Wednesday, December 19, 2018

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 22 – 2

0 comments

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 22 – 2
Images by : Channel 3
sinopsis di tulis oleh : Chunov (nama samaran) di blog k-adramanov.blogspot.com
Khun Pawinee melihat album foto Khun Pa dari kecil hingga dewasa. Dia menangis melihat semua foto itu. Thi menemuinya dan mengajak Khun Pawinee untuk ke kantor polisi sekarang.
“Untuk memberikan jaminan pada Pa, kan? Aku tukar baju dulu.”
“Ini bukan mengenai jaminan, Mae’Yai. P’Pa… dia menerima dan mengakui pada polisi… kalau dia membunuh Khun Wiset.”
Khun Pawinee shock.
--
Mereka semua ke penjara. Khun Pawinee bertanya apa yang terjadi? Kenapa Pa mengaku? Apa Pa sudah gila?
“Aku tidak gila, Ibu. Tapi, aku harus bertanggung jawab karena membuat suamiku meninggal.”
“Kenapa kau harus bertanggung jawab? Tanggung jawab karena merusak hidupmu sendiri, hidup putrimu seperti ini? Huh?”
Khun Pa menangis keras. Khun Pawinee juga frustasi. The bertanya pada Chanat, apa yang akan terjadi selanjutnya? Chanat menjelaskan kalau mereka akan membawa Khun Paradee ke penjara untuk menjalani persidangan.
Khun Pawinee benar-benar shock. Sementara Namneung, dia berlari keluar dari kantor polisi. Da berkata dia yang akan mengejar Namneung.
Khun Pa meminta agar polisi segera membawanya. Khun Pawinee benar-benar histeris karena hidup putrinya menjadi seperti ini.
--
Thi membawa Khun Pawinee pulang dan memintanya untuk berisitrahat. Khun Pawinee masih terus meratapi nasib Khun Pa, dan merasa itu adalah kesalahannya. Thi berusaha menenangkan Khun Pawinee agar tidak menyalahkan diri sendiri. Mereka harus menyelesaikan masalah ini dulu.
“Besok aku akan ke perusahaan,” putus Khun Pawinee.
Thi memintanya untuk tidak pergi dulu ke perusahaan. Mengenai perusahaan dia yang akan meng-handle nya dengan Khun Nat.  Khun Pawinee merasa dia tetap harus ke perusahaan, apalagi putrinya sudah membuat masalah sebesar ini.
--
Esok hari,
Khun Pa hendak di bawa ke penjara, dan seluruh reporter yang telah mengetahui berita itu, mengerubunginya untuk meliput.


Na dan Krit saat itu datang ke kantor polisi. Khun Pa melihatnya. Thi juga datang dan melihatnya. Dan Khun Pa juga melihatnya.  
--

Berita mengenai Khun Pa sudah tersebar dan tayang di TV Nasional. Selain berita pembunuhan yang di lakukan Khun Pa, juga ada berita mengenai penggelapan dana perusahaan yang di lakukan Khun Wiset dan melibatkan Khun Chukiat. Khun Chukiat juga di panggil untuk di interogasi.
“Khun Paradee sudah tertangkap. Mungkin ini saatnya kita memberitahu kebenarannya kepada semuanya,” pendapat Ya. “Dan membawa kembali KhaoSuay untuk tinggal denganku.”
“Tapi… Khun Paradee masih belum mengaku terkait yang dilakukannya pada mu dan juga pembunuhan Khun Pipop,” pendapat Na.
Ya merasa kalau semuanya sudah berakhir karna Khun Pa telah tertangkap. Krit angkat bicara, walaupun Khun Pa telah tertangkap, namun kasus ayahnya dan Khun Pipop belum terungkap.
“Jadi kalau Khun Pa mengaku, semuanya akan berakhir, kan? Karena ini semua berawal dariku, maka biarkan aku yang mengakhirinya sendiri, Na.”
Na hanya menghela nafas mendengar permintaan Ya.
--
Seluruh kantor ST Car sedang heboh saat mendengar kabar kalau Khun Pawinee akan datang ke kantor. Mereka mulai menduga kalau mungkin kedatangan Khun Pawinee adalah untuk memutuskan siapa pengganti Khun Wiset yang sudah meninggal dan Khun Pa yang di tangkap. Chet yang ada di sana memberi komentar kalau mereka harus melihat siapa yang bisa mengalahkan Thi untuk menjadi President dari ST Super Car.
Dan ada yang aneh, Chet tersenyum misterius.
--
Khun Pawinee mengadakan rapat untuk membahas mengenai pengganti Khun Wiset dan Khun Pa. Dan Khun Pawinee menyerahkan posisi tersebut untuk di ambil oleh Khun Nattaya. Setiap peserta rapat yang hadir, tidak menolak putusan tersebut. Khun Nat berterimakasih dan berjanji akan mengerjakan yang terbaik.
--
Selesai rapat, Da pergi ke ruangan Khun Nat. Dia memberi komentar tidak percaya kalau orang seperti P’Pa bisa membunuh orang. Khun Nat balas berkomentar kalau kemarahan dapat membuat orang gelap mata dan dia kasihan dengan Pa.
“P’Nat kasihan pada P’Pa? Aku kira kau malah senang. Karena kau tidak akan mempunyai saingan lagi di perusahaan.”
“Aku tidak pernah melihat Khun Pa sebagai sainganku. Khun Pa adalah keluargaku.”
“Benarkah? Mari kita lihat saja. Jangan sampai ku lihat kalau P’ diam-diam menyalakan kembang api untuk merayakan posisi yang baru saja P’ dapatkan,” komentar Da sinis dan keluar dari ruangan Khun Nat.
Khun Nat jelas kesal mendapat komentar seperti itu.
--
Malam hari,
Khun Pawinee duduk sendiri di ruang tamu dan menangis sedih. Thi yang baru pulang merasa kasihan melihat Khun Pawinee dan bertanya kenapa dia belum tidur?
“Mana bisa aku tidur ketika putriku… Pa harus tidur di penjara,” tangis Khun Pawinee. “Sejak dia kecil hingga dewasa, aku tidak pernah membiarkannya kesulitan sekalipun. Tapi hari ini… hari ini Pa harus tidur di penjara.”
Thi berusaha menghibur Khun Pawinee. Tapi percuma apalagi Khun Pawinee menyalahkan dirinya sendiri karena telah salah membesarkan Pa. Selama ini Pa selalu merasa kalau dia membencinya. Thi mengatakan pada Khun Pawinee kalau Khun Pawinee adalah ibu terbaik, dia bahkan membesarkan dirinya yang bukan anak kandungnya dengan baik. Khun Pawinee menangis semakin keras dan memeluk Thi dengan erat.
--
Esok hari,
Lert mendapat laporan dari satpam kalau ada pencuri lagi. Dan menurut informasi dari para tetangga, pencurinya kali ini adalah wanita paruh baya. Jadi kalau Lert tahu sesuatu, tolong kasih tahu dia juga ya. Setelah itu, si satpam kembali ke pos jaga komplek.
Setelah si security pergi, Lert mengomel karena si satpam tak pandai menjaga. Masa Cuma kasih tahu informasi, bukannya berhasil nangkap si pencuri. Thi sampai heran melihatnya mengomel dan menyuruh Lert untuk menyiapkan mobilnya saja.
--
Na pergi ke penjara tempat Khun Pa di tahan. Dia mengunjungi Khun Pa dan bertanya, apa dua tahun yang lalu, Khun Pa lah orang yang menyerangnya?
“Kau ingin menuduhku, kan?” tanya Khun Pa dengan marah.
“Aku datang bukan untuk menuduh atau membuatmu marah. Selama ini aku dapat mengerti kenapa kau marah padaku. Karena aku telah membuat kesalahan untuk kalian semua dan tidak dapat di ampuni. 2 tahun lalu, aku harus duduk di kursi roda, itu seperti hukuman untukku. Aku menderita. Aku mengerti perasaan mu sekarang, Khun Pa.”
“Tidak perlu kau datang untuk mengatakan kau mengerti perasaanku. Kau tidak akan pernah mengerti. Aku tahu kalau kau juga marah dan membenciku. Ingin melihat hidupku hancur seperti ini, kan?”
“Tidak benar. Aku tidak pernah marah atau membencimu. Kebencian hanya akan membuat kita terluka. Sebaliknya, memaafkan adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Hari ini, aku datang untuk memberikan maafku. Jadi kita bisa mengakhiri semuanya.”
Mata Khun Pa berkaca-kaca mendengarnya.
Na dan Krit menunggu di luar. Na merasa cemas, dan Krit meminta Na untuk percaya pada Ya. Dia yakin kalau Ya pasti bisa mengakhiri semuanya sendiri.

Eh, ada Khun Nat!!! dia datang dan bertanya sedang apa Siriya dan Krit di sini? Panik, Na menjawab cepat kalau mereka datang untuk melihat Khun Pa. Dan tidak lama, Thi juga datang, dia datang bersama dengan Khun Nat.
“Kebetulan kami juga ingin bertemu dengan Khun Pa. Bagaimana kalau kita masuk bersama,” saran Thi.
“Aku sudah masuk tadi.”
Mendengar jawaban Siriya, Khun Nat langsung masuk bersama dengan Thi untuk menjenguk Pa.
Setelah mereka masuk, Na langsung nyuruh Krit telepon Ya dan memintanya keluar. Sebelum ketahuan.
“Jika kau tidak mengakui hal dua tahun yang lalu, bagaimana dengan kematian Khun Pipop dan Khun Jentham? Itu bukan kecelakaan kan, Khun Pa?!” tanya Ya.
Krit menelpon Ya, tetapi ponsel Ya di masukkan ke dalam loker sebelum dia masuk bertemu Khun Pa. Krit jadi panik karena Ya tidak mengangkat telepon. Sementara itu, Thi dan Khun Nat sudah masuk dan meletakkan barang-barang pribadi ke dalam loker.
“Kematian dari Khun Pipop dan Khun Jentham adalah perbuatanmu kan?” tanya Ya lagi.
Khun Pa menatapnya, dengan ekspresi bingung.

Seorang opsir polisi melapor kepada petugas jaga kalau ada dua orang keluarga Khun Pat, yaitu Khun Nattaya dan Khun Athirat yang ingin berkunjung. Ya mendengar hal itu, dan dia langsung pamit pada Khun Pa untuk pergi dulu. Dan Ya meminta bantuan kepada pengunjung di sebelahnya untuk membantunya keluar.
Ya berbaur dengan pengunjung. Saat Thi dan Khun Nat lewat, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam sehingga Khun Nat dan Thi tidak menyadari kehadirannya. Setelah dia mengambil barang-barangnya di loker, dia menelpon Krit kalau dia sudah keluar dan tadi berhasil menghindari Khun Nat dan Thi. Tapi, dia tidak mendapat pengakuan Khun Pa.
Krit mengerti. Dan dia meminta Ya untuk menunggu di depan, karena dia akan datang menjemput Siriya.
--
Khun Nat bicara dengan Khun Pa, apa yang di bicarakan Siriya pada Pa?
“Dia ingin aku mengaku telah melukainya dua tahun lalu.”
“Kau tentu tidak boleh mengaku hal itu, Khun Pa? Sekarang ini, kami sedang berusaha untuk membebaskanmu. Aku tidak ingin ada masalah lain yang memperumit kasus saat ini, Khun Pa.”
“Cukup, P’Nat, Nai Thi. Tidak perlu menolongku sama sekali. Aku orang yang membuat Khun Wiset meninggal. Aku harus bertanggung jawab.”
“Jika Khun Pa masuk  penjara, bagaimana dengan Namneung? Namneung memerlukanmu, Khun Pa.”
“Namneung… tidak perlu ibu sepertiku lagi,” sedih Khun Pa.
“Khun Pa, lalu bagaimana dengan Mae’Yai. P’Pa tahu kalau Mae’Yai melakukan segala cara untuk menolongmu,” beritahu Thi.
“Pergi. Jangan pernah datang kemari lagi. Tinggalkan saja aku sendiri,” teriak Pa dan langsung masuk kembali ke dalam sel penjaranya.
Khun Nat dan Thi sampai tidak tahu harus bagaimana lagi. Mereka mengusahakan segala cara, tapi Khun Pa sendiri sudah tidak ingin berusaha. Dia ingin berada di dalam penjara, menebus dan bertanggung jawab atas kematian Khun Wiset.
  
Support penulis hanya dengan membaca sinopsis ini (Khun Mae Suam Roy) di :
k-adramanov.blogspot.com. Terimakasih. Happy Reading.

No comments:

Post a Comment