Tuesday, October 8, 2019

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 38

3 comments

Sinopsis C-Drama : Go Go Squid Episode 38

Images by : Dragon TV / ZJTV / iQiyi



Shangyan sudah masuk ke dalam rumah Tong Nian, dan ternyata rumah Tong Nian benar-benar kosong. Shangyan jelas jadi canggung. Mereka menunggu orang tua Tong Nian dengan duduk di ruang tamu. Tong Nian menyuruh Shangyan untuk tidak terlalu tegang dan santai saja. Hahahah. Tapi, tetap saja keduanya tegang berada di rumah tanpa ada orang lain.



Shangyan melihat-lihat foto masa kecil Tong Nian yang di pajang di dinding ruang tamu. Melihat foto-foto itu, ketegangan di antara mereka jadi sedikit mencair. Tong Nian bahkan meminta agar Shangyan memberitahu apa yang Shangyan dan Ny. Han bicarakan dengan orang tuanya di pertemuan keluarga tempo hari? Waktu itu kan Shangyan bohong bilang kalau pertemuannya di rumahnya, jadi dia buru-buru pulang, tapi ternyata tidak ada siapapun.

“Aku bilang… aku belumlah dewasa sebelum berumur 30 tahun. Dan aku berharap paman dan tante bisa memaafkanku. Tapi, terhadap Tong Nian, cintaku dan perasaanku adalah nyata. Tapi, itu tidak berguna hanya dengan kata-kata dari mulutku. Aku ingin menikah. Aku ingin membuktikannya dengan tindakan. Aku juga berharap kau bisa dengan tulus menganggukan kepala dan menerima lamaranku.”

“Lalu, apa yang orang tuaku katakan?”

“Jika aku adalah orangtuamu, aku juga tidak akan senang. Lihatlah, kau cantik, temperamen-mu bagus, berbakti, tidak manja, dan juga adalah murid terbaik. Yang paling penting adalah keluargamu tidak kekurangan uang. Yang bisa ku tunjukkan hanyalah aku lebih buruk daripadamu.”

“Lalu apa yang terjadi? Apa yang orangtuaku katakan?” tanya Tong Nian semakin penasaran.”

Shangyan pun mulai bercerita. Saat itu, ayah Tong Nian bertanya padanya, apa yang bisa dia berikan untuk putri berharganya? Saat itu, Shangyan bingung harus menjawab apa karena tidak tahu apa yang bisa di berikannya. Jika mereka membicarakan mengenai umur, maka dia di rugikan karena dia jauh lebih tua dari Tong Nian. Bicara mengenai pendidikan, jelas Tong Nian jauh lebih unggul darinya. Jadi, yang bisa di bicarakannya hanyalah mengenai mimpinya. Dia bilang kalau demi kemenangan China, dia rela berkorban tubuh dan darahnya. Dan orang tua Tong Nian tetap tidak menerimanya. Dia merasa putus asa, kedua matanya memerah dan dia berlutut di hadapan orang tua Tong Nian. Dia bilang, kalau mereka tidak membiarkannya menikahi Tong Nian, maka dia akan melajang selamanya.

Tong Nian sudah serius mendengarnya. Tapi, pas kalimat terakhir, Tong Nian langsung tahu kalau Shangyan membodohinya. Mereka malah jadinya bermesra-mesraan. Shangyan memeluk Tong Nian dengan erat.

“Bolehkah aku bertanya? Setelah kau memutuskan pensiun, pernahkah kau menyesali hal tersebut?”

“Hidup hanyalah satu arah jalan. Bahkan jika seorang Han Shangyan pergi, masih ada team K&K di belakangnya. Di belakang Han Shangyan, masih ada banyak remaja China yang tidak bisa di hitung yang demi kemenangan China, rela mengorbankan tubuh dan darah mereka.”



Di saat mereka sedang bermesraan, Ayah pulang sambil berteriak memanggil Tong Nian. Tong Nian dan Shangyan langsung gelagapan kembali duduk di sofa dan bersikap tidak ada apapun yang terjadi. Sementara itu, ayah kaget karena melihat Shangyan di rumah mereka. Ayah menyuruh mereka untuk berbincang saja sementara dia menyiapkan makan malam.

--

Makanan sudah di hidangkan, dan Shangyan ikut makan bersama keluarga Tong Nian. Saat makan, ibu Tong Nian terus menatapnya dengan tajam. Shangyan bisa merasakannya, jadi dia tampak terus menundukkan kepala. Untungnya, ayah lebih ramah. Dia menyuruh Shangyan untuk makan lebih banyak dan menikmati makanannya.


Shangyan curhat kalau setelah Kakek kembali ke Norway, dia jadi lebih sering makan nasi box di klub. Ayah langsung menasehatinya untuk tidak banyak makan nasi box karena itu tidak baik untuk kesehatan. Jika Shangyan ada waktu, maka Shangyan boleh datang ke rumah mereka dan makan bersama mereka. Dia akan memasakan makanan yang enak dan bergizi untuk Shangyan.

Ibu kemudian mulai membuka pembicaraan, bertanya apakah klub Shangyan menang kemarin? Dengan jujur, Shangyan memberitahu kalau klub-nya gagal dan meraih juara dua. Ayah langsung menimpali kalau juara dua juga tidaklah buruk. Itu hasil yang bagus dan teruslah berusaha. Tong Nian langsung nimbrung kalau Shangyan bilang pada klub-nya di dalam kamusnya, hanya ada dua kata : Juara atau Kegagalan. Shangyan langsung menendang kaki Tong Nian karna sudah memberitahu orang tua-nya perkataan-nya itu.

Ibu menasehati Shangyan karena terlalu menekan diri sendiri. Shangyan sudah khawatir kalau ibu akan semakin tidak menyukainya. Tapi, tidak di sangkanya, ibu malah menawarkan untuk menambahkan nasi untuk Shangyan.

--

Makan malam sudah usai. Dan Shangyan langsung ke dapur dan mencucikan piring. Ayah yang melihat hal itu, langsung melarang Shangyan untuk mencuci piring. Shangyan adalah tamu mereka, jadi tidak boleh mencuci piring. Shangyan tetap mencuci dan berkata tidak apa-apa.

“Xiao Han, dengarkan aku. Kami punya tradisi yang sangat bagus di rumah ini. Pria mengurus hal di luar rumah dan wanita mengurus di dalam rumah,” ujar ayah. “Hal seperti ini (mencuci piring) selalu ibu Tong Nian yang melakukannya. Aku tidak pernah melakukannya. Jadi, kau jangan melakukan ini.”

Ucapan ayah itu, terdengar oleh Tong Nian dan ibunya yang kebetulan ke dapur. Ibu langsung menghampiri ayah dan memarahinya karena membiarkan Shangyan mencuci piring. Apa ayah tidak merasa bersalah? Ini kan hal yang selalu ayah lakukan.

Shangyan tersenyum kecil mendengar ucapan ibu. Padahal tadi ayah bilang, ibu yang selalu mencuci piring, dan ternyata fakta-nya, ayah yang mencuci piring.

Ibu menyuruh Shangyan untuk tidak mencuci lagi. Shangyan tetap mencuci dan berkata kalau ini memang yang seharusnya dia lakukan. Ibu tetap melarang, apalagi ini pertama kalinya Shangyan makan di rumah mereka. Ibu langsung menyuruh Tong Nian untuk membawa Shangyan keluar dapur. Tong Nian malah berkata kalau Shangyan sudah biasa melakukan hal ini. Shangyan menimpali kalau dia sudah hampir selesai mencuci, dan paman serta bibi bisa menonton TV.

Akhirnya, ayah dan ibu menyerah menghentikan Shangyan mencuci piring. Mereka mundur dan ke ruang tamu.

Tong Nian langsung berdiri di samping Shangyan dengan ceria. Dia menawarkan diri untuk membantu, tapi Shangyan menyuruhnya untuk melihat saja. Shangyan kemudian memberitahu perkataan ayah Tong Nian tadi padanya. Tong Nian langsung tertawa karena biasanya ayahnya yang mengerjakan pekerjaan rumah, ngapain bohong pada Shangyan.

--

Piring sudah selesai di cuci. Malam juga sudah larut. Jadi, Shangyan pun beranjak pulang. Tapi, Tong Nian nampaknya berat membiarkan Shangyan pulang. Dia terus saja menahan tangan Shangyan dan bertanya ini itu. Shangyan langsung menyuruh Tong Nian memberitahu saja apa yang ingin di katakannya.

“Aku mau bilang… tadi waktu aku nonton film, ketika dua orang pacaran, ketika mereka harus berpisah, si pria selalu… pada wanita…,” ujar Tong Nian, ragu-ragu.

“Nian Nian. Aku harap, kau bisa lebih berani ketika bersamaku. Jika kau ingin melakukan sesuatu, hanya lakukan saja. Kau tidak harus takut dan tidak perlu takut padaku juga, okay?”

Tong Nian mengangguk. Shangyan tersenyum. Dan dia pun mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium Tong Nian.


Belum tercium, malah wajah mereka di sinari oleh senter oleh satpam yang waktu itu. Satpam itu lagi berpatroli dan dia meminta maaf karena sudah mengganggu mereka. Dan satpam itu masih mengenali Shangyan. Dia langsung memberitahu Tong Nian kalau Shangyan sangat hebat. Di lingkungan mereka, Shangyan mungkin akan membeli area parkir dan menginap setiap malam di sini. Setiap kali dia mendapat shift malam, dia pasti bertemu dengan Shangyan.  

Mendengar itu, Tong Nian jadi senang karena ternyata Shangyan sudah sering berada di depan rumahnya. Apalagi, satpam itu terus terusan memuji Shangyan sebagai pria yang baik. Shangyan sampai harus menyuruh satpam untuk berhenti memujinya karena Tong Nian bisa malu. Satpam mengerti dan akhirnya dia pamit pergi mengecheck tempat lainnya.

Setelah satpam pergi, Tong Nian mulai menggoda Shangyan terus menerus. Shangyan jelas malu. Dan untuk membuat Tong Nian berhenti menggodanya, Shangyan mencium bibirnya. Tong Nian sangat senang dan memeluk Shangyan dengan erat. Dan akhirnya, Shangyan benar-benar pulang.

--

Ibu mampir ke kamar Tong Nian dan melihat Tong Nian yang tersenyum terus menerus. Ibu mulai membahas mengenai Shangyan. Awalnya, dia mengira Tong Nian akan menjadi anak nakal setelah memilih Shangyan. Dan dia mengira kalau Shangyan tidaklah tulus pada Tong Nian. Tapi, dia kemudian menyadari kalau dia sudah salah paham. Entah itu dalam mengejar karir ataupun cinta, Shangyan adalah orang yang sangat serius. Tapi, yang lebih penting adalah, dia merasa kalau Tong Nian bahagia.

Tong Nian dengan jujur berkata kalau saat dia bersama dengan Shangyan, dia merasa sangat bahagia dan di berkati. Dan dia merasa, dialah masalahnya. Mungkin, karena dia sangat mempedulikan Shangyan, sangat menyukainya, itulah kenapa di banyak hal, dia selalu berusaha mengikuti Shangyan dan tidak memiliki pendapatnya sendiri. Belakangan ini, Shangyan selalu bilang padanya kalau dia berharap kalau aku bisa mengeskpresikan pendapatku pribadi dengan lebih sering dan tidak hanya mengikuti apa yang dia katakan. Dia ingn aku memiliki karakterku sendiri.

Ibu kemudian memberitahu Tong Nian apa yang Shangyan katakan padanya saat pertemuan keluarga tempo hari. Shangyan bilang kalau awalnya dia hanya mempunyai dua kata di depan matanya : “Memenangkan Kejuaraan.” Tapi, sekarang sudah tidak sama lagi. Sekarang di matanya, ada empat kata : “Memenangkan Kejuaraan” dan “Tong Nian.”

Tong Nian tersenyum. Dia terharu mendengar hal itu.

Ibu lanjut memberitahu kalau Shangyan bilang ingin menikah dengan Tong Nian. Dengan menikahi Tong Nian, dia bisa merasa aman. Dan dia juga mengizinkan Tong Nian untuk mendapatkan banyak gelar Ph.D sebanyak yang Tong Nian inginkan. Karena dia tahu kalau Tong Nian memiliki mimpi sendiri dan dia akan mendukungnya secara penuh. Dan Shangyan juga bilang kalau dia tahu sejak kecil Tong Nian telah di manja olehnya dan ayah. Dan dia merasa itu sangat cocok dengannya. Dia merasa kalau dia tidak mempunyai kekuatan apapun. Dia hanya tahu cara mengajar anak dan melakukan pekerjaan rumah. Dan sisanya, hanya tahu cara memanjakan Tong Nian.

Tong Nian tersenyum semakin lebar. Dia memeluk ibunya dan memuji Shangyan yang sangat hebat. Dia memberitahu ibunya kalau Shangyan miskin dulunya dan tinggal bersama anggota team-nya. Hal memasak dan membersihkan rumah, di lakukan olehnya. Dia tidak manja sama sekali dan juga memperlakukan aggota team-nya dengan sangat baik. Intinya, semakin ibunya mengenal Shangyan semakin ibunya akan menyukainya.

Ibu langsung berkata kalau selama ini dia juga memperhatikan Shangyan. Dan dia bisa merasakan kalau Shangyan berubah sedikit demi sedikit demi Tong Nian. Sama seperti ketika dua orang berjalan bersama, mereka tidak banyak bicara. Tapi, secara perlahan, kecepatan jalan mereka menjadi sama. Dan mereka akhirnya bisa melihat pemandangan yang orang lain nikmati. Itu hal yang tidak bisa di lakukan hanya oleh satu pihak.

“Ma, terimakasih sudah mengerti mengenaiku,” ujar Tong Nian tulus.

Ibu kemudian penasaran, dan bertanya apakah Shangyan tidak ada membicarakan masa depan dengan Tong Nian? Tong Nian gelagapan menjawab pertanyaan tersebut. Dengan malu-malu, Tong Nian memberitahu kalau Shangyan sudah melamarnya.

“Benarkah? Kau menerimanya?”

Tong Nian menggeleng.

Ibu terkejut, “Kenapa?”

Tong Nian jadi takut dan bertanya, apakah dia melakukan hal yang salah? Ibu berkata kalau tidak ada yang salah. Hanya saja, dia tidak pernah berpikir kalau Tong Nian akan menolak lamaran Shangyan. Ibu berusaha menenangkan Tong Nian. Dia hanya berharap, ketika Tong Nian membuat keputusan, itu keputusan yang di buat setelah memikirkannya baik-baik. Tong Nian mengangguk mengerti.

Ibu pun menyudahi pembicaraannya dan keluar dari kamar Tong Nian.

--

Esok hari,

Buff sudah datang ke kantor K&K dan bicara dengan Shangyan. Buff dengan jujur memberitahu kalau dia merasa gugup apalagi ini pertama kalinya dia datang ke kantor K&K. Dia tidak pernah menyangka akan sampai di sini. Bagaimanapun, dia mempunyai istri dan anak. Tidak seperti Shangyan yang lajang dan tidak punya tanggungan, dia punya tanggung jawab terhadap keluarga-nya.

Mendengar ucapan Buff, Shangyan teringat sesuatu. Dia ingat kalau istri Buff dulunya juga adalah fans Buff. Ketika istri Buff memilih menikah dengan Buff, apa itu karena dia mencintai Buff atau hanya bentuk dari kekaguman dan sedikit tidak normal?

Mendengar pertanyaan Shangyan, Buff jadi kesal. Apa Shangyan bilang kalau istrinya tidak abnormal? Shangyan yang abnormal!

Shangyan jadi terdiam dan bingung menjelaskan. Melihat gelagat Shangyan, Buff jadi menggoda, apa Shangyan punya masalah cinta? Shangyan malah membantah. Dan malah beralasan kalau dia punya teman yang punya masalah seperti itu dan membantunya bertanya.

Buff penasaran dan bertanya apa masalahnya? Shangyan jadi kesal dan menyuruh Buff menjawab saja pertanyaannya tadi.

“Baiklah. Sebagai seseorang yang sudah pernah melalui hal ini, aku akan memberitahu jawabannya. Jika suatu ketika, gadis ini berteriak padamu, dan kemudian memelukmu ketika menangis, maka itu artinya dia mencintai-mu, bukan mengagumi mu,” jelas Buff.

Shangyan teringat saat dia bertengkar dengan Tong Nian dan Tong Nian marah padanya. Jadinya, hati Shangyan merasa tenang dan tidak lagi mengkhawatirkan perasaan Tong Nian padanya.


Hati udah tenang, saatnya rapat. Dia mengumpulkan semua anggota K&K ke ruang rapat untuk memperkenalkan anggota baru K&K, Buff. Semua anggota jelas terkejut. Shangyan menjelaskan kalau Buff akan berlatih bersama mereka selama setengah bulan. Dan dalam setengah bulan nanti, akan terpilih 5 pemain resmi dan 1 cadangan. Penilaian akan di lakukan dengan melihat kemampuan pribadi dan kerjasama secara kelompok. Kemudian, team yang terbentuk akan berlatih setengah bulan lagi dan berkompetisi di Kejuaraan Asia.

“Ada pertanyaan?” tanya Shangyan.

Jelas semua gugup. 97 bahkan berkata kalau jelas tidak ada pertanyaan karena semuanya sangat adil. Shangyan pun mengakhiri rapat. Sebelum itu, dia menyuruh Xiaomi untuk nanti memperkenalkan Buff sebagai anggota baru mereka pada Wu Bai nanti saat Wu Bai datang.

--

Xiaomi membawa Buff berkeliling kantor K&K untuk mengenali setiap sudut dan dimana latihan serta sebagainya. Buff juga sudah mendapatkan seragam K&K. Di saat Buff memasuki tempat latihan, 97 dan Grunt malah beranjak dari komputer mereka.

Buff sendiri berusaha beradaptasi. Dia tampak berusaha untuk fokus latihan dan tidak mempedulikan hal lainnya.

Xiaomi mengumpulkan 97, Grunt, Demo dan One. Dia menyuruh mereka untuk ke kamar Shangyan karena ada rapat kecil. 97 langsung tanya apa itu mengenai Buff? Xiaomi tidak memberitahu dan hanya menyuruh mereka untuk pergi menemui Shangyan saja.

--

Shangyan sudah menunggu kedatangan mereka. Begitu mereka datang, Shangyan langsung menyuruh mereka untuk duduk. Eh, mereka malah berdiri. Shangyan langsung menyuruh mereka untuk duduk saja.

Demo sudah siap sedia. Dia meminta Shangyan untuk jujur saja memberitahu mereka siapa yang akan di gantikan posisinya?

 Shangyan menegaskan kalau tadi dia kan sudah memberitahu bagaimana penilaiannya, adalah berdasarkan skor mereka. Saat ini, di dalam otaknya, tidak ada peringkat siapapun. Demo masih khawatir karena hanya dia dan One yang berada di peringkat terendah, jadi pasti salah satu dari mereka yang akan tergantikan.  

“Jika kau tidak ingin tereliminasi, maka kau harus berusaha keras,” tegas Shangyan.

Demo mengerti. One juga mengerti. One jujur kalau dia merasa cemas tapi tidak merasa tertekan. Menggunakan kemampuan untuk menentukan peringkat adalah hal yang adil. 97 dan Grunt langsung ikut berkata kalau mereka tertekan. 97 dan Grunt walaupun berada di peringkat atas, tapi peringkat mereka tidak stabil. Berbeda dengan Wu Bai yang peringkatnya selalu stabil. Dan juga Buff adalah peringkat 4. Jadi, wajar mereka cemas dan harus berusaha keras.

Shangyan senang karena mereka sudah mengerti. Dia menyuruh mereka untuk kembali latihan. Tapi, dia meminta 97 untuk tetap tinggal.


Diluar, Demo merasa sedih karena team mereka akan mengalami penyesuaian. One berusaha tegar. Dia malah mengajak Demo untuk membuat janji. Entah siapapun yang nantinya akan di gantikan, tidak boleh menangis dan membuat team kalah. Demo setuju. Grunt yang mendengar perkataan mereka, langsung mengomeli mereka dan menyuruh mereka untuk lebih percaya diri. Jia You!

Di dalam ruangannya, Shangyan mulai bicara dengan 97. Wu Bai itu bertingkah cuek dan tidak suka bicara. Sementara Grunt, terlihat sangat menyebalkan. Karena itu, dia meminta tolong 97 agar menyatukan team mereka.

“Boss, sebenarnya, kau tidak ingin membiarkan satu anggota pun pergi, kan? Kami sama seperti anak-anakmu.”

“Ya. Kita semua dekat dan kalian adalah bagian dari hatiku. Ketika SP pertama kali menggantikan posisi Mi Shaofei, aku bahkan berteriak pada Solo. Tapi, kemudian, kenyataan membuktikan bahwa apa yang mereka lakukan benar,” jelas Shangyan. “Di pertandingan final kemarin, menilai dari situasi sekarang, SP telah meningkat lebih dari satu peringkat. Jika kita tidak berubah, kita tidak akan bisa menang.”

“Boss, bukan hanya aku yang mengerti maksudmu. Semua-nya mengerti,” ujar 97.

--


Esok hari,

Seperti biasa, Shangyan membawa anggota K&K dan menyuruh mereka melakukan lari maraton. Dan peringkat terakhir adalah Demo. Buff sangat kelelahan dan berujar kalau ternyata harus lari seperti ini juga. Shangyan menyindir Buff yang berada di posisi 2 terakhir. Buff langsung berkata kalau ini adalah hari pertama-nya lari, besok dia pasti akan bisa melewati 2 peringkat. Usai menyindir Buff, Shangyan menyindir Demo yang berada di peringkat terakhir dan di kalahkan oleh Buff yang telah berusia 30 tahun. Apa Demo tidak merasa malu? Demo malah membela diri kalau dia kan bukan pelari.

--



Usai lari, mereka sarapan di sebuah restoran. Semua duduk berkelompok, kecuali Buff yang duduk seorang diri. 97 melihatnya dan langsung menghampirinya. Dia memberikan jus jeruk untuk Buff dan bicara ramah padanya. Tampak jelas kalau 97 berusaha membuat Buff mampu membaur bersama yang lain. Dan benar saja, dengan 97 ke sana, Grunt, Demo dan One mulai bicara dengan Buff. Mereka akhirnya bisa berbaur.

--


Tong Nian juga sudah kembali ke asrama. Dia sedang menggantung baju cuciannya di dekat jendela kamar. Saat itu, Zheng Hui melihatnya dari luar dan memanggilnya. Tong Nian membalas sapaannya dan menyuruh Zheng Hui menunggu. Setelah selesai menggantung baju, dia akan keluar.

Tapi, wajah Zheng Hui tampak berbeda.


Zheng Hui tidak menunggu Tong Nian keluar. Dia malah langsung masuk ke dalam asrama menemui Tong Nian. Tong Nian jelas terkejut dan bertanya kenapa Zheng Hui masuk ke dalam? Dia kan sudah bilang akan keluar menemui Zheng Hui. Ini kan… asrama wanita.


Zheng Hui tampak nge-blank. Dia berkata kalau ada hal yang ingin dia bicarakan. Tong Nian mengerti dan akhirnya membiarkan Zheng Hui masuk ke dalam. Zheng Hui tampak semakin aneh, dan membahas mengenai Shangyan yang pasti belum pernah masuk ke kamar Tong Nian. Tong Nian dengan jujur memberitahu kalau Shangyan sudah pernah masuk ke dalam kamar asrama-nya. Tapi, Zheng Hui jangan salah paham. Han Shangyan bukan orang jahat. Dia tidak pernah melakukan apapun padanya.

Zheng Hui melepas kacamatanya dan mendekat pada Tong Nian dengan agresif. Tong Nian sampai ketakutan dan berjalan mundur. Zheng Hui terus mendekatinya sambil menjelekkan Shangyan yang menurutnya hanya menganggap Tong Nian sebagai adik atau aksesoris yang dapat di gunakannya saat merasa bosan!

“Senior, aku rasa kita tidak bisa bicara hari ini,” ujar Tong Nian ketakutan. “Kau… aku merasa tidak enak badan sekarang. Bagaimana kalau kau kembali dulu dan aku akan mentraktirmu kopi lain kali. Okay?”


Zheng Hui malah menggenggam lengan Tong Nian dengan keras, “Tong Nian, lihat aku baik-baik. Kenapa kau tidak bisa melihatku dengan baik?”

“Aku melihatmu sekarang.”

“Aku suka padamu! Aku suka padamu! Aku suka padamu!” tegas Zheng Hui. “Aku sudah menyukaimu selama 2 tahun. 2 tahun! Apa kau tidak menyadari bagaimana aku memperlakukanmu? Juga, entah dalam jenjang pendidikan, temperamen, umur dan jurusan kita, aku yang paling cocok denganmu! Juga… Juga, aku akan menghasilkan lebih banyak uang! Aku akan menjadi lebih baik. Aku akan melewatinya! Aku… aku bisa memberikanmu kebahagiaan. Aku akan melakukan semua yang ku bisa…”

“Aku tahu, senior! Aku tahu kalau kau akan mampu menghasilkan banyak uang kelak. Aku tahu kau akan menjadi lebih baik. Kau pasti bisa!” ujar Tong Nian dan menjauh dari Zheng Hui. “Tapi, bukan itu yang ku inginkan. Bukan yang ku inginkan. Aku berterimakasih kau menyukaiku. Tapi, mari akhiri semuanya di sini. Di sini!”

“Kenapa? Kenapa?! Bagian mana dariku yang lebih buruk dari Han Shangyan?! beritahu aku dan aku bisa berubah, Tong Nian!!!”

“Kau sangat hebat. Zheng Hui, kau benar-benar hebat. Tapi, kau tahu bagaimana dua orang bisa bersama? Ketika aku bersama dengan Han Shangyan, ada perasaan yang berbeda. Kami dapat mengerti satu sama lain. Kami tidak perlu bicara untuk memahami satu sama lain. Ketika aku bersama dengannya, aku tidak peduli apakah dia memberikanku cukup atau tidak. Sebaliknya, aku lebih khawatir apakah aku memberikannya terlalu kecil? Ketika aku bersamanya, aku hanya ingin dia bahagia. Aku ingin dia menjadi lebih bahagia setiap harinya.”

“Jadi, kau yakin… kau yakin menyukainya?”

“AKU MENCINTAINYA!” tegas Tong Nian. “Aku benar-benar mencintainya. Setiap hari, aku semakin mencintainya.”

Zheng Hui semakin menggila. Dia memberitahu kalau selama beberapa hari ini dia tidak bisa tidur dan makan. Dia hanya ingin Tong Nian memberikannya kesempatan. Dia memohon kesempatan dari Tong Nian.

“Terimakasih sudah menyukaiku. Tapi, aku percaya, aka ada wanita yang lebih baik daripadaku untukmu. Pasti akan ada. Berusahalah. Maaf,” ujar Tong Nian. itu keputusannya. Dia tidak bisa memberikan kesempatan lagi pada Zheng Hui.

Zheng Hui merasa patah hati. Dia mengerti dan akhirnya keluar dari dalam kamar dengan langkah lunglai.

Melihat Zheng Hui yang menjauh, aku akhirnya menyadari sesuatu. Aku mencintai Han Shangyan, bukan karena dia adalah Gun God yang terkenal, tapi karena aku benar-benar bisa merasakan kebahagian dan kesedihannya. Aku ingin tinggal bersamanya ketika dia bekerja untuk mencapai mimpinya.

Selama setengah bulan ini, selain dari Wu Bai yang berlatih sendirian, yang lainnya berlatih di K&K dengan segala kemampuan mereka. Bahkan Buff dan Xiaomi menjaga kesempatan langka ini.

Dari enam orang, hanya 5 yang dapat bertanding di arena. Meskipun semua di tentukan oleh kemampun, tapi tetap saja terasa kejam. Saat hari kompetisi semakin mendekat, semua semakin cemas. Kelelahan dan kehabisan tenaga adalah konsekuensi yang harus di lalui. Karena ini, mereka butuh lebih banyak tekad. Setiap orang saling menyamangati satu sama lain karena mereka adalah satu team yang sama. Mereka adalah sahabat terbaik masing-masing.


Shangyan melihat peringkat para anggota yang telah berlatih keras. Demo dari peringkat 71 berhasil naik menjadi peringkat 19. Sementara One dari peringkat 73 naik menjadi peringkat 23.


3 comments: