Sinopsis C- Drama : Beautiful Reborn Flower Episode 6 part 1


Original Network : Tencent Video iQiyi Youku iQiyi
=Rahasia Lili Merah=


Didalam pesawat. He Ping duduk termenung melihat sepasang kekasih yang ada di depan nya. Dan melihat itu, Qiao Man menyenggol tangan nya.
“Bukankah kamu meminta saya duduk di sebelahmu untuk menemanimu berbicara? Kenapa kamu tidak bicara?” tanya Qiao Man, heran. Mendengar itu, He Ping hanya tersenyum saja.


Lin He Ping : “Saat pesawat lepas landas, waktu seolah berjalan kembali pada masa muda itu.”
He Ping datang menemui temannya dan mengajak nya untuk pergi main bersama di warnet. Tapi tiba- tiba saja dia mendengar kabar mengejutkan dari si Teman. Ibunya besok akan menikah. Awalnya mendengar itu, He Ping mengira si Teman hanya bercanda. Tapi dengan serius, si Teman menjelaskan bahwa dia yakin sebab barusan Ibu He Ping ada datang ke tokonya dan membeli dua vas bunga untuk mendekorasi rumah pengantinnya. Bahkan orang- orang di kompleks mereka juga sudah mengetahui kabar ini.
Mendengar itu, He Ping merasa bingung. “Kamu jangan-jangan masih tidak tahu apa-apa ya?” tanya si Teman menebak, ketika dia melihat sikap He Ping. Namun tanpa mengatakan apapun, He Ping langsung pergi darisana.

Didalam bus. Ayah memberitahu Nan Sheng bahwa dia akan segera menikah dan memulai keluarga baru. Jadi Nan Sheng akan mempunyai Ibu baru dan juga seorang kakak laki- laki. Mendengar itu, Nan Sheng hanya diam saja dan menundukkan kepalanya.
“Apakah kamu tidak senang karena Ayah menikah?” tanya Ayah, ketika Nan Sheng hanya diam saja. “Begitu sampai di rumah bibi nanti dan bertemu dia, kamu panggil dia Bibi Lan, dan masih ada seorang kakak laki-laki bernama He Ping,” jelas Ayah. “Kamu katakanlah sekali untuk Ayah dengarkan,” pintanya.
“Bibi Lan,” kata Nan Sheng, pelan. Dan Ayah mengangguk senang.
“Masih ada satu lagi,” pinta Ayah.
“Lin He Ping.”



Sesampainya di stasiun bus, Ayah melihat sebuah stan susu kedelai dan dia bertanya, apakah Nan Sheng mau. Dan sambil tersenyum kecil, Nan Sheng mengangguk. Jadi Ayah pun pergi ke sebrang untuk membelikan susu kedelai bagi Nan Sheng.
“Kamu jaga baik-baik di sini, Ayah pergi beli,” kata Ayah.

Dirumah. He Ping mengeluh kepada Ibunya, sebab Ibunya tidak pernah memberitahu dirinya kalau Ibu akan menikah. Dan dia baru saja tahu, dan itupun dari Xu Zhensheng. Mendengar itu, Ibu pun jujur, dia takut kalau He Ping tidak akan senang.
“Kalau begitu kamu beritahu saya sekarang, kamu tidak takut saya tidak senang?” tanya He Ping, kesal. Dan Ibu tidak bisa menjawab. “Kamu menikah dengan pria itu? Nan Jianming. Dia mananya yang baik?” tanyanya, ingin tahu.
“Dia baik atau tidak, kamu harus bercakap-cakap dengannya dan mengenal dia. Kalau begitu apakah Paman Nan tidak menunjukkan keramahan padamu? Kamu yang memperlihatkan wajah tidak senang sepanjang hari dan mengabaikan dia. Kamu benar-benar tidak punya sopan santun sama sekali,” balas Ibu, mengeluh.

Dengan serius, He Ping bertanya, bila dia tidak setuju Paman Nan tinggal di sini, maka Ibu akan memilih siapa, pilih Paman Nam atau dia. Dan dengan kesal, Ibu menegur He Ping, sebab bila He Ping mengatakan hal seperti ini, maka He Ping sama saja seperti orang di luar yang tidak mengerti dirinya sama sekali.

He Ping menjelaskan bahwa dia bukannya tidak menerima Paman Nan, tapi dia butuh waktu untuk beradaptasi. Dan mendengar itu, Ibu merasa senang, dia hanya meminta He Ping untuk jangan menunjukkan wajah tidak senang sepanjang hari, itu saja sudah cukup. Lalu setelah mengatakan itu, dia menyuruh He Ping untuk pergi ke stasiun dan jemput Paman Nam. Dan He Ping mengerti.
“Oh iya, kamu juga ketambahan satu adik perempuan, apakah kamu tahu?” tanya Ibu, saat tiba-tiba teringat. “Paman Jianming akan membawa putrinya, Nan Sheng, bersama-sama ke sini.”
“Adik perempuan?” gumam He Ping, terkejut. Dan Ibu mengiyakan.



Sesampainya distasiun, He Ping tidak sengaja menyenggol Nan Sheng dan membuat cermin kecil yang di pegang oleh Nan Sheng terjatuh. Dan dengan kesal, Nan Sheng mengeluh kalau He Ping tidak punya sopan santun.
“Kalau begitu saya akan mengambilkannya untukmu, sudah cukup kan?” kata He Ping, meminta maaf. Lalu dia mengambilkan cermin Nan Sheng yang terjatuh ke tanah, dan mengembalikan nya kepada Nan Sheng. “Ada lagi, kamu juga tidak lihat tempat apa ini malah menebar pesona di sini, siapa yang mau melihatnya?” komentarnya. Lalu dia masuk ke dalam stasiun.

Jianming sudah selesai membeli susu kedelai yang Nan Sheng inginkan, setelah itu dia pun ingin menyebrang untuk kembali pada Nan Sheng. Tapi tepat disaat itu, seorang supir truk yang sedang mengantuk lewat dan menabrak dirinya dengan kuat.


Melihat itu, Nan Sheng pun langsung berlari ke arah Ayahnya. Sedangkan si supir truk, dia merasa terkejut dan ketakutan, jadi diapun langsung melarikan dari tempat kejadian. Si supir truk tersebut adalah Xu Zhensheng, teman He Ping.
“Bantu saya. Bantu saya. Panggil ambulans. Panggil ambulans,” teriak Nan Sheng, meminta bantuan. “Ayah. Ayah. Kamu bangun, Ayah,” pinta Nan Sheng sambil menangis cemas.


Nan Sheng membawa Ayah ke rumah sakit. Dan dengan khawatir, dia berdiri didepan pintu UGD, menunggu Ayahnya.

He Ping pulang ke rumah dan mengeluh capek, sebab dia sudah berdiri lama di stasiun sampai kaki nya mati rasa, tapi bayangan Jianming pun sama sekali tidak terlihat disana. Dan Ibu merasa heran, karena dia sangat yakin dengan jam kedatangan bus yang dinaiki Jianming. Lalu setelah berpikir sesaat, Ibu menuduh, apakah He Ping sengaja ingin menentangnya, jadi He Ping tidak mencari.
“Saya sudah mengelilingi seluruh stasiun sampai hampir satu putaran,” keluh He Ping, kesal.

Petir bergumuruh keras di langit, tanda mau hujan. Dan tepat disaat itu, telpon rumah berbunyi. Ketika Ibu mengangkatnya, dia terkejut mendengar suara Nan Sheng yang menangis.
“Bibi Lan, Ayah saya mengalami kecelakaan. Dia sekarang sedang diselamatkan di rumah sakit. Saya tidak tahu harus bagaimana. Bisakah kamu datang?” pinta Nan Sheng sambil menangis panik. “Saya tidak tahu harus bagaimana,” jelasnya. Lalu dia memberitahu nama rumah sakitnya.
Mendengar itu, Bibi Lan mengerti dan menenangkan Nan Sheng untuk jangan menangis, sebab dia akan segera ke sana.
He Ping dan Ibu mencoba menghentikan taksi di pinggir jalan, tapi tidak ada satupun taksi yang mau berhenti. Dan Ibu pun merasa tidak sabaran, karena ini sudah setengah jam. Tepat disaat itu, A Li lewat dan dia memanggil mereka berdua dan menawarkan tumpangan kepada mereka.


“Kita mau pergi dengan menumpangi mobilnya, kalau tetangga melihatnya akan dibicarakan habis-habisan,” bisik Ibu kepada He Ping. Dia ingin menolak tawaran A Li.
“Bu, sekarang sudah saat-saat seperti ini, kamu jangan memikirkan begitu banyak hal,” balas He Ping. Lalu diapun menerima tawaran A Li.


Dokter keluar dari ruang UGD, dan dengan cemas Nan Sheng langsung menanyainya tentang kondisi Ayah. Dan dengan nada menyesal, Dokter memberitahu bahwa tampaknya Ayah Nan Sheng tidak akan bisa bertahan lama, sebab Ayah Nan Sheng menerima benturan luar yang terlalu keras pada saat kecelakaan. Jadi Dokter menyuruh Nan Sheng untuk menyiapkan mental.
Mendengar itu, Nan Sheng semakin merasa panik dan takut. “Dokter, kamu harus menyelamatkan ayah saya. Dia tidak boleh mati. Saya mohon padamu,” pintanya.
“Gadis kecil, kami bisa memahami perasaanmu. Kami pasti akan melakukan yang terbaik,” balas Dokter, menenangkan. Lalu di masuk ke ruang UGD kembali.
Nan Sheng : “Kenapa bisa begini? Saya tidak mau minum susu kedelai. Saya tidak. Ayah, kamu harus sehat. Jangan tinggalkan saya sendiri. Ayah.”

Ibu dan He Ping akhirnya sampai dirumah sakit. Dan ketika melihat Nan Sheng disana, He Ping merasa terkejut.
Nan Sheng menceritakan apa yang terjadi kepada Bibi Lan sambil menangis. Dia menyalahkan dirinya sendiri, karena dia ingin minum susu kedelai, maka Ayahnya terkena kecelakaan. Dan Bibi Lan menenangkan Nan Sheng untuk jangan khawatir.



Tepat disaat itu, Dokter keluar dari ruang UGD dan dia meminta maaf, dia sudah melakukan yang terbaik. Tapi sayang nya, Ayah Nan Sheng meninggal. Mendengar itu, Nan Sheng semakin menangis keras. Dan He Ping berusaha untuk menenangkannya.
“Bukankah kamu bilang kalau kamu mau datang untuk menikahi saya? Besok sudah hari pernikahan kita. Kenapa kamu pergi begitu saja? Kenapa kamu pergi begitu saja? Saya kira hari baik saya sudah akan tiba. Kenapa bisa seperti ini?” tanya Bibi Lan sambil menangis sedih juga.
Melihat Ibu dan Nan Sheng menangis sedih, He Ping tidak tahu harus perbuat apa. Jadi diapun hanya diam saja.
Ketika pulang, A Li heran melihat tingkah aneh Xu Zhensheng yang hanya duduk melamun di tempat saja, kepadahal di depannya ada ayam goreng kesukaan nya. Dan ketika A Li mencoba mengajaknya berbicara, Xu Zhensheng malah hanya diam saja. Jadi A Li pun memarahinya.

“Semua karena kamu. Kamu di luar menjadi simpanan orang lain sudah membuat reputasi saya juga buruk. Saya juga bukan pekerja jangka panjangmu, kamu minta saya mengantar barang apa?” teriak Xu Zhengsheng, histeris.
“Xu Zhensheng, kamu gila ya?” tanya A Li, heran. “Kamu tidak punya SIM, saya biasanya tidak mengizinkanmu mengemudi, kamu mengemudi diam-diam, sekarang saya memintamu mengemudi, kamu malah mengeluh pada saya. Kamu senggang dan tidak ada urusan, kenapa kalau membantu kakakmu?” tanyanya, kesal.
Xu Zhensheng tidak bisa menjawab, malahan dengan keras dia berteriak bahwa dia tidak mau mengantarkan barang lagi. Mendengar itu, A Li mengira kalau Xu Zhensheng sedang mencari alasan untuk bermalas- malasan. Lalu dia menceritakan bahwa barusan dia mengantarkan He Ping sekeluarga pergi ke rumah sakit, karena Pria yang ingin Bibi Lan nikahi ditabrak mobil begitu turun dari bus.


Mendengar itu, Xu Zhensheng merasa panik. “Bagaimana keadaan pria itu sekarang? Baik-baik saja kan?” tanyanya.
“Bagaimana mungkin baik-baik saja. Dia sudah ditabrak sampai seperti itu. Tidak lama setelah sampai di rumah sakit, dokter mengumumkan kalau dia sudah tidak bisa bertahan. Mereka sekeluarga menangis sampai bergelimang air mata,” jawab A Li dengan jujur.
Xu Zhensheng merasa sangat syok dan takut. Diapun mulai menangis. Dan A Li merasa heran, tapi ketika dia bertanya, Xu Zhensheng menolak untuk menjawab dan berlari kabur darisana.
“Ada apa dengan anak ini?” gumam A Li, bingung.
He Ping menawarkan apel kepada Nan Sheng. Tapi Nan Sheng sama sekali tidak ada nafsu untuk makan dan hanya terus diam saja. Melihat itu, He Ping merasa bersimpati padanya. Dengan lembut, dia mengatakan bila ada yang ingin Nan Sheng katakan, maka katakan saja, mana tahu itu bisa membuat Nan Sheng merasa lebih lega.

Tepat disaat itu, Xu Zhensheng datang. Dia berdiri di luar halaman dan mendengarkan pembicaraan antara Nan Sheng serta He Ping.

Nan Sheng menyalahkan dirinya sendiri. Karena Ayah ingin membelikan susu kedelai untuknya, maka Ayah pun jadi tertabrak dan meninggal. Kepadahal dia sama sekali tidak ada menentang pernikahan antara Ayah nya dan Bibi Lan. Serta dia juga tidak ada marah pada Ayah.
“Nan Sheng, kamu dengarkan saya, hal ini tidak ada hubungannya denganmu, kamu jangan menyalahkan dirimu lagi. Tidak ada siapa pun yang mau sesuatu seperti ini terjadi,” kata He Ping, menenangkan Nan Sheng.
Namun sambil menangis, Nan Sheng terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa kalau dialah yang sudah mencelakai Ayah.
Mendengar itu, Xu Zhensheng semakin merasa bersalah.


He Ping memberikan sebungkus coklat kepada Nan Sheng dan menjelaskan pada awalnya dia ingin memberikan coklat ini kepada adik barunya. Karena ketika Ibunya mengatakan bahwa dia akan memiliki adik baru, dia merasa sangat menanti- nantikan adik barunya. Dan sekarang saat dia melihat Nan Sheng, dia baru tahu kalau adiknya adalah seorang gadis yang cengeng. Mendengar itu, Nan Sheng pun langsung berhenti menangis. Dan He Ping merasa lega.

“Jangan sedih lagi. Ayahmu masih melihatmu di surga. Dia tidak ingin kamu seperti ini,” hibur He Ping dengan lembut.
“Terima kasih. Terima kasih, Heping,” balas Nan Sheng dengan tulus.
“Selanjutnya saya akan menjagamu. Saya janji.”

Post a Comment

Previous Post Next Post