Monday, February 17, 2020

Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 15 - part 3

1 comments

Network : tvN Netflix

Young Ae merasa stress, kenapa hal- hal buruk terus terjadi dan setelah dia berpikir, peramal yang Wol Suk kenalkan kepada mereka memang adalah orang hebat. Dan Wol Suk pun ingin menemui peramal tersebut lagi.
“Tempatnya sudah ditutup,” kata Wol Suk, memberitahu. Dan semuanya merasa terkejut. “Pekan lalu, dia ditangkap dan ditahan petugas kontrol. Istri pejabat Badan Keamanan pergi ke tempatnya dan dia kebetulan mengetahui perselingkuhan suaminya.”
“Bajingan itu,” komentar Young Ae.
“Astaga. Dia hebat,” tambah Myeong Sun.
“Bagaimana dia bisa tahu?’ tanya Ok Geum, penasaran.
“Setelah selalu diomeli oleh istrinya, pejabat itu tampaknya membalas dendam. Dia sungguh hebat, tapi dia tidak bisa menerawang masa depannya sendiri,” jelas Wol Suk, menyanyang kan.

“Pertumpahan darah yang dia sebutkan mungkin sudah berakhir?” tanya Ok Geum.
“Pasti. Apa lagi yang bisa terjadi?” balas Wol Suk dengan yakin.

Seung Jun mampir ke desa. Dia menghampiri rumah Young Ae dengan raut kelaparan. Tapi karena malu, dia pun beralasan bahwa dia hanya mencium bau nasi saja. Lalu dia menumpang untuk mencas hape. Dan dengan ramah, Young Ae mengundangnya untuk masuk sekaligus makan malam bersama juga.
“Boleh? Terima kasih,” kata Seung Jun dengan bersemangat. Lalu dia langsung masuk ke dalam rumah Young Ae begitu saja.


Dengan lahap, Seung Jun memakan makanan yang diberikan padanya. Dan semua orang menatap nya dengan tatapan bersimpati serta heran.
“Omong-omong, apakah orang Utara di Eropa bicara dalam aksen Selatan sepertimu?” tanya Ok Geum, menyadari logat yang di gunakan Seung Jun.
“Apa?” gumam Seung Jun, terkejut. “Benar. Sebagian begitu. Karena terkadang kami harus menyembunyikan identitas,” jelasnya, beralasan. Lalu dia lanjut makan lagi.


“Pelan-pelan. Kamu tidak sedang dikejar orang,” komentar Wol Suk, tanpa maksud.
“Benar juga,” balas Seung Jun. Lalu dia memelankan makan nya.
Setelah selesai makan, Seung Jun secara diam- diam masuk ke dalam rumah Jung Hyuk.

Seo Dan menghubungi Seung Jun, dan akhirnya di jawab. Saat di jawab, dia langsung menanyakan dengan cemas, kenapa hape Seung Jun mati dan apatermen nya berantakan. Dia ingin tahu apa yang terjadi. Dan juga dimana Seung Jun sekarang.
“Dimana?”
Seo Dan masuk ke dalam rumah Jung Hyuk dan merasa bingung, kenapa Seung Jun tidak menyalakan lampu sama sekali. Dan Seung Jun menjelaskan bahwa jika dia menyalakan lampu, maka dia takut akan tertangkap, karena hanya tempat ini yang bisa di temukannya.
“Kamu bisa mencari lilin,” komentar Seo Dan. Lalu dia mengambilkan lilin dan menyalakannya.

Seo Dan membahas betapa ironi nya, karena sekarang dia berada dirumah mantan tunangannya. Dan Seung Jun menjelaskan bahwa itu benar, tapi karena dia telah banyak membantu Jung Hyuk, maka dia sama sekali tidak merasa bersalah tinggal di tempat Jung Hyuk. Sebab dia mempertemu kan Jung Hyuk dengan perantara di selatan dan juga memberikan ponsel selatan kepada Jung Hyuk. Bahkan sekarang dia diburu karena membantu Jung Hyuk.

“Siapa orang-orang yang mengejarmu?” tanya Seo Dan, penasaran.
“Mereka utusan kakaknya Se Ri. Gangster Tiongkok.”
“Sulit kupercaya para berandal itu melakukannya di sini. Pergi ke Pyongyang denganku…” ajak Seo Dan. Tapi Seung Jun langsung menolak, karena dia tidak mau menyusah kan Seo Dan.
Myeong Eun merasa sangat marah, karena Jung Hyuk menyelingkuhi putrinya dan dia ingin membalas Jung Hyuk. Mendengar itu, Myeong Seok mengomentari kalau Jung Hyuk tidak bersalah, karena Jung Hyuk dan Seo Dan belum menikah. Sama seperti yang pernah Myeong Eun katakan dulu, ketika Seo Dan dekat dengan Seung Jun. Tapi menurut Myeong Eun itu berbeda.


“Wanita itu dari Korea Selatan. Ini bukan masalah kecil,” kata Myeong Eun.
“Kakak, jika dipikirkan lagi, Kamerad Al juga dari Selatan. Kita juga sama bersalahnya. Bukankah itu standar ganda?” balas Myeong Seok. “Aku tidak tahu penantian sepuluh tahun menjadi selingkuh ganda. Dan sekarang, Kamerad Al tampaknya sudah mau pergi juga.”
“Dia mau pergi?!”

Seung Jun memberitahu Seo Dan bahwa awalnya dia ingin bersembunyi di Korea Utara selama sepuluh tahun. Tapi sekarang dia sudah ketahuan dan sedang di buru, jadi dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi disini. Untungnya pengawasan Badan keamanan sedang melonggar, jadi dia berhasil membeli tiket dan berkesempatan untuk pergi.
“Kapan?” tanya Seo Dan dengan pelan.
“Besok.”

Seo Dan merasa kecewa, tapi dia mengerti. Seung Jun tidak menyadari hal itu dan meminta bantuan Seo Dan untuk mengantar kan nya ke bandara. Dan Seo Dan menyanggupi.
“Terima kasih. Terima kasih atas segalanya, Dan,” kata Seung Jun dengan tulus.
“Tidak apa- apa.”


Seo Dan berdiri dan ingin pergi. Tapi Seung Jun langsung memegang tangannya dan menahannya. “Aku sudah berusaha menjalani hidup dengan baik. Tanpa tahu ke mana aku pergi, aku sudah kehabisan napas. Tapi pada akhirnya, aku berada di bawah,” jelasnya dengan sedih. Lalu dia berlutut di dekat Seo Dan. “Aku tahu pria sepertiku tidak pantas melakukan ini kepada wanita sepertimu, Dan. Tetap saja, aku mau berikan kepadamu. Maafkan aku,” katanya sambil memasukkan cincin ke jari Seo Dan.



Seo Dan memandangi cincin tersebut. Dan secara jujur, Seung Jun mengakui kalau itu adalah cincin yang pernah di berikannya kepada Se Ri, tapi hanya ini yang bisa dia berikan sekarang, namun dia berjanji bahwa suatu hari ketika dia sudah lebih mapan dan Seo Dan masih melajang, maka dia meminta Seo Dan untuk memberikan kesempatan kepadanya.
Mendengar itu, Seo Dan menangis. “Berhenti membual,” keluhnya.

Seung Jun berdiri dan memeluk Seo Dan. “Aku menyukaimu, Dan. Karena aku menyukaimu, aku akan terus memikirkan tempat tujuanku. Aku akan hidup seperti itu. Akan kulakukan mulai sekarang,” janjinya.

Petugas BIN 2 memberikan flashdisk yang berisikan riwayat penggunaan kartu kredit Se Ri kepada petugas BIN 1. Dan menerima itu, petugas BIN 1 bertanya- tanya, apakah ini uang hasil memeras Se Ri atau tidak. Lalu dia pun memeriksanya.
“Sembilan dolar di kafe internet,” kata petugas BIN 1.
“Tampaknya itu persembunyian utama untuk kumpulkan informasi,” jelas petugas BIN 2.
“Bagus. Ada rincian kunjungan mereka?”
“Ada di bawahnya.”
“Piala Klub Juara Eropa Paket Emas, 4.900 won. Piala Klub Juara Eropa Paket Permata, 3.600 won. Apa ini?” tanya petugas BIN 1, kebingungan.
“Barang dalam game.”

Eun Dong bermain game di internet.

Dengan bangga, petugas BIN 2 menjelaskan kalau Paket permata lebih murah. Dan dengan kesal, petugas BIN 1 menyuruhnya berhenti bicara. Lalu dia melihat riwayat lainnya. Dan ternyata itu adalah pengeluaran untuk mengunduh video.
“Winter Sonata, Mr. Duke, Second 20s, The Suspicious Housekeeper. Choi Ji-woo adalah pemeran utama di drama tersebut…,” jelas petugas BIN 2 dengan bangga.

Ju Meok menonton drama korea di warnet.


Riwayat selanjutnya, 2.000 won di kako, yaitu karaoke koin. 3.250 won di toko untuk gorengan dan ramyeon. 5.800 won untuk tteokbokki.
“Apa yang mereka pikirkan? Kenapa pengeluaran mereka sangat kecil?” tanya petugas BIN 1 dengan bingung dan kesal.

Petugas BIN lain datang dan menyerahkan laptop Cheol Gang yang telah di pulihkan.


Petugas BIN 1 memperlihatkan email Cheol Gang kepada pihak di Utara. “Bukankah surelnya menjelaskan kenapa Cho Cheol Gang menembakmu walau tahu dia akan mati? Pria itu tidak punya tempat untuk kembali. Dia tidak bisa kembali atau tetap di sini. Dia tidak mau mati sendirian.”
Mendengar itu, Jung Hyuk mengingat perkataan terakhir Cheol Gang.

Petugas BIN 1 meminta Jung Hyuk untuk berhenti mengkhawatirkan Ayah Jung dan berbicara dengan jujur. Dan Jung Hyuk pun berbicara. “Se Ri. Bagaimana keadaannya?”
“Dia di unit perawatan intensif. Dia mengalami sepsis, sebagai efek samping operasi. Kenapa perlakukan dia dengan kasar jika kamu tidak tahan juga?”
Seo Dan mengantarkan Seung Jun ke bandara. Kemudian setelah itu, dia langsung masuk ke dalam taksi kembali dan pergi darisana.
Seung Jun mengangkat tangannya untuk melambai. Tapi kemudian dia menurunkan tangannya, karena dia sadar kalau Seo Dan tidak akan bisa melihat nya.

Seo Dan mulai menangis. Dia memandangi cincin yang Seung Jun pakaikan di jarinya dan dia menangis semakin keras.
Gangster tiongkok mengikuti taksi Seo Dan.

Seung Jun menghindari para petugas yang dilihatnya dengan takut. Kemudian tiba- tiba telpon masuk, dan dia pun mengangkatnya. Lalu dia mendengar suara rintihan kesakitan Seo Dan di telpon. Mendengar suara itu, dia merasa sangat cemas.
“Kamu bicara dengan orang yang salah. Aku tidak ada hubungannya dengan wanita itu. Aku tidak peduli jika kalian mau bawa dia atau tidak,” kata Seung Jun, berusaha untuk terdengar tenang.
“Begitukah? Kamu tidak peduli jika kami membunuhnya?”
“Aku tidak peduli.”
“Mari kita bicara lagi setelah kami membunuhnya.”
“Tunggu,” kata Seung Jun, takut. “Kenapa mau membunuh wanita tidak bersalah? Keluarganya sangat berkuasa. Kalian bisa dihabisi jika berani menyentuhnya.”
“Kami tidak takut pada hal semacam itu.  Waktumu hanya satu jam. Datanglah ke alamat dari pesan singkat ini. Jika tidak, wanita ini mati. Jika bawa bantuan, wanita ini mati. Aku yakin kamu pasti paham,” balas si penelpon. Lalu telpon mati.


Seung Jun memeriksa jam penerbangan di tiketnya. Lalu dia melihat jam di tangannya. Dan waktu penerbangannya sudah dekat. Dia pun merasa stress.

Kondisi Se Ri menurun.

Se Ri : “Aku bermimpi. Di dalam mimpiku, aku kembali ke hari kecelakaan itu.”

“Di dalam mimpiku, aku tahu segalanya. Aku tahu kecelakaan apa yang akan kualami dan di mana aku akan terdampar. Aku tahu akan bertemu siapa dan pengalaman menakutkan dan sulit yang akan kualami. Aku juga tahu hari ini akan segera berakhir. Aku sudah tahu segalanya.”

Setelah mendapatkan panggilan telpon dari pihak rumah sakit, petugas BIN 1 memberitahu Jung Hyuk bahwa sekarang Se Ri berada dalam kondisi kritis.


Jung Hyuk berlari secepat mungkin ke rumah sakit. Dia berdiri di luar ruangan dan memperhatikan Se Ri yang sedang terbaring koma didalam. Petugas BIN 1 mengikutinya dan memperhatikannya dari jauh.

Seung Jun merasa sangat bimbang. Dia memegang erat tiket pesawat di tangannya. Tapi kemudian dia membuat keputusan. Dia merobek tiket tersebut dan meninggalkan bandara.


Seo Dan terkejut saat tiba- tiba terdengar suara tembakan. Dan orang disebelahnya langsung menahannya sambil mengarahkan pistol ke kepalanya.
Seung Jun menembak satu persatu gangster tiongkok yang berada di dalam gudang. Tanpa rasa takut dia terus berjalan mendekati Seo Dan yang sedang di tawan.


Seung Jun terkena tembakan di bahu. Melihat itu, Seo Dan langsung meneriaki nama Seung Jun dengan panik dan khawatir.
“Seo Dan, jangan khawatir. Aku belajar menembak di Selatan,” kata Seung Jun sambil tertawa dan pada saat yang bersamaan, dia menahan rasa sakit di bahunya.

Seung Jung tidak menyerah. Dia maju lagi dan menembak setiap orang yang tersisa. Tapi sialnya, saat dia menembak orang terakhir, dia juga terkena tembakan.

Melihat itu, Seo Dan langsung berlari ke arah Seung Jung sambil menangis. Melihat Seo Dan yang berlari ke arah nya, Seung Jun tersenyum bahagia.
Seung Jun : “Aku salah. Saat aku mati, ada seseorang yang menangisiku. Fakta bahwa kamulah orangnya membuatku sedih dan bahagia.”

Se Ri : “Di akhir mimpi panjang itu, akhirnya aku mengambil keputusan. Demi bisa menemui dirimu, aku ambil keputusan untuk mengulangi semua momen itu dari awal.”
Kondisi Se Ri semakin menurun. “Walau waktu kuputar kembali seratus kali…”
Jung Hyuk :Jika aku bisa memutar balik waktu… Andai aku bisa, aku tidak mau menemuimu. Kamu takkan bisa kenal diriku. Maka kamu akan aman dan bahagia.”
Se Ri : “Andai aku bisa melakukannya… Aku akan bertemu denganmu lagi. Aku akan kenal denganmu dan jatuh cinta. Aku tahu itu pilihan yang berbahaya dan menyedihkan.”

Seung Jun di bawa dengan ambulans. Dan Seo Dan menangis di sisinya.
Seung Jun : “Jika salah satu dari kita harus mati, dan yang lain tetap hidup… Jika memang itu takdirnya, maka wajar saja aku mati dan kamu tetap hidup. Wajar saja.“ (Seung Jun membuka matanya sedikit).
Se Ri : “Aku bahagia mengambil keputusan itu, Ri Jung Hyuk.” (Se Ri meneteskan air mata).



Biip…. Biipp… Biippp…
Seo Dan semakin menangis. Tangan Jung Hyuk terjatuh lemas.



Petugas BIN menyelidiki video interaksi antara Jung Hyuk dan Se Ri. Saat Jung Hyuk bersama Se Ri, tubuhnya 90 persen menghadap ke arah Se Ri. Lalu tanpa sadar Jung Hyuk mengikuti gerakan Se Ri. Kemudian saat ada pria yang mendekati Se Ri, Jung Hyuk akan bersikap protektif.

“Ahli psikolog, Profesor Oh Hyeong-sim, menganalisis bahwa ini sikap umum pada pria yang jatuh cinta,” jelas petugas BIN 3.
“Kamu butuh analisis untuk tahu itu?” tanya petugas BIN 1 dengan malas. “Itu sudah terlihat jelas.”

Saat hujan turun, Jung Hyuk memanyungi Se Ri secara hati- hati agar dia tidak terkena air hujan. Walaupun bahu sebelahnya yang harus basah, dia senang melakukan itu untuk Se Ri.


1 comment:

  1. Bikin baper... Makasih kak semangat ya nulis lanjutan sinopsisnya

    ReplyDelete