Wednesday, December 19, 2018

Sinopsis Lakorn : Khun Chai Puttipat Episode 1 - Part 5

7 comments



Khun Chai Puttipat (2013) Episode 1 - Part 5

Network : Channel 3


Keaw baru saja pulang bersekolah, dan ketika dia melihat Ayahnya yang ingin mengangkat pot bunga, hampir saja akan terjatuh. Dia segera berlari dan membantu Ayahnya.

Keaw menanyakan dimana Obat Ayahnya, biar dia mengambilkannya. Tapi Ayah menahan Keaw agar tidak perlu ambil, dia beralasan bahwa dengan beristirahat sebentar, dia pasti akan baikan.

“Ayah. Tolong berhenti bekerja ya. Jangan paksakan dirimu sendiri. Aku tidak ingin kamu menderita,” pinta Keaw.

“Keaw, Ayah tahu kamu mengasihi dan peduli pada Ayah. Tapi kamu harus mengkhawatirkan tentang dirimu sendiri. Ayah sudah semakin tua, kelihatannya Ayah tidak bisa bertahan terlalu lama. Tapi kamu masih muda, kamu harus hidup,” balas Ayah dengan sikap pesimis.



Keaw sedih mendengar perkataan Ayahnya itu. Bagi Keaw yang terpenting sekarang adalah Ayahnya, dan dia berjanji bahwa dia pasti akan membawa Ayah ke bangkok untuk di operasi.

“Keaw, tidak perlu melakukan apapun untukku. Gunakan simpanan mu untuk mempersiapkan study,” kata Ayah. Karena dia tahu bahwa Keaw bercita- cita menjadi guru, jadi Keaw harus melanjutkan ke kuliah untuk mencapainya.


Dengan sedih, Keaw memeluk Ayah. Dia mengatakan bahwa dia tidak ingin membiarkan Ayahnya untuk terluka sendirian lagi. Dan Ayah meminta agar Keaw mempercayainya. Tapi Keaw tidak mau.

“Aku tidak ingin pergi kuliah atau melakukan apapun tanpa kamu. Aku bisa melakukan segalanya untuk menyelamatkan hidupmu,” kata Keaw. Dan dengan sayang, Ayah mengelus kepala Keaw.

Dari jauh. Guru Boot melihat kejadian mengharukan antara Keaw dengan Ayah.



Chai Pat menyapa Nenek Aiet, dia menanyakan apa yang terjadi, karena Nenek Oon memberitahu bahwa Nenek Aiet merasa sakit dan ingin dia memeriksanya. Dan Nenek membenar kan. Chai Pat lalu duduk di sebelah Nenek Aiet.

“Aku begitu putus asa. Aku merasa gelisah. Aku merasa bersalah. Aku tidak ingin melihat siapapun,” jelas Nenek Aiet.

“Apa kamu merasa kurang nafsu makan, tidak bisa tidur dengan baik, pesimis atau halusinasi?” tanya Chai Pat.


“Mmh… hei… Nenek mu bukan psikopat. Jangan memberi dia beberapa obat pengontrol kecemasan. Itu tidak berguna. Hanya satu yang bisa menolong Nenek mu, yaitu kamu, Chai Pat,” jelas Nenek Oon.


Saat melihat apa yang sedang terjadi, Chai Yai menahan ketiga saudaranya agar jangan keluar dulu. Dan karena penasaran mereka mengintip, lalu saat mengetahui apa yang terjadi, mereka langsung merasa bersimpati kepada Chai Pat.



Nenek Aiet mengatakan kepada Chai Pat bahwa kedua saudara Chai Pat telah membuatnya kecewa. Mereka tahu bahwa Ayah mereka telah membuat janji dengan M.R. Taewapan yang ingin mereka menjadi menantunya.

“Kamu sudah besar. Kamu harus mendengarkan Nenek mu. Kamu belajar keras. Kamu membuat dia bangga padamu. Kamu tidak pernah mengecewakannya. Jadi kali ini jangan kecewa kan Nenek mu,” jelas Nenek Oon, menasehati Chai Pat.


Keempat saudara Chai Pat ingin membantu Chai Pat, jika tidak Chai Pai akan mati. Tapi walaupun begitu, karena tidak ada yang bisa mereka berbuat. Maka mereka pun ragu untuk membantu Chai Pat.



“Aku tidak pernah memikirkan tentang pernikahan,” kata Chai Pat, menolak dengan halus.

“Apa kamu mau menolak?” tanya Nenek Oon yang mengerti.

Chai Pat beralasan bahwa dia telah jauh- jauh ke luar negri untuk mempelajari ilmu kedokteran, jadi dia ingin menolong orang duluan. Dan Nenek membalas bahwa Marathee (Wanita yang ingin di jodohkan dengan Chai Pat) adalah seorang suster, jadi cocok dengan Chai Pat yang adalah seorang dokter.

Mendengar itu, Chai Pat pun hanya bisa menghela nafas saja. Dan kemudian Nenek menyuruh agar Chai Pat pergi ke tempat Taewapron dulu saja, karena Nenek telah memberitahu Marathee bahwa Chai Pat akan pergi menjemputnya. Dan kini pasti Marathee sedang menunggu Chai Pat.



Dirumah Taewapron. Rampa menasehati Marathee yang sedang memilih sepatu hak mana yang harus dipakai. Dia mengatakan bahwa setibanya di rumah sakit, Marathee juga harus berganti sepatu. Tapi Marathee tidak peduli, karena dia senang.

Rampa lalu menyadari bahwa Marathee memiliki sepatu baru. Dan dia pun memberikan nasihat kepada Marathee bahwa seorang suster harus mengenakan sepatu putih dan bertindak menurut aturan. Jadi intinya percuma Maranthee membeli banyak sepatu, itu semua menghabiskan uang saja.

“Pikirkan urusan mu sendiri. Keluar dari sini!” perintah Marathee yang tidak suka dinasehati. Sejak dia telah mendapatkan gajinya, maka itu terserah dia untuk membeli sepatu baru.



Taewaprom mengingatkan Marathee untuk tidak lupa membayar tagihan listrik, jika Marathee telah mendapatkan gaji. Karena jika mereka tidak membayarnya, maka PLN akan memotong semuanya. Dan Marathee pun membalas bahwa Ayahnya bisa meminta uang dari Kate.

“Dia memberikan padaku minggu lalu. Tapi aku menggunakan nya untuk membayar makanan kita di restaurant Goh.  Katesara (Kate) telah membayar banyak untuk biaya kuliah di Wilairampa. Mengapa kamu mau aku meminta uang darinya? Sejak kamu sudah gajian, kamu harus membantu,” kata Taewaprom, menasehati.

“Ayah. Aku bukan manajer bank!!” balas Marathee.



Taewaprom memberikan saran agar Marathee secepatnya membuat Chai Pat untuk melamar, jadi Marathee dapat menjadi menantu disana. Dan dengan begitu, Marathee bisa mendapatkan uang bangsawan itu.

“Aku bosan! Aku bosan! Aku tidak ingin menjadi bangsawan miskin yang tinggal di istana ini!! Aku begitu bosan!” teriak Marathee.


Tepat disaat itu. Chai Pat datang untuk menjemput. Dengan hormat serta sopan, Chai Pat memberikan salam kepada Taewaprom dan menyampaikan maksud kedatangannya untuk menjemput Marathee.


Melihat kedatangan Chai Pat yang menjemputnya, Marathee langsung berubah sikap menjadi lebih lembut. Dia mendekati Chai Pat dan mengatakan bahwa dia telah menunggu. Setelah itu dia pamit kepada Ayahnya, serta kepada Rampa

“Rampa, belajar keras ya. Selamat tinggal, yah,” kata Marathee sambil memberi salam dengan sopan. Lalu dia mengandeng tangan Chai Pat.



Keaw masuk ke dalam kantor guru dan langsung berlutut untuk meminta tolong kepada Guru Boot. Dia menjelaskan bahwa dia ingin meminjam, tapi dia harus punya penjamin, jadi dia ingin si Guru membantunya.

“Aku berjanji, aku tidak akan menyebabkan masalah padamu,” pinta Keaw.

“Meminjam? Apa kamu yakin?”

“Aku tidak punya pilihan,” jawab Keaw.

“Aku pikir, kamu memiliki pilihan yang lain. Dengan pilihan ini, kamu bisa membawa Ayah mu ke bangkok. Dan kamu bisa kuliah,” jelas Guru Boot.



Dengan lembut Guru Boot mengajak Keaw duduk disofa. Lalu dia menjelaskan tentang kontes kecantikan Thailand. Jika Keaw bisa mendapatkan tempat pertama, maka Keaw akan mendapatkan mahkota berlian dan hadiah uang 5.000 bath.

Jika Keaw mendapat tempat kedua atau ketiga, maka Keaw akan mendapatkan hadiah uang yang tidak kurang banyak daripada tempat pertama. Dengan mengikuti ini, Keaw akan memiliki uang, kehormatan, dan membuat nama provinsi bangga.


Mendengar hadiah uang yang akan didapat, Keaw tampak bersemangat. Lalu Guru Boot memperhatikan wajah Keaw dengan baik- baik. “Aku pikir kamu cukup cantik untuk mendapatkan salah satu hadiah. Pikirkan lah ini, Keaw,” kata Guru Boot sambil tersenyum lembut.


Keaw terdiam untuk sesaat. Dia tampak tertarik untuk mengikuti Kontes kecantikan thailand ini.

7 comments: