Type something and hit enter

By On
Images by : OCN
Dr. Mok berjalan keluar dari kantornya dengan langkah ringan. Seorang teman kerjanya menyapa dr. Mok dan bertanya apa benar dr. Mok ingin cuti kerja dan hendak kemana? Dr. Mok membenarkan hal itu tetapi dia juga tidak tahu hendak pergi kemana.

Dr. Mok pulang ke rumahnya dan membersihkan mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari rumahnya. Dia meletakkan sebuah selotip hitam dan beberapa cable ties (yang digunakan untuk mengikat kabel) di bagasi mobilnya. Dia tersenyum senang.
Hari sudah malam dan dr. Mok mengedarai mobil tersebut.
“Itu sebabnya aku menjadi pembunuh berantai,” ujarnya dalam hati.
Flashback
Dr. Mok berada dalam terowongan, “Setelah sekian lama, aku ke terowongan ini lagi. 30tahun berlalu, aku baru merasakan damai. Aku mengira tidak ada yang mengenaliku. Menyimpan sebuah rahasia begitu menyenangkan hingga membuatku tertawa.”
dr. Mok berada dalam terowongan tersebut dan menghirup rokoknya. Tidak jauh dari tempatnya, ada Kwang Ho 88 yang mengintipnya. Dia terkejut melihat dr. Mok yang masuk ke terowongan dan menghirup rokok di sana.
“Aku tidak menyangka dia mengikutiku sampai kemari,” ujar dr. Mok dalam hatinya. Dia sepertinya menyadari Kwang Ho 88 mengikutinya.

Kwang Ho 88 pergi ke sebuah tempat makan. Dia makan di sana dan membayar makanannya. Sebelum pergi, dia bertanya kepada pemilik kedai, apakah dia tahu ada terowongan yang ada di sekitar sini. Pemilik terlihat bingung. Kwang Ho 88 menjelaskan kalau dia sudah bekerja selama 3tahun di kawasan ini tapi tidak tahu kalau ada sebuah terowongan di sini. Terowongan yang sangat tua. Pemilik akhirnya ingat bahwa memang ada terowongan di sana dan seorang wanita pernah terbunuh di sana. Kwang Ho 88 terkejut. Pemilik melanjutkan kalau itu kejadian 30tahun yang lalu dan korbannya adalah teman sekolahnya dulu.
Tidak jauh dari sana, dr. Mok berada dalam mobil yang terparkir di samping tempat makan tersebut dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Mereka yang masih membicarakan pembunuhan itu selalu membuatku risau.”

Dan adegan beralih ke saat-saat dr. Mok mencekik Kwang Ho 88 hingga tewas. Adegan beralih kembali ke saat dr. Mok meng-autopsy mayat Kwang Ho 88. Dia berujar kepada mayat Kwang Ho 88 : “Itu sebabnya, aku menyuruhmu pergi.”
Flashback END
“Lalu kemudian, aku menyadari kedamaianku telah berakhir. Namun, hari ini aku menyadari… bahwa segala yang terjadi … memang telah di takdirkan untuk kujalani,” simpul dr. Mok dan tersenyum.


Dia ingat saat pertama kali bertemu dengan Park Kwang Ho. Dia juga ingat saat Sun Jae memberitahunya kalau dia adalah anak dari seorang korban 30tahun yang lalu. Dan saat dia menguping pembicaraan Jae Yi dan Sun Jae dimana saat itu Jae Yi berkata kalau Kwang Ho adalah ayahnya.
“Ketiga orang itu dibawa oleh takdir kepadaku.” dr. Mok tertawa penuh kebahagiaan.
Dan dibagasi mobilnya, ada Jae Yi yang diikat dengan cable ties dan mulutnya di lakban.
Kwang Ho berteriak panik memanggil Yeon Ho.

Sun Jae mengemudikan mobilnya dengan panik menuju tempat Kwang Ho. Dia sampai dan melihat Kwang Ho yang terduduk tidak berdaya di samping mobil Jae Yi. Sun Jae segera keluar dan bertanya apa maksud Kwang Ho kalau Jae Yi hilang? Kwang Ho menjelaskan dengan sedih kalau jae Yi menelpon dan bilang akan ke kantor polisi, namun dia tidak kunjung datang dan ponselnya di temukan di lantai.

Sun Jae mencoba tenang dan berkata kalau mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kwang Ho memotong dan berkata Yeon Ho bilang akan segera sampai. Lagipula, Yeon Ho bukan tipe orang ceroboh yang akan menjatuhkan sesuatu. Sun Jae menjawab kalau dia mengerti maksud Kwang Ho tetapi sebaiknya mereka memeriksa CCTV terlebih dahulu. Didekat mobil Jae Yi terrpakir, ada sebuah CCTV terpasang.

Sun Jae dan Kwang Ho pergi ke tempat pemeriksaan CCTV. Sun Jae melihat dengan teliti dan mendapati ada dr. Mok yang membuka pintu mobil Jae Yi. Kwang Ho menggeram marah melihat dr. Mok dan berjanji akan membunuh dr. Mok. Sun Jae meminta petugas untuk melihat CCTV lain dan melacak ke mana mobil pergi.
Terekam! Saat mobil dr. Mok berjalan pergi meninggalkan kampus. Tetapi, Sun Jae menyadari di dalam mobil tidak ada Jae Yi. Sun Jae menjadi panik dan segera beranjak pergi bersama Kwang Ho.
Di bagasi mobil, Jae Yi mencoba membebaskan diri dan berteriak. Tetapi sia-sia.
Ketua dan petugas polisi lain sudah berada di Univ. Hwayang untuk mencari keberadaan Jae Yi. Ketua juga meminta untuk dilakukan penyisiran dan melacak GPS ponsel Mok Jin Woo karena telah menculik Jae Yi. Orang yang ditelpon meminta surat izin pencarian dan Ketua dengan kesal menyuruh orang itu untuk segera mencari dan dia akan mendapatkan surat tersebut.
Petugas forensik memeriksa mobil Jae Yi dan mendapati ada tutup jarum suntik. Dia memberitahu Ketua kalau Jae Yi sepertinya di bius. Ketua menghela nafas khawatir, dia takut jika terjadi seusatu pada Jae Yi, entah apa yang akan dilakukan Kwang Ho.
Tae Hee melaporkan hasil wawancaranya dengan asisten Jae Yi. Yaitu, Jae Yi meninggalkan kantor pada pukul 7.27malam dan panggilan terakhir di ponselnya pada Kwang Ho pukul 7.35malam. Rekaman CCTV juga menunjukkan mobil Mok Jin Woo terakhir tampak di gerbang utama pukul 7.42malam. Ketua menggeram marah karena sudah satu jam berlalu. Min Ha menambahkan kalau tidak ada saksi mata dan hanya ada CCTV itu yang terpasang di sini.
Ketua bertanya dimana Kwang Ho dan Sun Jae? Tae Hee menjawab kalau mereka berdua pergi ke pusat kontrol CCTV daerah untuk melacak pergerakan mobil Mok Jin Woo. Ketua menghela nafas dan berkata kalau ini adalah perburuan melawan waktu dan mereka harus bergerak cepat.
Kwang Ho dan Sun Jae memeriksa ke pusat CCTV. Mereka menemukan mobil Jin Woo melewati tol utama Hwayang pada pukul 08.40malam dan itu sudah 40menit yang lalu.

Dr. Mok mengemudi dengan lancar. Tetapi, tiba-tiba mobilnya berguncang tidak terkendali. Dengan terpaksa, dia meminggirkan mobilnya tersebut. Dan ternyata, salah satu roda depannya bocor karena tertusuk paku.

Ketua dan team mengadakan rapat. Tae Hee memberitahu apa yang didapatkannya yaitu saat dr. Mok menculik Jae Yi, dia segera melaju dari tempat parkir Univ. Hwayang dan menju ke tol utama Hwayang. Dan berdasarkan rekaman waktu CCTV, dia menghabiskan waktu 20menit yang berarti dia tidak berhenti sama sekali. Itu artinya, dia punya tempat tujuan.
Sun Jae menimpali kalau itu berarti tidak mungkin dr. Mok membawa Jae Yi dengan mobilnya. Karena jika begitu, dia akan mudah tertangkap. Fakta bahwa mobilnya berhenti di jalan tol, dia mungkin tengah berusaha mengaburkan tempat tujuan sebenarnya.
Ketua menyimpulkan kalau begitu, tempat tujuan Mok Jin Woo harus menjadi prioritas pencarian mereka. Sun Jae menyarankan untuk memeriksa CCTV di seluruh penjuru negeri bila perlu dan juga harus melakukan inspeksi di seluruh jalanan. Ketua setuju. Kwang Ho hanya mendengarkan dengan lemas dan khawatir.
Min Ha menyarankan agar mereka melakukan investigasi terbuka saja. Ketua menolak ide tersebut karena jika terekspos media, segala sesuatu yang sudah mereka lakukan akan ketahuan. Dan mereka jadi tidak akan bisa menjamin keselamatan Jae Yi.
Min Ha jadi bertanya-tanya dimana sebenarnya pena itu? Sun Jae memberitahu kalau hanya Jae Yi yang tahu. Dan mereka harus menemukan Jae Yi dulu.
Kwang Ho akhirnya buka suara dan memberitahu kalau Jin Woo lahir di Seoul. Sudah lama kediaman neneknya tidak ada. Apa Mok Jin Woo punya bangunan terdaftar lain? Sun Jae yang menjawab kalau bangunan milik Jin Woo hanyalah rumahnya sekarang dan tidak ada satupun petunjjuk di sana. Kwang Ho menyarankan untuk pergi ke ruamh masa kecil Jin Woo karena dia pasti ke tempat yang familiar baginya. Sun Jae mengangguk setuju dan menyarankan untuk pergi juga ke area dimana Jin Woo melakukan pelayanan medis secara sukarela. Tempatnya biasanya berada di lokasi terpencil dan terdapat banyak rumah kosong di sana.  
Sun Jae melapor pada Ketua kalau dia dan Kwang Ho akan berusaha menemukan tempat tujuan dr, mok dulu. Ketua setuju dan dia memerintahkan Tae Hee serta Min Ha untuk memeriksa riwayat telpon Mok Jin Woo, rekening bank, kartu kredit, histori internet dan segalanya. Sementara dia, akan memeriksa CCTV di jalanan nasional. Prioritas mereka sekarang segera menemukan dr. Mok dan menyuruh semuanya cepat bergerak.


Dr. Mok memanggil jasa layanan perbaikan mobil. Ban mobil selesai di ganti. Di bagasi, Jae Yi mendengar suaranya. Petugas hendak pergi tetapi dia merasa curiga ketika mendengar ada suara dari bagasi mobil. Itu suara Jae Yi yang menendang bagasi meminta pertolongan. Peugas beranjak ke arah bagasi hendak memeriksa. Dr. Mok diam memperhatikannya. Petugas berhenti sebelum memeriksa bagasi dan bertanya pada dr. Mok apa ada masalah dengan bagasi mobilnya? Dr. Mok tersenyum ramah dan menjawab tidak ada. Petugas curiga dan memberitahu kalau dia mendengar suara dari arah bagasi. Petugas mendekat ke bagasi dan dr. Mok mengikutinya dari belakang. Dr. Mok memasukkan tangannya ke kantong jaketnya dan hendak mengambil sesuatu. Tepat sebelum petugas membuka bagasi, telpon pelanggan lain masuk. Dr. Mok segera mengeluarkan tangannya dari saku. Petugas meminta maaf pada dr. Mok dan pamit pergi karena harus mengurus pelanggan lain.
Di bagasi, Jae Yi terus berusaha menendang. Pintu bagasi terbuka. Dan disana, berdiri dr. Mok. Dia mengeluarkan jarumnya dan kembali membius Jae Yi. Jae Yi kembali tidak sadarkan diri.




Kwang Ho memeriksa informasi mengenai dr. Mok dan menandai setiap tempat yang mungkin bisa di jadikan tempat tujuan oleh dr. Mok. Sun Jae sendiri juga memeriksa setiap tempat yang pernah di datangi sebagai lokasi kerja medis sukarela. Ketua memandangi dengan teliti setiap CCTV. Tae Hee memeriksa riwayat rekening bank dr. Mok. Dan Min Ha memeriksa riwayat telepon.
Ketua akhirnya melihat di CCTV sebuah mobil layanan perbaikan mobil dan merasa curiga. Min Ha melaporkan kalau dari riwayat telpon selama sebulan, dr. Mok hanya menghubungi rumah dan tempat kerjanya. Tidak ada riwayat mencurigakan sama sekali. Tae Hee melaporkan kalau dr. Mok jarang menggunkan kartu kreditnya dan lebih sulit mencarinya daripada Jung Ho Young.
Ketua sendiri menelpon ke mobil layanan perbaikan mobil yang terekam dan merasa terkejut. Dia melaporkan hal itu pada semuanya. Petugas layanan memberitahu kalau dia menambal mobil Jin Woo karena ada paku yang tertancap di rodanya. Di Yeonkyung, titik 43.  

Saat itu hari sudah pagi, dan mereka terkejut mendengar lokasi tersebut. Kwang Ho memberitahu kalau Jin Woo tidak pernah tinggal di daerah Yeonkyung. Tetapi, Sun Jae menimpali kalau Mok Jin Woo sempat melakukan layanan medis sukarela di Yeonkyung.  
Kwang Ho lanjut bertanya apakah Jin Woo bersama seorang wanita malam itu? Petugas menjawab kalau Jin Woo hanya sendiri tapi dari bagasi mobilnya ada suara berisik. Sun Jae dan yang lain terkejut mereka yakin di dalam bagasi ada Jae Yi.
Ketua dan team serta petugas menuju ke lokasi tersebut. Mereka mencari CCTV di sekitar sana dan melakukan penelusuran.

Jae Yi sudah terikat di sebuah kursi. Dia akhirnya sadar. Dr. Mok membuka lakban di mulut Jae Yi dan menatapnya dingin.

Tiba-tiba, terdengar suara sirine polisi. Itu adalah mobil Sun Jae dan Kwang Ho serta beberapa petugas. Mereka mulai melakukan pemeriksaan ke setiap rumah -  rumah.


Dr. Mok mengintip dari jendela dan bisa melihat mobil polisi yang terparkir. Sementara, Kwang Ho memeriksa ke sebuah rumah kosong dan hanya melihat dari luar. Dia tidak masuk hingga ke dalam. Sun Jae menghampirinya dan berkata kalau Jin Woo tidak akan bersembunyi di tempat yang mudah ditemukan, dia pasti membawa Jae Yi ke tempat dimana hanya dialah yang tahu. Kwang Ho merasa sangat marah dan frustasi.

Mobil patroli beranjak pergi. Dr. Mok segera menutup jendela dan mulai menginterogasi Jae Yi. Dia berkata hanya akan bertanya tiga kali, dimana keberadaan pena itu. Jika sampai tiga kali Jae Yi tidak menjawab, Jae Yi akan mati. Jae Yi hanya punya tiga kesempatan. Ingat itu.
Dr. Mok mulai bertanya sekali, dimana pena itu? Jae Yi tetap diam.
Dr. Mok mengingatkan kalau Jae Yi hanya punya dua kesempatan lagi. Dia mencekik Jae Yi dan bertanya dimana pena itu? jae Yi tetap diam walau di cekik oleh dr. Mok. Cekikan semakin kuat. Jae Yi tetap bungkam. Dr. Mok bertanya apa Jae Yi akan menjawab dan Jae Yi dalam kondisi tercekik berusaha menggangguk.
Cekikan di lepas dan Jae Yi terbatuk. Dia menarik nafas berkali-kali. Dan akhirnya menjawab kalau pena itu ada di Inggris. Dr. Mok tidak percaya dengan jawaban Jae Yi tersebut. Jae Yi mengingatkan kalau dia dulu pernah di adopsi dan semua barang masa kecilnya masih ada di Inggris. Dia hanya perlu menelpon ke sana.
Dr. Mok mendekat pada Jae Yi. Dia mengingatkan dengan suara dingin, kalau Jae Yi harus membayar mahal jika dia sampai berbohong. Dia bertanya memastikan apa benar pena itu ada di Inggris? Jae Yi ketakutan dan menggangguk.

Dr. Mok akhirnya menggunakan ponselnya dan menghubungi Kate di Inggris. Jae Yi yang masih dalam keadaan terikat berbicara kepada Kate dalam English, meminta agar Kate mengirimkannya pena yang sering dia pakai ke Korea. Pena yang ada dalam alkitab di laci nomor tiga mejanya. Dr. Mok memberi isyarat dengan mulutnya, agar Jae Yi menyuruh temannya itu mengirim pena ke Univ. Hwayang. Jae Yi menurut dan meminta Kate untuk mengirim pena tersebut ke alamat kantornya di Univ. Hwayang. Dan telpon langsung dimatikan oleh dr. Mok.
Dr. Mok bertanya kepada Jae Yi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman itu sampai? Jae Yi menjawab sekitar 3hari, paling cepat.
Dr. Mok terlihat berpikir. Dia duduk di depan Jae Yi dan bertanya apa yang harus mereka lakukan selama tiga hari tersebut?

Sun Jae masih terus menelusuri rumah-rumah. Ponselnya berbunyi. Telpon dari temannya yang di kantor pencarian orang hilang. Temannya bertanya apa terjadi sesuatu pada Jae Yi? Sun Jae heran darimana temannya itu bisa tahu? Teman Sun Jae terkejut karena tebakannya benar. Dia memberitahu Sun Jae kalau Kate menelpon memberitahu kalau Jae Yi menelpon ke Inggris. Teman Sun Jae memberitahu kalau Kate tersebut merasa aneh karena Jae Yi menelponnya dari nomor lain dan meminta agar dikirimkan pena.
Sun Jae juga terkejut. Kwang Ho yang ada di sebelah ikut kaget.

Dr. Mok terus memandangi Jae Yi. Sementara Jae Yi memalingkan muka dan menunduk ketakutan. Dia juga melihat sekeliling dan mendapati ada gambar anak kecil dengan satu mata dan seorang wanita berbaju merah.
Sun Jae menelpon Kate di kantor. Dia memasang loudspeaker sehingga bisa terdengar oleh yang lain. Kate memberitahu kalau Jae Yi menelponnya tetapi anehnya Jae Yi menyebut soal laci meja padahal meja yang dipakai Jae Yi  tidak pernah ada lacinya dan juga semua barangnya sudah tidak ada lagi disana. Dia merasa ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Sun Jae menenangkan Kate untuk tidak khawatir dan dia akan memastikan tidak terjadi sesuatu pada Jae Yi. Dia meminta Kate untuk mengirim sembarang pena dalam alkitab dan kirim secepatnya. Kate mengerti dan memberitahu pena tersebut akan tiba dalam tiga hari. Sun Jae berterimakasih dan meminta Kate untuk memberitahunya jika sudah mengirim pena tersebut.  
Sun Jae melaporkan apa yang dibicarakannya pada Kwang Ho (karena Sun Jae berbicara dalam English dan Kwang Ho tidak mengerti). Sun Jae menyimpulkan kalau Jae Yi sepertinya sedang mengulur waktu untuk mereka dan dia menelpon temannya di Inggris agar dia bisa tahu. Dia menyarankan kalau mereka harus bersembunyi di Uinv. Hwayang dan menangkap Jin Woo.


Min Ha angkat suara dan bertanya apa yang akan terjadi pada Jae Yi jika ketahuan bohong oleh Jin Woo? Kwang Ho berkata kalau mereka harus menangkapnya sebelum itu terjadi. Yeon Ho sudah membohongi Mok Jin Woo dengan taruhan nyawa dengan bukti satu-satunya yang dia ketahui. Ketua menggengam pundak Kwang Ho dan memintanya jangan khawatir. Kali ini, mereka akan pastikan menangkap Mok Jin Woo.
Sun Jae optimis kalau dr. Mok tidak akan melakukan apapun sampai mengonfirmasi dengan mata kepalanya sendiri. Jae Yi pernah berkata kalau Mok Jin Woo sangat ingin mendapatkan penanya kembali. Dia meminta semuanya bersiap untuk penangkapan tiga hari lagi.
Tae Hee menenangkan Kwang Ho. Semuanya akan berakhir dalam 3hari.
“Tiga hari ini terasa 30tahun bagiku,” ujar Kwang Ho.
Jae Yi masih dalam keadaan terikat. Dr. Mok menyodorkan botol minuman pada Jae Yi tetapi Jae Yi memalingkan mukanya. Dr. Mok tidak memaksa dan meminum sendiri airnya.
“Aku punya pertanyaan. Gambar itu … kau yang menggambarnya, kan? Kau tinggal di sini bersama ibumu,” tanya Jae Yi.
“Kau sedang wawancara atau bagaimana? Atau… profiling?”
“Kita punya waktu tiga hari sampai pena-nya tiba. Kurasa bukanlah ide yang buruk untuk mengobrol sampai saatnya. Jung Ho Young pernah kutanyai alasan dia terosebsi pada rok dan apakah ibunya slalu memakai rok. Tapi itu… sebenarnya obsesimu. Bukan ibunya Jung Ho Young, tapi ibumu. Sebenarnya Jung Ho Young tidak memiliki standarisasi korban. Tapi… kau punya… karena kau melihat sosok ibumu pada para korban. Ibumu itu…orang seperti apa?”
Dr. Mok terdiam. Dia memandang ke sudut jendela yang terdapat sebuah tangga menuju loteng. Dan mulai mengingat masa lalunya.

Flashback
Mok Jin Woo membaca komik pahlawan korea. Yang seperti di Drama Korea gaksital/bridal mask, mengenai tokoh pahlawan yang memakai topeng dan melawan penjajah jepang. Jin Woo bahkan membuat topeng tersebut dan berakting seperti menghajar penjahat.
Setelah itu, dia berteriak memberitahu ibunya kalau dia sudah selesai membaca komiknya.
Dan terdengar suara pria sedang memarahi seseorang. Jin Woo terus berteriak memanggil ibunya. Terdengar suara pintu terbanting.

Dan kemudian,  pintu terbuka. Ternyata Jin Woo di letakkan dalam kamar loteng. Ibunya dengan mengirip rokok melihat kesal pada Jin Woo dan bertanya ada apa lagi? Jin Woo dengan gugup dan takut memberitahu kalau dia sudah selesai membaca komik seperti perintah ibunya. Dia meminta maaf pada ibunya. Ibu menatap kesal padanya tetapi akhirnya menyuruh Jin Woo turun dan makan. Jin Woo tersenyum senang.
Flashback END
Jae Yi menatap dr. Mok yang terdiam. “Apa dia memakai rok dan stocking lalu menemui para lelaki?”
Dr. Mok terkejut mendengar pertanyaan Jae Yi dan menatapnya.
“Kau pasti menyaksikannya setiap hari sampai kemudian kau di kirim pada nenekmu. Saat ibumu memakai rok dan stocking, dia pasti pergi bekerja, kau mengetahuinya. Sampai ibumu pulang kerja, kau pasti menunggu sendirian di sini. Pasti sering sekali kau ketiduran saat tengah menunggunya. Kemudian kau… merasa kesal pada ibu yang selalu meninggalkanmu sendirian. Tingkat kebencian pada seseorang bergantung juga pada kedalaman rasa sayang terhadapnya. Ibumu selalu pergi keluar, kau tidak menyukainya. Apakah aku salah?”
Dr. Mok tidak bisa menjawab. Dia menatap gambar di dinding.


Flashback
Itu adalah gambar yang dibuatnya saat kecil tetapi saat itu ibunya sedang sibuk memakai stocking dan hanya menyuruh Jin Woo untuk bermain sendiri dan baca komik. Jin Woo kecil menatap kesal dan marah pada ibunya.

Ibu pulang saat larut malam dengan seorang pria. Dan rumahnya penuh dengan pakaiannya yang dihancurkan. Sang pria marah karena salah satu baju yang dirusak adalah baju yang dibelikannya. Pria itu langsung pergi sementara ibu menghela nafas melihatnya. Dia tahu itu perbuatan Jin Woo.
Flashback END

“Itu sebabnya kau membunuh menggunakan stocking. Sebab mengingatkanmu pada ibumu,” ujar Jae Yi. “Orang yang membunuh ibunya berulang kali, bukanlah Jung Ho Young. Tapi.. kau.”
Dr. Mok marah mendengarnya. Dia berkata kalau Jae Yi tidak tahu apa-apa. “Para wanita itu mati karena ada alasannya.”
“Kau membunuh karena ada alasanya?” tanya Jae Yi tidak percaya. Dia tertawa, “Jangan coba bicara omong kosong kau. Kau mengira dirimu berbeda dengan Jung Ho Young yang membunuh untuk berolahraga, kan? Tidak. Kau sama seperti dia.”
Dr. Mok berteriak kalau dia berbeda. “Para wanita itu bersalah.”
“Apa kesalahan Yoon Da Young? Lalu Nam Jun Hee?”
“Mereka seharusnya tidak keluyuran saat malam hari. Mereka semestinya tidak melakukannya.”
Jae Yi tertawa tidak percaya mendengar alasan itu, “Dia yang membelikan hadiah untuk suaminya … ibu Letnan Kim bagaimana?”
“Aku melihatnya dalam bus. Dia tersenyum pada pria lain. Bagaimana ibu semacam itu bisa mendidik anaknya dengan benar? Dia lebih baik tidak memiliki ibu seperti itu.”
Jae Yi tertawa. Dia menegaskan kalau dr. Mok membunuh hanya karena dia menginginkannya. “Daripada membunuh ibumu, kau memilih membunuh mereka entah orang biasa atau bukan. Aku bahkan tidak tahu cara menjelaskan padamu orang biasa itu seperti apa. Kau hanya… menikmati membunuh mereka. Seperti Jung Ho Young.”
Dr. Mok marah. Benar-benar marah. Dia berdiri dan hendak menampar Jae Yi. Jae Yi tidak takut dan balik menantang kalau dr. Mok pasti ingin mencekiknya lagi. Itu bukti kalau dr. Mok hanya suka membunuh orang. Dia bahkan mendongakan kepalanya dan menyuruh dr. Mok untuk mencekiknya. Untuk membunuhnya. “Bunuh aku, dasar bajingan!”
Nafas dr. Mok memburu. Dia menatap Jae Yi tajam. Mereka saling bertatapan dan pada akhirnya dr. Mok memilih pergi. Jae Yi menghela nafasnya.
Dr. Mok pergi keluar rumah dan menarik nafasnya. Dia menatap ke jalanan dan…
Flashback
Jin Woo saat SMA berada di tempat kerja ibunya. Dia menatap risih pada para wanita yang berjalan bermesraan dengan pria. Ibu memberikan hadiah pada Jin Woo karena sudah SMA. Sebuah pena yang bertuliskan nama baptis Jin Woo, NOEL.
Ibu meraih tangan Jin Woo dan menasehati Jin Woo untuk baik-baik pada neneknya. Ibu kemudian memanggil taksi dan mengantarkan Jin Woo masuk ke dalam taksi. Jin Woo di dalam taksi memandang senang pada hadiah pena-nya.
Setelah Jin Woo pergi, ibu berbalik dan membuka tangan lebar memanggil pada pria di sana. Mereka saling berpelukan.
Di dalam taksi, supir taksi berujar ‘para wanita jalang itu,’ dan hal itu memancing kemarahan Jin Woo. Dia mencekik supir taksi dari belakang sehingga taksi oleng dan supir mengerem. Jin Woo mencekik dan terus memukul sang supir taksi. Dia terus berujar kalau ibunya bukan wanita seperti itu.
Flashback END
“Ibuku… bukan orang semacam itu,” ujar dr. Mok berulang kali.

Sun Jae membawa denah Univ. Hwayang. Kate menelpon dan memberitahu kalau paketnya sepertinya akan tiba besok pagi.

Sun Jae mengadakan rapat dengan team. Dia memperlihatkan denah Univ. Hwayang dan memberitahu posisi kantor Jae Yi. Mereka menyusun lokasi berjaga. Dan mulai bergegas. Mereka membawa berbagai peralatan seperti pistol dan borgol.
Dr. Mok melakban mulut Jae Yi agar tetap diam.
Hari sudah pagi,
Dr. Mok pergi ke Univ. Hwayang dengan menggunakan taksi.
Ketua dan team sudah berjaga di sana dan bahkan memperhatikan mobil paket yang masuk ke dalam dan melaporkan kepada setiap orang yang berjaga. Semua menunggu dengan gugup.

Tetapi, paket ternyata diantarkan ke lab. Sistem operasi. Kwang Ho dan Sun Jae tentu heran karena paket bukan di antarkan ke ruangan Jae Yi. Mereka segera menghampiri petugas paket dan bertanya mengenai paket untuk Shin Jae Yi. Petugas memberitahu kalau paket tersebut sudah diterima oleh seseorang.
Dan ternyata, sebelum petugas pergi mengantarkan paket, dr. Mok sudah menunggu di depan kantor paket dan mengambil paket itu sendiri.
Sun Jae melaporkan hal itu pada Ketua. Semua mendesah kecewa.


Dr. Mok menatap senang paket yang ada di tangannya. Dan ternyata, dia sudah mendengarkan mereka dari semalam mengenai lokasi penyergapan Jin Woo. Jin woo membuka paket tersebut dan menemukan sebuah alkitab. Dia membuka alkitab tersebut dan isinya bukan pena yang dicarinya.

Ketua dan team merasa stress mengenai darimana dr. Mok bisa mengetahui rencana mereka. Kwang Ho juga heran darimana dr. Mok bisa tahu Yeon Ho tahu mengenai lokasi pena padahal dia hanya membicarakannya dengan Sun Jae. Semua merasa heran.


Mata Sun Jae kemudian tertuju pada bidak Raja di mejanya. Itu bidak yang diberikan oleh dr. Mok sebelumnya. Dia sepertinya tersadar dan melihat kalau bidak itu bisa dibuka dasarnya. Semua menatap heran padanya. Sun Jae memberi isyarat dengan mulutnya dan membuka bidak tersebut. Benar! Ada alat penyadap di dalamnya. Kwang Ho dan team mendesah tidak percaya melihat alat penyadap tersebut. Kwang Ho segera menghancurkan alat tersebut.
Kwang Ho benar-benar marah dan beranjak pergi.


Tolong Tinggalkan Komentar, Kritik, ataupun Saran untuk Perubahan yang Lebih Baik!!! ^^

Click to comment