Saturday, March 7, 2020

Sinopsis K- Drama : When The Weather Is Fine Episode 3 - part 3

0 comments

Original Network : jTBC Viki

Dengan bersemangat, Hwi menguntit dan memperhatikan Kim Young Soo, pria yang di sukainya dari jauh. Dan Hyun Ji menemaninya dengan sikap malas. Saat Young Soo menatap ke arah mereka berdua, Hwi merasa malu dan langsung berlari pergi.

“Hei!” teriak Hyun Ji. “Itu bus kita. Tunggu aku! Astaga, ini berat. Hei!” keluh Hyun Ji sambil membawa sepeda Hwi dan mengejar nya.


Eun Seop dan Hae Won berpergian bersama ke kota. Dalam perjalanan, Eun Seop menanyakan, apakah Hae Won ingin mampir ke tempat Su Jeong dan Myeong Yeo. Dan Hae Won langsung menolak tanpa berpikir.
“Lagi pula, aku ada pertemuan di lingkungan itu. Ini pertemuan pemilik toko buku, dan akan butuh setidaknya beberapa jam,” kata Eun Seop, memberitahu.
“Benarkah?” balas Hae Won. Dan Eun Seop mengiyakan. “Aku akan menunggumu di kafe terdekat.”
“Baiklah.”

Hae Won masih penasaran, kenapa Eun Seop memanggil Myeong Yeo menggunakan nama, jadi diapun bertanya. Dan Eun Seop merasa bingung tiba- tiba, tapi dia tetap menjelaskan, Myeong Yeo mau dia memanggil menggunakan nama depan.
“Oh. Maafkan aku,” kata Hae Won, mengerti.
Eun Seop kemudian memberikan hp nya kepada Hae Won supaya dia bisa menghubungi Hae Won nanti. Dan Hae Won menerima hp itu dengan senang hati.



Di café. Hae Won menunggu Eun Seop sambil membaca buku. Tapi tiba- tiba ada telpon masuk dan Hae Won mengira bahwa itu telpon dari Eun Seop, jadi diapun segera mengangkatnya. Namun ternyata itu adalah telpon dari Bo Yeong. Dan Hae Won langsung terpaku diam.
“Hae Won, apa itu kamu? Aku menelepon Eun Seop untuk meminta nomor teleponmu. Kurasa aku beruntung. Aku yakin masih ada kesalahpahaman di antara kita. Kapan kamu punya waktu? Bisakah kita minum teh bersama?” tanya Bo Yeong dengan ramah.


Hae Won diam dan memperhatikan para murid- murid sekolahan yang sedang bermain dengan riang. “Masalahnya, cuaca terlalu dingin belakangan ini, Bo Yeong,” jelas nya dengan pelan. “Lain kali saja. Mari bertemu lain kali saat cuacanya membaik.
“Saat cuacanya membaik?”
“Ya. Mari bertemu saat cuaca lebih baik,” jawab Hae Won. Lalu dia langsung mematikan hp nya.


Berita Cuaca: “Karena salju yang dingin dan lebat, banyak penerbangan dan kereta yang ditunda atau dibatalkan. Ratusan sekolah di seluruh negeri juga telah ditutup. Suhu diperkirakan akan makin turun. Di wilayah Yeongseo, suhu akan turun di bawah minus 20 derajat Celsius. Cuaca dingin sepertinya akan bertahan untuk beberapa lama. Disarankan tetap di dalam ruangan sesering mungkin. Menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan, cuaca dingin ini bisa menyebabkan radang dingin dalam beberapa menit. Semua orang didesak untuk lebih berhati-hati. Provinsi Gangwon barat diduga akan mendapatkan salju setebal 15 cm akhir pekan ini.”

Hae Won membaca sebuah buku dengan serius dan menghayati. Itu adalah buku yang pernah di baca oleh Eun Seop saat di sekolah dahulu. Dan Hae Won mengingat itu.

“Kepada Dafodil”  oleh Jeong Ho Seung. “Jangan menangis. Menjadi kesepian adalah menjadi manusia. Hidup adalah menahan kesepian. Jangan menunggu panggilan yang tidak pernah datang. Sandpiper berdada hitam di lapangan alang-alang memperhatikamu. Terkadang, bahkan Dewa pun menangis karena kesepian. Burung-burung duduk di ranting karena mereka kesepian. Kamu duduk di dekat air karena kesepian. Bayangan gunung datang ke desa sekali sehari karena kesepian. Gemuruh lonceng berbunyi karena terlalu sepi."
Mengingat kenangan tersebut, Hae Won tersenyum senang dan langsung berlari ke lantai bawah sambil berteriak memanggil nama Eun Seop.

Namun ternyata Eun Seop tidak ada, melainkan Hwi. Dan Hae Won merasa terkejut, karena tiba- tiba Hwi berbicara kepadanya. Hwi curhat bahwa dia ada menyukai seorang pria bernama Kim Young Soo, tapi Young Soo tidak menyukainya dan dia merasa heran kenapa. Juga dia tidak punya teman. Hae Won sama sekali tidak fokus mendengarkan curhatan Hwi dan sibuk mencari dimana Eun Seop berada.

“Hae Won, bisakah kamu duduk di sini?” panggil Hwi, tidak sabaran.
“Baiklah. Apa katamu?” tanya Hae Won, mendengar kan.
“Kubilang aku tidak punya teman. Seluruh sekolah membenciku. Itu sebabnya dia harus menyukaiku,” kata Hwi, mengeluh.
“Apakah itu masuk akal?” balas Hae Won, tidak mengerti. “Jadi, kenapa dia tidak menyukaimu?”
“Entahlah. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku tidak punya teman. Bagaimana aku tahu kenapa dia tidak menyukaiku?” balas Hwi dengan serius. “Hae Won, apa yang harus kulakukan?” tanyanya.

Hae Won tidak fokus mendengarkan Hwi. Dia masih mencari dimana Eun Seop dan dia pun bertanya. Dan Hwi menjawab bahwa dia tidak tahu, dia tidak ada melihat Eun Seop juga. Lalu dia menyarankan Hae Won untuk menelpon saja. Tapi ternyata hp Eun Seop tertinggal di atas meja.
“Di mana dia?” gumam Hae Won.
“Kenapa kamu mencarinya? Apakah dia berutang kepadamu?” tanya Hwi, ingin tahu.
“Tidak biasanya dia menghilang tanpa mengatakan apa pun.”


“Jangan khawatirkan dia. Entah di sini, di rumah, di arena seluncur es, atau di gunung,” jelas Hwi dan Hae Won heran dengan kata ‘gunung’. “Pasti di sanalah dia berada.”
“Kenapa dia ada di gunung?” tanya Hae Won.
“Dia selalu pergi ke sana seperti orang gila.”
“Gunung yang mana?”
“Di belakang toko buku.”


Mendengar itu, Hae Won langsung bangkit berdiri dan ingin pergi ke sana. Dan Hwi mempertanyakan, apakah Hae Won yakin ingin ke sana, karena gunung cukup berbahaya pada malam hari. Menurut cerita yang di dengarnya, ada banyak hewan liar disana dan manusia akan mati jika ke gunung saat malam hari.

Hae Won memberanikan dirinya dan pergi ke gunung. Namun sesampainya dia di kaki gunung, dia merasa takut dan ingin kembali saja. Tapi dia ragu untuk kembali juga. Jadi akhirnya diapun memberanikan dirinya dan masuk ke dalam gunung.

Eun Seop masuk ke dalam sebuah pondok tua. Lalu dia duduk di depan pondok tua tersebut dan beristirahat disana.
Eun Seop : “Pada suatu hari, ada seorang pemuda. Orang-orang selalu menyakitinya. Karena dia polos, orang-orang selalu menipu atau mengkhianatinya Pada akhirnya, dia memutuskan mencari tempat orang-orang jujur tinggal.”

Hae Won : “Apakah dia menemukan tempat seperti itu?
Eun Seop : “Tidak. Dia tidak bisa menemukan tempat tinggal orang jujur. Jadi, anak itu akhirnya tinggal sendirian dalam kesepian dan mati.”

Hae Won merasa ketakutan dan kebingungan. Sebab dia sudah berjalan cukup jauh, tapi dia belum menemukan Eun Seop. Dan tiba- tiba terdengar suara gagak, jadi diapun merasa panik dan langsung berlari untuk kembali. Sialnya saat berlari, dia tersandung dan terjatuh. Kemudian karena dia merasa sangat ketakutan, dia pun berlari semakin masuk ke dalam hutan.

Tepat disaat itu, Hae Won akhirnya bertemu dengan Eun Seop. Dan dia merasa sangat lega. Dengan heran, Eun Seop menanyakan, kenapa Hae Won datang ke sini.
Hae Won : “Aku kasihan kepadanya.”
Eun Seop : “ Kepada siapa?”



Hae Won menatap Eun Seop dan mulai menangis. Lalu dia berjalan mendekati Eun Seop dan memeluk nya dengan erat. Dan Eun Seop balas memeluk nya, karena kaki Hae Won lemas dan hampir saja mau terjatuh.
Hae Won : “Pemuda dengan bulu mata perak serigala. Dia pasti kesepian. Sangat kesepian. Pemuda itu pasti sangat kedinginan”
Eun Seop : “ Apa yang bisa kita lakukan untuk pemuda itu?”
Hae Won : “ Kita harus memeluknya. Peluk dia seerat mungkin. Dengan seluruh kekuatan kita, agar dia bisa merasa hangat. Kita harus memeluknya dengan erat.”



"Unggahan Blog Pribadi Toko Buku Good Night"
"Dia sedang tidur, seatap denganku"
"Dia datang ke kamarku tadi"
"Dan berkata bahwa lampu lama di mejaku indah"
"Aku tiba-tiba merasakan kebahagiaan"
"Serta ingin berlutut dan memegang tangannya"
"Dan menyatakan perasaanku kepadanya"
"Tapi aku tidak mau mengejutkannya, jadi, kuucapkan terima kasih"
"Sesuatu yang sulit dipercaya akan terjadi kelak"
"When the Weather is Fine"

No comments:

Post a Comment