Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 10 - part 1


Network : tvN Netflix
Tokoh, Kejadian, Organisasi, dan Latar Belakang adalah Fiksi

Di perusahaan Se Ri Choice.
Dua orang karyawan memperhatikan pemakaman kecil- kecilan yang dibuat untuk Se Ri dan di letak kan di depan pintu masuk. Mereka membicarakan tentang Grup Queens (milik keluarga Sang Ah) yang akan segera mengambil alih perusahaan ini. Disatu sisi mereka merasa itu hal bagus, karena Grup Queens adalah sebuah perusahaan yang besar. Namun disisi lain mereka merasa stress, karena itu berarti akan ada perombakan pegawai. Jadi mereka menyanyangkan kepergiaan Se Ri.

Tepat disaat itu. Se Ri berjalan dengan langkah penuh percaya diri ke tempat pemakaman nya. Dia mengomentari siapa yang memilih foto dirinya yang seperti itu untuk pemakaman. Lalu dia mengambil daftar tamu pemakaman nya kemarin. Untuk melihat siapa saja yang mendoakan ketenangan jiwa nya dan siapa yang tidak.

“Kamu siapa?’ tanya seorang pegawai dengan bingung. Dan Se Ri pun membuka kaca mata hitam yang dipakainya. Lalu dia menghadap ke arah semua karyawan yang berkumpul disana. Dan semua nya merasa sangat terkejut.
“Cepat sebarkan berita ini. Bahwa Yoon Se Ri kembali. Dia hidup lagi,” jelas Se Ri sambil tersenyum percaya diri. “Aku minta maaf kepada mereka yang terkejut karena aku. Dan aku kasihan kepada mereka yang senang bahwa aku sudah mati,” jelas nya sambil membungkuk ringan untuk meminta maaf. “Kini aku hidup lagi,” tegas nya.

Dengan jiwa bisnis yang luar biasa. Se Ri mengumumkan bahwa di akan memberikan diskon 50% untuk semua produk Se Ri Choice selama sepekan, mulai dari hari ini. Sebagai perayaan kembalinya dirinya. Dan mendengar itu, semua orang merasa senang.
“Kalian pasti tahu, Se Ri Choice tidak pernah menawarkan diskon sejak awal berdiri. Dengan penawaran spesial ini, nikmatilah produk premium kami,” jelas Se Ri dengan penuh gaya di hadapan kamera setiap orang yang merekamnya.

Se Jun berlatih akting memelas di depan cermin. Dan Hye Ji yang menjadi pengarah serta komentator nya. Namun walaupun sudah berusaha, Se Jun tetap tidak bisa berakting dengan baik dan dia pun merengek kepada Hye Ji, sebab dia ingin menyerah saja.


“Kamu bisa,” kata Hye Ji, menyemangati Se Jun. “Kamu dituntut atas penyerangan. Kamu harus tampak sopan dan baik agar orang percaya kamu tidak tega melakukan hal itu. Coba lagi,” perintah nya.
“Astaga! Aku tidak bisa. Aku tidak mau,” rengek Se Jun dengan frustasi.

Hye Ji beruaha untuk memberikan semangat kepada Se Jun supaya coba berlatih lagi. Dia mau Se Jun tampak menyakinkan di foto, sebab perkara pidana ada masa kadaluwarsa nya, namun foto tidak seperti itu. Jadi Se Jun harus memberikan image yang baik. Dan Se Jun pun mengiyakan dengan lemas.
Dengan perhatian, Hye Ji kemudian mengambilkan perwarna rambut dan memakaikan itu di kepala Se Jun lebih banyak. Sebab rambut Se Jun banyak yang rontok akibat stress. Dia meminta Se Jun untuk jangan terlalu stress lagi.
“Yoo Se Hyung, bajingan itu pasti akan tertawa. Itu melukai harga diriku,” jelas Se Jun dengan kesal. “Si bodoh itu menggelapkan uang perusahaan, lalu ditipu, tapi masih bisa bebas. Hanya aku yang diperkarakan. Kenapa dunia seperti ini kepadaku?” keluh nya dengan sedih.
“Apa kita sial tahun ini?” tanya Hye Ji. Dan Se Jun mengiyakan.
Se Jun menjelaskan bahwa dia tidak masalah jika Se Ri yang di pilih. Sebab sejujurnya, Se Ri sangat kompeten. Tapi antara Se Hyung dan dirinya, dia merasa mereka berdua tidak terlalu berbeda, jadi dia merasa sangat tidak adil kenapa  dia tidak dipilih.
Tepat disaat itu, Hye Ji mendapatkan telpon dari Pak Hwang. Dan dia tampak sangat terkejut setelah mengangkatnya. “Siapa? … Siapa yang kembali?!”

Su Chan menyimpan semua barang nya ke dalam kotak. Khususnya dokumen mengenai kasus paralayang. Kemudian dia memperhatikan foto keluarganya dengan sedih. Dan melihat itu, manajer datang dan menyindir- nyindir Su Chan. Sebab sebelumnya Su Chan bersikap sangat sombong sekali, bahkan sampai berani melawannya, karena Se Ri masih hidup. Tapi sekarang Se Ri sudah meninggal.

Tanpa bisa melawan, Su Chan meminta maaf. Dan manajer semakin senang memojok kan serta mengejek Su Chan. “Kenapa tidak mengangkat kepalamu? Coba angkat kepalamu, dan bantah aku seperti biasa.  Cepat bicara. Apa mulutmu terkunci?” kata manajer sambil menyodok- nyodok Su Chan dengan penggaruk punggung.
“Maaf,” kata Su Chan.

Tepat disaat itu, berita mengenai Se Ri yang kembali hidup muncul di Internet. Dan saat tanpa sengaja, Su Chan melihat berita tersebut. Dia langsung mendorong manajer dan menangis bahagia sambil memegang foto Se Ri di internet. “Pimpinan Yoon. Pimpinan Yoon!!” teriaknya dengan gembira.
Rapat pemegang saham diadakan di perusahaan Se Ri. Dan Sang Ah duduk dengan bangga disana.
Se Ri datang.

“Kalian pasti mencemaskan perusahaan yang berada di situasi genting. Manfaatkan kesempatan ini untuk mengubah lemon menjadi limun. Mulai sekarang, Grup Queens mengambil alih Se Ri Choice,” jelas Sang Ah kepada semua petinggi perusahaan. “Tentu saja, kami akan memberikan para eksekutif perlakuan yang lebih baik. Aku yakin ini akan jadi sangat luar biasa,” jelas nya dengan penuh percaya diri serta keyakinan. Dan semua petinggi perusahaan merasa senang.


Chang Sik terkejut saat mendengar kabar dari Su Chan di telpon. Dan tepat disaat itu, Se Ri muncul di depannya. “Pak Hong,” sapa Se Ri. Dan Chang Sik melihat ke arah tangan nya yang mulai gatal karena alergi. “Aku merasa gatal. Itu dia,” gumam Chang Sik. Lalu dia memperhatikan Se Ri. “Ini sungguh dia. Kamu sungguh dia,” katanya dengan senang.

“Aku ingin mengatakan banyak hal kepadamu. Namun, senang bisa bertemu denganmu lagi,” kata Se Ri sambil mengulurkan tangannya. Dan dengan penuh kerinduan serta perasaan senang, Chang Sik langsung memeluk Se Ri dan menangis. “Apa?” tanya Se Ri, heran. “Itu … benarkan kamu mencariku? Kamu serius?”
Chang Sik melepaskan pelukannya dan mengangguk bahagia. Dan Se Ri tersenyum senang, karena dia tahu kalau Chang Sik beneran tulus padanya.

Pemungutan suara di mulai. Bagi mereka yang setuju dengan pergantian CEO baru, mereka dia persilah kan untuk mengangkat tangan. Dan semuanya mengangkat tangan mereka. Melihat itu, Sang Ah tersenyum puas.

Chang Sik membuka kan pintu bagi Se Ri. Dan Se Ri pun masuk ke dalam ruangan rapat. Melihat kedatangan nya, semua orang merasa sangat terkejut. Termaksud Sang Ah.
“Beginikah rasanya menghadiri sendiri upacara pemakamanku?” tanya Se Ri, menyapa mereka semua. “Berapa banyak yang menyumbang di pemakamanku, dan siapa yang bergunjing di dekat peti matiku, kini, aku tahu semuanya,” jelas nya sambil tersenyum. Dan semua orang terdiam sambil menundukkan kepala mereka.


“Mereka yang mengangkat tangan,” kata Se Ri. Dan dengan sikap tegang, mereka semua langsung memperhatikannya. “Aku akan pura-pura tidak melihatnya. Jadi, silakan pergi dan kembalilah bekerja,” jelas Se Ri. Dan semuanya pun langsung berdiri serta pergi.


Sang Ah berdiri dari tempatnya, dan menunjukkan sikap pura- pura berdiri kepada Se Ri. Namun Se Ri langsung menghentikannya sebelum dia sempat menyentuhnya. Karena dia sudah tahu bagaimana Sang Ah yang asli. “Maaf, aku tidak bisa membiarkanmu mengambil alih perusahaanku. Karena aku kembali,” jelas nya sambil tersenyum. Dan dengan terpaksa Sang Ah balas tersenyum kecil padanya.

Sersan Pyo dan lainnya berjalan bersama- sama. Dengan riang, Sersan Pyo bernyanyi dengan lantang, sebab Jung Hyuk sedang tidak ada disekitarnya, jadi tidak akan ada yang menegurnya.
“Omong- omong, kapten Ri kemana?” tanya Eun Dong.
“Entahlah,” jawab Letnan Park. Dan Ju Meok merasa bahwa Jung Hyuk pasti tidak bisa tidur dengan nyenyak akhir- akhir ini. Dan Eun Dong setuju.
“Dia pasti sakit karena cinta,” komentar Sersan Pyo.


Se Ri menceritakan kisah dari mangkuk pecah yang berada diatas tempayan kepada Jung Hyuk. Dia penasaran apakah Ibu dan Putra nya yang ikut berperang itu bisa bertemu. Lalu dia bertanya, apakah jika dia menunggu dengan berdoa, bisakah dia bertemu orang yang di rindukannya.
“Kamu berdoa agar hidup. Jika berhenti menunggu, duka akan membunuhmu. Itu alasanmu menunggu,” balas Jung Hyuk, berkomentar.

Setelah mengatakan itu, Jung Hyuk memandang ke sebelahnya. Namun Se Ri sudah tidak ada disana. Dan dia merasa sangat sedih, karena menyadari kalau Se Ri sudah benar- benar tidak ada.

Man Bok datang secara diam- diam menemui Jung Hyuk. Dia mendekati Jung Hyuk sambil mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.
“Kamu orang di pasar yang waktu itu?” tanya Jung Hyuk, mengingat.
“Ya, itu aku.”


Didalam ruangan. Jung Hyuk menanyakan, bagaimana cara Man Bok bisa masuk ke dalam wilayah ini, apakah Man Bok mendapatkan askses dari Badan Keamanan. Dan Man Bok menjelaskan bahwa dia mengenal salah satu kepala penjaga yang menyelundupkan suplai militer, jadi dia membuat kesepatakan dengannya untuk bisa masuk ke wilayah ini. Selama ini dia sudah terlalu banyak mendengarkan orang lain setiap harinya, jadi dia tahu banyak rahasia. Seperti siapa menemui siapa, dan kebohongan apapun, serta kelemahan setiap orang.
“Kamu menguping orang lain,” kata Jung Hyuk, memperjelas.

“Mereka menyebutku Pengkhianat. Sejak usiaku 17 tahun, aku selalu mendengarkan orang lain. Aku tidak sempat bicara soal diriku. Tapi beberapa tahun lalu, aku bertemu seseorang yang mendengarkanku. Dia bahkan memberikanku hadiah ulang tahun. Dompet yang kamu kembalikan,” kata Man Bok, bercerita. Dia lalu menunjukkan dompetnya dan surat yang di simpan di dalamnya.
Selamat Ulang Tahun. Semoga kamu dan keluargamu berlimpah rezeki. Ri Mu Hyuk.
Jung Hyuk terkejut saat membaca surat tersebut. “Kamu kenal kakakku?” tanyanya. Dan Man Bok menganggukan kepalanya.


10 tahun yang lalu
Man Bok dan Myeong Sun membawa anak mereka, yaitu U Pil ke rumah sakit. Sebab anak mereka terkena wabah flu babi, tapi sayangnya pihak rumah sakit kehabisan obat, jadi mereka tidak bisa membantu. Bahkan obat yang Myeon Sun beli di pasar, ternyata obat itu palsu, itu hanyalah lem biasa. Dan mereka berdua pun merasa sangat kebingungan.
“Tidak ada yang menjual obat di situasi seperti ini. Kecuali dari rumah sakit militer,” jelas Dokter kepada mereka berdua.
Malam hari. Demam U Pil belum mereda juga. Dan mereka berdua pun merasa sangat cemas serta panik. Mereka takut akan terjadi sesuatu kepada anak mereka. Tepat disaat itu, Mu Hyuk datang.


Mu Hyuk datang dengan membawakan obat untuk U Pil serta dia membawa perawat juga untuk membantu. Dan Man Bok merasa sangat terharu dengan kebaikannya.


Kondisi U Pil akhirnya membaik. Dan sebagai rasa terima kasih, Man Bok mengambil beberapa lembar uang yang berada di dalam saku nya dan merapikannya. Lalu dia memberikan uang itu kepada Mu Hyuk, dan Mu Hyuk pun menerima uang itu.
“Terima kasih. Terima kasih banyak,” ucap Man Bok dengan tulus.


Seminggu kemudian. Cheol Gang datang menemui Man Bok dan menyuruhnya untuk menyadap Mu Hyuk. Dan Man Bok terkejut sebab setahunya Cheol Gang serta Mu Hyuk itu bersahabat. Namun Cheol Gang tidak mau menjelaskan kenapa.
“Soal ibumu. Dia tertangkap saat menyeberang perbatasan untuk bisnisnya. Dia mungkin dikirim ke kamp konsentrasi,” kata Cheol Gang, mengancam, karena Man Bok tampak ragu.
“Apa?!”
“Dia sudah tua. Pikirmu dia bisa bertahan saat musim dingin di sana? Kudengar dia mengidap TBC. Aku akan bantu membebaskannya. Pastikan kamu melakukan perintahku,” jelas Cheol Gang.
“Tapi…”
“Jika tidak, kamu bisa kehilangan ibumu begitu saja. Bisakah kamu menghadapi itu?” ancam Cheol Gang. Dan Man Bok pun merasa takut.
 
Man Bok menguping pembicaraan Mu Hyuk melalui alat penyadap. Mu Hyuk menceritakan kepada teman nya bahwa Cheol Gang sudah kelewatan dan tidak mau mendengarkannya. Cheol Gang merampok makam dan menjual narkoba, bahkan membunuh orang demi menutupi korupsinya. Jadi dia Cheol Gang akan segera di sidangkan di Pyongyang.
Mendengar pembicaraan itu, Man Bok pun akhirnya mengerti kenapa Cheol Gang menyurunya seperti itu. Dan bukan hanya Man Bok yang mendengarkan, bahkan Cheol Gang juga mendengarkan itu.

“Aku punya daftar orang yang menerima uang untuk mengabaikan tindakannya. Aku juga mengetahui dari mana uangnya berasal. Kubawa salah satunya. Dan untuk berjaga-jaga, yang lainnya di…” jelas Mu Hyuk sambil memperhatikan memory kecil yang dibawanya.
“Maksudmu di jam tangan?” tanya teman Mu Hyuk. Dan Mu Hyuk mengiyakan.

Operasi untuk membunuh Mu Hyuk di mulai. Dengan sedih, Cheol Gang memberitahukan posisi Mu Hyuk kepada Cheol Gang. Dan ketika dia mendengar suara tabrakan mobil yang sangat kuat, dia menangis sambil meremas kepalanya dengan rasa menyesal.

Ketika Man Bok pulang. Myeong Sun memberitahu Man Bok bahwa barusan Mu Hyuk datang dan membawakan daging untuk Man Bok. Sebab ini adalah hari ulang tahun Man Bok. Serta Mu Hyuk juga menitip kan sebuah kado untuk Man Bok. Yaitu sebuah dompet.
Myeong Sun mengambil dompet tersebut, dan membukanya. Dia menemukan beberapa lembar uang lecet di dalamnya. Dan Man Bok diam. Lalu dia mengambil surat yang ada di dalam kotak.

Man Bok duduk di pinggir rel kereta api dan membaca surat tersebut.
Man Bok. Selamat ulang tahun. Konon dompet yang bagus akan membawa keberuntungan. Man Bok, kamu adalah teman yang baik. Semoga kamu dan keluargamu berlimpah rezeki. Aku ada urusan di Pyongyang. Mari kita minum saat aku pulang. Ri Mu Hyuk.

Selesai membaca surat tersebut. Man Bok menangis dengan keras.
Flash back end

Dengan sedih, Jung Hyuk menanyakan, kenapa Man Bok baru memberitahu kan ini kepadanya. Dan sambil menangis, Man Bok menjelaskan bahwa dia sudah menyesali ini sejak lama, tapi tidak ada yang berubah, untuk melupakan nya, dia terus bilang pada dirinya sendiri bahwa dia tidak punya pilihan. Namun setiap dia terbangun di pagi hari dan akan tidur di malam hari, dia selalu merasa menyesal akan perbuatan nya kepada Mu Hyuk dan dia sangat merindukan Mu Hyuk. Karena hanya Mu Hyuk lah sahabat nya.

Man Bok kemudian berlutut di hadapan Jung Hyuk. “Aku ingin menebus perbuatanku. Aku tidak peduli akan akibatnya. Tolong jaga baik-baik keluargaku,” pinta nya.

Man Bok kemudian memberikan jam tangan milik Mu Hyuk kepada Jung Hyuk. Serta rekaman terakhir suara Mu Hyuk yang direkamnya. Dan Jung Hyuk pun mendengarkan rekaman tersebut. Saat dia mendengar bagaimana Mu Hyuk memuji nya serta sangat banga kepadanya, Jung Hyuk merasa sangat sedih dan menangis.
“Kakak. Maafkan aku. Maaf,” kata Jung Hyuk.

“Aku ingin dia berbahagia,” kata Mu Hyuk kepada temannya. Lalu terdengarlah suara tabrakan mobil yang sangat kuat. Dan mendengar itu, Jung Hyuk menangis tersedu- sedu.

Pagi hari. Saat Wol Suk membuka tempayan garam dihalaman rumahnya, dia menemukan sebuah surat didalam amplop pink di dalam tempayan nya. Dan dia merasa heran.
“Where are you from?” kata Guru mengarjakan anak- anak. “Artinya, kamu dari mana?"

Para Ibu- Ibu berkumpul di rumah Young Ae. Mereka membicarakan secara rahasia tentang surat yang ditinggalkan oleh Se Ri untuk mereka. Dan Young Ae yang paling merasa terkejut, saat mengetahui bahwa ternyata Se Ri merupakan pemilik dari perusahaan produk kecantikan yang mereka kenakan. Yaitu Se Ri Choice. Apalagi saat dia mengetahui alasan kenapa Se Ri bisa sampai di Utara, dia merasa sangat kasihan padanya. Begitu juga dengan para Ibu yang lainnya.


“Tapi kenapa dia harus jujur kepada kita sebelum pergi?” keluh Young Ae.
“Kurasa inilah alasannya,” kata Wol Suk membacakan surat yang di tinggalkan oleh Se Ri. "Kawan-kawan, maafkan aku sudah membohongi kalian. Young Ae, Wol Suk, Myeong Sun, dan Ok Geum. Terima kasih sudah percaya dengan kisah yang kuceritakan, saling berbagi cerita, dan mengobrol denganku. Semuanya sungguh menyenangkan. Aku harus pergi sekarang, tapi aku ingin memberi tahu nama asliku kepada kalian. Aku sudah banyak berbohong kepada kalian, tapi hatiku untuk kalian selalu tulus."

Selesai membaca surat tersebut, mereka semua merasa sedih untuk Se Ri yang pasti merasa sangat takut karena berada di tempat asing.
“Apakah dia pulang dengan selamat?” tanya Myeong Sun, perhatian.
“Sudah dua pekan sejak dia pergi. Dia juga belum kembali. Dia pasti sudah pulang. Atau mati. Pasti salah satunya,” jelas Young Ae. Dan semuanya merasa cemas.
“Kita harus bagaimana?” gumam Ok Geum, khawatir.
“How are you doing?” kata Guru mengarjakan anak- anak. “Artinya, apa kabar?"


Saat mobil harus berhenti karena lampu merah. Se Ri melihat sebuah layangan yang terbang bebas ke langit. Dan anak- anak yang sedang bermain dengan riang di taman. Melihat itu dia terkenang akan kenangan nya saat di Utara dulu. Saking seriusnya memperhatikan itu, Se Ri sampai tidak sadar kalau lampu sudah hijau.

Saat Se Ri datang ke rumah. Hye Ji menyambutnya dengan sikap sok perhatian dan peduli padanya. Namun Se Ri sama sekali tidak peduli. Dan saa Se Ri menyadari kalau Hye Ji memakain cincin nya, dia pun melepaskan cincin tersebut dengan paksa dari tangan Hye Ji.



“Kakak memasuki kamar pakaianku?” tanya Se Ri.
“Tidak. Aku tidak mau, tapi Ibu Mertua bersikeras,” jawab Hye Ji, berbohong.
“Kenapa kalian bisa ke rumahku?”
“Ibu Mertua yang membuka. Dia tahu sandinya,” jelas Hye Ji dengan cepat. Dan tepat disaat itu, Ibu pulang ke rumah.

