Saturday, October 20, 2018

Sinopsis Web Drama : A-Teen Episode 02

0 comments

Sinopsis Web Drama : A-Teen Episode 02
Images by : Naver TV Cast
Do Ha turun dari tangga menuju kamar mandi sekolah sambil mengoleskan lipstik ke bibirnya. Dan tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan 2 orang siswi di tangga yang menyebutnya selalu berusaha meniru Kim Ha Na. Buktinya adalah Do Ha menggunakan warna lipstik dan dompet yang sama seperti yang Kim Ha gunakan. Dan bahkan belakangan ini, Do Ha menggoda Ha Min dan selalu mengikuti Kim Ha dan Ha Min.
Do Ha tidak tahan mendengarnya, dan langsung bertanya pada mereka, “Siapa Do Ha Na? Aku?”
Kedua siswi itu langsung terdiam saking terkejutnya karena Do Ha mendengar pembicaraan mereka. Do Ha dengan tenang menyarankan kedua siswi itu untuk menggunakan warna lipstik yang sama karena warna-nya sangat bagus. Dengan canggung kedua siswi itu menolak, dan beranjak pergi.
Papan Mading SMA Seoyeon
Lee Ji Hye, apakah menyenangkan bermain denganku melawan Kim Hana?
Episode 02  : Setiap orang memiliki dua sisi
Seperti biasa 6 sekawan berkumpul, dan kali ini mereka berkumpul di samping lapangan basket. Mereka sedang ngobrol dengan santai sambil makan ice cream. Bo Ram masih mendesak Ha Min untuk mengaku sebagai orang yang menulis di papan mading. Dan Ha Min masih saja memberikan jawaban tidak pasti.
Kim Ha melihat wajah Do Ha yang muram dan bertanya ada apa? Do Ha hanya tersenyum dan mengatakan tidak ada apa-apa.
Pas sekali, anggota tim basket lewat dan membicarakan dua orang Hana di kelas 2-3. Mereka memuji Hana yang berambut cokelat itu cantik (Kim Ha), sementara yang lain menyebut Hana berambut hitam dan pendek (Do Ha) adalah tipe-nya tetapi Hana rambut pendek terlalu galak.
“Kalian. Jangan bicara di belakang orang lain,” tegur Ha Min.
Dan anggota itu langsung menundukkan kepala minta maaf pada Ha Min.
“Hey! Kenapa kalian minta maaf padanya? Kau harus mengatakannya padaku,” tegur Do Ha. “Dan aku bukan yang berambut hitam. Aku Do Hana. Maukah kalian menyebutkan nama keluargaku? Ini membingungkan.”
Dan para anggota tim itu langsung ketakutan dan menundukkan kepala minta maaf. Hana dkk langsung bubar.
Malam hari,
Bo Ram, Do Ha dan Kim Ha hangout bersama. Bo Ram masih kesal mengingat tingkah para anggota tim basket tadi yang membandingkan Kim Ha dan Do Ha, seakan-akan mereka tampan saja.
Do Ha mengeluarkan gantungan kunci dari tas-nya dan Bo Ram langsung memuji gantungan itu yang sangat lucu. Do Ha senang mendengarnya, dia sengaja membelinya tiga untuk di berikan pada Bo Ram dan Kim Ha serta untuknya.
Kim Ha kemudian berterimakasih pada Do Ha karena merekomendasikan warna lipstik waktu itu, dan dia sangat menyukainya. Mendengar perkataan Kim Ha, membuat Do Ha teringat saat tadi di sekolah mendengar dua siswi yang membicarakannya mengikuti Kim Ha dari warna lipstik hingga dompet.
Dan dia kemudian melihat di meja, dimana dompet Kim Ha dan Bo Ram mirip seperti punyanya. Lipstik dan dompet itu Do Ha yang rekomendasikan pada Kim Ha dan Bo Ram. Jadi, dia tidak mengikuti Kim Ha sama sekali.
Bo Ram berharap kalau mereka bisa masuk universitas yang sama. Kim Ha juga berharap demikian. Tetapi, Bo Ram sadar kalau nilai akademik nya pasti tidak akan bisa masuk universitas yang sama seperti Kim Ha. Kim Ha menyarankan agar mereka tinggal bersama jika sudah berusia 20 tahun. Bo Ram tidak bisa karena dia harus minta izin pada ibunya, dan dia juga harus berlatih agar bisa menjadi gamer pro.
Bo Ram juga mengeluh karena mereka akan melakukan konseling karir besok.
“Setidaknya, kamu ingin melakukan sesuatu,” ujar Kim Ha pada Bo Ram.
“Meskipun aku ingin, aku mungkin tidak dapat melakukannya,” balas Bo Ram (maksudnya menjadi gamer pro. Orangtuanya akan melarang).
“Mana yang lebih menyebalkan? Antara tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan, dan ingin melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan?” tanya Do Ha.
“Hmmm… aku rasa dua-duanya sama,” ujar Bo Ram. “Apa kau ingin melakukan sesuatu?”
“Tidak,” jawab Do Ha dengan cepat.
Esok hari,
Orang punya dua sisi. Itu tidak berarti bahwa kita mengatakan satu hal dan berarti yang lain. Ini lebih seperti perbedaan antara menjadi ringan dan serius.
Do Ha sedang berdiri di depan ruangan guru, menunggu giliran menjalani konseling karir. Sambil menunggu, dia melihat foto di ponselnya, foto gambar yang selama ini di buatnya. Do Ha ternyata suka menggambar.
Pas sekali Shi Woo lewat dan melihatnya dari belakang. Dia bertanya apa Do Ha ingin kuliah jurusan seni? Dengan gugup, Do Ha membantah hal itu dan langsung menyimpan ponselnya.
Do Ha kemudian bertanya apa Shi Woo juga akan menjalani konseling? Shi Woo membenarkan. Do Ha penasaran dengan rencana karir Shi Woo di masa depan. Dan Shi Woo dengan tenang memberitahu kalau dia akan masuk universitas dengan hasil KSAT-nya. Dan pembicaraan berakhir begitu saja dengan canggung.
Kim Ha keluar dari ruang konseling dan melihat Do Ha serta Shi Woo. Kim Ha langsung berteriak kepada guru di dalam ruangan kalau Do Ha sudah tiba. Guru balas berteriak menyuruh Do Ha untuk masuk.
Di dalam, guru bertanya mengenai pelajaran atau hal yang ingin Do Ha lakukan. Dan Do Ha selalu menjawab tidak ada. Guru sampai geleng-geleng kepala mendengarnya.
“Bu, aku ingin menggambar,” beritahu Do Ha dengan semangat.
“Oh, kau ingin masuk universitas seni seperti Hana?” tanya guru, tetapi nadanya itu seperti merendahkan gitu lho.
“Seperti… “ gumam Do Ha dalam hati. Tampak dia sedikit tersinggung, seolah-olah dia mengikuti Kim Ha.
--
Pulang sekolah,
Do Ha berjumpa dengan Ha Min di gerbang sekolah. Ha Min dengan semaagat menyebut kalau pertemuan mereka takdir. Ha Min sedang memegang sekotak susu, jadi Do Ha menduga kalau Ha Min suka minum susu. Ha Min menjawab kalau itu bukan untuknya, tetapi untuk seseorang. Mereka kemudian membicarakan mengenai konseling karir, dan Ha Min menatap Do Ha, “Apa yang ingin kamu lakukan di masa depan?”
“Aku? Eummm… sebenarnya,” ujar Do Ha.
“Doha!” terdengar teriakan Kim Ha dari jauh.
“Kamu mau pamer kalau mau masuk universitas jurusan seni, ya? Sampai bahwa tabung lukisan,” ejek Ha Min pada Kim Ha.
Dan Do Ha tidak jadi membahas mengenai cita-citanya pada Ha Min. Do Ha yang tidak ingin menjadi obat nyamuk, pamit untuk duluan karena arah mereka berbeda.
Orang-orang itu ironis. 
Kim Ha dan Ha Min bicara sambil jalan. Kim Ha meminta Ha Min untuk membuat garis (jarak) dengannya agar orang-orang tidak salah paham kalau mereka pacaran.
Orang-orang berteriak dengan tenang dan merasakan kesedihan yang berseri-seri. Semua orang melakukannya. Orang-orang ironis dan memiliki dua sisi. Seperti aku.
--
Malam hari,
Do Ha menggambar ekor duyung. Dia melihat hasil gambar-gambarnya sebelumnya. Setelah itu, Do Ha memfoto gambar ekor duyung itu dan meng-upload nya ke instagram dengan caption : Aku ingin mengatakan, tapi aku tidak ingin mengatakannya.
Esok hari,
Ha Min tanpa sengaja bertemu lagi dengan Do Ha di lorong. Dan lagi-lagi Ha Min menyebut kalau pertemuan mereka itu takdir. Do Ha langsung meminta Ha Min untuk tidak bicara omong kosong, mereka bertemu karena kelas mereka berdampingan.
Ha Min kemudian ingat kalau Do Ha tidak jadi memberitahunya kemarin mengenai cita-citanya.
Aku ingin mengatakan dengan jujur. Tapi, aku tidak bisa mengatakannya.
Do Ha teringat semua orang yang menyebutnya menjawab Kim Ha, dan akhirnya Do Ha memberitahu Ha Min kalau dia tidak punya cita-cita.
Jika aku mengatakannya dengan mudah, kata-kata itu akan kembali lagi, akan sangat berat.
”Bagaimana denganku? Apakah aku tidak berarti apa-apa bagimu?” tanya Ha Min dan menatap wajah Do Ha dengan lekat.
Do Ha jadi sedikit salting.
“Hana-ah. Kenapa kita tidak …”


No comments:

Post a Comment