Sinopsis Thai-Drama : Ra Rerng Fai Episode 3 - 2


 Company name : Citizen Kane

Nee menghubungin Krit, tapi Krit tidak mau berbicara sekarang. Jadi dengan sedih, Nee mencoba untuk berpikir positif. Yaitu bisa saja Krit sedang sibuk sekarang, makanya ia seperti itu.

Lalu Nee pun duduk dan memandangi  boneka miliknya (pemberian dari Krit dulu). Dan pada saat itu Trai mengirimkan sms kepadanya. Aku betaruh kamu sedang kesepian?



“Bagaimana dia bisa tau?” pikir Nee, tapi ia tidak menanggapi itu. dan tiba-tiba Trai mengirimkan pesan lagi kepadanya, setelah itu menelponnya, jadi Nee pun mengangkatnya.

“Aku bukan teman bermainmu.”

“Aku tidak ingin kamu sebagai temanku, tapi sebagai pacarku. Aku sekarang sudah berdiri di didepan rumahmu.”



Mendengar itu, Nee pun menjadi sangat kaget. Tapi tanpa menunggu balasan Nee, Trai langsung mematikan panggilan telponnya begitu saja.

Dengan wajah cemberut, Nee membuka pintu pagarnya dan lalu melihat Trai yang berdiri sambil tersenyum lebar kepadanya. Jadi Nee pun balas tersenyum dengan lebar dan melangkah maju mendekati Trai, lalu memukul kepala Trai menggunakan hpnya. Sehingga Trai pun berteriak agar Nee berhenti.


Nee berhenti memukul Trai dan memberitahunya, yaitu bahwa level mereka berbeda. Tapi Trai tidak tersinggung, malah dengan ramah, ia meminta maaf kepada Nee.

Saat Nee sibuk menyangkal dirinya yang sama sekali tidak merasa kesepian. Trai memperhatikan dengan seksama gaya berpakaian Nee yang tampak biasa, beda dari kesan seksi dari baju yang sering Nee gunakan. Dan menyadari itu Trai pun tertawa dan mengatai Nee, sehingga Nee kembali kesal dan lalu memukul Trai lagi, lalu setelah itu ia pun masuk kedalam rumah dan menutup pagarnya.



Trai hanya diam dan tersenyum, tapi setelah pagar rumah Nee telah tertutup. Ia mulai bicara dan meminta Nee untuk mengizinkan ia masuk atau ia akan memanjat naik. Dan Nee yang malas mendengar itu, sengaja menutup telinganya.

Tapi pada saat itu, Trai benar-benar memanjat naik. Sehingga melihat itu Nee pun menjadi lebih kesal, jadi dengan segera ia mengambil payung dan membuka pintu pagarnya, lalu memukuli Trai agar turun.


Karena dipukuli terus oleh Nee, Trai pun terjatuh, tapi ia tetap tersenyum saja. Bahkan saat Nee mengatai nya, Trai tetap tersenyum dan tepat saat Nee lengah, dengan cepat Trai berlari dan masuk kedalam rumah.

Nee yang terlambat dalam menghentikan Trai, hanya bisa menahan rasa kesalnya.


Dengan santai Trai duduk dan membaca buku, lalu dengan langkah cepat Nee menghampirinya serta memarahinya untuk segera pergi. Tapi dengan ramah, Trai berterima kasih kepada Nee untuk kasus hack tersebut dan menjelaskan bahwa ia tidak mau pergi keperusahaan dulu karena takut para karyawan akan marah kepadanya.


“Perusahaan kami membayar gaji untuk setiap orang ditiap bagian. Pendapatan yang hilang hari ini sangat penting untuk mereka. Untuk makan mereka, pendidikan anak, dan biaya hidup keluarga mereka. Itu semua hilang begitu saja karena kalian mau menang,” jelas Nee mengenai dampak dari kejadian hack tersebut kepada Trai.

“Kakak kamu yang mulai duluan!,” sahut Trai emosi, lalu kembali berbicara dengan lebih lembut lagi,”Tapi sejak Khem telah pulang, mari kita berdua saling berbaikan.”

“Jaga agar temanmu tetap dekat, maka musuhmu akan mendekat. Seperti itukah?” balas Nee kepada Trai dengan sinis.


“Jika kamu mengizinkan aku untuk boleh dekat dengamu lebih daripada teman, maka aku akan menjadi takdirmu,” kata Trai, lalu sebelum Nee sempat memotong, ia melanjutkan perkataannya,”Aku mau fokus kerja. Tidak peduli itu perusahaan milik siapa, aku mau mengerjakan bagianku dengan baik seperti kamu. Itu yang ingin aku katakan.”

Setelah selesai bicara, Trai berbalik dan pergi, tapi tiba-tiba ia teringat akan sesuatu dan berbalik lagi memandang Nee,”Oh. Apa kamu pernah baca buku ‘Aku disini… Musuhku sayang’ ? Bacalah, itu sangat menyentuh.”



Nee melihat Trai dengan tatapan bingung dan heran, jadi ia pun tidak berkata apa-apa. Lalu ia pun mulai membereskan buku yang berada diatas meja dan ketika itu ia melihat sebuah boneka kecil yang memegang kertas.

Trai berhenti didepan pintu dan mengingat perkataannya kepada Yada, yaitu ia tidak akan menunggu, karena Krit telah menyakiti Yada, sehingga ia pasti akan membalasnya.

Trai lalu berbalik dengan tatapan tajam dan menatap kearah Nee. Sedangkan Nee membaca tulisan pada kertas tersebut dengan heran. Seorang teman yang menjagamu –Trai




Yada bersama Kasin pergi kerestoran untuk makan bersama-sama. Disana Kasin bicara dengan bangga mengenai keberhasilannya dan ia ingin mengetahui berapa banyak kerugian yang dialami Krit. Tapi Yada sama sekali tidak mau mengetahui itu, karena baginya Khem telah pulang dan lalu ia pun meminta agar Kasin mengubah topik saja.

Yada serta Kasin mulai duduk bersama. Dan Kasin mulai berbicara lagi, tapi ia sama sekali tidak mau mengubah topik pembicaraan dan tetap menyombongkan dirinya.

“Kamu lihat, jika kamu tidak punya aku, kamu pasti tidak bisa melawan dia!” kata Kasin bangga. Sedangkan Yada tampak malas dan bosan mendengar itu.

Seorang pelayan datang dan memberitahukan kepada mereka bahwa T-mart telah memesan restoran itu untuk mengadakan pesta pribadi, jadi dikarenakan hal itu mereka akan tutup.

Mengetahui hal itu, Yada mengajak Kasin untuk pergi saja. Tapi Kasin yang tidak terima mulai marah kepada pelayan tersebut dan mengatakan bahwa ia akan membayar dua bahkan tiga kali lipat dari apa yang telah Krit bayar da menolak untuk pergi.

Yada yang mulai malas dengan sikap Kasin, berjalan pergi begitu saja, tanpa mengatakan apapun.


Ketika akan menaiki lift, Yada tanpa sengaja bertemu dengan Krit yang berada didalam lift. Jadi karena tidak suka, Yada pun berbalik dan membelakangin Krit.

“Terganggu dengan ku?” tanya Krit tenang.

Lalu Yada pun terpaksa berbalik untuk membalas pertanyaan Krit,”Aku hanya tidak ingin menghirup udara yang sama dengan orang sepertimu.”

Mendengar jawaban Yada yang seperti itu, dengan marah Krit lalu keluar dari dalam lift dan menarik Yada untuk masuk bersama dengannya kedalam lift dan memencet tombol lift.


Tanpa memperdulikan Yada yang memberontak dan minta dilepaskan, Krit menahan tangan Yada dengan erat. Lalu setelah tiba dilantai yang dituju, Krit segera keluar dari lift sambil menarik tangan Yada agar ikut dengannya.

Setelah akhirnya Yada berhasil melepaskan dirinya, ia kebingungan melihat tempatnya berada. Dan ketika itu Krit kembali menariknya dan masuk kedalam sebuah ruangan yang lain, lalu melepaskan Yada yang baru sadar bahwa ia berada dikamar Krit.


“Ini kamarku. Bukankah kamu mau menyelidiki dimana aku tinggal? Kamu harus menghargainya. Aku memberikan kamu kehormatan sebagai tamu pertamaku disini.” Jelas Krit kepada Yada.

“Aku tidak mau kesini.”

“Tapi aku mau bicara denganmu disini. Masalah pribadi harus dibicarakan di ruangan yang pribadi,” balas Krit lembut.


Yada berbalik dan mau keluar, tapi Krit menghentikannya dengan mengatakan bahwa penjaganya tidak akan melepaskan Yada pergi dengan mudah. Jadi Yada pun tidak jadi pergi, tapi dengan tenang ia membalas bahwa polisi yang akan mengeluarkannya, lalu ia pun mengeluarkan hpnya.

Tapi dengan cepat Krit merebut dan membuang hp Yada kesofa. Lalu menahan Yada yang berusaha untuk mengambil kembali hpnya. Dan menanyakan apakah Yada tidak mau tinggal dan merayakan dengannya, mengenai kerusakan situs T-Mart.


Dengan kuat Yada mendorong Krit serta menolak ajakannya. Tapi dengan cepat,  Krit kembali menarik Yada, lalu mulai bertanya lagi. Kali ini raut wajah Krit terlihat lebih keras, karena marah.

“Kamu takut pacarmu cemburu? Atau kamu takut padaku?”

“Aku tidak takut padamu! Tapi aku mau menjauh sejauh mungkin darimu!”


“Kamu tidak bisa menjauh dariku. Karena kita belum selesai bernegosiasi,” kata Krit sambil memandang kearah cincin (mungkin milik khem) dimeja. Dan Yada yang lalu mengikuti arah pandang Krit, segera mengambil cincin itu dan menyimpannya kedalam dompet.


Krit menarik Yada lagi lebih dekat kepadanya dan tidak ingin melepaskannya,”Adikkmu sudah pulang. Tapi dimalam yang sama, kakaknya menghilang. Keluargamu sangat menarik.”

Mendengar perkataan Krit yang seperti itu, benar-benar membuat Yada marah dan mendorong wajah Krit menjauh darinya, lalu berlari untuk pergi. Tapi Krit berhasil menangkapnya lagi, sehingga dengan panik Yada mulai berteriak meminta tolong.


“Kedap suara di kamar ini sangat bagus. Aku akan menggunakan itu, ketika aku membuka bisnis hotel baruku,” kata Krit memberitahu Yada sambil tersenyum dengan gembira.

Yada berusaha memberontak, tapi Krit yang lebih kuat mendorong Yada hingga jatuh dikursi dan wajah mereka menjadi berdekatan. Tapi saat Yada sadar dengan apa  yang mau Krit lakukan, ia mendorong dan menolak Krit.


“Memohonlah padaku. Seorang Iblis sepertiku mungkin akan mendengarkanmu,” kata Krit lembut sambil menatap mata Yada.

“Tidak. Jika kamu melakukan sesuatu padaku, aku tidak akan melepaskan kamu dengan mudah. Aku akan melawan sampai salah satu dari kita mati!” ancam Yada.


Tapi sayangnya, Krit sama sekali tidak takut dan malah tersenyum mengejek kepada Yada. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya kembali kepada Yada.

Saat wajah Krit telah semakin dekat kepadanya, Yada pun memalingkan wajahnya dan mengaku menyerah serta memohon agar Krit tidak melakukan itu. Tapi Krit tetap tidak mau melepaskan Yada.

Krit meminta agar Yada tinggal semalam dengannya.


Yada berusaha mendorong Krit menjauh, tapi Krit lebih kuat. Ia menahan Yada dan lalu membaringkan dkepalanya dipangkuan Yada.

“Aku ngantuk,” kata Krit lembut sambil tersenyum kepada Yada, lalu menutup matanya. Dan tangannya memegang kedua tangan Yada yang mau melawan, sehingga Yada tidak bisa bergerak dan melakukan apapun.



Yada memandangin Krit yang tertidur, lama sekali. Tampaknya ia berusaha untuk tetap sadar, tapi malah tanpa sadar ia jatuh tertidur pada akhirnya. Dan Krit yang lalu terbangun, bangkit berdiri dan memandangin Yada yang telah tertidur pulas.


Hari telah pagi. Yada terbangun dan memeriksa jam tangannya, lalu ia pun bangkit berdiri dan ingin mengambil hpnya. Tapi Krit datang sambil tersenyum dan lalu mengambilkan itu  untuknya.


“Aku sudah menyiapkan mobil untuk mengantarmu,”jelas Krit. Lalu berjalan kearah meja makan dan menuangkan secangkir kopi.

Dari belakangnya Yada memanggil Krit dan saat Krit berbalik, ia segera menfoto wajah Krit.


“Aku menyadari, kamu tidak suka berfoto. Karena kamu pasti banyak melakukan kejahatan. Aku akan menggunakan foto ini untuk diserahkan kepada polisi ketika mereka akan menangkap kamu.”

Tanpa disangka oleh Yada, Krit malah tersenyum senang dan mengajak Yada untuk berfoto bersama. Ia merebut hp Yada dan menahan Yada dengan kuat, lalu tersenyum kearah kamera.


“Orang yang saling mencintai, tidak harus saling menyimpan rahasia,” kata Krit lembut sekali kepada Yada.

“Kapan aku bilang aku suka kamu?”

“Suatu hari nanti, aku yakin. Aku pasti bisa.”


Yada marah akan sikap penuh percaya diri Krit yang seperti itu, jadi ia pun segera mengambil baranngnya dan mau pergi. Tapi lagi-lagi Krit mengajaknya untuk berbicara.

“Kita belum selesai bernegosiasi.”

“Sebutkan.”

“Aku ingin kamu menjadi wanitaku. Sebagai ganti kebebasan untuk Ayahmu.”

“Apa maksudmu?” tanya Yada bingung.

“B-Star memiliki sebuah catatan rahasia mengenai kecurangan dalam pembayaran pajak beberapa tahun ini. Singkatnya seperti ini, itu bisa membuat Ayahmu tidur dipenjara.”

Yada menolak untuk mempercayai Krit tentang kecurangan Ayahnya. Ia mengira Krit menginginkan sesuatu sampai melakukan itu kepada keluarganya. Jadi Yada pun bertanya kepada Krit.

Dan dengan santai Krit menjawab bahwa ia telah memberitahunya tadi.




Yada menampar wajah Krit, tapi Krit tetap tersenyum dan mulai bicara dengan lembut kepadanya,”Orang yang saling mencintai tidak akan melakukan ini kepada pasanganya.” Kata Krit, tapi Yada sama sekali tidak suka mendengar nya dan menampar Krit lagi.

Jadi karena sudah kesal mungkin, Krit memegang wajah Yada dengan paksa dan menciumnya. Sehingga Yada menjadi terkejut dan hanya bisa diam menatap mata Krit, ketika Krit menjauhkan wajahnya.

“Seperti inilah seharusnya,” jelas Krit dengan tenang.


Yada pulang kerumah, tapi sebelum ia mau masuk, Kasin keluar dari dalam rumahnya. Dan Kasin menanyakan kepada Yada mengenai keberadaannya kemarin malam.

“Mengapa kamu tidak mencariku?” balas Yada bertanya.

“Mengapa aku harus? Kamu tau, aku menunggu kamu dimobil selama berjam-jam,” kata Kasin keras.

“Tiba-tiba aku menghilang, kamu tidak mencariku?”

“Kupikir kamu harus menjawabku. Kemana kamu pergi kemarin malam? Dan mengapa baru pulang saat pagi?”


Dikarenakan sikap Kasin yang seperti tidak peduli dan keras, maka Yada pun berbohong bahwa ia pergi bersama temannya kemarin dan meminta Kasin untuk  berbicara nanti saja.

“Teman yang mana? Kemarin malam hanya ada aku, kamu, dan Sharkrit disana.” Kata Kasin menghentikan Yada. Tapi Yada yang sudah malas, hanya menjawab singkat dan melewati Kasin begitu saja. Lalu Kasin pun mengikuti Yada masuk kedalam juga.


Disamping tangga yang berada dihalaman, Khem berdiri dan mendengar semua itu. Lalu ia pun tampak kesal atau bingung.


Kasin menahan tangan Yada dan memintanya untuk menjawab. Jadi dengan emosi, Yada pun mengakui bahwa kemarin malam ia pergi bersama dengan Sharkrit, karena mereka harus membicarakan sesuatu.

Lalu bukannya menunjukan perhatian serta menanyakan baik-baik. Kasin malah berbicara seolah-olah menghakimi Yada yang bersalah.


“Aku tidak melakukan kesalahan apapun,” kata Yada membalas perkataan Kasin kepadanya yang seperti itu.

“Tinggal dengan pria yang bukan pacarmu, itu salah! Apa kamu mencoba untuk menggoda dia untuk keuntunganmu?” balas Kasin masih menuduh Yada.

“Jangan bicara seperti itu denganku! Aku tidak pernah menjalankan bisnis dengan menggunakan cara rendahan seperti itu!” kata Yada marah dan berjalan pergi.


Kasin kembali menarik dan menahan Yada lagi, lalu dengan lembut ia pun meminta maaf kepada Yada. Ia meminta maaf kepada Yada karena telah berkata seperti itu, tapi itu semua ia lakukan karena ia merasa cemburu dan juga karena Sharkrit yang tampak menyukai Yada.

“Jangan lupakan ini. Kamu masih milikku. Rencana kita, termaksud rencana bisnis kita akan terus berlanjut. Jika perusahaan kamu telah kembali normal, ayo menikah,” jelas Kasin.


Dengan mata sedikit berkaca-kaca, Yada memandang Kasin dengan tajam dan membalasnya,”Kapan kamu pernah khawatir tentangku daripada uang, ketika kita membicarakan ini,” kata Yada, lalu melepaskan tangannya dari Kasin dan berjalan meninggalkannya.


Kasin keluar dari rumah Yada dan menendang keranjang yang berisi daun-daun kering, dengan wajah yang tampak sangat marah. Lalu setelah itu, ia pun berjalan menuju kearah mobilnya.

Tepat sebelum Kasin masuk kedalam mobil, Chat datang menghampirinya dan mengajaknya untuk minum kopi bersama. Tapi dengan tegas, Kasin menolak dan membuka pintu mobilnya.


Tapi dengan cepat Chat menahan Krit dan mulai berbicara dengan penuh perhatian kepada Kasin yang segera membalas bahwa itu bukan urusan Chat.

Chat tetap tidak menyerah dan menahan Kasin lagi, bahkan kali ini ia sengaja berdiri didepan pintu mobil Kasin untuk menahannya.

“Dengan emosi seperti itu, akan membahayakan kamu dalam menyetir. Jangan menyetir ketika kamu marah,” kata Chat lembut sambil memegang jas Kasin.


Dan Kasin yang malas mendengar semua itu, langsung mendorong Chat kesamping. Tapi pada saat itu, Chat malah menarik jas Kasin dengan kuat. Sehingga tanpa sengaja, mereka berdua jatuh bersama keatas tanah. Dengan posisi Chat dibawah, sedangkan Kasin diatasnya serta wajah mereka yang hanya berjarak beberapa centi saja.

Menyadari apa yang terjadi, Kasin segera melepaskan dirinya. Tapi Chat tidak mau melepaskan kemeja Kasin dan malah menarik Kasin kembali kearahnya.


“Kamu harus masuk dan minum secangkir kopi untuk menurunkan emosimu,” kata Chat lembut dengan pandangan seperti menggoda.



Kasin menolak ajakan Chat dan berdiri serta langsung masuk kemobil. Lalu Chat pun ikut berdiri dan tersenyum serta berkata bahwa ia akan menunggu lain kali. Setelah itu Kasin pun pergi menggunakan mobilnya, sedangkan Chat dengan sangat ramah melambaikan tangannya.




Mon yang dari awal ternyata bersembunyi dan mengintip hal itu. Langsung keluar saat Kasin telah pergi. Lalu sambil menggunakan payung, ia menghampiri Chat serta memuji tindakan berani anaknya tadi.

“Mm.. Mom! Apa yang kamu bicarakan?! Aku kan malu!” balas Chat sambil tersenyum bangga kepada Ibunya.

“Ah.. bagaimana dengan Khun Sharkrit?” tanya Mon tiba-tiba ketika mengingat tentang rencana awal mereka untuk mendapatakan Krit.


“Saat ini, siapapun tidak masalah. Selama dia tampan dan kaya. Siapa yang aku dapatkan duluan, dia akan menjadi yang pertama,” jawab Chat.

Lalu dengan bangga Mon memegang pundak anaknya itu. Dan berdua Mon serta Chat tersenyum dengan sangat lebar.

1 Comments

Previous Post Next Post