Monday, December 17, 2018

Sinopsis C-Drama : Our Glamorous Time Episode 3 - 1

10 comments
Network : Dragon TV QQLive
NB : Maaf ada kesalahan dalam pengetikan nama Mo Chen adalah nama dari kakak Lin Qian. Sementara untuk saingan Wenda, atau teman Wei Kai, itu namanya Chen Zheng. Terima kasih ^.^ Happy Reading …




Lin Qian langsung menyuruh Yayi untuk berdiri, saat kakak nya (Mochen) datang. Mereka berdua berpura- pura bersikap biasa saja seperti tidak ada yang terjadi pada toko. Lin Qian menanyakan kenapa Mochen belum pergi. Dan Mochen membalas apa sebegitu buruknya Lin Qian menginginkannya pergi. Lalu Lin Qian pun hanya diam, tidak menjawab.


Saat menyadari wajah Yayi serta Lin Qian yang tampak sedikit lusuh, Mochen pun bertanya ada apa dengan mereka berdua, apa mereka tidak cukup tidur semalam. Dan Lin Qian beralasan bahwa mereka punya toko, jadi mereka sangat sibuk bekerja.

“Apalah. Kita mendapatkan banyak cemoohan dari orang sepanjang malam dan sibuk mengurusi krisis ini,” keluh Yayi yang sudah tidak tahan lagi. Dan Lin Qian menarik rambutnya agar diam.


Mengetahui hal itu, Mochen mulai mengomentari Lin Qian. Dan karena tidak mau ikut campur, maka Yayi pun pamit pergi. Sementara Lin Qian, dia berpura- pura sakit kepala untuk menghindari omelan Mochen. Namun dengan tegas Mochen menyuruh Lin Qian duduk.

“Katakan saja apa yang mau kamu bicarakan,” kata Lin Qian, berhenti berpura- pura.

“Apa kamu tahu Louis Vuitton?” tanya Mochen. Dan Lin Qian membalas bahwa dia tahu.
  

Mochen lalu membahas mengenai Louis Vuitton. Cabang mereka sedang mencari seorang asisten desaigner. Mochen telah menunjukan desaign milik Lin Qian kepada executive disana. Dan mereka menantikan untuk bicara langsung kepada Lin Qian.

Mendengar itu, Lin Qian merasa sangat senang. Dan Mochen lalu memberikan waktu 10 menit untuk Lin Qian membuat keputusan, mau atau tidak.


“Walaupun aku tahu aku akan bisa belajar banyak. Dan mengenal design terbaik di dunia ini. Tapi…” kata Lin Qian berpikir.

“Tapi itu adalah mimpimu,” tambah Mochen.

“Kak, jangan menekanku,” keluh Lin Qian sambil merajuk seperti seorang adik.

“Aku tidak akan menekanmu untuk membuat keputusan,” kata Mochen mengalah. Dan dengan senang, Lin Qian pun berhenti merajuk. “Kamu punya 9 menit. Jangan buru-buru,” lanjut Mochen sambil melihat jam tangannya.


“Kak, ini sama saja,” keluh Lin Qian sambil kembali merajuk dengan manja lagi.



Ditepi laut. Grace menjelaskan bahwa baginya, Zhi Qian adalah seseorang yang special. Zhi Qian banyak membantu orang, jadi setiap orang berbicara meninggikannya. Zhi Qian orang paling baik dan pintar yang di kenalnya.

“Kemudian siapa yang menginginkan dia mati?” tanya Zhi Cheng.

“Kamu mungkin tidak akan mempercayai ini, apa ini bunuh diri atau kecelakaan,” balas Grace.



Mochen mengetuk meja untuk membangunkan Lin Qian yang masih berpikir. Dia mengatakan bahwa waktunya sudah habis dan baru saja Lin Qian kehilangan kesempatan terbaik didalam hidup.

“Kak, aku tidak berpikir begitu. Jika aku baru lulus, aku akan pergi pastinya. Tapi sekarang aku memiliki toko ku sendiri. Bekerja keras dan tidak menghasilkan banyak uang. Itu benar, tapi aku akan memilki design ku sendiri,” jelas Lin Qian.

“Bekerja keras dan tidak menghasilkan uang. Kemudian mengapa kamu melakukan itu? Kamu menghabiskan bakat dan hidupmu,” balas Mochen dengan keras.



“Kemudian bekerja sebagai asisten seseorang, bukankah itu menghabiskan bakat dan hidupku? Dan hal yang paling penting bagiku adalah seorang desaigner. Yaitu kebebasan,” balas Lin Qian.


Mochen menaruh tiket pesawat di atas meja. Dan dengan tegas, dia menyuruh Lin Qian untuk ikut bersamanya pergi ke Amerika.



Dengan tegas, Grace mengatakan bahwa dia pasti akan menemukan pelaku asli di balik kematian Zhi Qian, karena ini sangat penting baginya. Grace tidak bisa mempercayai bahwa ada seseorang yang begitu keras dengan dirinya sendiri akan mati DUI (Menyetir dalam keadaan mabuk).

Zhi Cheng pun menyimpulkan bahwa kini mereka ada pada sisi yang sama. Dan Grace lalu menjelaskan bahwa jika mereka mau melakukan penyelidikan, maka mereka harus mulai dari orang disekitar Zhi Qian.



“Kemudian kamu ada menyelidiki ku juga?:” tanya Zhi Cheng.

“Aku tidak akan mempercayai siapapun dengan mudah. Jika kau tidak menyelidiki, aku tidak akan tahu seseorang yang membuat masalah di Wenda. Dan aku tidak akan mengirimkan pesan text padamu,” jelas Grace.

“Kemudian apa yang kamu temukan?”

“Siapa yang akan mendapatkan keuntungan dari kematian Li Zhi Qian?”


Dikantor. Chen Zheng datang menemui Wei Kai yang telah menunggu. Disana Wei Kai menunjukan surat kualifikasi yang ada padanya kepada Chen Zheng.



Di kota Linhai, industri pakaian sangat kuat persaingannya. Wenda adalah yang terbesar beberapa saat yang lalu, namun setelah kematian Li Zhi Qian, perusahaan Xinbaorui dan Simiqi meningkat begitu cepat. Sekarang kedua perusahaan itu telah melampaui Wenda.

Mengetahui hal itu, Zhi Cheng langsung berkesimpulan bahwa kejadian dibalik keributan karyawan saat itu, mungkin saja adalah ulah dari kedua orang tersebut.

“Xinbaorui dan Simeiqi kelihatan seperti Dua saingan. Tapi aku menemukan, Ning Wei Kai dan Chen Zheng minum serta mengobrol bersama. Dan aku bahkan mendengar bahwa mereka akan menyerang Wenda bersama- sama. Itu mengapa aku mengirimkan kamu pesan,” jelas Grace.



“Aku akan mencoba untuk menyelamatkan Wenda. Tidak peduli apapun yang diperlukan, bahkan jika hanya aku sendiri yang tersisa disana. Aku akan melawan mereka sampai akhir,” balas Zhi Cheng dengan sangat serius.

“Jika kakak mu mendengar nya. Dia pasti akan sangat bahagia,” balas Grace dengan tulus.


Sebelum Grace sempat menjelaskan rencana selanjutnya, tepat disaat itu sebuah mobil putih berhenti di dekat mereka. Jadi karena itu Grace pun pamit dan pergi.

Mobil tersebut adalah milik Jin Yuan. Dia datang untuk mengajak Zhi Cheng pulang.



Lin Qian berdebat dengan Mochen. Dia menghargai kesempatan yang kakaknya berikan, tapi dia ingin kakaknya tidak mengancamnya dan menghormati pilihannya.

“Hidup penuh dengan pilihan. Sekarang ada dua pilihan untukmu, yang akan memutuskan jalan hidupmu. Aku berharap kamu bisa membuat pilihan yang terbaik,” jelas Mochen dengan tegas sambil memegang bahu Lin Qian.

“Aku tidak akan pergi, aku tidak ingin pergi,” balas Lin Qian dengan nada pelan.



Mochen menyerah. Dia melepaskan tangannya dari bahu Lin Qian. Dia tidak akan memaksa Lin Qian. Namun tiket pesawat itu akan dia tinggalkan disini, karena dia ingin Lin Qian memikirkan tentang ini. Kemudian Mochen berjalan pergi.



Ketika melihat Mochen telah benar- benar pergi, Yayi pun segera mendekati Lin Qian. Yayi menjelaskan pendapatnya. Menurutnya Mochen memberikan pilihan yang bagus dan dia ingin Lin Qian memikirkan itu. Karena ini adalah sebuah kesempatan  besar yang bisa mengubah jalan hidup Lin Qian sebagai seorang desaigner.


Didalam mobil. Jin Yuan menanyakan kabar Zhi Cheng selama di kemiliteran, karena selama ini tidak pernah ada yang dengar, kecuali kakak mereka, Zhi Qian. Tapi Zhi Cheng tidak menjawab pertanyaan Jin Yuan, malahan dia balik bertanya.

Zhi Cheng menanyakan bagaimana Ayah mereka memperlakukan kakak mereka, Zhi Qian. Dan Jin Yuan pun menjelaskan bahwa selama ini Ayah mereka selalu ingin Zhi Qian menwarisi bisnisnya, jadi dia memberikannya banyak tekanan. Mereka berdua selalu berbeda pendapat.

Mendengar itu, Zhi Cheng langsung menyuruh Jin Yuan untuk menurunkannya disini, karena dia tidak ingin pulang sekarang. Dan Jin Yuan pun bertanya. Tapi Zhi Cheng hanya menjawab bahwa dia punya urusan.


Sepulangnya kerumah. Diruang makan. Jin Yuan menemui Ayahnya yang  telah menunggu. Dia memberitahu bahwa Zhi Cheng masih tidak akan pulang. Dan Ayahnya mengerti, dia yakin bahwa Zhi Cheng tahu apa yang harus dilakukan.

Sepertinya Li terkena struk, karena dia tidak bisa memegang sumpit dengan benar. Lalu karena hal itu, maka Li tidak jadi makan dan kembali ke kamarnya, dibantu oleh pelayan yang mendorongkan kursi rodanya.


Jin Yuan yang ditinggal sendirian di ruang makan. Dia menundukan kepalanya dengan lesu. Kemudian dia membuka hape nya dan membaca artikel yang ada disana. Isi artikelnya adalah tentang Pakaian beracun.


Diruang rapat. Seluruh pemegang saham dan orang yang berkepentingan hadir, termaksud Yanzhi, kecuali Zhi Cheng. Mereka membahas tentang pemeriksaan kualitas oleh biro, yang mana sekitar 30 pabrik pakaian telah di tutup di kota Linhai.

Masalah Wenda adalah satu set pakaian anak yang akan dikirim ke Eropa, kainnya menyusut, dan di internet masalah itu di hubungkan dengan kain yang memiliki zat kanker. Dalam 1 jam setelah berita tersebut, harga stock mereka menurun. Dan tidak ada tanda akan berhenti. Sehingga ditakutkan, ketika pasar dibuka besok, itu akan lebih memburuk.


Seorang  pemegang saham sengaja memancing sesuatu. Dia mengatakan kalau dia mendengar bahwa beberapa hari lalu Zhi Cheng telah tiba di kota Linhai. Dan dia penasaran ingin tahu pendapat Zhi Cheng dalam masalah ini.

Mendengar itu, setiap orang diruangan mulai sedikit ribut. Mereka membicarakan bahwa ini masalah yang terlalu sulit untuk Zhi Cheng, makanya Zhi Cheng hanya bersembunyi dan membiarkan mereka yang mengurus masalah ini.


Didalam ruangan kantor. Zhi Cheng memperhatikan rapat tersebut melalui CCTV. Dia mendengarkan dengan serius pembicaraan selama rapat tersebut.

Yanzhi ingin menjelaskan, tapi Zhi Cheng menyuruhnya untuk tidak perlu menjelaskan apapun. Makanya Yanzhi pun diam dan membiarkan mereka semua untuk lanjut bicara.

Saat masuk ke dalam ruangan. Yanzhi sedikit heran melihat beberapa orang berpakaian keamanan ada diruangannya bersama dengan Zhi Cheng. Dia mengomentari bahwa sejak Zhi Cheng datang ke perusahaan, seluruh perusahaan berjalan seperti dalam standar kemiliteran.

Kemudian Yanzhi ingin mengatakan sesuatu, tapi karena tidak nyaman dengan tiga orang keamanan di ruangannya, dia memberikan kode kepada Zhi Cheng. Dan dengan sikap santai Zhi Cheng menyuruh Yanzhi untuk bicara saja, karena mereka adalah orang- orangnya.


Ternyata apa yang ingin Yanzhi bahas adalah tentang kapan Zhi Cheng akan menampilkan dirinya. Karena sekarang diluar sangat kacau, bahkan didalam banyak gosip yang beredar. Dan Zhi Cheng membalas bahwa sekarang belum waktunya.

“Apa yang kamu pikir kan tentang kainnya?” tanya Zhi Cheng, membahas masalah Wenda.

“Saat Wenda masih stabil. Tidak pernah ada masalah penyusutan. Dan laporan kualitas hanya baru keluar 24 jam, tapi media sudah tahu. Mungkin kita terlalu lalai,” jelas Yanzhi.

“Lalai? Tidakkah kamu berpikir waktunya sangat pas?” balas Zhi Cheng.

“Maksudmu semua ini sudah direncanakan?” tanya Yanzhi. Dan Zhi Cheng mengiyakan.


Disebuah ruangan tertutup. Yanzhi mengintrogasi seorang karyawan. “Mengapa ada masalah penyusutan di dalam perusahaan kita?” tanya Yanzhi. Dan si karyawan menjawab bahwa Yanzhi seharusnya bertanya ke bagian yang mengontrol kualitas.


Orang kedua. Di introgasi oleh anak buah Zhi Cheng. Sambil memegang tangannya, orang kedua mengatakan bahwa ada perubahan ke supplier baru dan tidak seorang pun yang memberitahukan tentang ini kepada bagian mereka.

Orang ketiga. Sambil mengepalkan tangannya dengan gugup, dia mengatakan bahwa executive designer tidak puas dengan kain sebelumnya, dan mereka menunjuk supplier baru. Tapi dia tidak ada hubungan nya dengan ini.

Orang keempat. Dia mengatakan bahwa Zhang Hao yang menunjuk kain baru, dan hanya supplier itu yang di inginkan nya. Zhang Hao telah menghabiskan hampir 6 bulan menyelidki perusahaan tersebut.


Kembali ke Orang petama yang Yanzhi introgasi. Yanzhi menanyakan apa orang itu ingat pada hari ia bertemu supplier itu. Dan Orang pertama menjawab iya, tanggal 17. Lalu Yanzhi menanyakan cuaca pada hari itu, dan Orang pertama menjawab hari cerah.

Tiba- tiba Orang pertama ini mulai bersikap aneh, dia melonggarkan dasi yang dipakainya seolah merasa gerah. Dan melihat itu, Yanzhi pun memberikan minuman pada nya. Kemudian karena si Orang pertama meminta es, maka Yanzhi pun memberikannya juga, dan Orang pertama ini meminum nya.


“Direktur Zhang, tanggal berapa ulang tahun mu?” tanya Yanzhi, selagi Zhang minum.

“15 maret,” jawab Zhang langsung.

“Aku dengar bahwa kamu telah menikah, tanggal berapa ulang tahun pernikahanmu?”

“Mm… 27 Mei.”

Zhang merasa terkejut, saat dia baru saja menjawab, Yanzhi langsung memukul meja dengan keras. “Sekarang beritahu aku, kapan kamu bertemu dengan supplier kain itu?” tanya Yanzhi lagi kepadanya.

Dan Zhang pun mulai meminum minumannya lagi. “Supplier? Aku ingat. Tanggal 17,” jawabnya.

“Gimana cuaca pada hari itu?” tanya Yanzhi mengulang pertanyaan sebelumnya.

“Hujan,” jawabnya dengan gugup. Tapi jawabannya pertentangan dengan jawaban pertamanya.

Didepan lift. Zhang sedang menunggu lift terbuka. Dan kemudian ketiga temannya yang baru saja selesai di interogasi juga, mereka masuk ke dalam lift bersama, saat lift telah terbuka.

Didalam lift. Tiga orang karyawan tersebut membicarakan tentang apa Bos Gu tidak berlebihan, karena bukankah Boss Li ada menghubungin anaknya untuk kembali, tapi yang jadi pertanyaan mereka adalah mengapa anak Bos Li tidak menunjukan diri.

“Bagaimana kamu tahu bahwa Bos Gu tidak beroperasi karena dia?” komentar Zhang.


Dikantor. Yanzhi menjelaskan bahwa Zhang hao sudah jelas tersangka nya. Jadi yang harus mereka lakukan sekarang adalah menemukan siapa yang berada di belakangnya. Zhi Cheng meminta Yanzhi untuk berpikir, jika Wenda tutup, siapa yang akan mendapatkan banyak keuntungan.

“Xinbaorui dan Simeiqi. Mereka bertarung melawan pasar kita. Sekarang jadi jelas tentang saingannya. Tidakah seharusnya kamu keluar dan mengatur situasi sekarang?” tanya Yanzhi.

“Belum,” jawab Zhi Cheng, singkat.


Ditoko. Lin Qiang melihat tiket pesawat yang diberikan oleh kakak nya dan berpikir. Kemudian saat dia melihat baju tentara yang di desainnya, dia teringat akan Zhi Cheng yang telah menolongnya saat dia di curi.


Keesokan pagi. Lin Qian menanyakan kepada Yayi apa dia harus memotong rambut palsu yang ini juga. Dan dengan cuek Yayi menjawab bahwa itu terserah kepada Lin Qian, karena itu uang Lin Qian.

Lalu tiba- tiba saja, Lin Qian mendapatkan telpon dari kantor polisi di jalan Binhe. Mereka mendapatkan laporan kekerasan yang terjadi di Wenda, jadi mereka membutuhkan keterangan dari Lin Qian.


Ternyata orang yang membuat laporan kekerasan itu di kantor polisi adalah anak- anak buah dari Chen Zheng, yang mau menculik Lin Qian, dan yang telah dikalahkan oleh Zhi Cheng. Mereka mengatakan kepada polisi bahwa mereka hanyalah warga biasa, tapi Zhi Cheng tidak menyukai mereka dan memukuli mereka.

“Lihat tangan ku, aku bahkan tidak bisa mengangkatnya. Lihat! Lihat!” katanya.

Tepat disaat itu. Lin Qian sampai. Dia mengenalkan dirinya kepada petugas.


Mereka semua duduk bersama dengan tenang. Dimulai dari Lin Qian, dia memberitahukan kepada petugas bahwa pada hari itu dia pergi ke Wenda karena ada urusan bisnis, saat dia keluar, orang- orang itu menghancurkan mobilnya dan menusuk bannya, bahkan mengancamnya dengan pisau. Padahal  dia tidak mengenal mereka.

“Aku beruntung, karena kepala keamanan Wenda ada disana menolong ku. Dia menyelamatakkan ku. Jika bukan karena dia. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada gadis sepertiku. Dia juga mengantarku pulang,” jelas Lin Qian dengan mengebu- gebu. Dan anak- anak buah Chen Zheng tampak takut.


Petugas menyimpulkan bahwa kasus ini bukanlah pemukulan, tapi Zhi Cheng hanya mencoba untuk membantu. Dan Lin Qian membenarkan. Tapi anak buah Chen Zheng langsung memotong, dia mengatakan bahwa petugas tidak boleh hanya mendengarkan Lin Qia saja, karena Lin Qian serta Zhi Cheng saling mengenal.

“Dia dan aku bahkan tidak mengenalimu!” protes Lin Qian dengan keras kepada mereka.

Hampir saja terjadi keributan, tapi karena ini adalah kantor polisi, maka anak buah Chen Zheng yang awalnya sudah berdiri langsung kembali duduk di tempat. Lalu si petugas bertanya apa Zhi Cheng adalah pacar Lin Qian, dan apa mereka berdua tidak pernah bertemu.

Dan Lin Qian langsung menjawab bahwa Zhi Cheng bukan pacarnya. Kemudian Zhi Cheng menambahkan bahwa dia tidak pernah mengenal Lin Qian. Lalu anak buah Chen Zheng langsung protes.

“Aku melihat mereka berdua berpegangan tangan, dan dia masih mengatakan dia bukan pacarnya?” kata anak buah Chen Zheng.

“Cukup!” balas petugas.

Kemudian karena tidak memiliki saksi atau bukti apapun lagi, maka anak buah Chen Zheng menggunakan cara terakhir. Seorang dari mereka yang terluka lengannya berdiri dan mendekati petugas.

“Lihat gips ini, tidak kah ini terhitung sebagai bukti? Lihatlah. Aku bahkan tidak bisa mengangkatnya lagi,” kata anak buah Chen Zheng.

Dengan segera Zhi Cheng berdiri dan mengangkat tangannya, seolah ingin memukul anak buah Chen Zheng. Dan karena takut, anak buah Chen Zheng langsung mengangkat tangannya yang katanya terluka itu. Melihat itu, si petugas mendengus.

“Tampaknya luka dibahu mu sudah sembuh,” kata Zhi Cheng. Dan Lin Qian tertawa melihatnya.


Sesudah semua selesai. Lin Qian memanggil Zhi Cheng yang akan pergi, dia mengucapkan terima kasih kepada Zhi Cheng. Dan Zhi Cheng membalas bahwa itu tidak perlu, karena dia hanya melakukan tugas nya saja.


Lalu dikarenakan Lin Qian belum mengenalnya. Maka Zhi Cheng mengulurkan tangannya dan memberitahukan namanya. Dan Lin Qian menyalaminnya. Kemudian setelah itu, Zhi Cheng pun pergi. Sementara Lin Qian, dia tersenyum sendiri.


Sambil menonton berita mengenai perusahaan Wenda. Wei Kai menghubungin Chen Zheng.

“Sekarang kita hanya bisa bekerja sama dengan satu sama lain. Selain dari ini, tidak ada jalan keluar yang lain. Kali ini, aku akan berada di depan untuk mengarahkan. Sesuai apa yang aku katakan, kamu lakukan lah yang terbaik untuk melaksana kannya,” kata Wei Kai.

10 comments: