Thursday, November 8, 2018

Sinopsis Lakorn : Love At First Hate Episode 08 part 1

5 comments

Sinopsis Lakorn : Love At First Hate Episode 08 part 1
Images by : GMM Tv
Pagi hari, Kluay menunggu Pup untuk menjemputnya, tetapi pembantu memberitahu kalau Pup belum datang dan juga tidak menelpon. Hal ini tentu membuat Kluay merasa tidak tenang. Dia mencoba menelpon Pup, tetapi nomor Pup tidak aktif. Dan ternyata, dari kemarin, Kluay sudah mengirim pesan pada Pup, tetapi tidak di balas. Kluay merasa bersalah karena telah mengusir Pup untuk tinggal bersamanya.
--
Kluay datang ke rumah sakit, dan melihat Pup ternyata ada dan bahkan sedang berbincang dengan para suster.
Mereka bicara berdua. Dan Pup langsung bertanya tujuan Kluay datang menemuinya. Kluay dengan kesal menjawab kalau dia datang karena khawatir kalau Pup sakit atau mungkin sudah mati, tetapi ternyata Pup terlihat baik-baik saja dan bahagia.
“Aku hampir mati. Tapi, aku belum bisa mati. Aku harus menyelesaikan studi ku dulu,” jawab Pup.
“Baguslah kalau kau masih hidup,” kesal Kluay dan hendak pergi.
Pup menahannya, karena dia tahu kalau Kluay datang pasti bukan hanya untuk memastikan apa dia masih hidup atau sudah mati. Kluay marah karena Pup tidak menelpon ataupun membalas pesannya. Dia tahu kalau Pup marah karena dia dan Khun Napa menyuruh Pup pergi dari rumahnya kemarin, tapi, Pup juga harus mengerti kalau dia tidak bisa melawan ibunya sendiri.
Pup membalas perkataan Kluay, kalau seharusnya Kluay juga sadar kalau Khun Napa hanya sendirian dan tidak bisa melakukan apapun untuk menghalangi mereka, tetapi, Kluay malah menyetujui perkataan Khun Napa kemarin.
“Lupakan saja hal itu. Aku tetap akan memegang perkataanku kepada ayahmu, bahwa aku akan bertanggung jawab. Bahkan walaupun kau mengusirku dari rumahmu di malam pernikahan kita, aku juga akan menerimanya. Sekarang, apa lagi yang kau inginkan dariku? Aku bersyukur karena bintang terkenal seperti mu menyempatkan waktu untuk menemuiku di sini. Tapi, jika kau sudah selesai, aku pamit pergi dulu.”    
Kluay merasa sedih mendengar perkataan Pup dan merasa bersalah. Dia tidak sadar, kalau perkataan Pup tadi hanya akting untuk menarik simpati Kluay. Buktinya, saat Kluay memanggilnya dan mengaku salah, Pup tersenyum diam-diam.
“Aku mengaku salah. Sekarang, bagaimana aku harus menebusnya?”
Dan Pup berbalik dengan senyum mengembang lebar di wajahnya.
Mereka lanjut bicara di kantin rumah sakit. Dan Pup meminta untuk tinggal bersama di rumah Kluay.
“Aku tidak akan tinggal di rumah mu setiap hari. Aku akan bolak balik dari asrama dan rumahmu. Itu artinya, jika aku tidak tinggal di asrama, aku tinggal di rumahmu. Hey, kau mencariku agar aku masih mau berakting di depan media bukan? Dan itu artinya, aku juga harus punya tempat tinggal.”
“Tapi…”
“Kluay, kau ingat? Ketika aku memasangkan cincin di jarimu, kau sudah berjanji,” ingati Pup.
Dan Kluay teringat kalau saat itu dia berjanji akan mengabulkan permintaan Pup asalkan itu bukanlah sesuatu yang buruk.
“Hal yang ku inginkan adalah ini,” lanjut Pup. “Setelah kita menikah, kita harus tinggal bersama.”
Kluay tentu tidak terima dan merasa Pup telah menjebaknya. Apalagi ibunya juga pasti tidak akan setuju. Pup menawarkan diri untuk bicara pada Khun Napa, jika Kluay tidak berani.
--
Dan pada akhirnya, Kluay membawa Pup ke rumahnya. Dia menjelaskan bahwa di rumah ini hanya ada dia dan Joy (pembantu-nya), dan itu artinya Pup adalah pria pertama yang tinggal di rumahnya. Dan juga, Pup harus mengikuti peratauran yang ada.
Peraturan pertama : TIdak boleh meletakkan sampah sembarangan. Di meja, di lantai ataupun di sofa. Sampah harus di buang di tong sampah yang tersedia. Dan juga harus di pisahkan berdasarkan jenisnya.
Peraturan kedua : Semua bantal sofa di letakkan berdasarkan bentuk dan warna, jadi jangan sampai tertukar meletakannya.
Peraturan ketiga : Kamar mandi harus selalu bersih. Dan jangan sampai dia atau Joy melihat tutup toilet terbuka.
Dan usai menjelaskan semuanya, Kluay menunjukkan kamar Pup. Pup heran karena dia tidak melihat barang-barang Kluay di kamar itu. Kluay mengulangi perkataannya kalau kamar ini adalah kamar Pup, bukan kamarnya. Mereka sudah menikah, tetapi bukan berarti mereka akan tinggal sekamar.
--
Khun Napa menelpon ke rumah, dan Joy yang mengangkat. Dia segera membawa telepon untuk di berikan pada Kluay, dan pas sekali Kluay sedang bicara dengan Pup, dan tentu saja suara Pup terdengar oleh Khun Napa. Kluay memberi tanda pada Pup untuk diam, tetapi percuma, Khun Napa sudah mendengar suara Pup dan mengenali suara itu.
Kluay berbohong kalau Pup datang hanya untuk mengantar pulang dia. Khun Napa mencoba percaya, dan menyuruh Pup untuk tidak pergi, dia akan datang sekarang untuk bicara dengannya. Kluay berusaha mencegah, tetapi, Khun Napa sudah mematikan telepon.
Kluay menjadi panik. Dia memerintahkan Joy untuk mengeluarkan barang-barang di kamar Pup sementara dan menyembunyikannya. Tetapi, Pup melarang, dia tidak akan menghindari Khun Napa. Cepat atau lambat, Khun Napa harus tahu kalau dia telah pindah ke rumah Kluay. Dan dia akan menjelaskannya.
--
Khun Napa sudah tiba, dan menolak Pup untuk tinggal bersama Kluay. Dia tidak setuju, dan tidak akan pernah setuju selama dia masih hidup. Pup membalas kalau Kluay sudah setuju dan berjanji padanya.
“Kluay, kau menipuku?! Kau mempermalukanku? Bukankah kau bilang dia hanya mengantarmu pulang? Kau mengundang pria masuk ke rumahmu?” marah Khun Napa pada Kluay.
“Seorang pria yang telah menikahi putrimu, itu tepatnya,” jawab Pup.
Hal itu membuat Khun Napa semakin marah karena Pup ikut campur. Dia menegaskan kalau Pup hanya ingin membalas dendam padanya. Pup menghela nafas dengan keras, merasa kesal karena Khun Napa terus saja salah paham padanya.
“Ini bukan lakorn. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan mengenai balas dendam. Dan lebih penting lagi, studi ku saja sudah sangat berat. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal tidak penting,” tegas Pup.
“Dengarkan aku, pria ini hanya ingin mengambil keuntungan darimu. Ketika dia sudah mendapatkannya, tubuhmu, uangmu, akan di tinggalkan tanpa sisa,” ujar Khun Napa pada Kluay.
“Biarkan aku katakan,” kesal Pup.
“Khun…. Sudah. Sudah. Biar aku saja yang bicara,” hentikan Kluay, agar suasana tidak semakin memanas.
“Ma, aku bisa menjaga diriku sendiri. Bisakah mama mempercayaiku?”
“Aku mempercayaimu, tapi aku tidak pernah bisa mempercayainya. Tidak peduli apa yang terjadi, aku tidak akan membiarkan mu tinggal bersamanya!”
Kluay kesal juga dan dengan tegas menjelaskan pada Khun Napa alasannya membawa Pup, karena orang-orang semakin curiga karena mereka tidak terlihat bersama walau menikah. Jika mereka ketahuan, namanya yang akan hancur. Dia sadar kalau Khun Napa membenci Pup, tapi tidak peduli seberapa bencinya Khun Napa, Pup tetap adalah pria yang membantunya menghentikan semua rumor. Dia bahkan mengusir Pup dari rumah di malam pernikahan, itu karena dia mempedulikan perasaan Khun Napa. Dan bagaimana dengan Khun Napa? Apa pernah memikirkannya?
“Kluay!!!” marah Khun Napa dan hendak menampar Kluay. Pup segera menahan tangan Khun Napa.
“Khun, kau bisa membenci dan tidak menyukaiku, tapi jangan lampiaskan pada Kluay. Apa kau tidak dengar pertanyaannya tadi? Apa anda pernah peduli padanya? Anda hanya peduli pada reputasi dan dirimu sendiri.”
Plak!!!! Khun Napa menampar Pup.
Kluay jelas terkejut. Dia menahan tangan Khun Napa agar tidak menampar Pup lagi.
“Sudah puas? Kau bisa menamparku hingga kau puas. Tapi, aku tetap tidak akan pindah. Dan satu lagi, jangan marah pada Kluay. Suatu hari, dia mungkin tidak akan bisa menahan kemarahanmu lagi dan hanya mencintaiku. Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
“Cankam perkataanku ini. Putriku tidak akan bodoh dan buta seperti ini selamanya. Ketika dia mendapat cara untuk bebas, kau akan di singkirkan. Lihat saja!” marah Khun Napa dan keluar dari rumah Kluay.
Kluay hendak mengejar, tetapi Pup melarang. Kluay tidak bisa selalau membujuk Khun Napa. Dan juga Khun Napa hanya tidak ingin kalah darinya. Kluay merasa stress dengan semuanya.
--
Hingga malam hari, Kluay tidak bisa tidur dan terus duduk di ruang tamu. Pup menghampirinya dan memberikan yoghurt agar Kluay bisa sedikit tenang. Tetapi, Kluay tidak bereaksi sama sekali. Dan Pup dengan santainya, duduk di samping Kluay dan menyalakan TV.
Kluay akhirnya bertanya pada Pup, apa Pup tidak pernah merasa khawatir atau tegang sekalipun? Pup menjawab kalau studi nya sudah sangat berat, dan dia tidak ingin khawatir mengenai hal lainnya lagi.
Kluay tidak lagi bertanya, dan ikut memakan yoghurt. Tetapi, Pup malah memakan yoghurt dari sendok Kluay. Kluay jadi kesal, dan tidak mau makan yoghurt lagi. Pup malah mendekatkan wajahnya ke Kluay, dan membuat Kluay menjadi tegang. Sayangnya, bel pintu pagar berbunyi.
Mereka keluar untuk memeriksa siapa yang datang. Dan itu Ploy.


5 comments: