Tuesday, March 24, 2020

Sinopsis K- Drama : Memorist Episode 4 part 1

0 comments


Original Network : tvN
"Semua karakter, organisasi, tempat, dan peristiwa adalah fiktif”




Dong Baek memegang tangan Ki Dan dengan erat dan memandang nya dengan tatapan tajam. Para pengikut yang duduk dibangku penonton merasa terkejut melihat Dong Baek. Sebab mereka mengenal siapa Dong Baek.
“Lepaskan aku,” geram Ki Dan, marah.




Dong Baek tersenyum mendengar itu, dia mengangkat tangannya untuk memukul Ki Dan. Namun Sun Mi menghentikan nya. “Jangan gegabah. Mundur,” katanya, memperingatkan.
Dong Baek menatap tidak senang pada Sun Mi yang menahan tangannya. Lalu dia menatap ke arah Ki Dan kembali. “Aku akan membunuhmu.”
“Ini perintah,” tegas Sun Mi.

Saat Dong Baek sudah melepaskan tangan Ki Dan, asisten Ki Dan memarahi Dong Baek, sebab Dong Baek telah memperlakukan pemimpin kudus Ki Dan dengan tidak sopan. Dan Sun Mi pun menggantikan Dong Baek untuk meminta maaf kepada mereka.
“Seakan-akan itu cukup. Kamu menyentuh tubuhnya yang kudus,” kata Asisten Ki, marah.
“Aku Inspektur Han Sun Mi. Dia akan ditahan dan bertanggung jawab,” jelas Sun Mi.
“Kamu pasti membaca ingatanku,” kata Ki Dan.


Sun Mi mencoba membuat alasan untuk melindungi Dong Baek. Tapi Dong Baek secara terang- terangan malah mengakui perbuatannya, bahkan dia mengatai Ki Dan sebagai psikopat pembunuh. Mendengar itu, semua pengikut yang berada di bangku penonton merasa terkejut dan heboh.
“Apa kamu sudah gila?” bentak Asisten Ki. Lalu dia berbisik pelan kepada Ki Dan. “Aku akan menelepon Komisaris Jenderal.”


“Sudah kuduga. Keahlian psikopat adalah perbuatan iblis,” kata Ki Dan, mengatai Dong Baek.
“Iblis?” balas Dong Baek, mempertanyakan dengan kesal. Dan Sun Mi menyuruhnya untuk jangan bicara lagi. Jadi diapun diam.
“Kamu tidak pernah meragukannya? Kamu tidak pernah berpikir bahwa kamu pembawa pesan iblis? Seperti itulah iblis. Memberi kekuatan palsu kepada orang-orang yang mereka anggap sebagai target untuk diganyang,” kata Ki Dan, terus mengatai Dong Baek.
“Kamu benar. Aku iblis yang akan menyeretmu ke neraka,” balas Dong Baek, mengaku.

Asisten Ki marah mendengar itu, dia memanggil petugas keamanan untuk mengusir Dong Baek pergi. Dan para pengikut setuju.
“Masih belum terlambat. Bertobatlah dan kamu akan mengalami penebusan,” kata Ki Dan sambil memegang tangan Dong Baek. Seolah dia orang baik.
“Kamu ingin aku meninju wajahmu di depan semua orang?” balas Dong Baek, geli.



Ki Dan mendekat dan berbisik di dekat telinga Dong Baek. Sehingga hanya Dong Baek yang bisa mendengar perkataannya. Dia menantang Dong Baek, apakah Dong Baek cukup berani. Dan dengan berani, Dong Baek pun langsung memelintir tangan Ki Dan.


Melihat itu, para pengikut dibelakang merasa heboh. Tapi Dong Baek tidak peduli, dia menyuruh Ki Dan untuk menunggu, karena Ki Dan akan segera tahu bagaimana rasanya terbakar. Setelah mengatakan itu, dia melepaskan tangan Ki Dan serta jubah putih yang dipakainya. Lalu dia pun pergi darisana.
Sun Mi turun dari atas panggung dan mengikuti Dong Baek pergi darisana.

Ki Dan tersenyum kecil melihat mereka berdua.



Diluar gedung. Sun Mi mengatai tindakan Dong Baek bodoh. Sebab Ki Dan adalah pemimpin kultus yang paling berpengaruh di negara ini. Awalnya dia ingin membuat Ki Dan merasa lengah dengan berpura- pura tidak tahu bahwa Ki Dan adalah Tersangka utama. Namun Dong Baek malah membuka kartu mereka secara terbuka. Jadi menurutnya orang pemarah seperti Dong Baek tidak seharusnya menjadi polisi.
Mendengar itu, Dong Baek merasa kesal. “Lekas marah? Itukah yang kamu katakan?” tanyanya. Dia mengingat penderitaan Korban yang dibunuh oleh Ki Dan. “Aku bisa masuk ke sana dan menghajarnya habis-habisan, tapi aku menahan diri… “ jelasnya dengan emosi. “Vilanya. Geledah tempat itu dahulu,” jelas nya. Kemudian dia pun pergi.

Kyung Tan dan Se Hoong yang datang menjemputnya, mereka turun dari mobil dan menyapa Sun Mi. Melihat itu, dengan tidak sabaran, Dong Baek memanggil mereka untuk segera berangkat, karena mereka sudah tidak punya waktu.
“Diam,” perintah Kyung Tan dengan tegas. Lalu dengan ramah, dia berbicara kepada Sun Mi. “Dia tidak selalu seperti itu, tapi kemampuannya ini membuatnya gegabah dari waktu ke waktu,” jelas nya.
“Kamu akan terbiasa dengannya,” tambah Se Hoong.
“Teman-teman!” panggil Dong Baek. Dan mereka pun berangkat.

Sun Mi menatap ke pergian mereka. Lalu dia mengangkat telpon masuk dari Inspektur A. Dia menanyakan, apakah surat perintahnya sudah ada. Dan Inspektur A menjelaskan bahwa Jaksa tidak mau menandatangani surat tersebut dengan alasan dia tidak percaya kalau semua ini benar.
“Mungkinkah seseorang menekannya?” tanya Sun Mi, curiga.
“Tidak, hanya saja dia terlihat ketakutan.”


Sun Mi datang menemui Inspektur A di kantor kejaksaan. Dan ternyata Jaksa penuntut sedang rapat. Dia pun menghubungi Lim untuk menanyakan, apakah Lim sudah mengepung vila Ki Dan. Dan Lim mengiyakan, mereka sudah bersiap, lalu tadi ada sebuah minivan yang masuk ke dalam vila. Isi minivan itu adalah pembantu, semuanya wanita tua.
“Surat perintahnya akan kukirim lewat faks, jadi, bersiaplah bertindak,” jelas Sun Mi. Dan Lim merasa ragu untuk bertindak. “Mereka hanya pembantu, jadi, bertahanlah!”
Jaksa penuntut lewat di dekat Sun Mi dari belakang. Melihat itu, Inspektur A menatap Sun Mi dengan penuh arti untuk memberitahu nya. Dan menyadari itu, Sun Mi pun mematikan telponnya dan mengikuti Jaksa penuntut yang lewat.
Sun Mi menanyakan, apa alasan Jaksa penuntut. Dan Jaksa penuntut menjawab bahwa dia tidak mau, karena buktinya tidak cukup. Saat Sun Mi ingin marah, Jaksa penuntut malah membentaknya dengan menyuruhnya untuk bekerja dengan lebih baik, sebab dia membutuh kan lebih banyak bukti untuk setuju.

“Kamu bercanda?” tanya Sun Mi dengan ketus. “Jika aku punya bukti, aku akan meminta surat penahanan,” jelasnya, marah.
“Jujur saja. Tahukah kamu berapa banyak pejabat tinggi yang menerima hadiah uang dari Park Ki Dan saat hari raya? Ratusan, termasuk Hakim Agung!” jelas Jaksa penuntut.
“Tuntutlah mereka atas tuduhan menerima suap,” balas Sun Mi dengan sederhana. Dan Jaksa penuntut menghela nafas malas.


Sun Mi terus mengikuti Jaksa penuntut dan mempertanyakan tindakkan nya. Dia menanyakan, apa yang paling penting. Dan Jaksa penuntut menjawab kekuasaan, dan kekuasaan itu berasal dari uang. Dengan demikian, Park Ki Dan yang menduduki puncak rantai makanan adalah orang yang penting.
“Apa pentingnya jika kita mengejar pembunuh?” tanya Sun Mi, kesal.
“Jika tidak tahu, tidak ada yang bisa kukatakan,” balas Jaksa penuntut, malas.



Lim menelpon. Dan Sun Mi pun menjawab dengan emosi. Tanpa menyadari kenapa Sun Mi emosi, Lim meminta Sun Mi untuk segera datang, sebab ada orang yang datang dengan surat penggeledahan dan penyitaan Park Ki Dan.
Mengetahui itu, Sun Mi terkejut. “Apa?”
"Memorist: Ep 4, Pedang Bermata dua"

"Tiga jam yang lalu". Dikantor Kejaksaan wilayah barat.
Jaksa Kepala, Yeo Ji Sook. Dia memarahi para anggotanya, karena kasus pembatalan penahanan Dong Baek yang memalukan kantor kejaksaan mereka. Sehingga itu membuat nya dirundung dengan tidak adil diluar sana.
Kemudian disaat itu, Dong Baek datang.

Ji Sook tinggal berdua dengan Dong Baek didalam ruangan. Dia menanyakan, apa yang Dong Baek inginkan. Dan Dong Baek menjawab bahwa dia ingin meminta tolong. Ji Sook mengira Dong Baek ingin meminta kelonggaran. Dan Dong Baek dengan tegas menjawab tidak, malahan dia akan mengakui semua tuduhan yang di tuduhkan padanya. Tapi dengan satu syarat. Mendengar itu, Ji Sook merasa heran, tapi kemudian dia mengerti.
“Kamu ingin mengejar Park Ki Dan tanpa bukti kuat?” tanya Ji Sook.
“Aku membaca ingatannya saat melakukan pembunuhan,” jelas Dong Baek.
“Lalu kenapa? Tanpa persetujuan, pindaianmu tidak bisa diterima di pengadilan.”
“Ada cukup bukti tidak langsung, dan Unit Investigasi Metropolitan mengeluarkan surat perintah tanpa pindaian ingatanku.”



Ji Sook dengan ketus menyuruh Dong Baek untuk meminta surat perintah dari kantor Seoul Pusat saja. Dan Dong Baek menjawab tidak bisa, karena dalam ingatan Ki Dan yang dilihatnya, dia melihat Jaksa penuntut berlutut di hadapan Ki Dan untuk menerima berkatnya. Dan Jaksa penuntut juga ada menerima beasiswa dari Ki Dan. Jadi Unit Investigasi Metropolitan tidak akan beruntung disana.

“Baiklah, anggaplah aku melanggar batas dan mengeluarkan surat ini,” kata Ji Sook, setuju. “Kenapa kantor ini harus menandatanganinya?” tanyanya dengan serius.
“Hakim Song Seung Pil dari Kejaksaan Wilayah Barat. Dia hanya mengincar orang gila yang menjadikan dia gila sepertiku. Semua orang tahu itu. Kita hanya perlu menggeledah ruang kerjanya. Jurnal pembunuhannya akan ada di sana. Setelah Park Ki Dan dipenjara, aku akan menerima tuduhanku,” jelas Dong Baek.

Ji Sook masih merasa ragu. Dia mempertanyakan, kenapa dirinya harus melibat kan diri dalam masalah ini. Dan Dong Baek menjawab bahwa dia mengira semua Jaksa suka menjadi sorotan, masalah ini mungkin saja akan merusak karier Ji Sook, tapi Ji Sook akan menjadi bintang nasional begitu kasus ini selesai.
“Risiko tinggi, keuntungan tinggi,” gumam Ji Sook sambil tersenyum.

Seorang karyawan dari pihak Kejaksaan barat memberitahu Lim dan anggotanya bahwa mereka akan melaksanakan perintah penggeledahan. Jadi mereka ingin tahu siapa pengurus nya. Dan Lim serta anggota nya merasa bingung untuk menjawab.

“Apa dia bodoh? Mereka semua detektif. termasuk area publik di sekelilingnya,” kata Ji Sook kepada anggota A yang berdiri di sebelahnya. Dan mengerti maksud Ji Sook, si anggota A pun mendekati si karyawan.
“Mereka detektif,” bisik anggota A, memberitahu dengan berbisik. Dan dengan malu, si karyawan berdehem pelan.

Anggota A memencet bel vila. Tapi tidak ada jawaban, jadi Det. Choi pun memanjat pagar dan masuk duluan kedalam, lalu dia membukakan pagar bagi mereka dari dalam. Setelah itu, mereka semua masuk bersama- sama ke dalam vila Ki Dan.
Dari jauh, Se Hoong bersembunyi dan merekam para Jaksa dan detektif yang berdiri didepan pintu vila Ki Dan.
Kyung Tan dan Dong Baek menonton tindakan para Jaksa dan detektif dari hp.

Ji Sook menanyai Lim, siapa yang berada didalam vila. Dan Lim menjawab pembantu. Mendengar itu, Ji Sook merasa heran, sebab belum ada yang membukakan pintu bagi mereka juga dari dalam.


Se Hoong masih men-videokan mereka.
“Dia datang,” kata Kyung Tan, memberitahu Dong Baek. Saat dia melihat beberapa mobil melaju ke arah vila Ki Dan.


Sun Mi dan Inspektur A, mereka sampai secara bersamaan dengan Asisten Ki dan para pengikut nya. Dan mereka pun masuk bersama- sama ke dalam vila.
Ki Dan duduk menunggu di dalam mobil dan memperhatikan mereka semua.

Asisten Ki memanggil pembantu yang berada di dalam rumah untuk membuka pintu, tapi sama sekali tidak ada respon. Dan sambil tertawa pelan, dia memberitahu semuanya, para Jaksa dan detektif, bahwa para pembantu yang berada di dalam rumah memiliki pendengaran yang kurang baik karena sudah tua.
Mendengar itu, semuanya merasa kesal, tapi tidak ada yang curiga. Namun tiba- tiba Sun Mi mencium bau cat.

Kyung Tan dan Dong Baek melihat menggunakan teropong. Dan mereka melihat ada asap yang muncul di vila Ki Dan.
“Sial,” umpat Dong Baek. “Mereka membakar buktinya. Hentikan mereka!” perintah nya. Mendengar itu, Se Hoong terkejut.
Sun Mi dan para Jaksa akhirnya sadar apa yang dilakukan oleh Asisten Ki dan para pengikut nya. Mereka menghancurkan barang bukti yang berada di dalam vila. Dan setelah mereka melakukan itu, barulah mereka membuka pintu rumah dan mempersilah kan semuanya untuk masuk ke dalam sana.
Dong Baek menatap kesal.


Didalam vila. Para detektif dan Jaksa ingin mengambil serta mencari barang bukti yang bisa digunakan. Tapi sayangnya, semuanya telah lenyap. Beberapa dokumen, di temukan telah terbakar hangus didalam perapian yang menyala.
Dinding ruang kerja Ki Dan, semuanya telah di cat menggunakan cat baru. Sehingga semua yang ada disana sudah tertutupi dan menghilang.
Ki Dan tampak puas dan dengan tenang tidur didalam mobil.
Dong Baek merasa sangat marah. Dia ingin ke sana dan menghajar para pelaku. Tapi Kyung Tan menahannya dan memintanya untuk tenang.
“Jika kamu terlibat, itu akan menjadi pencarian ilegal,” kata Kyung Tan.
“Bedebah itu,” umpat Dong Baek.

Dikarenakan semua barang bukti telah rusak dan hangus, maka para Jaksa dan Detektif gagal untuk mendapatkan bukti apapun. Dan disaat mereka sedang merasa putus asa, Ki Dan masuk ke dalam rumah serta menyapa mereka semua.
“Aku sedang merenovasi tempat ini, jadi, agak berantakan,” kata Ki Dan. Kemudian dia menatap ke arah Ji Sook. “Anda dari Kantor Kejaksaan Wilayah Barat?”

“Aku Jaksa Kepala Yeo Ji Sook,” kata Ji Sook, memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangan. Tapi Ki Dan mengabaikan uluran tangannya.
“Apa Jaksa Kepala juga turun ke lapangan?” tanya Ki Dan, penuh arti. “Itu tidak biasa.”
Dengan tenang, Ji Sook berbicara. Dia mengomentari bahwa Ki Dan pasti sangat tertarik dengan proses investigasi. Dan Ki Dan membalas bahwa Ji Sook pasti merasa bingung sekarang, ntah harus mengakui kesalahan dan meminta maaf atau terus terpedaya rumor konyol dan tetap bersikap tidak ramah. Mendengar itu, Ji Sook tetap bersikap tenang.
“Imajinasi Anda cukup hebat,” puji Ji Sook. “Tapi itukah prasyarat untuk bergabung dengan kultus Anda?” tanyanya.

Ki Dan mengabaikan pertanyaan Ji Sook dan tertawa geli. Dia menatap ke arah Sun Mi dan mengatakan bahwa dia mendengar penyelidikan polisi akan segera di hentikan. Dan Sun Mi memuji Ki Dan yang tahu banyak hal.
“Tidak ada yang tidak dilihat atau didengar dewa,” kata Ki Dan, sok suci. Dan dengan ketus, Sun Mi menanggapinya.
“Setidaknya Anda tidak kesepian sekalipun masuk sel soliter.”


Pengacara Park menyarankan Ki Dan untuk mengabaikan Sun Mi. Tapi Ki Dan menenangkan nya untuk tidak perlu khawatir. Menurutnya, dia harus lebih membuka hati kepada yang tidak percaya. Dia kemudian berbicara kepada semuanya dengan sikap seolah- olah dia adalah dewa yang kudus. Dia mengatakan kalau dia akan memberikan mereka kesempatan untuk bertobat. Dan semuanya diam, mengabaikan perkataan itu dengan malas.
“Ada seseorang yang memaafkan pengkhianat tiga kali. Setidaknya aku harus melakukan itu,” kata Ki Dan, mengatai mereka secara tidak langsung. “Begini saja. Jika kalian mengakui kesalahan dan meminta maaf, kalian tidak perlu bertanggung jawab.”
“Apa Anda mengejek pemerintah?” balas Ji Sook.
“Apa aku menghina Anda?” balas Ki Dan, bertanya. “Hal-hal seperti penghinaan berakar dari rasa rendah diri.”

Sun Mi mengepalkan tangannya untuk menahan emosi. Lalu dia mendekati Ki Dan. “Aku juga akan memberi Anda kesempatan. Kesempatan untuk menyerahkan diri dan mati seperti manusia.”
“Itu kesalahan kedua Anda,” balas Ki Dan. “Ada lagi, dan aku tidak senang.”


Sun Mi sama sekali tidak takut dengan Ki Dan. Dia mengungkit sel bawah tanah, menurutnya itulah ketidak senangan yang sesungguh nya, berada diruangan sempit yang tidak bisa dibobol diruang isolasi.
Ki Dan mulai berceramah, dia menjelaskan bahwa keberanian hanya memungkinkan jika Sun Mi bersatu dengan dewa. Jadi tindakan Sun Mi sekarang, menurutnya itu bukanlah keberanian. Melainkan ketidakpatuhan dan ketidaktahuan.
“Ejek aku sesuka Anda. Siksaan abadi Anda baru saja dimulai,” kata Sun Mi dengan tegas dan tatapan tajam. Kemudian dia pun pergi darisana bersama semua timnya.
Ji Sook bersama dengan semua anggotanya juga pergi darisana.
Ki Dan tersenyum.
Se Hoong merasa frustasi melihat semua orang keluar dari dalam vila Ki Dan, tanpa mendapatkan hasil apapun.
Dong Baek yang memperhatikan dari jauh. Dia juga merasa frustasi.

Didalam mobil. Kyung Tan menjelaskan bahwa saat ular berbisa masuk ke terowongan bawah tanah, maka mereka harus menusuk nya dengan tongkat dan mengeluarkan nya darisana. Setelah mengatakan itu, dia menghubungi Ji Eun.
“Halo, Nona Kang,” sapa Kyung Tan dengan sangat ramah. “Begini, kamu orang pertama yang terlintas di benakku… Bagaimana? Kamu mau informasi?”

Ji Sook diberhentikan dari pekerjaan dan jabatannya sebagai Kepala Jaksa. Sun Mi datang ke kantornya dan memintanya untuk bekerja sama, dia ingin Ji Sook memanggil Ki Dan. Dan tanpa semangat, Ji Sook menolak, dia menjelaskan bahwa dia merasa menyesal telah bekerja dengan orang aneh seperti Dong Baek.
“Kamu akan menyerah? Dia pembunuh,” kata Sun Mi dengan frustasi.


“Kamu tahu perasaan terburuk sebagai jaksa? Saat tahu seseorang bersalah, tapi tidak bisa berbuat apa pun. Aku sudah mengalaminya dengan banyak bedebah,” jelas Ji Sook sambil membuang dokumen yang tidak penting ke tempat sampah.
“Aku tidak pernah menyerah sekali pun. Aku mengurus semua penjahat yang pernah kutemui,” kata Sun Mi, memohon.
“Kalau begitu, semoga berhasil,” balas Ji Sook. Lalu dia pergi.


Diluar kantor kejaksaan. Para masyarakat berdemo mengutuk Jaksa supaya enyah, karena telah menuduh orang yang tidak bersalah. Dan tepat saat mobil Sun Mi mau keluar dari kantor kejaksaan, para masyarakat melempari mobilnya dengan telur. Dan Sun Mi terkejut.
“Kamu akan pergi ke neraka!” teriak para masyarakat yang berdemo. Lalu mereka menempel kan sesuatu di depan kaca mobil Sun Mi. "Jaksa penuntut memalsukan ingatan orang!"

Didalam kamar hotel. Para rekan Ji Eun yang memiliki otoritas lebih tinggi, mereka sibuk bertelponan untuk memutuskan, apakah informasi yang Kyung Tan berikan memang benar dan boleh di beritakan di media.
“Mereka butuh waktu untuk memutuskan. Mereka tidak punya pilihan selain berhati-hati,” kata Ji Eun, menjelaskan kepada Kyung Tan yang sudah cukup lama menunggu.
“Kami datang karena memercayaimu,” balas Kyung Tan, mengerti.

Dong Baek yang sedari tadi hanya diam saja dan mendengarkan. Dia merasa tidak sabaran dan ikut berbicara. Dia memberitahu Ji Eun bahwa memberitakan ini saja tidak akan cukup, Ki Dan juga harus disiarkan di gelar wicara satu jam. Dan Ji Eun menjelaskan bahwa mereka sedang mengusahakannya dengan Depatermen Berita Terbaru.


Rekan 1 yang telah selesai bertelponan dengan bagian tertinggi, dia memberitahu semuanya bahwa dia telah mendapatkan izin dan mereka bisa mulai meliput. Namun sebelum disiarkan, mereka harus mengumpulkan cukup informasi. Dan mereka butuh alasan yang bagus untuk memulai ini.
“Apa lagi yang kalian butuhkan? Dong Baek memindai ingatannya. Kamu tahu orang-orang terobsesi mencegahnya melakukan pemindaian ingatan,” jelas Kyung Tan. Lalu saat semuanya hanya diam, dia merasa kecewa. “Media memang yang terburuk.”
“Kami tidak bisa membuat liputan hanya dari pindaian ingatannya,” kata rekan 1, menjelaskan.
“Lalu apa yang kalian butuhkan?” tanya Ji Eun.
“Bukti atau saksi selain Detektif Dong,” jawab rekan 2.

Kyung Tan mengeluh kesal, jika mereka punya cukup bukti, maka mereka tidak akan menghubungi media, malahan mereka akan langsung menangkap pelaku nya saja. Dan semuanya diam. Dong Baek mengerti, dia yakin bahwa semuanya tidak ingin melewatkan informasi ini, tapi semuanya membutuhkan jaminan, karena semuanya takut ini akan menjadi bumerang.

“Kurasa kamu tidak tahu ini. Tapi wartawan mempertaruhkan nyawa mereka saat menulis artikel,” kata rekan 1, menjelaskan dengan ketus.
“Lalu adakah yang pernah mati saat menulis artikel?” balas Dong Baek, bertanya dengan sinis. Lalu diapun  mengajak Kyung Tan untuk pergi saja.


“Detektif Dong,” panggil Ji Eun, merasa tidak enak hati.
“Mereka terlalu takut untuk merebut apa yang ada di hadapan mereka. Kalian sama saja dengan Park Ki Dan,” kata Dong Baek, kesal.
“Tidak ada gunanya pergi ke tempat lain.,” kata rekan 1, menghentikan langkah Dong Baek yang ingin pergi. “Tidak ada perusahaan berita yang mau menyerang Park Ki Dan tanpa bukti.”
Mendengar itu, Kyung Tan dan Dong Baek merasa sangat kesal.

Se Hoong mengedor pintu kamar hotel dengan panik. Dia memanggil- manggil Dong Baek. Dan Dong Baek pun membuka kan pintu baginya.
“Kamu dalam masalah,” kata Se Hoong, memberitahu Dong Baek. Juga dia memberikan amplop yang diterimanya dari Komite Legislasi dan Kehakiman.
Berita di TV. “Pagi ini, para administrator Komite Legislasi dan Kehakiman setuju mengadakan sidang legislatif dan mengeluarkan surat panggilan untuk Detektif Dong Baek.”
“Tentu saja, dia harus meminta izin orang itu dahulu. Kami tidak mencoba mempermalukan nya. Kami hanya ingin mendengar cerita versinya,” kata Ketua Komite dalam wawancara nya dengan wartawan.


Didalam restoran. Ji Eun melihat surat panggilan saksi yang diterima oleh Dong Baek. Menurutnya para tertinggi pasti sedang mencoba mempermalukan Dong Baek dengan mengadakan pengadilan terbuka agar masyarakat bisa melihat secara langsung. Serta dia yakin kalau Ki Dan adalah dalang di balik hal ini, sebab Ki Dan ingin memastikan ingatan Dong Baek tidak berpengaruh di pengadilan.
“Dia tidak wajib menghadirinya. Tapi jika dia tidak datang, media pasti akan mempermasalahkan hal itu,” komentar Kyung Tan dengan sinis.
“Dia tidak membicarakanmu. Kami tahu kamu akan selalu memihak kami,” kata Se Hoong, menghibur Ji Eun. Dan Ji Eun tersenyum mengerti.


Setelah minum beberapa gelas soju, Kyung Tan menyarankan Dong Baek untuk berhenti saja. Menurutnya lebih baik Dong Baek pergi ke BIN atau perusahaan besar, dimana Dong Baek akan dibayar sesuai kemampuan Dong Baek. Karena sekarang, Dong Baek selalu terluka secara fisik dan emosional. Mendengar itu, Dong Baek hanya diam saja.
“Berhentilah bekerja sebagai detektif yang selalu dikritik, meski kita berusaha keras menangkap pelakunya,” kata Kyung Tan dengan perhatian.
“Aku tidak keberatan dipecat. Tapi aku akan pergi setelah memotong kepala ular itu,” balas Dong Baek sambil ikutan minum.

Tepat disaat itu, Sun Mi datang dan mendengar pembicaraan mereka.


Diluar restoran. Sun Mi  berbicara berduaan dengan Dong Baek. Sun Mi menanyakan, apakah Dong Baek sudah menyerah dengan Ki Dan. Sebab Dong Baek bisa makan- makan dengan senang, kepadahal belum bisa menangkap Ki Dan.
“Apa tim penyidik sudah bubar?” tanya Dong Baek.


“Bagi ingatan Park Ki Dan kepadaku. Aku akan mencari bukti apa pun dari ingatan itu,” kata Sun Mi dengan percaya diri. Tapi Dong Baek merasa pesimis, karena semua bukti yang ada di vila Ki Dan telah hangus semuanya. “Aku tidak mencari bukti dari ingatannya. Aku ingin mencari hal yang tidak bisa dia ingat. Kita harus menemukan bukti yang ada di bawah alam sadarnya,” jelas nya sambil menunjukkan kertas hinaan yang di terimanya.

Dong Baek diam dan menatap Sun Mi untuk menilainya.

No comments:

Post a Comment