Sunday, November 25, 2018

Sinopsis Lakorn : The Gifted Episode 3 - part 3

0 comments


Network : GMM One


Di UKS. Guru Pom menasehati Namtaan, dia mengatakan bahwa dia memberikan barang Chanon untuk melatih kekuatan Namtaan, tapi dia juga mengingatkan Namtaan untuk tidak memaksa kan diri.

Tapi Namtaan mengabaikan perkataan Guru Pom tersebut. Dia mengambil kertas formulir pengunduran diri Chanon yang ditemukannya dan menunjukan itu kepada Guru Pom. Dia menjelaskan bahwa dia tidak percaya kalau orang dengan mimpi besar bisa menyerah begitu mudah.

“Tapi Bapak ingat. Di hari terakhir, Chanon mengajak Bapak ke gudang untuk berkonsultasi. Dia sudah tidak tahan lagi. Bapak ingat,” kata Guru Pom dengan tegas. Tapi tiba- tiba saja dia terdiam, seperti mengingat sesuatu. Sehingga melihat itu, Namtaan menjadi heran ada apa.

“Harusnya, Bapak tidak memberitahumu,” kata Guru Pom dengan ragu.



Tepat disaat itu, Ibu Namtaan datang. Jadi pembicaraan mereka terhenti. Ibu Namtaan menanyai kenapa Namtaan bisa berada disini. Dan Namtaan pun membalas bahwa dia hanya pingsan saja. Lalu Ibu Namtaan pun mulai mengomel, dia mengatakan bahwa mau berbakat seperti apapun, tapi kalau gagal untuk hidup, semuanya tidak ada guna nya.

“Bu, kalau sudah waktunya, kita akan mati. Lihat saja Ayah, dia sangat sehat, tapi terlibat kecelakaan,” balas Namtaan.

“Jangan membantah. Kamu tidak lihat, Ibu khawatir?”

“Aku tahu Ibu khawatir. Makanya Ibu mengurungku. Melarangku melakukan apapun. Apa Ibu akan memperlakukanku seperti pesakitan dan mengurungku selamanya?” tanya Namtaan.


Mendengar itu, Guru Pom mengatakan bahwa kali ini dia setuju dengan Ibu Namtaan. Dia tidak ingin Namtaan terlalu memaksakan diri. Dan dia ingin Namtaan beristirahat dari Kelas Berbakat selama seminggu untuk memulihkan diri. Lalu karena Ibunya juga ikut berbicara, maka Namtaan pun tidak bisa berkata apapun lagi.


Setelah Ibu keluar dari dalam UKS. Namtaan menanyakan, apa saat dia keluar dari Kelas Berbakat, potensinya akan hilang. Dan Guru Pom menjawab bahwa selama di kelas, Namtaan bisa mengembangkan kemampuannya sampai maksimal, tapi untuk sekarang, dia ingin Namtan beristirahat dulu. Lalu Guru Pom keluar dari UKS.

Pada malam hari. Pang menemui Namtaan yang telah menunggunya di depan sebuah pintu bundar. Dan dengan heran, Pang bertanya mengapa Namtaan memanggilnya dan apa Namtaan melarikan diri dari klinik. Namun Namtaan mengabaikan pertanyaan Pang dan membahas tentang Chanon.

“Ini tempat P’Chanon bertemu Guru Pom untuk terakhir kali,” jelas Namtaan.

“Jadi?”

“Ada yang aneh dengan formulir pengunduran dirinya. Kamu ingat tanda tangannya? Itu ditanda tanganin dengan pulpen Guru Pom. Pulpen yang selalu berada didekatnya.”

“Maksudmu, Guru Pom menyembunyikan sesuatu?” tanya Pang. Dan Namtaan mengiyakan.


Lalu dengan sedikit heran, Pang pun menanyakan, jadi apa alasan Namtaan memanggilnya ke sini. Dan ternyata itu adalah karena Namtaan ingin Pang membantunya untuk membuka kunci pintu tersebut. Karena dia ingin menyelidiki ruangan itu dengan kekuatannya.

“Kumohon,” pinta Namtaan.

“Entah aku bisa atau tidak,” balas Pang sambil mencoba. Dan ternyata Pang berhasil.


Dengan bersemangat, Namtaan meminta Pang untuk tolong memegangkan bukunya. Dan kemudian dia memakai jaket milik Chanon. Melihat itu, Pang pun mengingatkan bahwa Namtan sudah terlalu banyak memakai potensi nya hari ini. Tapi dengan sikap keras kepala, Namtaan membalas bahwa dia tidak apa- apa.

“Mana mungkin. Wajahmu pucat dan tadi kamu pingsan. Aku mencemaskanmu. Kita lakukan lain kali saja ya,” pinta Pang. Dan Namtaan mengoke kan.



Tapi saat akan pergi, Namtaan berpura- pura menyebutkan nama Guru Pom dengan raut terkejut. Sehingga perhatian Pang teralihkan. Dan disaat itu, Namtaan langsung masuk ke dalam ruangan dan menguncinya dari dalam.

“Jangan lakukan ini! Namtaan!” teriak Pang sambil mengendor pintu.

“Tidak ada lain kali. Ini hari terakhirku punya kekuatan special,” balas Namtaan.

Dan dengan buru- buru, Pang segera berlari untuk mencari jalan masuk yang lain. Karena Namttan tidak lagi mendengarkan dia.


Didalam tempat yang seperti gudang. Saat masuk kesana, Namtaan mulai merasakan pusing dikepalanya, tapi dia mengabaikan hal itu dan terus berjalan serta melihat setiap hal disana menggunakan kacamata dan jaket milik Chanon.

Lalu disaat itu, Namtaan melihat map yang berisikan formulir pengunduran diri Chanon. Map tersebut diletakan di atas tumpukan kursi- kursi.




Disisi lain. Pang berlari dengan kencang ke depan pintu gudang. Lalu sesampainya disana, dia mengedor pintu dan memanggil Namtaan. Tapi Namtaan tidak menjawabnya, karena dia sedang fokus untuk mencari tahu apa yang terjadi.

No comments:

Post a Comment