Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 10 - part 4

Network : Channel 3



Vi dan Wat berusaha mencari keberadaan Nim dengan cara menyewa seorang penyelidik. Dikarenakan menurut info dari Wes, kanker yang di derita Nim belum menyebar, jadi itu masih bisa di rawat.

Kemudian Wat memberikan semangkuk salad untuk Vi, karena sejak tadi Vi belum makan apapun. Dan Vi pun menerimanya serta memakannya.



Tepat disaat itu, Khae pulang. Dia tampak tidak senang melihat kedekatan Vi dan Wat. Apalagi ketika Wat menanyakan apa dia pulang. Dengan sinis, Khae menjawab bahwa ini adalah rumahnya, jadi bagaimana pun dia berhak untuk pulang. Kemudian, Khae berbicara kepada Vi, dia meminta Vi untuk memindahkan mobil yang Vi parkir di areanya.


“Aku minta maaf ya. Aku terbiasa parkir disana, karena dulunya itu adalah areaku,” kata Vi. Lalu dia mengucapkan terima kasih kepada Wat atas salad yang Wat buatkan untuknya. Setelah itu Vi pamit pulang sambil membawa salad tersebut.



“Apa kamu sudah makan?” tanya Wat kepada Khae, saat Vi telah pergi dari sana.

“Mengapa kamu bertanya? Kamu akan membuatkan salad untuk ku makan?” balas Khae dengan sinis, karena cemburu.

“Aku berbicara baik- baik padamu. Mengapa kamu malah mengambek?” balas Wat, tidak mengerti dengan sikap Khae.

“Aku juga ingin menjawab baik- baik, tapi lihat apa yang kamu lakukan? Siapa di dunia ini yang membiarkan mantan istri mereka berjalan masuk dan keluar dari rumah, bahkan walaupun kamu sudah menikahi orang lain,” protes Khae dengan kesal.

“Dan siapa di dunia ini yang menyimpan kenangan dari mantannya, bahkan walaupun mereka telah menikahi orang lain? Kamu tidak pulang beberapa hari, tapi segera ketika mantan mu… ah, tidak… menantu ku kembali, kamu juga kembali,” balas Wat.



Mendengar itu Khae tampak sangat sedih. Dia menjelaskan bahwa alasan nya pulang sekarang adalah untuk menjelaskan semuanya kepada Wat, namun dari perkataan Wat, tampaknya Wat tidak memerlukan nya lagi dan tidak ada yang perlu diketahui lagi. Karena Wat tidak mempercayainya.

Kemudian setelah mengatakan hal itu, dengan perasaan terluka dan sedih, Khae pun pergi. Dan Wat membiarkan Khae untuk pergi.



Didalam perjalanan. Khae menghentikan mobilnya di tepi jalan dan menangis tersedu- sedu. Kemudian saat Ibunya menelpon, Khae meminta izin agar Ibunya mau membiarkan dia untuk menginap satu hari lagi di tempatnya.

Dan mendengar itu, Thorsaeng merasa sangat heran, karena sebelumnya Khae mengatakan bahwa akan pulang hari ini.



“Aku mengubah pikiranku. Tolong ya, mom. Bisakah aku menemuimu. Tolong jangan usir aku kembali seperti setiap waktu yang lain. Malam ini, aku tidak mau tinggal disana,” jelas Khae.

“Jika kamu tidak mau pulang, maka datanglah ke rumahku. Datang sekarang,” balas Thorsaeng.

“Kamu tidak akan bertanya apapun?”

“Menyetir pelan- pelan. Aku khawatir. Oh dan bagaimana hasil check- up nya? Okay?”

“Ya. Aku sehat,” balas Khae. Kemudian dia mematikan sambungan telpon dengan Thorsaeng.



Setelah telpon dimatikan. Khae melihat ke arah sebuah Map coklat yang bertuliskan namanya. Dan melihat itu, Khae tampak seperti ingin menangis lagi.



Pagi hari. Nok ikut bersama Nai untuk mencari Nim. Mereka pergi ke kantor polisi untuk melapor. Dan bahkan Nai menempelkan kertas dengan foto Nim. Lalu melihat kesedihan Nai dari belakang, maka Nok pun mendekat dan memegang tangan Nai. Nok tampak seperti berusaha untuk menguatkan Nai.



Ditaman. Saat makan siang. Nok memberikan bekal yang dibelinya kepada Nai satu dan untuk dirinya satu, kemudian Nok menjelaskan bahwa dia telah menulis agenda serta mengerjakan tugas kantor yang lainnya. Dan mendengar semua penjelasan Nok, Nai pun menjadi heran dan menatap ke arah Nok. Lalu saat sadar Nai terus melihat kepadanya, maka Nok pun bertanya mengapa.

“Kamu bagus dalam menjagaku,” kata Nai.

“Aku menyadari bahwa kamu sedih, itu kenapa,” balas Nok.

“Bukan karena kita adalah keluarga?”

“Jika kamu tahu mengapa bertanya,” balas Nok.

“Aku ingin mendengar itu lagi.”

“Tidak.”

“Mengapa? Aku begitu lemah sekarang.”

“Orang lemah mana yang begitu menjengkelkan?” balas Nok.



Dan Nai tersenyum mendengar itu. “Karena aku orang lemah yang paling bahagian di dalam dunia ini… itu karena kamu. Jika hari ini aku tidak memikimu, duniaku akan menjadi seperti ketika aku kecil, ketika Ibuku meninggalkan ku,” balas Nai dengan raut yang tampak sedih. Kemudian dia berterima kasih kepada Nok.

“Tidak perlu berterima kasih. Apa yang ku lakukan untukmu, itu sama seperti yang kamu lakukan untukku. Aku menjagamu karena kamu menjagaku dengan baik,” balas Nok.




Lalu dengan perlahan, Nai mengulurkan tangannya ke belakang dan memeluk Nok. Perlahan Nai mendekati wajah Nok dan ingin menciumnya. Dan Nok sama sekali tidak tampak menolak. Namun belum sempat bibir mereka bersetuhan, tiba- tiba saja terdengar suara orang didekat mereka. Dan mendengar itu, dengan canggung serta tersenyum malu- malu, Nai dan Nok menjauh sedikit.



Thorsaeng menghubungin Wat dan memberitahu tentang Khae yang pulang kerumahnya. Lalu Thorsaeng mengingatkan Wat untuk membuat jelas semuanya dengan Khae dan ingat janji Wat. Yaitu Wat berjanji untuk mempercayai Khae, jadi Wat harus melakukanya. Serta untuk tidak membiarkan Vi keluar masuk kedalam rumah.

“Tidak peduli betapa baiknya anak ku, tapi dia tidak segitunya murah hati,” jelas Thorsaeng.

“Ya,” jawab Wat dengan singkat.

“Aku beritahu kamu. Aku memberi putriku padamu, tapi jika kamu terus menyakiti nya. Aku akan membawa dia kembali,” kata Thorsaeng dengan tegas.



Kemudian setelah selesai bertelponan. Wat mengingat tentang kejadian tadi malam. Ditepi jalan, ketika Khae menepikan mobilnya dan menangis. Disana ternyata Wat melihatnya, dialah yang meminta Thorsaeng untuk tolong menghubungin Khae.



Lalu saat mobil Khae mulai jalan, Wat mengikutinya lagi. Dan ketika sampai di depan rumah Thorsaeng, Wat melihat Khae langsung turun dari mobil dan menangis sampai memeluk Thorsaeng. Kemudian melihat itu, tanpa bisa berbuat apapun, Wat pun hanya berdiri dan diam.



Saat melihat Khae memasuki restoran, Wat memanggil Khae. Namun dengan segera, Khae langsung berlari pergi untuk menghindari Wat. Dan Wat pun mengejar Khae. Namun Khae sama sekali tidak mau berhenti.

Kemudian ketika Wat berhasil menangkapnya, Khae langsung memberontak dan melepaskan dirinya. Dan lalu dengan cepat, Wat berusaha untuk menjelaskan segalanya.



“Aku tahu kebenaran tentang kotak itu. Aku minta maaf tidak mendengarkan kamu dari awal,” jelas Wat.

“Kamu dengar dari Ibuku? Tidak bisakah kita bicara sendiri? Haruskah selalu ada orang tengah yang ikut?” balas Khae.

“Tapi sekarang, ini tidak akan terjadi lagi. Aku berjanji aku akan menyesuaikan diri,” kata Wat.

“Itu tidak berguna. Karena masalah antara kita adalah kepercayaan. Bukan hanya kamu tidak mempercayaiku. Tapi aku juga tidak bisa mempercayai kamu perihal Khun Vi.”

“Tidak ada apapun antara aku dan Vi. Kamu tahu itu.”



“Tindakan dan kata- katamu sangat  berlawanan. Coba sadari bagaimana kamu dan Khun Vi, kamu mungkin mencurigainya seperti aku. Mengapa kalian bercerai sejak hubungan kalian sangat baik?” kata Khae dengan menggebu- gebu.

“Aku putus dengan nya karena aku mencintaimu. Karena aku mencintaimu, jadi aku akan menyerahkan segalanya. Bahkan keluarga ku yang aku coba selamatkan,” jelas Wat sambil memegang tangan Khae.

“Kemudian kamu harus tahu bahwa aku tidak mencintaimu. Aku hanya mencintai uangmu,” balas Khae, berbohong karena marah.


Mendengat itu, Wat sangat terkejut sekali. Dia bertanya sekali lagi apa itu benar dan Khae mengiyakan. Kemudian karena itu, maka Wat melepaskan tangan Khae dan membiarkan Khae untuk pergi. Dan tepat disaat itu, dilihatnya sebuah mobil yang melaju kencang menuju kearah Khae.




Dan ketika melihat hal itu, dengan spontan Wat langsung berlari dan mendorong Khae. Sehingga dia lah yang jadi tertabrak, sedangkan Khae tidak. Lalu melihat Wat yang tidak sadarkan diri, Khae pun menjadi sangat cemas. Dia berteriak memanggil- manggil nama Wat dan meminta tolong.



Nim datang ke biro pencari kerja, tapi karena dia terus batuk- batuk, maka petugas disana menolak untuk membantu Nim. Namun karena Nim mengatakan bahwa dia pasti bisa, maka si petugas memberikan sebuah form untuk di isi oleh Nim.



Tepat disaat itu. Nai dan Nok datang kesana, mencoba untuk bertanya dan mencari Nim. Sayangnya, mereka berdua tidak melihat dan menyadari bahwa Nim juga berada disana. Begitu juga dengan Nim.



Lalu karena mendapatkan telpon, maka Nok berjalan sedikit menjauh. Dan disaat itu, Nai melihat punggung Nim serta merasa seperti mengenalinya, jadi dia berjalan mendekati Nim. Tapi pas disaat itu, Nok berteriak dengan panik serta menangis. Sehingga karena itu, Nai tidak jadi mendekati Nim dan berbalik mendekati Nok.

Dan saat Nim mendengar suara tangisan Nok itu. Maka dia pun segera pergi dari sana.


Dirumah sakit. Vi menyuruh Khae untuk mengobati luka Khae sendiri dulu. Tapi Khae menolak, karena dia mau menunggu Wat yang sedang di rawat. Lalu pas disaat itu, Nai dan Nok sampai.



Dengan sangat panik, Nok menangis. Lalu saat dia melihat Khae, dia langsung menyerang dan menyalahkan Khae yang telah menyebabkan Ayahnya seperti ini. Dan Nai serta Vi pun menahan Nok agar jangan melakukan itu.


“Jika bukan karena aku, Khun Wat…” kata Khae dengan sedih, dia menyalahkan dirinya sendiri juga. Lalu karena lemas, maka Khae pun pingsan.



Melihat itu, Nok tidak percaya dan meneriaki Khae serta ingin menyerangnya kembali. Tapi Nai langsung menahan Nok dan mengendong Khae, lalu dia membawa Khae pergi. Dan Vi pun memeluk Nok untuk menenangkannya.


5 Comments

Previous Post Next Post