Friday, November 15, 2019

Sinopsis Lakorn- Drama : Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 7 - part 1/2

0 comments

Sinopsis Plerng Ruk Plerng Kaen Episode 7 – part 1
Network : Channel 3

Fae bersikap sangat gelisah sekali. Dan Urawee pun menenangkan nya supaya jangan khawatir. Tapi lebih daripada khawatir, Fae mengakui bahwa dia lebih merasa bersalah, karena selama ini Tom selalu menyuruhnya untuk menjauh dan mengatai nya sebagai pembawa sial. Dia tidak pernah percaya itu, tapi sekarang dia berpikir, mungkin apa yang Tom katakan itu benar. Karena bahkan Bibi kandung nya sendiri mengusir nya.
“Jangan salahkan dirimu sendiri seperti ini. Kamu ingat apa yang Nenek ajarkan? Hargai dirimu terlebih dahulu. Jika kamu tidak menghargai dirimu sendiri, kemudian siapa yang akan?” kata Urawee, menasehati Fae. Dan Fae pun terdiam.
Ampu datang. Dan tepat disaat itu, dokter yang mengobati Tom keluar dari ruangan perawatan. Dengan cemas, Ampu pun langsung menanyakan tentang keadaan Tom. Dan dokter menjelaskan bahwa Tom aman, tapi dia ingin Tom datang 2-3 hari lagi untuk diperiksa, karena Tom memiliki luka dibagian kepala, jadi dia ingin melakukan CT Scan untuk lebih memastikan. Dan Ampu mengiyakan, serta berterima kasih.

“Khun Pu. Aku akan mengurus biaya nya,” kata Urawee, pengertian. Dan Ampu berterima kasih kepada Urawee.
Urawee lalu meminta Fae untuk menunggu nya disini sebentar, karena dia ingin mengecek kondisi Anik lagi, sebelum mereka pulang bersama. Dan Fae pun mengiyakan. Sementara Ampu, dia merasa heran, ada apa dengan Anik.
Didalam kamar Anik. Urawee menjelaskan kepada Ampu kalau situasi yang Anik dan Tom alamin itu sama. Mereka berdua sama- sama dipukuli, karena wanita. Tom dipukuli oleh Ya (Mantan Fae). Sedangkan Anik, mungkin dipukuli oleh Unthiga.

“Khun Oun? Dia berani melakukan ini?” tanya Ampu, sedikit ragu.
“Aku tidak berharap kamu percaya. Karena ini hanya dugaanku saja. Tapi dugaanku tentang Oun, selalu benar,” jawab Urawee, dengan sangat yakin.

Sesampainya dirumah. Unthiga langsung menelpon Ampu. Dan melihat itu, Urawee pun merebut hp Ampu dan menjawab panggilan Unthiga. Mendengar suaranya, Unthiga merasa tidak senang, dan bertanya, kenapa Urawee bisa berada bersama dengan Ampu.
Dan Urawee menjelaskan bahwa dia tidak sengaja bertemu dengan Ampu. Karena adik Ampu masuk ke rumah sakit. Sementara dia datang untuk menjenguk Anik yang dipukuli oleh anjing.


Lalu setelah mengatakan itu, Urawee pun langsung mematikan telpon. Dan mengembalikan hp itu kepada Ampu. Tanpa berani berkomentar, Ampu pun diam.

Duang tertawa keras, saking bahagia nya mendengar Anik masuk ke rumah sakit. Dan Yai pun langsung menegur nya supaya lebih bersikap seperti orang dewasa. Lalu Yai menanyakan, bagaimana keadaan Anik. Dan Urawee pun menjawab bahwa Anik menderita beberapa memar dan harus menginap satu malam di rumah sakit.

“Aku sangat puas sekali. Dia mempunyai berlian, tapi dia membuangnya demi sebuah batu. Dia pantas diberi pelajaran,” kata Duang sambil tertawa senang. “Wee, jangan kembali padanya. Ingat apa yang dilakukan nya padamu.”
“Mae Duang, mengapa kamu selalu mengajarinya untuk menjadi orang pendendam? Jangan dengarkan dia,” kata Yai, menasehati Urawee. “Jika ini tidak terlalu membebanin, maka bantu Nik sebisa kamu. Karena kalian sudah saling mengenal sejak lama.”

“Baik, Nek. Aku tidak akan membuang Nik begitu saja,” jawab Urawee, menurut pada Yai. Dan Yai merasa bangga kepada Urawee. Lalu dia menyindir Duang supaya lebih dewasa juga.

Mendengar itu, Klip (pelayan) tertawa geli. Dan Duang pun langsung menegur nya untuk pergi ke dapur. Dan lalu dia menggantikan Klip untuk mengurut kaki Yai. Tapi Yai menolak, sebab Duang selalu mengajari Urawee menjadi orang pembenci dan pendendam. Melihat tingkah mereka berdua, Urawee tertawa pelan, karena geli.
Saat Urawee keluar dari kamar mandi, dan melihat Duang ada dikamarnya sambil tersenyum kepadanya. Urawee sudah bisa menebak, kalau Duang pasti ingin membicarakan tentang Anik. Dia meminta Duang supaya jangan khawatir, karena dia pasti tidak akan balikan dengan Anik lagi. Alasannya menjaga Anik sekarang adalah karena dia peduli sebagai teman lama. Dan Duang lega mengetahui itu.

“Aku sudah melihat contoh dari Ibuku. Aku tidak akan pernah menjadi lemah. Dan aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi kepadaku,” jelas Urawee.
“Itu keponakan ku,” puji Duang, bangga. “Dan bagaimana dengan Oun? Apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya.
“Itu tidak sulit. Jika dia jahat padaku, maka dia akan mendapatkan balasannya,” balas Urawee dengan serius. Dan Duang puas dengannya.

Kemudian, terdengar teriakan Yai yang memanggil Duang. Dan dengan nada lembut, Duang segera mengiyakan, lalu dia pun pergi. Dan Urawee tertawa melihat itu. Tapi kemudian raut wajah nya mengeras, ketika mengingat kembali tentang Unthiga.
Pagi hari. Dikantor. Unthiga melihat- lihat kantor barunya. Sunisa menjelaskan bahwa karena Unrhiga serta Urawee harus saling bekerja sama, maka Arm sengaja membuat kantor mereka berdua dekat. Dan Unthiga mengerti.
Lalu ketika Ampu datang, Unthiga langsung menghampirinya, dan menanyakan keadaan adik Ampu. Dan Ampu menjawab bahwa adiknya sudah lebih baikan sekarang, serta dia meminta maaf, karena telah melewatkan makan bersama mereka semalam. Dan Unthiga mengerti.
Ampu kemudian membahas tentang Anik yang dirawat dirumah sakit. Dia bertanya, apakah Unthiga tidak akan pergi mengunjungin Anik. Dan Unthiga menjawab tidak.

“Jika kamu mengubah pikiran mu, kamu bisa memberitahuku. Aku akan membagi lokasi nya kepadamu,” jelas Ampu, tulus.
“Baiklah. Terima kasih,” balas Unthiga. Lalu dia membiarkan Ampu pergi.


Saat Ampu melihat Urawee, dia mengetuk jendela kantornya, dan memberikan kode kepadanya untuk memberitahu bahwa ruangannya berada tepat di sebelah kantor Urawee. Dan Urawee berjalan ke jendela sambil tersenyum manis kepadanya, lalu dia langsung menutup tirai jendela.

Melihat itu, Pam yang satu ruangan dengan Urawee, dia tidak terlalu peduli. Dia menyelesaikan pekerjaan nya, lalu keluar dari ruangan dan menemui Fai untuk membantunya memperbaiki sesuatu, karena dia harus segera mengirimkan nya ke pabrik.
Ampu duduk ditempatnya. Dan menatap ke arah ruangan Urawee sambil tersenyum senang.

Mengetahui, kalau ruangan Urawee dan Ampu berdekatan, Unthiga merasa tidak senang. Dan Sunisa langsung pamit padanya, dengan alasan dia perlu membantu Urawee.

Dengan ramah, Sunisa menanyakan pendapat Pam tentang ruangan yang baru. Dan Pam merasa puas. Sunisa lalu menjelaskan, jika ada yang kurang, maka Pam bisa memberitahunya. Dan Pam langsung menjawab. “Gajiku,” katanya sambil tersenyum penuh harap. Tapi Sunisa hanya tertawa dan pergi meninggalkan nya.
Unthiga datang mengunjungin ruangan Urawee. Melihat itu, Pam merasa penasaran dan ingin melihat. Tapi Fai menahannya, karena mereka masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.

Sunisa heran, kenapa Unthiga masuk ke dalam ruangan Urawee. Dan tanpa menjawab, Unthiga membuka tirai jendela Urawee untuk menatap Ampu yang berada disebelah. Lalu dengan tidak sopan, dia duduk diatas meja Urawee, dan memberitahu Sunisa bahwa dia ingin ruangan ini.


“Tapi ruangan ini lebih kecil,” jelas Sunisa. Dan Unthiga menjawab kalau dia tetap mengingin kan ruangan ini. “Tapi …” kata Sunisa, kebingungan.
“Tidak apa, Khun Sa. Oun mungkin benar- benar perlu untuk menggunakan ruangan ini,” kata Urawee, mengerti alasan Unthiga ingin ruangan ini. Dan Unthiga tampak puas mendengar itu. Serta Sunisa, karena Urawee membuat pekerjaan nya menjadi lebih mudah.

Ketika Sunisa keluar dari ruangan, Pam memanggilnya dan bertanya, kenapa Unthiga berada di ruangan Urawee. Dan Sunisa menjawab bahwa sekarang itu adalah ruangan Unthiga. Lalu dia sibuk mengatur orang untuk segera memindahkan barang Unthiga ke ruangan Urawee. Dan begitu juga sebaliknya.

Urawee mempertanyakan, apakah Unthiga selapar itu sampai membuat Unthiga kenyang hanya dengan melihat saja. Lalu dia menjelaskan, kalau dia tau alasan kenapa Unthiga ingin ruangan ini. Dan dia menyarankan Unthiga untuk mengendalikan diri. Kemudian dia memberikan snack kecil kepada Unthiga, sehingga Unthiga tidak terlalu kelaparan. Alasan dia memberikan itu adalah karena, tidak akan ada pria yang berani mendekati Unthiga.
Setelah mengatakan itu, Urawee pun membawa barang- barang nya dan keluar dari ruangan.
Dengan penasaran, Pam mempertanyakan apa yang terjadi. Dan Urawee menyuruhnya untuk bersiap dan pindah juga. Dengan heran, Pam mengeluh, karena pindahan itu tidak mudah.
Ampu menatap Urawee dengan bingung, karena dia tidak tahu apa yang terjadi.


Sunisa merasa tidak enak pada Urawee. Tapi tanpa dia perlu bicara, Urawee sudah mengerti. Lagian Urawee juga puas dengan ruangan baru keduanya ini, karena ruangan ini lebih besar. Dan Sunisa merasa lega mendengar itu.
Unthiga meremas snack kecil dari Urawee dengan kesal. Lalu dia keluar dari ruangannya. Melihat itu, Ampu semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Pam ingin tahu juga. Jadi dia berniat untuk mengikuti Unthiga. Tapi lagi- lagi Fai menahannya, karena mereka perlu untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka.
Unthiga melemparkan snack kecil itu pada Urawee. Lalu dia bertanya, apa maksud perkataan Urawee barusan. Dan Urawee dengan tenang bertanya, perkataan yang mana. Melihat itu, Sunisa pergi, karena tidak ingin ikut campur.

Unthiga memegang lengan Urawee dengan kasar. “Ketika kamu bilang tidak ada pria yang berani untuk mendekati ku! Apa itu maksudnya?” tanyanya, marah.
Urawee menghempaskan tangan Unthiga yang memegang nya. Lalu menjawab, “Pria mana yang berani untuk mendekati orang bengis seperti mu?! Kamu mengirimkan orang untuk memukuli Nik. Setiap orang tahu itu. Bahkan Khun Ampu juga tahu,” jelas nya.

Unthiga tidak merasa bersalah sama sekali atas tindakan nya kepada Anik. Dan Urawee tertawa mendengar itu. Dia berpikir Ibu Unthiga, yaitu Nopamat, itu adalah yang terendah. Tapi ternyata sikap Unthiga malah lebih rendah.
“Jangan hina Ibuku!” geram Unthiga, emosi.
“Mengapa aku tidak boleh? Dari siapa lagi kamu mendapatkan sikap rendahan, jika bukan dari Ibumu?” balas Urawee dengan sinis.
“Aku bilang, jangan hina Ibuku!”


Urawee tidak peduli dan terus mengata- ngatai Nopamat. Sehingga Unthiga tidak tahan lagi dan menampar nya. Melihat itu, Suam merekam. Sementara Fai langsung memberitahu Pam. Dan Ampu berdiri dari tempatnya.
Unthiga menjambak rambut Urawee, dan berteriak dengan emosi. “Jangan hina Ibuku!” teriak nya. Dan Urawee menamparnya, karena Unthiga tetap tidak mau melepaskan nya.
Melihat itu, Pam serta semuanya langsung kesana. Begitu juga dengan Ampu.


Urawee menahan kepala Unthiga ke sofa dengan kuat. Tapi Unthiga berhasil melepaskan diri, dan langsung menampar Urawee lagi serta menjambak rambutnya.
Pam mendorong Ampu supaya maju dan menengahi mereka berdua. Dan Ampu pun menarik Unthiga supaya berhenti. Tapi Unthiga tidak mau dan berteriak bahwa dia akan membunuh Urawee. Dan Urawee mempersilahkan Unthiga untuk membunuh dirinya, tapi jika Unthiga tidak membunuhnya dengan benar, maka dia akan kembali dan membunuh Unthiga.


Dengan histeris, Unthiga menjerit dan ingin menyerang Urawee. Tapi Ampu dengan kuat menahan nya. Kemudian Arm pun datang bersama dengan Sunisa.
Melihat itu, Unthiga langsung berhenti menjerit. Dan Urawee menatap puas padanya.


Dikantor. Arm menanyakan, alasan mereka berdua bertengkar sekarang. Urawee menjelaskan bahwa Unthiga duluan lah yang menyerang nya. Dan Unthiga mengadukan kalau itu karena Urawee menghina Ibunya, dan dia tidak suka itu.
Dengan berani, Urawee membenarkan itu. Dia barusan mempertanyakan darimana Unthiga mendapatkan sikap rendahan itu. Karena Unthiga mengirim orang untuk memukuli Anik, sehingga Anik menderita luka parah dan berada dirumah sakit sekarang. Mengetahui itu, Arm mempertanyakan, apakah itu benar kepada Unthiga. Dan Unthiga diam, tidak berani untuk menjawab.


“Tolong mengaku lah. Bahkan jika kamu tidak bisa membedakan yang benar dari yang salah, tapi tetaplah bermatabat!” kata Urawee dengan tegas dan tajam. Mendesak Unthiga.
“Benar. Benar!” teriak Unthiga, mengaku.


“Tapi aku melakukan itu, karena Ayah terus memaksa ku untuk menikah dengannya. Dan jika Ayah masih berani untuk menikahkan ku dengan dia. Maka aku akan mengirimkan lebih banyak orang untuk memukulinya. Sampai dia tidak bisa menyeret tubuhnya untuk menempeli ku lagi,” ancam Unthiga pada Arm.
“Oun!” tegur Arm. “Apa kamu tahu, apa yang kamu katakan? Jangan lakukan ini lagi. Kepada Anik atau siapapun. Jika tidak aku akan …”
“Apa? Apa yang akan kamu lakukan?!”
“Aku akan memberikan project seragam penerbangan dan yang lainnya juga hanya kepada Wee,” jawab Arm, tegas.

Mendengar itu, Unthiga terkejut. Sementara Urawee tersenyum puas. Unthiga menjelaskan kalau Arm tidak perlu berlebihan seperti ini, Arm hanya cukup untuk tidak memaksa nya menikah dengan Anik, maka semua nya selesai. Lalu dia pun pamit untuk bekerja, sebelum dia tidak mempunyai pekerjaan. Setelah mengatakan itu, Unthiga pun berjalan pergi.
Dengan tatapan tajam dan puas, Urawee memperhatikan nya.
Saat melihat Ampu lewat, Unthiga langsung menghampirinya dan mengajaknya untuk makan siang bersama, karena Ampu masih berhutang makan bersama dengannya. Dan dengan sopan, Ampu menjawab bahwa dia punya pekerjaan yang mendesak, jadi lain kali saja makan bersama nya.

“Ah, tentang barusan. Bukan aku yang memulainya. Wee yang menghina Ibuku duluan. Dan aku hanya melindungi Ibuku. Aku berharap kamu tidak akan salah paham padaku,” jelas Unthiga, berusaha membersihkan dirinya di mata Ampu.
Mendengar itu, Ampu tampak malas sekali. “Kamu tidak perlu menjelaskan apapun kepadaku. Bagaimanapun itu masalah pribadi antara kalian berdua. Aku hanya karyawan, dan aku tidak peduli dengan masalah itu,” jelas nya. Lalu dia pamit dan pergi.
Mendengar percakapan itu, Urawee memperjelas maksud Ampu kepada Unthiga. Yaitu Ampu tidak pernah memikirkan Unthiga lebih daripada bos, tidak pernah, dan tidak akan pernah. Jadi dia menyarankan supaya Unthiga berhenti berharap.

“Apa hak mu menyuruhku untuk berhenti berharap? Hanya menang sekali, tidak berarti kamu telah menang. Masih ada banyak ronde lain,” jelas Unthiga, penuh penekanan.
“Kamu masih ingin bertarung? Yang lain kalah, karena tidak kompenten. Tapi kamu yang lebih kompenten, akan lebih kalah. Dan aku jamin, aku akan membuat mu kalah sampai tidak ada yang tersisa,” balas Urawee, menerima tantangan itu.

No comments:

Post a Comment