Tuesday, November 6, 2018

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 10 – 1

4 comments

Sinopsis Lakorn : You Are Me episode 10 – 1
Images by : Channel 3
sinopsis di tulis oleh : Chunov (nama samaran) di blog k-adramanov.blogspot.com
Khun Pawinee memegang pisau dengan erat. Dia teringat akan kemarahannya dengan wanita-wanita simpanan. Pesawat KhaoSuay jatuh ke dalam kolam ikan yang ada di sana.
Na, Nuan, Krit dan Khun Nat tiba di tempat Thi. Thi heran melihat Khun Nat yang ikut, dan Khun Nat memberitahu kalau dia merasa khawatir. Thi meminta mereka mengikutinya.
KhaoSuay berusaha mengambil pesawat yang terjatuh ke kolam. Khun Pawinee sambil memegang pisau mendekati dari belakang.
Na melihat KhaoSuay dari kejauhan dan lega. Semua langsung berlari ke arah KhaoSuay, dan semua berteriak kaget ketika Khun Pawinee tiba duluan di belakang KhaoSuay sambil memegang pisau.   
Na langsung meminta KhaoSuay ke arahnya. Sementara Khun Pawinee memandang heran dengan tingkah mereka, yang melihatnya seolah dia melakukan hal yang jahat.
Mereka berbicara bersama. Na protes karena Khun Pawinee membawa KhaoSuay tanpa memberitahunya dan itu sama saja dengan penculikan. Thi membenarkan perkataan Siriya, karena apa yang Khun Pawinee membuat semua orang menjadi panik. Khun Pawinee kesal karena kan wajar jika seorang nenek membawa cucunya berjalan-jalan.
Nuan lalu membahas mengenai Khun Pawinee yang membawa pisau. Khun Pawinee dengan kesal menunjukkan peralatan piknik yang di bawanya, dia membawa pisau untuk memotong roti dan buah. Mereka terus berdebat.
“Aku bisa melaporkan Anda ke polisi dengan tuduhan penculikan, dan Anda bisa di tangkap,” ancam Na.
“Kalau kau berani, laporkan saja,” tantang Khun Pawinee balik.
“Aku berani!” tegas Na.
Khun Pawinee langsung menatapnya tajam. Na melanjutkan perkataannya kalau dia tidak akan melaporkan Khun Pawinee ke polisi sekarang karena KhaoSuay baik-baik saja, tapi jika lain kali Khun Pawinee membawa KhaoSuay tanpa izinnya lagi, dia akan langsung melapor ke polisi. Semua yang ada di sana terdiam, menyadari kalau ancaman Siriya adalah serius.
--
Di rumah, Na menasehati KhaoSuay agar jika Khun Pawinee menjemput KhaoSuay di sekolah, KhaoSuay tidak boleh ikut.
“Kenapa?” tanya KhaoSuay.
“Karena kau hanya akan aman jika bersama ku dan tante Nuan. Mengerti?”
“Tapi, bermain dengan nenek menyenangkan.”
“KhaoSuay boleh main sama nenek, tapi mae dengan tante Nuan juga harus ada. KhaoSuay harus berjanji pada mae tidak akan pergi dengan nenek lagi.”
Thi mendengar perkataan Siriya pada KhaoSuay dan tampak tidak suka. Apalagi, KhaoSuay langsung berjanji pada Siriya tidak akan pergi dengan Khun Pawinee lagi. Thi langsung protes pada Siriya karena sangat tidak mempercayai Khun Pawinee. Na mengabaikan protesan Thi, dan malah menyuruh KhaoSuay untuk tidak pergi bersama dengan Thi, meskipun Thi menggunakan boneka penguin untuk merayu.
“Kau tidak percaya padaku, aku bisa mengerti. Tapi Mae’Yai, aku tidak mengerti kenapa kau tidak bisa mempercayainya? Kau juga melihat sendiri kalau KhaoSuay hanya bermain dengan Mae’Yai,” ujar Thi.
“Kau tidak tahu apapun, jadi sebaiknya tidak ikut campur. Tapi, bagaimana kau tahu kalau ibumu membawa KhaoSuay ke sana?”
“P’Pop pernah memberitahuku kalau tempat itu adalah memori terbaik dari Mae’Yai. Dan P’Pop juga bilang bahwa ketika dia masih kecil, setiap hari sabtu, ayah akan membawa P’Pop dan Mae’Yai pergi bermain ke sana. Tempat itu, membuat Mae’Yai paling bahagia dan juga tersenyum sangat cantik. Tapi, sayangnya, hal itu tidak pernah terulang lagi. Jadi, aku pikir bahwa mungkin Mae’Yai membawa KhaoSuay ke sana untuk mengingat saat itu. Tapi, kau tahu, apa alasanku percaya bahwa Mae’Yai tidak akan pernah menyakiti KhaoSuay?”
“Kenapa?”
“Itu karena sejak hari KhaoSuay datang ke rumah ini, itu membuat Mae’Yai tersenyum, senyum yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Mungkin, senyum itu adalah senyum yang P’Pop maksudkan. Hey, Khun! Aku mohon padamu untuk tidak merusak kebahagiaan orang tua! Biarkan Mae’Yai bermain dengan KhaoSuay, seperti nenek dan cucu. Okay?”
Na terdiam mendengarnya. Dia terlihat memikirkannya.
“KhaoSuay juga mau main dengan nenek,” ujar KhaoSuay.
Na tidak bisa menjawab. Sepertinya, dia juga merasa kasihan pada Khun Pawinee.
Khun Pawinee sedang duduk sendirian di tepi kolam renang dan teringat ancaman Siriya tadi. Khun Nat melihatnya duduk sendiri, jadi dia menghampiri Khun Pawinee dan bertanya apa yang sedang Khun Pawinee pikirkan? Khun Pawinee menjawab kalau dia hanya merasa heran, kesalahan apa yang telah di perbuatnya hingga semua orang harus begitu terkejut ketika dia membawa KhaoSuay dan membuat keributan? Padahal dia hanya ingin bermain bersama KhaoSuay, yang sangat mirip seperti Pop.
Mendengar nama Pop, membuat Khun Nat menangis. Dia merasa menyesal karena tidak bisa memberikan cucu pada Khun Pawinee. Jika dia bisa mempunyai anak, masalah seperti ini pasti tidak akan terjadi. Khun Pawinee meminta Khun Nat untuk tidak menyalahkan diri sendiri, ini bukanlah kesalahan siapapun.
“Aku bisa mengerti Siriya, bu. Dia tidak mempercayai siapapun, mungkin karena dia telah melewati banyak masalah di hidupnya,” ujar Khun Nat.
“Istri pertama sepertimu juga menghadapi banyak masalah dan sakit hati juga. Dan itu bukanlah hal yang tidak dapat ku mengerti, Mae’Nat.”
“Karena aku mencintai Khun Pop, bu. Itulah mengapa aku bersedia menahan segalanya,” tangis Khun Nat.
“Kita semua menyanyangi Pop. Dan karena KhaoSuay adalah putra dari Pop, aku punya hak padanya. Tidak ada seorang pun yang bisa melakukan hal seperti ini padaku! Aku tidak mengizinkannya.”
--
Krit menelpon Na, dia memberitahu kalau dia sudah berbicara kepada kepala sekolah, agar tidak mengizinkan sembarang orang menjemput KhaoSuay. Na berterimakasih atas bantuan Krit, dan dia meminta bantuan Krit sekali lagi agar tidak memberitahu masalah yang terjadi hari ini pada Ya. Krit setuju, karena dia juga tidak ingin membuat Ya tambah khawatir.
--
Esok hari,
Khun Nat menemui dokter untuk menjalani perawatan. Sebelumnya, Khun Nat sering bermimpi mengenai adegan kecelakaan yang di alami oleh Khun Pipop, namun akhir-akhir ini sudah tidak. Dokter memuji perkembangan Khun Nat, di tambah lagi, Khun Nat tampak lebih ceria belakangan ini. Khun Nat membenarkan hal itu.
“Aku tampak ceria mungkin karena aku bertemu dengan sesuatu yang membahagiakan.”
“Dan apa hal itu? Apa Anda bisa memberitahuku?”
“Seorang anak laki-laki. Seharusnya aku membencinya, karena dia mengingatkanku bahwa aku tidak bisa memiliki anak. Tapi, aku tidak bisa membencinya. Dan sekarang, rasa ingin memiliki anak muncul kembali dalam diriku, dokter. Tapi, ini bukan perasaan tertekan seperti sebelumnya. Tapi ini perasaan … aku ingin memberikan kehangatan sebagai seorang ibu. seperti wanita itu (Siriya)," jelas Khun Nat.
--
Ya sedang menyiram bunga di taman dan berjalan-jalan sejenak sembari memberi makan ikan di kolam. Tetapi, saat dia hendak menuruni jembatan, kursi roda nya melaju kencang, hingga membuatnya hampir terjatuh. Untunglah Krit datang di saat yang tepat dan menolongnya.
Mereka saling menatap. Dan tampak jelas kalau Khun Krit menyukai Ya.
 Krit membawa banyak barang untuk Ya, mulai dari makanan hingga peralatan merajut. Dia membawakan semuanya dengan alasan kalau dia mungkin akan berada di Bangkok dalam waktu lama. Ya merasa tidak enak karena Krit telah membantunya menjaga Na dan KhaoSuay dan sekarang membawakan begitu banyak barang padanya. Dia meminta Krit untuk tidak membawakan barang lagi untuknya jika datang lagi, atau dia akan marah. Krit tersenyum dan berjanji tidak akan membawakan banyak barang lagi, asalkan Ya menerima pemberiannya kali ini. Ya setuju.
--
Akhirnya, Na membiarkan KhaoSuay untuk bermain dengan Khun Pawinee, dan tentu saja dia dan Nuan memperhatikannya. Khun Pawinee sangat senang dapat bermain dengan KhaoSuay, tetapi dia tetap merasa tidak nyaman karena Siriya terus memperhatikan setiap gerak geriknya.
Khun Pawinee yang tidak tahan lagi, memarahi Thi karena tingkah Siriya itu. Thi balas memarahi Siriya karena membuatnya tidak bisa bekerja dengan tenang karena tingkah Siriya itu. Dia meminta bantuan pembantu untuk membawa kursi roda Siriya ke kamar, dan Thi langsung menggendong Siriya.
“Bukankah kau sudah berkata setuju membiarkan Mae’Yai bermain dengan KhaoSuay?!” kesal Thi.
“Benar, dan aku mengizinkannya. Aku hanya melihatnya dari jauh!”
“Tapi, kau harus belajar untuk mempercayai orang lain!”
Na tidak mau dan terus memberontak di turunkan. Thi tidak mau mendengarkannya, dan menggendong Siriya ke kamar. Na terus protes merasa khawatir dengan KhaoSuay. Thi balas protes pada Siriya karena tidak bisa percaya pada Khun Pawinee. Dan lagipula di sana juga ada Nuan yang akan menjaga KhaoSuay.
--
Da sedang menunggu di ruang tunggu sambil membaca sms Thi. Thi mengirimkan pesan pada Da untuk meminta maaf karena tidak bisa ikut menemui klien kemarin, dan bertanya hasil pertemuan itu pada Da. Da tampak senang membaca pesan dari Thi, dia membalas kalau dia sedang berada di rumah sakit untuk membawa Khun Nat menemui dokter, dan pertemuan kemarin berjalan lancar. Dia meminta Thi untuk makan siang bersama hari ini. Tetapi, Thi membalas kalau dia tidak bisa, karena sibuk. Muka Da langsung berubah menjadi kesal.
Khun Nat siap berbicara dengan dokter. Dia berterimakasih pada Da yang sudah mau menemaninya ke dokter, dan Da bisa pulang sekarang.
--
Thi membawa Siriya ke mall. Dan Na terus meminta pulang karena merasa tidak nyaman berada di tengah keramaian. Thi jelas tidak mau, dan membawa Siriya pergi makan di mall. Dia memesan dessert yang cantik, dan mengizinkan Siriya untuk memotretnya dan menguploadnya ke medsos, seperti yang biasa wanita lakukan. Dan memang terlihat semua orang di sekeliling mereka sibuk memotret dessert sebelum makan. Na tidak mau, dia tidak suka memotret apalagi selfie seperti orang gila. Semua yang sedang selfie langsung memandang Na dengan kesal.
Thi segera menyuapi mulut Siriya dengan dessert agar berhenti bicara. Na jelas kesal, dan balas menyuapi Thi dengan kasar.
Usai makan, Thi membawa Siriya berbelanja. Na memuji tas – tas yang cantik, tetapi tidak mau membelinya karena itu hanya menghabiskan uang. Thi heran, karena setaunya Khun Pipop sewaktu hidup mengirimkan banyak uang pada Siriya, dan dia mengira kalau uang sebanyak itu di habiskan dengan berbelanja. Na menjelaskan kalau uang itu tidak dia gunakan, tetapi sebaliknya, dia simpan untuk KhaoSuay kelak. Thi sedikit tercengang mendengarnya.
Dan akhirnya, karena tidak tahu mau membawa Siriya kemana lagi, Thi bertanya pada Siriya mau kemana. Dan Na membawa Thi ke timezone untuk bermain. Mereka tampak bersenang-senang.
--
Di rumah, KhaoSuay bermain dengan riang bersama dengan Nuan dan Khun Pawinee. Usai itu, mereka juga makan bersama. Khun Pawinee bahkan memuji masakan Nuan yang lezat.
--
Thi dan Siriya masih terus bermain dengan riang. Dan pas sekali, Nam Neung melihat mereka, dan langsung memotret kedekatan Thi dan Siriya secara diam-diam. Setelah itu, dia mengirimkan foto itu pada Pa yang sedang SPA.
Melihat foto yang di kirimkan oleh Nam Neung, membuat Pa sangat senang. Rencana jahat terpikirkan olehnya. Dia mengirimkan foto itu pada Da, yang menyukai Thi.
Da sedang makan siang bersama dengan Khun Nat, dan melihat foto Thi bersama dengan Siriya, jelas membuat Da sangat marah.


4 comments: