berwarna merah. Dan Min Er sibuk melihat kaca. Ayahnya menegur sikap Min Er yang seperti itu. Dan ayah juga meminta maaf pada dir. Lin (ibu Hao Qian) atas sikap Min Er.
“Tidak masalah. Aku memang suka dengan sifat Min Er yang terus terang. Dalam hatiku, dari awal aku sudah menganggap Min Er sebagai menantuku. Hao Qian beberapa hari ini sibuk dengan proyek Hai Wan. Jadi, hari ini tidak bisa kemari. Tetapi Hao Qian sudah mengatakannya padaku. Nanti ada waktu, akan memberikan Min Er perayaan ulang tahun sebagai gantinya. Bagaimana, Min Er?”
Min Er tampak tidak suka. Bukannya menjawab pertanyaan dir. Lin, dia malah pamit untuk pergi karena sudah selesai makan.
--
An Ning membawa Hao Qian ke café dan memperhatikan beberapa pasangan.
Pasangan yang pertama tampak seperti orang yang saling mencintai. An Ning memberitahu Hao Qian kalau si pria datang menemui si wanita karena ingin putus. Mantan pacar pria sudah kembali dan yang pria itu cintai adalah mantan pacarnya. Wanita itu hanya sebagai cadangan saja.
Dan benar, tidak lama, pria itu meminta putus pada wanita itu.
Hao Qian bertanya apakah An Ning bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan? An Ning menjawab tidak. Tapi, gunakan perasaan untuk merasakannya.
Pasangan yang kedua, ceweknya datang terlambat dan si pria langsung memarahinya. An Ning bertanya pendapat Hao Qian, apakah menurut Hao Qian pria itu brengsek? Hao Qiang mengangguk. An Ning langsung berkata kalau pria itu adalah pria idamannya.
“Gadis ini setiap kali datang terlambat saat kencan, dan setiap kali dia terlambat, selalu ada alasan yang berbeda. Pria ini, meskipun selalu menyalahkannya. Tetapi sebenarnya saat pacarnya telat, dia terus khawatir sampai tidak bisa tenang. Pria ini bukanlah orang yang menggunakan rayuan untuk menyenangkan pacarnya, juga bukan orang yang suka melakukan hal romantis. Tapi dia akan membuatkan sarapan untuk pacarnya, dia juga akan mengantar dan menjemputnya ke tempat kerja setiap hari. Dia mengingat semua kesukaan pacarnya. Dia juga mengingat semua kecemasan pacarnya. Dia mencintainya, melindunginya, bersedia berubah deminya. Bahkan, bisa melakukan hal yang diri sendiri merasa tidak bisa melakukannya,” jelas An Ning dan membayangkan dirinya adalah pacar pria itu.
Saat itu, pria itu mengeluarkan buket bunga mawar merah yang telah di siapkannya dan melamar gadis itu.
“Kapan aku bisa bertemu pangeran kuda putihku?” gumam An Ning.

Pengamatan para pasangan sudah usai. Hao Qian mengizinkan An Ning untuk kembali masuk kerja. Dia akan mempercayai An Ning sementara ini, tapi selanjutnya dia akan terus mengawasi An Ning. An Ning senang bisa kembali bekerja dan menyebut Hao Qian sebagai pria bijaksana. Tapi, dia mohon agar Hao Qian merahasiakannya memiliki kekuatan super. Soalnya, dia kehilangan semua pekerjaannya karena hal ini.
“Kulihat kamu kehilangan pekerjaanmu bukan karena alasan ini melainkan karena kamu banyak berbicara,” komentar Hao Qian

Saat itu, ponsel Hao Qian berbunyi. Ibunya menelpon dan marah karena Hao Qian tidak datang. Ini adalah perjamuan makan yang penting dengan paman Liu. Hao Qian tidak peduli, dia tidak pernah berjanji untuk datang. Dir. Lin membahas mengenai paman Lin yang berperan penting dalam proyek Hai Wan dan akan memberikan banyak keuntungan untuk Hao Qian.
“Proyek Hai Wan, aku bisa mengandalkan kemampuanku untuk mendapatkannya. Ini tidak ada hubungannya denganmu. Jika kamu juga tertarik dengan proyek ini, grup Long Teng menyambutmu untuk datang bersaing dengan sehat,” tegas Hao Qian. “Aku masih ada urusan. Lain kali jika ada hal seperti ini, tidak perlu menghubungiku. Aku tidak akan pergi. Masalah bisnis, kamu bisa langsung menghubungi Xiao Zhao.”
An Ning berkomentar kalau ternyata ada orang yang lebih galak dari ibunya. Hao Qian langsung melotot padanya. An Ning memuji ibu Hao Qian yang cantik. Hao Qian langsung berkata kalau itu bukan ibunya. An Ning malah menyimpulkan kalau Hao Qian anak haram. Hao Qian langsung menyuruhnya tutup mulut.
--
An Ning kembali ke dapur. Semua orang menyambutnya dengan senang. An Nin meminta maaf karena sudah membuat masalah hari ini. Nana sangat senang. Dia memanggil An Ning dengan panggilan “kak An Ning.” An Ning menyuruhnya untuk tidak terlalu formal, panggil saja An Ning karena umur mereka tidak seharusnya beda jauh.

Xiao Wu penasaran umur An Ning, karena umur Nana adalah 22 tahun. An Ning memberitahu kalau dia berumur 24 tahun. Xiao Wu kaget karena An Ning terlihat begitu muda dan hanya tua setahun dari manager Ma. Fei Fang kaget, apa Manager Ma bilang pada Xiao Wu kalau umurnya 23 tahun? Yang lain mengiyakan karena manager Ma juga bilang begitu pada mereka. Fei Fang langsung memberitahu umur manager Ma yang sebenarnya adalah 32 tahun.
--

Saat jam istirahat,
Dengan sengaja, Manager Ma duduk di meja An Ning bersama para koki. Ming Jun bertanya bagaimana cara An Ning membuat Hao Qian mengubah keputusannya? An Ning menjawab dengan pede kalau dia menggunakan pesona-nya untuk menaklukan Hao Qian.
Fei Fang penasaran dan tanya apakah An Ning sudah menikah? Baru An Ning mau jawab, Manager Ma sudah langsung bilang kalau nikah itu tidak gampang.
“Jadi ini juga alasan kak Meng Lu masih sendiri sampai sekarang,” komentar An Ning.
“Aku hanya sedang dalam tahap pemilihan saja. Prinsip kita berdua itu berbeda, dan juga tolong panggil aku manajer Ma,” ujar Manager Me dengan nada kesal.
“Baik, manajer Ma. Tetapi meskipun prinsipnya berbeda, tetapi hasilnya kan sama saja.”
Gong Chen (kepala koki) ikut nimbrung, “Di masyarakat sekarang, persaingan antara wanita umur 30an lebih ketat dari perkiraanku.”
“Aturan dari persaingan yang kuatlah yang menang, mengerti?” ujar Manager Ma, kesal.
“Mengerti. Jadi kamu sudah dieliminasi,” balas Gong Chen.
Karena kesal, Manager Ma memilih pergi dari sana sambil berkata kalau Gong Chen pria tua yang tidak menarik. Gong Chen tidak terima dan mengejar Manager Ma.

An Ning bingung melihat mereka berdua. Nana memberitahu kalau setiap Manager Ma dan Kepala Koki bertemu pasti akan seperti ini. Mereka semua sudah terbiasa. Tapi, An Ning benar-benar hebat. Mereka di sini, satupun tidak ada yang berani melawan Manager Ma kecuali Kepala Koki. Dan An Ning tadi berani melawan padanya.




2 comments: