Tuesday, November 20, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 1 - part 3

0 comments


Network : GMM One

Dihari pengumuman. Pang pergi ke dekat mading untuk memeriksa namanya disana. Dan tanpa sengaja, dia bertabrakan dengan seorang gadis berkaca mata. Lalu dia pun meminta maaf kepada gadis tersebut. Begitu juga dengan gadis tersebut.


Kemudian Pang pergi ke ujung mading dan mulai mencari namanya di dalam daftar yang tertempel di sana. Namun tiba- tiba saja, gadis berkaca mata tadi memanggilnya, jadi Pang pun menoleh ke arah gadis tersebut.

“Hei. Kamu Pawaret kan?” tanya si Gadis.

“Tahu dari mana?” balas Pang dengan kebingungan.

“Selamat ya. Sampai ketemu di Kelas Berbakat,” balas si Gadis, kemudian dia pergi.



Karena penasaran maka, Pang pun langsung menuju ke bagian mading yang lain. Dan disebuah kertas berlambangkan G, yang merupakan tanda Kelas Berbakat. Disana Pang melihat dan mencari, lalu dia menemukan namanya tertulis disana. Pawaret Sermrittirong.

Kemudian dengan masih tidak percaya, Pang kembali mencari. Tapi kini dia mencari nama temannya, yaitu Nack. Namun dia tidak menemukan nama Nack tertulis disana.

Lalu saat Pang melihat ke sampingnya dan melihat Nack. Ternyata nama Nack tertulis didaftar kelas biasa yaitu M.1. Dan melihat itu, Pang serta Nack saling menatap.


Diasrama. Pang menelpon Ibunya dan memberitahukan hasil tes penempatan kelasnya, tapi tampaknya Ibu Pang tidak mempercayai bahwa Pang bisa masuk ke Kelas Berbakat. Dan Pang pun membalas bahwa dia juga masih bingung, tapi itu memang benar.

“Tapi Nack…” kata Pang sambil menatap Nack yang sedang bermain hape. Tapi dia tidak jadi menceritakan hal tersebut kepada Ibunya dan menutup telpon.



Selesai Pang bertelponan, Nack mendekatinya. Dia memberitahukan kepada Pang bahwa petugas asrama meminta Pang untuk membuat kontrak yang baru, dikarenakan minggu depan, Pang bisa pindah ke asrama siswa Berbakat.

“Nack. Aku tidak tahu bagaimana bisa aku masuk ke Kelas Berbakat. Aku tidak memakai contekanmu, aku tidak bisa menjawab apa pun. Kurasa itu…” jelas Pang dengan rasa bersalah.

“Cukup. Aku tidak apa- apa. Jangan dipikirkan,” balas Nack. Tapi Pang tetap merasa bersalah. “Aku sungguh tidak apa- apa. Masih ada tes semester depan. Kalau kamu masuk duluan, kamu tahu apa yang mereka ajarkan. Jangan lupa memberitahuku. Oke?” lanjut Nack.

“Syukurlah kamu mengerti,” balas Pang dengan raut yang tampak lega.


“Ya. tidur lah sana,” balas Nack. Dan ketika Pang telah naik ke atas tempat tidur, raut wajah Nack tampak sedikit cemberut.



Keesokan harinya. Pang berdiri di depan kelas Berbakat bernama Gifted. Lalu setelah agak ragu sesaat, Pang menguatkan dirinya dan membuka pintu kelas. Dan saat dia berjalan masuk ke dalam kelas, semua orang yang berada disana memberikan tatapan aneh padanya. Tapi Pang mengabaikan itu dan berjalan menuju ke kursinya.



“Mm… boleh pinjam pulpen?” tanya seorang murid laki- laki yang duduk disebelah Pang. Dan Pang pun meminjamkan pulpennya. Lalu melihat lencana VIII yang dipakai Pang, maka si Murid pun bertanya.

“Kamu mengenalku?” tanya Pang dengan bingung.

“Ya. Kamu siswa kelas 8 pertama dalam sejarah yang masuk Kelas Berbakat. Kamu jadi pembicaraan,” jelas si Murid dengan nada pelan. Lalu dengan sikap santai dia menghela nafas lega, dia menjelaskan bahwa awalnya dia mengira hanya akan ada siswa kelas 1 yang kutu buku. Kemudian dia mengenalkan dirinya kepada Pang. Namanya Ohm, kelas 2.

Dengan senang, Pang pun menyalamin tangan Ohm yang terulur kepadanya. Dan kemudian, tepat disaat itu, seorang Guru masuk ke dalam kelas. Jadi dengan segera mereka duduk dengan rapi.

“Halo, anak- anak. Namaku Porama, kalian bisa memanggilku  Bapak Pom. Mulai sekarang, aku akan jadi penasihat dan mengurus semua siswa Berbakat. Kalian adalah kelompok paling luar biasa dan menyimpan banyak potensi special dalam diri kalian,” jelas Guru Pom. Kemudian dia menyalakan layar di belakangnya. 233 = 48.


Lalu sebelum menjelaskan lebih lanjut, Pom menyuruh mereka semua untuk melihat ke dalam laci dan memakai lencana baru yang telah disiapkan untuk mereka semua. Yaitu lencana berwarna emas dan berbentuk huruf G.

Pertama. Kelas Berbakat adalah kelas tambahan, yang artinya mereka akan tetap belajar dikelas mereka yang biasanya. Misalnya kalau mereka dari kelas 1, mereka akan tetap belajar dikelas 1. Begitu juga dengan yang berada dikelas 8. Setelah itu barulah mereka akan belajar di Kelas Berbakat ini. 123 = 46.

Kedua. Kelas Berbakat memiliki banyak peraturan. Dan Pom mempersilahkan semua murid untuk membaca nya sendiri dikertas yang juga berada didalam laci meja mereka.

Lalu peraturan paling penting di Kelas Berbakat ini yaitu. Jangan beritahu orang luar apa pun  soal Kelas Berbakat ini. Dengan cara apapun, siapa yang melanggarnya akan langsung di berhentikan dari Kelas Berbakat. 432 = 19

“Terakhir. Temukan jawaban, kenapa kalian bisa masuk ke Kelas  Berbakat? Waktu kalian seminggu. Semoga kalian senang mengembangkan potensi kalian sendiri,” jelas Pom dengan serius.


Kemudian Pom mengakhiri penjelasan seriusnya dan memberikan sebuah tes mudah dengan tingkat dasar, yaitu 234 = ? . Dan dengan mudah, semua orang mengetahui jawabannya dan mereka mengangkat tangan mereka. Namun Pang sama sekali tidak tahu, jadi dia tidak mengangkat tangannya sama sekali.

Mulai hari itu, tiba- tiba aku sadar. Hidupku sebagai siswa Berbakat tidak lagi sama seperti siswa Biasa.



Keesokan harinya. Pang menukar lencana yang dipakainya dengan lencana Kelas Berbakat yang di dapatnya. Dan kemudian dia mengingat semua penjelasan Guru Pom pada mereka semua.

Saat dikantin, siswa Kelas Berbakat mendapatkan kursi mereka sendiri. Jadi mereka tidak perlu mencari kursi kosong dan berebutan. Dan setiap siswa yang berada dikantin, mereka akan menatap dengan iri.

“Siswa Kelas Berbakat akan menikmati keistimewaan tertinggi disekolah ini. Termasuk beberapa fasilitas lebih dibandingkan siswa Biasa…”


“… dan peraturan berbusana juga tidak terlalu ketat. Kalian juga akan punya kamar sendiri. Kalian juga akan mendapat pemeriksaan medis berkala di sekolah. Semua ini agar kalian bisa sepenuhnya mengembangkan diri. Berusahalah dan temukan potensi kalian masing- masing.”




Karena mengikuti kelas Berbakat, Pang harus pulang malam ke asrama. Dan karena itu, dia menjadi telat bangun. Namun tidak seperti biasanya, kali ini tidak ada guru yang memarahi ataupun menegurnya. Bahkan walaupun dia ketahuan makan dan minum dikelas.

“Pada awalnya, mungkin terasa berat dan melelahkan. Tapi sekolah ini, akan selalu mendukung kalian…”


“… Terakhir. Percayalah pada kurikulum kami. Percaya pada para guru. Dan percaya pada dirimu. Dan kalian akan temukan. Alasan kenapa kalian berada di Kelas Berbakat.”

Selama beberapa hari. Pang mengikuti kelas Berbakat dengan berbagai pelajaran yang melelahkan serta aneh. Pang menjadi sangat kelelahan sendiri.


Sambil minum dan beristirahat, Pang memeriksa hasil tesnya. Dan lalu dia mengingat saat dia menemui Guru Pom. Karena Pang merasa bingung mengapa dia bisa masuk Kelas Berbakat serta karena dia tidak bisa mengejar yang lainnya di dalam pelajaran. Bahkan Pang tidak mengerti dengan PR yang Guru Pom berikan.



“Sungguh? Kamu tidak mengerti apa pun? Dengar, pang. Yang lain juga penasaran sepertimu. Tapi untuk sekarang, fokuslah pada pertanyaanku. Pikirkan lagi apa yang terjadi. Mungkin kamu akan menemukan jawaban yang tersembunyi disana, Pang,” jelas Guru Pom.


Pang memikirkan perkataan Guru Pom kepadanya. Kemudian dia mengingat apa yang terjadi saat jam olahraga. Seorang gadis tampak kesakitan pada lengannya. Dan Pang ingin membantu. Namun sebelum Pang sempat membantu, gadis tersebut menggerakan lengannya dan mengatakan kepada teman- teman nya bahwa dia baik- baik saja.

Lalu di dalam loker yang berada dibelakang si gadis, Pang melihat beberapa peralatan olahraga.

Didalam kelas. Saat mereka diberikan sebuah rubik untuk disusun. Pang melihat Ohm yang tampak sangat fokus sekali, hingga dia mimisan. Dan mengingat semua itu, Pang mulai berpikir.



Pang mengajak Nack ke perpustakaan. Disana dia mengambil banyak sekali buku fantasi dan psikis. Dan melihat semua itu, Nack pun menjadi heran. Lalu Pang menjelaskan bahwa itu untuk PR mereka. Tapi Nack tidak percaya dengan penjelasan Pang yang kedengaran aneh.

“Kamu janji cerita soal Kelas Berbakat. Tapi kamu selalu menghilang,” kata Nack.

“Aku belajar dengan keras. Tidakkah kamu lihat?” balas Pang.

“Belajar keras membaca buku- buku absurd ini?” balas Nack, tidak percaya.

“Kelas ini aneh sekali. Semuanya. Anak- anaknya, gurunya, pelajarannya. Entah kenapa kami mempelajarinya. Makin dipelajari, makin seperti …”

“Seperti?”

“Mempelajari sihir atau psikis,” jelas Pang dengan serius.

Tapi Nack tidak percaya dan menganggap bahwa Pang berbohong kepadanya, karena tidak mau bercerita. Namun Pang tidak bisa menceritakan lebih dari ini, dikarenakan peraturan yang ada. Dan dengan kesal, Nack mengatakan bahwa dia kecewa kepada Pang.

“Kukira habis masuk Kelas Berbakat. Kamu bakal lebih perhatian. Tapi kamu malah tertarik omong kosong ini. Bagaimana bisa kamu masuk Kelas Berbakat?” tanya Nack.

“Kamu takkan paham! Kamu bukan siswa Kelas Berbakat!” balas Pang dengan sedikit emosi, karena merasa stress. Lalu saat sadar, Pang langsung merasa bersalah.



Tapi sebelum Pang bisa menjelaskan, Wave yang ternyata juga berada disana. Dia mengatai mereka agar jangan membawa kebiasaan buruk mereka ke sini. Dan karena emosi, Nack pun mendekati Wave.

“Bukannya bukan urusanmu? Ini area siswa Berbakat,” kata Wave sambil memberikan tanda agar Nack pergi dari perpustakaan ini.

“Terus kenapa? Apa karena berbakat, kalian lebih baik dari yang lain?” balas Nack sambil mendorong Wave.


“Ya. Dan kami akan jadi lebih special. Jangan lupa, sekarang status mu lebih rendah dariku. Kamu ingat, aku bilang aku akan masuk Kelas Berbakat. Dan kamu akan tetap di kelas lama bersama lintah. Sekarang terbukti kan. Tapi dengan sedikit perbedaan. Karena sekarang lintahnya adalah kamu. Benar, kan, Pang?” kata Wave yang semakin membuat Nack emosi.


Lalu karena sudah sangat emosi, Nack pun ingin memukuli Wave. Tapi Pang menghalangin nya dan meminta agar Nack tenang. Namun Nack mendorong Pang, lalu tanpa sengaja Wave yang berada dibelakang Pang ikut terdorong.



Wave terjatuh dan tidak sadarkan diri. Tapi dengan emosi, Nack mendekati dan memarahinya. Lalu tepat disaat itu, Bu Ladda datang dan melihat hal tersebut.

No comments:

Post a Comment