Wednesday, March 4, 2020

Sinopsis K- Drama : When The Weather Is Fine Episode 3 - part 2

1 comments

Original Network : jTBC Viki
Hae Won mencoba untuk melihat dari bulu yang di pegangnya. Tapi tiba- tiba saja terdengar suara teriakan Myeong Yeo yang memanggil nya dari luar.

Myeong Yeo memanaskan mesin air yang membeku menggunakan hair dryer. Dan setelah itu, Hae Won mencoba untuk menyalakan air di keran. Tapi hasilnya tidak ada air yang mengalir. Dan Myeong Yeo yang sudah kelelahan pun merasa putus asa.
“Saat pipa membeku, bungkus pipanya dengan handuk basah yang panas,” kata Hae Won, memberikan saran.
“Tanpa air, kita tidak bisa membasahi handuk dengan air panas,” balas Myeong Yeo, kesal. “Astaga. Sial. Ayo panggil tukang leding. Bibi tidak bisa melakukan ini,” keluhnya.
“Ini pukul 02.00 pagi. Tidak akan ada yang datang,” balas Hae Won dengan suara kecil.
Myeong Yeo mencoba untuk memanaskan pipa air di dalam rumah menggunakan hair dryer juga. Tapi percuma, semua pipa nya telah membeku dan tidak bisa berfungsi. Dan dia pun merasa kesal.
“Ini tidak akan berhasil. Mustahil. Kaki bibi akan kram,” keluh Myeong Yeo.


Myeong Yeo dan Hae Won berdiri diluar rumah sambil berpikir bersama. Myeong Yeo menyuruh Hae Won untuk memanggil taksi. Dan Hae Won menolak, sebab mereka tidak boleh naik taksi dengan membawa binatang, yaitu anjing Myeong Yeo yang bernama Gunbam.
“Kalau begitu, sewa mobil atau semacamnya. Kita akan mencari motel di pusat kota,” kata Myeong Yeo.
“Mereka akan mengizinkan anjing masuk?” balas Hae Won, ragu.
“Bibi mengizinkannya untuk pelanggan kita.”
“Motel berbeda dari penginapan.”

Hae Won diam dan berpikir. Lalu dia menyarankan supaya mereka pergi saja ke penginapan terdekat disini. Dan Myeong Yeo menolak, sebab penginapan itu yang telah membuat bisnis nya tutup. Kemudian dia menyuruh Hae Won untuk menelpon seseorang dan meminta bantuan. Dan dengan suara pelan, Hae Won menjawab bahwa dia tidak punya hp, karena dia telah membuang hp nya.

Dengan lelah, Myeong Yeo menghela nafas berat dan memberikan hp nya. Dan Hae Won merasa bingung. “Kamu tahu,” katanya sambil menunjuk ke arah toko buku Eun Seop.
“Tidak mungkin. Bibi saja,” tolak Hae Won langsung.
“Kamu bekerja dengannya. Ayolah. Lakukan saja,” paksa Myeong Yeo.
“Apa maksud Bibi, ‘Ayolah’? Bibi saja,” protes Hae Won.
“Lakukan sekarang. Bibi bahkan dekat dengannya. Bibi kedinginan.”
“Aku juga kedinginan.”


Eun Seop baru saja selesai mandi dan berbaring di sofa untuk tidur. Namun saat dia melihat pesan dari Hae Won, dia langsung bangkit bangun dan memeriksa keluar jendela. Dan dia melihat Hae Won serta Myeong Yeo berdiri di luar.
Pesan dari hp Myeong Yeo : “Apa kamu di rumah? Jika benar, bisa buka pintunya?”
Eun Seop mempersilahkan Myeong Yeo dan Hae Won untuk menginap di tempatnya malam ini. Dan tanpa rasa sungkan, Myeong Yeo mengucapkan terima kasih dan langsung masuk ke dalam kamar Eun Seop bersama dengan Gunbam.


Eun Seop kemudian membereskan selimut nya yang berada di sofa dan mengambilkan selimut baru yang lebih tebal untuk Hae Won. “Apakah ini cukup?” tanyanya dengan gugup.
Hae Won mendengus geli. “Ya.”


Eun Seop lalu bersiap untuk pergi darisana. Karena dia akan pulang ke rumah orang tuanya. Dan Hae Won mengucapkan terima kasih banyak kepadanya.
“Aku sudah menyalakan pemanasnya, tapi hubungi aku jika kedinginan. Sampai nanti.”
“Tunggu,” panggil Hae Won dengan ragu. “Ada yang ingin kutanyakan. Pagi ini…”
“Dia tidak banyak bicara,” jawab Eun Seop langsung, karena dia sudah mengerti apa yang ingin Hae Won tanyakan padanya. “Dia pergi tanpa banyak bicara. Kalau begitu… selamat malam,” pamitnya kemudian. Dan Hae Won mengiyakan.
Hae Won kesulitan untuk tidur. Dia mengingat kenangan buruknya.


Sejak kasus Ibunya diketahui oleh teman-teman di sekolah, Hae Won jadi di bully. Meja belajarnya dicoret- coret. Teman- teman sekelas mengejek dirinya secara terang- terangan. Di dalam sepatu nya terdapat stroberi sisa sehingga kakinya menjadi kotor saat memakainya.

Akhirnya Hae Won tidak tahan lagi. Dia menyerang pembully yang memasukkan stroberi sisa ke dalam sepatunya. Dan dia bertengkar melawan mereka.
Bo Yeong yang kebetulan lewat hanya diam dan memperhatikan kejadian itu.

Nenek Hae datang ke sekolah. Dia berlutut di depan semua orang yang berada di dalam kantor kepala sekolah. “Aku sungguh minta maaf. Aku sudah tua dan lemah. Aku gagal mengajari cucuku dengan benar. Maafkan aku. Tolong maafkan dia kali ini saja,” jelas nya. Dan Hae Won terkejut melihat apa yang Nenek lakukan, namun dia hanya bisa diam saja.
“Dengar, Bu. Ini bukan sesuatu yang bisa dimaafkan. Dia mengolesi wajah putriku dengan sepatunya.”
“Bagaimana kamu membesarkannya sehingga dia melakukan ini?!”

Nenek Hae meminta Hae Won untuk ikut meminta maaf juga. Dan Hae Won diam serta berpikir. Para orang tua pembully tanpa perasaan malah meneriaki Hae Won sebagai anak dari seorang pembunuh. Mendengar itu, Hae Won merasa terluka dan keluar dari dalam kantor kepala sekolah. Dan Nenek Hae mengejar nya.


“Sudah kubilang, Nek. Mereka selalu seperti itu. Mereka menyebut ibu sebagai pembunuh dan menyebarkan rumor tentang hal yang bahkan tidak mereka ketahui. Mereka mengatakan aku harus dihukum dan mencorat-coret mejaku. Mereka menaruh stroberi sisa di sepatuku. Mereka menyembunyikan pakaian olahragaku dan membuangnya,” kata Hae Won mengeluarkan semua isi hatinya sambil menangis marah.
“Hae Won-ah,” panggil Nenek Hae, menenangkannya.


“Bahkan hakim dan jaksa tidak bilang aku melakukan kesalahan. Mendiang ayahku juga tidak bilang itu salahku. Tapi bagaimana bisa? Apa hak mereka menyalahkanku dan menyiksaku?” tanya Hae Won dengan sangat sedih dan terluka. Tapi para orang tua pembully sama sekali tidak peduli dan mengalihkan wajah mereka. “Bukankah itu aneh, Nek?” tanyanya. Dan Nenek hanya bisa diam saja.

Hae Won terbangun dari kenangan buruknya.
Hae Won menarik nafas untuk menenangkan dirinya. Kemudian dia mencoba untuk tidur kembali. Tapi tiba- tiba terdengar suara di luar. Sehingga dia pun bangun lagi dan memeriksa keluar jendela.

Pagi hari. Hae Won melihat seluruh rumah nya banjir. Dan banyak es yang membeku disana.


Hae Won dan Myeong Yeo duduk dengan lemas di ayunan halaman. Myeong Yeo menceritakan kalau dia ada membaca bahwa pipa air bisa di leleh kan dengan obor las, dia membaca itu di internet. Tapi sialnya bukannya meleleh, pipa itu malah terbakar dan itu bukan akhir tragedi, tiba- tiba semua pipa air juga mulai pecah. Dor!!
“Apakah itu lucu?” tanya Hae Won dengan serius.
“Pipa air tidak pecah hanya karena dingin. Berdasarkan semua kebocoran air yang gila itu, kita tidak bisa mengatakan itu hanya karena udara dingin. Mungkin karena pipanya sudah tua, seperti bibi,” jelas Myeong Yeo dengan sikap tenang. “Hae Won, semuanya hancur. Jika ada barang berharga di sana, ambillah sekarang.”
“Bibi sudah mengeluarkan semuanya?”
“Bibi tidak punya barang berharga, jadi, bibi akan kabur dari sini sekarang.”

Hae Won terkejut, mendengar Myeong Yeo ingin kabur. Dan Myeong Yeo mengiyakan, dia ingin kabur ke rumah Su Jeong. Tepat disaat itu, Su Jeong datang untuk menjemput Myeong Yeo.
“Maksudnya, rumah Bibi Su Jeong?” tanya Hae Won, heran.
“Di sana sangat hangat. Dia menyalakan pemanas seharian,” jelas Myeong Yeo.

Hae Won merasa bingung, dengan bagaimana dirinya. Dan Myeong Yeo menyuruh Hae Won untuk menjaga diri sendiri dengan baik dari sekarang, karena Hae Won sudah dewasa. Mendengar itu, Hae Won merasa sangat terkejut dan bingung.
“Bibi pergi, keponakanku tersayang,” kata Myeong Yeo dengan sikap keren.

“Bibi!” panggil Hae Won.
“Hei, apa kamu tahu bibi sakit kepala hingga ingin mati?” keluh Myeong Yeo sambil tertawa. “Bibi tidak percaya hal seperti ini terjadi. Semuanya berakhir dengan baik. Semuanya hancur sekarang. Jadi, bibi akan tetap menjadi gelandangan seumur hidup. Sampai jumpa, keponakanku.”


“Bibi!” teriak Hae Won, tidak menyangka. Tapi Myeong Yeo tidak peduli dan masuk ke dalam mobil Su Jeong begitu saja, meninggalkan Hae Won.
“Sampai jumpa, Hae Won,” kata Su Jeong.
“Sampai jumpa,” balas Hae Won, tanpa sadar. Lalu mereka berdua pergi meninggalkannya. Dan Hae Won merasa sangat, sangat kebingungan. “Bibi! Bibi! Bibi sungguh akan pergi?”

Hae Won menghubungi tukang- tukang air, tapi tidak ada satupun yang bisa datang langsung untuk membantu nya. Dan dia merasa stress. Melihat itu, Eun Seop merasa prihatin padanya.

Hwi menari dengan bersemangat di rumah Hae Won yang sudah membeku. Sambil menyanyikan lagu Frozen. “Let it go… Let it go…”
“Hwi sudah menyanyikan lagu itu sejak dia melihat rumah ini. Tempat ini benar-benar membeku. Kacau sekali,” kata Ayah Eun kepada temannya yang datang untuk melihat rumah Hae Won juga.

“Lihatlah ke dalam,” panggil Hwi dengan bersemangat. “Air bocor dari pipa, tapi dingin sekali, jadi, airnya membeku. Astaga, ini seperti versi asli dari film "Frozen". Siapa yang menduga film favoritku menjadi nyata di hadapanku?” jelas nya sambil tertawa keras.
Ayah Eun mencoba untuk menutup mulut Hwi supaya diam. Tapi Hwi menggigit tangannya dan berlari pergi ke rumah Hae Won lagi.
“Astaga. Apakah tempat ini masih bisa diperbaiki?” tanya Ayah Eun.
“Jika tukang reparasi datang dan melakukan keajaiban, mungkin ini akan segera pulih.”
“Astaga, tapi biayanya akan mahal,” tambah Ayah Eun.

Hwi sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi. Dia mengeluarkan hp nya dan berselfie di depan rumah. Dan dengan kesal, Ayah Eun memukul serta memarahinya. Tapi Hwi tetap tidak peduli.


Eun Seop mencoba untuk menghibur Hae Won supaya jangan terlalu khawatir. Dan tepat disaat itu, Hwi datang dengan bersemangat dan memberitahukan sebuah berita besar yang luar biasa. “Berita besar! Mandor desa masuk ke rumah dan memukul salah satu pipa seperti ini untuk memperbaikinya. Kini air mengalir dari pipa itu.”
“Apa?” tanya Hae Won, terkejut  

“Hae Won, kamu sebaiknya pergi untuk memotretnya. Cepat!” ajak Hwi. Dan Eun Seop memberikan tanda supaya Hwi diam. Tapi Hwi sama sekali tidak peduli. “Omong-omong, apakah kamu punya gaun Elsa? Astaga, aku ingin berfoto memakai gaun itu,” katanya dengan bersemangat. Lalu dia berlari pergi dengan riang.

Eun Seop terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa untuk menghibur Hae Won.

Eun Seop menyuruh Hae Won untuk tidur saja di tempat nya, karena dia bisa tidur di rumah orang tuanya. Dan Hae Won menolak sambil tersenyum geli, sebab kemarin Hwi mengeluh bahwa Eun Seop datang malam- malam, sehingga dia harus tidur di kamar orang tua Eun.
“Hei! Eun Seop, sebaiknya kamu tidak datang hari ini. Jangan berani,” kata Hwi, memperingatkan. Kemudian dia pergi. Dan Hae Won tersenyum geli menatap Eun Seop.


Eun Seop memutuskan untuk tidur di lantai satu, dan Hae Won bisa tidur di lantai dua. Dia menenangkan Hae Won bahwa lantai satu ini cukup hangat dan nyaman. Tapi Hae Won merasa tidak enak hati dan menolak, dia berencana untuk menginap di motel yang berada di pusat kota saja. Dia akan kesana menaiki bus.
“Butuh waktu satu jam. Dua jam bolak-balik,” kata Eun Seop, mengingatkan.
“Kalau begitu, penginapan itu…” gumam Hae Won. Lalu dia terdiam dan berubah pikiran. “Lupakan saja. Aku akan kembali ke Seoul. Aku punya apartemen studio di Seoul. Lagi pula, aku berencana kembali pada musim semi. Bibiku terus mengomeliku agar aku mulai bekerja lagi. Jadi, ini bagus. Rumah itu berantakan, dan bibiku terus sakit kepala. Semua ini pasti pertanda bahwa aku harus kembali ke Seoul, Jika aku kembali ke Seoul… ” jelas nya.


Mendengar itu, Eun Seop merasa sangat terkejut dan menjatuhkan semua buku yang di pegangnya. Lalu dia mendekati Hae Won dan memintanya untuk tenang. Dia menyakinkan Hae Won bahwa ini bukanlah masalah besar, Hae Won bisa tetap tinggal di tempatnya selama lima hari dan menunggu teknisi untuk datang. Dia yakin dengan sedikit perbaikan, semuanya akan kembali normal.
“Itu benar, tapi…” kata Hae Won, ragu.

“Sudah kubilang, di sini sangat hangat. Terkadang, aku tertidur saat menyusun buku-buku di sini,” jelas Eun Seop dengan cepat sambil tersenyum manis.
“Kalau begitu, aku akan tidur di lantai utama,” kata Hae Won, memutuskan.
“Tidak, di sini dingin,” kata Eun Seop langsung. Dan Hae Won merasa heran.



Dengan gugup, Eun Seop beralasan bahwa di lantai satu ini sangat hangat, tapi sofa nya tidak cukup nyaman untuk Hae Won. Dan Hae Won merasa sangat heran, sebab sebelumnya Eun Seop bilang bahwa di lantai satu sangat hangat dan nyaman. Jadi Hae Won pun memutuskan untuk tetap kembali ke Seoul saja. Dan Eun Seop kembali merasa panik.
“Kalau begitu, aku juga akan tidur di atas,” kata Eun Seop dengan cepat. “Ada dua kamar,” jelas nya dengan gugup. “Bagaimana?”
Hae Won diam dan berpikir. Dan Eun Seop menunggu dengan gugup. “Baik, ide bagus. Aku akan di sini lima hari saja,” katanya, setuju. Dan Eun Seop merasa lega serta senang.
Dalam perjalanan pulang, Hwi berdoa. “Astaga, sebaiknya dia tidak pulang malam ini,” katanya. Lalu dia menyanyikan lagu Frozen dengan sangat riang.

Selesai mandi, Hae Won mencari hair dryer. Tapi dia tidak bisa menemukannya. Dia ingin memanggil Eun Seop untuk bertanya, tapi dia merasa malu. Untungnya saat dia keluar dari dalam kamar mandi, dia menemukan hair dryer yang dicarinya.


Hae Won tiba- tiba teringat perkataan Myeong Yeo yang mengatkan bahwa dia merasa sangat sakit kepala. Serta dia mengingat juga perkataan apoteker.
Eun Seop menemani Hae Won pulang ke rumah Hodu. Dengan bingung, dia menanyakan, apa yang sebenarnya Hae Won ingin cari.
“Bibiku bilang dia terus sakit kepala. Aku khawatir dia mengidap penyakit parah yang tidak kuketahui. Siapa yang tahu? Aku mungkin menemukan wasiatnya,” jelas Hae Won dengan santai.

Hae Won menemukan sebuah surat di dalam laci dapur. “Dari Shim Myeong Ju, PO Box 145-3901, Kantor Pos Cheongsan.”
“Siapa?” tanya Eun Seop ingin tahu.
“Ibuku.”

Eun Seop memberikan segelas minuman hangat kepada Hae Won. Dan Hae Won menerimanya. Lalu kemudian mereka berdua saling berdiam diri.

“Beberapa orang tidak pernah berbagi kekhawatiran mereka seumur hidup,” kata Eun Seop, memulai pembicaraan terlebih dahulu.
“Bahkan dengan keluarga mereka?”


“Ya. Seolah-olah mengatakan itu terlalu sulit atau terlalu menyakitkan. Mereka tidak pernah mengatakan itu dan memendam semuanya. Mungkin, sampai mereka mati,” jelas  Eun Seop. Dan Hae Won langsung memandang ke arahnya. “Mereka membangun pondok sendiri di dalam hati mereka dan tidak pernah meninggalkan pondok itu seumur hidup mereka. Bahkan saat kesepian, mereka tidak pernah mengakuinya. Sebenarnya, mereka lebih suka merenungkan kesepian mereka. Mereka lebih menyukainya daripada keluarga mereka sendiri. Mungkin Myeong Yeo adalah salah satu orang itu.”
Mendengar itu, Hae Won hanya diam saja.

1 comment:

  1. Alright...

    This may sound really creepy, and maybe even a little "out there..."

    WHAT if you could simply push "Play" to LISTEN to a short, "miracle tone"...

    And suddenly attract MORE MONEY to your life?

    And I'm talking about hundreds... even thousands of dollars!!

    Think it's too EASY? Think it's IMPOSSIBLE??

    Well then, I'll be the one to tell you the news..

    Usually the most magical miracles life has to offer are also the SIMPLEST!!

    Honestly, I will provide you with PROOF by allowing you to listen to a REAL "miracle money-magnet tone" I've synthesized...

    (And COMPLETELY RISK FREE).

    You simply push "Play" and you will start having more money come into your life. starting so fast, you will be surprised.

    GO here now to PLAY the wonderful "Miracle Wealth Building Tone" - as my gift to you!!

    ReplyDelete