Tuesday, November 26, 2019

Sinopsis C-Drama : Love You Like the Mountain and Ocean Episode 23

0 comments

Sinopsis C-Drama : Love You Like the Mountain and Ocean Episode 23
Images by : Youku

Saat Ruining hendak kembali ke kamarnya, Ye Miao menghentikannya dengan bertanya apa yang Ye Lin katakan hari itu (di hari Ye Lin meninggal)? Apa bisa beritahu padanya? Ibunya (Ny. Ji) hari itu melihat Ruining bersama Ye Lin. Setelah Ye Lin meninggal, ibunya mengumpulkan semua informasi mengenai Ye Lin. Foto. Video. Dan setiap kali orang membicarakan mengenai Ye Lin, ibunya akan seperti menemukan harta karun. Tapi, pada akhirnya, dia tetap tidak mendapatkan kesempatan untuk mengatakan selamat tinggal padanya, sepatah katapun. Dia hanya ingin tahu apa yang anaknya pikirkan sebelum meninggal. Hanya itu.
Ruining berbalik menatap Ye Miao, “Ye Miao, ada jenis hukuman yang di sebut ‘Siksaan Air’. Seorang penjahat akan di ikat di sebuah tempat dan air akan secara terus menerus jatuh ke atas kepalanya. Itu hanyalah tetesan air, jadi penjahat tidak merasakan apapun pada awalnya. Tapi, setelah waktu berlalu, 1 bulan, 2 bulan, 1 tahun, 2 tahun, atas kepalanya mulai bernanah. Dan tengkorak kepalanya mulai semakin tipis dan tipis. Dia akan sangat menderita dan kehilangan kesadaran atau bahkan berteriak dan menyakar kulitnya sendiri. Akhirnya, tetesan terakhir air jatuh dan melewati tengkorak kepala ke otak-nya. Biarkan aku saja yang menerima hukuman ini. Dan mengenai perkataan terakhir kak Ye Lin, jika kau benar-benar ingin memberitahunya padanya, buat saja karangan. Buat karangan yang indah dan bohongin dia. Mengenai perkataan kak Ye Lin yang sebenarnya, biar aku saja yang tahu. Itu sudah cukup.”
Usai mengatakan itu, Ruining kembali ke kamarnya.
Ye Miao diam sesaat dan memutuskan untuk menelpon Chen Mo. Chen Mo sekarang sudah menjadi dosen. Dan Huahua ada bersamanya. Ye Miao bertanya mengenai hal yang terjadi selama 3 tahun ini, apakah ada hal yang tidak Ye Miao beritahu padanya? Mengenai Xia Ruining.
Chen Mo tidak mau mengatakan apapun dan menyuruh Ye Miao untuk bertanya sendiri pada Ruining. Ye Miao dengan kesal berkata kalau dia tidak akan menelpon Chen Mo jika Ruining mau mengatakannya padanya. Dia sudah pergi selama 3 tahun. Dia pergi keluar negeri untuk menyembuhkan penyakit mental ibunya. Mereka sudah membuat janji. Jika terjadi sesuatu pada Xia Ruining, Chen Mo akan memberitahunya.
“Tapi, aku dan Lu Huahua juga sudah berjanji pada Xia Ruining, tidak akan memberitahu apapun mengenai kabarnya.”
“Jadi sekarang, kau tidak akan memberitahuku apapun?”
Huahua yang daritadi mendengarkan, merebut ponsel Chen Mo dan bicara pada Ye Miao. Chen Mo tidak mau memberitahu, tapi dia akan memberitahu. Ruining hanya meminta mereka tidak memberitahu langsung padamu. Kami tidak melakukannya dengan sengaja, tapi sekarang kau yang bertanya. Jadi, dia akan menjawab. Ingat, dia hanya menjawab, bukan memberitahu.
“Dengarkan aku baik-baik. 3 tahun yang lalu, setelah kau keluar dari universitas, Ruining… dia menderita MDD (Major Depressive Disorder). Dia membutuhkan waktu 1 tahun untuk pulih. Setelah lebih baik, dia kembali ke Universitas Xiling, dan dalam nama orang tuanya, dia mendonasikan semua koleksi keluarga Xia kepada Museum Xi Ling. Ruining juga mendonasikan rumahnya menjadi rumah penampungan. Ruining belajar dengan keras. Dia mendapat nilai sempurrna dan menjadi asisten terbaik dekan Gu. Kami semua percaya bahwa dia sudah berhasil melewati tragedi itu. Tapi Ye Miao, kau menelpon sekarang, itu artinya kau menyadari sesuatu. Ya. Ruining masih belum sembuh. Dia hanya menyembunyikan luka-nya,” jelas Huahua.
Ye Miao tidak menyangka semua itu. Dia mengira kalau Ruining baik-baik saja selama ini.
--

Di dalam kamarnya, Ruining yang merasa sangat kesulitan memilih untuk meminum beberapa butir obat itu untuk menenangkan pikiran dan perasaannya. Setelah meminum obat itu, dia langsung berbaring. Dia menangis sambil memanggil nama Ye Lin.
--
Hari sudah sangat larut, Ruining tertidur pulas. Tapi, dia kemudian terjaga saat mendengar sorakan-sorakan : Ayo! Ayo! Ayo!
Dengan langkah pelan, Ruining keluar dari kamarnya, mencari sumber suara tersebut. Suara itu semakin jelas. Itu suara orang-orang yang bersorak di lapangan basket menyemangati Ye Lin. Ruining membuka sebuah pintu kamar.

Dia seperti kembali ke universitas dan masuk ke dalam arena lapangan basket. Dia seolah berjumpa dengan Ye Lin. Dan kita semua tahu, itu hanyalah bayangan dari Ruining.
Ruining tampak baik-baik saja. Dia berbincang dengan Ye Lin, seolah Ye Lin benar-benar ada. Mereka saling menyapa. Ye Lin mendekat dan mengangkat tangannya untuk membelai wajah Ruining. Tapi, sebelum dia melakukannya, dia mengurungkan niatnya.
“Aku harus pergi. Dan untuk mansion Ye, Ye Miao akan menjaganya. Aku percaya padanya.”
“Tapi, dia sangat merindukanmu.”
“Dia mempunyai penilaian-nya sendiri, pemikiran-nya sendiri dan karir-nya dan orang yang ingin di lindunginya. Ada ibu dan ada… ada… kau.”
“Akankah kau menyalahkanku?” tanya Ruining, sedih.
“Tidak. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu.”
Dan usai menjawab pertanyaan Ruining, Ye Lin berjalan pergi menuju pintu keluar.
“Kak Ye Lin!  Kau mau kemana? Kau tidak mengatakan selamat tinggal seperti terakhir kali? Semua orang merindukanmu. Semua orang bertanya padaku, apa yang kau katakan sebelum pergi?”
Ye Lin berbalik menatap Ruining, “Ruining, kata-kata ku saat itu, itu pilihanmu entah mau melupakannya atau memberitahu semuanya. Aku percaya. Percaya pada semua keputusanmu. Jika memungkinkan, tolong beritahu pada Ye Miao bahwa hal terbaik yang ku miliki di dalam hidupku ini adalah menjadi abang-nya.”
Dan usai mengatakan semua perkataan itu, Ye Lin berjalan semakin mendekat ke pintu.
“Kak Ye Lin! Meskipun Ye Miao tidak ada di sini,  tapi aku tahu kalau dia ingin mengatakan hal yang sama padamu. Hal terbaik di dalam hidupnya adalah menjadi adikmu.”
Ye Lin tidak berbalik sama sekali dan berjalan keluar dari pintu. Menghilang.
--

Ye Miao ada di pintu masuk rumah yang terbuka. Dia tidak bisa tidur. Walau hari sudah sangat larut, dia hanya menatap ke langit sambil meminum segelas wine.
--
Esok hari,
Ye Miao pergi ke ruang makan dan hanya ada Jingsheng yang sedang sarapan. Ye Miao mengira kalau Ruining tidak mau sarapan, sehingga dia ingin menyuruh Jingsheng untuk membawakan makanan ke kamar Ruining. Tapi, Jingsheng memberitahu kalau Ruininhg sudah sarapan tadi pagi-pagi sekali. Ruining bilang kalau dia ingin langsung bekerja siap sarapan.
Mendengar itu, Ye Miao malah marah. Kenapa Ruining begitu terburu-buru? Apa mereka mendesaknya untuk segera selesai? Kenapa Ruining tidak menjaga dirinya sendiri? Ruining kemarin tidur dengan sangat larut tapi kenapa pagi-pagi saja…
“Tn. Ye, apakah ada kesalahan yang ku perbuat?” tanya Jingsheng, bingung karena di marahin untuk alasan yang tidak jelas.
Ye Miao tersadar sudah salah melampiaskan kemarahan. Dia meminta maaf dan berkata kalau Jingsheng tidak berbuat salah. Dia meminta Jinsheng untuk bebrapa hari ini selalu mengecheck ke ruang perbaikan setiap jam-nya. Jangan pernah biarkan Ruining sendirian terlalu lama. Dan juga, jika Ruining tidak melakukan apapun, bawa Ruining keluar untuk beraktivitas, walaupun hanya berjalan-jalan.

Jingsheng mengiyakan perintah Ye Miao. Dia kemudian teringat kalau tadi pagi Ruining meminjam kunci untuk ke ruang atap karena ingin melihat-lihat sebentar. Mendengar itu, Ye Miao jadi panik!
--

Ruining ada di balkon atas. Dia melihat sekeliling dan memikirkan alasan kenapa Ny. Mian melompat dari balkon? Dia sudah mencari tahu bahwa struktur mansion keluarga Ye masih belum berubah selama beberapa generasi, jadi itu pasti adalah tempat dimana Ny. Mian melompat. Apa alasan-nya melompat? Apa yang terjadi padanya? Kenapa keluarga Ye bisa mempunyai kutukan seperti itu? Dan betapa depresi-nya ibunya saat itu hingga memutuskan untuk melompat tanpa ragu waktu itu dan kenapa dia masih hidup?


Ruining memikirkan semua itu sambil melihat ke bawah balkon. Ye Miao yang tiba dengan berlari langsung menarik Ruining menjauh dari balkon sambil memarahinya sudah gila! Ye Miao mengira Ruining hendak bunuh diri! Ye Miao menegaskan bahwa kematian Ny. Ning Mo adalah kecelakaan, bukan kesalahan Ruining! Dia tidak akan membiarkan Ruining mati!
Ruining langsung memarahi Ye Miao balik. Dia hanya sedang observasi, bukan berpikir untuk bunuh diri!
Ye Miao agak tenang setelah mendengarnya. Ruining kemudian beranjak pergi untuk lanjut kerja. Tapi, Ye Miao malah menahan tangannya untuk pergi.
“Apa lagi sekarang?” tanya Ruining.
Ye Miao belum menjawab pertanyaan Ruining, tapi Shen Zhen sudah muncul di hadapan mereka berdua. Dengan sinis dia menyapa Ruining dan menanyakan kabarnya.
“Baik atau tidak, bukan urusanmu,” jawab Ruining dengan dingin.
“Tidak ada gunanya membahas masa lalu. Tapi, ada sesuatu yang harus ku katakan!” balas Shen Zhen.
“Shen Zhen! Kau…,” ujar Ye Miao, heran melihat kedatangannya.
“Ibumu, Ny. Ji yang menyuruhku untuk datang.”
Mendengar ibunya di sebut, Ye Miao melepaskan pegangannya dari tangan Ruining.
--

Shen Zhen membawa Ruining ke rumah teh (tempat minum teh tradisional china) untuk bicara. Tanpa urat malu, Shen Zhen memamerkan bahwa rumah teh yang mereka kunjungi ini adalah tempat yang sangat bagus. Orang yang datang ke sini biasanya adalah orang kaya dan berkuasa. Ruining tidak peduli.
Shen Zhen pamer bahwa dia sudah mengikuti Ny. Ji selama beberapa tahun dan bahkan ikut pindah keluar negeri dan menyelesaikan studi-nya di sana. Dia memamerkan kekayaan keluarga Ye yang jauh lebih kaya daripada yang Ruining bayangkan.
“Xia Ruining, lebih baik kita langsung ke inti-nya saja. Tidak perlu berbasa basi,” ujar Shen Zhen (padahal dia yang sok basa basi membahas kekayaan keluarga Ye). “Toh kita sudah pernah melihat sisi gelap kehidupan masing-masing. Aku tahu tujuan mu datang ke keluarga Ye bukanlah hal yang sederhana. Tapi, aku peringatkan kau. Ye Lin mati karena kau! Jauhi Ye Miao! Kita harus melakukan segala sesuatu dengan kesadaran.”
“Kesadaran? Betapa menariknya karena kata itu keluar dari mulutmu,” sinis Ruining.
“Aku dengar kau sudah menjual semua koleksi keluarga-mu termasuk dengan rumahmu. Kau menyumbangkan rumah itu untuk rumah penampungan, kan? Haha. Betapa dermawan-nya,” ejek Shen Zhen, sinis.
Ruining tidak peduli. Dia membahas mengenai Shen Zhen dan bibi Cai yang langsung keluar dari rumahnya begitu kejadian itu terjadi. Jadi, apa hubungannya rumahnya dengan Shen Zhen? Tanpa tahu malu, Shen Zhen menjawab ada hubungannya. Dia bahkan sok hendak mengajarkan pada Ruining hal yang di sebut “realita.” Dia sudah mendengar bahwa biaya kuliah Ruining di bayar penuh oleh beasiswa. Dan Ruining pasti-nya tidak punya kehidupan mewah seperti sebelumnya lagi. Tapi, dirinya, dia juga mendapat beasiswa penuh karena nilainya cukup bagus. Walaupun uang beasiswa-nya, dia gunakan untuk membeli tas atau sepatu.
Ruining mana peduli Shen Zhen menggunakan uang beasiswa untuk apa. Dia hanya berkomentar bahwa Ny. Ji pasti membayar mahal Shen Zhen yang menjadi asisten-nya.
“Walaupun sekarang aku hanya menjadi asisten Ny. Ji, tapi tidak lama lagi, aku akan menjadi bagian dari team manajemen dan mulai dari sana.”
“Sekali lagi, selamat,” ujar Ruining, tetap tenang.
“Xia Ruining. Aku tahu kau akan iri sekarang ini,” ejek Shen Zhen (padahal Ruining sama sekali tidak peduli dengan kehidupan yang Shen Zhen jalani). “Tapi sekarang, sudah saatnya bagiku menjadi beruntung, bukan?”
“Itu hadiah untuk mu karena sudah melayani keluarga Ye. Tapi… bukankah sebagai asisten Ny. Ji kau harusnya sangat sibuk? Bagaimana bisa kau punya waktu untuk mengatakan semua omong kosong ini padaku?”
“Karena Ny. Ji ingin aku menyampaikan beberapa kata. Aku tidak ingin mengatakan ini di depan Ye Miao memikirkan harga dirimu.”
“Harga diriku adalah milikku. Tidak ada hubungannya sama sekali denganmu. Aku tahu jelas apa yang ingin Ny. Ji sampaikan. Dia hanya ingin aku ingat siapa diriku dan menjauh dari Ye Miao. Jangan ganggu anaknya karena aku yang menyebabkan kematian Ye Lin. Dan jika ada sesuatu, aku hanya di perbolehkan bertanya pada Jingsheng atau kau. Jika tidak ada hal yang penting, aku hanya harus diam di ruang perbaikan dan tidak keluar. Aku harus bertingkah seolah aku tuli atau buta ketika aku berjalan-jalan di sekitar rumah. Apa ada lagi? Aku setuju dengan semua itu. Kau sudah menyelesaikan pekerjaan yang Ny. Ji berikan padamu. Apa ada hal lain lagi? Jika tidak ada, aku harus kembali bekerja.”
“Xia Ruining! Bagaimana bisa kau bersikap sangat sombong seperti ini? Kau kira, kau masihlah nona Xia Ruining seperti dulu?”
“Bukankah itu hal yang jelas? Kau kira apa nama keluargaku? Mengenai perilaku-ku kau bisa bertanya pada tn. Ye. Maksudku, tn. Ye Yicheng. Banyak orang yang mempunyai kemampuan dan banyak waktu, tapi dia memilihku. Kalau bukan karna profesor-ku, dia mungkin tidak akan punya kesempatan untuk mempekerjakanku. Jadi, kenapa aku tidak boleh bersikap sombong?”
“Karena kau Ye Lin…”
“Meninggal karenaku!” potong Ruining. “Nama keluarganya adalah Ye, bukan? Tidak ada satupun anggota keluarganya yang mengatakan apapun. Jadi, kenapa kau malah menggonggong di sini? Atau… kau pikir karena kau adalah asisten Ny. Ji jadi kau punya hak untuk ikut dalam masalah keluarganya?” balas Ruining.
Shen Zhen tidak bisa membalas. Dia memilih mengakhiri pembicaraan. Tapi, dia masih saja bersikap sombong dengan sok berkata bahwa dia yang akan membayar pesanan mereka. Tempat ini sangat mahal, dan dengan pekerjaan Ruining pasti hanya punya sedikit uang.
Pelayan datang dan memberitahu kalau Shen Zhen tidak usah membayar karena Shen Zhen adalah tamu boss mereka. Shen Zhen kaget dan mengira kalau rumah teh itu adalah miliki dari keluarga Ye juga? Pelayan menjawab bukan. Shen Zhen makin bingung.
“Aku sudah mendonasikan semua koleksi-ku dan rumahku. Tapi, sama seperti kata-katamu tadi, keluarga kami jauh lebih kaya daripada yang kau pikirkan. Jangan bingung. Pendiri dari rumah teh ini adalah Nn. Xiao. Xiao Dandan. Dia adalah temanku. Aku merasa cukup bagus bekerja sama dengannya, jadi aku berinvestasi untuk rumah teh ini dan akhirnya menjadi pemegang saham terbesar di sini dan mendapatkan dividen setiap tahunnya. Aku tidak punya banyak uang cash saat ini. Uang yang ku hasilkan dari investasi, ku donasikan untuk proyek konservasi. Dan ada satu perkataanmu yang benar. Ini adalah rumah teh terbaik. Terimakasih sudah mampir,” jelas Ruining.
Shen Zhen menatapnya dengan jengkel. Padahal dia hendak menghina Ruining yang menurutnya sudah miskin. Tapi, tanpa di sangka, malah dia yang di permalukan. Ruining masihlah kaya sama seperti dulu!
--

Ruining tiba kembali di mansion Ye. Saat dia hendak menuju ke kamarnya, dia melihat seseorang di kamar mendiang Ye Lin yang pintu-nya terbuka. Ruining mengira itu adalah Ye Miao.
Tapi, Ye Miao muncul di belakangnya dan memanggil namanya. Yang ada di ruangan kamar Ye Lin adalah Ny. Ji yang sedang memandangi foto Ye Lin. Pandangan Ny. Ji kosong.

Ye Miao masuk ke dalam kamar Ye Lin, menghampiri ibu-nya. Ruining memperhatikan semuanya dari depan pintu. Ye Miao memanggil ibunya dan memberitahu kalau ini adalah waktunya tidur. Dia menuntun Ny. Ji kembali ke kamarnya. Mereka berjalan melewati Ruining. Ny. Ji tidak mengatakan apapun dan hanya terus memeluk foto Ye Lin dengan erat.

Shen Zhen melihat itu, dan berujar dengan kejam pada Ruining, “Lihatlah apa yang sudah kau lakukan pada mereka. Apa kau masih akan tetap tinggal di sini dan melihat semua itu?”
Ruining tidak merespon perkataan Shen Zhen dan hanya masuk ke dalam kamarnya. Shen Zhen tersenyum senang karena sudah membuat Ruining semakin terpuruk.

Di dalam kamarnya, nafas Ruining tidak stabil sehingga dia harus meminum banyak sekali pil obatnya. Dia menangis terisak-isak. Ye Miao ada di depan kamarnya dengan membawa sebotol susu. Dia mendengar suara tangisan Ruining, dan tampak sedih.
Ye Miao memberanikan diri mengetuk pintu kamar Ruining dan masuk ke dalam. Ruining sudah berbaring di atas tempat tidur. Ye Miao memberitahu kalau Ruining kesulitan tidur, Ruining bisa meminum susu hangat. Ruining berusaha keras menahan tangis-nya.
“Ibuku, dia baik-baik saja. Selamat malam,” ujar Ye Miao.
Ye Miao sudah hendak keluar kamar, tapi Ruining tiba-tiba bangkit dari kasur-nya dan memegang tangan Ye Miao agar tidak pergi. Tangisnya pecah dan dia memanggil nama Ye Miao, dengan putus asa.
“Maafkan aku,” ujar Ruining.


Ye Miao yang selama ini sudah berusaha menahan perasaannya, langsung berbalik dan memeluk Ruining dengan erat. Perasaan cinta yang sudah mereka tahan selama ini. Perasaan bersalah yang sudah mereka tahan selama ini. Semua perasaan yang sudah menyiksa mereka selama ini, tumpah keluar, seiring dengan air mata mereka yang tidak berhenti.
Dan… Shen Zhen melihat semua itu dari sela pintu kamar Ruining yang terbuka.
--
Ye Miao selesai menenangkan Ruining dan keluar kamar. Shen Zhen ternyata belum pergi dan masih terus menunggu-nya. Ye Miao tidak peduli dan berjalan melewatinya. Tapi, Shen Zhen memanggil namanya dan menyebutnya sangat dermawan. Ye Miao tidak peduli dan tetap jalan pergi.
“Aku sedang bicara denganmu,” ujar Shen Zhen.
Ye Miao berbalik menatapnya dengan tatapan dingin, “Shen Zhen. Apa aku harus ku bilang padamu langsung? Kau hanyalah asisten ibuku. Bagiku, kau bukanlah siapa-siapa.”
“Aku bukan siapa-siapa?” tanya Shen Zhen, tersinggung. “Ye Miao. Akulah orang yang menjaga ibumu. Aku sudah bekerja untuk yayasan blue aid sejak lulus kuliah. Akulah orang yang mengabdi pada keluargamu. Aku juga yang menemanimu menghadiri konferensi dan pesta, dan orang yang membantumu mendapatkan dukungan para pemegan saham. Sekarang, kau bilang, aku bukan siapa-siapa? Ah. Karena dia sudah kembali, kan? Dia selalu bisa mencari cara mengubah situasi buruknya. Aku tahu itu.”

“Jika saja kau bukan orang yang penuh rasa iri, wajahmu ini… mungkin bisa mendapat tanda ‘pass’,” balas Ye Miao dan memegang wajah Shen Zhen, dengan sangat dingin. “Tapi sekarang ini, terlihat sangat menjijikan dan jelek. Kau bisa datang sesuka-mu, tapi tetap lah diam. Aku tidak peduli apa yang ibuku minta kau lakukan. Tinggalkan Xia Ruining sendirian! Jangan ganggu Xia Ruining,” peringati Ye Miao.
Ye Miao beranjak pergi meninggalkan Shen Zhen. Shen Zhen tampak sangat marah. Nafasnya bahkan memburu. Mendapat hinaan dari Ye Miao, membuat emosi Shen Zhen memuncak.
“Kau yang membuatku tidak punya pilihan lain,” ujar Shen Zhen, penuh amarah.



No comments:

Post a Comment