Sunday, October 28, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 12 - part 4

6 comments

Network : Channel 3



Nenek bersama pelayan nya berjalan kaki pergi ke kuil. Dan selama perjalanan, Nenek mengeluh tentang Nok. Dia menceritakan bahwa Nok bilang tidak ada pergi kemanapun, tapi bagaimana bisa sekarang Nok hamil seperti itu.

“Khun Thun, jangan bicara seperti itu di dalam kuil,” kata si pelayan mengingatkan.



Tepat disaat itu, Nenek bertemu dengan temannya. Dan ketika melihat garland (rangkaian bunga) di dalam keranjang temannya tersebut, Nenek langsung bertanya dengan serius, dimana mereka membeli garland tersebut.



Didalam mobil. Nenek diam memperhatikan Nim yang sedang berjualan garland. Dan ketika melihatnya, Nenek tampak sangat sedih sekali.



Flashback

Diruang tamu. Nenek mengajari Nim serta Vi cara membuat garland. Dan melihat hasil karya Nim yang begitu cantik, Nenek pun memuji Nim dengan senang. “Cantik seperti orang yang membuatnya,” puji Nenek.

Sementara Vi, hasil karya nya begitu tidak rapi dan sangat berantakan. Sehingga Nenek pun mengomentarinya. Lalu dengan sikap baik, Nim membantu Vi. Dia mengatakan bahwa itu hanya perlu diperbaiki sedikit saja dan akan menjadi cantik.

“Sedikit?” tanya Nenek sambil tertawa.

“Aku akan memperbaikinya untuk mu ya,” kata Nim sambil tertawa juga.



Lalu karena sudah malas, Vi pun duduk diatas sofa. Sedangkan Nim, dengan tekun dia melanjutkan garland nya. Sambil  bersandar di pangkuan Nenek. Dan dengan sayang, Nenek mengelus kepala Nim.



Dihari yang lain. Pada malam hari. Nenek memukuli Nim berkali- kali dengan rotan, sehingga Nim merasa sangat kesakitan sekali.

“Berapa kali aku mengingatkanmu untuk tidak terlibat dengan pria itu? Meh tidak akan mau mencari nafkah dan mabuk- mabukan setiap harinya! Seorang pria seperti ini tidak benar- benar mencintai mu! Jawab aku! Darimana kamu? Pulang semalam ini, darimana kamu?!” tanya Nenek dengan marah.

Lalu saat Nim tetap tidak menjawab, maka Nenek pun memukulinya lagi. Dan Nenek memaksa Nim untuk menjawab.



Dihari yang lain. Pada pagi hari. Saat Nenek masuk ke dalam kamar Nim dan membuka lemari baju milik Nim yang telah kosong. Nenek menduga Nim telah kabur. Dan dia menjadi sangat kesal sekali. Lalu ketika Vi menyerahkan surat yang Nim tinggalkan, Nenek langsung merobeknya.

“Anak yang kacau! Biarkan dia mati dimana pun dia ingin pergi. Dan jangan pernah kembali!” kata Nenek dengan marah sambil membuang surat yang telah dirobeknya.



Beberapa tahun kemudian. Saat Nim kembali ke rumah sambil membawa Nai. Nenek langsung menyiramnya menggunakan seember air. Dan memarahi Nim yang telah berani datang serta menunjukan wajah disini lagi.

Lalu ketika Nim berlutut memohon padanya, kemudian langsung berlari pergi dari sana. Nenek berteriak memanggil Nim agar kembali dengan alasan agar Nim membawa Nai bersama nya. Tapi Nim tetap berlari dan tidak kembali.


Setelah Nai ikut berlari pergi mengejar Nim, Nenek langsung menangis dengan sedih dan menyesal sekali.

Flashback End



Didalam mobil. Nenek menangis melihat Nim yang sedang membuat garland. Dan si pelayan pun bertanya apa Nenek mau turun untuk menemui Nim. Tapi Nenek hanya diam saja.

Nim merasa heran, ketika ada seorang pria yang menyodorkan uang besar kepadanya. Dan dengan ramah, Nim pun bertanya berapa banyak yang ini pria tersebut beli. Lalu Pria tersebut menjawab bahwa dia mau membeli semuanya. Dan tentu saja, Nim sangat senang sekali.

Kemudian saat Nim mau memberikan uang kembalian kepada pria tersebut, si pria menolak. Lalu sambil menunjuk ke arah mobil dimana Nenek berada, pria itu mengatakan,” Bosk ku memberikan itu kepada kamu. Dia orang yang baik,” kata si pria.



“Oh. Benarkah? Mm… bagaiman bila begini? Bisakah aku menerimanya selisihnya saja? Tolong ucapkan terima kasih kepada Bosmu ya,” kata Nim sambil memberikan kembalian uang yang besar kepada si Pria.

