Sunday, September 15, 2019

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 15-3

1 comments

Sinopsis K-Drama : Arthdal Chronicles Episode 15-3
Images by : TVn
Part 3 : Arth, The Prelude to All Legends
Harim benar-benar ketakutan. Mereka akan kabur sangat jauh. Ke Iark. Istrinya dan Chae-eun bertanya alasannya. Harim tidak memberitahu. Jika mereka tidak pergi, mereka akan mati. Mereka pergi melewati hutan. Mereka mampir ke gudang obat dan membangunkan Nunbyeol agar ikut bersama mereka.

Pas mereka keluar, Mugwang dan pasukannya sudah mengepung. Harim tampak marah dan bertanya kenapa mereka di sini? Bukankah Tagon sudah membaik? Mugwang dengan santai menjawab kalau dia juga tidak tahu, dia hanya mendapat perintah untuk membunuh mereka semua.
Harim serta keluarga-nya jelas langsung berlari kabur. Tidak ada rasa belas kasihan sedikitpun pada mereka. Mugwang memanah istri Harim, menembus leher-nya. Istri Harim tewas di tempat. Harim akhirnya memilih menyerahkan dirinya agar di bunuh. Tapi, lepaskan kedua anaknya. Dia berjanji demi langit dan Isodunyong, tidak akan mengatakan apapun. Bunuh saja dia! Rahasia itu akan mati bersamanya!
Nunbyeol juga ikut berlutut memohon. Chae-eun pun demikian. Memohon agar mereka tidak di bunuh.

Mugwang tidak peduli. Dia menyuruh anak buahnya untuk menarik Chae-eun dan Nunbyeol menjauh. Harim masih terus memohon, dengan sangat. Mugwang menatapnya dan teringat perkataan Mubaek padanya, kalau mereka tidak boleh membunuh warga yang tidak bersalah. Jika Mugwang melakukannya, hanya akan mengantar Mugwang pada kematian. Mugwang tidak mengingat nasihat itu, dan tanpa ragu, menghunus Harim dengan pedangnya. Kejam!
Chae-eun berteriak penuh rasa frustasi. Kenapa mereka melakukan ini pada mereka? Apa salah mereka?! Barkryangpung tampak tidak tega. Tapi, dia tetap melakukan perintah Mugwang. Mugwang menyuruh agar Chae-eun dan Nunbyeol di pisahkan, agar dia mudah membunuh mereka. Kekejaman Mugwang tidak berhenti!
Nunbyeol benar-benar terpancing saat melihat mereka berusaha membunuh Chae-eun. Matanya berubah. Barkryangpung menyadari ada yang tidak beres pada Nunbyeol. Dia segera menyuruh semuanya untuk menjauh! Mundur! Tidak ada yang mendengarkannya.
Mundur? Mundur?” ujar Nunbyeol, penuh kemarahan. “Kau terlambat!”
Ucapan Nunbyeol, membuat Mugwang teringat saat Tanya berkata, “Kau terlambat” adalah kata-kata terakhir yang akan Mugwang dengar.
Dengan kekuatan Neanthal-nya, Nunbyeol merebut pedang dan membunuh pasukan Daekan. Targetnya jelas! Mugwang! Yang membunuh ayah dan ibunya.
--

Mungtae bertanya mengenai Neanthal pada Gilseon. Kalau Neanthal berlatih ilmu pedang, bagaimana? Gilseon menjawab kalau Neanthal tidak bisa mempelajari ilmu pedang karena darah mereka akan berbalik jika berlatih.
“Tetap saja, jika mereka berlatih ilmu pedang?”
“Aku tak yakin. Jika makhluk seperti itu ada, tak seorang pun bisa mengalahkannya.”
--
Dan Nunbyeol -lah, Neanthal yang menguasai ilmu pedang. Dengan ilmu-nya, Nunbyeol membunuh semuanya. Kecuali, Barkryangpung dan Mugwang. Mungwang benar-benar ketakutan dan teringat kutukan Tanya padanya. Hari ini adalah bulan sabit. Mugwang berlari, hendak kabur.



Nunbyeol menangkapnya. Dengan tangannya, Nunbyeol menancapkannya ke dada Mugwang dan mencabut jantungnya. Mugwang mati. Sama seperti yang Tanya katakan.

Chae-eun terkejut melihat semua hal itu. Barkryangpung semakin ketakutan, apalagi saat Nunbyeol berjalan mendekatinya. Sebelum mencapai Barkryangpung, Nunbyeol pingsan. Barkryangpung pun pingsan.
--
Esok hari,
Hutan Agoha
Eunseom dan Ipsaeng tertangkap oleh suku Agoha. Mereka di ikat dan di dudukkan di pinggiran sungai bersama orang lainnya. Eunseom meminta Ipsaeng untuk menceritakan lebih banyak.
“Ceritakan apa? Mereka Suku Ago, kita akan dijual sebagai budak.”
“Katamu kau Suku Ago,” ingati Eunseom.
“Maaf karena bohong.”
Eunseom kaget karena Ipsaeng meminta maaf. Tidak seperti sifat Ipsaeng yang biasa. Saat itu, salah seorang suku Ago menatap padanya. Eunseom terpikir sebuah ide. Ipsaeng menyuruh Eunseom untuk berbisik saja di telinganya, tapi Eunseom malah bicara sambil menatap suku Ago tersebut.
“Anggap aku punya penyakit menular,” ujar Eunseom.
“Hei,” tegur Ipsaeng.
“Ada bintik biru di punggungku. Bilang aku sakit. Lalu…,” Eunseom terus bicara.
“Hentikan!” perintah Ipsaeng.
“Mereka akan membuangku agar tak tertular…”
“Cukup!” kesal Ipsaeng.
“Kenapa?”
“Dia mengerti bahasa Arthdal,” beritahu Ipsaeng marah. “Kau tak dengar kataku? Mereka dahulu anggota Serikat.”


Suku Ago yang menatap mereka, yaitu Tae Maja (suku Ago dari klan Tae) memuji rencana Eunseom yang bagus, sayangnya sia-sia. Tae Maja hendak pergi, tapi dia berbalik lagi. Tampaknya, dia mengenali Ipsaeng yang duduk menghadap ke belakang. Ipsaeng sendiri terus menundukkan kepala.
--

Dalsae sudah agak sembuh. Dia khawatir karena Eunseom serta Ipsaeng belum kembali juga. Dia curiga kalau sesuatu pasti telah terjadi. Dia mengajak mereka untuk mencari Eunseom. Seucheon menolak dan mengajak mereka untuk kembali ke Arthdal saja. Mubaek sudah menunggu mereka.
Badoru setuju dengan Dalsae. Mari ke Jubinol.
“Pak tua (Olmadae) masih butuh perawatan,” ujar Badoru.
“Aku takkan kuat kembali ke Arthdal,” ujar Olmadae.
“Sekalian saja bantu kami sebisamu. Bawa kami ke dokter di Geomeuldun,” pinta Badoru.
“Sungguh? Kalian mau ke sana?” tanya Seucheon, memastikan.
Badoru dan Dalsae, mengangguk.
--

Semua klan Asa yang ada di Puncak Gunung Putih di bawah ke Arthdal. Termasuk dengan Asa Sakan. Mubaek yang memimpin proses membawa mereka. Tampaknya, Mubaek juga tidak setuju dengan hal tersebut.


Semua rakyat Arthdal berkumpul di pusat kota. Ada yang menangis melihat para klan Asa di kuil Agung termasuk Asa Mot dan Asa Moo, serta para keluarga menteri yang di sudah di bunuh Tagon kemarin malam, akan di eksekusi. Mereka juga sudah mendengar mengenai Asa Ron yang hendak membunuh Tagon dan Tanya kemarin malam. Ada yang tidak setuju dengan eksekusi tersebut, tapi ada juga yang setuju. Rakyat mulai terpecah.
Kitoha memberitahu kalau Asa Yon tidak di temukan. Sepertinya dia sudah kabur. Gilseon malah mengumpat, mau kabur juga percuma. Bisa apa jika Asa Yon hanya sendirian.
--

Mungtae di bawa ke hadapan Tagon. Wajahnya penuh luka, seperti di pukuli. Tagon bertanya alasan kenapa Mungtae menyumpal mulut Asa Ron kemarin malam?
“Katanya kau Igutu. Katanya, walau kubawa dia padamu, aku tetap akan mati karena mendengarnya,” jawab Mungtae.
Mendengar jawaban Mungtae, Yangcha langsung memegang pedangnya. Owh. Berarti Yangcha tahu rahasia Tagon. Siapa dia sebenarnya? Sepertinya bukan Igutu karena darah di tangannya waktu terluka berwarna merah.
“Kenapa kau bawa Asa Ron padaku, walau tahu kau akan mati? Katakan. Aku yakin kau punya alasan.”
“Karena aku… akan dibunuh jika tak cukup kuat,” tangis Mungtae.
“Oleh siapa?”
“Oleh… Oleh mereka yang dahulu adalah temanku.”
Tagon mendekat padanya. Dia menyuruh Mungtae untuk tidak menyeka air matanya dan jangan membasuh darahnya. Ikuti dirinya!
--
Agaji membantu memakaikan riasan kepala Tanya. Dia berusaha sangat keras untuk bicara sopan pada Tanya. Tanya menyuruh Agaji untuk bicara seperti biasa saja saat mereka hanya berdua. Agaji menolak karena dia sudah kebiasaan.
Agaji berkata kalau dia merasa takut. Dia merasa akan terjadi hal penting hari ini.
Saya sudah sehat dan menemui Tanya. Agaji segera pamit keluar. Tanya menanyakan keadaan Saya. Saya senang karena Tanya mencemaskannya. Ini kali pertama-nya, sebelumnya tidak akan ada yang mencemaskan keselamatannya.
“Kau lihat mereka di Istana Serikat?” tanya Tanya.
“Aku sudah dengar.”
“Aku paham kenapa mereka tangkap para pendeta. Namun, yang lainnya tak terkait kejadian kemarin. Kenapa anak-anak ditangkap? Mereka ditangkap hanya karena dari Klan Asa atau Suku Bato.”
“Kesalahan dan nyawa mereka kini tak penting. Mereka semua harus mati. Jika tidak, kita tak bisa bergerak maju.”
“Apa katamu?”
“Kita lakukan yang terbaik agar mereka takut. Ayahku membunuh sangat banyak kepala suku. Suku Bato dan Ggachinol… Bayangkan sedihnya mereka. Kita harus ubah itu jadi ketakutan, dan dengan cepat. Namun, itu tak akan terjadi. Jangan cemas. Ayahku berbeda daripadaku. Dia akan meragu lagi. Dia akan cari cara yang lebih aman agar bisa dicintai warga Serikat karena dia tak bisa melepaskan itu. Kemurahan hati. Kesatuan. Semacam itu.”
“Menurutmu begitu?” ragu Tanya. “Dia bunuh Asa Ron dengan kejam.”
“Itu karena dia punya alasan yang kuat.”
Saat itu Myeongjin masuk dan memberitahu kalau semua menteri serikat telah berkumpul.
--

Mubaek tiba dengan klan Asa dari Gunung Puncak Putih. Semua rakyat mulai marah melihat Asa Sakan di bawa dengan cara di ikat. Mereka paham kalau Asa Ron bersalah. Tapi, Asa Sakan adalah Kepala suku Gunung Puncak Putih.

Mubaek tampak tidak setuju dengan keputusan Tagon. Kitoha memberitahu Mubaek kalau mereka juga hampir terbunuh saat Mubaek pergi dan tidak ada. Mubaek hanya berkata kalau dia lega karena situasi tidak memburuk. Mubaek yang tidak melihat Mugwang, bertanya dimana Mugwang? Kitoha juga tidak tahu dan menduga dia mabuk dengan Barkryangpung.

Barkryangpung ada di Arthdal dengan penampilan acak-acakan. Tampaknya, dia cukup terguncang dengan kejadian yang di lihatnya kemarin malam.
--

Chae-eun membawa Nunbyeol bersembunyi di dalam gua. Dia berusaha mengobati luka Nunbyeol. Dia masih teringat kejadian kemarin mengenai Mugwang yang berkata kalau dia hanya menjalani perintah. Chae-eun tampak penuh amarah dan merasa kalau Tagon adalah pelakunya.
Nunbyeol terbangun dari pingsannya. Chae-eun sangat lega melihat Nunbyeol yang sudah sadar. Mereka berdua, berpelukan dan menangis atas tragedi yang menimpa keluarga mereka.
--

Tagon pergi ke singgasana-nya bersama dengan Taealha, Mungtae dan Yangcha. Mungtae juga membawa senjatanya, berbentuk palu. Di dalam, semua sudah berkumpul, termasuk Saya dan Tanya.
Tanya tampak terkejut melihat Mungtae yang penuh darah di wajahnya.
Tagon duduk di singgasana-nya. Di sisi kiri dan kanan-nya berdiri Tanya dan Saya.
Daedae mulai membacakan : "Semalam, pemimpin Suku Gunung Putih dan pendeta Kuil Agung, Asa Ron, Kungtung dari Suku Bato, Dawa dari Suku Ggachinol, Bodan dari Suku Yeondal, Heukgal dari Suku Garamal, semua berkumpul dan coba memberontak melawan Serikat. Namun, berkat bimbingan Airuju dan kebijaksanaan pemimpin serikat, Tagon Niruha, Serikat bisa menjadi damai lagi. Ishillobu dikeva.
Semua diam. Tidak ada respon sama sekali.
Salah satu peserta rapat akhirnya bersuara : “Niruha. Kungtung, Kepala Suku Bato, kemarin ke sana hanya karena dapat pesan dari Asa Ron. Dia tewas karena terlibat dalam kejadian kemarin, aku tak mau mempertanyakan kematiannya. Namun, kau tak perlu menangkap keluarganya juga. Itu tak masuk akal.”
“Mereka keluarga pengkhianat. Para dewa akan menentukan takdirnya di Sidang Keramat,” ujar Mihol.
“Asa Sakan juga? Kau serius? Aku tahu perbuatan Asa Ron mengerikan. Teganya kau memperlakukan Kepala Suku Gunung Puncak Putih seperti itu? Kepala Suku Ggachinol juga tewas. Dia pergi setelah dapat pesan dari Asa Ron. Setelah itu, dia kembali dengan kepala terpenggal. Kami tak tahu apa yang terjadi, tapi disuruh mengikuti perintah. Teganya kau melakukan ini. Kau mencoba menghancurkan Serikat?” protes yang lain.
“Niruha, ucapan mereka sama sekali tak masuk akal. Tolong jelaskan pada kami,” timpal yang lain.
“Mereka benar, Niruha. Kau harus menjawab,” balas yang lain.

Tagon diam. Dia menatap semuanya satu persatu. Orang-orang yang mulai meragu padanya. Saya menatapnya dan yakin kalau Tagon akan memaafkan mereka semua dan menyudahi semuanya. Bilang mereka harus maju agar Serikat lebih kuat.
Tapi, semua berbanding terbalik dari dugaan Saya.
Tagon mengangkat tangannya. Melihat tangan Tagon, Mungtae segera maju ke tengah.
Mubaek sedang menuju ke tempat Tagon. Dia juga bertanya-tanya, apa yang akan Tagon lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.
Dan pemandangan mengerikan di lihatnya begitu masuk ke dalam. Apa itu?
Mungtae dengan senjata palunya, memukul tanpa rasa belas kasih semua orang yang mempertanyakan tindakan Tagon. Dia memukul terus menerus, hingga semua tewas. Seolah yang di pukulnya hanyalah benda, bukan makhluk hidup! Dia sama saja telah menjadi monster!
Tanya terkejut dan shock dengan yang Mungtae lakukan.
Mihol menatap Tagon. Mata Tagon adalah mata raja!


Tanya tampak sangat marah dengan yang Mungtae lakukan! Bukan itu yang selama ini suku Wahan ajarkan dan tanamkan pada mereka!
Taealha dan Saya juga menatap Tagon. Semua mata menuju padanya. Mihol berkata kalau Tagon telah memiliki mata seorang raja!
Tagon menatap jasad yang bergelimpangan dari atas takhta-nya.
“Aku telah berusaha sangat keras untuk menghindari cara ini. Bencana… Aku, Tagon, telah menjadi rajanya bencana.”


1 comment:

  1. Hello guysss. Konflik arthdal semakin memanas. Aku dh nonton episode 16, dan aku merasa 2 episode terakhir (17&18) tidak akan bisa menyelesaikan Arthdal. Aku berharap akan ada season 2 nya, atau mungkin part 4.

    Mau mengingat kan aja. Mana tau ada yg lupa. Konflik Arthdal kn semakin memanas dan banyak tokoh baru muncul (suku Momo dan suku Ago). Aku takut kalian ada yg lupa, ada beberapa org yg tidak muncul (menghilang) dan punya peranan penting:

    1) Bantu, kuda Kanmoreu milik Eunseom, yg meninggalkan Eunseom karena Eunseom menjadi lemah
    2) Buksoe, dari suku Wahan, teman Dalsae yg tidak tertangkap jd budak saat Munggah berkhianat
    3) Danbyeok yg terkena racun dan sekarat, dan di bawa Mubank ke Harim utk di obati. Tidak tau apakah dia selamat atau meninggal.

    ReplyDelete