Saturday, September 21, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 31

5 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 31
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi
Semua panik saat melihat Buff memegang kerah baju Shangyan.  Mereka takut kalau Buff akan memukul Shangyan. Dan ternyata tidak. Buff menyerahkan name tag-nya untuk Shangyan dan menyuruh Shangyan untuk mendapatkan juara dunia!

Shangyan menerima name tag Buff. Dan dia berkata kalau Buff sekarang sudah bisa pergi dengan damai. Buff pun pergi, diikuti oleh anggota team-nya.
--
Malam hari,
Shangyan tampak memikirkan sesuatu. Saat itu, Xiaomi datang memanggil Shangyan untuk ikut merayakan masuknya team K&K ke Final. Shangyan menolak untuk ikut. Xiaomi tidak memaksa-nya dan kembali keluar untuk mengurus anggota K&K.

Shangyan memilih bersantai di beranda. Dia membuka aplikasi NetEase dan mendengarkan lagu. Dia kembali mengingat masa lalunya saat berada di team SOLO, saat itu, dia bertekad untuk mendapatkan Juara Dunia, membuktikan pada dunia kalau tidak ada yang tidak mampu China lakukan. Namun, mimpi itu tidak tercapai. Dan hari ini, dia melihat Buff yang sangat memperjuangkan mimpinya, dan akhirnya menyerah.
Dan jalan kemenangan adalah jalan yang penuh rasa sakit dan sangat kejam.
--

Xiaomi turun ke bawah dan bingung karena tidak ada siapapun padahal harusnya mereka berpesta karena berhasil masuk ke Final. Dan tiba-tiba, lampu ruangan yang padam menyala dan para anggota keluar dari kamar mereka sambil bernyanyi untuk Xiaomi. Suara nyanyian mereka terdengar sampai ke ruangan Shangyan.
Xiaomi tentu terharu dengan nyanyian dari mereka. Dia teringat saat awalnya, tidak ada satupun anggota K&K yang mau menerimanya, kecuali Wu Bai. Dan kini, semua telah menerimanya.
--

Di kamarnya, Shangyan melihat foto-foto K&K dari awal di bentuk hingga sekarang. Telah banyak kesulitan yang mereka lalui.
--

Esok pagi,
Shangyan ternyata ketiduran di sofa. Dan saat dia bangun, dia memeriksa ponselnya. Sudah jam 09.15 dan ada pesan dari Tong Nian yang menyuruhnya untuk membuka komputer-nya.
Shangyan-pun membuka komputer-nya. Dan begitu, di nyalakan, lagu Tong Nian langsung berputar. Shangyan tersenyum mendengar lagu Tong Nian. Dia kemudian hendak mematikan komputer, tapi Tong Nian menulis pesan di layar komputer-nya. Ternyata, komputer-nya telah di bajak oleh Tong Nian.
Tong Nian berada di depan kantor K&K. Dia menulis pesan di layar komputer Shangyan untuk membukakan pintu untuknya.


Shangyan dengan terburu-buru turun ke bawah. Dia kaget karena Tong Nian ada di bawah sedari tadi. Tong Nian malah membahas jaringan wifi kantor K&K yang tidak buruk karna dia bisa langsung terkoneksi. Tong Nian juga menyuruh Shangyan untuk tenang saja karena dia tidak sembarangan membajak komputer orang, hanya Shangyan saja.
Mereka bersenang-senang dengan alat permainan yang ada di kantor. Seperti melempar panah ke papan dart. Saat sedang main, Shangyan membuat air panas untuk di minum. Tong Nian khawatir melihat Shangyan dan bertanya apa Shangyan sakit? Shangyan menjawab kalau perutnya terasa tidak enak, mungkin karena gugup. Tong Nian menatapnya dan tersadar kalau di pertandingan besar kemarin, Shangyan pasti lebih merasa lebih gugup dan cemas dari anggota yang bertanding, tapi tidak ada yang tahu hal tersebut.
Dan secara impulsif, Tong Nian langsung memeluk dan mencium Shangyan. Shangyan kaget dengan ciuman tiba-tiba Tong Nian. Tapi, dia tidak menghindar dan malah tersenyum atas ciuman tersebut.
Tong Nian kemudian berujar kalau dia mempunyai hadiah untuk Shangyan. Tong Nian langsung menarik Shangyan untuk ke kamar dan menunjukkan sesuatu di laptop-nya. Shangyan sudah tahu apa yang Tong Nian hendak tunjukkan, pasti website K&K yang Tong Nian buat. Tong Nian kaget, darimana Shangyan tahu? Shangyan tidak memberitahu-nya (kalau dia tahu dari Yaya).

Tong Nian kecewa karena surprise-nya gagal. Shangyan tersenyum dan berkata kalau dia sangat senang. Terimakasih. Shangyan secara perlahan, mendekat, ingin mencium Tong Nian. Tong Nian juga sudah menanti.

Eh, tapi malah masuk pula Xiaomi yang berteriak heboh bertanya kenapa Shangyan mencarinya pagi-pagi? Akhirnya, gagal lah Shangyan mencium Tong Nian. Xiaomi juga jadi tidak enak karena sudah datang di saat yang tidak tepat. Shangyan menyuruh Xiaomi untuk menunggunya di ruang rapat dulu, nanti dia ke sana.
Xiaomi mengiyakan. Dia mau keluar, tapi balik lagi dan mengingatkan kalau Shangyan yang kemarin malam mengirim pesan ingin bicara dengannya pagi-pagi. Jadi, dia tidak salah karena sudah masuk sekarang. Tong Nian jadi semakin malu. Shangyan langsung menyuruhnya untuk keluar.
Tong Nian menyuruh Shangyan untuk bekerja saja dulu. Shangyan pun akhirnya pamit untuk kerja, tapi dia meminta Tong Nian tetap menunggunya.
--
Shangyan menemui Xiaomi di ruang konferensi. Shangyan menanyakan mengenai peringkat top ten CTF. Xiaomi memberitahu kalau Wu Bai masih di peringkat 1, Grunt seimbang dengan seorang anggota SP di peringkat 5. 97 kemungkinan peringkat 9.
“Bagaimana dengan Buff?” tanya Shangyan.
“Buff? Buff di peringkat 4,” jawab Xiaomi. “Ada apa? Apa yang kau pikirkan?”
Shangyan menyuruh Xiaomi menebak apa yang di pikirkannya sekarang. Xiaomi tahu dengan jelas kalau Shangyan pasti ingin mengundang Buff masuk ke team K&K untuk menggantikan anggota team terlemah. Dan ternyata benar.
Tapi, ada satu kekhawatiran Xiaomi. Pertama, Buff sudah berusia 30 tahun dan entah berapa lama lagi dia masih bisa berkompetisi. Jika dia bergabung, maka Buff seperti seorang paman. Kedua, Shangyan dan Buff tidak begitu akur. Dan di pertandingan kali ini, mereka yang mengalahkannya. Apa Buff akan mudah di bujuk untuk bergabung?
Shangyan menjawab kalau itu hal yang mudah. Buff orang yang ingin berkompetisi, jadi pasti mau bergabung dengan mereka. Xiaomi menanyakan mengenai anggota Buff yang lain. Shangyan berkata kalau dia hanya ingin merekrut Buff.
Shangyan sebenarnya juga masih bimbang. Jika dia jadi beneran merekrut Buff, siapa anggota yang harus dia ganti dengan Buff? Tapi, demi bisa menjadi juara dunia, mereka harus bisa melakukan yang terbaik. Anggota yang tidak bisa memberikan yang terbaik, harus rela untuk mengalah (posisi di tukar).
Xiaomi bertanya memastikan, apakah dia perlu menghubungi Buff sekarang? Shangyan berkata dia yang akan menemui Buff, dan Xiaomi tolong bantu carikan alamat tempat tinggal Buff. Xiaomi mengiyakan. Dia akan mencari tahu dulu hotel dimana Buff menginap, mana tahu Buff belum meninggalkan Shanghai.
--

Tong Nian sibuk bermain dengan kucing sembari menunggu Shangyan yang bekerja.
Dari ruangan Shangyan (kamar tidur), Tong Nian bisa mendengar Shangyan yang sedang teleponan (kamar tidur dan ruang kerja Shangyan, terhubung). Shangyan membahas untuk membentuk team baru lagi, untuk persiapan kompetisi lainnya.
Tong Nian malah iseng. Dia turun dari kamar Shangyan ke ruang kerja Shangyan dengan seluncuran yang ada di kamar yang terhubung ke ruan kerja. Shangyan yang melihat Tong Nian, tersenyum.

Shangyan masih teleponan dengan Nan Wei. Dia menyalakan speaker ponsel. Dan karena itu, Tong Nian bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Nan Wei tidak ada masalah dengan rencana Shangyan membentuk team baru, akan tetapi Shangyan sudah melebihi budget anggaran mereka. Dan itu adalah masalah terbesarnya. K&K mempunyai pertandingan lain, tidak hanya di China. Jadi, mereka meminta Shangyan untuk tidak terlalu bias, memihak team K&K China saja.
Shangyan akhirnya berkata kalau dia akan memikirkan jalan keluarnya sendiri, entah dia punya uang atau tidak. Nan Wei menasehati Shangyan untuk tidak membuat diri sendiri bangkrut. Shangyan hanya mengiyakan.
Selesai Shangyan teleponan, Tong Nian langsung bertanya apakah Shangyan tidak ada uang? Shangyan langsung menyebut Tong Nian yang menguping. Tong Nian balas menjawab kalau dia bukan menguping, tapi Shangyan yang menyalakan speaker. Tong Nian menawarkan bantuan, dia punya tabungan.
Shangyan menggoda Tong Nian yang belum bekerja sudah punya tabungan. Tong Nian mengingatkan kalau dia kan nyanyi. Shangyan tersenyum dan menolak bantuan Tong Nian. Dia tidak memerlukannya, tapi dia berterimakasih atas tawaran Tong Nian.
Nan Wei kembali menelponnya. Dan Shangyan kembali mengangkat telepon dan menyalakan speaker. Nan Wei menceramahi Shangyan yang bukannya menabung, tapi menghabiskan uang untuk klub. Bukankah Shangyan harus nabung untuk nikah dan keperluan setelah pernikahan nanti. Jangan sampai nanti Shangyan jadi sangat miskin hingga tidak bisa membeli sebuah celana. Kalau sudah begitu, gadis mana yang mau menikah dengan Shangyan.
“Jika aku tidak punya uang lagi, kau masih mau bersamaku?” tanya Shangyan langsung pada Tong Nian.
“Aku bersedia,” jawab Tong Nian dan memeluk Shangyan.
Nan Wei shock. Ternyata Shangyan sedang bersama calon istri toh. Nan Wei bahkan langsung mematikan telepon.
--
Xiaomi sudah mendapatkan informasi mengenai Buff. Dia hendak ke kamar Shangyan, tapi ragu, harus masuk atau nggak. Nanti masuk malah salah pula kayak tadi.
Eh, umur panjang karena Shangyan keluar dari kamar bersama Tong Nian. Sebelum timbul kesalahpahaman, Xiaomi langsung bilang kalau dia tidak ada menguping. Dia datang untuk memberitahu informasi mengenai Buff. Buff akan pulang dengan keret api besok sore. Jadi, besok sore, jika Shangyan langsung pergi ke hotel Buff, masih ada kesempatan untuk bertemu. Shangyan meminta Xiaomi untuk mengirimkan alamat hotel Buff melalui SMS padanya.
--
Shangyan mengantarkan Tong Nian pulang. Sebelum masuk ke dalam rumah, Tong Nian menasehati Shangyan untuk tidak menanggung semua masalah seorang diri dan menyimpannya di hati. Shangyan mengiyakan. Tong Nian kemudian bertanya, apa yang paling Shangyan khawatirkan? Shangyan tidak memberitahu. Toh, semua masalah akan terselesaikan satu persatu pada akhirnya. Di samping itu, dia memiliki Tong Nian di sampingnya.
Dari jendela mobil. Shangyan mengeluarkan kepalanya, dan mencium Tong Nian. Tong Nian tersenyum menerima ciuman dari Shangyan (hahaha. Pasti ribet ciuman dengan keluarkan tubuh dari jendela. Kenapa nggak keluar dari mobil saja sih).

Setelah Tong Nian masuk ke dalam rumah, Shangyan tidak pulang. Dia malah bermalam di dalam mobil, di depan rumah Tong Nian. Satpam waktu itu, yang ronda dan menemukan Shangyan di atas pohon, menyapa Shangyan dengan ramah karena datang lagi. Satpam itu mengira kalau Shangyan bertengkar lagi dengan pacarnya. Shangyan menjawab kalau mereka tidak bertengkar. Satpam itu mulai mengajak Shangyan berbincang dan memberikan banyak nasehat untuknya. Dia bahkan menyemangati Shangyan untuk terus berjuang.
--
Esok hari,
Tong Nian tidak tahu kalau Shangyan semalaman berada di depan rumahnya. Dan begitu bangun, dia segera mengirim pesan pada Shangyan, memberitahu kalau hari ini adalah 4 bulan sejak mereka bertemu. Tidak lama, Shangyan membalas pesannya, memberitahu kalau sudah 4 bulan 1 hari. Mereka berjumpa tahun lalu, 23 Desember. Waktu itu adalah hampir tengah malam saat dia datang ke internet café. Tong Nian tersenyum lebar dan bahagia karena Shangyan mengingat jelas hari pertemuan pertama mereka.
Tong Nian kembali mengirim pesan kalau dia merindukan Shangyan. Shangyan dengan cepat membalas pesannya, menyuruh Tong Nian turun ke bawah jika merindukannya. Tong Nian kaget. Dia segera memakai jaket-nya dan diam-diam keluar rumah, tanpa ketahuan ayah dan ibu.
Dan hatinya sangat senang karena Shangyan ternyata benar-benar ada di depan rumahnya. Dia bahkan bersorak riang dan langsung melompat memeluk Shangyan (Koala Hug). Dia tersenyum semakin lebar saat tahu Shangyan ternyata tidak pulang semalaman.
Shangyan memberitahu kalau dia masih ada waktu 10 menit sebelum pulang. Apa Tong Nian ingin mengobrol sebentar di dalam mobil? Tong Nian mengiyakan.
Di dalam mobil. Shangyan mengatur tempat duduk mobil agar Tong Nian bisa berbaring dengan nyaman. Dia bahkan memberikan jaketnya untuk Tong Nian gunakan karna takut kalau Tong Nian akan sakit sebab cuaca pagi hari cukup dingin.
Mereka mulai berbincang santai. Yah layaknya orang pacaran, tanya tidur nyenyak, sudah makan atau belum dan sejenisnya. Shangyan tiba-tiba bertanya Tong Nian menginginkan hadiah apa untuk 4 bulan pertemuan mereka? Tong Nian tidak membutuhkan hadiah apapun. Shangyan menyuruhnya untuk memikirkannya dan dia akan memberikannya. Tong Nian akhirnya berkata kalau dia ingin mereka tidak pernah putus lagi.
Mendengar permintaan Tong Niang, Shangyan terdiam.
“Apa maksudmu… kau ingin menikah?” tanya Shangyan.
Tong Nian sangat kaget, karena dia tidak memikirkan sampai ke sana.
“Bukankah terlalu cepat untuk menikah sekarang? Apa kau sangat terburu-buru?”
“Aku tidak terburu-buru,” jawab Tong Nian dengan cepat. “Maksudku adalah…”
“Ini sangat sulit untuk di terima ayah dan ibumu. Karena waktu kita bersama masih terlalu pendek dan kau masih belum wisuda. Kamu mungkin belum terlalu jelas mengenai hal ini, ibumu memiliki beberapa pendapat mengenaiku. Aku belum memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah itu. Jika aku pergi sekarang dan membahas pernikahan padanya, aku takut… dia akan mencariku dengan pisau dapur di tangannya.”
Mendengar ucapan panjang lebar Shangyan, Tong Nian malah lebih terkejut, darimana Shangyan tahu kalau ibunya tidak suka pada Shangyan? Shangyan gugup dan berkata hanya menebaknya. Dia kemudian mengalihkan kembali ke masalah pernikahan. Tong Nian berkata kalau Shangyan hanya salah paham terhadap maksudnya.
Belum sempat Tong Nian menjelaskan lebih lanjut, mereka malah melihat ayah yang keluar rumah untuk membawa anjing jalan-jalan. Mereka berdua jadi panik dan berusaha menyembunyikan Tong Nian. Shangyan berkata dia akan mengalihkan perhatian ayah Tong Nian, sementara Tong Nian langsung masuk ke dalam rumah ya. Tong Nian mengiyakan.
Shangyan pun turun dari mobil, sambil berpura-pura teleponan. Berhasil karena perhatian ayah jadi teralih pada Shangyan hingga tidak melihat Tong Nian yang keluar dari mobil Shangyan (dengan pintu sebelah kiri) dan masuk ke dalam rumah.
Ayah menanyakan kenapa Shangyan ada di depan rumah mereka pagi-pagi? Shangyan beralasa kalau dia kebetulan lewat dan hanya melihat-lihat. Ayah tidak percaya dengan alasan Shangyan. Dia menyuruh Shangyan untuk jujur saja, Shangyan kemari karena masih belum bisa melupakan Tong Nian kan?
Shangyan berakting. Dia membenarkan kalau dia merindukan Tong Nian. Dia sangat mencintai Tong Nian, lebih dari yang ayah dan ibu pikirkan. Dan ayah ternyata menyadari hal itu. Ayah menceramahi Shangyan panjang lebar mengenai kehidupan. Dia menyemangati Shangyan kalau semua akan segera berlalu, dan Shangyan akan bisa move on.
Untungnya, ponsel Shangyan berbunyi. Jadi, Shangyan bisa segera pergi dengan alasan ada hal yang harus di urus.
--
Ibu kaget karena melihat Tong Nian yang sudah bangun. Tong Nian langsung berakting kalau dia baru bangun. Ibu ragu karena biasanya Tong Nian bangun saat siang hari, kenapa sekarang sangat pagi sudah bangun? Tong Nian membual kalau dia sudah berubah. Dia memutuskan untuk tidur lebih cepat, bangun lebih pagi, demi masa depan yang cerah. Ibu heran melihat sikapnya, tapi untungnya tidak curiga lebih jauh.
--
Ayah sudah pulang usai membawa jalan anjing-nya. Dan dia melihat Tong Nian yang ketiduran di sofa. Ayah kemudian memberitahu ibu kalau tadi dia bertemu Shangyan di depan rumah.
Mereka bicara di dapur, agar Tong Nian tidak dengar. Ayah penasaran mengenai alasan Shangyan dan Tong Nian bisa putus. Ibu juga tidak tahu, tapi ayah tidak boleh menanyakan hal itu pada Tong Nian. Saat dulu baru putus, Tong Nian menangis dengan pilu. Walau apapun masalahnya, yang salah pasti Shangyan.
Ayah mengiyakan. Tapi, dia juga memberitahu pendapatnya. Dia merasa kalau Shangyan jauh lebih dewasa daripada yang di pikirkannya. Dia merasa kalau Shangyan masih belum bisa move on dari Tong Nian.
Ibu tidak peduli. Dia menegaskan kalau ayah tidak boleh memberitahu sama sekali pada Tong Nian kalau tadi bertemu dengan Shangyan. Ayah mengiyakan. Tapi, ayah sebenarnya merasa curiga. Saat mereka di kampung waktu itu, dia merasa ada sesuatu antara Tong Nian dan Shangyan.
Ibu tidak suka mendengar-nya. Dia merasa kalau Zheng Hui adalah yang terbaik. Ayah yang tidak mau berdebat lebih jauh lagi, memutuskan untuk tidak membahasnya lagi.
--

Tong Nian sedang sarapan, sambil senyum-senyum mengingat Shangyan. Ayah dan ibu jelas merasa curiga. Ayah langsung mendekatinya dan bertanya apa yang Tong Nian sedang pikirkan? Tong Nian langsung akting, sok sedih, meminta ayah untuk tidak membahas masa lalu lagi.

Ayah dan ibu tertipu dengan akting-nya. Ibu bahkan memarahi ayah untuk tidak menganggu Tong Nian.
--
Buff sudah mengemas barang-barangnya dan akan pergi ke terminal kereta. Anggota team-nya datang untuk memberikan salam perpisahan terakhir.
Dan baru saja Buff pergi, mobil Shangyan baru juga memasuki parkiran hotel.


5 comments: