Saturday, November 10, 2018

Sinopsis Lakorn : Game Sanaeha Episode 13 - part 2

4 comments



Maaf dengan sangat. Karena saya sudah lama tidak memposting kelanjutan sinopsis ini.

Tapi itu bukan karena sengaja. Melainkan karena akhir- akhir ini waktu nya memang tidak sempat untuk saya bisa menulis. Sekali lagi maaf. Dan selamat membaca ^.^ terima kasih.

Saya pastikan bahwa sinopsis ini akan segera ditulis sampai tamat. Enjoy!


Network : Channel 3

Sesampainya dirumah. Dengan sikap yang masih tampak berjarak, Nai mengambilkan obat dan memberikan itu kepada Nok, kemudian setelah itu dia seperti ingin pergi. Dan melihat itu, Nok pun menahan tangan Nai.

“Bisakah kamu tolong mendengarkan apa yang ingin aku katakan? Tidak apa-apa jika kamu marah dan tidak ingin melihat wajah ku, tapi tolong jangan berpikir bahwa apa yang kulakukan itu untuk balas dendam padamu. Aku tidak pernah berniat menggunakan metode itu. Itu Khun Mae. Aku mengkhawatirkan dia, tidak kurang dari pada kamu. Dan aku sangat terluka, karena tidak memberitahu kan padamu dari awal. Aku minta maaf, Lucky. Aku minta maaf. Maaf,” jelas Nok sambil menangis penuh penyesalan.



Kemudian dengan sikap yang lembut, Nai berlutut di depan Nok dan menjelaskan bahwa dia percaya kalau Nok tidak memiliki niat untuk balas dendam. Karena jika memang Nok ingin balas dendam padanya, tidak mungkin Nok bakalan membawa Ibunya untuk melakukan perawatan.


Lalu dengan sikap perhatian, Nai menlap air mata di pipi Nok. “Kamu bisa berhenti sekarang. Aku tidak marah padamu lagi. Tenangkan lah pikiranmu,” kata Nai dengan nada lembut. Dan sambil tersenyum bahagia, Nok pun perlahan mulai berhenti menangis.

“Jika kamu terlalu emosi. Itu akan berdampak pada bayi kita. Aku akan mengambilkan air untuk mu,” kata Nai melanjutkan perkataan nya. Lalu dia berdiri dan pergi.

Sementara Nok, dia mulai menangis lagi. Nok berpikir bahwa Nai benar percaya dan tidak marah kepadanya lagi. Tapi ternyata semua kelembutan yang Nai berikan tadi adalah karena demi bayi di dalam kandungannya. Dan hal itu membuat Nok merasa sangat sedih.


Didapur. Nai menyiapkan makanan untuk Nok. Lalu dia menyuruh  bibi Phai untuk memastikan bahwa Nok makan secara teratur. Dan bibi Phai pun membalas bahwa dia akan mencoba, karena kemarin Nok bahkan tidak mau makan sampai habis.


Khae yang kebetulan ke dapur, dia mendekati mereka berdua. Dan dia pun menggoda Nai yang sangat perhatian karena pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan bagi Nok. Lalu bibi Phai membalas bahwa itu tentu saja, karena sebagai seorang Ayah, Nai pasti mengkhawatirkan keadaan Ibu dari bayinya.

“Aku akan pergi bekerja. Aku sudah telat,” kata Nai dengan dingin, lalu dia pergi.

Melihat sikap Nai yang tampak aneh dan suram. Khae pun bertanya kepada bibi Phai. Dan bibi Phai membalas bahwa Nok bahkan tampak lebih buruk. Sejak kejadian itu, Nok tidak keluar dari dalam rumah kecil.


Nok bermimpi buruk. Sampai menggapai- gapai dia berteriak memanggil- manggil nama Nim. Nok berteriak meminta agar Nim jangan pergi. Kemudian tiba- tiba saja, karena merasa kan keram di kakinya, maka Nok pun terbangun.


Lalu karena saking sakitnya, Nok pun meringis. Dan tepat disaat itu, Khae datang sambil membawakan makanan untuk Nok. Kemudian saat dia melihat Nok yang meringis kesakitan, maka dia pun langsung membantu mengurutkan kaki Nok.

“Apa sudah lebih baik?” tanya Khae dengan perhatian. Dan ketika Nok telah tampak tidak terlalu kesakitan lagi, maka Khae pun tersenyum.


“Mengapa kamu disini?” tanya Nok dengan nada ketus.

“Aku membawakan sarapan untukmu dari bibi Phai,” jawab Khae.

“Bibi Phai membiarkan kamu membawanya?” tanya Nok dengan ketus lagi.

“Dia sedang sibuk. Dan dia tidak tahu, kalau aku membawanya. Lihatlah ini. Nai yang memasaknya. Itu terlihat sangat lezat dan bernutrisi. Aku sangat iri padamu,” jelas Khae.

“Mm… tidak ada yang perlu di irikan. Dia melakukan itu untuk bayinya ini.”



“Dia melakukan itu untuk Ibu dari bayi nya. Aku bisa tahu dari hanya melihat semua makanan untuk mu ini. Susu kedelai, mereka kaya dengan kalsium, jadi kamu tidak akan mudah kram,” jelas Khae.

Sambil melihat sekilas ke arah makanan yang Khae letakan di atas meja. Nok masih tampak tidak percaya dengan apa yang Khae katakan. Dan menyadari hal itu, Khae menambahkan bahwa Nai sedang melalui masa yang sulit, tapi bukan berarti Nai tidak mengkhawatirkan Nok.

“Dia menunjukan padamu melalui tindakannya. Dan kamu? Tidakkah kamu akan menunjukan padanya? Betapa kamu juga mengkhawatirkan dia?” tanya Khae.



Lalu saat Nok hanya diam saja, maka Khae pun pamit untuk pergi. Dan sebelum Khae benar- benar keluar dari pintu. Nok memanggil Khae dan mengucapkan terima kasih.


Saat telah benar- benar bangun. Nok mulai menyantap sarapan yang di siapin oleh Nai dengan sangat lahap. Kemudian sambil memandang foto mereka berdua, Nok berpikir.


Nok datang ke kantor sambil membawakan banyak makanan. Dan melihat itu, Jomyuth pun segera mendekat untuk membantu mengangkat kan barang bawaan Nok. Lalu tanpa perlu Nok bertanya, Jomyuth sudah tahu dan dia menjelaskan bahwa sekarang Nai sedang berbicara dengan bagian pembelian. Kemudian Jomyuth menawarkan diri untuk memanggil Nai.

“Tidak perlu. Aku bisa menunggu dia sampai tidak sibuk. Dan juga, ini untuk Nai. Lalu yang itu untuk kamu,” kata Nok sambil menunjukan makanan yang dibawanya.

“Untuk kami? Oo… cantik dan baik nya,” puji Jomyuth. Lalu dia pun pergi meninggalkan Nok untuk meletakan semua makanan yang Nok berikan.


Nai masuk ke dalam ruangan. Kemudian Nart ikut masuk sambil mengangkat dua buah kotak. Dan lalu Nart menjelaskan bahwa ini semua adalah barang milik Nim. Tadi pihak penyewa menghubunginnya untuk membersihkan semua barang yang berada di dalam kamar Nim. Jadi dia mengambil nya.

“Aku benar- benar melupakan itu. Maaf telah merepotkan mu ya,” kata Nai.

“Tidak apa. Aku di dekat sana. Dan lagian tidak ada terlalu banyak barang,” balas Nart.

“Terima kasih.”



Nai membuka kotak yang Nart bawa. Dan saat dia melihat kain yang dibelinya saat bulan madu dulu, Nai menceritakan bahwa dulu dia membeli kain tersebut untuk diberikan kepada Ibunya. Tapi tidak jadi diberikan, karena Ibunya menghilang.

“Tidak pernah terpikir kan bahwa pada akhirnya akan sampai di dia juga,” kata Nai. Kemudian  dia berterima kasih kepada Nart yang telah membuat mimpinya menjadi kenyataan.

“Ini bukan karena aku. Tapi karena takdir,” balas Nart.



Dengan sikap sedikit ragu, Nart menanyakan tentang hubungan Nai dan Nok sejak kejadian tersebut, apa mereka berdua sudah bisa saling mengerti sekarang. Dan sambil tersenyum, Nai mengiyakan.

“Aku tahu dia tidak bermaksud begitu. Dan aku bicara terlalu emosi,” kata Nai.

“Aku tahu kamu mengerti,” balas Nart. Lalu saat dia melihat wajah Nai yang berubah menjadi murung, dia pun bertanya, ada hal lain yang mengganggu Nai.

“Tidak ada, Khun Nart. Jangan khawatir,” balas Nai.


Nok yang kebetulan datang dan berada di depan pintu, dia mendengar semua perkataan Nai. Apalagi ketika Nai mengatakan …

“Hanya saja ada beberapa hal yang walaupun kita tahu, tapi bukan berarti itu bisa dengan mudah dilupakan,” kata Nai dengan pandangan murung kepada Nart. Dan mendengar itu, Nok tiba- tiba saja merasa syok dan tidak berani untuk menemui Nai.


Dengan sedikit terburu- buru, Nok ingin segera pergi dari kantor dan pulang. Lalu melihat itu, Jomyuth pun bertanya apa Nok sudah menemui Nai. Dan Nok pun membalas bahwa tiba- tiba saja dia teringat ada urusan. Lalu Nok meminta agar Jomyuth tidak memberitahu Nai, kalau dia ada datang ke sini.

Mendengar hal itu, Jomyuth pun menjadi kebingungan. Dan Nok pun langsung pergi.


Ketika Nok telah pergi. Grup kepo yaitu, Sudjai dan Pribprao. Mereka berdua yang telah bersembunyi di belakang pintu langsung menghampiri Jomyuth dan bertanya.

“Ceritanya itu …. “ kata Jomyuth dengan yang sengaja untuk membuat orang penasaran. Dan dengan sangat serius Sudjai dan Pribprao mendekat serta menunggu.


 “… ketika aku berada di bawah tempat tidur mereka, aku akan memberitahu kalian,” kata Jomyuth dengan nada yang serius.

Lalu dengan kesal, Sudjai dan Pribprao pun langsung memandangin Jomyuth. Dan Jomyuth pun langsung mengomentari mereka berdua, apa mereka benar khawatir atau hanya ingin mengosipi tentang Bos mereka.


“Khawatir lah. Apa kamu tahu? Gosip itu menunjukan perhatian,” kata Sudjai dengan sikap bahwa dia lah yang benar.

“Benar. Apalagi Khun Nok sedang hamil. Aku jadi bertanya- tanya ada masalah apa. Aku khawatir,” tambah Pribprao.

“Benarkah?” balas Jomyuth dengan raut tidak percaya sama sekali.



Sesampainya dirumah dan melihat Nok belum tidur serta sedang memakai lotion, maka Nai pun mendekati Nok. Lalu dia menanyakan apa hari ini Nok ada pergo keluar, karena dia mendengar orang- orang mengatakan bahwa Nok pergi keluar.

“Jika kamu mau pergi kemanapun, mengapa kamu tidak memberitahu ku? Jadi aku bisa menemanin mu,” kata Nai.

“Aku hanya pergi untuk membeli beberapa barang. Dan aku bisa pergi sendiri,” balas Nok. Lalu dia melanjutkan memakai lotion di kakinya.



Dan melihat itu, Nai pun menawarkan diri untuk membantu Nok. Tapi karena mengingat perkataan Nai dikantor tadi, maka Nok pun langsung menghindar, sebelum Nai sempat menyentuh kakinya.

“Tidak perlu. Kamu baru saja pulang dan belum mandi. Jadi mandilah,” kata Nok beralasan.

“Baiklah,” balas Nai. Lalu dia pun pergi.



Pagi hari. Nai menyiapkan sarapan dan mengantarkan itu kepada Nok yang sedang berada di teras taman. Namun ternyata Nok baru saja selesai makan. Dan melihat itu, Nai pun bertanya. Lalu Nok membalas bahwa dia melihat bubur buatan bibi Phai dan ingin memakannya serta selanjutnya Nai tidak perlu membuatkan makanan untuknya lagi, karena dia lebih menyukai makanan bibi Phai.

“Bekerja di kantor begitu sibuk, kan? Jadi jangan habiskan waktu mu,” kata Nok dengan sikap seperti seolah- olah cuek dan dingin.

“Baiklah,” balas Nai dengan nada datar. Lalu dia pergi sambil membawa sarapan yang di buat nya untuk Nok tersebut.


Phai yang melihat hal itu mendekati Nok. Dan ketika mereka masuk ke dalam rumah, Phai pun langsung menanyakan kenapa Nok bersikap seperti itu kepada Nai. Tapi Nok hanya diam saja dan tidak menjawab.

“Apa kamu marah kepada Khun Nai?” tanya Phai.

“Marah? Itu lebih seperti dia yang marah padaku,” balas Nok.

“Tentang apa?”


“Tentang Ibunya. Bahkan jika mulutnya mengatakan bahwa dia tidak marah, tapi sebenarnya dia tidak pernah melupakannya,” kata Nok dengan tatapan merenung.

“Khun Nai mengatakan itu?”

“Dia tidak mengatakannya padaku. Tapi … “ kata Nok dengan sedih dan tidak bisa melanjutkan perkataannya.

“Kamu tidak membiarkan Khun Nai untuk merawatmu adalah karena kamu menyalahkan dirimu sendiri?” tanya Phai sambil duduk disamping Nok yang tampak sedih.



“Aku membuat Ibu dan anak terpisah. Aku malu untuk membebaninya lagi,” balas Nok sambil meneteskan air mata.

Phai berusaha memberikan pengertian agar Nok jangan berpikiran seperti itu. Namun Nok tetap tidak bisa berpikiran positif, dia bertanya apa Nai benar bisa memaafkan nya untuk semua yang dilakukannya.

“Percaya padaku. Khun Nai mencintai mu. Dia akan memaafkanmu. Hanya berilah dia waktu dan segalanya akan membaik. Berhenti berpikiran seperti itu ya, sayang. Percayalah padaku,” kata Phai sambil memeluk Nok untuk menguatkannya.



Di restoran. Vi dan Pat berjumpa. Disana mereka mengobrolkan tentang kawan lama mereka. Lalu Pat menunjukan foto putri dari teman mereka tersebut kepada Vi. Dan Vi pun memujinya, karena putri tersebut tampak sangat cantik.

Kemudian Pat pun menanyakan pendapat Vi, gimana bila putri (Prae) tersebut dia jodohkan dengan Wes. Dan dengan sedikit terkejut, Vi pun diam sebentar, lalu setelah itu dia membalas bahwa itu terserah kepada Pat, karena bagaimana pun Wes adalah anak Pat.



“Eh… Wes juga anakmu,” kata Pat. Lalu mendengar itu, Vi pun langsung tersedak minumannya. “Akhir- akhir ini, dia lebih dekat padamu daripada kepada ku. Untuk pekerjaan ini kamu perlu membuat rencana dan membantuku,” lanjut Pat. Dan dengan canggung, Vi pun tersenyum.


Vi mengajak Wes untuk ketemuan di kafe. Lalu saat Wes telah datang, Vi memperkenalkan Wes kepada Prae. Dia membanggakan Prae dihadapan Wes. Lalu dengan alasan bahwa sedang ada urusan, maka Vi pun mengatakan bahwa dia tidak bisa ikut memanjat dengan Wes. Kemudian karena Prae belum berpengalaman dalam memanjat, jadi Vi meminta agar Wes bisa membantu mengajarkan Prae.


Awalnya Wes sedikit heran dan kebingungan. Namun ketika sadar dengan maksud Vi, maka Wes pun memandangin Vi dengan sangat lama. Tapi dengan sengaja, Vi menghindari tatapan mata Wes padanya.

Dan lalu karena itu, maka Wes pun setuju untuk mengajarkan Prae. Dia memegang tangan Prae dan mengajaknya untuk  pergi bersama. Kemudian dengan sikap seolah- olah biasa saja, Vi tersenyum dan mengatakan ‘Enjoy!’


Namun setelah Wes dan Prae berjalan menjauh. Dengan pandangan sedih, Vi menatap kepergian mereka dan menghela nafas, karena tidak mampu untuk perbuat apapun.

4 comments: