Thursday, March 29, 2018

Sinopsis Thai-Drama : Ra Rerng Fai Episode 8 - 2

0 comments

Company name : Citizen Kane

Didalam kantor, sambil berjalan menuju ruangan. Trai menjelaskan pada Dilok bahwa ia memanggil semua depaterment untuk menghadiri meeting, karena menurutnya untuk dapat menemukan jalur distribusi yang baru, mereka akan membutuhkan waktu satu bulan.




“Tidak perlu mengadakan meeting dan jangan melakukan apapun,” balas Dilok. Sehingga itu membuat Trai menjadi bingung, karena jika mereka tidak melakukan apapun, maka perusahaan mereka bisa bangkrut.

Tapi dengan tenangnya, Dilok memegang pundak Trai serta menyuruhnya untuk tetap tenang dan jangan stress akan hal itu. Karena B-Star bukanlah milik mereka lagi.



“Apa?” tanya Trai dengan nada bingung.

“Aku sudah menjual semua sahamku,” jelas Dilok, singkat. Dan itu membuat Trai menjadi terkejut.




Tanpa memperdulikan keterkejutan Trai, Dilok membuka pintu ruangan dan berjalan masuk kedalamnya. Dan dari belakang, Trai segera ikut masuk juga. Disana ada tiga orang yang sudah menunggu mereka.

“Ini adalah Khun Prasit, pemilik DY Spa. Dia yang akan membeli semua saham. Dan segera, Khun Prasit akan menjadi CEO B-Star,” kata Dilok memperkenalkan mereka kepada Trai.




Setelah itu, Dilok duduk disamping Prasit dan mulai menanda tanganin kontrak yang ada. Sedangkan Trai sendiri masih tampak tidak percaya, tapi disana ia tidak bisa melakukan apapun, kecuali diam dan memperhatikan.



Dirumah. Seorang karyawan datang dan mengantarkan semua barang-barang milik Yada, karena tadi ia mendapatkan perintah untuk membuang semua barang milik Yada yang berada dikantor. Tapi karena tidak tau, harus gimana, makanya ia membawa itu kesini.

“Khun Trai. Apa yang terjadi? Aku tidak mengerti,” tanya karyawan tersebut kepada Trai, mengenai situasi yang ada saat ini.




“Aku juga tidak mengerti,” balas Trai, kelihatan bingung juga.

“Dimana aku harus pindah?” tanya karyawan itu lagi.

“Kamu bisa menjadi sekretarisku untuk sementara waktu. Atau lebih baik, bila kamu mencari pekerjaan baru. Karena perusahaan ini bukan milik kami lagi,” jelas Trai, memberi saran.

“Jika Khun Da tidak ada disini, aku tidak akan bertahan juga,” balas karyawan tersebut. Setelah itu ia pamit kepada Trai.




Tepat ketika karyawan tersebut akan keluar, Kasin masuk sambil marah-marah kepada Trai. Ia menanyakan alasan Ayah Trai melakukan hal itu. Bagaimana bisa Ayah Trai menghentikan project nya dengan Yada dan tidak memperpanjang kontrak labnya. Serta ia juga menanyakan pada Trai, apakah Trai tau berapa banyak ia kerugiannya.




“Kamu tidak bertanya tentang P’Da sama sekali?” balas Trai.

“Da sudah menikah dengan seorang jutawan seperti Sharkrit. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Apa yang harus aku khawatirkan sekarang adalah diriku sendiri. Jika aku kembali ke Switzerland, aku akan dimarahi Ayahku. Aku tinggal disini dan  apa yang ku dapat… mm… apa sebutannya ya… aku memiliki seekor lintah yang menghisap darahku sepanjang waktu,” kata Kasin dengan jawaban yang sangat egois.




Tepat ketika itu, terdengar suara Mon yang berteriak mencarinya. Sehingga dengan terburu-buru, Kasin segera berlari kabur melewati pintu samping. Tapi sayangnya, pintu samping itu terkunci, sehingga ia tidak bisa keluar.

Jadi saat Mon masuk, dengan berlari terburu-buru, tanpa menyadari kehadirannya. Maka Kasin pun secara diam-diam langsung berjalan pelan, ingin keluar melewati pintu itu.




“Khun Trai, dimana Khun Kasin?! Pelayan bilang Khun Kasin ada disini. Aih… Khun Trai! Dimana Khun Kasin?!” tanya Mon, tidak sabaran.

Dan dengan tenang, Trai menunjuk kearah Kasin yang sedang ingin keluar diam-diam. Jadi mengetahui hal itu, Mon menjadi tampak sangat senang dan memanggilnya. Tapi sebaliknya Kasin langsung berlari keluar.

“Lintah,” kata Kasin dengan suara kecil, sebelum berlari keluar dari rumah.




Ketika berlari keluar, Kasin tanpa sengaja menabrak seorang pelayan yang sedang menyapu. Dan tanpa meminta maaf, Kasin langsung menyuruh pelayan itu tidak memberitahu Mon kalau barusan ia lewat sini. Setelah itu, Kasin segera pergi bersembunyi dengan cepat.




Ketika keluar, Mon sama sekali tidak nampak dimana Kasin berada lagi. Jadi ia bertanya kepada pelayan itu. Dan dengan gugup pelayan itu menjawab Ya, setelah itu mengganti jawabanya menjadi Tidak.

“Hey pergi cari Chat untuk turun kebawah sekarang,” kata Mon memberi perintah dengan terburu- buru. Setelah itu dengan suara yang lebih pelan, Mon memanggil –mangil nama Kasin, tapi tidak ada jawaban.




Awalnya Mon mengira bahwa Kasin bersembunyi dibawah tangga. Tapi sayangnya, ia salah. Kasin tidak berada disana. Sehingga karena itu, Mon menjadi emosi lagi.

“Hey! Khun Kasin. Jangan pernah pikir bisa melarikan diri. Karena jika aku menangkapmu, aku akan menyuruh Chat untuk menghisap semua uangmu!” kata Mon. Tapi Kasin tetap tidak keluar dari bersembunyiannya. Jadi dengan kesal, Mon pergi.




Ternyata dari tadi Kasin bersembunyi dibawah, di dekat batu-batu. Dan ketika ia mendengar suara Mon yang mengoceh, ia hanya bisa diam saja. Lalu ketika ia melihat, kalau Mon telah pergi menjauh.

Maka Kasin pun berdiri dan keluar dari tempat persembunyiannya,”Tidak pernah,” kata Kasin pelan, membalas perkataan Mon tadi.




Sialnya bagi Kasin. Karena saat ia naik keatas, tanpa sengaja ia tersandung oleh sebuah tali jebakan yang  telah disiapkan Mon. Sehingga ia pun terjatuh dan sebelum sempat ia bangkit, Mon langsung berlari dan menangkapnya.

“Aku tidak pernag mengira bahwa perasaan rindu akan membuatmu datang menemui Chat kesini. Cinta adalah hal yang sangat kuat,” kata Mon sambil tersenyum lebar. Dan tertawa kecil kepada Kasin.




“Bibi, aku kira ini adalah…’ kata Trai ingin membalas. Tapi dengan cepat Mon memotongnya dan menyuruh Kasin untuk tidak mengatakan apapun, sampai Chat turun. Karena ada banyak hal yang harus mereka bicarakan.

Dan tanpa bisa berbicara serta melakukan apapun, Kasin hanya bisa diam dengan perasaan yang sangat kesal.



Sambil memeluk Kasin, Chat berusaha untuk menahan agar Kasin tidak pergi. Dan dari belakang, Mon membantu dengan menarik tangan Kasin juga. Sehingga Kasin menjadi tambah risih. Dan lalu dengan sekuat tenaga, Kasin melepaskan tangannya dari Mon serta Chat yang memeluknya.




“Khun Kasin. aku kira ini waktunya untuk berbicara tentang ini,” kata Mon, memulai pembicaraan.

“Bibi ini…” kata Kasin ingin menjawab, tapi dipotong oleh Mon.

“Panggil aku ‘Mom’.”

“Aku tidak terbiasa …”

“Panggil aku ‘Mom’ lebih sering dan kamu akan terbiasa.”




Setelah pembicaraan singkat itu, Mon mulai membahas kapan Kasin akan membawa mereka menemui keluarganya. Dan Kasin langsung menjawab bahwa kedua orang tuanya berada di Zurich. Sedangkan yang berada di Thailand hanyalah kakeknya saja.




Mendengar itu, Mon mulai menjadi bingung. Tapi lalu ia mendapatkan ide untuk agar mereka saja yang pergi ke Zurich, karena menurutnya harga tiket ke sana hanya sekitar 800 saja.

“Mom! Itu economy class! Orang seperti kita harusnya naik first class,” kata Chat memberitahu mamanya. Lalu setelah itu, berdua, mereka mulai membahas dengan senang, tentang bagaimana mereka pergi dan merayakan pesta pernikahan disana saja.




Ketika Mon serta Chat mulai berisik dan sibuk membahas keinginan mereka sendiri. Kasin menerima telpon dari Yada dan setelah itu ia berjalan ingin pergi dari sana.

Tapi menyadari hal itu, tentu saja, Chat langsung menahan Kasin agar tidak pergi. “Kamu masih berhubungan dengan Khun Da?” tanya Chat pada Kasin.




Dengan kasar, tanpa mau menjawab. Kasin melepaskan tangan Chat yang memegangnya, setelah itu ia ingin  berjalan untuk pergi. Tapi tidak terima dengan itu, Mon langsung berlari dan menahan Kasin dengan sekuat tenaga.




Capek karena hal itu, maka Kasin pun berbalik dan bertanya pada mereka. “Khun Da mau memberikan uang. Apa kamu mau uang? Kamu mau uang?!”

“Ya!” teriak Mon serta Chat secara bersamaan. Lalu setelah itu dengan bersemangat mereka berdua kembali membahas berapa banyak uang yang harus diminta sebagai mahar, serta apa saja yang dibutuhkan untuk pernikahannya.




Disaat mereka berdua sedang sibuk. Kasin langsung masuk kedalam mobilnya. Dan menyadari hal itu, Chat mendekat dan menyuruh Kasin membuka pintu mobilnya.

“Khun Kasin! Buka pintunya! Beri aku uang!” teriak Chat, meminta uang.

Menurunkan kaca jendelanya, Kasin menjawab,”Aku tidak akan membagi itu.”





Sebelum Kasin sempat pergi menjauh, Mon berteriak memanggil Kasin sambil menunjukan sebuah dompet ditangannya. “Yoohooo! Uangnya disini!”

Melihat kejadian tersebut dari kaca tengah mobilnya. Maka dengan cepat, Kasin langsung menghentikan mobilnya. Dan lalu ia merogoh kantong celananya. Tapi ia sama sekali tidak mau balik dan lanjut pergi dari sana.




Setelah mobil Kasin telah pergi dari sana. Mon menjelaskan bahwa didompet itu, tidak ada uang dan tidak ada kartu, yang berarti ia tidak bisa pergi jauh.

“Bagaimana kamu melakukan itu?” tanya Chat dengan heran pada Mon.




“Aku hanya melakukan itu ketika perlu. Mengapa kamu bertanya? Kamu hanya akan merasa malu, jika kamu tau,” balas Mon.

“Mom. Kerja bagus!” kata Chat dengan semangat dan riang sambil memeluk Mon. Ia lalu juga memuji kehebatan tangan mamanya yang bisa dengan cepat mengambil itu.





Yada menyiapkan sarapan pagi untuk Krit. Dan ketika melihat itu, Krit mendekatinya serta memeluknya dari belakang. Tapi ia merasa tidak nyaman dengan hal itu, jadi ia mengingatkan Krit agar tidak menarik perkataannya dulu.



“Aku hanya mau mengucapkan selamat pagi pada istriku. Aku tidak bisa?” kata Krit, lalu menciumi pipi Yada. “Selamat pagi, Nyonya Wong.”




Tepat ketika itu, Nee datang. Sehingga Krit terkejut dan heran bagaimana bisa Nee masuk kedalam. Tapi Nee tampak tidak tau harus menjawab apa, jadi Yada yang menjawab. Ia memberitahu Krit bahwa ialah yang telah mengizinkan Nee untuk masuk.

Tanpa memperdulikan penjelasan Yada, dengan tegas Krit menyuruh agar Nee keluar.




“Aku akan pergi,” kata Yada sambil menuntun Nee untuk duduk dimeja makan. Setelah itu ia menarikan kursi agar Krit ikut duduk.

“Mengapa kamu melakukan ini?” tanya Krit langsung pada Yada.

“Untuk kamu,” balas Yada singkat. Sesudah itu ia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan mereka berdua untuk makan bersama disana.





Dalam diam, Krit mengaduk makanannya. Dan melihat itu, Nee menyodorkan makanan yang dibawanya kepada Krit.




Ketika keluar, Yada merasa sangat senang karena melihat Khem berada disana. Jadi dengan cepat, ia mendekati Khem. Tapi sebaliknya, Khem sama sekali tidak tampak senang.

“P’Da, kamu tidak malu?”

“Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Mengapa aku harus malu?”




“P’Da, kamu tidak malu? Kamu membuat perusahaan menjadi hancur. Ratusan pekerja jadi menganggur. Kamu masih berani untuk menunjukan wajahmu pada mereka? Trai dan aku tidak,” jelas Khem dengan nada sinis.

“Kita masih punya solusi. Perusahaan kita tidak akan hancur hari ini ataupun besok. Khem. jika kamu berhenti berprasangka terhadapku dan kita bertiga bekerja sama, perusahaan akan bertahan,” balas Yada.



Sayangnya, Khem malah menggangap lain perkataan Yada. Ia mengira Yada ingin mengambil kembali posisinya. Jadi dengan emosi, Khem mengatai Yada yang telah mengambil perkerjaan serta prianya, hanya karena ia lebih pintar serta sempurna. Dan Yada sama sekali tidak pernah menganggap dirinya sebagai adik. Bahkan Yada tidak mau melihatnya untuk bahagia.




“Khem!” peringat Yada dengan geram. Bahkan ia sampai menggepalkan tangannya, karena saking geramnya. Dan Khem menyadari hal itu, tapi ia tetap berbicara, mengatai Yada.

“Jika kamu tidak tergila-gila pada pria. Kemudian seharusnya kamu memilih keluargamu, bukan pria seperti ini.”




“Khemika! Jika kamu mau menjadi wanita yang pintar dan sempurna seperti yang setiap orang mau, kemudian tunjukan saja! Aku bukan hanya bagus bekerja, tapi aku selalu punya hati nurani. Aku tidak menghakimin orang lain. Aku tidak bergantung pada pria! Dan aku tidak lemah seperti kamu. Aku tidak tau apa yang kamu pikirkan, tapi pulanglah dan pikirkan kembali. Jangan begitu takut kehilangan pria yang membuatmu kehilangan akal sehat. Orang menyebut mereka pengecut, seseoran yang tidak benar-benar pintar,” kata Yada dengan emosi.

Setelah itu Yada pergi meninggalkan Khem yang terpaku berdiri disana dan tampak sedih.




Diruang makan. Krit telah selesai menghabiskan makanannya, tapi Nee tidak. Nee belum menyentuh sama sekali makanannya, karena Krit belum memberikan izin padanya untuk makan.

“Aku tidak pernah menyetujui kamu untuk lapar,” balas Krit.





Mengingat kejadian dulu, setelah Krit menyelematkannya. Ketika itu melihat Nee mengikutinya, Krit segera menyediakan makanan untuk dimakan oleh Nee. Dan dengan lahap Nee memakan semua itu.



“Kamu tidak pernah membiarkanku kelaparan. Kamu menemukan sebuah rumah, sebuah sekolah untukku. Aku tidak pernah melupakan kebaikanmu. Dan aku tidak akan meminta apapun dari kamu lagi. Tapi bisakah kamu tidak menjauhi ku?”




Krit membalas bahwa Nee kini telah dewasa, jadi Nee harus belajar untuk hidup mandiri. Dan menanyakan mengapa Nee belum juga menikah, bila ada orang yang Nee benar-benar sukai, Krit ingin menemuinya. Setelah itu Krit berdiri dan berjalan menjauh.




Menghentikan Krit untuk pergi meninggalkannya. Nee mengejar dan memeluknya dengan erat dari belakang.

“Nee, jika kamu tidak ingin aku membuangmu, lepaskan,” tegas Krit, tapi Nee tidak mau melepaskannya sama sekali.

“Aku bahagia, karena kamu bahagia dengan kehidupan pernikahanmu,” balas Nee, lalu secara perlahan ia melepaskan pelukannya. Dan setelah itu, Krit pun  berbalik menghadap kearahnya.




“P’Krit, kamu jatuh cinta dengan Khun Da.”

“Ini urusan orang dewasa,” balas Krit.

“Aku melihat kamu memeluknya, menciumnya, dan tersenyum. Kamu tersenyum gembira. Aku tidak merasa sakit sama sekali. Tidak sama sekali. Aku ingin melihat kamu seperti ini setiap hari,” kata Nee dengan lembut, sampai matanya pun berkaca-kaca.




Setelah mendengar itu semua, Krit melembut. Ia lalu merentangkan tangannya dan membiarkan Nee untuk memeluknya. Dan sesudah itu, sambil menangis, Nee meminta agar Krit tidak menjauhinya lagi.




“Aku harus. Hidupku tidak disatu tempat. Tidak pasti. Ingat ini,” balas Krit, lalu melepaskan pelukannya dan menjauhkan Nee sedikit, sehingga mereka saling menatap,”Kamu harus coba untuk hidup sendiri. Ingat segala yang kuajarkan padamu. Itu saja yang bisa aku berikan padamu,” tegas Krit, lembut.




“Pa menyetujui kamu untuk menikah, tapi menolak untuk melepaskanmu kan? Bagaimana kamu bisa memiliki keluarga seperti orang lain?” tanya Nee. Dan Krit pun menjadi terdiam.




Kasin memberikan sebuah flashdisk kepada Yada, tapi ia menginginkan kompensasi. Dan mengetahui hal itu, Yada telah menyiapkan sebuah cek untuk Kasin. Lalu setelah Kasin melihat nilai pada cek itu, baru ia setuju untuk memberikan flashdisk itu pada Yada.

Dan tanpa menunggu, Kasin segera berdiri untuk pergi dari sana.




“Mengapa kamu membebaninku kali ini?” tanya Yada sebelum Kasin sempat pergi. Lalu ia berdiri dan menatap Kasin,”Terakhir kali, menghacking seluruh sistem komputer. Tapi kali ini, hanya sebuah laptop.”

“Aku hanya akan meminjam untuk sekarang. Aku akan membayarmu kembali. Beberapa pencuri mencuri semua uangku.”





“Dimana? Apa ada melapor?” tanya Yada, khawatir mendengar itu.

“Ibu dan anak adalah pencurinya! Ibu tirimu mendapatkanku begitu baik. Da jika kamu masih melihat ku sebagai seorang teman, bawa aku menjauh dari neraka ini. Aku mohon,” pinta Kasin.
“Kembalilah ke Zurich.”

“Ayahku tidak akan setuju. Sampai aku mendapatkan kerjasama antara B-Star dengan lab kami lagi. Ditambah ia ingin aku untuk mencari beberapa klien. Da kamu tidak marah padaku lagi kan? Kita masih bisa bicara seperti sebelumnya kan?” tanya Kasin, sambil melangkah maju, ingin menyentuh Yada.




Dengan cepat Yada langsung mundur,”Alasan aku datang kesini, karena aku membutuhkan pen drive. Aku berharap kamu menikamati pernikahan nerakamu, Kasin,” balas Yada, lalu berbalik dan pergi.




Dirumah yang tenang. Tassana beserta Kwan mulai berkerja untuk menyiapkan bisnis mereka. Dan disana Khem datang memakai pakaian setelan kerja lengkap.




“Kamu terlihat berbeda hari ini P’Khem,” kata Kwan, memuji.

“Kamu akan bekerja seperti ini?” tanya Tassana.

“Kamu tidak suka itu?” balas Khem bertanya.

“Pakaian mu terlihat bagus. Tapi tidak cocok untukmu,” jawab Tassana, tanpa maksud apapun. Tapi mendengar itu, Khem langsung tidak suka, ia menggangap bahwa menurut Tassana, hanya Yada saja yang cocok memakai pakaian itu.



Dan Tassana menjadi ikut emosi, karena disaat perusahaan sedang berbahaya, bagaimana mungkin Khem malah memikirkan hal-hal seperti itu.



“Karena kamu dan P’Da membuaku berpikir itu! Akhirnya, kamu berakhir kecewa padaku,” kata Khem dengan pandangan yang tampak terluka. Dan Kwan yang melihat itu, tidak mengerti mengapa Khem bersikap dan berkata seperti itu, jadi Kwan pun bertanya apa yang terjadi.

“Tanya kakakmu,” jawab Khem singkat.





“Jangan membuat keributan disini. Ini rumahku dengan Kwan. Jika kamu akan bertindak seperti anak manja, pulanglah kerumahmu dan buang amarahmu,” kata Tassana tegas pada Khem. Bukannya malah membujuk Khem. Sehingga Khem menjadi bertambah sakit hati dan lalu pergi.



Setelah Khem pergi, Kwan segera mendekati Tassana dan lalu menyuruh Tassana untuk pergi dan mengejar Khem serta berbaikan dengan nya sakarag. Tapi Tassana tidak bergerak sama sekali dan hanya diam.

No comments:

Post a Comment