Monday, January 13, 2020

Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 7 - part 2

0 comments

Network : tvN Netflix

Seo Dan dan Myeong Eun datang ke desa Jung Hyuk untuk mencari apatermen. Dan melihat kedatangan nya, Young Ae menyuruh Ibu lain serta Ok Geum untuk menunjukkan siapa pemimpin di desa ini kepada mereka berdua dan buat mereka untuk hormat. Semua ini demi Sam Suk (nama samaran Se Ri).
“Aku ibu tunangan Kapten Ri Jung Hyuk dari unit perbatasan,” kata Myeong Eun, memperkenalkan dirinya sendiri. “Aku ingin mencari apartemen di sini.”
“Itu pasti sulit,” balas Ibu lain dengan wajah meremehkan. “Sulit karena tidak ada yang kosong.”

“Aku tahu gedung apartemen di pintu masuk desa sedang kosong. Aku sudah dengar. Omong-omong, kamu tampak lebih muda dariku. Seperti itukah caramu menghormati yang lebih tua,” jelas Myeong Eun dengan sikap mengintimidasi seperti preman. Dan para Ibu disana tertawa tertahan melihat adegan di depan mereka semua.


Seo Dan menghentikan Ibunya, dan mengajak nya untuk mencari di tempat lain saja. Tapi Myeong Eun tidak mau. Dia menepis kan tangan nya ke udara dan menyuruh Seo Dan untuk jangan menahannya. Dan dengan jujur Seo Dan mengatakan bahwa dia tidak ada memegang tangan Myeoung Eun. Mendengar itu, Ibu lain tertawa.
“Aku tahu kamu tak berpendidikan, tapi ini memalukan. Kamu seharusnya baik kepada orang asing. Sikap apa ini?” kata Myeong Eun dengan kesal. Dia berbicara dengan sedikit campuran bahasa Inggris.
“Aku tidak mengerti ucapan mu,” balas Ibu lain.

Mendengar keributan itu, para Ibu- Ibu yang menonton langsung berdiri dan bersiap untuk menyiram kan air kepada Myeong Eun. Namun sebelum mereka melakukannya, Young Ae datang. Dengan bangga Young Ae memperkenalkan dirinya sebagai Istri Kolonel Senior yang merupakan bos dari Ri Jung Hyuk. Dan Myeong Eun pun langsung merubah sikap nya menjadi hormat serta sopan kepada Young Ae.


“Aku tidak menduga bisa bertemu orang semulia dirimu di jalan,” kata Myeong Eun dengan lembut. “Dan, kemarilah dan sapa dia,” katanya memanggil Seo Dan. Namun Seo Dan sama sekali tidak mau maju ataupun menyapa semuanya.
Myeong Eun bersikap sangat sopan dan ramah kepada Young Ae, bahkan dia menawarkan untuk minum segelas jus bersama. Dan Young Ae menolak untuk minum bersama, serta dia langsung menanyakan, kenapa Myeong Eun membutuhkan apatermen.


Myeong Eun dengan senang menjelaskan tentang Seo Dan yang akan segera menikah dengan Jung Hyuk, jadi dia pun ingin mencarikan apatermen untuk mereka berdua. Young Ae mengerti, tapi sebelum dia sempat berbicara, Myeong Eun langsung menyela dengan pura- pura pikun.
“Aku benar- benar pikun. Aku pemilik mal di Pyongyang. Mungkin karena itulah aku punya barang-barang ini di tasku. Berat sekali,” kata Myeong Eun membanggakan produk kecantikan yang dibawanya. Dan dia membagikan semua itu kepada mereka. “Saat aku datang lagi, aku akan membawakan barang yang kalian butuhkan,” jelas nya dengan bangga. Lalu dia memasukkan satu kotak lagi ke dalam kantong Young Ae sebagai suap. Dan menerima semua itu, mereka merasa senang.

Young Ae, Ibu lain, dan Ok Geum. Mereka dengan bersemangat membawa Myeong Eun serta Seo Dan ke apatermen disekitar tempat mereka.
“Lagi pula, pernikahan itu pasti disetujui kedua keluarga,” kata Ok Geum, berkomentar. Dia tidak lagi mendukung Se Ri dan memilih untuk mendukung Seo Dan mulai sekarang.
“Biasanya, tidak ada salahnya mendengarkan orang tuamu,” kata Young Ae, setuju.

Ok Geum dengan bersemangat menjelaskan tentang keunggulan apatermen di tempat itu. Dan Ibu lain juga dengan bersemangat ikut menjelaskan. Merasa senang dengan penampilan Ok Geum, maka Myeong Sun pun memberikan satu kotak lagi kepada Ok Geum. Dan Ibu lain merasa sedikit iri.
Mereka semua masuk ke dalam lift. Dan Ibu Lain memberitahu penjaga lift untuk menekan tombol lantai 5. Lalu dia menjelaskan kepada Myeong Eun serta Seo Dan bahwa lantai 5 adalah yang terbaik. Dan baru saja dia mengatakan hal itu, tiba- tiba lift mati dan berhenti.


Myeong Eun dan Seo Dan merasa terkejut serta ngeri. Sementara yang lainnya bersikap biasa saja. Ibu Lain menjelaskan dengan bangga kepada mereka bahwa inilah sebabnya lantai 5 yang terbaik, karena masih bisa di capai dengan tangga bila lift mati. Sebab kenalannya ada yang tinggal di lantai 17, dan saat ada pemadaman, kenalan nya ini tidak bisa menaiki semua tangga jadi kenalan nya ini pun terpaksa kembali ke kamp dan tidur disana.
Mendengar itu, Myeong Eun dan Seo Dan merasa ngeri. Namun tanpa menyadari hal itu, mereka semua sibuk membuka pintu lift degnan tangan dan nmemanjat naik ke atas.

“Jangan khawatir. Ayo keluarlah,” kata Ibu Lain dan Ok Geum, membantu mereka berdua untuk keluar dari dalam lift dan naik ke atas.


Didalam apatermen. Myeong Eun merasa senang, ketika melihat ada sebuah kulkas disana. Namun saat dia membuka kulkas tersebut, ternyata isinya adalah buku. Dan dia langsung merasa sangat kecewa.
“Sempurna untuk menyimpan buku. Di bagian bawah, bisa menaruh pakaian,” kata Ibu Lain, menjelaskan.
“Listrik di sini tidak stabil, jadi, kulkas hanya untuk dekorasi. Sangat cocok untuk menyimpan barang,” tambah Ok Geum, menjelaskan. Dan Young Ae setuju. Sementara Myeong Eun dan Seo Dan merasa sangat syok, bukan hanya terkejut biasa saja lagi.

Kemudian dikamar mandi. Disana ada seekor kambing di bak mandi. Ceritanya pemilik apatermen membesarkan kambing tersebut untuk di potong saat putra nya masuk kuliah. Tapi ternyata putranya tidak sepandai itu, jadi kambing itu pun tidak jadi di potong.
Myeon Eun dan Seo Dan merasa semakin syok banget.

Seo Dan kemudian pergi ke teras kamar. Dan kaget karena ada ayam disana. “Mereka pelihara ayam juga?” tanyanya.
“Kami pelihara ayam di teras. Di Pyongyang, kalian pelihara ayam di mana?” balas Ok Geum, menjelaskan. Lalu dia mengambil telur ayam yang berada di dalam kandang.

“Mau lanjutkan turnya sendiri?” tanya Seo Dan dengan pelan kepada Ibunya. “Aku mau bertemu Jung Hyuk,” jelas Seo Dan. Dan Myeong Eun setuju.

Seung Jung terus mencoba untuk menelpon Se Ri, tapi nomor Jung Hyuk sama sekali belum bisa di hubungin juga. Dan dia pun merasa khawatir kepada Se Ri. Tepat disaat itu, Seung Jung melihat sebuah taksi berhenti di depan rumah Jung Hyuk, dan dia pun mengira kalau itu Se Ri. Tapi ternyata itu adalah Seo Dan, dan dia pun merasa heran.
Seo Dan ragu untuk mengetuk pintu rumah Jung Hyuk. Dia mengeluarkan cermin dan berkaca terlebih dahulu disana untuk menata gaya rambut mana yang bagus.

Seung Jung menepuk bahu Seo Dan dari belakang, dan Seo Dan melonjak kaget. “Sedang apa kamu?” tanyanya dengan terkejut.
“Itu pertanyaanku. Sedang apa, Nona Seo Dan?” balas Seung Jung. “Benar juga. Kamu ke desa ini saat kuberi tumpangan. Kenapa kemari lagi?”
Seo Dan menjelaskan dengan malu- malu bahwa tunangannya tinggal di rumah ini. Dan Seung Jung terkejut, karena setahunya Se Ri juga tinggal di rumah tersebut. Melihat reaksi Seung Jung yang tampak terkejut, Seo Dan merasa heran dan bertanya apakah Seung Jung kenal dengan Jung Hyuk.

“Aku juga menunggu dia. Dia tidak ada di rumah. Jika mau, kamu bisa tunggu dia di mobilku. Diluar dingin,” jelas Seung Jung. “Ah, kamu lebih cantik berambut terurai. Aku tadi melihat mu. Rambutmu lebih cantik terurai,” jelas nya memberikan saran.
“Aku tidak begitu paham maksud mu,” balas Seo Dan sambil menyimpan kembali cerminnya.
“Kamu pasti paham,” kata Seung Jung dengan yakin. Lalu dia membuka kan pintu mobilnya. Dan Seo Dan pun masuk ke dalam nya.


Jung Hyuk dan Se Ri saling curi- curi pandang, saat suster datang untuk memeriksa suhu tubuh Jung Hyuk. Dan suster merasa heran, karena Jung Hyuk tidak deman, tapi kenapa wajah Jung HYUk sangat merah. Mendengar itu, Jung Hyuk dan Se Ri sama- sama merasa gugup langsung.
Suster menebak, apakah wajah Jung Hyuk memerah karena Jung Hyuk melihat sesuatu yang tidak seharusnya. Dan Jung Hyuk langsung menggeleng pelan.

“Akulah yang melihat sesuatu yang tidak seharusnya,” kata suster, bercerita. “Semalam, aku melihat dua orang bercumbu di kegelapan. Pasti sudah mau kiamat. Kejadiannya di tengah malam. Vulgar sekali, 'kan?” tanya Suster. Dan Jung Hyuk serta Se Ri bertambah gugup.
“Semua orang tidur saat itu,” kata Se Ri dengan sikap yang berusaha untuk terlihat tenang.

“Saat semuanya tidur, mereka seharusnya tidur juga. Kenapa harus keluar saat hujan dan melakukannya?” jelas suster.
“Aku yakin tidak seburuk itu,” kata Jung Hyuk, berbicara.
“Aku melihatnya, dan menurutku buruk. Kamu tahu apa?” balas suster.
Tiba- tiba saja tekanan darah Jung Hyuk naik dan detak jantung Jung Hyuk pun juga semakin cepat. Sehingga itu membuat suster merasa terkejut serta khawatir. Dia langsung menyuruh Jung Hyuk untuk beristirahat total, lalu dia pergi untuk memberitahu Dokter.

Dan suasana kamar tiba- tiba menjadi hening. Jung Hyuk serta Se Ri sama- sama diam. Namun tiba- tiba Jung Hyuk merasa seperti Se Ri ada berbicara, jadi dia pun bertanya, apa yang Se Ri katakan. Dan Se Ri menggelengkan kepala serta menjawab bahwa dia tidak ada mengatakan apapun.
“Lalu kamu sedang apa?” tanya Jung Hyuk.


“Ada lubang di seragammu karena tembakan. Aku sudah mencuci noda darahnya. Aku akan menjahitnya dengan rapi. Aku tampak tidak cakap, tapi aku menguasai industri mode Asia,” jelas Se Ri dengan bangga. Lalu dia menghela nafas dan mulai berbicara dengan serius tentang kejadian semalam.
Se Ri memberikan tiga pilihan kepada Jung Hyuk. Pertama, lupakan kejadian semalam dan bersikap seperti biasa. Kedua, lupakan kejadian semalam dan jangan bahas lagi. Dan Jung Hyuk merasa itu sama saja. Tapi bagi Se Ri itu sedikit berbeda.

“Yang ketiga?” tanya Jung Hyuk.
“Sejujurnya, kita bukan remaja lagi. Jangan saling menekan dengan hal remeh,” jelas Se Ri.
“Itu juga agak berbeda?” tanya Jung Hyuk, heran. Dan Se Ri mengiyakan. “Aku pilih yang ketiga,” kata Jung Hyuk memutuskan.
“Kau pilih yang ketiga?” tanya Se Ri, memastikan. Dan Jung Hyuk mengiyakan. “Tampaknya kejadian semalam bukan hal penting,” gumam Se Ri dengan nada kesal dan kecewa.
“Kamu menyuruhku memilih …” kata Jung Hyuk, merasa tidak enak.

“Benar. Aku bilang begitu. Pilihanmu tepat. Tapi artinya kamu merasa tertekan, ya?” tanya Se Ri dengan sarkatis. “Aku paham. Kau kemarin tertembak, lalu dioperasi, dan masih dipengaruhi obat bius, lalu saat itu sedang hujan, dan aku menangis. Kau mungkin mengikuti impulsmu. Aku paham,” sindirnya.
“Tapi …”

“Aku tidak menekanmu,” kata Se Ri sambil mengangkat tangannya untuk menghentikan Jung Hyuk berbicara. “Aku benci itu. Kontak fisik kecil bukan masalah besar bagiku. Mari kita bersikap santai,” jelas Se Ri dengan sikap ramah yang mematikan. Lalu dia memotong benang dengan mulut nya. Dan pergi dengan alasan mau mengembalikan alat jahit.
Dengan heran, Jung Hyuk pun diam dan memandangi Se Ri.

Saat Jung Hyuk melihat ke arah pakaian nya yang telah selesai di jahit oleh Se Ri. Dia melihat sebuah tanda hati merah. Dan dia tersenyum senang.

Sersan Pyo, Ju Meok, dan Eun Dong, datang bersama ke rumah sakit untuk menjenguk Jung Hyuk serta Letnan Park. Mereka menjelaskan kalau untuk datang ke sini mereka sampai harus mencari alasan, dan jadi terpaksa membawa semen.
“Kapten Ri baik-baik saja? Aku terkejut mendengar kabarnya,” kata Eun Dong, cemas.
“Dia tak apa-apa. Jangan khawatir,” balas Se Ri, menenangkan nya.


“Kabar yang lebih buruknya, kau tak bisa pergi lagi. Bagi kami, ini paling menyedihkan,” kata Sersan Pyo dengan sinis seperti biasa.
Dan seperti biasa, Ju Meok yang menerjemahkan nya. “Dia sekarang bilang begitu, padahal cemas saat mendengar kabarnya kemarin,” jelas nya.
Se Ri sedikit tidak percaya. Dan dengan malu- malu Sersan Pyo mendengus, sehingga Se Ri tahu kalau apa yang Ju Meok katakan adalah benar.


Ju Meok kemudian memberikan makanan yang mereka bawakan. Dan Se Ri cukup senang menerima itu, sebab di rumah sakit ini hanya ada nasi tanpa lauk, jadi tadi dia pun membeli beberapa barang dan membuatkan bekal untuk Jung Hyuk. Dan seperti biasa, Sersan Pyo mengejek Se Ri. Dengan kesal, Se Ri pun memandangin Sersan Pyo dengan tajam.

Saat masuk ke dalam kamar, Se Ri merasa heran karena Jung Hyuk sudah tidur. Kepadahal dia yakin kalau barusan Jung Hyuk masih bangun.
“Kapten Ri tampak pucat,” komentar Eun Dong.
“Kalau yakin dia akan pulih?” tanya Ju Meok. Dan Se Ri mengangguk. “Aneh melihat orang sekuat dia terkapar di kasur.”
“Dia tampak berbeda, 'kan?” tanya Sersan Pyo.
“Dia tidak berbeda sama sekali,” jawab Se Ri dengan bingung.


Sersan Pyo mempertanyakan, kenapa Jung Hyuk bisa sambil tertembak dan dia mengomentari kalau Jung Hyuk seharusnya tidak berpura- pura gesit. Dan mendengar itu, Jung Hyuk mengepalkan tangan nya menahan rasa kesal.
“Kamu tidak dengar sebelumnya? Dia berusaha melindungiku. Dia tertembak saat melindungiku,” jelas Se Ri, membela Jung Hyuk.

“Mm… dia tak bisa menghindari pelurunya,” balas Sersan Pyo dengan sikap mengesalkan seperti biasa. “Kita tidak bisa lewatkan bahwa Kapten Ri gagal menghindari pelurunya karena terlalu cepat. Kita tahu seperti apa. Ini tidak seperti film. Kau tidak bisa menghindari peluru,” jelas Sersan Pyo.
Se Ri memperhatikan Jung Hyuk, dan menyadari kalau seperti nya Jung Hyuk hanya sedang berpura- pura tidur. Jadi dia pun menyuruh semuanya untuk pergi. Dan mereka semua pun pergi darisana.

Sesudah mereka semua pergi, Se Ri langsung menyuruh Jung Hyuk untuk membuka mata, karena dia sudah tahu kalau Jung Hyuk hanya berpura- pura tidur. Dan Jung Hyuk pun membuka matanya secara perlahan, lalu dia menjelaskan bahwa dia terlalu malu untuk menghadapi mereka semua.
“Katakanlah. Kamu gagal menghindar?” tanya Se Ri dengan serius. Dan Jung Hyuk mendengus geli, serta membalikkan badannya. Tapi Se Ri langsung menahan Jung Hyuk. “Begitukah?”
“Aku tidak berusaha menghindar,” jelas Jung Hyuk. Dan Se Ri merasa bingung kenapa. “Jika aku menghindar, kamu yang tertembak.”

Se Ri mengaku bahwa dia merasa terharu, tapi dia tidak ingin Jung Hyuk melakukan ini lagi. Dan jangan sampai mereka mengalami ini lagi. Serta jika kejadian ini sampai terulang lagi, dia ingin Jung Hyuk jangan berusaha sok keren dan menghindar.
“Kamu juga. Jika sampai terulang lagi, jangan tetap tinggal karena aku. Pergi saja,” kata Jung Hyuk dengan serius.
“Kamu selalu bisa membantahku.”
“Aku serius. Berpikir kamu bisa saja kembali ke Seoul membuat hatiku sakit.”
Se Ri meminta Jung Hyuk tidak perlu khawatir, karena Seung Jung telah berjanji akan mengabari keluarga nya. Jadi sekarang keluarganya pasti tahu bahwa dia masih hidup.

Seung Jung terus menunggu di luar rumah Jung Hyuk. Dan semakin lama, dia merasa semakin dingin, jadi dia pun masuk ke dalam mobil. Lalu saat dia melihat Seo Dan sedang sibuk bermain game, dia pun mau juga dan menanyakan apa nama game nya. Serta meminta untuk mencoba bermain juga. Tapi Seo Dan tidak mau meminjamkan hp nya.

“Seo Dan, berapa usiamu? Kamu begitu dangkal,” keluh Seung Jung. “Apa nama game nya? Biar kuunduh,” tanyanya.
“Tidak bisa kamu unduh. Jika kau ke Pyongyang, pergilah ke Pasar App dan minta mereka mengunduhnya,” jelas Seo Dan sambil masih sibuk bermain game. Sebab hp di Korea Utara tidak memiliki app seperti Play Store. “Pasar App. Ada di Pasar Bongsa, Pyongyang.”
“Tidak mungkin. Harus beli app di pasar sungguhan?” tanya Seung Jung, tidak menyangka.
“Mau bertanya berapa kali lagi? Aku harus konsentrasi,” keluh Seo Dan, kesal.

Seung Jung menyindir, bukankah Seo Dan sedang menunggu Jung Hyuk, tapi kenapa Seo Dan malah tidak tampak khawatir sama sekali kepadahal Seo Dan tidak bisa menghubungi Jung Hyuk. Dan dengan malu Seo Dan langsung berhenti bermain game nya.
“Kamu tidak lapar? Aku lapar. Bagaimana kalau kita beli mi?” tanya Seung Jung.
“Mi apanya?” dengus Seo Dan.

Dengan lahap. Seo Dan memakan mie yang dibelikan Seung Jung. Dan Seung Jung menatap nya dengan heran. Seung Jung kemudian menanyakan, bagaimana Seo Dan dan Jung Hyuk bisa bertunangan. Dan Seo Dan pun menjelaskan bahwa itu sudah lama di tetap kan. Intinya mereka di jodohkan dan mereka sudah menetapkan tanggal pernikahan bulan depan.
Seung Jung membahas kembali tentang kejadian Jung Hyuk menginap di hotel bersama dengan wanita lain, yaitu Se Ri. Dan mendengar itu, mood Seo Dan langsung rusak. Dia menjelaskan kalau saat itu, Jung Hyuk dan Se Ri tidak tidur sekamar, melainkan mereka tidur dikamar yang terpisah, dan mereka berdua bersama- sama karena mereka sedang menjalankan misi rahasia.

“Dia sudah menyatakan cinta?” tanya Seung Jung.
“Itu … kami akan segera menikah,” jawab Seo Dan dengan gugup.


“Hei. Sudah kubilang di atap waktu itu, aku harus mengajarimu beberapa hal. Dengar baik-baik. Ini mungkin terdengar dingin, tapi sulit bagimu dan tunanganmu merasakan daya tarik romantis,” jelas Seung Jung. Dan Seo Dan penasaran kenapa. “Tujuan akhirnya menikah.”
“Memang kenapa?” teriak Seo Dan.

“Kamu mendadak bicara santai,” keluh Seung Jung, terkejut. “Jadi, begini, alasan seseorang merasa gelisah karena dia tidak tahu akhirnya. Haruskah kami pacaran? Atau putus? Aku ditolak? Apakah kami bahagia? Kita tidak tahu bagaimana akhirnya. Kamu harus penasaran, dan gelisah. Jantungmu harus berdebar untuk merasakan daya tarik.”
Seo Dan menebak, apakah itu mungkin karena mereka sudah menetapkan tanggal pernikahan. Dan Seung Jung menyarankan Seo Dan bahwa seharusnya Seo Dan menangkap hati Jung Hyuk terlebih dahulu, sebelum menetapkan tanggal pernikahan. Dan Seo Dan mendengus kesal. Lalu dia memesan sebotol soju.


“Untuk menetapkan tanggal, pasangan harus makan, minum teh, menonton, mengakui cintanya, bertengkar, terjaga semalaman, putus, berlari ke arah satu sama lain, dan hal-hal gila lainnya. Tapi kalian menetapkan tanggal. Tidak ada lagi yang menarik. Tidak ada yang mendebarkan. Itulah kelemahan perjodohan,” jelas Seung Jung dengan bersemangat.

“Kenapa kamu tahu banyak?” keluh Seo Dan, kesal.
“Aku hampir dijodohkan. Tapi gagal. Begitu itu terjadi, jantungku mulai berdebar. Aku tidak bisa melupakan nya,” kata Seung Jung dengan sedih. Lalu dia meminum soju di dalam gelas nya.

No comments:

Post a Comment