Friday, November 23, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 3 - part 2

0 comments


Network : GMM One
Didalam kamarnya. Namtaan mengambil obatnya dan menatapnya lama. Lalu dia meminumnya.

Satu bulan di sekolah baru. Dua minggu di Kelas Berbakat. Tujuh hari sejak aku menemukan potensiku. Dan aku tetap anak sakit- sakitan yang sama.


Didalam kelas. Penasaran dengan siswa ID 005, yaitu Chanon. Maka Namtaan pun bertanya kepada Guru Pom, saat mereka hanya berdua saja. Dan Guru Pom menjelaskan bahwa itu sudah lebih dari sepuluh tahun, Chanon merupakan salah satu siswa Berbakat diangkatannya. Namun karena kelas itu terlalu keras, maka Chanon memilih berhenti.

“Benarkah? Dia tahu dia punya kekuatan dan menyerah begitu saja?” tanya Namtaan, tidak percaya.


“Kamu harus tahu sesuatu. Saat seseorang menemukan potensi mereka, hal itu bisa langsung membawa mereka ke garis finish. Tapi dalam kenyataannya, ada faktor- faktor lain yang terlibat,” jelas Guru Pom.

“Aku ingin tahu apa yang terjadi pada P’Chanon,” pinta Namtaan.


Namtaan kembali ke dalam kamarnya sambil membawa sebuah kotak kardus. Dia tampak sangat senang serta bersemangat sekali melihat kotak tersebut. Lalu dia mengingat saat tadi Guru Pom membawanya ke dalam gudang dan memberikan kotak yang berisikan barang milik Chanon dulu kepadanya.

“Ini bisa jadi latihan bagus buat menguji potensimu,” jelas Guru Pom.


Namtaan mulai mengeluarkan satu persatu barang yang ada didalam kotak tersebut. Dan meletakannya di atas tempat tidur. Barang yang ada didalam kotak, medali, pesawat mainan, jaket, lencana The Gifted, buku, dan kaca mata.



Pertama, Namtaan mengambil jaket dan memakainya. Kemudian dia berdiri didepan cermin. Dan menggunakan kekuatan nya, Namtaan bertemu dengan Chanon yang muncul di dalam cermin. Dia menanyai Chanon, kenapa Chanon menyerah pada kemampuannya. Dan tanpa menjawab, Chanon hanya tersenyum.


Kedua, dilorong. Namtaan menggunakan kacamata milik Chanon. Dan menggunakan kemampuannya, dia bisa melihat situasi zaman dulu. Dan dia tampak sangat senang sekali. Lalu akhirnya, sampailah Namtaan di depan kamar dimana dulu Chanon tinggal.



Kemudian sesampainya disana, Namtaan membuka kacamata milik Chanon yang dipakainya. Dan memakai kembali kaca mata miliknya sendiri. Lalu dia melihat bahwa siswa yang kini menempati kamar tersebut. Itu adalah Pang.

Saat melihat itu, Namtaan kembali memakai kacamata milik Chanon. Tapi dia ragu untuk mengetuk pintu kamar Pang.


Didalam kamar. Saat mendengar suara berisik, Pang mengintip melalui lubang pintu. Dan saat dia melihat Namtaan yang tampak ragu- ragu mengetuk pintu kamarnya, Pang pun tertawa. Kemudian saat Namtaan tampak ingin pergi, maka Pang pun membuka pintu kamarnya. Lalu sambil tersenyum, Pang bertanya ada apa. Dan Namtaan pun tersenyum malu.

“Bolehkah aku masuk?” tanya Namtaan. Lalu sebelum Pang memberikan izin, dia langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Pang. Dan walaupun heran dengan sikap Namtaan yang tampak sedikit aneh, Pang tidak bertanya.


Namtaan melihat seperti isi kamar Chanon dulu dengan bersemangat sekali. Dan dia memberitahu Pang bahwa seperti ini lah kamar Chanon dulu. Lalu tiba- tiba saja, seperti merasa pusing, Namtaan memejamkan matanya sebentar. Kemudian dia lanjut melihat- lihat lagi.

“Dia mau jadi astronot,” kata Namtaan saat melihat isi meja Chanon.

“Apalagi yang kamu tahu?” tanya Pang.

Namtaan lalu melihat ke arah dinding, dimana dulunya disana terdapat papan tulis. Dan melihat rumus- rumus matematika yang tertulis disana, Namtaan menebak bahwa potensi Chanon adalah matematika dan Chanon tampak menyukai itu. Namun kemudian Namtaan jadi bertanya- tanya sendiri, kenapa orang yang memiliki mimpi seperti Chanon keluar dari kelas berbakat.

Lalu tiba- tiba lagi, Namtaan kembali merasakan sakit dikepalanya. Dan melihat itu, Pang pun bertanya apa Namtaan baik- baik saja.

“Sepertinya… aku bakal pingsan,” kata Namtaan, lalu dia pun langsung terjatuh. Untung saja, dengan segera Pang bisa menangkapnya.
  
Namtaan terbangun di atas ranjang Pang. Dan ketika melihat telah sadar, Pang yang sedang bermain game menyarankan agar Namtaan tidur saja dulu diranjangnya. Tapi Namtaan menolak.

“Jangan terlalu dipikirkan. Kamu sakit,” kata Pang sambil terus bermain game.

“Aku tidak memikirkan apapun,” balas Namtaan.



Lalu karena penasaran dengan penyakit Namtaan, maka Pang pun bertanya. Dan Namtaan pun menjelaskan kalau dia menjaga diri, tidak kelelahan, tidak stress, dan tekanan darah nya selalu rendah, maka kata Ibunya, dia bakal sesehat orang lain.


Mendengar itu Pang pun bangkit duduk dan menatap Namtaan dengan serius. Dan Namtaan pun ikut bangkit duduk, lalu dia menyuruh Pang supaya jangan serius begitu. Kemudian Namtaan menanyakan potensi apa yang Pang inginkan.

“Sebelum potensi mu bangkit, apa kamu pernah berpikir ingin melihat masa lalu?” tanya Pang.

“Tidak,” balas Namtaan.

“Jadi buat apa memikirkannya kalau bukan kita yang menginginkannya?” balas Pang.



“Tapi aku percaya, kita akan menemukan potensi yang cocok dengan kita,” jelas Namtaan. Sambil menyebutkan satu persatu kemampun milik beberapa teman sekelas  mereka. Dan Namtaan percaya, saat potensi Pang bangkit, maka Pang juga akan menyukai itu.

Tapi dengan pesimis, Pang mengatakan bahwa dia tidak yakin kalau potensi nya bakal bangkit. Malahan Pang yakin kalau dirinya bukanlah siswa Berbakat.


Lalu seperti terpikirkan akan sesuatu, Namtaan menempelkan beberapa kertas di dinding kamar Pang. “Aku menyemangatimu. Aku kelinci dan kamu singa. Kita akan berjuang bersama di Kelas Berbakat,” kata Namtaan memberikan semangat.

“Aku singa? Orang teledor sepertiku?” tanya Pang sambil tersenyum tidak percaya.

“Kenapa? Lihat saja simba. Awalnya, dia seperti tidak peduli. Tapi saat mengalahkan Scar, dia menjadi Lion King,” jelas Namtaan dengan bersemangat. Dan sambil tertawa Pang membalas bahwa itu konyol.


Kemudian karena Pang mengetawainya, maka Namtaan pun mengambil bantal dan mulai memukuli Pang dengan pelan. Lalu mereka mulai bermain- main.

Tepat disaat itu, Ohm datang. Dia datang ke kamar Pang, karena mendengar suara ribut. Dan melihat kedatangan Ohm, maka dengan sedikit panik, Pang ingin menjelaskan bahwa ini tidak seperti yang Ohm pikirkan. Tapi tanpa mendengarkan penjelasan Pang, Ohm tersenyum dan langsung keluar dari dalam kamar sambil berpura- pura menelpon.

“Ohm!” teriak Pang. Tapi Ohm telah keburu keluar.


Didalam kelas. Saat pemilihan ketua kelas, Namtaan sama sekali tidak fokus dan sibuk menulis serta melihat hape. Sehingga Guru Pom pun memanggilnya dan menanyakan siapa yang ingin Namtaan calonkan. Lalu tanpa terduga, Namtaan mencalonkan Pang. Dan mendengar itu, semua orang tampak tidak percaya dengan pilihan Namtaan, begitu pun Pang sendiri.


“Aku senang kamu mau mencari tahu soal Chanon. Tapi jika kebanyakan memakai potensimu, kamu harus istrirahat,” kata Guru Pom mengingatkan Namtaan, karena dia mengetahui apa yang sedang sibuk Namtaan lakukan sedari tadi.

“Kenapa?” tanya Namtaan.

“Aku tidak mau menyusahkan Ibumu. Boleh aku minta kamu berhenti memakai potensimu beberapa hari?” pinta Guru Pom. Dan Namtaan pun mengangguk kan kepalanya pelan.



Didalam perpustakaan. Saat sedang bermain game, Pang mendengar suara Namtaan yang sedang bertelponan dengan seseorang dan menanyakan tentang Chanon. Lalu mendengar itu, Pang pun mengingatkan Namtaan akan perkataan Guru Pom.

“Aku tidak pakai kekuatanku,” balas Namtaan.

“Hubungin saja orangnya. Waktu pakai kekuatan, kamu melihat nomor telpon dan surelnya,” balas Pang. Dan Namtaan membalas bahwa dia telah mencoba, tapi tidak ada jawaban.



Pang lalu mendekat dan duduk disamping Namtaan, dia bertanya apa Namtaan sebegitunya ingin tahu apa yang terjadi pada Chanon. Dan Namtaan membalas apa memangnya Pang tidak punya pertanyaan yang butuh jawaban.

“Kenapa kamu mencalonkan ku sebagai ketua?” tanya Pang.

“Aku tidak berniat mengerjaimu. Aku yakin kamu bisa jadi Ketua. Sebab kamu peduli pada orang lain,” jelas Namtaan dengan malu- malu.


Karena Namtaan tampak sebegitu ingin tahunya, mengapa Chanon keluar. Pang pun tersenyum seperti teringat sesuatu, lalu dia mengajak Namtaan untuk melakukan sesuatu yang seru. Dan Namtaan pun menatap Pang dengan bingung.

Namtaan mengikuti Pang ke kantor, dimana dulu dia dan Nack pernah mencoba untuk mencuri soal ujian. Disana Pang berusaha membuka gembok lemari, menggunakan trik yang pernah dilihatnya, namun Pang juga tidak yakin trik itu akan berhasil. Dan jreng… jreng… jreng… ternyata trik tersebut berhasil.

Kemudian bersama, mereka mulai mencari berkas mengenai Chanon di dalam setiap map yang tersimpan di dalam lemari.


Sementara di dalam kantor Guru Pom. Disana dia duduk sambil menatap pena miliknya yang berada diatas meja. Dan metronome yang berada di atas meja terus bergerak. tik… tik… tik…



Namtaan dan Pang masih mencari- cari. Kemudian Pang menemukan formulir pengunduran diri Chanon yang menuliskan bahwa Chanon berhenti, karena dia tidak bisa mengejar seperti kata Guru Pom. Dan membaca itu, Namtaan tidak percaya kalau orang seperti Chanon tidak bisa mengejar pelajaran.



Guru Pom mengambil pena nya yang berada diatas meja. Lalu dengan pandangan yang sangat fokus sekali, dia menatap lama pada pena miliknya sendiri.



Menggunakan kekuatannya, Namtaan berusaha mencari tahu. Kemudian dia melihat, pena yang dipakai menulis dikertas itu sama dengan milik Guru Pom. Semakin berkonsentrasi melihatnya, Namtaan melihat bahwa orang yang menulis surat tersebut adalah Guru Pom.


Didalam kantor. Guru Pom memegang dahinya. Dia tampak sangat berkonsentrasi sambil menatap pena miliknya sendiri.



Tiba- tiba saja, Namtaan merasa pusing. Dan hampir terjatuh. Untung saja, Pang berhasil menahan nya. Sementara didalam kantor, Guru Pom meletakan pena miliknya kembali keatas meja.

No comments:

Post a Comment