Sunday, October 28, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 12 - part 5

16 comments

Network : Channel 3


Nok meminta tolong kepada seseorang ditelpon agar berbicara lagi dengan Nim. Kemudian karena Nai mengetuk kaca mobilnya, maka dengan buru- buru Nok menyudahi telponnya dengan orang itu. Lalu dia pun membuka pintu mobil.



“Hey, aku sudah bilang untuk tidak menyetir sendirian kemanapun,” kata Nai.

“Aku hanya mengunjungin Nenekku dan membeli beberapa barang,” balas Nok.

“Bagaimana pun itu berbahaya. Jika sesuatu terjadi …”

“Hey. Aku hanya hamil. Jangan membuatku marah.”


Lalu Nai pun membantu Nok untuk mengangkat barang belanjaan Nok yang berada dibelakang mobil. Dan ketika Nai melihat garland yang dibeli Nok, dia tersenyum seperti mengingat sesuatu. Dan Nok memperhatikan itu.



Dirumah. Dengan penuh rasa sayang, Nim memeluk kain yang diberikan oleh Nai. Dia memakai kain tersebut dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Dan ketika mengetuk pintu rumahnya, Nim pun segera menlap air matanya.


Nart datang sambil membawakan makanan untuk Nim. Dan dengan heran, Nim menanyakan apa yang membawa Nart datang untuk makan bersamanya. Kemudian tanpa berbasa- basi, Nart menanyakan kenapa Nim kabur dari rumah. Dan Nim pun menjadi kaget, karena ternyata Nart telah mengetahui semuanya.



“Ya. Apa kamu tahu betapa khawatir nya setiap orang? Khususnya, Khun Nok. Pikirkan lah. Kamu adalah seseorang yang membesarkan dia ketika dia kecil. Dan kamu tidak membiarkan dia untuk menjagamu ketika kamu sakit. Dan melarikan diri seperti ini. Kamu pantas dipukul,” kata Nart memukul pelan Nim.

Mendengar itu, Nim menjadi lega. Karena awal nya, Nim mengira bahwa Nart telah mengetahui semuanya. Tapi ternyata tidak. Dan kemudian Nim pun menanyakan bagaimana Nart bisa mengetahui itu.


“Barusan dia menelponku dan menceritakan padaku bahwa kamu bilang padanya untuk tidak memberitahu aku. Tapi besok jangan keras kepala,” kata Nart. Lalu Nart menjelaskan jika besok Nim tidak keras kepala, maka Nim bisa memegang bayi di dalam kandungan Nok.

Lalu mendengar itu, Nim tampak sangat senang sekali.




Nai meletekan garland yang dibeli oleh Nok. Lalu dia berdoa agar bayinya sehat dan mereka bisa segera menemukan Ibunya, sehingga mereka bisa memberitahukan kabar baik ini kepada Ibunya. Karena Ibunya pasti akan sangat senang mendengar tentang cucunya.

Dan dari jauh, Nok mendengarkan semua itu.



Dirumah sakit. Nok mengambil tangan Nim dan meletakannya di perutnya. “Cucumu. Kamu akan segera menjadi Nenek. Apakah kamu bahagia?” tanya Nok sambil tersenyum kepada Nim yang tampak sangat senang.

“Aku memberitahu Nart untuk merahasiakan ini dari Nai. Aku bilang Nai tidak akan setuju, aku datang dan pergi ke rumah sakit. Karena Nai mengkhawatirkan tentang bayinya,” jelas Nok.

“Terima kasih, sayang,” balas Nim.



“Aku melakukan segala yang kamu minta. Jadi kamu harus melakukan seperti yang ku minta dengan baik. Tolong jangan melarikan diri lagi,” pinta Nok.

“Ya. Aku tidak akan melarikan diri lagi,” janji Nim.



Tepat disaat itu, Wes datang dan dia mempersilahkan agar Nim mengikutinya. Namun Nok tampak heran, dia menanyakan bagaimana bisa Wes berada disini, kepadahal ini adalah hari off Wes. Dan Wes pun menjelaskan bahwa dia datang karena Nok.

Lalu saat Wes mengatakan bahwa dia harus cepat, karena dia harus pergi ke suatu tempat. Maka Nok pun menggoda Wes yang  tampak seperti ingin bertemu seorang wanita.

“Jangan lupa untuk membawa dia dan mengenalkannya padaku,” kata Nok. Dan Wes membalas dengan tersenyum.


Ditempat panjat tebing. Wes melalukan olahraga panjang tebing bersama dengan Vi. Dan ketika tanpa sengaja, Vi hampir terjatuh, Wes pun langsung ikut turun dan dia menanyakan apa ada yang terluka.



“Tidak ada. Ini tidak sakit. Aku kuat,” kata Vi sambil mengangkat tangannya, namun tiba- tiba dia merasa sakit dan meringis.

“Jika kamu terluka, hanya bilang kamu terluka,” kata Wes. Lalu dia membantu Vi.



Disaat itu, seorang wanita mendekati mereka. Dia mengajak Vi untuk ikut keruang perawatan, tapi Vi menolak. Dan Wes pun meminta es untuk mengompres Vi.

“Tapi…” kata si wanita tersebut.

“Tidak apa. Dia seorang dokter. Percayai dia,” jelas Vi.

“Baiklah. Bagusnya punya pacar seorang dokter,” kata si wanita tersebut.

“Um! Dia bukan pacarku. Aku lebih tua daripada dia,” balas Vi, menyangkal.

“Berapa umurmu? Kamu masih terlihat cantik. Pria muda akhir- akhir ini suka wanita yang lebih tua. Benarkan?”

“Bisakah kamu mengambilkan beberapa es?” balas Wes dengan tegas.


Kemudian saat wanita tersebut pergi, Wes segera membantu Vi. Dan dengan canggung, Vi membiarkan Wes untuk membantunya.



Vi menghubungin Wat dan menanyakan pendapat Wat sebagai orang yang pengalaman dengan yang lebih mudah. Dan Wat pun menggoda Vi yang terdengar mencurigakan. Lalu karena Wes datang, maka Vi langsung mematikan sambungan telponnya dengan Wat.



Kemudian saat makanan mereka tiba, Wes malah mengambil steak pesanannya. Dan hal itu membuat Vi menjadi heran. Namun alasan Wes mengambilnya adalah karena dia mau memotongkan steak tersebut untuk Vi, karena lengan Vi masih sakit.

Melihat sikap perhatian dan baik dari Wes membuat Vi tersenyum- senyum sendiri. Namun ketika sadar, Vi langsung berpura- pura bersikap biasa saja.


Ketika Wat sedang chat bersama seseorang, Khae datang dan mengomentari Wat. Lalu Wat pun mengatakan bahwa dia bukan hanya ngechat saja, tapi dia sudah banyak membuat perubahan. Kemudian Wat pun berdiri.


Dan dengan segera, Khae ingin membantu, tapi Wat menolak. Lalu dengan perlahan, Wat berjalan masuk ke dalam kamar. Dan hal itu membuat Khae merasa heran. Namun tidak lama setelah itu, Wat keluar dari dalam kamar tanpa memakai tongkat lagi sambil membawa sebuket bunga yang indah untuk Khae. Dan melihat itu Khae pun tersenyum senang.



“Sejak kapan kamu bisa berjalan? Aku tidak tahu,” kata Khae.

“Aku sudah bilang padamu, sebelum anak kita lahir, aku akan berlari,” balas Wat.

“Bagus. Jadi kamu bisa kembali bekerja setelah bayi ini lahir. Menghasilkan susu untuk bayinya.”

“Setelah bayi kita lahir, aku akan mengundurkan diri.”

“Tapi kamu sudah sembuh sekarang.”


“Karena aku telah sembuh dan merasa kuatlah. Aku ignin menggunakan waktu yang ada dengan kamu dan bayi kita. Mendapatkan luka, membuatku berpikir, setumpuk uang tidak bisa membeli kebahagian tanpa kamu,” jelas Wat. Dan dia ingin membiarkan genarasi kedua yang mengambil alih perusahaan.

“Kalau begitu, bisakah kita berkeliling ke seluruh dunia?” tanya Khae. Dan Wat setuju. Kemudian mereka saling bergandengan tangan.



Ditoko musik. Nai memilih beberapa CD, yaitu musik Beethoven dan Mozart. Lalu Nai menanyakan pendapat Nok, tapi karena sedang sibuk nge chat dengan seseorang, maka Nok pun tidak memperhatikan Nai.

Kemudian saat tersadar bahwa ada yang bertanya, maka Nok pun baru memperhatikan Nai. Dan Nai bertanya ulang.



“Oi, apapun yang kamu suka pilih saja itu. Mengapa bertanya padaku,” kata Nok sambil fokus kembali dengan hapenya.

“Aku membelinya untuk bayi itu. Ini bisa membantu pengembangan otak dan emosi nya,” balas Nai, menjelaskan.

“Terserah. Tapi jika itu bisa membantu, maka itu bagus. Jadi bayinya tidak akan menjadi menjengkelkan seperti Ayahnya ini,” balas Nok.

Kemudian Nai pun menjadi kesal, karena Nok terus fokus bermain hape saja. Dan Nok pun menjadi heran, siapa yang hamil. Lalu saat Nok ingin menyusuli Nai, dia mendapatkan balasan chat dari Nart.

Dia muntah- muntah segalannya yang dia makan. Dan mengetahui itu, Nok menjadi cemas.



Dirumah. Nim mulai muntah- muntah. Dan dengan segera, Nart pun membantu Nim. Nart meminta agar Nim menahannya sedikit, karena ini adalah efek samping dari kemo. Dan Nim membalas bahwa dia akan menahannya.

“Ini mungkin akan memperpanjang hidupku. Jadi aku bisa melihat bayi di dalam kandungan Khun Nok. Itu begitu bagus,” kata Nim.

“Bukan hanya itu, tapi kamu juga akan bisa melihat dia masuk ke sekolah,” balas Nart.

“Terima kasih ya,” balas Nim. Kemudian dia kembali muntah lagi.



Nok merawat Nenek yang sudah lebih baikan. Dan Nenek membalas bahwa itu karena dia tidak memiliki apapun yang harus dikhawatirkan lagi. Lalu Nenek mengucapkan terima kasih banyak kepada Nok.

“Dokter bilang kemo nya akan menyakitkan pertama kalinya. Pusing, muntah, dan mual. Tapi hasih positifnya, dia bisa hidup beberapa tahun lagi,” kata Nok menjelaskan kondisi Nim.



“Berapa tahun? Tidak peduli berapa lama, itu tidak cukup untuk orang yang kita rindukan beberapa tahun ini. Dan berapa lama kamu tidak akan memberitahu Luckannai?” tanya Nenek.

“Kamu orang kedua yang menanyakan itu. Aku ingin memberitahu Nai, ketika pertama kali aku melihat Khun Nim. Tapi aku takut, jika aku memaksa Khun Nim sekarang. Itu akan membuat dia melarikan diri lagi,” balas Nok.

Menurut Nok, karena kini Nim telah mau mengikuti perawatan. Mungkin segera dia akan memberitahu Nai.



Diruang makan. Nok menyingkirkan sayuran brokoli yang ada dipiringnya. Dan Nai pun mengomentari Nok. Lalu dengan kesal, Nok mengatakan bahwa dia bosan makan itu terus. Sarapan, makan siang, makan malam, Nai terus membuatnya memakan itu.

“Bagaimana jika aku makan terlalu banyak dan bayinya lahir dengan tiga tangan? Huh?” kata Nok dengan sembarangan dan tanpa berpikir. Lalu dengan kesal, Nai pun permisi dan pergi.



Melihat semua tatapan orang diruang makan, Nok pun bertanya siapa yang salah. Dan mereka menunjuk Nok. Kemudian Phai mengingatkan Nok yang telah berbicara terlalu kasar kepada Nai. Dan Nok pun tidak terima, lalu mengomel.



“Aku pikir dia mendapatkan gejala hamil dari Istrinya,” jelas Wat.

“Dia?” tanya Nok tidak percaya.

“Ini begitu manis. Satu sama lain mendapatkan gejala hamil,” goda Aff, Aey. Dan Nok tersenyum senang mendengar nya. Karena ternyata Nai juga merasakan perasaan moody nya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Nok.

“Anggap dia orang hamil lainnya. Manjakan dia sedikit,” jelas Wat. Dan Nok tersenyum senang.



Malam hari. Saat masuk ke dalam rumah kecil, Nai mendengar musik piano yang sangat besar. Dan ternyata yang membuka musik itu adalah Nok.

“Aku meminjamnya dari Ayahku. Dia punya banyak. Mengapa kamu tidak minta saja sih?” kata Nok berpura- pura cuek.

“Sebenarnya, kamu tidak perlu memainkannya sekeras ini,” balas Nai.

“Mm… aku mendengar lagu ini untuk membantu perkembangan emosinya,” balas Nok.



Melihat itu, Nai pun tersenyum, karena kini dia merasa lebih baik. Lalu Nai pergi keluar. Dan kembali dengan membawa headphones. Kemudian Nai menaruh headphones tersebut di perut Nok. Sehingga bayi mereka bisa mendengarkannya.

“Dia mungkin masih disana sekarang, tapi sebulan atau dua bulan. Dia akan menari,” jelas Nai. Dan Nok tersenyum.

“Siapa yang menari dengan lagu klasik. Kamu sendiri yang bicara,” balas Nok.



“Khun Nok. Bisakah aku berbicara kepada bayinya? Aku ingin bayinya mengenali suaraku,” pinta Nai. Dan Nok menyetujuinya.

Lalu Nai pun mendekat dan mencium perut Nok. Dan karena terkejut, Nok bertanya mengapa Nai mencium perutnya. Lalu Nai pun menjelaskan bahwa begitulah cara nya berbicara. Dan Nok pun tidak mau mengizinkan Nai lagi.

“Tolong. Hanya satu kalimat saja,” kata Nai.

“Satu kalimat ya?” balas Nok. Dan mengizinkan Nai untuk bicara pada bayi diperutnya.



“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu,” kata Nai terus mengulangin kata yang sama.

“Hey. Satu kalimat yang panjang,” kata Nok menghentikan Nai.

“Sedikit lagi.”

“Cukup. Cukup,” kata Nok. Namun dia mengizinkan Nai melakukannya lagi.


Tiba- tiba saja, Nok mengingat perkataan Wes padanya. Serta perkataan Nenek padanya. Kapan Nok akan memberitahukan tentang Nim kepada Nai. Dan mengingat itu, Nok menjadi tampak sedih.



Pagi hari. Nart datang mengantarkan sarapan untuk Nim dan menjelaskan bahwa jam 11 Nok akan menjemput Nim untuk melakukan kemo yang kedua. Lalu Nart mengingatkan agar Nim tidak lupa memberitahu dokter bahwa dia merasa pusing dan muntah.

“Baiklah. Terima kasih,” kata Nim.

“Dan jangan pergi menjual garland ya. Kamu tidak diam- diam membuatnya kan?” tanya Nart dengan curiga. Dan dengan canggung, Nim tersenyum.



Lalu karena buru- buru ada rapat, maka Nart pun pamit untuk pergi atau Nai akan marah, karena kini tampaknya Nai mengalami gejala orang hamil, yaitu suka moody.

Dan setelah Nart pergi. Nim membuka kain yang menutupi garland- garland buatannya.



“Apa yang kamu bilang?” tanya Nai, saat Nok menelponnya.

“Mengapa kamu membesarkan suara mu? Aku hanya bilang, dokter mengubah jadwal chekup nya hari ini. Itu saja,” jawab Nok sambil mengambil makanan dikulkas.

“Tapi aku tidak bebas hari ini. Mengapa kamu tidak menolaknya?”

“Aku dengar mereka akan mengecek aku, bukan kamu,” balas Nok.

“Aku ingin pergi juga. Jika mereka melakukan ultrasound hari ini, aku akan marah pada kamu dan dokter.”

“Ada apa denganmu? Wajah bayinya tetap sama, tidak peduli berapa banyak ultrasound dilakukan.”

“Itu tidak sama. Terakhir kali, bayinya membesar beberapa cm. Kita mungkin bahkan bisa tahu, apa bayinya laki- laki atau perempuan kali ini,” balas Nai.

“Kemudian. Aku akan minta fotonya untukmu. Bahagia kan?”

“Tidak. Itu tidak sama.”

“Itu saja yang bisa ku lakukan. Aku malas bicara padamu,” balas Nok. Lalu mematikan sambungan telpon dengan Nai.


“Aku minta maaf. Tapi aku membawa seseorang untuk melihat bayi ini untukmu. Jika dia melihat bayi kita, dia akan mengubah pikirannya dan menemui kamu pastinya. Aku akan melakukan ini untukmu,” gumam Nok.




Nim berjalan menurunin tangga sambil membawa garland. Namun karena tiba- tiba saja dia merasa pusing, maka tanpa sengaja, Nim pun terjatuh dari atas tangga.

16 comments:

  1. Thanks... lanjut terus yaaa😙😙

    ReplyDelete
  2. Keren 2part sekaligus...
    Makasih mimin sinopsisnya 🙏
    💪💪💪 buat episode selanjutnya ..

    ReplyDelete
  3. Mantab min lanjuttt yaa semangattt

    ReplyDelete
  4. Seruu...makasih kakak udah lanjutin sinopsisnya.tapi,,,kalau boleh jangan kelamaan ya kak lanjutinnya heheheee✌✌✌

    ReplyDelete
  5. 👍👍👍👍👍

    ReplyDelete
  6. Baik kali kak.. Makasi ya kk..semangat

    ReplyDelete
  7. tambah seru ceritanya.. . makasih kak
    kak bikin sinopsisnya padiwaradda donk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong bikin sinopsis paddiwaradda ..aku baca di blog sono blm selesai udah gk bisa di buka link nya

      Delete
  8. Tambah seru ceritanya, jangan lama lama membuat kelanjutannya ya kak

    ReplyDelete
  9. Terimakasih skl. Sdh lanjutin sinopsisnya..., Pokoknya tambah seru ceritanya.... Ditunggu part selanjutnya... Tetap semangat ya...

    ReplyDelete
  10. Kalo boleh tau tayangnya di acara TV apa iya

    ReplyDelete