Didalam mobil. Nenek masih menangis. Dan ketika supirnya kembali, maka mereka pun melanjutkan perjalan untuk pulang. Sementara Nim, ketika mobil tersebut berjalan menjauh, dia terus menatap mobil tersebut.




Ditempat lain. Ditaman. Nai dan Nok mengikuti kelas yoga untuk Ibu hamil. Dan ketika mereka diharuskan berpegangan, dengan perlahan Nai menyelipkan tangannya ke pinggang Nok. Tapi karena merasa geli, maka Nok langsung menepis tangan Nai.

“Mengapa kamu pegang di sebelah sana? Itu geli,” keluh Nok.



“Pose ini, kamu diharuskan berpelukan dengan kuat satu sama lain. Dan saling melihat satu sama lain. Sangat bagus,” kata si Instruktur mengarahkan Nai serta Nok.

Pose selanjutnya. Nok diharuskan bersandar di dada Nai. Dan dengan raut wajah penuh kerinduan, mereka sama- sama tersenyum, menikmati saat tersebut. Kemudian lanjut ke pose selanjutnya, dimana mereka harus berpegangan tangan sambil menatap satu sama lain.



Setelah pelajaran selesai. Nai yang baru siap mengobrol bersama pasangan lain, dia berjalan dengan gembira mendekati Nok yang baru selesai bertukar pakaian. Dan Nai menunjukan sebuah alat yang baru dibelinya dari pasangan tadi, yaitu Monitor jantung bayi.



Kemudian Nok pun menanyakan cara kerjanya. Dan Nai menjelaskan, pertama pakai headphones di telinga. Kedua, alat deteksi diletakan di perut. Jadi ketika bayinya bergerak, maka mereka bisa mendengar kannya. Lalu Nai pun ingin menaruh alat tersebut di perut Nok, tapi mungkin karena malu sedang berada di depan umum, maka Nok pun langsung menolak.

“Sejak kapan aku bilang kamu bisa mendengarkannya?” kata Nok.

“Oh,” balas Nai dengan bingung.

“Omong kosong. Kembalikan itu,” kata Nok. Lalu berjalan pergi.



Pada malam hari. Dirumah kecil. Secara diam- diam, Nai memasuki kamar tidur Nok. Dan ketika dia memastikan bahwa Nok telah tertidur, maka Nai pun menggunakan alat tersebut untuk mendengarkan suara gerakan bayinya di dalam kandungan Nok.

“Jantung bayiku berdetak begitu cepat,” kata Nai dengan senang.

Lalu saat Nok bergerak dalam tidurnya, maka Nai pun menyingkir sebentar. Dan ketika dia melihat Nok tidak tampak akan bangun, maka Nai pun kembali mendengarkan menggunakan alat tersebut.

Keesokan harinya. Pada pagi hari. Nok menggunakan alat Monitor jantung bayi milik Nai. Dan sambil mendengarkan, Nok tersenyum dengan senang. Lalu di saat itu, tiba- tiba saja Vi menelpon, jadi Nok pun mengangkatnya.


Vi menyuruh agar Nok datang ke rumah Nenek, jika Nok tidak ada melakukan apapun hari ini. Karena Nenek hanya tiduran saja dan tidak mau memakan apapun, bahkan Nenek juga tidak mau pergi ke dokter.

“Apa yang salah? Apa dia sakit atau karena aku?” tanya Nok.

“Aku tidak tahu. Dia tidak menjawab, ketika aku bertanya. Datanglah membantu Rom untuk membawa dia ke dokter,” jelas Vi. Dan Nok pun mengiyakan.


Nok memegang tangan lemas Nenek dan menanyakan apa itu karena dia, sehingga Nenek menjadi seperti ini. Lalu saat Nenek hanya diam, Nok pun meminta maaf karena tidak mendengar kan Nenek dan melukai perasaan Nenek. Dan Nok pun memberitahu Nenek tentang perjanjiannya dengan Nai.

“Luckanai berjanji untuk mengembalikan segalanya padaku. Setelah aku melahirkan anak ini untuk nya,” jelas Nok.

“Apa maksudnya itu?” tanya Nenek dengan heran.


“Setelah aku melahirkan. Aku akan bercerai dengan Luckannai. Aku sudah bilang padanya bahwa aku akan memberikan anak ini sebagai gantinya. Lihat? Aku melakukan seperti yang mau bilang padaku sebelumnya,” jelas Nok dengan nada yang terdengar sedih, namun dia berpura- pura seperti orang yang kuat.

Dan bukannya senang mendengar itu, Nenek malah mulai menangis. Sehingga Nok menjadi kebingungan. Dan dengan cemas, Nok bertanya apa dia ada melakukan kesalahan dari apa yang telah Nenek ajar kan padanya.


“Kamu tidak melakukan kesalahan apapun. Aku yang salah. Aku orang yang salah mengajarimu. Aku mengajari kamu itu karena aku berpikiran aku membenci Luckannai. Dan membenci Nang Nim, Ibunya. Tapi sekarang aku tidak yakin,” kata Nenek sambil menangis dengan sedih.

Nenek merasa bersalah, tapi dia tidak bisa memberitahu siapapun. Kemudian Nok pun meminta agar Nenek menceritakan padanya, mana tahu dia bisa menolong. Tidak peduli betapa sulitnya, Nok berjanji bahwa dia akan melakukan nya.

“Beberapa hari lalu. Aku melihat Nang Nim, dia begitu kesulitan. Dia menjadi wanita penjual garland,” jelas Nenek sambil menangis dengan sangat sedih.


Nok datang menemui Nim yang sedang berjualan. Dan ketika melihat kedatangan Nok, Nim tampak sangat terkejut. Lalu mereka berdua pun duduk bersama untuk berbicara.

“Dia mencari kamu kemana- mana. Dia sangat merindukan mu,” cerita Nok.

“Aku juga merindukan Nai. Tapi Nok, tolong jangan memberitahu Nai bahwa aku ada disini ya,” balas Nim, meminta kepada Nok.

Nok menjelaskan bahwa semuanya telah berlalu dan menjaga Nim bukanlah beban bagi mereka, jadi mereka akan sangat senang bila Nim mau kembali dan tinggal bersama- sama dengan mereka lagi. Tapi Nim tetap menolak untuk kembali.


“Ini keegoisanku. Aku masih bisa mengingat jelas hari itu. Hari aku meninggalkan Nai. Dia terluka dan menangis memanggil ku, tapi aku meninggalkan dia. Gambaran itu tetap berada didalam hatiku, aku tidak bisa menghapusnya. Sampai hari aku melihat dia dipernikahan, tolong biarkan aku mengingat senyuman Nai di hari itu. Itu saja sudah baik. Dia tidak perlu menjagaku sampai moment terakhirku. Aku mohon padamu,” kata Nim dengan sangat sedih sambil mau menciumin tangan Nok.

“Jangan lakukan ini,” kata Nok dengan kebingungan harus bagaimana.


“Tolong. Aku mohon. Jangan biarkan aku melihat gambaran kecewa dan sedihnya pada moment terakhir di dalam hidupku. Aku tidak punya tenaga untuk melarikan diri lagi,” pinta Nim.

“Aku mengerti kamu. Tapi aku juga ingin kamu untuk mengerti aku. Jika Nai tahu, aku tidak memberitahu dia, aku melihat kamu, dia akan menjadi marah dan tidak akan memaafkan ku pastinya,” balas Nok.

Kemudian setelah berpikir sejenak. Nok menyarankan agar mereka tetap bertemu. Dan Nok meminta agar Nim mengizin kannya untuk mengurus perawatan Nim. Jika Nim tidak sembuh, maka dia tidak akan memberitahu Nai. Tapi jika Nim sembuh, Nim harus kembali bersamanya dan Nai.


Tepat disaat itu Nart datang. Dan dengan heran, dia menanyakan kenapa Nok berada disini serta mengapa Nim tampak sedih. Lalu tanpa menjawab, Nim menanyakan apa Nart mengenal Nok. Kemudian Nart pun menjelaskan bahwa Nok adalah istri Bosnya. Dan mengetahui itu, Nim tampak terkejut sekali.

“Khun Nok dan bibi Nim, apa kalian saling mengenal?” tanya Nart. Dan dengan cemas, Nim menatap kepada Nok. Lalu seperti mengerti, Nok menjawab bahwa dia datang untuk membeli garland, karena dia melihat itu begitu cantik.


Kemudian Nok memberikan uang kepada Nim dan mengambil sebuag garland. Lalu dia ingin pergi. Tapi Nart menahan Nok dan mengucapkan selamat kepada Nok atas kehamilan Nok. Serta Nak menceritakan kalau kini satu kantor telah mengetahuinya. Dan mendengar itu, Nim tersenyum senang sambil memandang Nok.


Dicafe. Nok menemui Wes untuk mengetahui penyakit Nim. Dan Wes pun menceritakan segalanya. Wes berpendapat bahwa karena Nim telah mengabaikan perawatan selama beberapa bulan, maka Nok harus bersiap untuk yang terburuk.

“Aku juga tahu. Tapi aku menanyai kamu tentang perawatannya, karena aku ingin memperpanjang waktu hidupnya. Sehingga Khun Nim akan bisa melihat Nai. Apa kamu mengerti aku? Ini bukan nya aku tidak mau memberitahu Nai, tapi aku mengerti perasaan Khun Nim. Mungkin karena kami berdua seorang Ibu sekarang,” jelas Nok.


“Aku mengerti. Tapi aku juga ingin kamu mengerti dari sudut pandang seoerang anak. Khun Nai telah mencari Ibunya dalam waktu yang lama. Dan akankah kamu membiarkan dia memilih kesempatan kapan dia masih bisa melakukan sesuatu?” balas Wes. Dan Nok pun dia merenungkannya.

6 comments: