Saturday, February 15, 2020

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 05-2

3 comments

Sinopsis K-Drama : Itaewon Class Episode 05-2
Images by : JTBC
SELURUH KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKSI
Mereka akhirnya duduk bersama di meja. Seung Kwon marah karena Hyun Yi menyembunyikan ini dari mereka. Hyun Yi bilang kalau dia tidak menyembunyikannya dan bos mereka (Sae Ro Yi) juga tahu.
“Dia tahu… kau melakukan operasi?” tanya Geun Soo, gugup dan segan.
“Belum. Aku harus menabung untuk itu,” jawab Hyun Yi.
Seung Kwon makin speechless. Yi Seo juga berkata kalau ada banyak café transgender di Itaewon, tapi kenapa Hyun Yi ke kelab ini?
“Karena aku ingin ke sini,” jawab Hyun Yi, santai. “Yi-seo, ternyata kau berpikiran sempit,” komentar Hyun Yi lagi. “Aku sedih kalian cari meja di sini tanpa aku. Apa ada hal baik hari ini?”
Semua diam. Tidak ada jawaban sama sekali.
“Sepertinya kalian canggung karenaku. Aku tak akan ganggu,” ujar Hyun Yi, sadar. Dia bahkan langsung pergi.
Geun Soo merasa tidak enak jadinya. Tapi, Yi Seo jadi tampak lebih memikirkan sesuatu.
--
Sementara itu, para mantan teman SMA Yi Seo, sibuk men-stalk ig Yi Seo. Dari ig tersebut, mereka jadi tahu kalau Yi Seo kerja di DanBam. Mereka kesal melihat ekspresi bahagia Yi Seo. Guk Bok Hee (di episode 03, yang membully dan menjadi viral karena postingan Yi Seo) marah melihat itu karena gara-gara Yi Seo dia jadi tidak bisa lulus. Dia merasa hidupnya hancur karena Yi Seo.
--
DanBam kembali buka. Masih ada banyak pelanggan tapi tidak sebanyak kemarin. Salah satu pelanggan memanggil Yi Seo dan protes karena menemukan rambut di makanan mereka. Yi Seo meminta maaf dengan sangat dan segera mengganti makanan dengan yang baru.
Salah satu pelanggan menekan bel. Dia meminta di bawakan garam karena jjigae –nya terasa hambar. Yi Seo mendengar semua keluhan para pelanggan tersebut.

Dengan marah, Yi Seo langsung masuk ke dapur dan memarahi Hyun Yi. Dia menunjukkan rambut yang di temukan di makanan pelanggan dan juga marah karena Hyun Yi tidak mencoba makanan-nya sebelum di berikan ke tamu?! Dia menyebut Hyun Yi yang hanya santai dan dengan mudahnya mendapatkan gaji! Jika tidak ada keterampilan, berhenti saja dari sini! Kau bahkan tidak bisa memasak dengan benar, untuk apa tetap bekerja di sini!
Untungnya, Sae Ro Yi mendengar suara marah Yi Seo kepada Hyun Yi. Dia segera ke dapur dan bertanya ada masalah apa? Hyun Yi hanya diam, merasa bersalah. Yi Seo masih emosi, tidak menjawab apapun dan langsung keluar.
--
DanBam sudah tutup.
Hyun Yi tampaknya benar-benar terpukul. Dia sibuk mencuci piring dan tampak berusaha untuk tetap tenang.
Sementara itu, Sae Ro Yi mengajak Yi Seo bicara berdua. Seung Kwon dan Geun Soo juga ada di sana. Sae Ro Yi benar-benar sudah tahu kalau Hyun Yi adalah transgender sejak mereka masih bekerja bersama di pabrik (benarkah karakter Hyun Yi adalah transgender?). Seung Kwon terkejut karena hanya dia yang tidak tahu dari awal.
“Aku tanya kepadamu. Kenapa kau rekrut dia?” tanya Yi Seo, dingin.
“Apa maksudmu? Dia koki utama. Tentu kupekerjakan di dapur.”
“Ya, tapi dia tak bisa memasak. Itu satu-satunya masalah di kedai ini. Promosi, pelayanan, suasana. Semua itu tak cukup. Yang terpenting adalah rasa. Tapi rasanya hanya begitu saja. Kedai ini tak bisa beroperasi lama,” tegas Yi Seo.

Sae Ro Yi mengerti maksud Yi Seo, jadi apa yang Yi Seo inginkan? Dengan berani, Yi Seo meminta Sae Ro Yi untuk memecat Hyun Yi. Dan semua pembicaraan mereka terdengar oleh Hyun Yi, sangat jelas. Yi Seo bahkan bilang kalau Hyun Yi tidak bisa memasak lebih baik daripada Sae Ro Yi yang adalah bos. Dan bagaimana jika ada rumor mengenai koki yang transgender? Akan ada tamu yang menolak hal itu. DanBam bisa lebih baik daripada ini.
“Tentu kau akan merasa tak enak dan sedih akan hal ini, tapi kau harus putuskan,” akhiri Yi Seo.
Dan karena itu, Sae Ro Yi menyuruh Geun Soo untuk memanggil Hyun Yi kemari. Geun Soo dan Seung Kwon ragu, tapi Sae Ro Yi tampak sudah memutuskan sesuatu. Dia ingin Hyun Yi di panggil.
Akhirnya, Hyun Yi datang dan berbicara dengan Sae Ro Yi.
“Bagaimana pekerjaanmu di DanBam? Kau suka?”
“Ya.”
“Saat ini kita semua bekerja keras, tapi ini tetap tak cukup. Aku ingin membuat DanBam lebih besar lagi. Tapi salah satu masalah besar saat ini adalah masakanmu. Masakanmu biasa saja. Ini tak bisa dibiarkan. Kau tahu, 'kan?” ujar Sae Ro Yi, sangat serius.
“Aku mengerti.”
“Terima ini,” ujar Sae Ro Yi dan memberikan segepok amplop berisi uang. “Ini gajimu bulan ini.”
“Terima kasih untuk segalanya selama ini,” ujar Hyun Yi, tulus dan bersyukur. Matanya juga berkaca-kaca.
“Aku beri dua kali lipat,” lanjut Sae Ro Yi, membuat semuanya terkejut. Awalnya, mereka mengira Sae Ro Yi akan memecat Hyun Yi, namun tidak. “Bila kau suka dengan kedai ini, bekerjalah dua kali lebih keras seperti gajimu ini. Apa kau bisa?”
Hyun Yi jelas menyanggupi. Semua terkejut dengan keputusan yang Sae Ro Yi ambil. Mata Sae Ro Yi pun berkaca-kaca. Yi Seo tidak bisa mengerti dengan keputusan Sae Ro Yi.
“Satu lagi. Dengar ini baik-baik. Aku adalah mantan narapidana yang dihindari orang-orang. Dan kalian, Yi-seo, Geun-soo, Seung-kwon... Kalian adalah orang yang membuat kedai ini tutup sementara. Hyun-yi? Dia bekerja keras dan tak merugikanku satu detik pun. Sama dengan kalian, dia orangku. Itu penting bagiku. Kalian bisa tak nyaman dengannya. Aku senang jika kalian mengerti. Aku tak akan paksa bila tak bisa. Namun, jika kalian tak ingin bekerja dengannya hanya karena dia transgender, katakan padaku sekarang. Tak peduli siapa pun itu, aku akan ambil keputusan.”
Semua diam. Tidak ada yang protes sama sekali. Yi Seo juga tidak protes lagi dan menyuruh Hyun Yi untuk bekerja dengan baik. Hyun Yi dengan yakin menjawab kalau dia akan demikian.
--

Esok hari,
Yi Seo berjalan ke DanBam dengan cemas. Tapi, di tengah jalan, dia sudah di tunggu oleh Guk Bok Hee and the gang. Yi Seo mah tidak peduli dan jalan pergi begitu saja. Mereka malah memanggilnya dan menyebut Yi Seo mengabaikan mereka yang satu alumnus SMA. Yi Seo langsung membenarkan kalau mereka tidak lulus SMA yang sama dengannya, jadi tidak bisa di sebut alumnus.
Kebetulan sekali, Geun Soo lewat dan langsung memihak Yi Seo. Bok Hee menegur Geun Soo untuk tidak ikut campur. Mereka mulai saling berdebat. Bok Hee masih tidak terima.
“Ini diskriminasi terbalik atau apa? Anak pejabat dikeluarkan dari sekolah, tapi anak SMA ketahuan minum dilepaskan saja?” omel Bok Hee.
“Astaga, bagaimana kau bisa tahu itu? Apa kau mengikutiku? Kau penguntit?”
“Menurutmu bagaimana? Itu karena aku yang melaporkanmu,” ujar Bok Hee.
Yi Seo benar-benar terkejut. Dia mengira Soo Ah yang melapor dan Soo Ah juga mengakui itu pada Sae Ro Yi, tapi ternyata semua salah.
Geun Soo juga marah karena perbuatan Bok Hee, bos DanBam harus menderita kerugian karena mereka. Bok Hee tidak peduli dan malah lebih galak. Dia hendak memukul Yi Seo juga, tapi Yi Seo yang balas menamparnya. Yi Seo bahkan bilang kalau dia jadi teringat saat menampar wajah ibu Bok Hee dulu seperti itu juga (di episode 3).
Kedua teman Bok Hee jadi takut. Apalagi saat mereka melihat Bok Hee yang melawan, tapi tidak bisa dan jadinya di tampar berulang kali oleh Yi Seo. Yi Seo benar-benar marah karena perbuatan Bok Hee, Sae Ro Yi jadi harus merugi karena harus tutup kedai selama 2 bulan. Saking marahnya, saat Geun Soo memegang tangannya, Yi Seo menampiknya.
--
Soo Ah ada di atas kedai Jangga. Dia melihat diluar ada mobil polisi dan tampaknya ada sesuatu terjadi. Melihat mobil polisi, Soo Ah jadi teringat kejadian di hari itu.

Flashback
Soo Ah waktu itu, memang menelpon 112 dan hendak melaporkan kedai DanBam yang menerima anak di bawah umur. Tapi, ketika sudah tersambung, dia mengurungkan niatnya dan tidak jadi melapor.
Saat itu, Bok Hee dan temannya lewat dan tidak sengaja menabrak Soo Ah. Dan kebetulan sekali, mereka melihat Yi Seo di dalam kedai DanBam. Mereka segera memfoto hal itu dan segera melapor polisi, melapor. Soo Ah ada di sana dan melihat apa yang Bok Hee dan temannya lakukan.
End
Entah apa yang di pikirkan oleh Soo Ah sekarang ini.
--
Yi Seo merasa tidak tenang usai tahu kalau bukan Soo Ah yang melapor ke polisi hari itu. Dia terus memikirkannya sampai malam dan merenung di atap. Park Sae Ro Yi menghampirinya. Dia mengira kalau Yi Seo stress karena memikirkan mengenai Hyun Yi.
“Merugi karena rasa peduli? Mereka sebut orang seperti itu pecundang,” ujar Yi Seo.
“Aku mengerti pikiranmu. Aku juga tak ingin membicarakan itu lagi. Namun, aku tak berubah pikiran.”
“Baguslah. Kau bukan pecundang. Jangan ubah pemikiranmu dan ajari Hyun-yi agar kita tak merugi,” pinta Sae Ro Yi.
“Bagaimana aku mengajarinya? Aku tak bisa memasak.”
“Tapi kau tahu rasa yang enak atau tidak, 'kan? Beri saja reaksi yang jujur kepadanya. Sesuai standarmu. Dengan reaksi jujurmu, Hyun-yi akan terus meningkatkan rasa masakannya. Lalu suatu saat...”
--


Dan karena permintaan Sae Ro Yi, Yi Seo setiap harinya mulai mencoba masakan Hyun Yi. Dia dengan blak-blakan memberi komentar pedas mengenai masakan Hyun Yi. Hyun Yi tidak sakit hati, sebaliknya, dia terus berusaha memperbaiki masakannya hingga menjadi sesuai selera Yi Seo.
Hyun Yi tidak menyerah sama sekali. Mengulang dan terus mencoba. Hingg akhirnya…
“Ini enak. Ini benar-benar enak,” puji Yi Seo, tulus. “Rambutmu terlihat sangat rusak. Kau lebih cantik dengan warna hitam. Kak Hyun-yi.”

Hyun Yi sangat bahagia mendengarnya. Yi Seo telah menerimanya. Seung Kwon dan Geun Soo juga sangat senang karena masakan Hyun Yi akhirnya bisa memuaskan Yi Seo. Saking senangnya, mereka memberikan jempol mereka pada Hyun Yi.


Yi Seo menemui Sae Ro Yi. Yi Seo tahu kalau Sae Ro Yi pasti sudah bisa menebak semua ini dari awal. Sae Ro Yi berujar kalau dia percaya pada Hyun Yi dan juga pada Yi Seo. Dia membelai kepala Yi Seo dan mengucapkan “kerja bagus.”
Semua tampak senang.
--
Soo Ah minum di café hingga mabuk. Dia bahkan tertawa kesal karena pusing memikirkan ucapan Presdir Jang tempo hari yang menyiratkan agar dia berpihak pada Jangga bukan pada Sae Ro Yi.
Soo Ah pulang dengan langkah sempoyongan karena mabuk. Sambil jalan, dia terus saja berujar ‘menyebalkan’ karena pusing harus memilih Jangga atau Sae Ro Yi.
“MENYEBALKAN!” teriak Soo Ah, menarik perhatian semua orang yang ada di sekitar sana.
Termasuk Sae Ro Yi yang lewat bersama karyawannya. Dia segera memegang tangan Soo Ah dan bertanya, siapa yang membuat Soo Ah kesal? Soo Ah menampik tangan Sae Ro Yi dan menjawab, “Kau.” Soo Ah juga menyuruh Sae Ro Yi untuk jujur saja. Pasti, bagi Sae Ro Yi dia juga menyebalkan dan menjijikan bukan.
Sae Ro Yi tahu kalau Soo Ah dalam keadaan mabuk, jadi dia menyuruh karyawannya untuk pergi duluan. Yi Seo tidak mau pergi dan tetap melihat perbincangan Soo Ah dengan Sae Ro Yi.
“Aku berusaha menghindarimu belakangan ini. Baguslah kita bertemu. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apa rahasia kau bisa berjualan dengan baik? Tak bisakah kau beri tahu aku? Kita teman, 'kan?”
“Karena aku punya manajer berbakat?” jawab Sae Ro Yi.
“Begitu rupanya. Gadis manis itu? (menunjuk pada Yi Seo).”
Sae Ro Yi tahu kalau Soo Ah sudah terlalu mabuk, jadi dia ingin mengantarkan Soo Ah pulang. Tapi, Soo Ah tidak mau.
“Kau tahu? Aku tak merasa bersalah padamu. Kau tahu alasannya? Karena aku merasa aku yang paling berharga. Dan aku... hanya peduli diriku sendiri. Apa ini salah?” ujar Soo Ah.
“Tentu tidak.”
“Jangan bicara omong kosong. Hei. Kau menyebalkan… ketika berpura-pura mengetahui semuanya. Dikeluarkan dari sekolah dan mantan narapidana. Kau membuat orang lain merasa tidak enak.”
“Kenapa kau begitu tertekan? Jangan begitu. Apa pun yang kau lakukan, aku akan baik-baik saja. Kau hanya melakukan yang terbaik untuk hidupmu. Kau tidak salah apa-apa.”
“Aku mohon... Aku mohon jangan katakan itu kepadaku,” frustasi Soo Ah. “Sebenarnya… Saeroyi. Kau… bagiku... selalu...,” ujar Soo Ah. “bersinar... terlalu terang,” ujarnya di dalam hatinya.
Soo Ah begitu terbawa suasana hingga dia maju semakin dekat, hendak mencium Sae Ro Yi. Sae Ro Yi bahkan sudah memenjamkan matanya, siap menerima ciuman dari Soo Ah.
Syaattt!!!!
Momen romantis terhenti! Yi Seo muncul di tengah mereka dan mendorong wajah Soo A dengan tangannya, membuat Soo Ah dan Sae Ro Yi terkejut.
“Hukum Pidana Pasal 32. Mencium seseorang tanpa izin termasuk pelecehan seksual.”




3 comments: