Sinopsis K- Drama : Tale of the Nine Tailed Episode 12 part 2


Original Network : tvN

Lee Yeon mengakui kepada kedua orang tua Ji A bahwa dia memang tidak bisa menawarkan apapun kepada Ji A, tapi dia sangat menyukai Ji A. Dan Ibu Nam menanyai, apa yang Lee Yeon sukai dari Ji A.


“Aku telah mengalami banyak hal dalam hidupku melebihi dugaan kalian. Tahun-tahun itu kejam bagiku. Tapi anehnya, makan di samping Ji A seperti ini membuatku merasa seakan-akan aku anggota keluarga ini. Dan itu menghangatkan hatiku,” kata Lee Yeon dengan tulus.

“Aku juga,” kata Ji A, merasa tersentuh. “Saat orang tuaku pergi, aku berusaha keras untuk bertahan di rumah ini. Tapi Yeon membuatku sadar bahwa kita harus hidup dalam bayang-bayang orang-orang yang bisa kita andalkan. Aku juga ingin menjadi orang seperti itu.”

Mendengar itu, Ibu Nam memuji mereka berdua. “Kamu tumbuh dengan baik. Kalian berdua.”

“Makanannya agak asin, tapi kuharap kamu menikmatinya,” kata Ayah Nam dengan ramah. Dan Lee Yeon tersenyum serta mengucapkan terima kasih.



Hye Ja menanyai, kenapa Imoogi terus saja mengincar Lee Yeon. Dan mendengar itu, Imoogi langsung berhenti makan. “Ada banyak variasi mengenai kisah pengantin siput. Tapi semuanya berakhir dengan tragis. Sama halnya denganku dan Lee Yeon. Salah satu dari kami harus mati agar cerita ini berakhir,” jelas nya. Lalu dia menarik Hye Ja mendekat dan berbciara dengan serius. “Dengarkan kata-kataku baik-baik. Kamu …” bisiknya.

Hye Ja tampak terhipnotis mendengar bisikan dari Imoogi.

Lee Yeon menghabiskan waktu bahagia bersama dengan Ji A dan kedua orang tuanya. Mereka melihat album foto Ji A saat kecil dulu sambil tertawa dan mengobrol dengan senang.



Imoogi datang menemui Yoo Ri. “Aku ingin dia mati,” katanya. Lalu dia langsung pergi.


Ketika Yoo Ri pulang, dia langsung menusuk Lee Rang berkali- kali di tempat- tempat fatal yang pernah Lee Rang ajarkan kepadanya. Dan Lee Rang merasa sangat terkejut.



Lee Yeon dan Ji A berkencan ke café. Lee Yeon bercerita bahwa ketika dia melihat album foto Ji A, dia jadi memikirkan bagaimana bila mereka menikah dan memiliki anak nantinya. Dan dia mungkin tidak pernah menua, tapi dia  akan selalu ada disamping Ji A. Saat mengatakan itu, Lee Yeon tiba- tiba merasa sedih.

“Jika aku manusia … Andai aku manusia biasa, semuanya akan sempurna,” gumam Lee Yeon.


Dengan lembut dan perhatian, Ji A memegang tangan Lee Yeon. “Hidup terasa getir lagikah sekarang? Mau kutambahkan rasa manis?” tanyanya. Dan Lee Yeon mengiyakan. Lalu Ji A memasukkan cincin pasangan ke jari manis Lee Yeon.

“Cincin pasangan! Aku selalu menginginkannya,” kata Lee Yeon sambil tertawa. “Aku hendak membelikannya untukmu.”

“Kamu sudah memberiku cukup banyak,” balas Ji A sambil tersenyum manis. “Kamu menyukainya?”


Lee Rang menyentuh wajah Yoo Ri dan bertanya, kenapa Yoo Ri melakukan ini. Lalu setelah itu, diapun jatuh dan tidak sadarkan diri di lantai. Disaat itulah, Yoo Ri baru tersadar dari hinoptisnya.


“Tidak mungkin. Aku tidak mungkin melakukannya. Tidak mungkin aku yang melakukannya,” kata Yoo Ri, terkejut sambil melihat kedua tangannya sendiri yang telah menusuk Lee Rang.


Imoogi sibuk membersihkan piringan hitam.

Shin Joo mengobati Lee Rang. Lalu setelah itu, dia menatap ke arah Lee Yeon. Dan kemudian dia menanyai Yoo Ri, apa yang terjadi. Dan Yoo Ri juga merasa bingung, kenapa dia melakukan ini.


“Yoo Ri, tenang dan pikirkanlah,” tegas Shin Joo sambil memegang bahu Yoo Ri.

“Aku menuju ke sini setelah menerima telepon dari Pak Lee. Di depan, aku menabrak pundak seorang pria. Dia bilang, "Aku ingin dia mati." Sisanya tidak jelas,” jawab Yoo Ri, mengingat- ingat.

“Imoogi,” kata Lee Yeon dengan yakin. “Mungkin dia Imoogi. Pria yang kamu lihat itu. Dia mengendalikan pikiranmu dengan menanamkan sebuah saran. Itu bukan kebetulan. Dia sengaja mendekatimu.”


“Tapi untuk apa dia melakukan itu kepada Yoo Ri?” tanya Shin Joo, tidak mengerti.

“Agar dia bisa mengirim peringatan kepadaku,” jawab Lee Yeon, menjelaskan. “Rang jarang memercayai siapa pun. Imoogi memanfaatkan satu-satunya orang yang membuatnya merasa nyaman. Begitulah rubah muda dan lemah sepertimu bisa menyakitinya seperti ini.”

“Dasar bedebah pengecut. Aku harus pergi dan memberinya pelajaran,” umpat Shin Joo dengan kesal. Dan dia ingin langsung pergi untuk menemui Imoogi. Tapi Lee Yeon langsung menghentikannya.

“Kamu bukan tandingannya.”


Dengan cemas, Yoo Ri menanyai Shin Joo bagaimana keadaan Imoogi. Dan Shin Joo menjawab bahwa dia telah menghentikan pendarahan Lee Rang, tapi nafas dan denyut nadi Lee Rang sangat lemah. Jadi mereka hanya bisa melihat dan menunggu. Mengetahui itu, Yoo Ri merasa sangat frustasi.

“Bagaimana dengan ceplukan itu? Kita punya ceplukan,” tanya Shin Joo kepada Lee Yeon.

“Aku janji akan memberinya pada Nenek di Sungai Samdo,” balas Lee Yeon, menolak. Dan Yoo Ri merasa marah. ‘”Nyawa seseorang terperangkap dalam setiap ceplukan. Kamu ingin aku membunuh orang agar bisa menyelamatkan Rang?” tanyanya, menyadarkan Yoo Ri.

“Lalu kenapa jika mereka mati?” balas Yoo Ri, tidak peduli.

“Pak Lee. Nyawa adikmu dipertaruhkan,” bujuk Shin Joo.

Imoogi : “Kamu dilarang membunuh orang. Namun, jika tidak melanggar itu, kamu tidak akan bisa menyelamatkan Rang. Aku bertanya-tanya apa pilihanmu kali ini, Yeon.”

Yoo Ri ingin segera pergi untuk mengambil ceplukan dirumah Lee Yeon. Tapi Lee Yeon menghalanginya. “Aku selalu penasaran. Kenapa orang lain tidak kembali sebagai manusia selain orang tua Ji A? Seolah-olah dia ingin aku memakai ceplukan itu,” gumamnya, berpikir.

“Kamu pikir dia mengujimu?” tebak Shin Joo.

“Jika melanggar aturan dan membunuh, aku akan diseret ke Dunia Bawah. Bisa berlangsung beberapa hari atau pekan. Lalu aku tidak akan ada untuk melindungi Ji A. Yang dia inginkan adalah kepergianku,” kata Lee Yeon, menebak tujuan Imoogi. Jadi dia tidak mau menggunakan ceplukan itu. Dan dia akan mecari cara lain untuk menyelamatkan nyawa Lee Rang.


Dengan kesal dan frustasi, Yoo Ri berteriak dan meminta Lee Yeon untuk memberikan ceplukan kepadanya. Tapi Lee Yeon tetap menolak. Dan Shin Joo menghentikan Yoo Ri untuk jangan memaksa Lee Yeon.


Kemudian tiba- tiba Soo Ho datang. Dan Lee Yeon langsung mengenalinya. “Hei, kamu anak dengan hidung ingusan. Sedang apa kamu di sini?” sapanya. Dan Soo Ho tersenyum bodoh.



Team Leader Choi menemani Hye Ja yang sedang emosi untuk minum- minum di restoran biasa. Lalu dia menyatakan cintanya, dan Hye Ja merasa terkejut.

“Kamu tampak sangat istimewa bagiku. Aku bersungguh-sungguh,” kata Team Leader Choi dengan sikap serius. “Aku merasa kamu menyembunyikan banyak hal di balik mata menakjubkan itu,” gumamnya.

Post a Comment

Previous Post Next Post