Saturday, February 8, 2020

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 03-1

1 comments

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 03-1
Images by : JTBC
SELURUH KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI

Soo A tidak menyangka kalau Park Sae Ro Yi benar-benar akan kembali dan membuka toko di Itaewon dalam waktu 7 tahun. Park Sae Ro Yi menepati ucapannya. Dia berhasil membuka toko di Itaewon dengn nama : DanBam.
-Episode 03-

Malam hari,
Itaewon menjadi sangat gemerlap dan banyak orang yang berkunjung ke daerah tersebut.
DanBam, kedai milik Park Sae Ro Yi juga mulai bersiap untuk di buka. Park Sae Ro Yi memeriksa uang kasir sementara dua pekerja lainnya : Choi Seung Kwon dan Ma Hyun Yi sibuk melakukan persiapan makanan untuk toko. Sae Ro Yi menyuruh mereka untuk segera bersiap di posisi karena mereka akan segera mulai. Hyun Yi tampak keberatan dan mencoba membujuk agar hari ini mereka tidak melakukan ‘hal itu.’ Seung Kwon langsung memarahinya untuk tidak malas dan lakukan saja.
Apa yang hendak mereka lakukan?
Park Sae Ro Yi menyuruh mereka untuk melakukan senam sehat sebelum kedai di buka. Hyun Yi melakukannya dengan wajah terpaksa. Dan setelah senam selesai, kedai BanDam di buka. Siap menyambut para tamu.
--
SMA Yonggak
Sekelompok siswi di kelas sedang membully seorang siswi lainnya. Ketua kelompok itu menyuruh siswi itu untuk memberikan roti selai, tapi karena di kantin sudah habis, siswi itu membelikan roti tawar. Ketua kelompok langsung marah-marah dan memakinya bahkan mendorongnya sampai terjatuh. Dia bahkan ingin menulis di jidat siswi itu tulisan : IDIOT.
Tanpa sopan, dia mengambil pena milik seorang siswi yang sedang menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Dia menggunakan pena itu untuk menulisi jidat siswi yang di bully. Siswi yang di bully tersebut menangis dan memohon agar mereka tidak melakukannya.


Siswi yang pena-nya di ambil tadi, terbangun. Dia adalah Jo Yi Seo. Yi Seo melihat pembully-an tersebut. Dia mengeluarkan ponselnya dan merekam aksi mereka dengan kamera depan ponselnya. Aksi bully itu terekam dengan jelas.
Yi Seo mengupload video tersebut ke akun SNS-nya dengan caption : Kelas 12 di SMA Yonggak. Nn. Guk, anak Kepala Distrik membully temannya.

Video yang di unggah tersebut, dalam sekejap menjadi viral dan mendapat perhatian dari publik. Banyak netizen yang menghujat aksi yang di lakukan si pembully.
--
Yi Seo membaca semua komentar-komentar di video yang di unggahnya tersebut, dan tersenyum puas. Temannya, Jang Geun Soo, memperhatikannya dari belakang.


Jo Yi Seo, bintang media sosial dengan 760.000 pengikut . Narablog berpengaruh. Dia pindah dari New York tahun lalu. Dia jago olahraga. Dia juga pintar. Dia sangat berbakat. Gadis genius dengan IQ 162 yang bisa melakukan apa pun. Jika malaikat itu memang ada, mereka mungkin seperti dia. Narasi Jang Geun Soo.

Apapun yang di upload oleh Yi Seo akan menarik perhatian para followers-nya. Yi Seo juga pandai dalam olahraga dan pintar. Dia selalu peringkat pertama dan mendapat nilai raport sempurna. Dia juga pandai memainkan alat musik, melukis dan masih banyak lagi. Yi Seo bahkan mempunyai kartu anggota Mensa Korea.
--

Bogwang Goshiwon (Ruang Belajar Bogwang),
Yi Seo dan Geun Soo berada di sebuah atap gedung. Saat itu, terdengar suara wanita berteriak-teriak mencari yang namanya Yi Seo. Yi Seo turun dari atap dan menghampiri wanita itu. Saat wanita itu menanyakan apakah dia adalah Jo Yi Seo? Yi Seo membenarkan.
Wanita itu adalah ibu dari siswi pembully itu, Ny. Guk. Dia marah karena Yi Seo sudah mengunggah video anaknya, hingga dia langsung menampar wajah Yi Seo dengan keras. Apa Yi Seo tidak tahu siapa dirinya? Berani sekali memfitnah anaknya!
Jo Yi Seo yang berwajah malaikat itu…
Yi Seo tetap tenang. Dia melihat ke arah kanan dan berujar, “Jang Geun Soo. Sudah kau rekam?”
Dia memiliki karakter seperti iblis.

Geun Soo ternyata dari tadi di sana dan merekam apa yang Ny. Guk lakukan pada Yi Seo, sesuai perintah Yi Seo. Ny. Guk jelas marah. Tapi, Yi Seo malah berujar kalau yang dia unggah adalah fakta bukan fitnah.

Ny. Guk emosi karna menurutnya, Yi Seo tidak ada hubungan apapun dengan apa yang putrinya lakukan. Yi Seo menegaskan kalau siswi itu sudah membully dan memeras teman yang tak bersalah. Dan juga, meminjam pena-nya tanpa izin. Sebenarnya, dia ingin menyelesaikannya sampai di sini, namun… pipinya sediki sakit dan perih sekarang ini.
“Inilah alasan didikan keluarga penting,” ujar Yi Seo, tanpa rasa takut sedikitpun.
“Lihat anak kurang ajar ini. Apa yang kau katakan? Katakan sekali lagi. Katakan sekali lagi!” tantang Ny. Guk sambil mendorong-dorong bahu Yi Seo dengan telunjuknya.
Yi Seo langsung menangkap tangan Ny. Guk dan mengibaskannya dengan kuat. “Video itu… akan kuunggah di forum universitas saat Bok-hee kuliah nanti. Bila dia bekerja, akan kukirim ke kantornya. Bila dia menikah, akan kukirim ke calon mertuanya. Ini semua karena siapa? Lalu ketika Bok-hee punya anak…”

Ny. Guk tidak tahan mendengar ancaman Yi Seo. Dia berteriak marah kalau Yi Seo adalah orang gila. Dia bahkan mengangkat tangannya hendak menampar Yi Seo dengan keras.
Sayang, sebelum tamparan itu mengenai Yi Seo, Park Sae Ro Yi yang lewat di sana, menahan tangan Ny. Guk. Dia memang tidak tahu mereka sedang ada masalah apa, tapi tenanglah. Ny. Guk tidak bisa tenang dan memerintahkan Sae Ro Yi untuk melepaskan tangannya. Yi Seo tersenyum senang. Dia memanfaatkan momen itu untuk balas menampar Ny. Guk dengan keras. Ny. Guk sampai kehilangan keseimbanga. Sae Ro Yi sampai melongo, kaget melihat apa yang Yi Seo lakukan. Geun Soo juga begitu.
Dan Yi Seo juga… adalah sosiopat.

Yi Seo bahkan menatap Sae Ro Yi dan menyebutnya tukang ikut campur. Dengan santai, Yi Seo pergi dari sana dan menghentikan taksi. Dia masuk ke dalam taksi bersama dengan Geun Soo. Sae Ro Yi mengejarnya dan menariknya keluar dari dalam taksi. Dia memarahi Yi Seo karena memukul orang yang lebih tua.
“Kau tahu apa?” balas Yi Seo. “Kau bilang sendiri tadi. Kau tidak tahu masalahnya.”
“Tetap saja!” teriak Sae Ro Yi, kesal.
“Ayahku meninggal karena wanita itu. Bila itu kau, apa kau akan tetap menahan diri?” ujar Yi Seo dengan suara yang terdengar sedih.
Sae Ro Yi tidak tahu harus mengatakan apa dan melepaskan pegangan-nya pada tangan Yi Seo. Dia membiarkan Yi Seo pergi. Yi Seo masuk ke dalam taksi, menutup pintu dan menurunkan jendela.
Dengan wajah riang, dia berujar pada Sae Ro Yi, “Itu bohong!”
Dan taksi meluncur pergi. Yi Seo tertawa bahagia.
Sae Ro Yi sangat kesal dan kehilangan kata-kata untuk orang seperti Yi Seo.
--
Sae Ro Yi kembali ke kedai. Saking kesalnya, dia sampai memukul meja dan membuat kedua karyawan-nya kaget. Seung Kwon langsung bertanya ada apa? Hyun Yi menduga kalau Sae Ro Yi marah karna kedai mereka tidak mendapat tamu sama sekali. Seung Kwon menyarankan untuk melakukan promosi. Hyun Yi tertawa dan menjawab kalau wajah Seung Kwon yang membuat pelanggan tidak mau datang.


Sae Ro Yi menengahi mereka. Dia memberitahu alasannya marah karena dia bertemu wanita gila saat perjalanan ke kedai tadi. Hyun Yi penasaran dan bertanya ada apa? Seung Kwon malah lebih penasaran apakah wanita itu cantik?
Hyun Yi jadi kesal. Dasar pria! Memangnya itu yang penting sekarang? Seung Kwon ikutan kesal karena Hyun Yi bicara seperti itu, memangnya Hyun Yi bukan pria? Eh, tapi Seun Kwon jadi ragu juga. Hyun Yi pria atau wanita? Hyun Yi malas membicarakan hal itu. (wkwkwkw. Asli lho, aku juga awalnya ragu sama seperti Seung Kwon. Hyun Yi ini cewek atau cowok? Soalnya wajahnya cantik, tapi auranya dan suaranya agak seperti pria. Dan ternyata… Hyun Yi ini cewek. Girl crush, cuy)
--

Esok hari,
Yi Seo di marahi oleh guru BK karena sudah menampar orang yang lebih tua. Yi Seo santai saja dan malah balik tanya, kenapa dia tidak boleh menamparnya? Guru BK kesal, emangnya, Yi Seo tidak tahu siapa Ny. Guk itu? Yi Seo dengan santai menyimpulkan tindakannya salah karena Ny. Guk lebih tua, dan juga istri kepala distrik, jadi, dia harus diam saja ketika di tampar? Ah, dia yakin kalau guru Bk pasti mendapatkan banyak masalah karena di ganggu oleh Kepala Distrik, ya.

Guru BK kehilangan kesabaran. Emosinya memuncak dan dia berteriak karena Yi Seo bersikap kurang ajar. Guru wali kelas langsung menyelamkatkan Yi Seo dari guru itu dengan berkata pada guru BK kalau dia yang akan memarahi Yi Seo karena Yi Seo adalah murid kelasnya. Yi Seo dengan santai, menundukkan kepala dan kembali ke kelas.
--

Di perusahaan Jangga,
Geun Won melakukan presentasi mengenai kedai Jangga cabang Itaewon. Kedai di cabang Itaewon terus merugi dalam 3 bulan terakhir. Sementara itu, cabang kedai Jangga di dekat Universitas Hongik dan Konkuk lebih untung sebab di kenal sebagai tempat cari pasangan. Dan karena itu, dia mempunyai ide untuk memfasilitas cabang Itaewon sebagai tempat cari pasangan juga.
Geun Won bahkan sudah membuat konsep-nya. Mereka bisa membuat aplikasi khusus Kedai Jangga agar tamu dapat menggabungkan meja mereka dan mencari pasangan. Dia yakin, semua cabang Jangga akan menjadi populer dengan konsep seperti itu.
Presdir Jang tampaknya tidak suka ide tersebut, karena dia meminta pendapat dari dir. Kang. Dir. Kang jujur menjawab kalau ide Geun Won tidak menarik dan dia tidak yakin. Geun Won membujuk agar mereka mencoba terlebih dahulu.
Presdir Jang langsung meminta pendapat dari Kepala Oh Soo A. Geun Won tersenyum, karena yakin Soo A akan memihak padanya. Tidak di sangka, Soo A malah dengan tegas berkata kalau dia tidak setuju dengan ide Geun Won.
“Kedai Jangga adalah merek utama kita. Kedua kedai dekat universitas memiliki reputasi itu karena lokasi mereka sekarang. Kita tak sengaja membuatnya. Bila kita mendorong tamu untuk cari pasangan, ini dapat merusak nama baik Kedai Jangga yang terkenal dengan rasanya,” jelas Soo A.
“Anggapan bahwa mengundang tamu untuk cari pasangan… dapat merusak nama baik perusahaan adalah anggapan yang kuno,” balas Geun Won.
“Lebih penting lagi, konsep seperti itu tak cocok dengan Itaewon,” balas Soo A.
Geun Won tertawa dan tampak kesal karena dia bahkan mengibaskan kertas di hadapan-nya. Dia menanyakan maksud dari ucapan Soo A. Dir. Kang langsung menimpali kalau dia setuju dengan Soo A. Baginya, konsep yang Geun Won kemukakan hanya menarik bagi segelintir orang. Kalau mau, lebih baik cari pasangan di kelab atau bar saja. Memakai konsep seperti itu di tempat makan, malah membuat tempat makan itu terlihat murahan. Geun Won tetap ngotot dengan konsep-nya.
“Apa yang kalian katakan benar,” tengahi presdir Jang. “Berapa rata-rata usia tamu di Itaewon? Tak tahu? Pada dasarnya, harga di Itaewon lebih tinggi dari yang lain. Karena itu, diperkirakan usia tamu sekitar pertengahan 20 hingga 30 akhir dengan finansial lebih baik. Apakah orang seperti mereka ingin cari pasangan saat ke Itaewon? Rasa. Suasana kedai. Kualitas yang sesuai dengan harga. Inti dari sebuah restoran. Itu area yang perlu diperjuangkan. Rencana sampah seperti ini tak cukup,” jelas presdir Jang dan berjalan ke hadapan Geun Won sambil meropek proposal Geun Won. “Karena itu, kita tak boleh rugi.”


Tidak hanya itu, Presdir Jang bahkan menunjuk Soo A untuk mengelola cabang Itaewon sementara ini. Masih belum cukup, Presdir Jang menampar wajah Geun Won dengan sangat keras di hadapan semua peserta rapat dan memarahinya karena sudah membuat cabang Itaewon merugi selama 3 bulan ini padahal itu adalah cabang yang berada di lokasi bagus. Dia menyebut Geun Won sebagai orang tidak berguna.
Semua peserta rapat terdiam. Sementara Geun Won, merasa malu dan terhina.
--

Rapat usai, tapi tidak dengan kemarahan Geun Won. Dia menemui Soo A dan menanyakan apa masalah Soo A dengannya? Soo A dengan santai menjawab kalau pada akhirnya, ide Geun Won kan tetap di tolak. Dan dia mendapat poin dari hal itu.
Geun Won sangat marah. Dia menyuruh Soo A untuk sadar dan memilih koneksi yang benar. Emangnya, Soo A kira berapa lama ayahnya bisa memimpin Jangga? Pada akhirnya, perusahaan akan jatuh ke tangannya. Mengerti? Jadi, Soo A jangan berbuat bodoh padanya.
Soo A tersenyum, “Kau yakin? Apa kau yakin… perusahaan jatuh ke tanganmu?” ujarnya dan langsung pergi.
Geun Won terdiam.
--

Presdir Jang ada di ruangannya. Di atas meja kerjanya ada foto keluarganya yang terdiri dari : Presdir Jang, Jang Geun Won dan Jang Geun Soo. Tampaknya, Presdir Jang memikirkan sesuatu.
--
Bogwang Goshiwon (Ruang Belajar Bogwang),
Geun Soo ada di Goshiwon, namun, dia tidak fokus belajar. Jadinya, dia melihat-lihat akun ig Jo Yi Seo. Dia melihat Yi Seo mengupload foto dengan caption : Aku sedang istirahat total karena stress dengan tes CSAT.
Geun Soo tersenyum melihat foto-foto Yi Seo tersebut. Foto terbaru Yi Seo, adalah foto di samping jembatan. Yi Seo juga menulis caption : Jembatan Jamsu.
Melihat itu, Geun Soo menjadi bersemangat.
--


Park Sae Ro Yi menuju Itaewon dengan menggunakan kereta bawah tanah. Di salah satu sudut kereta, ada terpampang foto Presdir Jang ukuran besar, iklan untuk Jangga. Melihat foto itu, semangat Park Sae Ro Yi semakin menggebu-gebu.
--
Hyun Yi dan Seung Kwon sudah ada di kedai. Hyun Yi sedang sibuk mengajari Seung Kwon cara menggunakan mesin kasir. Tapi, Seung Kwon tetap saja tidak mengerti hingga membuat Hyun Yi kesal.

Tidak lama, Sae Ro Yi tiba. Hyun Yi langsung memberitahu kalau ada kiriman paket untuk Sae Ro Yi. Seung Kwon penasaran isi paket itu karena kotaknya sangat besar. Mereka berkumpul di dekat kotak itu untuk melihat isinya. Sambil membuka kotak, Sae Ro Yi memberitahu kalau mereka harus melakukan sesuatu agar ada tamu yang datang. Jadi, yang di belinya adalah barang promosi.
--
Geun Soo ternyata menemui Yi Seo di jembatan Jamsu dengan mengendarai vespa. Yi Seo jelas heran melihatnya. Geun Soo memberitahu kalau dia melihat foto Yi Seo. Yi Seo langsung menyebut Geun Soo sebagai stalker. Geun Soo tidak peduli dan malah bertanya alasan Yi Seo di sini.
“Apa pernah kau berpikir bahwa mungkin lebih baik kau tidak terlahir?” tanya Yi Seo.
“Tak pernah. Untuk apa berpikir itu?”
“Entahlah. Setiap orang akan meninggal karena tua atau sakit. Walau kita tahu fakta itu, kita tetap harus belajar dan lakukan hal lain sampai meninggal. Tidakkah hidup itu melelahkan?”
“Lalu? Kau mau mati?”
“Tidak. Terlalu sayang bila aku bunuh diri,” jawab Yi Seo.
Yi Seo mengajak Geun Soo untuk jalan – jalan mumpung mereka ada di luar. Geun Soo menolak karena dia sudah ada janji dengan orang di Itaewon. Bukan dengan gadis tapi dengan seorang hyung. Yi Seo malah ingin ikut. Geun Soo melarang lagipula Yi Seo kan tidak mengenal orang yang akan di temuinya.
Yi Seo langsung membalas kalau setelah tiba di kelab mereka akan berpisah. Mana ada orang yang membawa teman di kelab. Tidak bisa melawan, Geun Soo akhirnya bersedia membawa Yi Seo. Dia tersenyum senang saat Yi Seo memeluk pinggangnya dengan erat.
--



Yi Seo dan Geun Soo tiba di daerah Itaewon. Geun Soo cukup mengebut membawa motor. Dan tiba-tiba saja, seorang anak berlari ke tengah jalan mengejar bola basketnya yang berguling. Geun Soo panik dan langsung menginjak rem dengan kuat. Dia berhasil berhenti, tapi Yi Seo yang duduk di bangku belakang, jadinya terlempar ke atas. Saat terlempar, Yi Seo menunjuk ke Geun Soo sambil berteriak : “Dasar brengsek!!”
Seseorang yang mengenakan kostum boneka seperti monyet (?) langsung berlari untuk menyelamatkan Yi Seo. Yi Seo terjatuh ke orang itu. Kostum kepala boneka terlepas, dan orang itu adalah Park Sae Ro Yi. Mereka saling bertatapan. Sae Ro Yi ingat kalau Yi Seo adalah wanita kemarin malam.

Geun Soo langsung berlari untuk memeriksa keadaan Yi Seo. Tapi, Yi Seo yang sudah kesal langsung mengantukkan kepalanya yang mengenakan helm ke dahi Geun Soo. Dia kesal karena dia hampir mati lagi. Park Sae Ro Yi bangkit dan menunjuk ke arah Yi Seo, eh, belum sempat mengatakan apapun, dia jatuh pingsan.
--

Presdir Jang memanggil Soo A ke ruangannya. Dia membahas mengenai mereka yang sudah bertemu selama 10 tahun dan dia ingat saat pertama kali mereka bertemu, dia membuatkan teh untuk Soo A. Soo A tentu ingat hari pertama dia bertemu dengan Presdir Jang.
“Ya, hari itu. Putraku membunuh Manajer Park dalam tabrak lari,” ujar Presdir Jang, membuat Soo A terdiam terkejut. “Kenapa begitu kaget? Kau sudah tahu masalah ini. Benar, hari itu. Kau bahkan salah sangka atas beasiswa yang kuberikan. Kau curiga aku ingin kau bersaksi untuk putraku.”
“Presdir Jang.”
“Sudah sepuluh tahun. Itu waktu yang panjang,” ujar Presdir Jang. “Park Sae-ro-yi. Aku dengar dia buka kedai di Itaewon. Kau tahu ini?”
“Ya. Lokasinya dekat Kedai Jangga,” jawab Soo A, mencoba untuk tetap tenang.
“Kenapa tak beri tahu?”
"Mereka terhitung rugi dan hanya sebuah kedai kecil. Mereka tidak perlu Anda hiraukan.”
“Bila kita dapat kembali ke sepuluh tahun lalu, bila hal yang sama terjadi, apa yang akan kau lakukan?” tanya Presdir Jang tiba-tiba. “Park Sae-ro-yi dan aku. Siapa yang akan kau pilih?”
Soo A diam.
“Kenapa begitu serius? Aku hanya ingin tahu. Katakanlah.”
“Aku… Aku selalu setia pada Jangga, Pak,” jawab Soo A, tersenyum.
Presdir Jang menyukai jawaban tersebut, “Benar sekali. Aku masih tahu harus investasi ke siapa walau sudah setua ini. Karena itu aku menyukaimu.”
“Terima kasih. Bila Anda terganggu dengan DanBam…” tawari Soo A.
“Tidak apa. Pengaruh apa yang dimilikinya padaku? Bukankah dia temanmu? Lakukan saja apa maumu,” ujarnya penuh arti pada Soo A.
Dan tampaknya, Soo A tahu jelas apa yang Presdir Jang inginkan darinya.

Usai menemui Presdir Jang, entah apa yang Soo A pikirkan, karena dia tiba-tiba melihat akun SNS Sae Ro Yi.  Dia melihat foto BanDam. Hmmm.
--

di Rumah sakit,
Yi Seo dan Geun Soo mengantarkan Sae Ro Yi ke rumah sakit. Yi Seo penasaran dengan alasan Sae Ro Yi pingsan. Geun Soo memberitahu kalau itu karena Sae Ro Yi terlalu lelah.
Lagi di omongin, Sae Ro Yi sadar. Dia melihat Yi Seo dan langsung menyebutnya gila. Tapi, kemudian, dia bangkit dengan kaget karena ada di rumah sakit. Geun Soo memberitahu kalau dokter bilang Sae Ro Yi terlalu lelah, makanya pingsan. Sae Ro Yi lebih panik mencari kostumnya yang tidak ada.

Geun Soo jadi merasa bersalah. Itu… kostum-nya sobek, jadi mereka harus memotongnya untuk mengeluarkan Sae Ro Yi. Dan karena mereka terburu-buru naik ambulans, jadi dia membuang kostum itu. Sae Ro Yi langsung stress karena kostum ini baru di belinya hari ini (itu isi paket yang di kirimkan tadi). Harganya mahal karena di desain khusus.
“Maaf. Aku akan ganti rugi,” ujar Geun Soo, gugup.

Sae Ro Yi jadi tidak enak. Dia masih bersyukur karena setidaknya mereka memungut brosur kedainya. Sae Ro Yi akhirnya hendak pergi dari rumah sakit dengan mengenakan sepatu kostum tadi yang terselamatkan. Geun Soo penasaran karena tampaknya Sae Ro Yi mempunyai kedai.
“Aku punya kedai kecil di Itaewon, dan saat ini butuh dipromosikan,” beritahu Sae Ro Yi.
“Siapa yang masih promosi dengan kostum begitu sekarang?” ejek Yi Seo.
“Lalu?”
“Maafkan dia, dia kurang bisa bersosialisasi. Mohon maklumi dia, Pak,” pinta Geun Soo.
“Aku tahu itu. Aku sungguh penasaran. Bagaimana mempromosikan sesuatu saat ini?”
“Iklan daring tentu lebih efektif. Seperti iklan di media sosial atau promosi di blog. Bagaimana melakukan itu? Haruskah aku rekrut agensi?” tanya Sae Ro Yi, penasaran.
“Kau bisa cari semua di Internet. Tapi pada dasarnya kedaimu harus bagus,” beritahu Yi Seo.
“Aku baru saja buka. Jadi, aku tak tahu. Akan kuingat pesanmu. Terima kasih.”
“Tunggu. Dokter bilang kau harus istirahat dahulu,” hentikan Geun Soo.
“Aku sibuk. Kau bisa bayar biaya rumah sakitnya.”
“Tentu. Aku sungguh minta maaf soal hari ini,” ujar Geun Soo lagi.
“Kau sungguh menyesal?”
“Ya. Tentu.”
“Kalau begitu, datang ke tempat kami,” ujar Sae Ro Yi dan memberikan brosus DanBam pada Geun Soo.

Yi Seo menatap Sae Ro Yi. Mungkin dia merasa aneh dengan Sae Ro Yi yang mau mendengarkan sarannya. Dan Yi Seo malah meremas dan merobek brosus yang Sae Ro Yi berikan kemudian membuangnya. Geun Soo sampai bergumam kalau Yi Seo gila.

Flashback
10 tahun yang lalu,
Yi Seo masih SD dan ada pertandingan olahraga di sekolahnya, lari estafet. Yi Seo mendapat posisi sebagai pelari terakhir. Ibunya datang menonton pertandingan dan berteriak memberikan semangat pada Yi Seo.
Sayangnya, saat pelari, Yi Seo tertinggal satu langkah di belakang seorang pelari. Dan entah apa yang Yi Seo pikirkan, dia mendorong pelari yang ada di depannya hingga terjatuh dan kemudian lanjut berlari dengan kencang. Dia tersenyum. Semua yang melihat itu, kaget dengan apa yang Yi Seo lakukan.
Yi Seo menang. Tapi, semua orang menunjuknya karena sudah berbuat curang. Ibunya hanya diam memperhatikan.
--
Yi Seo duduk sendirian di taman. Ibu memperhatikan dari jauh. Dia teringat ucapan dokter kalau Yi Seo sangat terobsesi untuk menang dalam kompetisi dan juga menunjukkan sifat-sifat sosiopat. Jadi, lebih baik Yi Seo di bawa konseling ke psikolog.
Ibu menghampiri Yi Seo. Dia tidak marah. Sebaliknya, dia memuji Yi Seo sebagai orang multitalenta dan mahir olahraga, jadi apa yang tidak bisa Yi Seo lakukan?
“Apa Ibu sedang memujiku karena juara tadi?” tanya Yi Seo, tidak percaya mendengar ucapan ibunya.
“Benar,” jawab Ibu, tersenyum lebar.
“Ibu sangat salah akan ini,” tegur Yi Seo. “Ini pasti dari trauma Ibu. Ibu ingin menebus hidup Ibu yang biasa saja lewat hidupku, 'kan?”
“Lihat bagaimana kau bicara. Bagaimana kau begitu pintar?” puji Ibu, tidak merasa tersinggung sama sekali. “Ibu tak akan memarahimu karena ini. Ibu hanya tak mau kau hidup biasa saja seperti ibu. Setiap orang punya cara beda untuk membuat keputusan. Karena itu cara membedakan orang baik dengan yang jahat terasa ambigu. Tapi mereka tahu membedakan orang yang spesial. Karena itu ditunjukkan lewat angka.”
End
--
Yi Seo sudah berada di klub bersama dengan Geun Soo. Yi Seo sibuk menari sementara Geun Soo berbincang dengan hyung yang mengundangnya, Seong Hyeon. Yi Seo menari dengan gila-gilaan.
Aku mengerti maksudnya. Aku tahu betapa Ibu menyayangiku. Aku mengerti semua itu. Aku orang biasa. Namun, aku terlahir pintar dan cantik. Masuk kampus bergengsi, kerja di perusahaan besar. Kehidupan yang sukses. Banyak orang berusaha keras, tapi tak mencapainya. Namun, aku tahu aku bisa. Aku ingin sukses dan berusaha keras mendapatkan yang kumau. Usaha yang dengan keras kulakukan. Sepertinya aku akan lelah seumur hidup. Jadi, kenapa bumi … tak meledak saja agar semua berakhir?
Yi Seo menari untuk meluapkan emosinya. Dia tampak sangat menikmatinya.
Seong Hyeon yang melihat tarian Yi Seo, sampai tidak menyangka kalau Yi Seo adalah anak SMA karena caranya bermain hebat. Dia juga menanyakan hubungan Geun Soo dengan Yi Seo. Geun Soo menjawab kalau Yi Seo hanyalah temannya dan Yi Seo tidak tertarik dengan cinta. Seong Hyeon semangat dan bertanya memastikan, karena dia akan mendekati Yi Seo. Yi Seo adalah tipenya.
Geun Soo langsung menghentikannya. Dia akhirnya bilang kalau mereka tidak punya hubungan apapun, hanya teman. Tapi… dia menyukai Yi Seo. Seong Hyeon mengerti dan tidak jadi mendekati Yi Seo.
Geun Soo menatap ke arah Yi Seo yang sedang asyik menari dan memberitahu Seong Hyeon kalau dia juga baru menyadari perasaannya.
--
Hyun Yi dan Seung Kwon sibuk memberi makan seekor kucing liar. Tapi, kucing itu tidak mau makan sama sekali. Seung Kwon ragu, apa itu beneran makanan kucing? Hyun Yi menjawab kalau dia sudah mengikuti resep di internet untuk makanan kucing itu. Dan dia juga heran kenapa kucing itu tidak mau makan?
Hyun Yi melihat wajah Seung Kwon, dan tiba-tiba menutupi wajah Seung Kwon dengan telapak tangannya dan kemudian berusaha membujuk kucing itu untuk makan lagi. Tapi, kucing itu benar-benar tidak mau makan. Hyun Yi langsung bergumam kalau dia mengira kucing itu tidak mau makan karna wajah Seung Kwon, ternyata bukan. Seung Kwon langsung berujar kalau makanan kucing Hyun Yi yang salah.

Sae Ro Yi tiba saat itu dan melihat mereka berdua yang berada di luar toko dan sibuk memberikan makan kucing. Sae Ro Yi langsung membelai kucing itu dan menggendongnya. Seung Kwon penasaran karena Sae Ro Yi kembali tanpa memakai kostum.
“Terjadi sesuatu tadi,” jawab Sae Ro Yi. “Kenapa kalian berdua di luar?”
Hyun Yi dengan jujur memberitahu kalau mereka tidak mendapatkan tamu sama sekali.



1 comment:

  1. min tau lagu pas Jo Yi Seo lagi di club itu lagu siapa ya?😂

    ReplyDelete