Tuesday, February 18, 2020

Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 16 - part 1

1 comments



Network : tvN Netflix
Tokoh, Kejadian, Organisasi, dan Latar Belakang adalah Fiksi

“Seung Jun, bertahanlah,” pinta Seo Dan sambil memeluk Seung Jun.
“Jangan khawatir. Aku tak apa-apa,” balas Seung Jun sambil tersenyum. Lalu dia menutup matanya, dan dengan cemas Seo Dan terus memanggil- manggil nama Seung Jun.

Seung Jun di bawa oleh ambulans dan Seo Dan menemani di sisinya sambil menangis.

Kondisi Se Ri menurun dratis. Melihat itu, Ibu merasa sangat khawatir.


Jung Hyuk sampai di rumah sakit. Dia memperhatikan dengan serius Se Ri yang sedang di rawat oleh para dokter. Kedua orang tua Se Ri memandangi Jung Hyuk. Bahkan ketiga karyawan Se Ri, mereka juga memandangi Jung Hyuk.

Alat detak jantung Se Ri menunjukkan garis lurus dan angka nol. “Bu Yoon, bisa dengar aku? Bu Yoon,” panggil Dokter. Tapi Se Ri sama sekali tidak ada merespon. Jadi Dokter pun menggunakan deflibrilator untuk memacu jantung Se Ri. Dokter melakukan itu berkali- kali.
Melihat itu dari luar ruangan, Jung Hyuk merasa sangat, sangat, sangat khawatir.

Seung Jun membuka mata. Melihat itu, dengan perhatian Seo Dan menatap Seung Jun. “Kamu tidak apa-apa? Bertahanlah,” pintanya. “Lihat aku. Lihat ke mataku. Kamu bilang kalau kamu sudah mapan…”
“Nanti, anggaplah aku akan mengunjungimu saat aku lebih mapan. Anggap saja kamu masih melajang. Maka tolong beri aku kesempatan,” pinta Seung Jun, melamar Seo Dan.

“Aku akan memberimu kesempatan. Aku akan menantikan kunjunganmu. Aku akan menunggumu,” janji Seo Dan dengan serius. Mendengar itu, Seung Jun memandangi Seo Dan. Dia mengingat janji nya semalam kepada Seo Dan, saat dia memeluk Seo Dan.
“Aku menyukaimu, Dan. Karena aku menyukaimu, aku akan terus memikirkan tempat tujuanku. Aku akan hidup seperti itu. Akan kulakukan mulai sekarang,” janji Seung Jun dengan serius kepada Seo Dan.

“Aku bahagia,” kata Seo Dan, mengaku. “Mendengarkan itu membuatku bahagia,” jelas nya sambil menangis sengungukan.
Seung Jun membuka tube oksigen nya dan mengangkat tangannya. Melihat itu, Seo Dan langsung memegang tangan Seung Jun dengan erat.
“Dan. Pada saat itu, apa yang kamu maksud?” tanya Seung Jun dengan lemah. “Mi instan? Pria itu? Atau… aku?” tanyanya, masih kepikiran hari itu.
“Kamu. Kamu yang kusuka. Kamulah pria itu, Gu Seung Jun,” jawab Seo Dan.


“Sudah kuduga,” kata Seung Jun sambil tersenyum bahagia. Lalu dengan susah payah dia mengangkat tangannya untuk bisa menyentuh wajah Seo Dan. Tapi kemudian setelah itu, tangannya terjatuh dengan lemas dan matanya tertutup.


Seo Dan merasa panik. Dia terus memanggil- manggil nama Seung Jun. Tapi Seung Jun sama sekali tidak ada merespon panggilan nya. Melihat itu, Dokter memeriksa nadi Seung Jun dan melepaskan tube oksigen yang ada di tubuh nya.
“Kurasa dia pingsan. Tolong lakukan sesuatu. Tolong lakukan sesuatu. Apa pun itu. Aku merasa bersalah kepadanya. Tolong lakukan sesuatu. Tolong!” pinta Seo Dan dengan putus asa kepada Dokter. Tapi Dokter hanya diam saja.



“Bangunlah. Bangunlah. Bangunlah Seung Jun,” pinta nya sambil menangis. Namun Seung Jun tetap tidak ada merespon.
Kemudian Seo Dan menunduk kan kepala nya dan semakin menangis. Karena dia tahu kalau Seung Jun sudah tiada.

Alat detak jantung Se Ri menunjukkan tanda kehidupan. Melihat itu, Dokter merasa lega. “Berikan dia oksigen,” perintahnya. Dan perawat mengiyakan.
Melihat itu, Jung Hyuk serta keluarga Se Ri juga merasa lega.
“Kondisinya sudah stabil. Kita tunggu sampai dia pulih,” kata Dokter, memberitahu kedua orang tua Se Ri. Dan mendengar itu, mereka merasa sangat lega serta bahagia.



Yoon Hee serta Pimpinan Yoon kemudian menatap ke arah Jung Hyuk yang masih berdiri di luar ruangan rawat Se Ri.
“Kami dengar dia dalam kondisi kritis dan kami harus kemari,” kata petugas BIN 1, menjelaskan kepada kedua orang tua Se Ri kenapa mereka ke sini. “Syukurlah. Tampaknya dia melewati masa kritis.”
“Kalau begitu, dia harus pergi lagi?” tanya Yoon Hee sambil menatap Jung Hyuk. “Tapi, kondisinya bisa memburuk. Dan Se Ri mungkin mencarinya saat bangun nanti,” jelas nya sambil menangis.
“Kumohon lakukan sebisamu,” pinta Pimpinan Yoon sambil menundukkan kepalanya.

Jung Hyuk tersenyum senang melihat Se Ri tetap hidup.

Kelima anggota tim Jung Hyuk makan bersama. Mereka merasa senang, karena akhirnya mereka bisa berkumpul bersama lagi. Tapi dengan serius Sersan Pyo menyuruh mereka untuk jangan tertawa terlalu keras, karena mereka akan dianggap aneh serta gampangan. Dan semua nya tidak mengerti apa maksud perkataan Sersan Pyo.
“Pikirkanlah. Aku agen elite Korea Utara. Mereka tidak mau kehilangan aku, saat aku ke Selatan atas keinginan sendiri. Karena itulah, mereka memberi kita makan enak,” kata Sersan Pyo dengan bangga. “Sejujurnya, aku sudah dapat tawaran,” bisiknya. “Dalam istilah Imperialis Amerika, bisa dibilang aku sudah dibina?” jelasnya.

Flash back. Diruangan introgasi.
Petugas BIN 1 menjelaskan kepada Sersan Pyo bahwa mereka bisa memulangkan Sersan Pyo kembali ke Korea Utara, jika Sersan Pyo mau pulang. Dan Sersan Pyo tidak mengerti maksud nya.
“Jika mau tetap tinggal, kami bisa membantumu,” jelas petugas BIN 1 dengan lebih jelas. Mendengar itu, Sersan Pyo merasa sangat bangga.
Flash back end

“Mereka ingin aku tetap tinggal. Seperti itulah cara kerja kapitalisme,” jelas Sersan Pyo sambil mendengus senang. “Seperti ungkapan ini, Ambil yang berguna, buang yang tak berguna. Keahlianku dianggap berguna, jadi, mereka mau aku tetap di sini,” katanya dengan bangga.
“Kamu selalu bilang membenci kapitalisme, tapi kamu sudah terbiasa dengan istilah negara ini,” komentar Ju Meok secara langsung. “Dan masalahnya, dia menanyakan hal yang sama kepada kami,” jelas nya. Mendengar itu, Sersan Pyo merasa terkejut.

“Mungkin mereka lakukan itu karena mereka takut aku berpikir akan kesepian dan menolak jika mereka memintaku tinggal di sini,” gumam Sersan Pyo, menipu diri sendiri. Dan mereka semua pun mengabaikan nya dan makan.

“Ada yang lihat Kapten Ri?” tanya Letnan Park, teringat Jung Hyuk. Dan semua nya menggelengkan kepala. Mereka semua menunjukkan eskpresi suram karena khawatir.

Sepekan kemudian.
Direktur Militer kembali mengunjungi Ayah Jung. Seperti biasa, dia mengancam Ayah Jung. Dan kali ini dengan lelah, Ayah Jung meminta Direktur Militer supaya mereka berdua sama- sama jujur saja.
“Pak. Kamu tidak bisa sembunyikan jarum di kantongmu. Kamu mau menutupi fakta bahwa putramu berkhianat demi seorang wanita. Sebab itulah kamu berusaha prioritaskan kesepakatan yang tak adil bagi kita,” kata Direktur Militer, tidak setuju.

Pertemuan BIN. Petugas BIN 1 menjelaskan kepada para tinggi tentang permintaan pihak Utara yang meminta mereka supaya mengembalikan para prajurit Utara dan merahasiakan kejadian ini. Menurut laporan penyelidikan, Jung Hyuk dan para anggota tim nya tidak ada melakukan apapun selain baku tembak dengan Cheol Gang. Jadi intinya Jung Hyuk dan tim nya bersih.

“Lalu, kenapa tidak kembalikan mereka diam-diam sesuai permintaan Utara?” kata petinggi 1, berpendapat. “Mempublikasi ini tidak akan membantu kita di mata publik.”
“Aku setuju. Kondisi yang mereka minta menguntungkan kita,” kata petinggi 2, setuju.
“Kementerian Unifikasi juga setuju, tapi kita tidak bisa ikuti permintaan mereka tanpa kesepakatan. Bagaimana kalau kita adakan reuni bagi keluarga yang terpisah? Kurasa kita tidak akan rugi,” kata petinggi 3, juga setuju.

Ayah Jung memperlihatkan dokumen tentang Cheol Gang. Dia mendapatkan itu semua dari pihak Selatan, Cheol Gang yang membelot ke Selatan usai melakukan banyak kejahatan hingga membunuh saat di pindahkan ternyata mengontak Direktur Militer secara berkala. Melihat dokumen tersebut, Direktur Militer tidak bisa berkata- kata.
“Kamu pasti tahu, putraku tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Dia tidak akan mengkhianati negaranya karena seorang wanita,” kata Ayah Jung, memperjelas.

“Maksudmu, kita harus saling menutupi?” balas Direktur Militer dengan perasaan berat hati.
“Terdengar begitu bagimu?”
“Baiklah,” kata Direktur Militer, setuju. “Dengan satu syarat, Badan Militer memegang wewenang penuh dalam proses repatriasi termasuk tempat kami menerimanya. Kamu tidak akan menolak, 'kan?” tanyanya. Dan Ayah Jung diam, berpikir.
Ketiga karyawan Se Ri datang menjenguk Se Ri. Lalu selanjutnya, Yoon Hee juga datang. Dia meminta mereka bertiga untuk keluar sebentar, karena ada yang harus di bicarakannya dengan Se Ri. Dan mereka bertiga pun mengiyakan.

“Ibu baru dapat panggilan. Dia akan dikembalikan ke Utara,” kata Yoon Hee, memberitahu.
“Kapan? Kapan dia pergi?” tanya Se Ri, terkejut.
“Sekarang.”
“Daripada membuang hidupku, melihatmu sekarang membuatku kesal,” kata Jung Hyuk pada hari itu di ruang introgasi. Dan mengingat itu, Se Ri merasa sedih. “Syukurlah. Baguslah. Kurasa dia tidak terus berbohong. Penyelidikannya pasti lancar. Sebab itu dia bisa kembali, 'kan? Aku sungguh lega,” gumam nya dengan sikap seolah lega tapi raut wajah nya tampak sangat sedih.


Yoon Hee menawarkan diri untuk mengantarkan Se Ri bertemu dengan Jung Hyuk sekarang. Tapi Se Ri menggelengkan kepalanya, dan Yoon Hee merasa heran. Dengan sikap tegar, Se Ri menjelaskan bahwa dia sudah banyak mengucapkan perpisahan dan tidak ada yang ingin dia katakan lagi sekarang. Lalu dia juga tidak ingin Jung Hyuk melihatnya seperti ini, karena ini hanya akan membuat Jung Hyuk makin berat untuk pergi. Jadi dia tidak ingin Jung Hyuk mengetahui tentang penyakit nya.
Mendengar itu, Yoon Hee mengelus rambut Se Ri dengan lembut. “Kamu kira dia tidak tahu?” tanyanya. Dan Se Ri menatap dengan bingung. “Dia … tetap disisimu sepanjang waktu,” jelas nya.

Flash back
Yoon Hee mengingat saat Jung Hyuk berdiri di sudut rumah sakit, menunggu Se Ri yang sedang di operasi. “Bahkan saat operasimu yang lama…”


Yoon Hee mengingat saat kondisi Se Ri sedang kritis. Ketika itu beberapa orang datang dan pergi setelah melihat Se Ri. Namun dari awal sampai akhir, Jung Hyuk terus berdiri di dekat ruangan Se Ri dan menunggu. Jung Hyuk terus berdiri disana dari pagi sampai malam. Dia tidak pernah sekalipun beranjak pergi darisana meninggalkan Se Ri sendirian.
“Bahkan saat menunggumu sadarkan diri, dia tetap di sisimu tanpa makan atau tidur berhari-hari.”


Ketika akhirnya Se Ri membuka matanya. Jung Hyuk tersenyum bahagia. Tapi saat Se Ri memandang ke arahnya, dia langsung bersembunyi supaya Se Ri tidak melihat nya.

Jung Hyuk merasa sedih. Dia menutup matanya untuk menguatkan hati nya. Dia lalu pergi mengikuti petugas BIN yang sudah menunggu nya. Dan Yoon Hee melihat itu.
“Dia meninggalkan rumah sakit setelah melihatmu sadar.”
Flash back end

Mengetahui itu, Se Ri menangis. Dan Yoon Hee memberikan semangat kepadanya. “Walau sudah ucapkan perpisahan berulang kali, kamu akan tetap merindukannya. Kamu sungguh tidak mau?”
“Aku mau menemuinya. Bawa aku ke sana. Bawa aku kepadanya. Aku sungguh ingin menemuinya,” jawab Se Ri, memohon.

Didalam bus BIN. Kelima anggota tim Jung Hyuk bersyukur karena Se Ri sudah sadarkan diri. Lalu mereka menghibur Jung Hyuk yang sedari tadi hanya diam saja, mereka mengatakan bahwa Se Ri pasti akan baik-baik saja. Dan Jung Hyuk mengangguk pelan sambil tersenyum.
“Kita tidak akan kembali ke sini?” tanya Eun Dong sambil memandang ke luar jendela.
“Sebaiknya jangan,” jawab Sersan Pyo. Dan semuanya mengerti.
“Hujannya deras. Kita tidak akan perlu kembali kemari, tapi aku akan terus mengenang tempat ini,” gumam Man Bok sambil memandang keluar jendela juga.


Yoon Hee menyuruh Se Ri untuk berpegangan dengan erat. Dan dengan patuh, Se Ri melakukannya. Lalu Yoon Hee pun mulai mengebut untuk mengejar Jung Hyuk.

Petugas BIN 1 mendapatkan telpon. “Apa? …” tanyannya dengan ekspresi terkejut, lalu dia melihat jam ditangannya. “Tidak, kami punya waktu, tapi…” katanya sambil memandang ke arah Jung Hyuk yang duduk di belakang. Lalu dia bertanya kepada orang di telpon, “Kamu ada di mana sekarang?”

Bus BIN masuk melewati gerbang Kantor Transit Antar Korea. Dan akhirnya mereka semua sampai di garis perbatasan antara Selatan dan Utara.
“Baik. Mari kita keluar,” panggil petugas BIN 1.

Bus dari Utara datang untuk menjemput Jung Hyuk dan kelima anggota nya. Melihat mereka, Jung Hyuk dan kelima anggota nya berjalan menghampiri mereka di temani oleh para petugas BIN Selatan. Tepat didepan garis perbatasan, petugas BIN 1 melihat jam di tangannya. “Kami masih punya lima menit. Kenapa tidak biarkan mereka menyeberanginya tepat di garis?” tanyanya pada petugas militer Utara.
“Kami harus ke suatu tempat, jadi, tidak bisa lama. Lakukan sekarang,” balas petugas militer Utara.

Mendengar itu, petugas BIN 1 diam dan memandangi jalan di belakang mereka. Lalu dia menghela nafas berat. “Akan kami lakukan,” balas nya. Lalu dia mempersilahkan Jung Hyuk dan kelima anggota nya untuk menyebrangi garis perbatasan dan kembali ke Utara.
Pihak dari Utara pun melepaskan orang- orang dari Selatan yang sempat mereka tangkap. Mereka membiarkan orang- orang dari Selatan untuk menyebrangi garis perbatasan dan kembali ke Selatan.

Saat Jung Hyuk sudah melangkahi garis perbatasan, tepat disaat itu, Yoon Hee dan Se Ri sampai disana. Melihat itu, Jung Hyuk berhenti berjalan dan memandangi Se Ri.
“Tidak. Mereka sedang apa? Kenapa …” gumam Se Ri dengan cemas, saat melihat Jung Hyuk dan kelima anggota nya di borgol oleh petugas militer Utara. Dan dia pun langsung berlari ke arah Jung Hyuk sambil berteriak memanggil nama Jung Hyuk.
“Jangan lari,” gumam Jung Hyuk.


“Jung Hyuk! Jangan pergi begitu saja. Tidak akan kubiarkan mereka mengambilnya,” kata Se Ri sambil menangis dan terus berlari secepat mungkin.
“Jangan lari!” bentak Jung Hyuk dengan cemas. Tapi Se Ri tidak mau mendengarkan dan terus berlari.


Dengan perasaan panik, Jung Hyuk melepaskan dirinya dari pegangan para petugas militer Utara dan berlari ke Selatan untuk menghampiri Se Ri.
Melihat itu, para petugas militer Utara langsung mengangkat senjata dan bersiap untuk menembak. Dan para petugas BIN Selatan juga langsung mengangkat senjata untuk melindungi Se Ri serta Jung Hyuk. Sehingga pihak militer Utara tidak berani untuk menembak.

Jung Hyuk dan Se Ri saling berpelukan dengan erat. Melihat itu kelima anggota Jung Hyuk dan juga Yoon Hee, mereka semua memandangi Jung Hyuk dan Se Ri dengan tatapan simpati.
“Kamu belum pulih. Bagaimana kalau kamu pingsan lagi?” keluh Jung Hyuk, perhatian. “Tidak bisakah kau jaga dirimu?”
Se Ri tidak menjawab pertanyaan Jung Hyuk dan memandangi pihak Utara. “Kenapa mereka memborgolmu? Kamu ditangkap? Tidak. Aku tidak bisa. Tidak bisa kubiarkan,” katanya dengan khawatir. “Jangan pergi. Tidak bisakah kamu tetap di sini?” 

“Jangan khawatir. Kamu tidak kenal aku? Tidak akan ada yang terjadi,” kata Jung Hyuk sambil tersenyum menenangkan Se Ri.
Se Ri tetap tidak merasa tenang. Dia khawatir bila sesuatu akan terjadi kepada Jung Hyuk karena dirinya. Dan dengan tegas, Jung Hyuk menyakinkan bahwa dia akan baik- baik saja. Walaupun sesuatu benar terjadi, maka dia tidak menyalahkan Se Ri, sebab baginya Se Ri adalah anugerah yang masuk kedalam hidupnya dan dia bersyukur akan itu.
“Aku juga. Terima kasih, Jung Hyuk,” kata Se Ri sambil menangis.
“Aku melukai hatimu dengan perkataanku waktu itu. Itu juga melukai hatiku. Maafkan aku,” kata Jung Hyuk dengan rasa bersalah. “Jangan dipikirkan,” tegasnya.

“Tidak apa- apa. Aku tidak keberatan. Jangan khawatir. Jadi… tidak bisakah kita bertemu lagi? aku tidak akan bisa menemuimu lagi? Selamanya? Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan jika aku sangat merindukanmu?” tanya Se Ri, tidak sabaran.
“Tunggu saja dan teruslah berdoa,” balas Jung Hyuk dengan sungguh- sungguh. “Kamu bertanya, bisakah kamu bertemu orang yang kamu rindukan. Kamu bisa,” katanya. Lalu dia mengelus lembut rambut Se Ri. “Aku mencintaimu.”


Dengan sama lembutnya, Se Ri menyentuh wajah Jung Hyuk. “Aku mencintaimu,” balas nya. “Aku sungguh mencintaimu,” tegasnya. Lalu dia ingin memeluk Se Ri. Tapi karena waktu sudah habis, pihak Selatan langsung menarik Jung Hyuk untuk pergi ke Utara.
Dengan sedih, Se Ri menangis dan berdiri diam di tempat nya.

Jung Hyuk memandang ke arah Se Ri untuk terakhir kalinya. Lalu dia menyebrangi garis perbatasan dan kembali ke Utara. Melihat itu, pihak Selatan dan Utara sama- sama menurunkan senjata mereka.


Eun Dong : “Se Ri.” (menunjukkan dua hati dengan jarinya).
Sersan Pyo : “Jaga dirimu baik-baik, Se Ri-ah.
Ju Meok : “Jaga kesehatanmu.”


“Jaga diri. Sampai jumpa. Jaga diri kalian. Jangan sampai terluka,” balas Se Ri sambil menangis semakin keras, saat memandangi Jung Hyuk dan kelima anggota nya di bawa pergi oleh pihak Utara.


Ayah Jung mendapatkan kabar kembalinya Jung Hyuk dan kelima anggotanya. Jadi dia pun bersiap untuk pergi menemui mereka. Dan saat dia mau pergi, dia melihat Ibu Jung duduk dengan tenang di ruang tamu dan di hadapan Ibu Jung ada obat serta air. Melihat itu, dia merasa heran.
“Kamu mau menjemput Jung Hyuk? Pastikan membawa putraku pulang dengan selamat. Kumohon,” pinta Ibu Jung dengan serius.
“Kamu pikir Jung Hyuk anakmu saja?” balas Ayah Jung, tidak senang.

“Jika sesuatu terjadi antara Jung Hyuk atau kamu, aku akan segera ke sana. Jangan bersikap lemah mengkhawatirkan apakah aku masih sanggup,” jelas Ibu Jung dengan tegas.
“Sampai nanti,” balas Ayah Jung. Lalu dia pergi.


Bus Militer Utara yang membawa Jung Hyuk dan kelima anggota nya, mereka berhenti di dalam hutan. Kemudian Direktur Militer datang ke hadapan mereka. Dan melihat itu, dengan waspada Jung Hyuk langsung berdiri di depan para anggotanya. “Kenapa kami diturunkan di sini? Kita sedang menuju Pyongyang,” tanyanya, heran.
“Kalian akan dieksekusi setelah pengadilan militer. Bukanlah lebih baik menghilang di sini sebelum menyebabkan masalah bagi keluarga kalian?” balas Direktur Militer dengan sikap santai.

“Walau akan mati pada akhirnya, kami ingin disidang. Dan para kamerad di belakangku hanya terlambat sampai setelah Pesta Olahraga Militer Dunia. Mereka tidak sepertiku. Akulah yang melanggar,” jelas Jung Hyuk dengan tegas, melindungi para anggota timnya. Tapi Direktur Militer tidak peduli dengan hal itu. Dia tertawa dan memberikan kode pada para bawahannya.

Para bawahan Direktur Militer mengelilingin Jung Hyuk dan kelima anggota timnya dengan senjata. Mereka bersiap untuk menembak. Melihat itu, Man Bok langsung maju ke hadapan Jung Hyuk untuk melindungi nya. Tapi Jung Hyuk segera menarik Man Bok supaya mundur.
Sebelum para bawahan Direktur Militer sempat menembak. Tiba- tiba mereka yang di tembak duluan. Melihat kejadian itu, Direktur Militer langsung bersikap waspada dan ingin mundur. Tapi tepat disaat itu, Ayah Jung bersama dengan para bawahannnya datang dan mengelilingin nya mereka semua.


“Direktur Militer. Bukankah sudah kubilang? Kamu tidak bisa mengeksekusi tanpa investigasi dan sidang. Ini bisa menyebabkan korban tidak bersalah,” kata Ayah Jung dengan serius. “Tapi, segalanya berbeda saat aku melihat seseorang berusaha membunuh putraku. Kamu pasti bersalah,” tegas nya.
Mendengar itu, Jung Hyuk dan kelima anggota nya memandangi Ayah Jung.
Direktur Militer mengeluarkan pistolnya dan ingin menembak. Tapi Ayah Jung lebih cepat dan berhasil menembak Direktur Militer duluan.


Didalam mobil. Jung Hyuk meminta maaf, sebab dia sudah membuat Ayah khawatir. Dan Ayah membalas bahwa dia senang karena Jung Hyuk bisa kembali hidup- hidup. Lalu dia menanyakan, apakah Se Ri baik-baik saja. Dan Jung Hyuk mengiyakan dengan sedih.
“Kamu menangis?” tanya Ayah Jung, memandangi Jung Hyuk. Dan Jung Hyuk hanya diam saja sambil mengalihkan tatapannya. Jadi Ayah Jung pun diam.

Ketika Ibu Jung mendengar suara pintu terbuka, dia segera mengambil obat yang telah di siapkannya dan ingin meminumnya untuk bunuh diri. Tapi saat dia melihat kalau ternyata yang datang adalah Jung Hyuk, dia merasa sangat bahagia dan langsung membuang obat nya ke lantai. Dia berlari dan memeluk Jung Hyuk dengan erat sambil tertawa.

“Putra ibu. Terima kasih. Terima kasih sudah pulang dengan selamat. Syukurlah kamu masih hidup,” kata Ibu Jung sambil memandangi Jung Hyuk.
Melihat itu, Ayah Jung tersenyum bahagia juga. Dia menepuk pelan bahu Jung Hyuk.

Man Bok pulang dan memanggil U Pil. Melihat kepulangan Ayahnya, U Pil langsung memeluk Man Bok dan memanggil Myeong Sun. Dan Myeong Sun langsung menjatuhkan pakaian cuciannya dan berlari ke arah Man Bok serta memeluknya dengan erat.


“Aku tidak dengar kabar darimu. Kukira kamu sudah mati. Kenapa kamu tidak menghubungiku?” tanya Myeong Sun. Dan Man Bok meminta maaf. “Syukurlah kamu selamat. Syukurlah kamu masih hidup,” gumamnya. Dan Man Bok menangis bahagia.
Myeong Eun gagal lagi membujuk Seo Dan untuk makan. Dan Myeong Seok pun menjadi sangat khawatir, karena kalau terus seperti ini, maka Seo Dan bisa sakit.
Myeong Eun dan Myeong Seok memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar dan berbicara dengan Seo Dan. Dengan lembut, Myeong Eun meminta Seo Dan untuk bercerita kepada mereka. Dan tanpa semangat hidup, Seo Dan menjawab bahwa dia ingin sendiri.


Myeong Eun memaksa Seo Dan untuk bangun. “Lihat kami. Kami ada di sini untuk menangis bersamamu. Kami bisa mendengarkanmu. Kami juga bisa melalui masa sulit ini bersamamu,” katanya dengan tegas.

“Tentu. Paman juga bisa mencarikanmu pria yang lebih baik darinya,” tambah Myeong Seok. Dan mereka berdua langsung memandangi nya dengan tajam. “Kenapa?” tanyanya, bingung.
“Keluarlah,” balas Seo Dan sambil kembali tidur lagi.

Dengan kesal, Myeong Eun ingin memukuli Myeong Seok. Dan dengan takut, Myeong Seok pun langsung keluar dari dalam kamar sambil terus bertanya dengan bingung, kenapa dan ada apa. Dan Myeong Eun memukuli nya. “Kenapa bilang begitu? Kamu sudah gila?!” omelnya.

Seo Dan keluar dari dalam kamar. Melihat itu, Myeong Seok dan Myeong Eun merasa terkejut. “Ibu. Paman,” panggil Seo Dan. “Aku mau balas dendam.”
“Kamilah ahlinya. Bukankah begitu?” kata Myeong Eun dengan yakin sambil menyenggol Myeong Seok.
“Tentu. Kami ahlinya,” jawab Myeong Seok.
“Tolong carikan seseorang lebih dahulu,” pinta Seo Dan.

Di café. Seo Dan menemui Cheon yang wajahnya penuh lebam. Dengan tulus Cheon mengucapkan turut berduka cita atas Gu Seung Jun.
“Kudengar anggota geng yang mengutus preman pada hari itu masih ada di negara ini,” kata Seo Dan secara to the point. Dan Cheon mengiyakan. “Jangan khawatirkan akibatnya, dan beri tahu di mana mereka. Mereka tidak mungkin pergi dari negara ini dalam keadaan hidup. Dan pasti ada orang yang mendanai geng itu. Mungkin…” jelas Seo Dan sambil memikirkan kembali tentang cerita Seung Jun mengenai kakak kedua Se Ri yang sangat serakah.

“Mungkin kakak kedua Yoon Se Ri. Kurasa begitu,” tebak Seo Dan dengan sangat yakin.

Se Hyung menyalahkan Sang Ah untuk semua kejahatan. Dia menyalakan hp nya dan merekam semua pembicaraan secara diam- diam. Dan Sang Ah hanya diam saja, sebab dia menyadari kalau Se Hyung sedang merekam pembicaraan mereka. Setelah Se Hyung selesai berbicara, dia mengambil hp Se Hyung dan mematikannya.

“Yoon Se Hyung, kamu tidak tahu apa- apa. Rekaman tanpa izin pihak lain tidak punya kekuatan hukum,” jelas Sang Ah dengan sabar.
“Pentingkah? Aku hanya membeberkan faktanya,” keluh Se Hyung, kesal.

Sang Ah menjelaskan bahwa dia melakukan semua ini demi Se Hyung. Namun mendengar itu, Se Hyung sama sekali tidak senang, malahan dia merasa tambah sangat kesal dan marah. Sebab kejadian ini bisa membuatnya kehilangan jabatan sebagai presdir, bahkan bisa membuat nya di penjara juga. Jadi saat ini dia merasa sangat stress.


“Tenangkan dirimu,” tegas Sang Ah. “Gu Seung Jun tewas di Korea Utara. Kenapa mereka mau mengurus kasus yang terjadi di Utara? Aku sudah mengurus agar polisi tidak tahu uang yang kita kirim dan jejak panggilan. Bahkan Cho Cheol Gang yang berusaha menculik Se Ri tewas saat kita tidak melakukan apapun. Kita tidak perlu khawatir,” jelasnya.
“Kamu yakin?” tanya Se Hyung dengan lebih tenang. Dan Sang Ah tersenyum penuh percaya diri.

1 comment: