Thursday, August 16, 2018

Sinopsis Lakorn : My Cinderella Girl Episode 07-1/5

0 comments


Sinopsis Lakorn : My Cinderella Girl Episode 07-1/5
Images by : Channel 3

Vicky sangat serius untuk mengelem semua manekin kaki yang di bawakan Phu. Khun Barami yang melihatnya, sangat senang melihatnya.

Dia memotret manekin kaki yang sudah di lem Vicky dan mengirimkannya ke Prim. Dia juga menelpon Prim dan memberitahu kalau Vicky sudah hampir menyelesaikan tugas Prim. Prim berkomentar kalau suara Khun Barami sangat senang. Khun Barami membenarkan, karena ini pertama kalinya dia melihat Vicky sangat bertekad untuk menyelesaikan tugas. Khun Barami kemudian bertanya pada Prim, apa Vicky lolos dari kemampuan mengelem manekin kaki? Prim memberitahu kalau Vicky terlalu jauh mengelem kaki, jadi jika nanti lem di lepas, pasti akan hancur. Jadi, dia menyarankan Vicky untuk mengelem lebih rapat untuk manekin kaki yang lain yang belum di lem. Khun Barami mengerti dan meminta agar Prim mengirimkannya contoh agar dia bisa memperlihatkannya pada Vicky.

Prim segera mengirimkan contoh manekin kaki yang sudah di lem-nya. Dan Khun Barami terkejut karena di foto yang di kirimkan Prim, terlihat ada desain sepatu yang di pajang. Desain itu terasa tidak asing. Seperti desain sepatu yang pernah di buatnya untuk Phon.
Belum selesai Khun Barami berpikir, dia mendapat telepon dari Pong yang meminta bantuan. Dia tertangkap oleh polisi.
--

Khun Barami menjemput Pong dari kantor polisi. Sementara Khun Pat menelpon semua orang kenalannya untuk membantunya agar berita ataupun artikel mengenai Pong yang tertangkap tersebar. Dia bahkan berbohong bahwa Pong sedang mengonsumsi obat-obatan karena sakit, itulah kenapa urine-nya berwarna ungu.
Saat Khun Pat sudah selesai telepon, Pong segera berlari dan merengek kalau dia tidak melakukan hal itu (mengonsumsi narkoba). Khun Pat percaya dan mengelus Pong dengan sayang.
Tetapi, Khun Barami memberikan hukuman pada Pong. Dia melarang Pong untuk keluar rumah, dan sebaiknya belajar untuk ujian masuk universitas. Pong langsung merengek pada Khun Pat. Khun Pat langsung marah-marah pada Khun Barami dan menyuruhnya untuk tidak menghukum Pong.
Khun Barami tentu marah mendengarnya, Pong kan anaknya. Dia punya hak untuk mengatur dan menghukum anaknya. Vicky yang mendengar keributan juga turun dan mendengarkan. Khun Barami menasehati Pong yang beruntung terlahir sebagai anak orang kaya, tetapi malah terus berbuat masalah. Sementara anak lain, yang terlahir dari keluarga susah, tidak pernah membuat masalah dan membuat orang tua mereka terlibat masalah juga.
“Karena mereka tidak pernah punya Ayah sepertiku!” jawab Pong , melawan.
Khun Barami tentu marah mendengar jawaban Pong dan menamparnya. Tetapi, Khun Pat malah marah dan memakinya. Dia terus menyebut Pong sebagai ‘anakku’. Khun Barami memarahi Khun Pat balik, karena sikap Khun Pat lah, Pong tidak pernah menghormatinya.
“Apa aku salah? Tanggung jawabmu hanya membiarkan dia lahir. Tapi, kau tidak pernah merawatnya. Kau tidak pernah membesarkannya. Hanya aku yang melakukan segalanya untuk anak-anakku. Sementara kau, tanyakan dirimu sendiri, apa yang sudah kau lakukan?” marah Khun Pat.
“Merindukan mantannya,” jawab Pong dengan pandangan tajam menatap Khun Barami.
Khun Pat terkejut mendengar jawaban Pong. Dia bertanya, apa Pong tahu?
“Aku tidak buta dan tuli, Ma, sampai aku tidak tahu apa yang selalu kalian ributkan. Jika aku dan P’Vicky terlahir dari wanita itu (Phon) dan bukan dari istri ini (Khun Pat) yang kau di paksa untuk menikahinya walaupun kau tidak mencintainya, Ayah pasti akan mencintai kami lebih dari ini,” ujar Pong penuh kemarahan.
“Jangan bilang kalau aku tidak mencintaimu,” tegas Khun Barami.
“Apa ya? Terus kenapa dari aku kecil hingga sekarang, Ayah tidak pernah ke sekolahku? Setiap aku terkena masalah, hanya Mama yang mengatasinya. Aku juga ingin membicarakan masalah pria dengan Ayah. Tapi, Ayah tidak pernah punya waktu untukku. Kenapa? Apa yang akan kau katakan? Apa alasan yang membuatku tidak bisa merasakan cintamu?”
Khun Barami tidak mau menjawab dan memilih untuk masuk ke kamarnya. Tetapi, Pong berteriak menyuruh Khun Barami untuk tidak pernah mengaku mencintainya karena dia tidak punya ayah seperti Khun Barami.

Khun Pat menangis mendengar perkataan Pong. Dia menampar Pong. Pong jelas kaget, selama ini, Khun Pat tidak pernah menamparnya, sebesar apapun kesalahannya.
“Jangan pernah kau sebutkan mantan ayahmu di rumah ini,” tegas Khun Pat. “Dan jangan pandang rendah aku karena ayahmua mencintainya lebih daripada aku. Ayahmu hanya boleh mencintaiku. Kau dengar itu? Ayahmu hanya boleh mencintaiku.”
Khun Pat benar-benar kalap dan memukuli Pong. Vicky berusaha menghentikannya. Khun Pat benar-benar marah dan memerintah Pong untuk tidak pernah keluar kamar lagi dan berhenti membuat masalah. Pong menangis melihat kemarahan Khun Pat padanya hanya karena dia tahu kalau ayahnya lebih mencintai Pong dan tidak mencintai ibunya sama sekali.
Pong memilih untuk masuk ke kamarnya.
--
Khun Barami termenung di dalam kamar. Dia mengingat pujian Prim yang bilang kalau Vicky dan Pong beruntung bisa punya ayah seperti Khun Barami. Dia sangat sedih, karena kedua anaknya, selama ini menganggapnya tidak mencintai mereka.
--

Prim sedang bersantai dan memikirkan desain sepatu baru. Ponselnya berbunyi, telepon dari Phu.
Prim segera berlari ke depan mesin jahitnya dan menyalakannya. Dia kemudian mengangkat telepon Prim dan berpura-pura kalau dia sedang sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu bicara. Phu memberitahu kalau dia hanya ingin memberitahu kalau Vicky sudah menyelesaikan tugas Prim dan mau tahu kapan Prim punya waktu untuk mengajar Vicky, biar dia yang siapkan tempat.
Prim bertanya dimana Phu ingin dia mengajar Vicky? Dan Phu menjawab di kantornya, P.Paul.
--
Prim menelpon dan memberitahu kedua sahabatnya kalau dia akan pergi ke kantor P.Paul untuk mengajar Vicky. Kedua-nya langsung senang. Mereka segera bersemangat. Boot mengingatkan Rita untuk segera menyelesaikan bajunya sementara dia yang akan menyiapkan sepatu. Prim jelas bingung dan bertanya apa yang mau mereka lakukan? Tetapi, Boot dan Rita tidak mau memberitahu.

Boot pergi ke tempat Unc. Dam dan memintanya untuk memperbaiki sepatu yang heelsnya terlepas. Sementara, Rita menyiapkan baju hasil desainnya.
--
Mereka pergi ke tempat Prim dan memberikan baju serta sepatu tersebut. Prim terkejut dan mengenali desain baju itu. Boot membenarkan, ini adalah baju yang dulu Prim bilang mau gunakan kalau berhasil masuk ke P.Paul. Baju yang di desain khusus oleh Rita.
Prim sangat senang. Tetapi, dia mengingatkan kalau tujuannya ke P.Paul saat ini bukan untuk bekerja sebagai karyawan tetapi cuma menumpang untuk mengajar Vicky. Rita menyemangati kalau ini adalah langkah awal Prim.
Prim mengerti tetapi dia tetap tidak bisa menggunakan baju itu. Bukan karena baju itu tidak bagus, tetapi dia akan menggunakannya hanya di hari penting. Bukan di hari untuk mengajar Vicky, memikirkan sikap Vicky waktu dulu saja sudah sangat membuatnya frustasi.

Prim keluar. Rita dan Boot menghampirinya. Boot meminta Prim untuk kembali seperti dulu, dia merasa Prim sudah berubah. Jika Prim yang dulu, Prim pasti sudah membuat pengumuman di jalan bahwa dia akan kerja di P.Paul. Prim menjelaskan kalau dia sekarang ke P.Paul bukan untuk bekerja di sana. Boot tahu, tapi Prim seharusnya senang bisa menginjakkan kaki di P.Paul walaupun bukan untuk bekerja. Dia meminta Prim untuk kembali seperti dulu, dia tahu Prim berubah seperti ini, pasti karena sudah melalui banyak masalah.
Rita setuju, dia mengingatkan mengenai Prim yang dulu sangat bersemangat untuk melakukan apa saja untuk dapat bekerja di P.Paul dan menunjukkan bakatnya. Mereka meminta Prim untuk tidak terpengaruh orang lain apalagi seperti Vicky dan Khun Pat.
“Apa yang ibumu pernah ajarkan?” tanya Boot.
“Hidup itu singkat. Apapun yang ingin kau lakukan, kau harus mengerjakannya secara cepat!” jawab Prim.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku ingin bertemu Ayah!”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Aku… aku tidak tahu! Aku…”
“Kau harus tahu! Pikirkan! Pikirkan!”
Prim berpikir sejenak. “Ayahku pernah bekerja di Grand Diamond Mall. Aku akan meminta bantuan dari Khun Barami, pemilik mall. Dan sebagai imbalannya, aku akan mengajarkan putrinya membuat sepatu. Dan semakin cepat aku mengajarkan Vicky hingga dia ahli, mimpiku juga akan semakin cepat menjadi nyata!”
Semua senang, karena Prim akhirnya kembali seperti dulu.
--

Esok hari,
Prim pergi ke P.Paul dengan baju yang dibuatkan Rita dan sepatu yang di siapkan oleh Prim. Phu melihat kedatangan Prim dari ruangannya dan tersenyum lebar.

Khun Pat pergi menemui ibu Touch, Khun Nee. Dia memberitahu kalau dia datang karena mengantar Vicky untuk bertemu dengan Phu, sekalian bertemu dengan Khun Nee. Dia mau mengucapkan terimakasihkarena Khun Nee dan Khun Art (ayah Touch) mau membantunya meluruskan masalah Pong ke orang-orang. Khun Nee tidak mempermasalahkan dan bertanya keadaan Pong. Khun Pat memasang wajah memelas dan berbohong kalau Pong mengurung diri di kamar karena merasa marah orang-orang salah paham padanya (mengira dia pemakai narkoba padahal dia mengonsumsi obat karena sakit --- yang jelas itu bohong).

Prim masuk ke dalam P.Paul dan melihat ke sekeliling. Dia melihat tanda nama P.Paul dan measa sangat senang karena akhirnya bisa masuk ke dalam. Dia bahkan sampai memeluk dinding yang memasang logo P.Paul. Phu melihatnya dan heran melihat sikap Prim. Prim jelas kaget dan malu karena telah bersikap kekanak-kanakkan.
Phu menggodanya, dia bisa memberikan Prim copy nama P.Paul jika Prim mau. Prim menolak dengan malu dan langsung bertanya dimana Vicky.

Phu mengantar Prim ke ruangan dimana Vicky sudah menunggu. Saat Prim masuk, Vicky langsung melihat penampilan Prim dari atas sampai bawah. Phu mengingatkan Vicky yang tadi bilang ingin mengatakan sesuatu pada Prim. Vicky membenarkan, dia menghampiri Prim dan meminta maaf atas kelakuannya. Dia bahkan memasang wajah memelas. Prim tersenyum dan menggangguk memaafkan Vicky. Phu senang dan meninggalkan mereka berdua untuk belajar.


No comments:

Post a Comment