Sunday, November 18, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 1 - part 2

1 comments


Network : GMM One

Ketika si Murid berkaca mata menanyai dimana lencananya, Pang bersikap seperti tidak mendengar dan ingin pergi begitu saja. Namun si Murid berkacamata menyuruh Pang untuk berhenti dan membersihkan sepatunya yang kotor karena Pang.

“Tidak apa- apa. Cuma tumpah sedikit,” kata Pang.

“Maksudku, bersihkan sepatuku,” balas si Murid berkaca mata dengan tegas.


“Apa?” tanya Pang tidak mengerti, saat dia hanya melihat seutas mie di sepatu si Murid tersebut.

“Kubilang, bersihkan sampah dikakiku,” ulang si Murid berkaca mata dengan pandangan yang merendah kan.


Lalu karena tidak ingin mencari ribut, maka Pang pun akan melakukannya. Namun dengan sengaja si Murid berkaca mata malah menyandung kakinya, sehingga Pang pun terjatuh. Dan Nack yang baru saja datang ke kantin, dia tampak terkejut ketika melihat itu dari jauh. Begitu juga dengan beberapa murid lain yang berada disana, mereka langsung melihat ke arah Pang.


Pang berdiri dan dengan emosi dia menarik kerah kemeja si Murid berkaca mata. Dan tepat disaat itu, seorang Guru datang. Lalu melihat kedatangan guru tersebut, semua murid yang berada dikantin langsung memalingkan pandangannya dan bersikap baik.


“Aku tanya ada masalah apa?” tanya si Guru kepada mereka berdua.

“Dia yang mulai,” jelas Pang dengan suara pelan.

“Bu, dia tidak memakai lencana. Aku curiga dia siswa kelas lain yang menyusup ke kantin,” kata si Murid berkaca mata melaporkan Pang. Dan Pang pun menjadi kembali emosi.

Namun si Guru langsung menyuruh Pang diam dan dia menanyakan dimana lencana Pang. Dan Pang pun berbohong, dia menjawab bahwa lencana yang tertinggal dikelas. Kemudian si Guru langsung bertanya lagi, dari kelas mana Pang berasal. Dan Pang pun menjadi gugup, tidak bisa menjawab.


Tepat disaat itu, Nack datang dan mendekati Pang. Dia memegang bahu Pang dengan sikap akrab dan menanyai kenapa Pang lama sekali mengambil piringnya. Lalu dia menyapa si Guru dan memberitahu bahwa dia serta Pang adalah teman satu kelas, yaitu murid kelas 1.

“Masa? Aku juga kelas 1. Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” tanya si Murid berkaca mata, tidak mempercayai Nack.

“Wave. Coba kutanya, apa kamu tahu nama teman sekelas mu? Coba sebut namaku,” tantang Nack dengan berani. Dan Wave pun tidak bisa menjawab.

“Semoga saja kalian jujur. Awas kalau kalian ketahuan bohong,” kata si Guru memperingatkan mereka, lalu dia pun pergi meninggalkan mereka.


Ketika si Guru telah pergi, Wave langsung mengatai Pang sebagai lintah. Lalu Nack pun memarahi Wave yang kebanyakan bicara. Dan Wave membalas, hanya karena mereka sekelas, buka berarti Nack bisa berbuat seenaknya.

“Setelah Tes penempatan, aku akan masuk Kelas Berbakat. Tapi kamu akan tetap sekelas dengan lintah ini,” kata Wave dengan begitu sombongnya.

“Kamu pikir, cuma kamu yang bisa masuk Kelas Berbakat? Lihat saja. Aku juga akan masuk Kelas Berbakat. Dan bukan cuma aku. Tapi temanku juga,” balas Nack sambil memegang bahu Pang.

“Nack?” bisik Pang dengan tidak percaya, Nack begitu berani.

“Berdoa saja,” balas Wave. Lalu dia mengambil nampannya dan pergi. Dan dengan lega, Nack serta Pang pun langsung menghela nafas.


Didalam kamar. Pang mengeluh kenapa Nack mengatakan hal itu. Dan Nack menjelaskan bahwa tadi dia tidak tahu harus berbuat bagaimana, karena dia sangat kesal. Lalu Nack menjelaskan bahwa Wave merupakan orang yang dibencinya. Dan dengan heran, Pang menanyakan memangnya seperti apa Wave itu.


Wave adalah seorang murid yang sangat genius dalam matematika dan komputer. Walaupun sikapnya buruk, tapi kemampuannya tidak main- main.

Saat berada di dalam kelas, ketika semua murid diberikan pertanyaan yang sama. Mereka semua sibuk menulis dikertas dan menghitung. Sedangkan Wave hanya duduk diam saja, tanpa menyentuh kertas sedikit pun atau menulis apapun. Lalu saat waktu berakhir dan mereka ditanya, Wave dengan cepat mengangkat tangannya dan menjawab dengan benar.


“Kalau kamu mau mengalahkannya, lakukan dengan bakat alamimu,” jelas Nack. Namun Pang tidak mengerti bagaimana dia bisa mengalahkan orang seperti Wave. Dan Nack memberitahu bahwa dia akan mengajari Pang, sehingga Pang bisa masuk ke kelas berbakat.

“Ujiannya pasti sulit. Aku dari kelas 8 tahu!” keluh Pang.


“Kita masih punya waktu. Sudah selesai? Biar kuperiksa,” kata Nack sampai melihat kertas jawaban milik Pang. Tapi baru sesaat melihat saja, Nack langsung merasa frustasi dan pusing, karena tidak menyangka.

“Sudak kubilang kan. Jadi bagaimana? Besok tesnya,” kata Pang dengan lemas.

“Ini tidak membantu. Hanya ada satu cara,” balas Pang.

“Apa?”

“Mencuri soal ujian.”


Pada malam hari, Nack serta Pang menyelinap ke dalam kantor guru. Dan dengan ragu, Pang menanyakan apa benar mereka harus melakukan ini. Lalu Nack membalas bahwa mereka harus melakukan ini untuk memastikan mereka masuk ke Kelas Berbakat.

“Sebenarnya, aku tidak pernah ingin masuk ke Kelas berbakat,” kata Pang yang masih ragu.


“Pang. Kamu tahu, kan? Kelas 1 sepertiku punya keistimewaan dibandingkan kelas lain. Tapi hak khusus Kelas Berbakat lebih dari itu. Mereka yang paling tinggi disekolah ini. Dunia dimana hanya beberapa murid genius, tidak hanya ditawari beasiswa hingga universitas, tapi juga punya hak khusus dalam segala hal disekolah ini,” jelas Nack sambil menunjukan semua piagam dan piala yang ada dengan disinari lampu hapenya.


Tes penempatan pertama untuk kelas M.4 kali ini bukan cuma untuk membagi- bagi kelas. Tapi juga untuk memilih siswa untuk Kelas Berbakat. Jadi jika mereka bisa mencuri soalnya, maka itu akan bagus buat mereka berdua. Dan mengetahui itu, Pang diam serta memikirkannya.

“Kamu tidak mau jadi siswa nomor satu di sekolah?” tanya Nack menggoda Pang.

“Kalau Kelas Berbakat untuk anak genius, maka buat apa siswa biasa macam kita susah- susah mencoba?” tanya Pang masih tidak mengerti.

“Kamu tahu dari mana, kalau aku biasa saja?” balas Nack.


Akhirnya karena Nack pantang menyerah dalam menggodanya, maka akhirnya Pang pun setuju. Dan dengan senang, Nack menjelaskan bahwa tadi sore dia melihat guru- guru memindahkan loker percetakan ke atas. Jadi Nack percaya bahwa apa yang mereka cari ada disana. Lalu Pang pun mengikuti Nack.

Dilantai atas. Nack mulai mencoba untuk membuka pintu loker yang dimaksudnya. Sementara Pang, saat dia melihat sebuah pemutar musik, dia menyentuh dan menyalakannya. Dan karena dipanggil oleh Nack agar membantunya, maka Pang pun mendekati Nack. Namun sayangnya, dia lupa untuk mematikan pemutar musik tersebut.


