Monday, September 16, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 16-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 16-1
Images by : TvN
Part 3 : Arth, The Prelude to All Legends
Mungtae membunuh semua yang tidak setuju dengan keputusan yang Tagon buat. Hal itu membuat semua takut. Mihol, termasuk salah satunya. Dia melihat tatapan mata Tagon, dan itu adalah tatapan mata seorang raja.
Arthdal Chronicles
Mihol mengajak bicara Taealha. Dia bertanya memastikan, kalau Tagon sudah berjanji akan melindungi rahasia perunggu kan? Taealha malas menjawab, tetapi Mihol memaksanya menjawab. Taealha dengan cuek berkata kalau Tagon sudah berjanji padanya. Mihol masih merasa ragu, apakah janji itu di buat sebelum semua ini terjadi? Dia bisa melihat kalau sekarang Tagon sudah berubah.
“Bagaimana bisa tidak? Seumur hidup dia coba jadi raja tanpa lakukan hal macam ini. Ayah tahu betapa dia putus asa? Ayah tahu betapa hancur hatinya? Pada akhirnya, Ayah dan Asa Ron mengacaukan segalanya. Aku merasa kasihan pada Tagon,” bela Taealha.
--

Taealha membawa Tanya ke ruangannya dan memberikan gulungan kertas yang harus di hafal oleh Tanya. Tanya harus mengatakan hal yang tertulis di kertas itu saat Sidang Keramat. Tanya diam saja. Taealha dengan nada merendahkan, berpura-pura baru teringat kalau Tanya masih belum bisa membaca. Karena itu, dia membacakan isi yang ada di gulungan itu dan menyuruh Tanya untuk mengingatnya.
Isinya adalah : "Akan kusampaikan ucapan Airuju, awal dan akhir dunia ini, kepada putranya, Aramun Haesulla."
Taealha menegaskan kalau mulai saat ini, semua ramalan berasal dari Airuju, bukan Isodunyong dari Gunung Puncak Putih. Dan setelah itu, Tanya harus mengatakan kalau Airuju menyuruh untuk memenggal kepala Asa Mot dan semua orang yang terlibat dalam insiden semalam. Potong kedua kaki keluarga mereka dan semua kerabat mereka.
Tanya menolak untuk melakukan hal tersebut. Banyak orang yang tidak bersalah dan bahkan tidak ada di kuil saat kejadian tersebut terjadi.
Taealha dengan sinis berkata kalau Tanya tidak melakukannya, maka hanya kematian yang menunggu. Suku Wahan yang akan mati. Tanya jelas terkejut karena Taealha mengancamnya menggunakan suku Wahan.
“Aku juga sedih karena ini. Namun, Tagon sudah membunuh Asa Ron dan para kepala suku. Kini, dia punya banyak musuh. Kami tak punya pilihan. Kami harus buat orang takut. Agar Arthdal bisa berfungsi. Karena keberadaanmu memberi Tagon kekeramatan dari dewa, pertumpahan darah ini bisa diakhiri oleh seratus orang di alun-alun itu. Jika bukan karenamu, Tagon harus bunuh seribu orang. Hanya itu yang buat mereka patuh. Ingat bahwa kau selamatkan seribu orang,” tegas Taealha.
--
Mungtae masih berdiri di tengah ruangan. Tidak ada ekspresi apapun dari wajahnya usai membunuh orang-orang tersebut. Para pelayan berada di sekitarnya untuk mengepel lantai yang bernodakan darah.

Saya yang masih ada di sana, segera berlutut menghormat pada Tagon. Dia tahu kalau Ayahnya tidak mau melakukan hal seperti ini. Dan karena ayahnya sudah melakukannya, maka ini kesempatan yang sangat berarti baginya. Dia bersumpah akau membantu Tagon sekuat tenaga. Selama terkurung di dalam menara, dia selalu menunggu Tagon hingga bisa mencapai posisi ini sekarang.
Tagon tidak mengatakan apapun dan berjalan keluar dari ruangan pemimpin. Dia teringat ucapan Taealha padanya : “Tidak ada pilihan lain jika kita mau memimpin banyak orang. Kita tak bisa mendengarkan semua keluhan mereka. Buat mereka takut agar menaati kita. Maka kita akan berdiri di atas ketakutan itu.”
--
Tanya masih berbicara dengan Taealha. Dan Saya yang ke sana, diam-diam menguping.
Tanya meminta untuk di pulangkan ke Iark bersama rakyatnya. Dia telah melakukan semua keinginan Tagon dan Taealha. Asa Ron sudah tersingkir dan Tagon menjadi Aramun Haesulla. Mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jadi, izinkan dia dan suku Wahan untuk pergi sekarang dari Arthdal.
Taealha tidak bisa mengizinkannya. Tanya menjadi marah, apa lagi yang mereka inginkan darinya? Kenapa mereka membuat Mungtae menjadi seperti itu? Apa yang sudah mereka lakukan pada Mungtae?
“Kami tak melakukan apa pun. Dia hanya dapat pelajaran dengan cepat. Tanpa kekuasaan, kau tak bisa kembali atau menolak, terlebih lagi menentang yang diperintahkan. Kau tak berdaya tanpa kekuasaan, kecuali menuruti perintah. Pendeta Tinggi, Tanya Niruha, apa rakyatmu sungguh ingin kembali ke Iark sekarang?” tanya Taealha, balik.
--
Para pengawal mendapat perintah dari Tagon untuk menangkap semua keluarga para tetua suku Ggachinol dan Bato (yang tadi mempertanyakan keputusannya dan akhirnya di bunuh oleh Mungtae) dan tahan mereka di alun-alun. Penggal semua yang melawan. Dan juga, awasi para suku yang mungkin mendendam.

Semua rakyat yang melihat apa yang di lakukan oleh para pengawal, merasa sangat sedih dan juga marah. Kenapa semuanya di tangkap? Bahkan anak kecil yang belum bisa berjalan juga di bawa dengan kejam-nya.
Salah seorang rakyat langsung protes pada pengawal karena melakukan hal sekejam itu. Anak-anak bahkan tidak terkait dengan pemberontakan, kenapa malah di begitukan?! Dan tanpa ampun, rakyat yang protes tersebut, di hajar hingga tewas. Semua rakyat menjadi bertambah takut dan tidak berani melawan.
--

Saya menemui Tanya yang telah selesai bicara dengan Taealha. Dia mengemukakan pendapatnya kalau benar, ini bukan saat yang tepat bagi Tanya untuk kembali ke Iark. Dia merasa itu adalah hal bodoh. Tanya menanyakan maksud perkataan Saya.
“Apa maumu saat menerima tawaran Tagon dan putuskan kerja sama denganku? Aku tahu kau lakukan itu karena niat baik, dengan niat mulia menyelamatkan klanmu, tapi itu juga termasuk keserakahan. Kau jatuhkan Asa Ron dan meraih posisinya demi keserakahanmu. Jika kau tolak tawaran Tagon, dia tak takkan jadi seperti ini. Kau dapat bagian juga. Berkat itu, Suku Wahan kini selamat dan nyaman. Kau tak bisa menyuruh membunuh orang? Kau hanya mau berbuat baik. Jangan jadi pengecut,” ujar Saya dengan kejam-nya. “Itu tanggung jawabmu dan harga yang harus kau bayar. Jangan berlagak bodoh. Kau setuju melakukannya begitu memutuskan untuk membantuku dan Tagon. Karena aku tak punya kekuasaan, kubiarkan Taealha dan Tagon memperlakukanku bak orang mati selama 20 tahun. Tak hanya Suku Wahan yang mengalami tragedi. Semua orang hidup dalam tragedi. Kau harus lebih kuat jika ingin bangkit. Lalu melawan Tagon. Warga Serikat sudah percaya padamu. Kau tak merasakannya? Warga sudah menganggapmu orang penting. Itulah kekuasaanmu, dan panggilanmu.”
Ucapan Saya sangat mengganggu Tanya. Dia meminta Saya untuk mengumpulkan suku Wahan.
--
Semua suku Wahan berkumpul di ruangan Tanya. Dotti juga ada di sana, dan semua sangat senang serta bangga karena Dotti bisa datang ke Arthdal tanpa terluka. Yeolson memberitahu semuanya kalau Dotti datang bersama dengan Eunseom dan dia juga sama terkejutnya saat melihat Dotti ada di tempat ahli obat, Harim. Dotti sudah berubah menjadi dewasa dan berkata kalau dia baik-baik saja. Dia menanyakan kabar semuanya.
Semua mulai bersemangat bercerita mengenai kegiatan mereka sekarang. Ada yang di tempatkan di suku Bachi dan di ajarkan cara membedakan barang dagangan. Barang yang di jual harus lebih mahal daripada biaya membuatnya. Yeolson yang di tempatkan di suku Hae juga sama senangnya karena bisa mempelajari banyak hal. Dia bahkan mendapat sabuk dari Mihol karena bekerja dengan baik. Agaji yang bekerja di Kuil Agung, memamerkan gelang yang di dapatkannya begitu mulai bekerja. Mereka semua tampak sangat bahagia.

Mungtae baru datang saat itu. Mereka melihat wajah Mungtae yang memar dan terluka, tapi mengira itu karena Mungtae jatuh. Mereka juga memuji Mungtae yang tampak sangat gagah dengan seragam pengawal.

Setelah semua berkumpul, Tanya mulai bertanya, bagaimana jika mereka pulang ke Iark? Semua tampak terkejut dengan pertanyaan Tanya, dan menanyakan alasan kenapa mereka harus pulang? Mereka mengira itu karena Tanya ketakutan setelah kejadian kemarin malam, penyerangan tersebut, tapi Tagon kan sudah berhasil menumpas kudeta sepenuhnya. Tidak ada yang perlu di takutkan lagi.
“Aku disuruh memberi perintah untuk membunuh mereka semua dan memotong kaki mereka untuk menguatkan kekuasaannya, termasuk anak-anak yang tak bersalah. Kita tak diajari seperti ini. Ajaran warisan suku kita menyatakan kita harus memberi dan murah hati dan dunia…”
"Ajaran"? Itu semua tak berguna,” ujar Mungtae, memotong ucapan Tanya. “Turuti dan lakukan saja jika itu perintah Tagon Niruha. Kumohon. Saat di puncak Tebing Hitam Besar, aku ketakutan. Aku tak tahu berada di mana, tapi yakin akan satu hal. "Tak ada yang peduli aku di sini. Aku sendirian. Semua orang harus menyelamatkan dirinya sendiri." Semua merasa begitu, 'kan?”
“Jadi... Karena itukah kau lakukan itu? Kau bunuh orang tak bersalah secara brutal,” tanya Tanya, penuh kemarahan. Semua yang mendengar ucapan Tanya, sangat terkejut dan menatap Mungtae.
“Benar. Aku akan setia pada Tagon Niruha. Akan kulakukan semua yang dia suruh. Jika dia suruh aku memukul atau menikam orang sampai mati, kulakukan. Itu lebih baik daripada melawan rasa takut bahwa aku bisa mati ditikam,” jawab Mungtae, penuh kemarahan dan pergi dari sana.
Semua terkejut dengan jawaban Mungtae. Tanya menatap mereka dan menyadari makna dari kalimat terakhir ramalannya, “Dan Suku Wahan tidak akan pernah sama lagi.” Dan benar, sejak mereka datang ke Arthdal dan dia berhasil membuktikan diri sebagai keturunan asli Asa Sin, semua berubah. Suku Wahan yang menjadi budak, di elukan. Dan mereka telah terlena dengan kenyamanan Arthdal. Tanya tampak sangat sedih dan terpukul.
Dotti memanggilnya. Jika Tanya ingin pulang ke Iark, dia juga ingin ikut pulang. Tanya tersenyum padanya. Setidaknya, Dotti mau kembali ke Iark.
--
Tanya pergi ke ruang pemujaan. Dia menatap api yang menyala di batu tengah air. Dia merasa kalau semua ajaran Serigala Putih Besar telah salah. Bukan begitu cara Arthdal-mu bekerja. Kenapa dia membuatnya meraih posisi ini? Tidak ada yang bisa di perbuatnya.
Saya datang saat itu dan memeluknya dari belakang. Tanya tidak menyukai apa yang Saya lakukan, tapi menahannya.
“Aku sadar di usia muda bahwa aku tak bisa mendapatkan kemauanku dengan cara apa pun. Di masa seperti itu, aku selalu bermimpi satu hal. Dalam mimpi, aku berlari di padang rumput. Aku bisa pergi ke mana pun aku mau. Aku berburu dan menari. Kumakan semua yang kumau dan tidur kapan pun aku mau. Kau selalu ada di sisiku dalam mimpi itu. Jadi, aku mengenalimu saat kita jumpa pertama,” ujar Saya, masih terus memeluk Tanya. Tanya berusaha melepas pelukan Saya, tapi Saya semakin erat memeluknya. “Kau mungkin tak tahu, tapi gadis dalam mimpiku itulah yang membantuku saat aku sepenuhnya tak berdaya. Aku juga ingin menjadi orang seperti itu bagimu. Percayalah padaku. Dan lakukan yang kukatakan. Setidaknya, saat ini.”
Saya kemudian memberikan sesuatu pada Tanya, kalung yang dia lihat Tanya pakai di dalam mimpinya. Saya bahkan memasangkan kalung itu pada Tanya. Dia tersenyum tipis dan kemudian meninggalkan Tanya.
Kalung dari Saya

Kalung dari Eunseom
Tanya melihat kalung yang Saya berikan. Kalung dari batu keras. Air mata Tanya menetes. Dan ternyata, selama ini, dia selalu membawa kalung dari batu keras yang Eunseom berikan padanya saat di Iark.
“Eunseom,” tangis Tanya, menatap kalung tersebut. “Aku harus bagaimana? Semuanya kacau.”
Tanya masih tetap memikirkan Eunseom. Tangisnya pecah, mengingat akan Eunseom. Dia memerlukan Eunseom. Sama seperti dulu. Eunseom yang selalu ada di sisi-nya.
--
Berita mengenai kekejaman Tagon sudah tersebar di setiap rakyat. Mereka harus berhati-hatai agar tidak menyinggung, atau mereka akan bernasip sama.
Saat itu, Pyeonmi yang lewat di tengah pasar, melihat Barkryangpung yang berkeliaran bagai orang linglung. Begitu melihat Pyeonmi, Barkryangpung langsung memohon agar di bawa ke Divisi Militer, dan kemudian dia jatuh pingsan.
--
Para rakyat dan tawanan berada di depan Istana Serikat. Semua meratap. Tanya, Tagon, Saya dan Taealha menuju ke sana.
Asa Mot menatap Tanya dan di dalam hatinya berkata bahwa Tanya akan menjadi boneka Tagon. Dia tidak takut mati. Namun, dia sedih karena dia mengakhiri zaman para dewa.
Asa Sakan juga menatap Tanya dan menyadari kalau Tanya adalah ‘lonceng’. Tapi, bagaimana dengan ‘cermin’ dan ‘pedang’?
Daldae maju dan menjelaskan mengenai tujuan persidangan hari ini. Semua karena kudeta yang terjadi kemarin malam untuk membunuh Tagon dan Tanya. Untungnya, keduanya berhasil selamat dan bisa melihat matahari pagi, semua berkat Airuju yang berarti Arthdal berjaya. Dan kini, Tanya Niruha akan melakukan Sidang Keramat.
Tanya maju dan mengumukan pesan ‘Dewa Airuju’.
“Akan kusampaikan ucapan Airuju, awal dan akhir dunia ini. “Asa Sakan dari Suku Gunung Putih akan dipenjara dalam ruang tangga di Kuil Agung." Juga, siapa pun yang terlibat insiden semalam, keluarga mereka, dan semua kerabat mereka (saat Tanya mengucapkan ini, Saya dan Taealha kaget. Kenapa semua? Kan hanya beberapa yang akan di penggal dan sisanya potong kaki. Apa yang hendak Tanya lakukan?) Mereka semua akan… Mereka akan dicabik-cabik dan bangkainya disebar,” umumkan Tanya.
Semua kaget, termasuk Saya dan Taealha. Semua rakyat semakin meratap dengan keputusan Tanya yang sangat kejam.
“Itulah kata-kata Airuju. Namun, aku, Tanya, keturunan langsung Asa Sin, pemilik lonceng bintang, menyarankan kita hanya penggal yang terlibat langsung dalam insiden semalam dan hanya memotong kaki keluarga dan kerabat mereka, agar mereka bisa mengukir batuan dan memuja keagungan Airuju selama sisa hidupnya. Dan Airuju memberiku jawaban : "Lakukan kemauanmu.",” umumkan Tanya.
Semua rakyat bersorak. Mereka merasa senang karena masih bisa hidup. Para keluarga yang kakinya akan di potong, bahkan berterimakasih pada Tanya karena tidak membunuh mereka. Semua semakin mengagungkan Tanya.
Dan Taealha, sangat marah dengan apa yang Tanya telah lakukan.
Tanya tidak ragu lagi. Dia maju ke depan dan mengangkat tangannya. Dan semua rakyat, bersorak mengelukannya!
--

Acara selesai. Tanya melepas semua perhiasan dan hiasan kepalanya dengan penuh kemarahan.
Flashback
Saat Taealha bertanya pada Tanya, apa rakyat Wahan sungguh ingin kembali ke Iark sekarang?
“Perasaanmu saat pertama mengenakan gaun yang kini kau pakai. Tidakkah mereka merasakannya juga? Yang terpenting, lihatlah ke lubuk hatimu lebih dahulu. Aku melihatnya. Kau naik podium setelah menemukan lonceng bintang. Lalu orang mulai meneriakkan namamu. Kulihat tatapan matamu saat itu. Kau bergairah dan senang. Kau merasa berkuasa. Kau pikir bisa meninggalkan semua itu?” ujar Taealha, mempengaruhi pikiran Tanya.
End
Dan ucapan Taealha saat itu, sangat mengganggu Tanya sekarang ini.
Tagon, Taealha dan Saya datang ke ruangannya. Taealha sangat marah dengan yang telah Tanya lakukan tadi. Tanya tidak takut karena dia sudah melakukan sesuai yang Taealha minta. Penggal kepala yang terlibat dalam insiden dan potong kaki keluarga dan kerabatnya dan jadikan mereka budak.
“Kurasa kau membuat semacam keputusan,” ujar Taealha, tersenyum.
“Kau menyuruhku belajar. Aku sudah belajar. Katamu aku takkan bisa apa-apa kecuali ikuti perintah jika tak berkuasa. Maka itu, aku akan mencari kekuasaan. Aku bisa apa? Aku tak punya apa pun. Aku tak punya negeri untuk berdiri.”
“Jadi? Kau akan berdiri di negeri apa?” tanya Tagon.
“Hati. Hati rakyat,” jawab Tanya.
“Tempatku berpijak sekarang juga tak berbeda. Aku ada di hati warga. Hanya berbeda nama saja. Itu saja,” balas Tagon. “Baiklah. Keseimbangan antara kita kini sangat baik. Pemimpin Serikat penyebar ketakutan dan pendeta penuh ampunan.”
Usai mengatakan itu, Tagon pergi dari ruangan Tanya. Tidak hanya itu, Tagon memberikan perintah agar Yangcha mengawal Tanya mulai sekarang.


No comments:

Post a Comment