Sunday, September 29, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 34

1 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 34
Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi
Profesor menunjuk ke arah Shangyan dan bertanya, “Siapa kamu? Kenapa kemari? Salah masuk kelas hah?!”

Shangyan tidak takut dan malah dengan santai menjawab kalau dia datang dari jauh karena tertarik pada terkenalnya Universitas Jiaodong dan mampir. Profesor menjawab kalau harusnya Shangyan pergi berkeliling kampus, bukannya malah duduk di dalam kelas ini.
“Kenapa? Ada orang yang kau kenal di sini?” tanya profesor.
“Tentu saja,” jawab Shangyan tanpa ragu.
Profesor langsung nanya, siapa yang mengenal Shangyan? Tidak ada yang berani menjawab. Profesor menatap Tong Nian yang duduk di samping Shangyan, dan langsung curiga, apa Tong Nian pacar Shangyan?
Shangyan tersenyum dan membenarkan. Tidak di sangka, profesor malah bicara dengan santai bertanya apakah Shangyan datang untuk mengajak Tong Nian kencan? Nonton bioskop?
Tapi, mahasiswa/I yang lain malah menggoda Tong Nian yang bodoh karena membawa pria ke dalam kelas mereka. Mereka juga kasihan pada Tong Nian yang bisa jatuh ke dalam tangan Shangyan yang jauh lebih tua.

Profesor dengan santai berkata pada mereka untuk tidak khawatir. Dia dan Shangyan langsung saling memberikan tos. Semua kaget. Profesor langsung memperkenalkan Shangyan yang adalah junior-nya dulu. Shangyan menjelaskan lebih agar tidak ada yang salah paham, kalau profesor waktu itu usia 30 atau 40tahun-an saat mereka 1 kelas saat kuliah dulu.
Profesor pun akhirnya mengakhiri kelas. Profesor ingin mengajak Shangyan bicara lebih lama, tapi Shangyan meminta maaf karena hari ini tidak bisa. Untungnya profesor cepat tanggap kalau Shangyan nggak bisa karena ingin kencan dengan Tong Nian.
Yaya juga sudah langsung pergi duluan agar tidak mengganggu.
Dan karena tinggal berdua, maka di mulailah kencan mereka di dalam kelas. Shangyan menulis di papan tulis namanya dan nama Tong Nian, kemudian di tengah papan tulis dia membuat gambar love.
Setelah itu, mereka lanjut keluar kelas. Tong Nian benar-benar bahagia hingga tertawa terus. Tong Nian kemudian tersadar kalau dia harus menghapus tulisan di papan tulis tadi atau nanti ada yang melihat. Tong Nian pun langsung lari ke kelas dan meminta Shangyan menunggu.
Setelah Tong Nian kembali, pas pula Zheng Hui muncul. Shangyan jelas terganggu melihatnya. Apalagi Zheng Hui malah memberikan hadiah untuk Tong Nian dan meminta waktu untuk bicara. Tong Nian bingung kenapa Zheng Hui memberikannya hadiah? Dan juga, dia meminta Zheng Hui untuk bicara langsung saja di sini. Dia dan Shangyan sedang terburu-buru mau pergi.
Zheng Hui masih belum sadar keadaan. Dia malah ingin menyatakan cinta-nya. Shangyan yang paham akan gelagat Zheng Hui, langsung mengalihkan dengan mengajak Zheng Hui bicara berdua dan menyuruh Tong Nian menunggu di dalam mobilnya, yang dia parkir di gerbang masuk. Tong Nian sedikit bingung, tapi dia menurut dan pergi.
Setelah Tong Nian pergi, Shangyan bicara serius dengan Zheng Hui. Dia sudah mendapati Zheng Hui sebanyak 3 kali (pertama, saat Shangyan pertama kali datang ke kampus Tong Nian. Kedua, saat di rumah sakit. Dan sekarang adalah yang ketiga) berusaha mencuri pacarnya di depannya. Zheng Hui bingung, 3 kali? Maksudnya, Tong Nian?
Shangyan membenarkan dan bahkan menambahkan kalau bulan depan, Tong Nian sudah akan menjadi istrinya. Jadi, dia memperingati Zheng Hui agar bertindak yang benar. Jika hal ini terjadi lagi, dia akan bersikap tegas.
“Berapa beda usia mu dan Tong Nian? Kau mengerti apa yang Tong Nian sukai? Aku kasih tahu padamu ya, nilaiku sama bagusnya seperti Tong Nian. Hobi kami juga sama. Dia dan aku adalah orang dengan dunia yang sama. Aku kasih tahu padamu, mencintai seseorang berbeda dengan membesarkan hewan peliharaan. Ingat perkataanku yang ku katakan ini : Kecuali Tong Nian yang memberitahuku. Jika dia tidak bilang sendiri kalau dia suka padamu, aku tidak akan menyerah!” tegas Zheng Hui.
Saat Shangyan mendekat padanya, Zheng Hui menegaskan sekali lagi kalau dia tidak akan menyerah! Dan kemudian dia pergi.
--
Tong Nian membawa Shangyan berjalan-jalan di lingkungan kampus dan memperkenalkan setiap sudut kampus. Setelah itu, Tong Nian penasaran bagaimana Shangyan dan profesor-nya bisa saling mengenal? Shangyan pun bercerita kalau profesor adalah orang yang baik dan cukup menarik. Profesor sudah mengajar Bahasa Inggris hingga usia sekitar 40 tahun dan kemudian ingin liburan panjang untuk dirinya sendiri. Jadi, profesor memutuskan untuk melanjutkan kuliah Master Industrial Design.
Shangyan kemudian tiba-tiba penasaran dan bertanya, apakah Tong Nian merasa dirinya adalah orang yang tidak tahu caranya berkencan? Tong Nian dengan jujur menjawab kalau dia belum pernah pacaran sebelumnya, jadi dia juga tidak tahu sama sekali. Tapi, dia merasa, mereka berdua yang tidak punya pengalaman berkencan, hal ini cukup menarik juga. Dan juga, mereka kan bisa belajar bersama mengenai hal ini.
Shangyan bertanya lagi, dia kan selalu memasang wajah datar, apa dia terlihat seperti orang yang sangat kejam dan sulit di dekati? Tong Nian langsung membatah hal itu karena dia tahu Shangyan hanya berpura-pura. Shangyan kan mengurus banyak anak muda, tentu saja harus berpura-pura sedikit. Dan dia sudah tahu sekarang kalau semua anggota K&K tidak takut sama sekali pada Shangyan.
Shangyan malah berkata akan bersikap lebih kejam lagi sekarang. Tong Nian langsung tertawa mendengarnya. Menurutnya, semakin kejam Shangyan, semakin imut dia merasa.
Mereka kemudia lanjut jalan dan berkencan. Shangyan kemudian bertanya, kalau dia adalah senior Tong Nian di kampus, apa yang Tong Nian ingin dia lakukan?
Tong Nian langsung membawa Shangyan ke kantin kampus. Di sana adalah hotpot kecil yang banyak orang mengantri untuk mengambilnya. Dan harapan Tong Nian adalah pacarnya akan mengantri mengambilkan hotpot itu untuknya. Shangyan langsung melakukannya. Jelas, Tong Nian merasa sangat bahagia.

Shangyan juga bahagia karena Tong Nian bilang padanya, kalau Shangyan adalah pria yang pertama mengantri untuknya. Shangyan memastikan dengan bertanya apakah Zheng Hui tidak pernah? Tong Nian langsung menjawab kalau dia dan Zheng Hui beda tahun ajaran jadi dia juga jarang melihat Zheng Hui. 

Shangyan kemudian memberitahu kalau pertandingan Final Team Global akan di lakukan di Norway. Dan dia akan membawa Tong Nian bersamany. Jadi, mereka harus mulai menyiapkan Visa Tong Nian. Tong Nian sangat senang mendengarnya dan juga bersemangat.
Meskipun pertandingan Final International belum di mulai, tapi saat ini, aku sepenuhnya percaya padanya. Dia, Han Shangyan, pasti akan bisa membawa K&K masuk ke final!
Pertandingan Final National semakin dekat hari ke hari. Kali ini, aku akhirnya bisa benar-benar ikut berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sangat keren daripada yang ku pikirkan.

Para anggota K&K terus latihan, menyusun strategi, beristirahat, bermain dan kembali latihan lagi. Latihan terus menerus.
Setiap kompetisi selalu seperti ini. Setiap hari, setiap minggu, setiap tahun, selalu latihan lagi dan lagi. Mengulang gerakan yang sama ribuan dan puluhan ribu kali. 1 tahun, 2 tahun, hidup seperti ini setiap harinya. Setiap harinya.
Dan Tong Nian menemani Shangyan, selalu. Shangyan sibuk melihat pertandingan ulang di komputernya hingga menolak untuk makan. Jadinya, Tong Nian menyuapinya.
--
Dan tidak terasa, 5 hari lagi hingga pertandingan final nasional.

Dan ny. Han sudah datang ke Shanghai. Shangyan protes karena ny. Han datang begitu lama padahal dia kan sudah minta datang lebih cepat. Ny. Han memberitahu alasannya datang lama karna dia mencari tiket pesawat yang diskon. Dia kan harus mulai menabung untuk hadiah uang pernikahan Shangyan nanti-nya.
Shangyan mengajak ny. Han untuk bicara serius. Dia memberitahu kalau orang tua Tong Nian tampaknya sangat tidak menyukai-nya. Ny Han kaget. Kenapa mereka tidak suka pada Shangyan? Shangyan kan anak yang sangat hebat. Shangyan menjelaskan kalau sekarang mungkin sudah lebih baik, tapi mereka belum menganggapnya begitu hebat.
Ny. Han penasaran dengan Tong Nian. Tong Nian kan sudah mau lulus, apa karir nya akan di lakukannya? Shangyan baru tersadar, dia tidak tahu apapun. Ny. Han tertawa tidak percaya mendengar jawaban Shangyan, apa benar Tong Nian dan Shangyan pacaran? Shangyan menjelaskan kalau dia dan Tong Nian baru mengenal kurang lebih 200 hari dan tidak banyak hari sejak mereka benar-benar bersama.
“Dan kau yakin… dia satu-satunya?” tanya Ny. Han.
Shangyan mengangguk.
“Kau tahu bagaimana setia pada satu orang? Anakku, jika kau benar-benar mencintai seseorang, kau harus menyerahkan segalanya untuknya. Itu baru cinta hanya jika kau menyerahkan segalanya padanya.”
Shangyan memikirkan apa yang Ny. Han katakan tersebut.
--

Tong Nian sedang berada di kampus. Shangyan menelponnya dan langsung bertanya apa yang akan Tong Nian lakukan setelah lulus kuliah? Tong Nian menjawab kalau dia berencana untuk bekerja, tapi mentor-nya tidak membiarkannya dan ingin dia mengambil PhD. Dan dia sudah memikirkannya, karena dia masih muda, dia akan tetap tinggal di kampus dan membantu mentor-nya. Tapi, tahun depan, dia akan secara resmi melanjutkan kuliah untuk PhD.
Shangyan kemudian memberitahu Tong Nian kalau ibu tirinya sudah datang. Tong Nian protes karena Shangyan tidak memberitahunya lebih awal dan kenapa ibu Shangyan datang? Dia harus bertemu dengan ibu Shangyan.
Shangyan berkata kalau ibu tirinya akan ke rumah Tong Nian malam ini. Tong Nian tambah kaget. Tong Nian berkata akan bergegas pulang sekarang juga ke rumah.
Setelah selesai teleponan dengan Tong Nian, Shangyan memberitahu Ny. Han jawaban atas pertanyaan Ny. Han tadi mengenai apa yang akan Tong Nian lakukan setelah lulus. Mendengar jawaban Shangyan, Ny. Han jadi mengerti kenapa orang tua Tong Nian sangat menjaga Tong Nian, karena Tong Nian sangat pintar.
Ny. Han kemudian bersiap hendak pergi ke pertemuan orang tua. Mereka sebagai pihak dari lelaki harus tiba 30 menit sebelumnya. Dan juga, dia menyuruh Shangyan untuk memakai baju yang lebih formal.
--
Ternyata, mereka tidak bertemu di rumah Tong Nian melainkan di restoran hotel. Ny. Han untungnya berbeda dari Shangyan karena dia sangat ramah dan sopan. Dia juga menyiapkan hadiah wine untuk ayah Tong Nian dan hadiah set make up untuk ibu Tong Nian. Dan orang tua Tong Nian memang ternyata tidak ingin Tong Nian untuk ikut dalam pertemuan keluarga ini.
--
Tong Nian berada di dalam taksi dan dalam perjalanan menuju ke rumah, tapi mereka malah terjebak macet. Tong Nian panik dan meminta supir nanti untuk lebih cepat sedikit. Pacar orang tuanya akan datang untuk bertemu orang tuanya, jadi dia harus ada di sana. Dan orang tuanya juga tidak menyukai pacarnya.
Supir itu malah curhat kalau dulu, orang tuanya istrinya juga menentang hubungan mereka. Tapi, dia berusaha dengan setiap hari berkunjung dan membantu melakukan pekerjaan rumah. Dan pada akhirnya, mertuanya menerimanya.
Tong Nian langsung pamer kalau pacarnya juga sangat baik padanya dan tidak membiarkanya melakukan apapun. Supir itu memuji pacar Tong Nian yang sangat baik dan menasehati Tong Nian untuk menjaga pacarnya itu.
--
Ny. Han memuji Shangyan di depan orang tua Tong Nian. Dia memberitahu kalau Shangyan datang ke Shanghai seorang diri saat berusia 19 tahun. Dan saat dia memikirkan hal itu, bekerja seorang diri tentu sangat sulit. Saat itu, dia bahkan tidak memberikan uang sepeserpun dan bahkan melarang Shangyan untuk datang ke Shanghai. Dia mengira kalau Shangyan tidak akan bisa bertahan dan akan segera pulang secepatnya, tapi tidak di sangka, Shangyan benar-benar tidak pulang. Dia menjadi sangat khawatir. Dia pun segera membeli tiket ke Shanghai dan ingin melihat apa yang Shangyan lakukan. Dan ada sesuatu yang tidak akan mereka mengerti jika tidak melihatnya dengan mata sendiri. Jika mereka bisa lebih lama mengenal Shangyan, mereka pasti akan tahu kalau Shangyan adalah anak yang cukup baik.
Meskipun dia bukan ibu kandung Shangyan, tapi aku hanya mengakui Shangyan sebagai anak-nya satu-satunya.

Flashback
Ny. Han datang ke Shangyan dan pergi ke asrama dimana Team SOLO tinggal. Shangyan tahu dia datang tapi tidak mau menemuinya. Ny. Han berteriak dari pintu rumah kalau dia akan membawa Shangyan pulang ke rumah apapun yang terjadi.
Ny. Han mulai menangis karena Shangyan seperti ini padanya, padahal dia sudah menjaga Shangyan dari usianya 20 tahun sampai sekarang. Uang yang ayah Shangyan tinggalkan untuk masa depan Shangyan, sekarang malah di gunakan untuk ini. Bagaimana dia nantinya bisa menemui mendiang ayah Shangyan?
“Apa bedanya menggunakan uang itu sekarang dan nanti? Aku mengganti kewarganegaraanku dan kembali ke sini agar aku bisa mendapatkan juara untuk China. Jika aku kembali sekarang denganmu, aku harus menyerah sebelum mencobanya.”
“Kejuaraan apa? Apa kau bersiap untuk bermain ini selamanya?”
“Aku bukan bermain-mani. Ini adalah olahraga yang membutuhkan kemampuan dan intelektual. Meskipun China baru memulainya, tapi, aku percaya suatu hari kita akan bisa berdiri di atas puncak dunia!”
Saat itu, ibu Solo tiba dan melihat mereka yang bertengkar di depan pintu rumah (Shangyan ada di atap genteng). Dia langsung menenangkan ibu Shangyan dan mengajaknya untuk masuk. Dia akan menunjukkan video saat pertandingan Team SOLO dan menang. Mereka sangat keren. Jika setelah melihat video itu, Ny. Han masih tetap tidak suka, dia akan membantu untuk menyeret Shangyan pulang kembali ke Norway.
End
Dan setelah itu, Ny. Han akhirnya mulai mengerti mengenai apa yang Shangyan lakukan dan hal itu bukanlah hal yang mudah. Walau sudah begitu, masih banyak orang yang tidak mengerti dan memandang sebelah mata hal itu. Tapi, Shangyan tidak pernah memberitahu mengenai segala kepahitan yang di alaminya dan menderita seorang diri. Tentu saja, Shangyan memiliki beberapa kekurangan juga. Akan tetapi, Shangyan benar-benar anak yang baik.
Ayah dan ibu mendengarkan dengan seksama. Ibu tampaknya tersindir karena dia juga memandang remeh dulu apa yang Shangyan lakukan.
Setelah bicara panjang lebar, Ny. Han jadi merasa bersalah karena sudah bicara panjang lebar. Ayah tersenyum dan mengatakan tidak apa. Dia dan Ny. Han bisa nyambung saat bicara.
Setelah pembicaraan panjang, Ny. Han akhirnya bertanya apakah mungkin untuk membiarkan Shangyan dan Tong Nian bertunangan dulu secepat mungkin? Ayah dan ibu kaget.  ibu meminta kalau mereka tidak membahas hal itu dulu. Tong Nian dan Shangyan belum lama saling mengenal. Dan dia merasa semua terlalu cepat.
Ayah menyarankan agar membiarkaan Shangyan dan Tong Nian bicara dulu dan memutuskan. Shangyan malah bertanya, kenapa dia dan Tong Nian tidak langsung menikah saja?
Ny. Han langsung memarahinya karena Shangyan terlalu terburu-buru. Dia berbisik kalau dia sudah menyiapkan taktik, tapi Shangyan malah langsung memotong jalur.
Ny. Han langsung meminta maaf karena Shangyan terburu-buru. Dia mengajak mereka untuk makan saja.
Ibu Tong Nian tampak memikirkan sesuatu. Dia pun mengajak Shangyan keluar dengan alasan untuk mengambil tambahan dessert di restoran.
 Tujuan ibu Tong Nian adalah ingin bicara serius dengan Shangyan. Dia marah pada Shangyan. Apa Shangyan kira dengan melakukan pertemuan keluarga seperti ini, dia akan menyetujui hubungan Shangyan dan Tong Nian?
Shangyan menjelaskan kalau bukan itu maksudnya. Dia membawa ibu tirinya ke sini adalah agar ibu bisa tahu kalau dia serius pada Tong Nian dan tidak bermain-main sama sekali. Ibu membahas mengenai Shangyan yang mengungkit masalah pernikahan tadi. Dia merasa kalau Shangyan seolah mencoba memaksakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Shangyan berkata bukan itu.
“Ini karena… aku menyadari kalau aku semakin mencintai Nian Nian lagi dan lagi. Aku berharapa kalau aku dapat melihatnya setiap hari. Dan aku berharap hari itu dapat berlangsung selamanya. Itulah kenapa aku membahas hal itu tadi,” jelas Shangyan, serius.
Ibu jadi takut sendiri. Apa Tong Nian hamil? Makanya Shangyan terburu-buru ingin menikahi Tong Nian?
“Ti—tidak mungkin. Aku sudah berjanji sebelumnya. Sebelum menikah, aku tidak akan melewati batas yang tidak seharusnya.”
“Lalu bagaimana dengan Nian Nian? Apa dia benar-benar menyukaimu? Ah, untuk apa kau bertanya itu. Aku dapat melihat kalau Nian Nian benar-benar menyukaimu.”
“Aku percaya kalau kami saling mencintai satu sama lain. Sama seperti tante dan paman.”
Ibu memberitahu kalau Shangyan hanya tidak melihat saja. Dia dan suaminya juga sering bertengkar setiap hari. Shangyan langsung berkata kalau itu karena ibu dan ayah ingin melindungi keluarga dan saling mencintai. Dia bisa melihat hal itu. Dia meminta ibu Tong Nian untuk percaya padanya dan memberinya kesempatan. Jika Tong Nian tidak bersedia menikah, dia tentu tidak akan memaksanya dan akan meninggalkannya juga.
“Aku kasih tahu. Ini pertama kalinya Nian Nian jatuh cinta. Jadi, aku harap kau bisa mencintai dan membahagiakannya. Tidak, kau harus menjaminnya padaku sekarang.”
“Jangan khawatir. Aku pasti akan melakukan itu.”
--
Pertemuan keluarga itu pun akhirnya usai. Sebelum ibu Tong Nian pergi, Shangyan meminta pada ibu untuk merahasiakan apa yang di katakannya hari ini. Dia ingin memberikan Tong Nian kejutan. Ibu setuju.

Shangyan kemudian memberitahu lagi kalau dia akan membawa team-nya melakukan pertadingan final di Beijing dan ingin membawa Tong Nian juga. Tenang saja, dia akan menyewa dua kamar hotel. Tapi, dia ingin pendapat ayah dan ibu. Ayah menjawab kalau Tong Nian sudah dewasa dan Shangyan bisa berkencan dengan Tong Nian seperti orang pada umum-nya. Tidak perlu selalu melapor pada mereka. Shangyan berterimakasih atas pengertian ayah.


1 comment: