Sunday, March 1, 2020

Sinopsis K- Drama : When The Weather Is Fine Episode 2 - part 3

0 comments

Original Network : jTBC Viki

“Apakah ada hal lain yang ingin kamu katakan?” tanya Eun Seop, memberanikan dirinya.

Flash back.
Pertama kali Hae Won pindah sekolah. Kim Bo Yeong adalah orang pertama yang mendekatinya. Awalnya Hae Won merasa canggung sehingga dia tidak banyak berbicara.

Saat pelajaran olahraga, guru menyuruh setiap murid untuk berpasangan menjadi dua tim dan melakukan peregangan bersama. Karena masih belum mengenal siapapun, Hae Won pun hanya berdiri diam saja ditempatnya. Dan disaat itu Kim Bo Yeong datang menghampirinya.
“Hae Won,” panggil Bo Yeong. “Kamu mau satu tim denganku?” tanyanya sambil tersenyum ramah.

Saat hari hujan. Karena tidak ada payung, maka Hae Won pun tidak bisa pulang. Disaat itu, Kim Bo Yeong menawarkan payung nya dan berlari menerobos hujan sendirian.
“Sampai jumpa besok, Hae Won!” teriak Bo Yeong dengan bersemangat sambil melambaikan tangan kepadanya.

Sejak saat itu, karena kebaikan Bo Yeong. Perlahan- lahan Hae Won mulai membuka dirinya. Dia menjadi teman baik dengan Bo Yeong yang ramah, mudah bergaul, dan menyenangkan.

Suatu hari. Hae Won tidak sengaja menjatuh kan paku payung di dalam lab. Jadi dia pun berjongkok untuk memungut itu. Lalu tepat disaat itu, tiga orang murid masuk ke dalam lab, dan mereka membicarakan tentang dirinya. Sehingga Hae Won pun berhenti bergerak dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Mok Hae Won… Ibunya adalah seorang pembunuh.”
“Apa?!”

“Seorang pembunuh. Lebih buruk lagi, dia membunuh suaminya.”
“Sulit dipercaya.”
“Gila. Kamu yakin?”

“Ya. Itu sebabnya dia di sini. Ibunya ada di penjara.”
“Tidak mungkin. Menakutkan sekali.”
“Kamu mengarangnya? Siapa yang memberitahumu?”
“Menurutmu siapa lagi? Kim Bo Yeong.”

Mendengar pembicaraan mereka bertiga, Hae Won merasa terkejut. Dia berdiri dengan perlahan dan bermaksud untuk pergi darisana. Tapi kaki nya terasa gemetar sehingga dia sulit untuk berjalan cepat dan kemudian dia tanpa sengaja menabrak sesuatu dan memecah kan itu. Karena terkejut, ketiga murid tersebut langsung berlari ketakutan dari dalam lab.
Dan Hae Won pun keluar dari lab juga.



Dihalaman sekolah. Saat Hae Won melihat ada banyak orang disana, dia merasa takut dan panik. Jadi diapun pergi ke tempat kolam renang yang sepi dan menyendiri disana. Dia berjongkok, menyembunyikan wajahnya, dan menangis.
Flash back end.

“Karena itu, menyebutnya kesalahpahaman hanya omong kosong,” kata Hae Won sambil mendengus kesal. Lalu dia menyadari kalau Eun Seop sudah mulai mabuk dan mengantuk. “Eun Seop, kamu tidur?” tanyanya. “Kamu mabuk, setelah dua kaleng bir. Kamu benar-benar tidak kuat minum alkohol,” komentarnya. Lalu dia pun pamit.
“Tunggu, aku tidak mabuk,” balas Eun Seop. Dan Hae Won tertawa geli.
Hae Won mendekati Eun Seop dan melambaikan tangannya di hadapannya. “Kamu mabuk berat,” katanya sambil tertawa.
“Aku tidak bisa minum banyak,” kata Eun Seop, mengaku.
“Benar. Kamu lebih payah daripada aku.”


Tiba- tiba hujan turun dengan deras di luar. Dan mendengar suara hujan, Hae Won merasa tenang. Kemudian dia memperhatikan wajah Eun Seop yang tertidur secara dekat. Dia tersenyum melihat wajahnya. Tapi kemudian dia tersadar dengan tindakan nya yang terasa aneh dan pamit pergi.

“Irene,” panggil Eun Seop dengan pelan. Dan Hae Won menyahut tanpa sadar. “Aku senang kamu di sini, Irene,” katanya.
Telpon rumah Myeong Yeo berbunyi. Tapi tidak ada yang mengangkatnya.

Pagi hari. Hae Won bangun cepat dengan senyuman.

Sebelum berangkat, Hae Won memeriksa penampilannya di depan cermin yang ada di dekat pintu masuk. Karena merasa ada yang kurang, dia pun berlari ke dalam kamarnya. Dan Myeong Yeo memperhatikan kelakuannya dengan heran.


Hae Won memakai bedak. Memilih lipstik mana yang bagus dan memakainya. Kemudian dia mencari pensil alis nya, tapi tidak ada, jadi dia pun langsung berlari turun ke lantai bawah dan bertanya kepada Myeong Yeo.
“Kamu mau ke mana pagi-pagi sekali?” tanya Myeong Yeo, heran.
“Aku? Bekerja,” jawab Hae Won sambil tersenyum. 

Hujan turun dengan deras. Eun Seop memperhatikan itu dari dalam toko buku sambil menyeduh segelas kopi hangat seperti biasanya.

Eun Seop duduk di deras sambil membaca buku dan meminum segelas kopi hangat. Hae Won datang dan menyapa nya dengan ramah.
“Kamu datang lebih awal.”
“Ya. Aku bangun pagi.”
“Kopi?” tanya Eun Seop sambil memberikan kopinya.
“Tentu,” jawab Hae Won sambil menerima itu.


Hae Won mengomentari Eun Seop yang langsung tertidur setelah minum beberapa teguk. Dan Eun Seop mengiyakan, dia mengakui bahwa dia ingat semuanya sebelum tidur tapi setelah itu dia tidak bisa mengingat apapun. Dan Hae Won tertawa.
“Omong-omong, kamu mengatakan hal lain,” kata Hae Won sambil tersenyum menggoda Eun Seop. “Aku senang kamu di sini, Irene,” jelasnya. “Kamu bilang, Aku senang kamu di sini,” tegasnya.
“Benarkah?” tanya Eun Seop terkejut. Dia langsung menutup bukunya dan menatap Hae Won.


” Benar. Kamu menyebut namanya dengan penuh cinta,” goda Hae Won sambil tertawa. Dan Eun Seop tersenyum malu- malu.

“Bagaimana kabarmu, Hae Won? Senang bertemu denganmu,” kata Bo Yeong yang datang menemui Hae Won. Dan melihat kedatangan nya, Hae Won langsung berhenti tertawa. “Aku Bo Yeong. Lama tidak bertemu,” katanya, mengingatkan.


"Unggahan Blog Pribadi Toko Buku Good Night"
Irene meminjam 'Angin Bertiup Melewati Pohon Dedalu'
Semoga dia menyukai buku itu, tapi jika tidak, biarlah.
Versi kesukaanku dari buku itu memiliki ilustrasi Patrick Benson.
Tapi aku tidak boleh mengatakan ini di sekitar buku-buku.
Karena buku dan gambar juga memiliki telinga.
Malam makin larut, dan aku terlalu banyak bicara.
Karena malam hari adalah waktu yang tepat untuk bicara.
"When the Weather is Fine"

No comments:

Post a Comment