Wednesday, December 19, 2018

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 23 – 1

0 comments

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 23 – 1
Images by : Channel 3
sinopsis di tulis oleh : Chunov (nama samaran) di blog k-adramanov.blogspot.com
Dalam perjalanan pulang, Khun Nat memberikan komentar kalau mereka tidak bisa melakukan apapun jika Khun Pa tidak mau bekerjasama dengan mereka. Thi membenarkan, dan yang harus mereka lakukan sekarang adalah memperbaiki kondisi mental Khun Pa.
“Dan aku juga ingin berkonsultasi dengan pengacara handal, tapi aku tidak tahu apakah Khun Krit bersedia membantu kita atau tidak,” ujar Thi.
“Kenapa dia tidak mau membantu kita?”
“Karena Khun Krit memihak Siriya. Dan Siriya ingin Khun Pa menebus kesalahannya karena dia pikir P’Pa adalah orang yang membuatnya menjadi lumpuh. Aku juga merasa kalau Khun Krit mungki tidak ingin menolong P’Pa.”
“Walau dia tidak mau membantu pun, dia harus ingat kalau dia adalah orang Sutharak. Dia tidak boleh lupa kalau dia bisa hidup karena uang dari Sutharak. Bukan Siriya. Aku akan mencoba bicara dengan Khun Krit.”
--
Ya sudah kembali ke rumah Krit. Dia kemudian mulai membahas Khun Pa. Dia merasa kasihan pada Khun Pa dan juga merasa bersalah karena tidak bisa membuat Khun Pa mengakui perbuatannya kepadanya. Jika saja tadi mereka punya waktu sedikit lebih lama.
“Tidak apa-apa, Khun Ya. Gimanapun sekarang ini Khun Pa sudah tidak bisa kabur kemanapun lagi. Kita juga masih punya waktu untuk membuat Khun Pa mengaku. Khun Ya, bagiku… kau hari ini sangat hebat.”
Ya kemudian memberitahu Krit kalau dia akan meminta Peuk besok untuk menjemputnya pulang. Krit menawarkan diri untuk mengantar Ya, agar tidak merepotkan Peuk. Tetapi, Ya menolak. Setelah itu, dia segera permisi untuk ke kamar dan menolak bantuan Krit. Tampak jelas, dia menghindari Krit.

Setelah masuk kamar, Ya menelpon Peuk dan meminta di jemput besok. Tapi, ternyata Peuk tidak bisa menjemput Ya besok karena jadwalnya sangat sibuk besok. Mulai dari jam 7 pagi dia sudah harus membawa makanan untuk kuil, mengurus bebek dan membawa Aunt On ke dokter gigi. Sementara sorenya, dia harus menonton lakorn. Ya meminta Peuk untuk menunda menonton lakorn, tetapi Peuk dengan tegas mengatakan tidak bisa. Dia sudah menantikan lakorn ini dari minggu lalu.
“Dan di preview lakorn itu di katakan kalau Pra’ek hampir mengetahui penyamaran Nang’ek. Jadi, aku tidak bisa melewatkannya.”
Aunt On meminta Ya untuk tinggal di tempat Khun Krit sehari lebih lama. Ya merasa tidak enak tinggal terlalu lama di tempat Krit. Aunt On meminta Ya untuk tidak terlalu berpikir jauh, dia kan teman Krit, lagipula kan Ya bisa memanfaatkan hal ini untuk menemani KhaoSuay. Ya akhirnya mengerti dan tidak memaksa di jemput lagi besok, tapi Peuk harus menjemputnya lusa, ya. Aunt On setuju.
Setelah selesai berteleponan dengan Ya, Aunt On dengan riang memberitahu Peuk kalau rencana mereka berhasil. Peuk masih merasa ragu, apa rencana Aunt On ini akan sukses? Aunt On dengan yakin menjawab, pasti, jika dua orang tinggal bersama dan saling bertemu setiap hari, pasti tidak akan bisa menahan diri.
“Dan satu lagi, aku ingin Ya berhenti membohongi perasaannya sendiri.. jadi, dia akan bisa bahagia sekali lagi.”
--

Thi pulang ke rumah. Dan saat itu, seorang wanita paruh baya yang sebelumnya di bilang satpam di curigai sebagai pencuri, memanggil Thi.
“Thi. Itu kau kan, putraku?”
Thi terkejut namanya di panggil. Dia berbalik dan melihat seorang wanita berpakaian lusuh. Itu ibu kandungnya. Dia langsung teringat saat ibunya pergi dengan taksi dan meninggalkannya begitu saja di rumah Sutharak.

Ibu Thi mendekati Thi. Dia bertanya apa Thi masih ingat padanya? Thi menatapnya dengan marah dan menjawab, “Aku tidak kenal kau siapa. Sejak aku lahir, aku tidak punya ibu! Kau mungkin telah salah mengenali orang lain. Aku bukan putraku!”
Dan belum cukup, Thi memerintahkan Peuk untuk mengusir wanita itu. Peuk yang sempat mendengar pembicaraan mereka terkejut, apa wanita itu ibu Thi?


Thi berjalan dengan penuh kemarahan. Saking marahnya, dia sampai menabrak Nuan yang sedang menyiram tanaman dan hampir menginjak Pin Pin. Nuan jelas kesal dengan Thi yang seperti itu. Thi bahkan berjalan melewati Siriya begitu saja tanpa menyapa. Na dan Nuan jelas heran, Thi lagi marah dengan siapa?
Thi masuk ke kamarnya dan mengingat masa lalunya.
Flashback
Thi kecil masuk ke kamar ibunya dan menangis. Dia mendengar ayahnya bilang kalau ibunya tidak akan tinggal di rumah ini lagi. Dia bertanya ibunya mau kemana? Ibu juga tidak tahu, tapi dia akan pergi sekarang juga. Thi menangis dan meminta ibunya untuk tidak meninggalkannya. Dia memeluk ibunya dengan erat, tetapi ibunya membuka paksa pelukannya dan langsung pergi dengan tas.
End
Thi menghela nafas mengingat kejadian itu. Na datang ke depan kamar Thi. Dia mengetuk pintu kamar Thi, tetapi tidak ada jawaban. Jadi, dia masuk begitu saja dan menghampiri Thi yang tampak sedih.
“Khun Thi. Kau baik-baik saja?”
Tidak ada jawaban. Na mendekatinya dan meminta Thi bercerita padanya jika ada masalah apapun. Thi berbalik dan memeluk Na. Na jelas terkejut.
“Khun Thi. Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Apa tidak bisa aku seperti ini?” tanyanya sambil terus memeluk Thi. Na mengerti dan mengelus punggung Thi dengan perlahan, menenangkannya. Thi menangis.
--

Lert menuju kediaman Siriya, dan dia melihat wajah Nuan yang muram. Nuan langsung curhat kalau tadi Thi sangat aneh, menabraknya tapi tidak meminta maaf. Lert langsung meminta Nuan untuk mengabaikan Thi, karena Thi baru saja bertemu hal yang mengejutkan. Nuan jelas jadi penasaran dan mendesak Lert untuk memberitahu apa yang baru di temui Thi.
--
Nuan melapor pada Na kalau Thi bertemu dengan ibunya. Tadi Lert yang memberitahnya.
“Ibu Thi? Ibu yang membuang Thi sejak kecil?”
“Ya. Ketika Khun Thi melihat wajahnya, dia seperti melihat hantu! Dan dia menyuruh Lert untuk mengusir ibunya. Lihat! Ibu kandungnya saja dia usir seperti mengusir binatang. Dan P’Lert juga bilang kalau melihat dari kondisi ibunya dan cara berpakaiannya, dia seperti orang yang tidak punya uang.”
--
Na tidak bisa tidur hingga malam karena memikirkan hal itu. Dan setelah berpikir beberapa saat, Na memutuskan untuk mengirim pesan pada Thi, menanyakan keadaannya. Tapi, tidak ada balasan. Karena khawatir, Na pergi ke kamar Thi. Dia mengetuk pintu kamar, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.
Na memilih membuka pintu kamar yang untungnya tidak terkunci. Dia masuk dan melihat Thi yang tertidur lelap. Dan di atas meja samping tempat tidur Thi terlihat ada sebotol obat tidur. Jelas, Thi tidur bukan karena lelah tapi karena minum obat.
Saat Na merapikan selimut Thi, Thi tanpa sadar meraih tangannya dan bergumam agar tidak di tinggalkan. Na jelas merasa kasihan pada Thi. Dia tidak beranjak dari sisi Thi hingga pagi menjelang.

Thi terbangun dan jelas heran melihat Na yang tertidur dalam posisi duduk di sampingnya. Dia sedikit tersenyum dan memperbaiki posisi tidur Na. Na jelas terbangun dan Thi langsung minta maaf karena membangunkannya. Dia hanya ingin memperbaiki posisi tidur Siriya. Na mengerti dan berkata tidak masalah, dia juga harus berangkat kerja.
“Terimakasih sudah menemaniku,” ujar Thi dengan tulus.
“Tidak masalah,” balas Na sambil tersenyum.
--

Ibu Thi (Riam) kembali datang ke rumah Sutharak. Lert jelas bingung untuk mengusirnya. Dan Khun Riam memohon pada Lert untuk memberitahu Thi kalau dia ingin bicara sebentar. Lert meminta maaf karena dia sudah dapat perintah untuk mengusir Khun Riam. Khun Riam tetap berkeras, dia akan menunggu di depan rumah.
Thi melihatnya dan memanggil Lert. Dia mengeluarkan segepok uang dari dompetnya dan memberikannya pada Lert. Dia memerintahkan Lert untuk memberikan uang itu pada Khun Riam dan menyuruhnya untuk tidak datang lagi. Lert langsung memberikan uang itu pada Khun Riam, tetapi Khun Riam mengabaikannya dan malah masuk ke dalam rumah mengejar Thi yang hendak masuk ke dalam mobil.
Thi benar-benar marah karena Khun Riam mengikutinya. Dia tidak mau bicara pada Khun Riam sama sekali. Tetapi Khun Riam tetap ngotot mau bicara dan mengembalikan uang Thi. Thi jadi kesal dan bertanya tujuan Khun Riam kembali mencarinya.
“Aku kembali karena aku ingin melakukan hal yang benar. Dapatkah aku mendapatkan kesempatan untuk menebusnya?”
“Tidak perlu. Aku tidak mau. Selama 20 tahun ini, aku bisa hidup sendiri tanpa mu. Keluar sekarang juga dan jangan sampai aku melihat wajahmu!”
Khun Riam tetap saja menahan tangan Thi, dan Thi menepisnya. Eh, Khun Riam malah pingsan. Lert jelas panik, tetapi Thi tetap pada pendiriannya, menyuruh Lert membawa Khun Riam pergi.
“P’Lert! Bawa Khun Riam istirahat di kediamanku dulu,” ujar Na yang keluar rumah untuk mengantar KhaoSuay.
“Siriya! Ini urusanku. Jangan ikut campur. Lert, bawa dia keluar.”
Dan Lert mengabaikan perintah Thi. Dia mengikuti perintah Siriya. Thi jelas tambah marah pada Siriya yang ikut campur dalam masalahnya. Na menjawab dengan cerdas kalau dia bukan ikut campur masalah Thi, dia hanya membantu seorang wanita yang pingsan.
“Baik. Baiklah. Tapi, saat aku kembali, aku tidak ingin melihat wajah wanita itu,” tegas Thi dan masuk ke dalam mobilnya.
--
Selama rapat, Thi tidak bisa fokus. Dia teringat dan khawatir pada ibunya yang pingsan. Semua peserta rapat tentu heran karena tidak biasanya Thi tidak fokus. Dan Da jelas merasa khawatir pada Thi.

Support penulis hanya dengan membaca sinopsis ini (Khun Mae Suam Roy) di :
k-adramanov.blogspot.com. Terimakasih. Happy Reading.

No comments:

Post a Comment