Saturday, February 22, 2020

Sinopsis K- Drama : Crash Landing On You Episode 16 - part 2

0 comments


Network : tvN Netflix

“Kapan keluar dari rumah sakit?” tanya Se Hyung dengan sinis, ketika melihat Se Ri ada dirumah.
“Hari ini. Aku langsung kemari begitu keluar,” jawab Se Ri. “Duduk.”
“Ini bukan rumahmu. Jangan memerintahku,” keluh Se Hyung.


Se Ri memberitahu Se Hyung dan Sang Ah bahwa dia sudah di introgasi oleh BIN dan dia mungkin akan dituntut. Mendengar itu, mereka berdua merasa senang. Dan dengan sok perhatian, Se Hyung mengomentari kalau Se Ri harus menemukan pengacara yang handal, karena ini adalah kasus pelanggaran UU keamanan nasional.
“Jangan khawatir. Dia dapat pengacaraku. Dia mungkin diduga menyembunyikan penjahat. Tapi, ada situasi yang meringankan, jadi, hukumannya akan ditangguhkan atau dikenai denda,” jelas Pimpinan Yoon. Dan Se Hyung merasa tidak senang.
“Tapi, itu tetap bukan kejahatan ringan. Kalau ada artikel mengenainya?” balas Se Hyung.


Dengan tegas, Pimpinan Yoon menyarankan Se Hyung untuk memikirkan masalah sendiri. Sebab Se Hyung dan Sang Ah akan di kenakan lebih dari masa percobaan. Dan Se Ri menambahkan kalau Se Hyung harus lebih berhati- hati, sebab mengenali seorang pelaku tindak kriminal atau melakukan tindak kriminal, menawarkan uang atau keuntungan moneter lain atau menyediakan wadah berkomunikasi, pengintaian, atau bahkan kontak. Maka Se Hyung dan Sang Ah akan dikenakan hukuman penjara sampai 10 tahun.
“Apa maksudmu?” tanya Se Hyung dengan kesal.

“Keluarlah,” panggil Se Ri. Dan petugas BIN 1 datang bersama dengan Manajer Oh. Melihat itu, Se Hyung serta Sang Ah merasa terkejut.
Manajer Oh mengakui semua kejahatannya dan menyalahkan Se Hyung serta Sang Ah. Dia menceritakan tentang seorang perantara bernama Cheon yang mengurus Seung Jun. Cheon mengirimkan semua detail rekening dan juga jejak panggilannya kepada Se Ri lewat Tiongkok. Dan dia sendiri hanya mengikuti perintah Se Hyung serta Sang Ah saja. Mendengar itu, Se Hyung langsung membentak Manajer Oh. Begitu juga dengan Sang Ah.


“Kurasa kalian harus membahasnya,” kata petugas BIN 1 dengan tegas. “Ini kasus menghasut pembunuhan, menghasut penculikan, dan penyembunyian pelaku. Ada banyak tuntutan. Kepolisian dan BIN akan lakukan penyelidikan bersama. Jadi, ikutlah dengan kami,” jelas nya.
Dengan marah, Se Hyung memandang Sang Ah dan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu, sebab sebelumnya Sang Ah telah berjanji bahwa tidak akan terjadi apa- apa. Tapi sayangnya, Sang Ah juga tidak bisa melakukan apapun saat ini. Dengan memelas, Se Hyung memanggil Pimpinan Yoon dan meminta bantuannya.


“Tutup mulutmu,” bentak Pimpinan Yoon, tidak tahan lagi. “Kamu menganggap dirimu pebisnis. Tapi masih tidak paham? Bahwa aku memutus hubungan denganmu? Aku memotong bagian busuk sebelum menyebar,” jelasnya dengan tegas. Lalu dia pergi mengabaikan mereka berdua.


Dengan tatapan benci, Se Hyung dan Sang Ah memandangi Se Ri. Dan Se Ri balas memandang mereka sambil mereka berdua pergi dari hadapannya.


Saat pulang ke apatermen yang gelap, Se Ri merasa kesepian. Saat dia menemukan catatan memasak yang di tinggalkan oleh Jung Hyuk di pintu kulkas nya, dia merasa sedih. Lalu saat dia membuka kulkas nya dan menemukan berbagai makanan tersusun rapi disana, dia mulai menangis.
Se Ri memeriksa makanan instan yang di tinggalkan oleh Jung Hyuk di lemari dapur nya juga. Dan melihat itu, Se Ri semakin menangis.

Ketika ingin tidur, Se Ri menyalakan rekaman musik yang diberikan oleh Jung Hyuk. Kemudian tiba- tiba sebuah pesan masuk ke hp nya. Dan saat dia membuka pesan itu, dia langsung bangun dan menatap layar hp nya dengan tatapan terkejut.
“Kamu masih bangun? Jika kamu membaca pesanku, artinya kamu masih bangun.” Membaca pesan dari Jung Hyuk tersebut, Se Ri merasa terkejut dan bertanya- tanya bagaimana bisa.

Flash back
Petugas BIN 1 mengembalikan hp Jung Hyuk yang sempat di tahan. Juga dia mengajarkan Jung Hyuk caranya mengirimkan pesan. Dan Jung Hyuk mempelajari nya.
Flash back end
“Aku masih sangat mencemaskanmu. Dan masih banyak yang ingin kuceritakan kepadamu. Jadi, aku mengirim pesan ini untuk memberi tahu semuanya. Sesuatu yang ingin kusampaikan ada di rak bukumu.”

Membaca pesan tersebut, Se Ri langsung turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke rak buku nya. Dan disana dia melihat buku yang telah disusun ulang oleh Jung Hyuk. Buku- buku tersebut membentuk kata, “Aku mencintaimu Yoon Se Ri.”
“Itulah balasan pesanmu dariku.”
“Apa? Memangnya dia masih anak-anak? Dia mengikuti semuanya,” gumam Se Ri dengan perasaan bahagia. Dan dia membiarkan bukunya tetap seperti itu.

Pagi hari. Saat ada sms masuk ke hp nya, dengan segera Se Ri akan membaca nya. Dan menerima sms tersebut, dia merasa sangat senang. “Selamat pagi. Jangan bekerja dengan perut kosong. Setidaknya makanlah sebuah apel.”
Se Ri mengikuti nasihat Jung Hyuk di pesan tersebut. Dan di Utara, Jung Hyuk juga melakukan hal yang sama seperti apa yang dikatakan nya pada Se Ri. Mereka berdua berdiri di dapur yang berbeda, tapi memakan jenis buah yang sama, yaitu apel.



“Agar kamu tahu saja, sebaiknya kamu tetap di lajurmu, tapi jangan hanya melihat ke depan, kamu harus lihat sampingmu.”
Se Ri mengingat nasihat Jung Hyuk dan menyetir secara hati- hati. Dan Jung Hyuk melakukan hal yang sama, tapi dia tidak mengendarai mobil, melainkan sepeda.

“Makanlah dengan teratur. Jangan makan sendiri. Nikmati makananmu dengan orang lain. Makan dengan nikmat.”
Se Ri makan dengan lahap bersama para karyawan nya. Begitu juga dengan Jung Hyuk, dia makan dengan lahap bersama keempat anggota timnya.


“Kenapa tidak coba berjalan-jalan selama 30 menit dari pukul 12.30? Akan kupastikan untuk berjalan-jalan pada jam itu.”
Se Ri berjalan- jalan sendirian di taman. Begitu juga dengan Jung Hyuk, namun dia bukan berjalan di taman, melainkan dia berjalan- jalan di dalam hutan. Dan mereka berdua mengatakan hal yang sama sambil tersenyum dan memandangi langit yang sama.
Se Ri : “Berjalan memang menyenangkan. Jung Hyuk.”
Jung Hyuk : “Berjalan memang menyenangkan. Se Ri.”

Saat memakan kentang rebus, Sersan Pyo teringat French Fries di korea Selatan. Sedangkan Ju Meok, ketika dia menyalakan keran pagi ini, dia berharap dan menunggu akan ada air panas. Sementara Letnan Park, dia menunggu untuk mendapatkan listrik. Kalau Eun Dong, dia merindukan ada nya internet dan game yang di selatan.
Mengingat itu semua, mereka berempat berbaring dengan lemas di tanah.

Myeong Eun datang ke kampung militer. Dengan ramah dia menyapa semua orang. Dan menceritakan kalau hari ini Seo Dan akan pindah dari sini. Mendengar itu, mereka semua langsung merasa tidak enak hati. Dan menyadari itu, Myeong Eun langsung menyuruh mereka untuk jangan tidak enak hati sebab dia merasa sangat senang dan riang.
“Di luar sini dingin. Kita bicara di dalam?” undang Young Ae dengan ramah.




Myeong Eun membagi- bagikan produk kecantikan yang dibeli nya di Eropa dan produk tersebut bergambarkan foto- foto mereka masing- masing. Yaitu foto Young Ae, Wol Suk, Ok Geum, dan Myeong Sun. Melihat itu, mereka berempat merasa heran kenapa bisa.
“Ini produk-produk baru dari Se Ri Choice musim semi ini,” kata Myeong Eun, memberitahu. Dan mereka berempat merasa sangat senang, tapi kemudian mereka terdiam, karena merasa tidak enak kepada Myeong Eun. “Astaga. Aku sudah bilang, kalian tidak perlu bersikap begini di dekatku. Aku tidak punya dendam terhadap wanita dari Selatan itu. Aku tidak bisa membunuh musuhku saat dia tidak ada dalam jangkauanku. Aku bahkan tidak bisa menemuinya. Jadi, aku tidak dendam,” jelas Myeong Eun dengan lembut. “Dia hanya sebentar di sini, tapi dia tidak lupa, dan membuat produk ini untuk kalian. Menurutku, dia bukan wanita yang tak punya sopan santun,” katanya memuji Se Ri.
“Benar,” kata mereka berempat mengiyakan.

Young Ae, Wol Suk, Ok Geum, Myeong Sun. Mereka berempat memandangi kotak kecantikan mereka masing- masing, di kotak tersebut terukir nama depan mereka. Dan melihat ukiran tersebut, mereka berempat merasa terharu atas kebaikan Se Ri.
“Dia pulang dengan selamat. Semoga dia baik-baik saja,” kata Young Ae dengan senang.
“Tampaknya dia tidak melupakan kita,” tambah Ok Geum.
“Seandainya aku bisa memberitahunya bahwa kita mendapatkan ini dan akan memakainya dengan baik. Aku harus mengatakannya lewat apa?” gumam Wol Suk sambil memandang ke langit.
“Aku yakin dia akan tahu perasaan kita,” balas Myeong Sun.

Apatermen Seo Dan di kosongkan. Seo Dan menemukan jas biru milik Seung Jun di dalam kamar. Dan melihat itu, dia teringat akan Seung Jun.

Flash back
“Beri aku sepuluh menit. Tidak, lima menit,” pinta Seung Jun dengan gugup, saat Seo Dan datang menjemput nya di bawah.
“Waktumu tiga menit,” kata Seo Dan dengan tegas.
Dengan gugup, Seung Jun mencari- cari jas mana yang bagus di kenakan nya. Dan akhirnya dia memakai jas berwarna biru.
Didalam mobil. Seung Jun mengomentari kalau tiga menit itu terlalu singkat. Lalu dia menanyakan, apakah Seo Dan menyukai pakaiannya. Dan dengan cuek, Seo Dan hanya menjawab ‘Oh.’
“Maksudku, ini kencan pertama kita,” kata Seung Jun dengan riang.
“Ini bukan kencan,” balas Seo Dan.

Seung Jun mengabaikan perkataan Seo Dan itu. “Tempat ini akan seperti apa saat bunga bermekaran?” gumamnya bertanya. “Aku harus kembali bersamamu saat bunga mekar.”
“Aku tidak bilang aku mau.”
“Aku akan senang jika kamu mau,” kata Seung Jun sambil tersenyum polos kepada Seo Dan.

Melihat senyum itu, Seo Dan memandang keluar jendela dengan ekpresi malu- malu. Seung Jun kemudian mulai bernyanyi dengan riang. Dan mendengar itu, Seo Dan tertawa.
Flash back end
Seo Dan memeluk jas milik Seung Jun dengan erat dan menangis.

Myeong Eun memperhatikan Seo Dan dari luar. Dan dia merasa sedih juga.

Seo Dan berdiri di jembatan dan mengingat semua perkataan Seung Jun serta kenangan nya bersama dengan Seung Jun. Mengingat itu, Seo Dan terduduk dan menangis keras.


Myeong Eun datang menemui Ibu Jung. Dia membungkuk kepada Ibu Jung dan menjelaskan bahwa dia akan mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan, jadi dia meminta maaf terlebih dahulu. Dan Ibu Jung merasa bingung ada apa.
“Sayangnya putriku tidak berjodoh dengan putramu,” kata Myeong Eun. Dan Ibu Jung merasa tidak enak hati. “Kita tidak perlu alasan lain lagi. Dan bilang, dia tidak mau menikahi Jung Hyuk. Aku merasa bersalah selama sepuluh tahun terakhir, tapi… “
“Aku sungguh minta maaf atas itu,” kata Ibu Jung, merasa bersalah.

“Jangan. Kamu tidak perlu meminta maaf. Akulah yang harus minta maaf. Jung Hyuk dipindahkan tanpa memberi tahu tunangannya. Orang tuanya juga tidak bilang apa-apa selain pernikahannya ditunda. Aku kesal saat itu. Aku ingin kamu meminta maaf kepadaku. Tapi, segalanya berbeda sekarang. Aku akan menyudahi pertunangan ini karena putriku tak lagi menginginkannya. Aku harus minta maaf,” jelas Myeong Eun dengan jujur.
“Kami memang tidak pengertian. Kala itu situasinya rumit, tapi kami tidak sempat menjelaskannya,” balas Ibu Jung, mengakui kesalahannya.


“Akan kujelaskan mengenai situasi kami. Dan sudah mencintai seseorang. Pria itu mencintai Dan, bahkan lebih dari nyawanya sendiri,” jelas Myeong Eun sambil menangis. “Jadi, aku tidak punya pilihan. Hidup kita hanya sekali. Mereka saling mencintai melebihi nyawa mereka. Aku tidak bisa apa-apa soal itu.”
“Kamu benar. Aku setuju,” balas Ibu Jung, setuju. Dan dia meminta maaf serta berterima kasih kepada Myeong Eun. Dan Myeong Eun tersenyum pengertian padanya.


Seo Dan datang menemui Jung Hyuk. Dia menjelaskan bahwa dia datang ke rumah Jung Hyuk sekarang, karena dia pernah sekali ke sini saat Jung Hyuk sedang pergi. Dan lalu dia mengingat tentang lamaran Seung Jun kepadanya.
Mendengar perkataan Seo Dan, awalnya Jung Hyuk merasa bingung. Tapi saat dia mengetahui kalau Seo Dan datang ke rumahnya bersama dengan Seung Jun, dia pun mengerti. Lalu dia menanyakan dimana Seung Jun sekarang, karena Seung Jun telah banyak membantunya.

“Dia pergi jauh. Dia tidak akan pernah kembali,” jelas Seo Dan.
“Tapi, kenapa…”
“Entahlah,” balas Seo Dan. “Aku tidak tahu alasannya. Banyak hal yang terjadi dalam hidup. Dan kita tidak bisa menjelaskan kenapa bisa terjadi. Saat aku pergi ke Swiss untuk menemuimu, aku pun tidak mengerti saat itu. Alasanmu terus mengambil foto pemandangan saat aku jauh-jauh menemuimu.”




Flash back. Di swiss.
Seo Dan mengikuti Jung Hyuk mengelilingi Swiss. Sebenarnya dia sudah merasa sangat lelah, tapi demi Jung Hyuk dia menahan rasa lelah nya. Namun Jung Hyuk tidak terlalu memperhatikannya, tidak terlalu memperdulikannya, dan hanya sibuk mengambil foto pemandangan saja. Sehingga dia pun merasa kesal dan tidak bisa tersenyum saat Jung Hyuk tersenyum kepadanya.
Flash back end


“Tapi, pada malam aku datang ke rumah ini, akhirnya aku mengerti,” jelas Seo Dan. Lalu dia memberikan kamera Jung Hyuk. Dia menemukan kamera tersebut saat sedang mencari lilin, dia membenci kamera itu saat di Swiss, jadi karena itu dia bisa langsung mengenalinya. Kemudian dia bawa kamera tersebut untuk dibuang, tapi dia tidak jadi melakukan itu dan memperbaikinya. Lalu akhirnya dia menemukan.
“Menemukan apa?” tanya Jung Hyuk, tidak mengerti.
“Alasanmu…” jawab Seo Dan. “tidak mau melihatku di Swiss. Kurasa, ini memang sudah takdir.”
Jung Hyuk melihat foto- foto pemandangan di dalam kameranya.

Flash back
Saat Jung Hyuk dan Seo Dan berada di dalam kereta. Se Ri duduk tepat di belakang Jung Hyuk.

Saat Jung Hyuk dan Seo Dan keluar dari dalam lift. Se Ri berada tepat di belakang lift.
Saat Jung Hyuk dan Seo Dan berada di jembatan. Se Ri berada di jembatan tersebut juga.
 Flash back end

Jung Hyuk mengelus foto Se Ri yang ada di kamera nya dan tersenyum.

Pagi hari. Se Ri langsung terbangun saat mendengar pesan masuk dari Jung Hyuk. “Hari ini musim Mangzhong. Waktunya kami menanam bibit.”
“Apa? Mangzhong? Memangnya dia petani di kehidupan sebelumnya?” keluh Se Ri. Tapi dia kemudian tersenyum bahagia.
Kiriman bunga dari Jung Hyuk datang. “Kamu sebaiknya membeli pot bunga. Kamu akan tahu setelah memeliharanya, Tanaman itu mungkin sensitif dan rewel, tapi jika kamu lakukan sesuai caraku, tanaman itu akan tumbuh dalam dua pekan.”

Saat sedang makan, Se Ri menyiram tanaman tersebut dengan air minumnya. “Kamu harus menyiramnya. Karena sensitif, jangan terlalu sering diberi air. Berikan dalam jumlah yang wajar.”
“Seberapa banyak ‘jumlah yang wajar’? Cukupkah?” gumam Se Ri, mengira- ngira.
Se Ri membaca di ruang tamu sambil menjaga tanamanya supaya mendapatkan cukup sinar matahari. “Ia butuh sinar matahari juga. Tapi, jangan terlalu lama. Letakkan di bawah sinar matahari sewajarnya.”

Se Ri bekerja sambil memandangi tanaman yang diberikan oleh Jung Hyuk tersebut. “Dan terakhir, ini yang terpenting dalam merawat bunga. Kamu pasti tahu. Ucapkan sepuluh pujian untuknya tiap hari.”
“Ini sungguh merepotkan,” keluh Se Ri. Lalu dia mulai memuji tanaman tersebut. “Bu Laris, batas atas harga, opsi saham, penjualan besar, merek ternama, keuntungan besar, menjual saham di KOSDAQ, terbaik di bidangnya, edisi terbatas, dan Ri Jung Hyuk,” pujinya dengan riang.

Akhirnya tanaman yang diberikan oleh Jung Hyuk mulai bertumbuh sedikit. Dan melihat itu, Se Ri merasa sangat bersemangat serta senang.

Jung Hyuk tersenyum memandangi tanaman tomat pemberian Se Ri yang mulai berbuah.
Su Chan dan Chang Sik mengobrol berdua seperti biasa. Su Chan menanyakan bagaimana kabar Se Ri. Dan Chang Sik menjelaskan bahwa Se Ri tampak aneh, tapi kali ini aneh nya agak berbeda.

Flash back
Chang Sik : “Dia agak bersemangat.”
Se Ri menari di dalam ruangan nya. Mengikuti saran dari Jung Hyuk. “Saat bekerja, jangan lupa merenggangkan otot dan olahraga.”

Chang Sik : “Biasanya dia kesal terhadap suara sekecil apa pun saat rapat. Dia orang yang paling sensitif. Meskipun begitu…”
Saat hp seorang karyawan tidak sengaja berbunyi, semua orang langsung merasa gugup sambil memandangi Se Ri. Tapi ternyata Se Ri sama sekali tidak marah, melainkan dia malah memuji nya. “Itu karya Chopin. Aku juga suka musiknya. "Nocturne" adalah favoritku,” komentarnya dengan ramah. “Angkatlah. Berkat dia, kita bisa istirahat juga.”
Dengan senang, semua orang keluar dari dalam ruangan untuk beristirahat. Dan dengan senang juga, Se Ri membaca pesan dari Jung Hyuk. “Aku suka Chopin. Aku paling suka "Nocturne".
“Hari ini awal mula Malbok. Hargailah bunga-bunga yang mekar di tiap musim. Makanlah hidangan yang harus dimakan di tiap musimnya.”
Membaca pesan tersebut Se Ri tersenyum geli. “Berkat dirimu, aku bisa jadi ahli kalender candra.”
Se Ri mentraktir semua karyawannya untuk makan ayam goreng bersama. “Baik. Sekarang masa Malbok, jadi, nikmati ayamnya dan pulang lebih awal,” katanya dengan riang. Dan semua orang langsung bersorak riang juga.
Jung Hyuk : “Semoga kau bisa melihat kebahagiaan kecil yang bisa kau temukan di keseharianmu.”
Se Ri : “Kami tidak pernah menyambut musim semi atau berkeringat saat musim panas bersama. Tapi, berkat pesan darinya yang berdatangan layaknya hadiah tiap beberapa hari, terasa seperti kami menghabiskan tiap musim bersama. Aku takut dia ikut sedih jika aku bersedih. Aku berusaha untuk tertawa, bersyukur, dan berbahagia.”

Se Ri memandangi hujan diluar jendela sambil minum sendirian. Lalu saat ada pesan masuk, dia pun segera membuka hp nya. “Sekarang sudah tengah malam, sudah masuk hari ulang tahunmu. Selamat ulang tahun. Sayangnya, ini akan jadi pesan terakhirku. Tampaknya pesan terjadwal terbatas selama setahun. Aku harus pergi sekarang.”
“Sungguh?” gumam Se Ri. Lalu dia lanjut membaca pesan dari Jung Hyuk. “Aku penasaran apakah bunganya sudah mekar.”

“Sudah,” jawab Se Ri sambil memandang bunga yang di berikan padanya. Lalu di lanjut membaca lagi, 

“Itu bunga edelweiss. Mari kita bertemu di negara tempat bunga ini mekar. Aku tidak bisa bilang kapan. Tapi jika kita melakukan yang terbaik, mungkin takdir akan membantu kita.”
Se Ri merasa terkejut saat membaca pesan terakhir dari Jung Hyuk. “Apa ini? Dia sangat rancu,” gumamnya, berpikir.
Para Ibu- Ibu bersiap untuk menyambut Jung Hyuk. Bagi mereka Jung Hyuk adalah angin segar yang menyenangkan, sehingga jika bisa mereka bahkan rela untuk mengirimkan suami mereka ke garis perbatasan pada hari kepulangan Jung Hyuk.
“Akan kucuci piringnya,” kata Young Ae, dengan senang.
“Aku akan mengisi tempayannya,” kata Wol Suk. Lalu mereka bersiap- siap.


Myeong Sun pergi ke rumah Jung Hyuk dengan dadanan seperti biasa. Ok Geum datang dengan dadanan feminin, walaupun sebenarnya dia sangat kedinginan karena memakain baju tipis, tapi dia rela untuk memakai baju tersebut agar terlihat cantik. Wol Suk datang dengan memakai pakaian tebal dan bibir nya memakai lipstik merah yang tebal juga. Sedangkan Young Ae datang dengan memakai pakaian yang sama tipisnya dengan Ok Geum dan lipstik yang sama tebal nya dengan Wol Suk.
Setelah mereka berempat saling memuji dan mengomentari satu sama lain. Mereka pun masuk ke dalam rumah Jung Hyuk secara bersama- sama.

“Menyenangkan bisa berkumpul di sini. Sebagai kepala desa, seharusnya kulakukan lebih awal. Aku janji akan melakukan ini lebih sering,” kata Young Ae dengan ramah kepada Jung Hyuk. Dan para Ibu- Ibu yang lain mengiyakan. Kecuali Myeong Sun.
“Terima kasih,” balas Jung Hyuk. “Aku pun akan senang jika kalian sama ramah nya kepada kapten baru,” jelasnya. Dan para Ibu- Ibu merasa terkejut. Kecuali Myeong Sun.

Jung Hyuk menjelaskan kepada para Ibu- Ibu bahwa dia sudah di berhentikan dari pekerjaan nya dan terpilih sebagai pianis Orkestra Simfoni Nasional. Karena itu kapten yang baru akan menggantikannya untuk tinggal di rumah ini, jadi dia memohon bantuan para Ibu- Ibu untuk membantu kapten yang baru.
Mendengar itu, Young Ae, Wol Suk, dan Ok Geum merasa sangat terkejut. Lalu mereka memandangi Letnan Park sambil menanyakan siapa kapten yang baru.

“Tidak, bukan dia,” kata Ju Meok, memberitahu sambil menunjuk ke arah Sersan Pyo.
Dengan senyum lebar, Sersan Pyo memandang mereka semua dan memperkenalkan dirinya. “Namaku Pyo Chi Su. Kudengar warga desa ini begitu baik hati sampai tempayannya selalu terisi dengan daging. Aku tidak sabar ingin tinggal di sini.”
Mendengar itu, Jung Hyuk dan Man Bok tertawa diam- diam.


“Sebenarnya itu kabar angin. Dan desa kami tidak sebaik itu,” kata Wol Suk langsung dengan ketus. “Sejujurnya, kami cukup pelit.”
“Benar. Kami bukan orang yang sangat akrab dengan yang lain,” tambah Ok Geum.
Mendengar itu, Sersan Pyo tetap tersenyum dan berusaha untuk terlihat keren. “Mau bagaimana lagi,” balasnya. Dan semuanya mengabaikannya.


Acara makan dimulai. Young Ae, Wol Suk, dan Ok Geum mengambil semua makanan yang berada di hadapan Sersan Pyo dan menaruh semuanya itu di hadapan Jung Hyuk. Melihat itu, Sersan Pyo terus tersenyum, bahkan walaupun dia belum sempat mengambil apapun.
Dengan riang, mereka semua mengobrol, tertawa, dan makan bersama.

Dini hari. Jung Hyuk pergi meninggalkan rumah nya dan pergi dari desa.

No comments:

Post a Comment