Sunday, March 1, 2020

Sinopsis K- Drama : When The Weather Is Fine Episode 2 - part 2

0 comments


Original Network : jTBC Viki

“Bibi sering sakit kepala?” tanya Hae Won, saat sarapan bersama dengan Myeong Yeo. “Aku pergi ke apotek di kota tadi pagi dan apoteker bilang Bibi sakit kepala parah.”
“Siapa yang tidak sakit kepala? Selain itu, aku seorang penulis,” balas Myeong Yeo dengan santai memakan sarapannya.
“Bibi tidak menulis apa pun sekarang.”
“Bibi menulis banyak sekali sehingga masih sakit kepala.”


Dengan perhatian, Hae Won menyarankan Myeong Yeo untuk memeriksa kan diri di rumah sakit. Dan Myeong Yeo menjawab sudah, dan dokter mengatakan tidak ada masalah. Kemudian Myeong Yeo mengeluhkan, apakah Hae Won tidak akan terus bermalas- malasan, jika tidak dia menyarankan Hae Won untuk segera kembali ke Seoul pekan depan.
“Tidak, aku ingin tetap di sini dan bekerja paruh waktu. Aku yakin bisa menemukan seseorang yang ingin kursus musik,” kata Hae Won dengan percaya diri.
“Tidak akan. Bibi sudah tinggal di sini selama 20 tahun. Bibi belum pernah melihat orang yang ingin kursus musik. Tidak sekali pun. Bibi tidak yakin soal piano, tapi tidak ada yang bermain selo,” balas Myeong Yeo dengan tegas.
“Aku juga pandai bermain piano,” balas Hae Won, cepat. “Dan menari,” tambahnya. Dan Myeong Yeo pun malas berkomentar lagi.

Toko Buku Good Night memasang iklan lowongan pekerjaan. Membaca itu, Hae Won segera pergi ketempat Eun Seop. Dia menunjukkan iklan tersebut sambil tersenyum dan menunjuk dirinya sendiri. Dan Eun Seop merasa bingung apa maksud nya.


Eun Seop membawa Hae Won ke Sawah Bukhyeon-ri Arena Seluncur Es. Dia ingin mencari orang yang bisa berseluncur. Dengan canggung, dia bertanya, apakah Hae Won bisa berseluncur. Dan Hae Won menggelengkan kepala nya, tanda tidak bisa.
“Omong-omong, kamu membutuhkan seseorang yang bisa bermain piano?” tanya Hae Won, memberanikan diri nya. “Tidak?” gumamnya saat melihat reaksi bingung Eun Seop. “Lupakan saja. Sampai jumpa,” katanya, kemudian dia ingin pergi.


“Tunggu,” panggil Eun Seop. “Bagaimana jika kamu bekerja di toko buku? Aku akan bekerja di sini.”
“Kenapa?”
“Kenapa? Karena…” kata Eun Seop dengan gugup. Dia diam dan berpikir sesaat. “Karena aku bisa berseluncur,” jelasnya.

Eun Seop membawa Hae Won ke toko buku Good Night. Disana dia menjelaskan kepada Hae Won bahwa tidak ada banyak yang harus di lakukan, sebab jarang ada pelanggan. Dan dengan bingung, Hae Won menanyakan, bagaimana Eun Seop mencari nafkah jika begitu. Dan Eun Seop menjawab bahwa dia menjual buku daring, meskipun begitu, terkadang ada juga pelanggan yang datang.
“Jadi, aku harus menjaga tempat ini?” tanya Hae Won.

“Ya,” jawab Eun Seop sambil tersenyum gugup. “Lalu aku akan pergi ke arena seluncur es. Tanya aku jika ada pertanyaan,” jelasnya. Lalu dia pun pergi.
Setelah Eun Seop pergi. Hae Won tersenyum.

Hae Won merasa ngantuk dan bosan karena tidak ada siapapun di sekitarnya dan dia hanya bisa terus membaca buku saja. Kemudian dia mendengar suara tawa anak- anak di luar, jadi diapun membuka jendela dan memandangi para anak- anak yang sedang bermain di arena seluncur es.

Ibu Eun memanggil Eun Seop dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah, sebab sepirhan cabai merah tertinggal dirumah. Lalu dengan perhatian dia memakai kan syal kepada Eun Seop.
Melihat hal tersebut dari jauh, Hae Won tersenyum lembut.


Hwi naik ke atas sepeda dan ingin ikut pulang bersama dengan Eun Seop. Tapi sebelum mereka berdua pergi, Ayah Eun menghentikan mereka, dia menyuapi makanan yang dibawa nya kepada mereka berdua. Kemudian mereka berdua pun pergi dari sana. Eun Seop menaiki sepeda meninggalkan Hwi yang berlari mengejar nya dari belakang.
Melihat hal tersebut dari jauh, senyum Hae Won semakin melebar. Dia tertawa lembut.

Malam hari. Eun Seop datang ke toko buku. Dan Hae Won menyambutnya sebagai pelanggan pertama yang datang hari ini. Dengan gugup, Eun Seop menjelaskan bahwa terkadang memang tidak ada pelanggan sama sekali. Dan Hae Won tertawa.

“Sebenarnya, hampir tiap hari,” kata Eaun Seop, mengaku malu- malu. “Terima kasih. Kamu boleh pulang sekarang,” katanya.
“Kalau begitu, aku permisi.”

Sebelum Hae Won pergi, tepat disaat itu Jang Woo datang. Dia mengajak Hae Won untuk minum bersama. Tapi sialnya, saat dia baru saja mengatakan itu, bir yang di bawanya terjatuh ke lantai semuanya, karena box bir nya bolong.
“Astaga, aku merasa hal seperti ini hanya terjadi kepadaku,” keluh Jang Woo dengan malu. Dan Eun Seop serta Hae Won segera membantu nya untuk memungut bir yang terjatuh.

Jang Woo menarik nafas dalam- dalam selama beberapa kali. Kemudian dia menceritakan bahwa perutnya selalu terasa sakit setiap kali dia membicarakan ini. Orang tuanya terus menekannya untuk segera menikah, kepadahal dia ingin berkencan dahulu. Serta usianya masih 27 tahun, jadi dia belum mau terburu- buru menikah.

“Ji Yeon memberitahuku bahwa orang-orang di sini cenderung menikah muda,” komentar Hae Won.
“Ya, itu benar. Itulah masalahnya. Aku penasaran siapa yang memulai tren sialan itu,” keluh Jang Woo dengan kesal. “Siapa? Ibumu? Ibumu?” tuduhnya sambil menunjuk Eun Seop.
Eun Seop menepis tangan Jang Woo. “Tidak, ibuku mau aku terlambat menikah.”

“Benar. Ibu Eun Seop sangat menyayanginya. Dia selalu memanggilnya, "Anaku sayang.",” kata Jang Woo setuju. Lalu dia kembali mengeluh kesal lagi, saat melihat cara minum Eun Seop. “Astaga, kamu pecundang. Kamu akan menyesapnya semalaman? Aku sudah minum kaleng keempat,” keluhnya sambil memaksa Eun Seop untuk minum. Dan Eun Seop pun meminumnya.
Memperhatikan mereka berdua, Hae Won hanya tersenyum saja.

Jang Woo menanyai Hae Won, siapa yang paling membuat Hae Won kesal saat di sekolah dulu. Kalau baginya, Eun Seop lah yang paling membuatnya kesal, karena Eun Seop selalu menyendiri dan tidak peduli. Sementara dia harus belajar dan bekerja keras untuk membahagia kan orang tuanya. Orang mungkin berpikir betapa mudahnya bagi dia untuk mendapatkan nilai bagus, tapi sebenarnya untuk mendapatkan itu dia harus belajar semalaman dan melakukan apapun untuk menyenangkan semua orang di sekolah.
“Semua kerja keras itu menjadikanmu satu dari tiga teratas,” puji Hae Won.
“Benar. Kerja kerasku membuahkan hasil,” kata Jang Woo dengan bangga. Dan Eun Seop tertawa. Dengan kesal, Jang Woo langsung meneka bahu Eun Seop. “Apa kamu tertawa? Beraninya kamu. Kamu menyesal atau tidak?” ancamnya, bercanda.
“Ya. Ampun,” balas Eun Seop, cepat menyerah.

Jang Woo kemudian membahas tentang Kim Bo Yeong. Dan mendengar nama itu, Hae Won langsung berhenti tertawa.
“Dia ingin membicarakan sesuatu denganmu. Dia bilang ada kesalahpahaman di antara kalian. Dia ingin meluruskan kesalahpahaman,” kata Jang Woo, menyampaikan perkataan Bo Yeong. Dan suasana tiba- tiba menjadi canggung serta hening. Jang Woo pun merasa bingung.


“Aku sangat benci dengan kata "kesalahpahaman". Apa artinya itu? Jika kita melakukan kesalahan, akuilah itu dan meminta maaf. Kurasa itu hanya alasan,” kata Hae Won dengan tegas dan serius. “Itu menyiratkan bahwa kita tidak melakukan kesalahan. Artinya, "Aku tidak bersalah. Kamu salah paham. Karena kemampuan komunikasimu yang tidak cukup tajam, kamu salah paham dengan tindakanku." Itu artinya mereka akan terus menyalahkanmu. Itu alasan yang konyol,” jelas nya.
“Astaga. Benar. Kurasa itu alasan yang konyol,” balas Jang Woo dengan gugup. “Dia sangat berterus terang. Dia terus terang,”  bisiknya dengan sikap takut kepada Eun Seop. Dan Eun Seop hanya diam.
Hae Won mendengar bisikan Jang Woo. Jadi dia menegas kan perkataannya. Dia tidak salah paham. Dia hanya tahu Bo Yeong salah tapi Bo Yeong tidak pernah meminta maaf kepadanya.
Eun Seop dan Jang Woo diam dengan canggung. Lalu tiba- tiba terdengar suara klakson dan Jang Woo pun langsung berdiri dengan cepat. “Taksiku datang untuk mengeluarkanku dari situasi canggung ini. Tepat waktu. Aku berterima kasih kepada sopir taksi ini. Hae Won, kamu sangat menakutkan saat sedang marah. Aku permisi,” jelas nya dengan cepat sambil tertawa canggung. Lalu dia pun mengambil mantel nya dan bersiap untuk pergi.

Namun sebelum pergi, Jang Woo tiba- tiba teringat sesuatu. “Begini… Bo Yeong meminta nomor teleponmu. Jadi, aku memberinya nomor Rumah Hodu. Jadi, dia mungkin meneleponmu,” jelasnya mengingatkan. “Aku permisi, Eun Seop. Sampai jumpa,” lanjut nya. kemudian dia langsung pergi.
“Hei!” bentak Hae Won dengan kesal.
Dengan canggung, Hae Won kemudian diam. Dan Eun Seop juga diam.

No comments:

Post a Comment