Se Ri dan Ibu duduk berdua di ruang tamu. Se Ri meminta maaf kepada Ibu. Dan Ibu tidak mengerti, apa maksud Se Ri.
“Ibu berharap aku akan kembali?” tanya Se Ri. “Saat harga saham perusahaanku turun, banyak orang membeli sahamnya dengan harga murah. Di antara mereka, Sang Ah yang paling banyak membeli. Dan Ibu berikutnya.”
Ibu ingin membuka suara dan menjelaskan alasannya. “Itu…”

Tapi Se Ri langsung menyela dengan sinis. “Aku mengembangkan perusahaan sendiri. Itu bukan milik anak-anak Ibu. Itu milikku. Ibu mau merebut perusahaanku dariku juga?”
“Se Ri …” panggil Ibu sambil tersenyum. Dia ingin menjelaskan.

“Benar. Karena Ibu mengira aku sudah mati?” tanya Se Ri, menyela lagi. “Baiklah. Bisa dimaklumi. Ibu pasti senang. Ibu mengira aku mati. Ibu pasti senang. Sebab itulah, aku meminta maaf. Maaf karena aku hidup, dan melukai perasaan Ibu,” jelas Se Ri. Dan Ibu tidak tampak senang sama sekali.

Saat makan malam. Ibu tidak ikut makan bersama dengan alasan sakit perut. Se Jun menanyakan kepada Ayah, sejak kapan Ayah tahu kalau Se Ri masih hidup, karena sekitar dua pekan lalu, Ayah melakukan perjalanan bisnis sekitar empat hari dan tidak pulang. Dan Ayah tidak mau membahas nya.


Se Ri menyela Ayah. Dia menjelaskan bahwa pada saat itu dia sedang dirumah sakit, karena dia tidak bisa mengingat apapun. Tapi dia masih ingat perkatan terakhir Ayahnya dengan sangat jelas seolah- olah itu baru kemarin. “Ayah ingin kamu menggantikan ayah.”
Hye Ji menggunakan kesempatan itu untuk meminta kepada Ayah. Dia meminta supaya mereka mengulang game dari awal. Dan Sang Ah langsung protes. Sedangkan Se Ri, dia sama sekali tidak peduli, malahan dia merasa itu lucu.

“Menyenangkan. Kalian belum berubah,” kata Se Ri dengan geli. “Aku lapar, tapi begitu pulang, aku tidak lapar lagi. Kalau begitu, aku pamit dulu,” jelas nya sambil mengelap mulutnya dengan elegan.


Diapatermen. Se Ri menikmati hidupnya dengan senang. Pertama, karena dia bisa bersantai dengan tenang, tanpa perlu khawatir akan ada orang yang memasuki rumahnya untuk melakukan inspeksi. Kedua, dia bisa mandi sambil memanjangkan kakinya. Ketiga, dia tidak perlu memanaskan air di kuali. Saat tersadar kenapa dia terus membahas itu, Se Ri berusaha untuk menyadar kan dirinya sendiri.

Se Ri merawat kulitnya supaya kembali seperti dulu lagi. Muda dan kaya. “Aku akan kembalikan semuanya ke tempatnya. Semuanya segera kembali.”

Setelah itu Se Ri berbaring di tempat tidur nya yang sangat luas dan empuk. “Ini dia. Kasur harus seluas lapangan sepak bola, lembut dan empuk. Setuju, Jung Hyuk …” kata Se Ri memanggil nama Jung Hyuk tanpa sadar.

Namun saat teringat bahwa Jung Hyuk tidak ada lagi di sekitarnya. Se Ri merasa sangat sedih.

Se Ri kesulitan untuk tidur malam di tempatnya sendiri. Dia meminum obat untuk membantu nya supaya bisa tertidur. Namun tetap saja dia kesulitan.
Sebuah layangan tersangkut di atas pohon yang berada di dekat markas Jung Hyuk.

Jung Hyuk membongkar jam tangan kakaknya, dan dia mendapatkan memory card kecil yang di sembunyi kan oleh kakak nya disana. Dia lalu melihat isi memori card tersebur di laptopnya. Dan isinya adalah daftar penyuapan tahun 2011.

Ayah Jung menemukan kertas yang di print oleh Jung Hyuk tersebut. Dan saat dia membaca isinya, dia tampak terkejut.

Post a Comment

Previous Post Next Post