Sinopsis Lakorn : Praomook E11 - 1

 

Note :

Drama ini berisi adegan yang tidak sesuai untuk usia di bawah 19 tahun. Pemirsa di harap bijak.

Jika ada pembaca berusia dibawah 19 tahun, diharapkan untuk tidak lanjut membaca. Terimakasih.

 




Lan melihat mobil Danai terparkir di basement apartemen Nuch. Rasa penasaran menyergapnya. Dia segera menelpon Danai dan menanyakan, apakah dia ada di rumah? Danai menjawab kalau dia ada di luar. Apa Lan butuh bantuan? Dengan lihai, Lan berbohong kalau dia hanya ingin tahu apakah Danai dan Lak sudah melihat berita mengenainya. Menurutnya siapa yang menyebarkan berita tersebut? Danai hanya menjawab tidak tahu.

Mumpung membahas mengenai topik ini, Lan jadi ingin tahu bagaimana reaksi kakaknya saat melihat berita tersebut. Dania berbohong kalau Lak tidak mengatakan apapun dan itu hanyalah rumor.

Pembicaraan hanya berakhir sampai disitu. Lan langsung pergi tanpa memeriksa atau menyelidiki lebih lanjut kenapa mobil Danai ada di sana.

--


Petch dan Oak sudah pulang dari kediaman Rut. Mook juga menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan. Kebetulan sekali, ada sebuah buku milik Rut yang menarik minat Mook. Buku itu terletak di lemari tinggi sehingga Rut mengambilkannya. Rut beneran pintar memanfaatkan situasi. Dia bersedia meminjamkan buku tersebut pada Mook dengan syarat, Mook tidak akan marah lagi padanya. Mook menjelaskan kalau dia tidak marah, tapi merasa frustasi. 

Rut tdak mau menyerah sedikitpun. Dia sekarang menunjukkan secara terang-terangan perasaannya.  




Momentnya udah sangat pas. Namun, semua rusak ketika Mook mendapat pesan rekaman suara dari Nuch. Isi rekaman itu adalah suara saat Lan menelpon Nuch dan bilang ingin menemuinya. Nuch merasa diatas angin sehingga dia ingin memanas-manasi Mook. Emosi Mook meninggi, tapi, dia tetap berusaha menahan diri. Dia tidak akan pergi melabrak ke tempat Nuch, sebaliknya, dia akan menggunakan rekaman suara yang dikirim Nuch tersebut sebagai bukti perselingkuhan Lan dan menuntut Nuch. 

--


Lak pergi ke klub untuk minum sampai mabuk. Dan orang yang dihubunginya saat sedang risau adalah Win. Kepada Win, dia bisa memberitahukan semua masalah yang ada di keluarganya dan kekecewaannya. Dia merasa kerja kerasnya selama ini tidak dianggap dan tidak dihargai. Semuanya terasa sia-sia karena pada akhirnya, ayahnya hanya melihat Lan. Sejujurnya, dia menginginkan semuanya dan akan memilikinya.

Setelah mencurahkan semua isi hatinya dan sudah mabuk berat, Win mengantarkannya ke mobilnya. Dia akan mengantar pulang Lak. 

“Win. Kau harus tetap di sisiku.”


“Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau penting bagiku.”


Win hampir kehilangan kendali. Dia hampir saja mencium Lak yang mabuk. Tapi, itu urung dilakukannya ketika Lak menyebut nama Danai dalam keadaan mabuk. Win akhirnya memutuskan untuk menelpon Lan dan mengajak bertemu.

--


Petch beneran ambigu. Dia masih saja marah ketika mengingat Rut menyebutnya anak kecil karena usianya masih dibawah 18 tahun. Ulang tahunnya tinggal beberapa bulan lagi. Petch ingin cepat ulang tahunnya tiba dan mengubah pemikiran Rut untuk tidak melihatnya sebagai anak kecil lagi.

--


Lan pergi ke tempat yang Win sebutkan. Saat dia tiba di sana, dia mendapati kakaknya sedang tertidur di mobil dan mabuk berat. Win menjelaskan pada Lan alasan Lak mabuk adalah karena bertengkar dengan Lim mengenai Lan yang mau diangkat menjadi wakil Presdir. Dia menelpon Lan agar Lan yang mengantarkan Lak pulang. Dia tahu kalau Danai tidak akan senang jika dia yang mengantarkan Lak.

Setelah mengucapkan terimakasih, Lan mengantar Lak pulang.

--


Mook memang sok tidak peduli, namun, sebenarnya dia sangat cemas. Pikirannya sekarang penuh dengan pikiran : menanyai Lan ada dimana atau tidak! 

---



    

Lan membawa Lak ke apartemen (aku nggak tahu apartemen siapa. Mungkin maksudnya hotel?) dan menelpon Danai. Saat Danai mengangkat teleponnya, Lan marah dulu karena Danai tidak adak bilang kalau Lak bertengkar dengan ayah. Setelah marah, Lan baru memberitahu kalau dia membawa Lak ke apartemen karena kalau Lak pulang dalam keadaan mabuk seperti ini, ayah bisa marah. Danai setuju dan meminta Lan menunggu hingga dia tiba.


Sembari menunggu Danai datang, Lan menyeka tubuh kakaknya dengan handuk basah. Dia kelihatan peduli pada kakaknya. Sekaannya membangunkan Lak. Mabuk Lak sudah agak berkurang dan mereka bisa bicara. Lan juga sudah menjelaskan kenapa mereka sampai bisa ada disana. 

Lak tidak suka dengan kehadiran Lan dan menyuruhnya pergi. Dia semakin marah saat Lan bilang sudah menghubungi Danai dan Danai akan segera tiba. Lak menyebut mereka semua menyebalkan. Lan tidak peduli. Dia akan pergi setelah Danai tiba.

Setelah hening sesaat, Lan mulai membahas topik sensitif. Mengenai alasan pertengkaran Lak dengan Lim. Lan menenangkan Lak dengan bilang tidak akan pernah menerima jabatan wakil presidr tersebut, jadi Lak tidak perlu khawatir. Namun, percuma! Walaupun Lan berkata demikian, tapi ayah mereka menginginkan Lan 


“Kumohon. Bisakah kamu kembali tinggal di luar negeri? Kembalilah melakukan hal yang kau suka sebelum aku … membencimu,” ujar Lak, dengan nada penuh penekanan.


Perkataannya itu menyakiti hati Lan. Dia nggak menyangka kalau kakaknya akan sebegitu inginnya dia pergi. Sebegitu membencinya dan berharap dia menjauh.


Pikiran Lan sedang sangat kacau. Dia memutuskan untuk menelpon ayahnya dalam perjalanan menuju basement. Tapi, teleponnya tidak kunjung di angkat. Akhirnya, dia memutuskan sambungan telepon, tapi baru juga dia memutuskan sambungan telepon, seseoran memukul kepalanya dari belakang menggunakan tongkat besi. Orang itu juga menginjak badannya dan memastikan agar Lan benar-benar pingsan. Setelah itu, dia mengambil dompet Lan dan kabur.



Lim melihat telepon putranya, namun, saat dia menelpon balik, tidak ada yang mengangkat. Yah tentu saja, itu karena Lan terkapar tidak sadarkan diri. Lim awalnya heran, tapi, Pat berpikir kalau mungkin saja Lan tidak jadi ingin bicara sama Lim makanya tidak mengangkat teleponnya. Pat juga menghibur Lim agar tidak terlalu kepikiran mengenai masalah anak-anak mereka dan dia yakin, kedua anak mereka akan mengerti kelak mengenai setiap keputusan yang Lim buat adalah karena cinta.


“Kuharap, aku masih hidup ketika itu terjadi,” ujar Lim.

Respon Pat tentu saja marah. Dia nggak suka Lim bicara seperti itu. 




Tidak jauh dari tempat Lan pingsan, Win tiba-tiba nongol. Dia entah habis darimana, tapi yang jelas, dia baru dari suatu tempat. Aneh. (Karena Win kan yang menyuruh Lan mengantar pulang Lak, tapi kenapa sekarang dia bisa ada di basement apartemen Lak?)


Lan sangat beruntung. Tidak lama setelah dia tidak sadarkan diri, dia ditemukan oleh Danai, Mook dan Rut. Suara mereka yang memanggil-manggil namanya, akhirnya menyadarkannya. Begitu dia sadar, semua langsung mencerca berbagai pertanyaan, mengenai kenapa Lan bisa pingsan di sana? Lan memberitahu kalau seseorang menyerangnya tadi.

Setelah menjawab pertanyaan mereka, giliran Lan yang bertanya. Bagaimana Rut bisa disini? Mook yang menjawab pertanyaan itu. Dia yang mengajak Rut.


Flashback

Sebelumnya, jauh-jauh hari, Mook pernah diam-diam memasang aplikasi pelacakan lokasi di hp Lan.

Aplikasi itu baru digunakannya sekarang. Mook sangat kepo dan khawatir, dimana Lan sekarang? Apa dia beneran ada di apartemen Nuch? Rasa penasarannya itu membuatnya melihat dimana posisi Lan melalui aplikasi yang terpasang di hp Lan. 


Aneh. Lokasi Lan berada di sebuah apartemen, tapi bukan apartemen Nuch. Makanya Mook pergi ke sana untuk tahu, sebenarnya, kemana Lan? Nah, saat dia mau pergi, Rut menawarkan diri untuk menemani dan mengantarkan. Saat memarkirkan mobil di basement, Rut udah langsung mengenali apartemen yang mereka datangi. Disini ada apartemen milik keluarga Lan.


Kebetulannya lagi, mereka menemukan mobil Lan yang terparkir. Dan begitulah mereka menemukan Lan yang terkapar pingsan di samping mobilnya. Tidak lama setelah mereka menemukan Lan, Danai yang baru tiba, melihat mereka dan menghampiri.

End


Yah begitulah kira-kira singkatnya, bagaimana Rut dan Mook bisa di sana. Saat sudah tahu, Lan menyebut Mook seperti parasit yang selalu menmpelnya. Dan yang lebih mencurigakan, Mook selalu ada saat dia terluka. Ah, perdebatan mulut kembali terjadi.



Danai yang mengalihkan perdebatan itu dengan menanyakan kronologis singkat Lan di serang. Lan beneran nggak ingat apapun. Dia tiba-tiba di serang dari belakang dan kemudian hilang kesadaran. Huft, dasar drama. Satpam apartemen baru masuk setelah melihat keramaian mereka. Rut segera meminta satpam itu memeriksa kamera CCTV dan menghubunginya jika menemukan sesuatu. 

Setelah itu, Rut dan Mook memaksa Lan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Sementara Danai, dia akan melaporkan penyerangan ini kepada polisi. Sayangnya, Lan melarang dengan alasan tidak mau keluarganya tahu. Ya udah, Danai menurutinya.

--


Setelah pemeriksaan di rumah sakit dan menerima pengobatan dan beberapa obat, Lan akhirnya pulang ke rumah Rut. Dokter mengatakan kepala Lan hanya mengalami memar dan ada kemungkinan, malam ini Lan akan mengalami demam. Makanya, Rut menyuruh Lan untuk berisitrahat selama beberapa hari di rumah sekaligus bersembunyi. Lan setuju tanpa melawan karena dia juga malas pergi kerja.


Rut kemudian memerintahkan Poom untuk memeriksa kamera CCTV apartemen. Mook mengemukakan pendapatnya kalau ini bukan perampokan biasa. Rut setuju dengan Mook. Karna jika memang ini adalah perampokan, pelakunya harusnya mengambil ponsel dan jam tangan Lan, atau setidaknya, mencari cara menggeledah mobil lan, bukannya hanya mengambil dompet dan kabur. Lan setuju dengan pendapat Rut. 

“Aku mau tidur. Aku akan memikirkan hal lain nanti,” ujar Lan dan beranjak ke kamarnya.

Mook ingin mengikutinya, tapi Lan segera mencegah. Dia ingin sendirian saat ini. 

--


Danai berada di ruang pengawas bersama satpam untuk melihat rekaman CCTV. Sayangnya, saat Lan di serang, pelakunya berdiri di sudut mati CCTV sehingga tidak terekam, tertutup sama tiang basement. Nah, yang mereka temukan adalah saat Rawin muncul dan masuk ke mobilnya, kemudian pergi.

--


Badan Lan terasa sangat sakit. Hm, kirain Mook akan menuruti perkataan Lan dan tidak mengikutinya, tapi ternayta, Mook tidak menurut. Dia mengikuti Lan hinga ke kamar dan beralasan ingin memastikan kalau Lan baik-baik saja. Dia juga ingin mengompres tubuh Lan yang terasa sakit dan memar karena penyerangan tadi. Sembari mengompres, Mook memberitahu dugaannya kalau orang yang menyerang Lan dulu dan saat ini pasti adalah orang yang sama. Seperti yang di duga, Lan menanggapi dengan ketus dan menuduh Mook sebagai pelaku.

Mau seketus apapun respon Lan, Mook tetap saja menunjukkan perhatiannya. Hal itu, membuat hati Lan sedikit luluh.


Seperti yang diperkirakan oleh dokter, Lan mengalami demam. Dan yang menjaganya sepanjang malam adalah Mook. Dia membersihkan tubuh Lan dan mengompresnnya. Dia juga terus menerus mengecek suhu badan Lan untuk memastikan demamnya turun. 



Setelah menjaga Lan sepanjang malam, Mook harus menelan kepahitan ketika Lan membuka mata dan memanggil : “Nuch.” Lan mengatakan itu karna di pandangannya, yang ada di hadapannya adalah Nuch.


Mook sangat kecewa dan hendak pergi,namun, Lan yang salah mengira dirinya sebagai Nuch, menariknya dan memeluknya. 

“Dasar brengsek. Aku tidak peduli lagi. Aku pergi,” marah Mook. 

Seperti biasa, saat marah, Mook pergi ke balkon untuk menenangkan diri. Hatinya bertanya-tanya, apakah Lan pernah melihatnya? Ditengah kegundahan hatinya tersebut, Rut muncul dan merayu Mook. Melihat wajah Mook, dia udah bisa menduga kalau itu semua karena Lan. 


Rut kembali menegaskan kalau dia akan mendekati Mook. Mook juga ikut menegaskan kalau dia tidak percaya sama Rut, karena semuanya begitu tiba-tiba. Dia jadinya merasa Rut mau menipunya untuk menceraikan Lan. Hm, Rut setuju saja dengan dugaan Mook, akan tetapi sekarang ini, dia hanya punya satu tujuan : membuat Mook mencintainya dan melupakan Lan.

Lan yang baru bangun dan menuju ke balkon, mendengar pembicaraan mereka. Tentu saja, dia tidak pergi tapi menguping.

“Kurasa Lan sudah menegaskan bahwa dia membencimu. Aku ingin kau berhenti memikirkannya. Lupakan masa lalumu dengannya. Dan beri aku kesempatan.”


“Aku belum siap memberi siapapun kesempatan. Seperti kata adikku, meski dia tidak mencintaiku, kami sudah menikah secara resmi. Aku ingin menunggu masalah ini usai sebelum memulai kembali hidupku.”

“Aku tidak keberatan. Aku bisa menunggu. Namun, aku berhak untuk mencoba dan membuatmu tertarik padaku,” tegas Rut. “Aku akan membuatmu melepas cincin ini tanpa menyesalinya,” lanjutnya sambil memegang tangan Mook yang memakai cincin kawin.

Mook memberikan jawabannya. Tanpa harus menjalin hubungan dengan siapapun, dia bisa melepaskan cincin itu tanpa penyesalan. Rut malah mengajukan tantangan. Dalam setahun, jika Mook melepaskan cincin itu , artinya, Mook memberinya kesempatan. 



Ucapan itu membuat Mook sedikit tersenyum. Tantangan yang Rut katakan itu, menguntungkan Rut, karena memang dalam setahun dia akan melepas cincin tersebut. 

“Siapa yang menentukan syarat yang tidak menguntungkan mereka? Jadi, sudah jelas,” balas Rut dan beranjak pergi tanpa mendengar jawaban Mook.

Lan yang mendengar itu, kelihatan cemburu dan marah. Dasar manusia egois! 


Post a Comment

Previous Post Next Post