Monday, March 16, 2020

Sinopsis K-Drama : Hi Bye, Mama Episode 08-1

0 comments

Sinopsis K-Drama : Hi Bye, Mama Episode 08-1
Images by : TvN

Tahun 2016,
Geun Sang mendapatkan dokumen dari bagian HRD rumah sakit, tapi dia juga tidak tahu dokumen apa. Ternyata, HRD memberikan dokumen berisi informasi “Pemakaian Vila Musim Panas RS Universitas Dongsung 2016” untuk pengajuan Gye Geun Sang dan Cho Gang Hwa di setujui.
Melihat dokumen tersebut, Geun Sang tersenyum getir. Tidak mungkin lagi mereka bisa berlibur bersama karena Yu Ri sudah tiada.
Satu individu masuk begitu dalam ke kehidupan kita. Perpisahan datang begitu saja. Mencemooh masa-masa saat bersama.
Hyeon Jeong minum sendirian. Dia begitu merindukan Yu Ri hingga menangis dan menulis di beranda fb Yu Ri bahwa dia merindukannya. Hyeon Jeong menangis terisak-isak.
Saat perpisahan terjadi, ada yang menerima kenyataan dengan menghadapi kesedihan yang datang membanjiri.


Ibu Yu Ri memilih menutupi kesedihannya dengan terus dan terus membersihkan rumah. Ayah dan Yeon Ji yang melihat tentu jadi ikutan sedih. Usai membersihkan rumah, ibu akan menghabiskan waktu dengan bermain kartu melalui aplikasi games di ponsel.
Ada yang berusaha menghindar dari perpisahan yang menyedihkan untuk melindungi diri sendiri dari rasa sakit perpisahan demi bisa bertahan hidup.

Gang Hwa berdiri diam di trotoar jalan. Dia tidak beranjak dari sana walaupun hujan turun.
Namun, entah kebenaran, penolakan, waktu yang mengalir atau apapun itu, tidak ada cara untuk mengatasi kesedihan ini.



Geun Sang, Hyeon Jeong, ibu Yu Ri dan Gang Hwa, mereka bersedih atas kepergian Yu Ri dengan cara mereka masing-masing.
-Episode 08-
Orang yang tak bisa mengucapkan selamat tinggal
Pil Seung menumpang di bawah payung Gang Hwa dan dia merasa tidak nyaman. Itu karena Gang Hwa memegang payung sesuai tinggi Gang Hwa, sementara Pil Seung jauh lebih tinggi dari Gang Hwa, jadinya dia harus menunduk. Karena itu, Pil Seung menawarkan diri agar dia saja yang memegang payungnya. Gang Hwa dengan tegas menolak dan menyuruh Pil Seung pergi saja jika merasa tidak nyaman.
Pil Seung menolak pergi dan memilih untuk terus numpang payung Gang Hwa.

Dan mereka malah berpas-pasan dengan Min Jeong dan Yu Ri yang juga sedang berbagi payung. Gang Hwa begitu terkejut melihat mereka berdua bersama. Pil Seung tidak tahu apa-apa, malah menyapa Yu Ri dengan sebutan ‘tukang mimisan’.

Yu Ri benar-benar canggung berada dalam situasi seperti ini. Jadinya, dia mendorong Min Jeong ke bawah payung Gang Hwa dan langsung pergi dengan alasan ada urusan. Pil Seung tidak tahu malu malah numpang di bawah payung Yu Ri dan mengikutinya. Yu Ri heran melihat tingkahnya, tapi Pil Seung terus mendekat.
--

Yu Ri ternyata pergi ke minimarket untuk berbelanja. Pil Seung masih mengikutinya. Dia protes pada Yu Ri karena tadi dia baru dari minimarket itu dan akhirnya numpang pada Gang Hwa, dan sekarang malah balik lagi ke sini. Yu Ri mana peduli karna kan bukan dia yang nyuruh Pil Seung ikut dengannya.
Dengan cuek, Yu Ri langsung pergi dengan payungnya. Pil Seung kesal di abaikan dan malah berdoa agar Yu Ri mimisan lagi.
Yu Ri tiba-tiba saja berbalik dan berteriak agar Pil Seung membersihkan rumahnya. Setelah itu, Yu Ri benar-benar pergi.
--

Gang Hwa berbagi payung dengan Min Jeong. Dia membuka pembicaraan dengan membahas kenapa Min Jeong bisa berbagi payung dengan wanita tadi (Yu Ri)? Biasanya, Min Jeong kan tidak suka mengobrol dengan tetangga, tapi tadi dia lihat Min Jeong tertawa saat bersama Yu Ri.
Min Jeong malah bingung sendiri, apa dia tertawa? Dia cerita pada Gang Hwa kalau Yu Ri agak aneh. Yu Ri bilang dia baik. Gang Hwa membenarkan kalau Min Jeong memang baik. Min Jeong malah mengira Gang Hwa hanya beromong kosong. Gang Hwa tidak terima di bilang beromong kosong karena Min Jeong memang benar, orang baik.
“Kalau begitu, dia saja yang menjadi pengasuh Seo-woo.”
“Ya,” setuju Gang Hwa, tersenyum.
--


Tapi, malam-nya, Gang Hwa malah pergi minum ke kedai Misaeng dan menyesali keputusannya setuju menjadikan Yu Ri pengasuh Seo Woo. Geun Sang bahkan menyebutnya sudah gila. Gang Hwa yang stress malah berencana pergi ke Sri Lanka. Hyeon Jeong ikutan nimbrung, menyarakan agar Gang Hwa pergi ke Afrika Selatan. Gang Hwa malah tertarik dan ingin mencari tahu apakah RS punya cabang di Afrika atau tidak.
Geun Sang dan Gang Hwa mulai saling berdebat. Karena pusing, Geun Sang menyuruh Hyeon Jeong untuk menelpon Yu Ri dan mengajak bertemu agar mereka bisa membahas bagaimana ke depannya. Yu Ri nyuruh mereka tidak ikut campur, tapi dia malah buat masalah. Jadi, hubungi dia.
Hyeon Jeong menjawab kalau Yu Ri tidak akan datang. Gang Hwa setuju, Yu Ri tidak akan datang karena dia ada di sini. Geun Sang masih tidak mengerti. Gang Hwa menjelaskan kalau Yu Ri bahkan tidak mencarinya, mereka bisa bertemu karena tidak sengaja berpapasan. Geun Sang masih juga tidak mengerti alasannya. Hyeon Jeong sampai bilang blak-blakan kalau alasannya adalah Min Jeong. Yu Ri tahu Gang Hwa sudah menikah lagi dan tidak mau mengganggu mereka.

Karena sedang membahas hal ini, Gang Hwa memberitahu hal lain, mengenai Yu Ri yang bilang ke Min Jeong kalau Min Jeong adalah orang baik. Geun Sang kaget, karna darimana Yu Ri bisa menilai hal itu? Hyeon Jeong menyuruh Geun Sang untuk diam saja.
Hyeon Jeong penasaran dan nanya, apakah Gang Hwa pernah cerita mengenai Min Jeong ke Yu Ri? Gang Hwa menjawab tidak. Yu Ri bahkan sedari awal sudah tahu kalau dia menikah lagi dan Min Jeong adalah junior-nya. Yu Ri tahu semuanya.

Hyeon Jeong bilang kalau informasi itu bisa di dapat dengan mudah. Akan tetapi, dia merasa seolah Yu Ri sudah lama mengenal Min Jeong. Gang Hwa ternyata juga merasa demikian. Hyeon Jeong dengan yakin bilang kalau Yu Ri pasti menyembunyikan sesuatu. Gang Hwa merasakan hal itu juga dan dapat merasa kalau Yu Ri hanya berpura-pura lupa. Akan tetapi, Yu Ri memintanya untuk menunggu. Sekarang, mereka hanya harus bersabar.
Hyeon Jeong setuju dengan Gang Hwa. Bagaimanapun, Yu Ri adalah Cha Yu Ri. Jika ada sesuatu, Yu Ri tidak bisa menutupinya dan selalu bercerita. Pasti ada alasan kenapa dia seperti ini.
--

Midong sedang berdoa kepada Dewa menanyakan alasan Yu Ri menjadi manusia. Akan tetapi, dia belum juga mendapat jawabannya. Midong yakin kalau tidak mungkin Yu Ri menjadi manusia hanya karena dia mengumpat pada Dewa karena ada banyak juga arwah yang suka mengumpat. Pasti ada sesuatu.
--

Gang Hwa sudah agak tenang dan beranjak pulang. Tapi, Hyeon Jeong mengejarnya dan menanyakan hubungan Gang Hwa dan Min Jeong. Apa mereka langgeng? Apa mau Min Jeong mau bercerai? Mendapat pertanyaan itu, Gang Hwa malah mengira Hyeon Jeong sudah gila karna kelamaan tinggal sama Geun Sang.
Gang Hwa bilang kalau mereka baik-baik saja. Hanya saja, sejak Yu Ri kembali, dia merasa bersalah hingga tidak sanggup menatap mata Min Jeong. Mumpung lagi membahas hal ini, Gang Hwa jadi ingin membahas mengenai anaknya, Seo Woo. Seo Woo menjalani penilaian psikologis tapi hasil kemampuan bahasa, kognitif dan sosial, semua hasilnya di bawah rata-rata. Jadi, harus bagaimana?
Hyeon Jeong agak kesulitan menjawabnya. Dia menanyakan balik bagaimana reaksi Min Jeong?
“Aku bilang tidak perlu cemas. Ini bukan masalah besar,” jawab Gang Hwa.
“Apa? Cho Gang-hwa! Kau benar-benar...”
“Apa?”
“Kau bilang "tak perlu cemas" kepada Min-jeong, tapi membahasnya denganku?”
“Bukan begitu. Aku tak ingin Min-jeong terlalu cemas hingga menyalahkan dirinya.”
“Biarkan Min-jeong yang memutuskan itu. Itu bukan sesuatu yang bisa kau atur. Astaga. Kau salah karena terlalu memikirkan perasaan Min-jeong,” nasehat Hyeon Jeong.
Gang Hwa jadi semakin merasa bersalah dan pamit pulang.
--

Yu Ri pergi ke rumah orang tuanya. Dia membawa banyak obat dan meletakkannya di depan pintu pagar. Sebelum pergi, Yu Ri bermain dulu dengan Popo. Dia yakin kalau Popo pasti merindukannya.
Flashback
Saat masih arwah, Yu Ri sering datang untuk bermain dengan Popo, karena Popo bisa melihatnya. Dia bermain dengan memberi perintah duduk, berbaring berulag kali.
Ayah dan ibu Yu Ri melihat tingkah Popi itu dan mengira Popo sedang bermain sendirian. Mereka sedikit heran, tapi tidak ambil pusing.
End
--
Esok hari,
Ayah menemukan barang-baran yang Yu Ri tinggalkan dan membawanya masuk ke dalam rumah. Yeon Ji merasa orang yang meninggalkan barang itu sangat aneh. Siapa yang mengirim barang-barang itu? Sudah tanya tetangga pun tetap tidak tahu siapa yang meletakkannya di depan pagar rumah.

Yeon Ji merasa sangat aneh. Kenapa orang yang mengirim barang itu sangat mengenal keluarga mereka? Kenapa orang itu tahu ayah punya gangguan liver hingga mengirimkan suplemen liver? Sebelumnya juga mereka di berikan obat untuk lutut Ibu. Dan sekarang ada suplemen kalsium. Yang lebih gila, orang ini tahu dia suka minum bir dengan jeli, padahal teman-temannya saja tidak tahu. Padahal ayah ada di ruang tamu seharian, tapi tidak mendengar ada suara menyalak Popo. Biasanya, Popo akan menyalak jika ada tamu atau orang asing.

Ibu hanya diam saja. Melihat semua obat itu, Ibu malah teringat saat dulu Yu Ri selalu ngotot ingin membelikan semua obat itu untuk Ayah dan Ibu.
Dan sekarang, ibu pun meminum obat itu.
--

Ibu tiba-tiba keluar dari kamar sambil memakai jaketnya dan menanyakan dimana kunci sepeda. Yeon Ji dan ayah menghalanginya untuk keluar dan naik sepeda karena sedang musim dingin, tapi ibu bilang tidak apa-apa.
--

Yu Ri ada di taman dekat rumah. Dia penasaran apakah orangtuanya meminum suplemen yang di berikannya atau tidak. Dia ingin masuk ke rumah dan memeriksanya, tapi tidak bisa. Saat itu, dia melihat ada sebuah keluarga : nenek, ibu dan cucu yang sedang bermain di taman. Melihat pemandangan itu, Yu Ri menjadi sedih.

Ibu naik sepeda dan pergi ke taman. Dia bisa saja berjumpa dengan Yu Ri, sayangnya Yu Ri sudah terlebih dahulu pergi. Ibu juga melihat keluarga yang Yu Ri lihat tadi dan jadi merasa sedih.
--


Di rumah duka,
Anak perempuan supir Kim datang dan menempelkan undangan pernikahannya : Jeong Gyeong Hun & Kim Hye Su. Dia akan menikah beberapa hari lagi. Dan anak perempuan supir Kim adalah guru di TK Seo Woo.
Para arwah memberikan selamat pada supir Kim karena anaknya akan menikah. Supir Kim senang mendapat ucapan selamat dari mereka, tapi juga sedih karena toh dia tetap tidak bisa pergi. Mereka tetap merasa senang untuk supir Kim. Dan kini, Supir Kim bisa reinkarnasi karena sebelumnya, supir Kim bilang akan pergi setelah salah satu putrinya mendengarkan. Mereka yakin, Midongdaek akan senang mendengar kabar itu.
“Apakah kau terus di sini karena ingin melihat anakmu menikah?” tanya arwah tn. Jang.
“Bukan begitu. Aku hanya punya dua putri, tidak ada pria di keluargaku. Aku tidak tenang meninggalkan tiga wanita sendirian. Dunia sekarang sangat kejam.”
“Ternyata dilema seorang ayah dengan anak perempuannya.”
“Aku bisa pergi dengan tenang karena sudah ada menantuku,” senang supir Kim.
Akan tetapi, rasa senang supir Kim berubah menjadi cemas karena wajah Hye Su terlihat sedih padahal akan menikah. Karna itu, supir Kim mengikutinya.
Setelah supir Kim pergi, para arwah baru sadar kalau tadi arwah nenek Jung tidak ada.
--


Dari pagi-pagi, arwah nenek Jung sudah pergi ke rumah sakit tempat putrinya di rawat. Dia merasa sedih karena kondisi putrinya semakin memburuk. Putrinya tampak sangat kesakitan, tapi walaupun begitu, dia tetap tidak meminta obat penahan sakit. Dia bilang pada dokter kalau dia masih bisa menahan rasa sakitnya. Dokter cukup kagum padanya, tapi mengingatkan agar dia meminta obat juga sudah tidak tahan.
--

Geun Sang sedang berada di depan ruang kerja Gang Hwa sambil bergosip dengan para suster. Dan arwah Gang Bin masih saja mengikutinya. Saat Gang Hwa datang, Geun Sang langsung menyindirnya yang mau ke Afrika. Suster yang mendengarnya menyebut Gang Hwa yang sudah gila karena mau keluar negeri walaupun sedang  di hukum. Gang Hwa kesal mendengarnya dan masuk ke dalam ruangannya sambil menyindiri suster itu yang terlalu tegas.
Setelah Gang Hwa masuk, Geun Sang meminta para suster untuk memaklumi Gang Hwa yang memang sedang ada banyak masalah. Mereka akhirnya berganti topik membahas mengenai jam tangan incaran Geun Sang. Geun Sang jadi sedih karena masih belum bisa mendapatkan jam tangan itu. Dia dulu pernah melihat jam tangan itu di pakai oleh Gang Bin.
Gang Bin yang mendengar jadi ingat saat Geun Sang menanganinya dan waktu itu menanyakan mengenai jam tangannya. Teringat itu, arwah Gang Bin memuji Geun Sang yang sangat berkelas.
--
Min Jeong mengirim pesan pada Yu Ri kalau Yu Ri bisa mulai bekerja minggu depan. Dan juga, karena Yu Ri bekerja di TK, jadi Yu Ri tidak perlu memasukkan surat lamaran kerja. Dia memberi nama kontak “Pengasuh Penjemput.”
Setelah mengirim pesan, Min Jeong jadi memikirkan kejadian tadi pagi.

Flashback
Min Jeong memakaikan baju Seo Woo. Saat itu, Gang Hwa keluar kamar dan siap berangkat kerja. Sebelum pergi, dia tiba-tiba mendekat pada Min Jeong dan membahas mengenai hasil penilaian psikologis Seo Woo waktu itu, bisakah mereka pergi bersama ke tempat konseling?

Min Jeong sedikit terkejut mendengarnya dan mengingatkan kalau waktu itu Gang Hwa kan bilang agar mereka tidak usah cemas. Gang Hwa membenarkan dan langsung berkata, ya tidak usah cemas.
End
Min Jeong heran mengingat sikap aneh Gang Hwa tadi itu.
--
Yu Ri sangat senang setelah mendapatkan SMS dari Min Jeong. Dia sudah bertekad akan mengusir hantu yang ada di rumah itu. Yu Ri kemudian fokus memotong bawang bombai.
Saat menyiapkan jeruk untuk anak-anak murid, guru Kim Hye Su membantunya. Melihatnya, Yu Ri mengucapkan selamat atas pernikahannya. Hye Su membalas dengan tersenyum, tapi wajahnya tampak tidak bahagia. Yu Ri menyadari hal tersebut dan sedikit heran.
--

Yu Ri saat bekerja, menyempatkan diri untuk melihat Seo Woo yang bermain di kelas. Dia senang karena Seo Woo tampak lebih ceria karena sudah tidak ada arwah di TK yang menganggunya.
Lagi asyik melihat Seo Woo, Yu Ri malah melihat ada sebuah arwah yang hendak masuk ke TK.
--

Arwah yang di lihat oleh Yu Ri adalah arwah supir Kim. Supir Kim hendak masuk ke dalam gedung TK, tapi dia tidak bisa, seolah ada yang menghalangi. Dan itu karena di sisi gerbang sudah ada jimat yang di tempeli.
Saat itu, Yu Ri keluar sambil berteriak untuk mengusirnya. Tapi, teriakannya berhenti saat melihat ternyata itu adalah arwah supir Kim.
--
Mereka akhirnya berbincang berdua. Yu Ri dan supir Kim tidak menyangka kalau dunia arwah pun begitu kecil seperti dunia manusia. Siapa sangka kalau putri supir Kim adalah guru TK di TK tempat Seo Woo sekolah. Supir Kim juga meminta maaf dan berkata tidak akan datang lagi ke Tk agar tidak mengganggu anak-anak.

Yu Ri juga memberikan selamat untuk supir Kim karena Hye Su akan segera menikah. Supir Kim senang mendengar ucapan selamat Yu Ri, tapi juga sedikit cemas. Dia memberitahu mengenai Hye Su yang terlihat murung padahal lusa sudahlah pernikahan Hye Su dan seharusnya, Hye Su merasa senang. Supir Kim takut kalau Hye Su merasa sedih karna dia tidak bisa mendampinginya di pernikahannya nanti. Dia jadi merasa tidak berguna dan merasa bersalah.

Yu Ri yang jadi kasihan padanya.
--

Ibu Yu Ri pergi ke kuil untuk berdoa. Tapi, pas keluar kuil, dia malah berjumpa dengan bibi Geun Sang yang dukun. Bibi Geun Sang tiba-tiba menghampiri ibu dan bilang kalau anak ibu tidak bisa reinkarnasi karena masih memikirkannya. Arwah anaknya selalu menangis karena memikirkan ibunya dan karena itu, pintu rumah Ibu di penuhi dengan roh jahat. Karena itu, ibu harus melakukan ritual atau membeli jimat darinya.
Ibu jelas marah mendengar ucapan dukun itu.
Pas sekali, Midong muncul dan memukulinya. Midong juga melihat jimat yang bibi hendak jual pada ibu. Bibi Geun Sang tidak terima di pukuli dan di marahi Midong hingga dia menyebutnya penipu. Siapa kau?

Midong merebut jimat bibi dan menunjukkan alamat website yang tertulis di sudut bawah kertas : www.midongs.co.kr Dia adalah pemilih website itu. Midong. Bibi yang takut langsung kabur setelah merebutnya jimatnya balas.
Saking kesalnya, Midong tidak sengaja bergumam kalau Yu Ri tidak senang menangis melainkan berkeliaran. Usai bergumam seperti itu, Midong baru sadar kalau Ibu Yu Ri masih ada di sana. Ibu jadi marah mendengar kalau anaknya di sebut arwah gentayangan. Midong jadi merasa bersalah.
--


Ayah menghabiskan waktu di rumah dengan melihat foto-foto nya bersama Seo Woo saat menjadi relawan. Dan begitu ibu pulang, dia langsung menutup ponselnya dan bersikap tidak melihat apapun.
--

Malam hari,
 Guru dan staff TK melakukan makan malam bersama. Yu Ri juga ikut dengan mereka. Sambil berbincang, mereka membahas mengenai Yu Ri yang selalu saja berkeliaran di sekitar TK dan juga dekat dengan anak kecil, terutama Seo Woo. Yu Ri beralasan kalau Seo Woo sangat cantik. Kecil saja sudah cantik, gimana besarnya. Mereka tertawa mendengar ucapan Yu Ri yang sudah seperti ibu kandung Seo Woo saja.
Saat semuanya tertawa, Hye Su terus saja murung dan bahkan terus minum. Rekannya sampai harus menghentikannya dan mengingatkan kalau pernikahan Hye Su sebentar lagi. Tapi, Hye Su terus saja minum hingga mabuk.
Setelah sangat mabuk, Hye Su tiba-tiba saja menangis terisak-isak. Semua jadi sedih melihatnya menangis. Hye Su terus menangis dan menanyakan untuk apa dia menikah? Untuk apa?
“Apa karena kau merindukan ayahmu? Karena ayahmu tidak bisa mendampingimu di pernikahan, kau menjadi sedih,” tanya Yu Ri.
“Tidak. Bukan begitu,” jawab Hye Su.
Arwah Supir Kim yang melihat dari jauh, tentu jadi sedih.
--
Hye Su duduk di pinggir jalan. Yu Ri menemaninya. Dan arwah supir Kim juga ada di sisinya, walaupun Hye Su tidak bisa melihatnya.
“Berjalan sendirian menuju pelaminan, itu tidak penting. Tak masalah karena kesedihannya hanya sementara. Bukan itu masalahnya,” ujar Hye Su pada Yu Ri. “Aku hanya merasa bersalah dengan ayahku.”
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
“Andai aku tak menikah di usia setua ini... Andai aku menikah di usia muda, ayahku bisa menikmati pesta pernikahanku. Seumur hidupnya, dia selalu mengutamakan kedua anak perempuannya tapi dia pergi tanpa melihat pesta pernikahan kami. "Kau membesarkan anakmu dengan baik. Aku tidak sia-sia membesarkan mereka." Dia tidak sempat mendengar kata-kata itu. Dia tidak sempat membanggakan anaknya. Saat aku terlihat bahagia besok, orang-orang akan berkata, "Kasihan sekali ayah mempelai wanita. Dia pergi sebelum melihat anaknya menikah." Itu semua karena aku. Kasihan sekali ayahku. Aku tidak sempat membahagiakan ayahku. Aku bahkan tidak bisa memberikan yang biasanya orang lain berikan,” tangis Hye Su, terisak-isak.

Supir Kim tentu sedih mendengar ucapan putrinya. Padahal, dia sangat bahagia untuk putrinya dan juga sangat bangga padanya. Tapi, putrinya malah merasa bersalah padanya. Hatinya merasa sedih hingga dia menangis dan beranjak pergi dari sana.
Yu Ri yang bisa melihatnya, tentu juga merasa sedih.
--

Nenek masih ada di rumah sakit menemani putrinya. Putrinya sedang bersama suaminya berbincang. Suaminya menyuruh putrinya untuk tidur dan beristirahat karena harus menjalani kemoterapi. Suaminya bertanya, apakah rasanya sakit?
Putrinya menjawab kalau rasanya sangat sakit, tapi anehnya, masih bisa di tahan. Dia juga tidak tahu kenapa. Setiap kali kesakitan, dia selalu teringat Ibunya.

Flashback
Nenek Jung menjalani pengobatan untuk penyakit kankernya. Dan dia menghembuskan nafas terakhirnya juga di rumah sakit. Putrinya yang menemani, Yeong Ae, menangis dan mengajak ibunya bicara. Memohon padanya untuk sadar. Memohon agar ibunya mengatakan sesuatu untuknya.
“Sa…kit,” itu yang nenek Jung katakan dan kemudian, meninggal.
Hanya kata itu yang Yeong Ae dengar. Dan rasa bersalah memenuhi tubuhnya.
End
“Ibuku wafat dengan kesakitan. Dia menderita kesakitan karena aku. Aku memaksanya melakukan semua yang bisa dilakukan, memaksanya untuk dirawat. Karena aku, ibuku pergi dengan penuh kesakitan. Mungkin karena itu, setiap kesakitan, aku selalu berpikir, "Daripada aku, Ibu pasti lebih merasa kesakitan." Tapi, "Apa aku tidak bisa menahan ini?" Sambil berpikir seperti itu, rasa sakitnya tertahan,” cerita Yeong Ae dengan sedih, meneteskan air mata.
Suaminya memeluknya erat dan berkata kalau itu bukanlah salah Yeong Ae.
Nenek Jung yang mendengar juga menangis sedih. Dia tidak menyangka anaknya berpikir demikian.



No comments:

Post a Comment