Sinopsis Drama China : When I Fly Towards You Episode 11



Selamat Tahun Baru, Rang Rang




Tahun baru sebentar lagi. Zai Zai dan keluarganya mulai sibuk menempelkan hiasan-hiasan tahun baru. Ah tidak lupa, harus beli barang baru juga, dong. Zai Zai minta dibelikan sepatu baru dan Ayah minta dibelikan tali pinggang baru. Ibu awalnya tidak memberikan izin karena barang-barang mereka masih bagus, tetapi tentu saja mereka membuat berbagai alasan salah satunya : tahun baru harus ada suasana baru agar membawa keberuntungan. HAHAHAHA, alasan saja.





Berbeda dengan Zai Zai, Lu Rang menghabiskan waktu dengan mengerjakan PR. Dia tampak bosan, tetapi untunglah Zai Zai selalu mengirim pesan dan menceritakan kegiatannya. Hal ini membuat Lu Rang jadi bisa sedikit merasakan kebagaiaan di hari-hari yang membosankan. Keluarga Lu Rang sangat berbeda dengan Zai Zai. Mereka tidak mempedulikan Lu Rang sedikitpun dan hanya fokus pada Lu Li, seakan anak mereka hanyalah Lu Li. Ibu selalu hanya menyuruh Lu Rang fokus belajar tetapi selalu menghabiskan banyak waktu dengan Lu Li. Meski tidak pernah dikatakan, tetapi dapat terlihat jelas kalau Lu Rang merasa kesepian.



Di suatu hari, Zai Zai mengirim pesan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang menarik saat berlibur, jangan hanya belajar. Segala sesuatu yang membuatnya bahagia itu menarik. Mengikuti saran Zai Zai, Lu Rang pun mencari aktivitas yang bisa membuatnya bahagia tanpa harus melibatkan keluarganya. Seperti, mengajak Su Su jalan-jalan ke pantai dan melihat matahari terbenam.



Adik Lu Rang, bernama Lu Li adalah anak yang baik. Dia bahkan ingin mengunjungi Jiangyi selama dua hari di semester depan untuk tau kota tempat kakaknya tinggal selama setahun ini. Sayang, Lu Rang malah berbohong kalau dia sibuk dan tidak bisa menemaninya saat dia datang.




Di keluarga Zai Zai,


Ayah mendapat telepon dari Nenek yang menyuruhnya pulang untuk merayakan ulang tahun Nenek buyut. Makanya, dia mengajak mereka diskusi, mau pulang atau tidak. Zai Zai menolak pulang karena mereka sudah capek-capak menghias rumah dengan pernak pernik tahun baru dan juga, kalau mereka pulang takutknya akan merepotkan yang lain karena harus menyiapkan tempat untuk mereka. Ya udah, karena mereka sudah memutuskan begitu, ayah akan bilang saja ke nenek tidak jadi pulang karena perjalanan dari Jiangyi ke Suyang lumayan jauh.



Suyang? Saat tau mau ke Suyang, Zai Zai langsung berubah pikiran. HAHAHAHA, itu kan kampung halaman Lu Rang. Zai Zai langsung detik itu juga memaksa Ayah dan Ibunya untuk bersiap pulang dengan alasan reuni keluarga adalah hal terpenting. Meski tidak ada tempat tidur, itu tidak penting. Yang terpenting adalah niat baik. Meski aneh dengan perubahan sikapnya, mereka tidak banyak bertanya. Jadi, di putuskan kalau mereka akan pergi ke Suyang besok dan kembali di hari ke-2.




Zai Zai amat senang dan langsung mengabari Lu Rang kalau dia akan ke Suyang. Menurutnya, Suyang akan menjadi tempat yang menyenangkan karena di sana ada Lu Rang. Gimana reaksi Lu Rang? Tentu saja, dia senang.



Esok harinya, hari pertama tahun baru,


Paman dan Bibi datang berkunjung ke rumah keluarga Zhang. Topik pembicaraan mereka tidak jauh-jauh dari memuji Lu Li yang begitu pintar dan menjadi kebanggan. Setelah membahas Lu Li, mereka mulai membahas Lu Rang. Ah, lebih tepatnya mereka ingin tau nilai ujian Lu Rang. Pertanyaan itu tidak mampu dijawab oleh Ibu, padahal kan dia bisa membanggakannya juga.




Lu Rang kebetulan turun untuk mengambil minum dan mendengar pembicaraan mereka. Paman dan Bibinya mengomentari sifat Lu Rang yang pediam dan bertolak belakang dengan Lu Li yang ceria. Ibu hanya mengiya-iyakan saja. Ah, dia sangat tidak memahami sifat sebenarnya Lu Rang. Padahal, sebenarnya Lu Rang adalah anak yang cukup ceria dan iseng.



Ibu juga kelihatan tidak nyaman dengan topik pembahasan Lu Rang. Dia pun menyuruh Lu Rang untuk membawa Lu Li dan beberapa sepupunya ke perpustakaan sore ini. Lu Li kelihatan bersemangat untuk pergi dengan Lu Rang. Sayang sekali, Lu Rang malah menyuruh agar Lu Li saja yang membawa sepupu mereka karena dia mempunyai urusan sore ini. Paman dan Bibinya langsung mengomentarinya lagi yang pasti tidak punya teman karena sifatnya begitu.



“Kakak punya teman,” bela Lu Li. “Dia baik-baik saja di sekolah.”


Ah, sayang sekali karena Lu Rang masuk ke dalam kamar dan tidak mendengar kalau adiknya membelanya. Lu Li juga kelihatan tidak nyaman dan pamit ke kamar. Yang paling mengecewakan di antara mereka adalah Ibu karena dia tidak membela ataupun menunjukkan dukungan pada Lu Rang di depan Paman dan Bibi.



Suasana hati Lu Rang yang buruk, jadi membaik saat mendapat pesan dari Zai Zai. Zai Zai mengabari kalau dia sudah sampai di Suyang dan akan istirahat dulu sebelum mereka bertemu nanti sore.



Niat Zai Zai memang mau istirahat. Tetapi, Ibu malah menyuruhnya membawa sepupunya, Xuan Xuan, ke supermarket untuk berbelanja. Argh, karna Ibu terus memaksa, terpaksa Zai Zai pergi menemani Xuan Xuan ke supermarket tanpa mengganti baju piyama-nya. Tidak hanya itu, di supermarket, Zai Zai nekat mau adu rebutan barang diskon dengan para Ibu-Ibu. Dia tidak merasa malu karena tidak akan ada yang mengenalinya di Suyang.




Itu perkiraannya. Tapi, saat dia lagi rebutan minyak goreng dengan seorang ibu-ibu, Lu Rang malah melihatnya. HAHAHAHA. Zai Zai tengsinberat. Karena sudah ketemu, tidak perlu nunggu sampai sore lagi. Zai Zai ngundang Lu Rang ke rumah bibinya. Sepanjang jalan, Zai Zai berusaha memperbaiki image-nya kembali dengan berbohong kalau tidak biasanya berpakaian seperti ini di rumah. Eh, Xuan Xuan malah bilang kalau Zai Zai selalu berpakaian begitu. Udah gitu, dia juga membocorkan Zai Zai yang belum mengerjakan tugas musim dinginnya.



Hingga akhirnya Xuan Xuan tau kalau Lu Rang sangat pintar dalam matematika. Dia langsung semangat dan minta Lu Rang membantunya mengajarkan PR-nya. Xuan Xuan juga curhat kalau Zai Zai tidak bisa ditanya karna tidak mengerti sama sekali. Lu Rang langsung memuji Zai Zai yang sangat pandai Bahasa Inggris dan membantunya. Setiap orang punya sesuatu yang mahir dan tidak dimahiri. Itu hal yang wajar. Pujian Lu Rang membuat Xuan Xuan jadi sadar kalau kakak sepupunya cukup hebat.





Semakin mendekati rumah Bibi Zai Zai, Zai Zai dan Xuan Xuan semakin tegang. Soalnya, di dekat sana banyak intelijen yang berbakat. Apa maksud Zai Zai? Intelijen itu adalah para tetangga yang bakal melapor ke Ibunya. Dan benar saja, baru juga lewat, Ibunya udah mendapat telepon dari tetangga kalau putrinya lagi berjalan pulang bersama seorang pria. HAHAHHAHA. Ayah dan Ibu langsung panik. Begitu Lu Rang sampai, dia langsung di sambut dengan gagang sapu oleh Ayah Zai Zai. Lu Rang jelas terkejut. Namun, dia mencoba untuk tetap stay cooldan memperkenalkan namanya. Begitu dia menyebut nama Zhang Lu Rang, sikap Ayah dan Ibu langsung berubah 180 derajat. Soalnya, mereka mengenali namanya sebagai anak yang mengajarkan les fisika dan matematika ke putri mereka. WKWKWKWK. Begitu sampai di rumah, Zai Zai juga langsung bertukar baju dan bicara dengan nada yang amat manis.



Ibu menyuruh Lu Rang untuk tidak langsung pulang dan ikut makan malam bersama mereka. Ah, btw, apa Lu Rang punya alergi tertentu?


“Dia tidak bisa makan udang,” jawab Zai Zai, lebih cepat daripada Lu Rang.



Lu Rang terkejut karena Zai Zai bisa tau padahal dia tidak pernah mengatakannya. Zai Zai tau karena dia selalu memperhatikan Lu Rang saat makan. Setiap kali mereka makan di rumah Nenek Guan Fang, Lu Rang tidak pernah makan bakso udang, jadi dia menanyakannya ke Gu Ran.



Selesai makan, Zai Zai mengantarkan Lu Rang hingga ke depan gang. Lu Rang sangat senang makan dengan keluarga Zai Zai karena sepanjang makan malam, keluarga Zai Zai selalu mengobrol. Sangat berbebda dengan keluarga Lu Rang, dimana anggota keluarga sibuk dengan diri sendiri. Baginya, makan pun terasa seperti berkumpul di waktu yang telah ditentukan dan menyelesaikan tugas.


--




Di rumah Gu Ran,


Kedua orang tua Gu Ran adalah dokter yang berbakat dan sibuk. Meski tahun baru, mereka tetap tidak bisa menikmati hari libur. Meski Gu Ran terlihat tidak masalah dengan orang tuanya yang harus ke rumah sakit dan tidak bisa menemaninya menikmati malam tahun baru, tetap saja sebenarnya dia sedih.




Rasa sedih itu terobati saat dia mendapat pesan tahun baru dari Jiang Jia. Jiang Jia mengirimkannya pesan yang di copy paste dari pesan tahun baru tahun lalu tanpa mengubah shiotahun-nya. WKWKWKW. Dan karena itu, dia jadi punya alasan untuk menelepon Jiang Jia. Jiang Jia sedang menikmati malam tahun baru dengan bermain kembang api bersama dengan saudara-saudaranya. Dia juga memperdengarkan suara kembang api kepada Gu Ran.


--



Di rumah Guan Fang,


Guan Fang menikmati tahun baru dengan menonton kembang api bersama Neneknya. Tiba-tiba, Guan Fang terpikirkan sesuatu. Setiap tahunnya selalu dilalui dengan hal yang sama : makan bersama, nyalakan petasan dan menonton Gala Tahun Baru Imlek. Namun, mengapa orang selalu menantikan Tahun Baru?



“Karena ini hari dimana semua orang memilih untuk bersama orang yang dicintai. Kau tidak merasa bisa setiap tahun dengan orang yang sama mengucapkan selamat tahun baru adalah hal yang sangat membahagiakan?”


“Jadi, aku sangatlah beruntung. Selamat tahun baru, Nenek.”


--




Zai Zai menelpon Lu Rang di tengah malam untuk mengajaknya menghitung mundur tahun baru.


“Selamat tahun baru, Rang Rang.”


“Selamat tahun baru, Su Zai Zai.”


--




“Jiang Jia, selamat tahun baru,” ujar Gu Ran.


“Mm. selamat tahun baru,” balas Jiang Jia.


--



Hari ini, keluarga Zai Zai sudah akan pulang ke Suyang. Dan seperti biasa, saat kita pulang kampung, saat pulangnya kita membawa lebih banyak daripada saat ktia datang. Begitu juga yang dialami oleh keluarga Zai Zai karena Nenek Buyut membungkuskan banyak barang untuk mereka.


--



Ayah Jiang Jia menyuruh Jiang Jia untuk bersiap menemaninya pergi ke rumah dokter Gu untuk silahturami sekaligus berterimakasih karena sudah merawat nenek saat di rawat di rumah sakit.




Dan betapa mengejutkannya karena rumah dokter Gu yang dikunjungi ayah Jiang Jia adalah rumah Gu Ran. Dan yang menyambut juga adalah Gu Ran yang memakai piyama berbentuk pikachu dan poni di kuncir ke atas. HAHAHAHA.


Epilog



Zai zai dan Lu Rang sempat melihat kembang api bersama.


“Rang Rang, apa yang kau lihat sampai begitu fokus?”


“Aku hanya merasa kalau kembang api sangat indah.”


“Kau tidak pernah memainkannya di tahun baru imlek?”


“Tidak pernah.”


“Jadi, apakah itu berarti kelak setiap kali kau melihat kembang api, kau akan kepikiran aku?” tanya Zai Zai.



Harapan tahun baru ini adalah agar produsen kembang api tidak kehabisan stok sebelum aku berusia 100 tahun.

Post a Comment

Previous Post Next Post