Pang membantu menyinari Nack yang sedang mencari. Dan ketika akhirnya mereka menemukan dokumen yang diperlukan, mereka pun bertos. Tapi tepat disaat itu, terdengar suara guru yang datang untuk memeriksa dokumen ujian. Jadi dengan segera, Nack dan Pang pun bersembunyi dibelakang kardus disana.

Dua guru mengobrol dan memeriksa semua dokumen yang berada disana. Dan ketika seorang guru berjalan mendekati kearah mereka, maka mereka pun menjadi ketakutan. Tapi untungnya, ternyata guru tersebut tidak mendekati mereka.


Guru tersebut menyetuh cuma ingin memungut pena nya yang terjatuh. Lalu pas disaat itu, pemutar musik tersebut berbunyi dengan keras, sehingga mereka pun menjadi heran, namun karena tidak tahu dan tidak curiga, maka mereka mengabaikannya.

Tapi sebelum akan turun, seorang Guru merasa curiga dengan apa yang ada dibelakang kardus. Dan seperti menyadari sesuatu, dia tersenyum, lalu turun.



Nack yang melihat mereka telah turun pun menjadi sangat lega dan memberitahukan kepada Pang yang ada di sebelahnya.

“Kamu pakai bluetooth untuk menyalakan pemutar musik itu ya?” tanya Nack.

“Waktu melihat pemutar musik itu, aku langsung punya ide,” balas Pang.

“Kamu memang pintar ya,” puji Nack sambil menyentuh kepala Pang. Tapi Pang menepisnya dan menyuruh Nack untuk memeriksa soal nya saja.



Ketika melihat soal ujian penempatan kelas yang didapatnya, Nack menjelaskan bahwa soalnya biasa saja, padahal dia mengira soal nya bakal lebih susah. Sementara Pang, dia merasa bahwa itu sudah cukup sulit untuknya.

“Mungkin sulit buat kelas 8. Tapi bukankah ini terlalu mudah buat tes kualifikasi Kelas Berbakat?” tanya Nack dengan sedikit heran.



Hari tes penempatan kelas. Pang mengingat tentang penjelasan Nack. Meski pertanyaannya tidak sulit, namun Nack telah menyiapkan contekan untuk Pang. Jadi asalkan Pang mengikuti itu, maka nilai Pang bakal sempurna. Dan jika beruntung, mereka bisa bertemu di Kelas Berbakat.

Diam-diam Pang mengeluarkan kertas contekan yang diberikan kepadanya. Namun karena ragu, Pang membuang kertas contekan tersebut. Dan dia mulai berusaha untuk menjawabnya sendiri.


Dikelas 1. Setiap orang mulai fokus dalam mengerjakan setiap soal yang ada dengan mudah.


Pang mulai merasa sangat pusing, karena dia tidak bisa menjawab. Lalu saat sudah waktunya, guru mempersilahkan mereka untuk mengumpulkan duluan jika sudah selesai. Dan tepat disaat itu, tiba- tiba Pang merasa kan suara yang sangat bising dan menyakitkan, sehingga dia menutup telinganya.


Begitu juga dengan beberapa murid yang berada di Kelas 1. Mereka menutup kuping mereka sendiri, karena mendengar suara bising yang kuat dan menyakitkan.



Pertanyaan terakhir… Subjektif. Pertanyaan terakhir adalah pertanyaan subjektif. Pertanyaan terakhir adalah pertanyaan subjektif. Pertanyaannya, dengan teknologi saat ini, manusia tidak lagi sesuai dengan teori seleksi alam Charles Darwin. Apa kalian setuju? Tulis pendapat kalian di bagian belakang lembar jawaban.

Kata suara yang didengar oleh Pang. Namun heran nya, saat Pang melihat ke sekeliling, dia melihat semua orang tampak biasa saja dan tidak ada yang tampak seperti sedang mendengar kan suara seperti apa yang didengarnya.

Lalu mengikuti suara tersebut, Pang membalikan lembar jawabannya. Dan dia menemukan logo G besar dibelakang lembar ujiannya. Lalu suara tersebut kembali terdengar.

“Jawab sembarang saja lah,” gumam Pang sambil mulai menulis jawabannya.


Saat itu, aku tidak sadar. Kejadian itu adalah titik awal kisah kami.

1 comment: