Thursday, October 25, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 12 - part 1

14 comments

Network : Channel 3



Wat terus berlatih untuk berjalan dengan perlahan- lahan. Dan lalu karena masih tidak terlalu kuat, maka Wat pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Untung saja, Wat terjatuh di atas sofa dan disaat itu Nai datang ke kamarnya.

“Paman! Apa kamu baik- baik saja?” tanya Nai dengan khawatir.

“Untung saja aku terjatuh diatas sofa, jika tidak, maka itu akan sakit,” jawab Wat dengan nafas yang kelelahan.

Kemudian saat Wat ingin lanjut berlatih lagi, Nai meminta agar Wat menunggu sebentar, karena dia memiliki sesuatu yang harus diberitahukan kepada Wat.



Dikamar mandi. Nok begitu terkejut saat melihat alat test pack nya yang bergaris merah dua, yaitu berarti menandakan dia Hamil. Dan kemudian, Nok tersenyum, dia tampak sangat senang sekali. Lalu dengan bersemangat, Nok keluar dari kamar mandi dan mencari Nai. Tapi Nai tidak ada dimanapun didalam rumah kecil.

Kemudian Nok pun mencoba untuk menghubungin Nai, tapi sayangnya tidak diangkat. Lalu seperti teringat sesuatu, Nok terdiam untuk sesaat.



Nai menceritakan segalanya, dia takut Khae akan melakukan tindakan yang tidak baik kepada bayi tersebut, maka dari itu dia berjanji kepada Khae bahwa dia tidak akan memberitahu Wat. Lalu selama beberapa bulan, dia mengujungin Khae dan menolong nya. Hanya sebagai teman.

Mendengar semua itu, Wat berterima kasih, karena Nai telah mau memberitahukan kebenaran nya. Serta karena Nai telah menjaga Khae selama ini. Dan dia sama sekali tidak meragukan bahwa bayi yang dikandung Khae adalah anaknya sendiri.



“Aku tidak ingin Khae melihatku dalam kondisi ini. Aku tidak ingin senyumnya menghilang karena kesalahan ku. Aku bahkan tidak cukup kuat untuk berdiri sendiri. Aku tidak pantas untuk senyum Khae,” jelas Wat dengan sedih.

“Itu salah. Senyum Khun Khae yang kamu lihat hari itu. Itu tidak berbeda dari bunga di dalam vas, cantik tapi tanpa hidup,” balas Nai.



Ketika Khae menunjukan baju- baju bayi yang ada di internet dan meminta pendapatnya. Nai menunjukan pilihannya, tapi Khae malah memilih baju yang lain. Karena menurut Khae, Ayah dari bayinya pasti akan lebih menyukai baju yang itu.

“Khun Wat suka warna hijau dan menamai perusahaannya ‘Green Dream’. Jika itu dia, dia akan memilih yang satu ini pastinya,” jelas Khae sambil tersenyum.



Dikantor. Khae tersenyum saat melihat baju bayi yang dipesannya telah tiba. Lalu tiba- tiba saja terdengar suara keributan. Jadi Khae keluar dari kantornya. Dan ternyata orang yang datang serta membuat keributan tersebut adalah Nok.



Lalu saat melihatnya, Khae memberitahu karyawannya bahwa dia yang akan menutup toko hari ini. Dan ketika karyawannya pulang, Khae mengomentari Nok yang begitu cepat kembali kepadanya. Lalu Khae melihat kesekeliling dan menanyakan mana suami Nok yang akan Nok berikan kepadanya.

“Aku menarik kembali perkataanku. Aku tidak bisa memberikan dia kepada kamu,” kata Nok.

“Pagi ini, kamu bilang bahwa kamu berani untuk menukar kannya, tapi sekarang tidak?” balas Khae.



“Berapa banyak yang kamu mau? Katakan saja. Aku akan menanda tanganin nya,” balas Nok sambil berteriak keras. Lalu Nok mengeluarkan buku cek dan menanda tanganinya, kemudian Nok memberikan selembar cek tersebut kepada  Khae.

“Oh. Apa harga Ayah dan Suami mu bernilai segini?” balas Khae.

Lalu dengan kesal, Nok merobek cek tersebut. Dan dia memberikan cek yang lain, tapi Khae tetap menolak. Jadi Nok menuliskan cek yang lain lagi sambil menangis frustasi. Tapi walau melihat Nok begitu frustasi, namun Khae sama sekali tidak mau mengambil cek tersebut.



“Khun Nok. Kamu bertingkah seperti kamu akan kehilangan sesuatu yang kamu cintai,” komentar Khae melihat sikap aneh Nok.

“Ya. Aku tidak ingin kehilangan dia,” balas Nok.

“Orang yang kamu maksud, apa itu Khun Wat atau Luckanai?” tanya Khae. Dan Nok hanya diam saja sambil menangis. “Luckanai, kan?” tebak Khae.

Kemudian dengan penuh perhatian, Khae memegang tangan Nok yang bergetar dalam menuliskan cek. “Kamu mencintai dia kan?” tanya Khae.


“Jangan sentuh aku,” balas Nok sambil memaksa Khae untuk menerima cek nya. “Tolong ambil ini. Ambil,” kata Nok.

“Khun Nok, kamu mencintai Luckannai sebanyak ini?”

“Jangan katakan apapun sama sekali. Ini semua yang aku miliki sebagai pengganti untuk Ayahku dan suami ku. Tolong kembalikan mereka kepadaku ya,” pinta Nok.

Tapi Khae menolak dan membuang cek tersebut.



Kemudian tepat disaat itu, mereka berdua menyadari kedatangan Wat dan Nai yang berada dibelakang mereka. Dengan perlahan, Wat mencoba untuk berdiri dan mendekati Khae. Dia berkata bahwa dia tidak bisa menahan dirinya lagi dari merindukan Khae. Dan melihat serta mendengar itu, Khae tampak sangat terharu.



Namun baru beberapa langkah saja, Wat  terjatuh. Dan melihat itu, dengan segera Khae mendekati Wat. Tapi dengan panik, Wat langsung menyuruh Khae untuk berhati- hati, karena Khae bisa membahayakan diri sendiri dan anaknya.

“Tidak apa. Aku baik- baik saja. kita cukup kuat untuk menolong satu sama lain. Memegang tanganmu dan berjalan bersama,” kata Khae. Lalu dia mengatakan bahwa dia merindukan Wat dan memeluk Wat.



Dan dengan bahagia, Wat pun memeluk Khae. Sedangkan Nok menangis, dia tidak senang sama sekali melihat itu. Kemudian Nai pun mendekati Nok dan mengambil cek yang terjatuh didekat Nok.



“Untuk mu… apa aku seharga ini?” tanya Nai. Dan Nok hanya diam saja, lalu karena saking sedihnya, Nok pun pergi dari sana. Kemudian melihat itu, Nai pun menyusuli Nok.



Dihalaman parkir. Sebelum Nok masuk ke dalam mobil, Nai langsung menahan Nok dan menanyakan kemana Nok akan pergi, karena Nok belum menjawab pertanyaannya. Dan dengan marah, Nok membalas bahwa tidak ada yang perlu dijawab, karena yang dia tahu adalah Nai telah merahasiakan mengenai Khae dari nya dan menjaga Khae dibelakangnya, bahkan Nai membawa Ayahnya kepada Khae.

“Bagaimana bisa kamu melakukan ini? Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa kamu menyakiti keluarga ku?” tanya Nok dengan marah sambil mendorong Nai dengan kuat. Kemudian Nok membuka pintu mobil. Namun Nai kembali menahan Nok.



“Bagaimana bisa aku menyakiti keluarga mu? Sejak keluarga mu adalah keluarga ku. Kamu yang bilang begitu padaku, kan?” balas Nai.

“Orang yang berada di dalam keluarga yang sama, tidak akan pernah melakukan apa yang kamu lakukan. Aku menarik perkataanku. Kamu tidak akan pernah bisa menjadi keluarga ku. Tidak pernah!” balas Nok dengan kata yang menyakitkan. Lalu Nok mendorong Nai dan masuk ke dalam mobilnya.

Dan mendengar perkataan itu, maka Nai pun hanya bisa terdiam. Serta membiarkan Nok untuk pergi dari sana.


Pen pulang sambil membawa kan minyak urut untuk Phai. Tapi karena sedang bertelponan dengan Nok, maka Phai memberikan tanda agar Pen tidak bicara dulu. Dan melihat itu, Pen menghela nafas dan tampak cemburu.

“Matikan telponnya. Dan menyetir lah pelan- pelan… Aku tidak ingin kamu menyetir dan bicara dalam kondisi emotional… Aku khawatir, sayangku,” kata Phai kepada Nok ditelpon. Sesudah selesai bicara, dengan buru- buru Phai ingin segera pergi keluar.

Tapi Pen langsung menghalangin Phai dan menanyakan kepada Phai, kemana Ibunya itu akan pergi. Dan Phai pun memberitahu bahwa dia mau menemui Nok.



“Kamu mengeluh punggung mu sakit. Dan aku langsung pergi untuk membeli minyak urut. Apa kamu akan mengabaikan niat baik ku dengan mudahnya?” tanya Pen.

“Simpan itu untuk besok saja,” balas Phai dengan cepat.

“Besok! Besok! Untukku, itu semua yang kamu miliki untuk ku. Tapi untuk Khun Nok, tidak peduli sejauh apa dia, kamu pasti langsung bergerak cepat,” kata Pen dengan emosi, karena cemburu.

“Nang Pin, bagaimana bisa kamu berbicara seperti ini kepada ku?”

“Kamu masih berpikir kamu adalah seorang Ibu? Huh? Ibu apa yang memperhatikan orang lain lebih penting daripada anaknya sendiri? ‘Aku khawatir, sayang’. Tidak bisakah kamu meluangkan sebagian perhatian itu pada ku? Huh? Aku adalah anakmu bukan Nok! Bahkan jika dia anak dari seseorang yang kamu cintai, tapi dia bukan anak mu,” jelas Pen dengan kesal.


Dan mendengar itu, tanpa berpikir panjang, Phai langsung menampar Pen. “Jika kamu menganggapku Ibumu, jangan bicara seperti ini padaku lagi,” balas Phai. Lalu dia langsung pergi keluar dari dalam kamar.

Sedangkan Pen dengan sedih dan kesal. Dia hanya bisa diam dan membiarkan Phai.



Nai pulang ke rumah kecil. Dan setelah mempersiapkan dirinya, Nai langsung membuka pintu rumah dan memanggil nama Nok. Namun orang yang berada di dalam rumah, bukan lah Nok, melainkan Phai yang datang untuk mengambil pakaian Nok, karena Nok ingin tidur di rumah besar malam ini.



“Khun Nai. Aku tahu maksud baik mu untuk Khun Wat. Tapi ada cara lain yang tidak berdampak pada perasaan Khun Nok. Kamu sudah menikah sekarang. Khun Nok harus jadi pertama, kan?” tanya Phai, menasihatkan Nai.

“Ini harus dilakukan dua arah. Kami harus bicara dulu. Sejak Khun Nok tidak mau melihat wajah ku atau mendengar kan alasan ku. Aku tidak akan memaksa dia. Tolong jaga dia,” balas Nai. Lalu dia langsung masuk ke dalam rumah.


Di dalam kamar. Nok merenung. Dia mengingat janji nya kepada Nai bahwa dia akan menjadi segalanya untuk Nai. Dan kemudian kejadian tadi, saat dia mengatakan bahwa dia menarik perkataanya dan Nai tidak akan pernah menjadi keluarganya.

Lalu disaat itu, Wat masuk ke dalam kamarnya.


Wat meminta maaf kepada Nok. Dan dengan sedih, Nok mengatakan bahwa selama  beberapa bulan ini, ketekunannya tidak bisa dibandingkan dengar seseorang. Lalu dia menanyakan, apa alasan Wat ingin berjalan lagi, itu adalah karena bayi yang dikandung oleh Khae.

“Seorang anak baru, lebih penting daripada aku,” kata Nok.



Wat langsung mendekat dan memegang tangan Nok. Dia menjelaskan bahwa tidak ada anak yang lebih penting dari anak yang lain, namun dia memiliki cara sendiri dalam mencintai setiap anaknya. Kini Nok telah memiki seseorang yang mencintai dan siap untuk menjaga Nok, jadi Wat tidak ingin Nok datang kembali padanya.

“Bisakah kamu berjanji padaku bahwa besok kamu akan kembali kepada Nai? Jangan biarkan masalahku, mengoyahkan hubungan mu. Aku bisa melihat betapa kamu dan Nai saling mencintai,” jelas Wat dengan perhatian.


Kemudian Wat menlap air mata yang jatuh di pipi Nok. Lalu dengan erat, Nok memegang perutnya dan merenung kan perkataan Wat.



Pagi hari. Didepan pintu. Wat menanti kedatangan Khae yang kembali pulang ke rumahnya. Dan ketika mobil, Khae telah tiba, Wat tersenyum dengan senang. Lalu Thorsaeng dan Khae turun dari dalam mobil.

“Kamu akan benar- benar bisa berjalan, kan? Dan tidak menipu Putriku untuk kembali menjaga mu?” tanya Thorsaeng dengan blak- blakan kepada Wat.


“Mom, kami sudah memutuskan,” balas Khae, mengingatkan Thorsaeng.

“Tidak apa, Khae. Aku mengerti kekhawatiran orang tua,” balas Wat. Lalu kepada Thorsaeng, dia berjanji bahwa dia lah yang akan menjaga Khae.


“Aku berharap begitu. Jika kamu tidak bisa, maka aku akan membawa kembali Ibu dan Anak. Tunggu dan lihat lah,” balas Thorsaeng. Dan kemudian dengan senang, Wat dan Khae bergandengan tangan.

Didalam rumah. Nok melihat dan mendengar semua pembicaraan itu.


Wat membawa Khae ke dalam kamarnya. Disana Khae melihat ke sekeliling. Dan Wat menjelaskan bahwa dia akan cepat sembuh, jadi mereka bisa pindah, dari ranjang orang sakit ke tempat tidur.

“Tidak apa. Tempat tidur baru mu terlihat baik. Mudah untuk berdiri dan duduk,” kata Khae dengan riang sambil duduk diatas ranjang.

“Tapi itu tempat tidur orang sakit,” balas Wat sambil tersenyum.

“Itu benar. Yang satu sakit dan yang satu lagi hamil. Ini cocok untuk kita,” balas Khae.


“Ketika aku sembuh, aku akan membawa mu kembali ke tempat tidur yang itu,” kata Wat sambil mendekati Khae.

“Ya. Tapi kamu perlu untuk menambahkan tempat tidur kecil. Untuk yang satu ini,” balas Khae. Dan dengan penuh kasih, Wat mengeluh perut Khae.

Nok datang untuk mengantarkan makanan, tapi saat melihat itu, dia tidak jadi masuk ke dalam kamar dan keluar lagi.


Saat keluar dari kamar, Nok bertemu dengan Phai. Dan Phai pun bertanya, lalu Nok menjelaskan bahwa sekarang sudah ada orang yang menjaga Ayahnya, jadi ini bukan kewajibannya lagi. Kemudian Nok pun berjalan pergi.



Nok kembali ke rumah kecil. Didepan rumah, Nok merasa ragu untuk masuk dan ingin pergi. Namun akhirnya, dia memberanikan diri dan masuk ke dalam rumah kecil. Lalu saat melihat tempat tidur yang tampak berantakan, Nok pun mengomel sambil merapikannya. Serta Nok juga membereskan semua yang ada dirumah kecil.

Kemudian setelah selesai, Nok pun duduk menunggu Nai. Tapi Nai tidak juga pulang. Bahkan sampai malam pun, Nai tidak juga pulang ke rumah.



Dikantor. Nart mengabarkan bahwa klien mereka tidak merespon, jadi mungkin mereka bisa pulang duluan. Namun Nai membalas bahwa dia akan tetap dikantor dan menunggu klien. Dan dengan penasaran, Nart pun bertanya apa Nai tidak mau buru- buru pulang untuk makan malam dengan Nok.

“Dia tidak akan menunggu ku,” kata Nai dengan singkat. Lalu dia mempersilahkan Nart untuk pulang duluan, karena Nart tampak terburu- buru.

“Mm… aku berpikir untuk pergi membeli obat untuk pembantu ku, karena dia sendirian dan sakit, serta dia tidak mau pergi ke dokter,” jelas Nart. Kemudian karena Nai mengizinkan nya untuk pulang duluan, maka Nart pun pamit pulang.

Namun sebelum Nart sempat keluar pintu, Nai memanggil Nart.


Nim sedang membereskan rangkaian bunga jualannya. Dan tiba- tiba saja dia terbatuk dengan kuatnya. Lalu ketika memegang rangkaian bunga nya, Nim melihat bahwa di tangannya adalah darah. Yang menandakan batuk/ penyakitnya semakin parah.


Namun disaat Nart datang, Nim langsung menlap tangannya dan berpura- pura tidak ada apapun yang terjadi.

Nart memberikan obat yang dibelinya kepada Nim. Serta sebuah kain kepada Nart, yaitu kain yang diberikan oleh Nai. Nart menjelaskan bahwa awalnya Nai berkata dia ingin mendonasikan nya kepada orang lain, tapi karena sering mendengar cerita tentang Nim, maka Nai memberikan kain tersebut kepadanya. Dan Nim pun berterima kasih.


“Ini begitu cantik,” kata Nim sambil menyentuh kain tersebut.

Kain tersebut merupakan hadiah yang dulu Nai beli saat bulan madunya bersama dengan Nok. Dan hadiah itu adalah untuk Nim. Cuma karena Nim menghilang, maka kain tersebut tidak jadi diberikan kepada Nim.


Pagi hari. Nok terbangun dari tidurnya. Dia mengulurkan tangannya ke samping. Dan saat dia merasakan bahwa tidak ada Nai disebelahnya, maka Nok pun langsung bangkit dari tidurnya.



Pagi hari. Dikantor. Secara diam- diam, Jomyuth menfoto Nai yang sedang tidur di sofa sambil memeluk boneka beruang putih. Dan Nai pun memberikan arahan agar Jomyuth memotret lebih tinggi. Lalu Jomyuth pun melakukannya, kemudian setelah itu, barulah dia tersadar bahwa Nai telah terbangun.



Nai bangun dari tidurnya dan duduk. Kemudian dia mengancam dengan halus bahwa dia akan memindahkan Jomyuth ke cabang. Dan dengan gugup, Jomyuth pun menjelaskan bahwa seseorang yang lebih tinggi yang memerintahnya.

“Lebih tinggi? Siapa?” tanya Nai.

“Lebih tinggi dari kamu,” jawab Jomyuth. Lalu Nai hanya diam. “Bingung?” tanya Jomyuth sambil menunjukan chatnya bersama dengan Nok.

Apa kamu ada melihat suamiku?

Okay, memeluk teddy bear. Tidak masalah.



Membaca chat tersebut, Nai tersenyum dengan senang. Dan melihat itu, Jomyuth pun mengambil kembali hape nya dan menawarkan diri untuk mengirimkan screen shot chatnya tersebut kepada Nai. Namun sebelum itu, Jomyuth menanyakan apa mungkin Nai akan mengirimkan nya ke cabang di amerika?  Atau dia bisa pergi sendiri?

Tapi Nai hanya diam sambil tersenyum. Sehingga karena tidak ada respon, maka Jomyuth pun mengirimkan screen shot tersebut begitu saja ke hape Nai. Kemudia dia keluar dari dalam ruangan.



Didapur. Nok bertanya- tanya makanan apa yang bisa dimakan orang hamil. Kemudian saat dia teringat bahwa kini sudah ada yang menjaga Ayahnya. Maka Nok pun tidak jadi untuk memasak. Lalu disaat itu, tanpa sengaja, Nok tergelincir dan jatuh.

14 comments:

  1. Makasi kak.. Baik kali.. Lanjut ya kak

    ReplyDelete
  2. Makasih ya min....
    💪💪💪 lanjut ke part selanjutnya..yg pastinya selalu di tunggu2...

    ReplyDelete
  3. Makasih ya min. ...ditunggu kelanjutannya . .

    ReplyDelete
  4. Di tunggu skl lanjutannya..
    Tks banget mm.

    ReplyDelete

  5. lagi semangat bacanya.. lanjut.. lanjut...

    ReplyDelete
  6. Semangat ditunggu lanjutannya...

    ReplyDelete
  7. Semangat.... Ditunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Ditunggu klnjutnya..ya jngn trllu lma jd bkin pnsrn isi sinopsis game ini..👍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍

    ReplyDelete
  10. Ditunggu lanjutan nya sampai selesai ya min :)

    ReplyDelete