Sunday, November 18, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 1 - part 1

0 comments

Network : GMM One



Pernakah kamu bertanya apa gunanya belajar dengan keras?

Pernakah kamu merasa tak ada guru yang bisa memahami kita?

Pernakah kamu merasa kesal dengan sistem sekolah konyol yang bahkan tidak kita inginkan?

Pernakah kamu penasaran kenapa sekolah hanya tertarik pada siswa luar biasa, tanpa melihat penderitaan kita? Dan berapa lama kita harus bertahan?


“Hari ini, akan kuceritakan kisah sekolah ini. Inilah kisah sekolah bernama SMA Ritdha. Dan kelas specialnya yang disebut Kelas Berbakat,” kata seorang murid laki- laki.

T H E      G I F T E D

Didalam kelas. Seorang guru wanita mengucapkan selamat kepada semua murid baru. Dia menjelaskan segala hal tentang sekolah. Disekolah itu ada kelas M.4, M.5, dan M.6, lalu karena ini merupakan sebuah sekolah berasrama, maka mereka mempunyai kamar untuk semua siswa.

Dilorong sekolah. Seorang guru pria mengejar seorang murid pria yang melarikan diri. Dia berteriak memanggil si murid untuk berhenti, tapi si murid terus berlari dengan cepat.

“Dengar, kalian diterima disekolah yang dianggap nomor satu di negri ini,” jelas si Guru wanita.

“Hei, berhenti! Kubilanng, berhenti!” teriak si Guru pria.


Si Guru wanita menjelaskan kepada semua murid bahwa siswa yang lulus dari sekolah ini akan memiliki pekerjaan yang stabil dan masa depan yang cerah. Serta ada yang menjadi tokoh ternama negri ini, lebih dari 90%. Tapi 10% sisanya…

Tepat disaat itu, terdengar suara si Guru pria yang berteriak dilorong. Lalu si Guru wanita pun berhenti berbicara. Sementara seluruh murid, mereka langsung memandang ke arah luar kelas melalui jendela, tanpa beranjak dari kursi mereka.

“Pang,” gumam seorang murid 2 sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Dilorong kelas. Si murid yang berlari tersebut, dia melemparkan sebuah parasut plastik mainan, dimana hape nya di gantung disana. Dan ketika telah membuang itu, si murid pun menjadi lega. Namun sayangnya tepat disaat itu, seorang Guru wanita 2 memergokinya. Dan si Guru wanita 2 itu pun bertanya.

“Anak ini mencuri telpon nya yang disita, Bu Ladda,” jelas si Guru pria dengan nafas terengah- engah, karena capek.

“Kelas 8 lagi? Berikan ponselmu,” kata si Guru wanita 2 dengan tegas.

“Tidak ada,” balas si murid sambil memperlihatkan kantongnya yang kosong semua.

“Bohong! Pasti kamu lempar ke bawah,” balas si Guru pria.


“Itu ponsel, pak. Kalau saya lempar, rusak dong! Lihatlah, benar- benar tidak ada pada saya. Ibu mau saya buka celana?” tanya si murid dengan sikap seolah- olah memang tidak bersalah.

Namun sebelum si murid benar- benar melepaskan seluruh celananya, dengan tegas si Guru wanita menyuruhnya untuk tidak perlu melakukan itu. Kemudian dia menyuruh si murid untuk kembali ke kelas. Dan ketika kedua gurunya telah pergi, si murid pun langsung tersenyum lega.


Si Murid tersebut menyelinap masuk ke dalam kelas 4.8. Tapi baru saja dia duduk, tiba- tiba dia dilempari pena oleh guru didepan kelas. Si Guru menasehati dia yang tidak pernah memperhatikan dan tipe murid seperti itu, tidak akan bisa naik ke kelas lain.

“Manfaatkan semua ilmu yang Bapak ajarkan dan jangan jadi seperti dia,” kata si Guru kepada seluruh murid. Kemudian dia melanjutkan pelajaran, yaitu mengenai parasut telur.


Namaku Pang. Seperti yang kalian lihat, aku cuma murid bodoh yang masuk ke sekolah nomor satu di negri ini. Tapi aku ada di kelas paling bawah di sekolah ini. Itu bukan masalah kalau saja sekolah ini tidak mempunyai peraturan yang aneh yang membagi- bagi kelas sesuai kecerdasan siswa.

Seusai sekolah berakhir. Pang pergi ke halaman untuk mencari hape nya yang dia buang sendiri tadi tapi sayang nya, dia tidak bisa menemukannya. Lalu tiba- tiba temannya datang, yaitu si Murid 2. Dia memukuli kepala Pang dengan tasnya. Dan Pang pun mengeluh.


“Sekarang pakai taktik canggih, nih? Pakai eksperimen Parasut telur?” kata si Murid 2 sambil menunjukan hape milik Pang yang ada padanya. “Kamu menganggap serius hal- hal macam ini ya?”

“Ini rencana mu, kan?” balas Pang.

“Tidak. Aku memberitahu rencana nya, tapi itu butuh dua orang. Bagaimana kalau kamu menjatuhkannya dan orang lain menangkapnya?” komentar si Murid 2, menceramahi Pan.

“Tapi kamu kan, bukan orang lain,” balas Pang sambil mengambil hape nya dari tangan si Murid 2. Dan lalu si Murid 2 memberitahu agar Pang lebih berhati- hati lagi, jangan seperti anak kecil.



Ini Nack, sahabatku. Dia siswa kelas 1. Dan bergaul dengannya adalah contoh terbaik untuk menunjukan perbedaan siswa kelas atas dan bawah.

Siswa kelas 1 punya lebih banyak keistimewaan dibanding kelas lain. Bisa makan siang lebih dulu, yang artinya makanan kafetaria mereka lebih baik dari siswa bawah seperti ku.





Saat jam istrirahat, kelas Nack diperbolehkan keluar lebih cepat dibandingkan kelas Pang. Dan ketika ke kantin, Nack mendapatkan makan dengan porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan Pang yang tampaknya seperti hanya mendapatkan sisa dari makanan yang tersisa.

Fasilitas juga lebih baik. Mulai dari Wi-Fi. Sampai Toilet.



Kelas Nack diperbolehkan masuk ke dalam ruangan komputer dan menggunakan Wi-fi sepuasnya. Sedangkan kelas Pang, dia harus bersusah payah berdiri disana- disini, hanya untuk mencari sinyal Wi-fi.

Dan toilet yang digunakan oleh kelas Pang, sangat kotor dan berantakan. Serta disana banyak berkumpul beberapa anak nakal.


Dan asramanya. Siswa kelas 1 bisa memilih teman sekamar mereka. Siswa kelas 8 seperti ku mustahil bisa tinggal disana kalau bukan karena Nack. Tapi kurasa…

“Itu tidak adil,” kata Pang sambil duduk merenung diatas meja belajar.

“Apanya?” tanya Nack, tidak mengerti.


Dengan bersemangat, Pang menjelaskan sistem pembagian kelas yang membuat siswa tambah merasa buruk. Dan Nack bertanya, apa Pang merasa begitu. Lalu Pang diam dan berpikir sejenak, kemudian dia menjawab bahwa dia tidak merasa begitu, hanya saja itu membuat nya frustasi.

“Makanya sekolah kita punya Tes Penempatan. Tes penempatan itu adalah kesempatan kedua buat siswa kelas bawah sepertimu. Kalau nilai mu bagus, kamu bakal masuk kelas atas. Nilaiku juga harus bagus agar tidak ditendang ke kelas bawah. Intinya, kalau mau dapat hal baik, kamu harus rajin belajar,” jelas Nack.


Namun mendengar itu, tidak membuat Pang merasa bersemangat. Dan kemudian, Nack mengatakan bahwa menurutnya sistem seperti ini tidak buruk, soalnya karena sistem seperti inilah, makanya murid disekolah mereka rajin belajar. Lalu Nack memukuli pelan kepala Pang dengan bukunya, dia menyuruh Pang untuk berhenti mengeluh dan mulai membaca buku saja.


Dia benar. Tidak ada yang mau turun kelas, jadi kami semua raji belajar. Bahkan siswa kelas 8 berjuang untuk dapat nilai lebih baik.

Didalam kelas. Saat ujian, beberapa murid ada yang mencotek. Ada yang meminta contekan pada temannya. Ada yang memberikan contekan. Tapi tanpa semangat, Pang hanya diam dan merenung saja.

Tapi apa harus begini?


Lonceng sekolah akhirnya berbunyi. Dan dengan segera, Pang ingin keluar dari kelas. Namun Guru nya langsung menanyai kemana Pang ingin pergi, karena itu adalah bel buat kelas 1. Sedangkan bel untuk kelas 8 lebih lama lagi. Dan mendengar itu, Pang pun menjadi sangat malas sekali.

“Sekarang pikirkan lah caranya agar kamu bisa belajar lebih baik. Dan naik ke kelas lain. Tes penempatan sebentar lagi. Kamu paham?” kata si Guru menasehati Pang. Tapi sayangnya, saat dia melihat ke arah meja Pang, ternyata Pang telah kabur melalui jendela.


Pang pergi ke kantin. Dia sangat senang melihat banyak nya makanan yang di dapatnya. Namun sialnya, tanpa sengaja dia malah menabrak murid berkacamata yang sedang duduk. Sehingga makanan yang dibawanya jatuh mengenai si murid berkacamata. Dan Pang pun langsung meminta maaf.



Tapi si murid berkaca mata diam dan memperhatikan Pang dengan tajam. Lalu saat menyadari Pang tidak mengenakan rencana kelas, maka dia pun berdiri dan menanyai dimana lencana milik Pang. Dan Pang pun menjadi gugup.

No comments:

Post a Comment