Saturday, September 21, 2019

Sinopsis C-Drama : Walk Into Your Memory Episode 04

0 comments

Sinopsis C-Drama : Walk Into Your Memory Episode 04
Images by : Tencent

An Ning kaget karena Hao Qian memutuskan untuk membeli dress hitam tersebut. Harga dress itu sangat mahal, 16.800 yuan. Hao Qian mana peduli, dan sok tidak dengar apa yang An Ning katakan. An Ning gengsi, sehingga dia berkata akan membayar dress itu kembali dengan cara mengangsur.
--
Xia Tian menjalani syuting hari ini di kolam renang indoor. Dia memakai bikini dan tampak kedinginan. Sementara sang pemeran utama mengenakan baju tebal dan di kelilingi banyak orang. Syuting sudah mau di mulai dan Xia Tian di suruh untuk segera bersiap.
Xia Tian melepas jaket mandi-nya dan siap untuk syuting. Tapi, sang pemeran utama, Shan Shan, malah minta izin untuk ke toilet dulu.
Setelah itu, syuting baru di lakukan. Adegannya adalah mengenai Shan Shan yang melabrak Xia Tian yang berperan sebagai sahabat baiknya, tapi malah merayu pacarnya. Xia Tian berusaha menjelaskan kalau bukan dia yang merayu tapi pacar Shan Shan yang terus mendekatinya. Dan kemudian, Shan Shan harus menampar Xia Tian hingga Xia Tian terlempar masuk ke dalam kolam.
Sepertinya, Shan Shan tidak menyukai Xia Tian, hingga dia terus menerus melakukan kesalahan dalam adegan dia menampar Xia Tian. Akibatnya, tentu saja Xia Tian harus berulang kali menerima tamparan dan tercebur ke dalam kolam.
Ming Jun datang dengan membawa sebuket bunga untuk Xia Tian dan melihat jalannya syuting. Dia tampak marah melihat Xia Tian yang tampaknya di permainkan oleh Shan Shan.

Entah sudah berapa banyak tamparan yang Xia Tian terima. Dan entah sudah berapa banyak pula dia harus tercebur berulang kali ke kolam. Dan pada akhirnya, Xia Tian pingsan di dalam kolam. Semua panik.
Ming Jun langsung melompat ke kolam dan menyelamatkan Xia Tian. Untungnya Xia Tian berhasil di selamatkan. Dia kaget melihat pria yang tidak di kenalnya berada di hadapanya (Ming Jun). Ming Jun menanyakan keadaannya dengan panik dan Xia Tian langsung berkata kalau dia baik-baik saja.
Sutradara langsung memarahi Shan Shan yang terus membuat kesalahan tadi. Shan Shan hanya bisa menunduk, menerima amarah sutradara. Sutradara pun terpaksa mengakhiri syuting hari ini. Dia menyuruh Xia Tian untuk pulang dan beristirahat untuk syuting besok.
--
Hao Qian memberitahu An Ning kalau dress seperti itu sangat cocok untuk An Ning. Jadi An Ning harus lebih sering mengenakan style seperti itu. An Ning dengan santai berujar itu karena dia memang cantik, jadi bagai apapun cantik.
“Nyonya Kembang Kol dulunya adalah wanita paling cantik di kota. Jadi wajar saja jika anaknya juga cantik.”
“Siapa itu Nyonya Kembang Kol?”
“Ibuku.”
Hao Qian kaget dan tidak percaya karena An Ning berani sekali memanggil ibu sendiri dengan sebutan “Nyonya Kembang Kol.” Kenapa ibu An Ning di panggil seperti itu? An Ning pun menjelaskan kalau tidak penting walau tampilan tidak cantik, yang penting adalah fungsinya. Makin dewasa seorang wanita, makin berkarisma, maka akan terlihat semakin cantik. (Bunga Kembang Kol kan tidak begitu cantik, tapi rasanya sangat enak dan bermanfaat).
Hao Qian kemudian penasaran, kalau An Ning mewakili bunga seperti apa?
“Bunga Daisy ungu,” jawab An Ning.
“Kenapa?” tanya Hao Qian, tertawa sedikit.
“Karena… itu mewakili kebahagiaan,” jawab An Ning, serius.
Hao Qian tampak terkejut dengan jawaban An Ning, tapi dia juga tidak peduli.
--
Ibu Hao Qian mendapat laporan dari sekretarisnya kalau Hao Qian sedang dekat dengan seorang wanita yang adalah pekerja di Hotel Long Teng.
Di tempat yang lain, Ayah Hao Qian pun menerima informasi serupa.
Ayah dan ibu Hao Qian jadi curiga dan penasaran, bagaimana bisa Hao Qian membiarkan seorang wanita mendekat padanya? Mereka juga mendapat laporan kalau baru saja Hao Qian membawa wanita itu untuk berbelanja di mall. Hanya mereka berdua.
Ayah memerintahkan agar sekretarisnya tetap mengawasi Hao Qian.
Ibu juga jadi curiga, apakah Hao Qian sudah pulih?
Ayah juga bertanya pada sekretarisnya, apakah Hao Qian masih menerima terapi dari dr. Ren? Sekretarisnya menjawab tidak. Ayah memerintahkan agar sekretarisnya juga mengawasi An Ning dan jangan sampai ketahuan. Ayah juga memerintahkan agar sekretarisnya mengawasi juga Hao Qian dalam pengerjaan proyek resort bersama tn. Bai. Jika Hao Qian tidak bisa mendapatkan proyek tersebut, dia berencana untuk turun tangan langsung menemui tn. Bai untuk bicara.
--
Xia Tian sudah bertukar baju dan membeli obat. Tapi, saat dalam perjalanan pulang, dia merasa pusing dan pingsan. Untungnya, Ming Jun mengikutinya. Dan begitu melihat Xia Tian pingsan, dengan panik, Ming Jun membawanya ke rumah sakit.

Xia Tian masih belum sadarkan diri. Salah seorang teman Xia Tian, yang adalah kru syuting tadi juga ada di sana untuk melihat keadaan Xia Tian. Dia merasa kasihan dengan Xia Tian yang sangat kesusahan saat syuting tadi dan wajar saja jika sampai pingsan. Xia Tian sangat tertekan dengan kondisi ekonomi keluarganya dan karena itu mempunyai banyak pekerjaan sampingan dalam satu hari, agar bisa membayar hutang. Ming Jun jadi penasaran dan ingin tahu lebih banyak. Kru itu langsung berkata kalau dia juga tidak tahu begitu jelas masalah itu. Hanya saja, dia mendengar rumor kalau ayah Xia Tian adalah seorang penjudi dan kemudian meninggal dunia dalam kecelakaan. Dan akhirnya meninggalkan hutang begitu besar untuk keluarganya. Ibu Xia Tian sudah tua, dan hanya Xia Tian tumpuan keluarga. Tapi, Xia Tian tidak pernah mendapatkan pekerjaan akting yang bagus.
Mendengar itu, Ming Jun tampaknya kasihan pada Xia Tian.
--

Malam hari,
Hao Qian dan An Ning sudah selesai dari pertemuan dan dalam perjalanan pulang. Hao Qian langsung bertanya, apakah An Ning ada melihat apa yang tn. Bai pikirkan mengenai proyek resort tadi? Wajah An Ning tampaknya marah. Tapi, dia tetap memberitahu kalau tn. Bai berencana untuk mendiskusikan mengenai detail kerja sama minggu depan. Pembicaraan-nya tadi mengenai kerjasama dan keuntungan grup L hanyalah test untuk Hao Qian.
Hao Qian senang mendengarnya. Dan kemudian, dia meminta maaf karena tidak memberitahu tujuannya tadi membawa An Ning ke pesta. An Ning tidak menerima permintaan maaf Hao Qian karena jelas Hao Qian memanfaatkannya. An Ning juga menyimpulkan kalau Hao Qian tidak berniat menggunakan kemampuannya untuk mencari memory yang hilang, tapi hanya ingin menggunakan kemampuannya untuk membawa pikiran orang-orang demi kepentingan pribadi!
An Ning benar-benar marah. Dia bahkan menegaskan kalau kontrak kerja sama mereka telah berakhir hari ini juga. Ketika dia tanda tangan kontrak, dia kan sudah bilang dengan jelas akan membantu Hao Qian mencari memori dan kebenaran dari hal yang tidak bisa Hao Qian ingat. Tapi, karena tujuan Hao Qian sudah berbeda, maka kontrak itu sudah tidak berlaku lagi. An Ning juga menegaskan kalau dia tidak tertarik sama sekali dengan masalah bisnin. Dia membantu Hao Qian kali ini adalah karena niat baiknya membantu sesama teman kerja. Dan Hao Qian harus ingat, jika lain kali ingin kerja sama bisnis, maka gunakan cara yang jujur.
“Dan mengenai kau yang kehilangan ingatan masa lalumu itu, berhenti gunakan itu sebagai alasanmu,” tegas An Ning.
“Jika kau bisa melihat memory-ku, seharusnya kau tahu tujuanku membawamu ke pertemuan,” balas Hao Qian, tidak terima di salahkan.
“Itu karena aku terlalu percaya padamu,” jawab An Ning dengan kesal. “Kaerna aku terlalu percaya padamu, bahwa ‘ingatan’ itu sangat penting bagimu, maka aku tidak pernah berpikir untuk melihat apa yang kau pikirkan. Aku juga tidak menyangka kalau kau akan mempunyai motif lain. Aku juga tidak terpikir kalau alasan mencari ingatan yang hilang dan kebenarannya hanyalah alasan untuk menggunakan kekuatanku demi kepentinganmu sendiri.”
Hao Qian menegaskan kalau ingatan itu bukanlah alasan dan bukan juga di buat-buat. Dia benar-benar ingin mencari ingatan itu. Dia bahkan berkata, jika An Ning tidak pernah melalui rasa sakit itu, jangan dengan mudahnya menilai hidupnya.
“Rasa sakit? Aku lihat kau cukup bahagia.”
“Itu berbeda. Kau bukanlah aku. Kau tidak akan pernah mengerti,” tegas Hao Qian.
“Benar. Tidak ada cara bagiku untuk mengerti hal itu. Aku pikir… di hantui mimpi buruk yang sama selama 10 tahun, tidak bisa di sentuh oleh wanita manapun selama 10 tahun, dan di lihat sebagai seorang freak karena alasan itu, kehilangan kenangan yang berharga, mencoba sangat keras untuk mencari kebenarannya… dan hidup hanya dengan ketakutan, akan membuat hidupmu menderita tanpa akhir. Itulah kenapa aku memutuskan untuk mengerti dan membantumu,” ujar An Ning. “Tapi, hari ini aku menyadari-nya kalau semua itu tidak seburuk yang ku pikirkan pada awalnya.”
Hao Qian menatapnya, menanti apa yang An Ning hendak katakan sebenarnya.
“Rasa sakit. Long Hao Qian. Apa kau bahkan tahu apa artinya ‘rasa sakit’? Ah, kau tidak pernah tahu karena ketidak pedulianmu. Rasa sakit… adalah hal yang ingin di lupakan. Bukan untuk di ingat,” tegas An Ning, dan meninggalkan Hao Qian yang berdiri mematung.
--
An Ning pulang dengan menaiki taksi.
Memory penuh rasa sakit sama seperti flu yang menempel di hidupmu untuk waktu yang sangat lama. Hal itu tidak membunuhmu, tapi kau tidak pernah bisa merasa tenang. Aku kira, memori yang hilang sama artinya untuknya. Itulah kenapa aku sangat bersemangat untuk menemukan kebenaran baginya. Aku merasa seperti aku sedang mencari obat. Aku bahkan menunjukkan simpati padanya. Sekarang, aku merasa seperti hanya membuang waktu-ku saja.
--

Hao Qian sudah kembali ke rumah dan bekerja. Tapi, dia terus teringat ucapan AnNing bahwa rasa sakit adalah hal yang ingin di lupakan, bukan untuk di ingat. Dan dia kembali terngiang suara wanita yang berujar : “Aku membencimu, Long Hao Qian.” Hal itu membuat Hao Qian kembali merasakan sakit kepala yang sangat. Dia langsung meminum obatnya.
Setelah agak tenang, Hao Qian menelpon dr. Ren, meminta untuk bertemu.
--

Hao Qian terbaring di sofa. Dia tampak bermimpi buruk. Keringat membasahi tubuhnya. Dan tiba-tiba dia membuka matanya.
dr. Ren ada di hadapannya. Dia mengingatkan Hao Qian kalau dia kan sudah bilang sebelumnya sebelum datang kemari, kalau ini sudah saat nya bagi Hao Qian untuk menyerah. Mereka sudah melakukan semua yang mereka bisa selama 10 tahun ini. Jika hypnosis yang mereka lakukan barusan bisa berhasil, mereka pasti sudah melakukannya sejak dulu.
--
An Ning sudah tiba di rumahnya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin dan teringat masa lalunya.

Flahsback
Dulunya, An Ning buta. Dan ketika dia beranjak remaja, dia baru mendapat transplantasi mata dan akhirnya bisa melihat. Dan hal yang pertama di lihatnya selain dokter dan suster adalah bunga daisy ungu.
End
An Ning teringat ucapannya pada Hao Qian tadi, mengenai rasa sakit adalah hal yang ingin di lupakan, bukan untuk di ingat.
“Haruskah aku melupakannya atau mengingatnya?” tanya An Ning, pada dirinya sendiri, mengenai masa lalunya.
--
Esok hari,
Para koki makan siang di kantin sambil berbincang santai. Fei Fang menggoda  Ming Jun yang selalu berkeliaran di sekitar An Ning seperti lalat saja. An Ning dengan bercanda menjawab kalau Ming Jun memang suka mengikut gadis cantik.
Meng Lu yang juga lagi sarapan bersama pada pegawai ruang makan, malah mengejek An Ning yang sangat percaya diri. Jelas, Meng Lu yang mencari masalah. An Ning tentu membalasnya.
“Jujur saja, jika kau seorang pria, apa kau akan menikahi orang seperti dirimu ini?” ejek Meng Lu.
“Sejujurnya saja ya, aku bahkan tidak berani memikirkannya. Siapa yang bisa mendapatkan kehormatan menikahiku?” balas An Ning.
Semua team koki langsung bersorak mendukung An Ning. An Ning kemudian berbasa basi, bertanya siapa tipe ideal Meng Lu? Dengan sombong, Meng Lu berkata dengan semua kualifikasi yang di milikinya, tentu saja tipe pria -nya adalah yang terbaik. Dia ingin pria yang sukses karir, muda dan tampan. Dia tidak suka dengan pria tua yang bertingkah kekanak-kanakkan dan masih sok berpikir seolah dirinya dewasa. Jelas, semua tahu kalau Meng Lu menyindir Gong Chen.

Seolah tidak sadar diri sendiri, dia malah semakin dan semakin menyindir Gong Chen. Gong Chen awalnya berusaha sabar, tapi karena Meng Lu semakin kurang ajar mengata-ngatainya, Gong Chen jadi kesal juga. Dia menyuruh Gong Chen memperhatian wajahnya dengan seksama dan melihat apa yang ada di wajahnya. Meng Lu malah menjawab kalau dia melihat tahi mata. Semua jelas tertawa. Di tambah lagi, Meng Lu menambahkan kalau keriput Gong Chen sangat banyak. Semakin tertawalah orang-orang.
Gong Chen kesal. Apa yang ada di dirinya adalah karisma. Karisma seorang pria dewasa. Sama seperti anggur yang semakin lama semakin berkualitas. Kurang ajarnya, Meng Lu malah mengejek Gong Chen yang bau asap. Gong Chen jelas sangat kesal (siapa yang tidak kesal kalau di gitukan. Aku pun kesal).
An Ning mendapat telepon dari Hao Qian, dan dia langsung mematikan ponselnya.
Hao Qian kesal karena An Ning mematikan telepon darinya.
--

Xia Tian kembali menjalani syuting dan kali ini outdoor. Xia Tian juga berterimakasih pada kru wanita kemarin yang telah membawanya ke rumah sakit. Kru itu hendak menjelaskan kalau bukan dia yang membawa Xia Tian ke rumah sakit, tapi belum sempat dia mengatakannya, Xia Tian sudah di panggil sutradara untuk syuting.
--
Hao Qian menunggu An Ning di depan hotel. Begitu melihat An Ning, dia segera menghampirinya dan bertanya kenapa An Ning tidak menjawab teleponnya? Dia ingin membicarakan sesuatu. An Ning tidak peduli karena dia tidak ingin membicarakan apapun. Hao Qian berusaha bernegosiasi, tapi An Ning tetap menolak. Masa magang-nya dan gajinya ikuti saja aturan perusahaan.

Hao Qian tidak menyerah. Dia terus mengikuti An Ning. Masalahnya, An Ning malah pergi ke stasiun subway yang penuh dengan orang. Walau ragu, Hao Qian tetap masuk dan mengikutinya. An Ning terus mengabaikannya.
An Ning masuk ke dalam kereta yang baru saja tiba, Hao Qian hendak ikut masuk, tapi pas pula seorang ibu-ibu menyentuhnya untuk menanyakan alamat. Di sentuh oleh wanita, membuat Hao Qian jadi mual. An Ning yang melihat itu dari dalam kereta, langsung keluar lagi sebelum pintu kereta menutup. Ibu itu panik melihat Hao Qian yang mual, dan mengira Hao Qian sakit sehingga tidak melepaskan pegangannya.
Dan dengan bantuan An Ning, akhirnya Hao Qian bisa terlepas dari ibu itu. An Ning bahkan membawa Hao Qian ke minimarket yang ada di subway dan membelikannya sebotol air. Dia juga memberikan obat.
“Aku minta maaf untuk yang terjadi hari itu,” ujar Hao Qian. “Aku tidak akan meminta maf lagi. Dan untuk kontrak, setelah yang kau katakan, aku merasa detail-nya masih bisa kita bicarakan.”
“Membicarakan apa?”
“Sebutkan harganya. Berapa banyak yang kau inginkan untuk melanjutkan kontraknya?”
An Ning jelas kesal karena Hao Qian malah membahas mengenai uang. Ini bukan masalah dengan uang. Hao Qian malah dengan congkak berkata kalau dia ragu kalau uang tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Jika uang tidak bisa, maka dia akan tingkatkan nominal-nya.
An Ning menggelengkan kepala, tampak kesal.
--
Min Er melihat foto Hao Qian saat menunggangi kuda yang di potretnya tempo hari (di episode 03). Foto itu hanya menampakkan sosok belakang Hao Qian, tidak terlihat wajahnya.

Ibu masuk ke kamarnya. Dia memberitahu Min Er kalau ayah mengundang dir. Lin (ibu Hao Qian) untuk makan malam bersama baru saja. Dan dir. Lin bilang akan membawa Hao Qian juga. Jadi, ibu menasehati Min Er untuk tidak bersikap kurang ajar lagi, nantinya.
Min Er tidak terima di bilang bersikap kurang ajar. Dia hanya tidak suka pada wajah sombong dir. Lin. Orang seperti dir. Lin, pasti tidak akan punya putra yang baik.
Ibu langsung memarahi Min Er. Dia mendengar kalau Hao Qian cukup luar biasa. Dan juga, ayah bilang kalau Hao Qian cukup berpontensi karena grup Long Teng sedang bekembang dalam beberapa tahun ini. min Er tidak peduli. Dia hanya 20 tahun dan tidak mau menikah. Lagipula, dia sudah cukup menghasilkan uang dengan melakukan live stream.
“Uang yang kau hasilkan tidak cukup untuk pengeluaranmu,” balas ibu. “Ibu peringati ya, abangmu sudah menyia-nyiakan hidupnya dan kau tidak boleh sepertinya!”
Min Er kesal karena ibu membahas hal itu lagi. Dia sudah dewasa. Dan dia tahu untuk tidak melawati batas. Ibu semakin marah dan berkata kalau Min Er sama saja seperti abangnya. Dia tidak peduli lagi dengan apa yang ingin Min Er lakukan. Tapi yang jelas, saat pertemuan dengan Hao Qian, Min Er harus datang!
--
Karena baru dari subway, udah sampai rumah pun, Hao Qian masih mual-mual. Ming Jun sampai mengejeknya yang udah tahu nggak bisa bersentuhan dengan wanita, malah ke tempat ramai seperti subway.
Ming Jun kemudian menunjukkan foto Xia Tian di ponselnya. Hao Qian kesal karena Ming Jun bukan perhatian padanya, malah menunjukkan foto wanita. Karena kesal, Hao Qian membuang ponsel Ming Jun ke tong yang dia persiapkan untuk muntah (tenang, dia belum muntah, masih mual). Ming Jun jelas ikutan kesal jadinya.
Ming Jun kemudian dengan serius berkata kalau dia sudah jatuh cinta. Hao Qian cuek, karena Ming Jun kan sudah sering jatuh cinta. Ming Jun berkata kalau saat ini berbeda. Hao Qian malah menggodanya yang, apa jatuh cinta dengan pria? Ming Jun membantah.
Hao Qian tidak peduli dan memilih kembali ke kamarnya.
--
An Ning lagi galau. Dia teringat saat Hao Qian mengejarnya hingga ke stasiun subway dan jadi muntah-muntah. Dia merasa khawatir dan menelpon Hao Qian, tapi nomornya tidak aktif.
An Ning kemudian mencoba mencari di Baidu dengan kata kunci “Alergi sentuhan wanita” dan sejenisnya. Tapi, tentu saja tidak ada informasi mengenai hal tersebut.
--

Ming Jun memberanikan diri untuk menelpon Xia Tian. Dan tentu saja, Xia Tian tidak mengenalnya dan langsung mematikan telepon. Dia mengira Ming Jun adalah orang mesum, karena Ming Jun berkata kalau mereka bertemu di hotel.
--
Esok hari,
An Ning datang ke rumah Hao Qian. Dia datang untuk mengembalikan dress hitam waktu itu. Dia juga mendapatkan alamat Hao Qian dari Ming Jun. An Ning sangat kagum melihat rumah Hao Qian yang sangat besar. Saat masuk saja, ada pelayan yang membukakan pintu dan ada pelayan yang menyediakan sandal rumah untuk An Ning kenakan. An Ning benar-benar takjub, apalagi ada lift di sana.

Pelayan rumah mengantarkan An Ning pada Hao Qian. Hao Qian sok cuek dengan sok membaca buku. An Ning mengembalikan baju dress itu. Dia juga membawakan bubur karena dia dengar kalau Hao Qian sedang sakit. Hao Qian langsung berkata kalau dia tidak selera makan sama sekali saat ini. Kemarin malam, dia muntah. Sepanjang malam!
“Apa aku yang menyuruhmu mengikutiku? Apa aku yang mendorongmu masuk ke stasiun subway? Makan atau tidak, terserah kau saja!” kesal An Ning.
An Ning sudah mau pergi, tapi Hao Qian malah menghentikannya pergi dengan bertanya, keputusan An Ning terhadap kontrak itu. Dia juga menceramahi An Ning yang selalu saja melihat dengan tatapan dingin seperti itu padahal seorang wanita.
An Ning kesal dan berbalik pergi. Hao Qian langsung bangkit dan memuji An Ning yang cantik, baik dan dermawan, pandai masak dan sangat hebat. An Ning tersenyum senang mendengarnya.
“Bukan karna kau bicara kebenaran, tidak berarti aku akan melanjutkan kontrak denganmu,” ujar An Ning.
Hao Qian mengingatkan kalau dirinya sampai mengikuti An Ning ke stasiun subway kemarin. Jadi, selagi dia meminta baik-baik, seharusnya An Ning…


An Ning langsung pergi. Tidak mau mendengar lagi. Hao Qian mengejarnya. Dan tanpa sengaja, dia menginjak bagian belakang sandal An Ning, di saat An Ning akan turun tangga. Sandal itu koyak dan An Ning terjatuh. Hao Qian berusaha menahannya, tapi ikut terjatuh juga. Mereka terguling di tangga. Untungnya tidak luka parah. Tapi, tangan Hao Qian malah tanpa sengaja menyentuh bokong An Ning. Mereka jelas jadi canggung. An Ning langsung pamit pergi. Hao Qian tidak lagi mencegahnya. 


Tapi, setelah An Ning pergi, Hao Qian entah kenapa malah mendapat sedikit ingatannya. Dia ingat saat di hutan 10 tahun lalu, saat itu Du Kai ada di sana dan melihatnya. Hao Qian pun segera lari keluar, mengejar An Ning.
An Ning sudah kelura dari rumah Hao Qian. Dia merasa geli sendiri karena baru merasakan pertama kali bokong di sentuh. Rasanya sangat aneh. An Ning bahkan memegang bokongnya sendiri dan berujar kalau rasanya tidak sama saat dia menyentuhnya sendiri. Tapi, kenapa harus Hao Qian yang menyentuh bokongnya?
“An Ning!” terdengar suara teriakan Hao Qian.
An Ning takut. Dia malah berpikiran kalau Hao Qian ingin menyentuh bokongnya lagi (Hahaha), dan karena itu dia langsung lari. Hao Qian terus mengejarnya.
Dan pengejaran harus terhenti karena Hao Qian mengijak kotoran anjing (sial kali). Hao Qian shock. An Ning juga. An Ning bahkan melarang Hao Qian untuk mendekat dan menyuruhnya untuk bicara dari jauh saja.

“Kau melihat ingatan Du Kai saat pertemuan terakhir kali. Tapi, kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Aku sudah bilang, aku tidak melihat apapun.” 
“Apa yang sebenarnya kau lihat?”
“Aku sudah bilang… semuanya kabur. Aku tidak bisa melihat apapun.”
“Coba ingatlah.”
“Aku tidak bohong padamu. Aku tidak ingat,” tegas An Ning. “Aku kira kau ingin menggunakan kemampuanku untuk keperluan bisnis. Kenapa tiba-tiba mencari memory mu lagi?”
“Berhenti membahas hal itu. Aku tidak akan menyalahgunakan kekuatanmu lagi, okay. Jangan begitu picik. Ayo kembali ke rumahku dan bicarakan,” bujuk Hao Qian.
An Ning menolak karna dia harus segera ke hotel untuk kerja. Hao Qian mengingatkan kalau dia kan pemilik hotelnya, jadi An Ning dengarkan saja dia. An Ning tiba-tiba mengucapkan kalau dia ikut berbahagia karena Hao Qian mendapatkan sedikit ingatan dari kejadian 10 tahun yang lalu. Dan mengenai kontrak, itu akan tergantung mood-nya.
Usai itu, An Ning pun pergi meninggalkan Hao Qian yang masih berdiri mematung karena ngijak kotoran anjing.
--
Ibu An Ning lagi galau. Haruskah dia mencoba mendaftarkan An Ning ke reality show kencan buta itu atau nggak ya? Kakek menyuruh ibu melupakan hal tersebut. Jika An Ning sampai di tolak di ronde pertama, maka itu sangat memalukan. 
Ibu jadi kesal lagi karena An Ning belum pernah bersentuhan dengan pria. Belum pernah jatuh cinta juga. Melihat An Ning yang selalu waspada selama bertahun-tahun, haruskah dia merasa lega atau khawatir ya?
“Kau harus khawatir,” jawab kakek.
--


Ming Jun datang lagi ke lokasi syuting Xia Tian dengan membawa sebuket mawar merah.
Bersambung

No comments:

Post a Comment